Futago

Futago
Ai/Cinta.



Sudah beberapa kali Yuki berhenti untuk istirahat. Ia sempat mampir ke taman luas dengan danau jernih dan air mancur di tengahnya. Ia haus, kakinya menuntun Yuki menuju minimarket.


"Huaaa ... Hiks!, hiks!, hiks!. Mama ..."


"Hei, kok malah jadi keras nangisnya nih bocah?."


"Hiks!. Mama ... Huaaa hiks." Yuki melihat wajah mengerikan petugas minimarket yang sedang berjongkok di samping gadis kecil.


"Aduh. Berhenti, jangan nangis. Nanti kakak kasih permen, udah jangan nangis lagi."


Yuki mendekat ke minimarket yang sepi itu. Di depan kaca minimarket gadis kecil mmenangis keras menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.


"Setelah tidak berani bunuh diri, kau menculik anak orang." Celetuk Yuki membalas tatapan terkejut dari Gaho yang mendongak menatapnya.


"Aku tidak ada minat dengan anak kecil. Wow!." Gaho tertegun dengan style Yuki di luar seragam sekolahnya.


Yuki menekuk tiga jari membiarkan jari telunjuk dan jari tengahnya teracung, mengarahkannya mendekat ke sepasang mata yang tidak berkedip, lalu mengontrol kelopak mata itu dengan jarinya. Menarik turun perlahan hingga menunduk ke bawah.


Gaho tersipu malu di pergoki oleh Yuki saat terpukau dengan penampilan gadis itu. Padahal penampilan Yuki tergolong normal tapi entah kenapa terlihat sangat manis di mata Gaho.


"Ekhem!. Maaf," Gaho hendak mengatakan penyesalannya namun terpotong oleh jerit tangis gadis kecil di depannya.


"Mama ... Huaaa, hiks, hiks, hiks." Yuki berjongkok di depan gadis kecil itu.


"Dimana kamu menculiknya?." Tanya Yuki.


"Sudah aku bilang, aku tidak minat dengan anak kecil." Gaho mengerutkan keningnya kesal.


"Dia kehilangan ayahnya pagi tadi di dekat taman. Tidak sengaja aku lewat sana untuk pergi bekerja. Dia tidak tahu alamat rumah atau pun mengingat jalan pulang, jadi lah aku bawa dia ke sini." Jelas Gaho.


Yuki paham apa yang terjadi. Ia meraih dua tangan mungil itu, mengusap lembut punggung tangan dengan ibu jarinya. Perlahan tangis anak itu mereda, Yuki menarik tangan itu membukanya perlahan.


Manik mereka bertemu. Seketika tangis anak itu berhenti. Lucu, batin Yuki yang melihat wajah penuh air mata dan ingus itu.


Yuki memberikan senyum tulus miliknya seraya mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku. Perlahan menghapus air mata yang tertinggal dan menghilangkan ingus dari wajah imutnya.


Gaho pun terkejut, Yuki dengan mudah membuat anak kecil itu berhenti menangis tanpa perlu mengatakan sepatah kata pun.


Sret.


Puk.


Gaho tiba-tiba menarik tangan Yuki yang masih memegang tangan anak kecil itu dan menaruhnya di punggung tangan Gaho sendiri. Yuki yang terkejut menatap tajam Gaho seraya mengangkat satu alisnya.


"Aku penasaran bagaimana rasanya tanganmu sampai bisa membuat bocah ini berhenti menangis." Ucap Gaho.


"Ternyata tanganmu sangat halus." Celetuk pemuda itu beralih menatap Yuki.


Gaho kembali terkejut dengan raut wajah Yuki.


"Tolong, jangan angkat alismu, membuatku ingin memangsamu sekarang." Gaho menerjang ke depan namun Yuki dengan cepat menyentil keras dahi laki-laki itu.


Tak!.


"Auw!, sakit." Protes Gaho.


Yuki mengabaikan Gaho menatap gadis kecil yang masih memperhatikannya.


"Namamu siapa?."


"Kimura Ai desu." Lirihnya. Yuki memberikan senyum manis seraya mengusap pucuk kepala Ai.


"Nama yang sangat cantik. Kita beli minum dulu, nanti kakak antar ke rumah bagaimana?." Gaho juga ingin di usap kepalanya, melihat perhatian Yuki dan sisi yang sangat berbeda dengan di sekolah, Gaho jadi berpikir ingin mengetahui lebih banyak tentang gadis itu.


"Onee chan (Kakak)." Panggil Ai dengan suara anak-anaknya.


"Hm?, kenapa?." Yuki yang hendak berdiri pun tidak jadi.


"Sangat mirip dengan anak di video." Yuki meraih tangan kecil Ai.


"Benarkah?, kakak tidak pernah nonton tv, ayo." Yuki menggandeng Ai masuk ke dalam minimarket.


Yuki dan Ai sibuk memilih minuman. Tiba-tiba Gaho muncul dengan kalimat anehnya.


"Ayo kita kencan." Refleks cepat Ai memeluk kaki Yuki.


"Nggak mau!." Gaho melongo melirik ke bawah.


"Siapa juga yang mau mengajak bocah sepertimu." Srobot Gaho.


"Onee chan juga tidak mau." Ai semakin erat memeluk kaki Yuki.


Srut.


Yuki mengangkat tubuh Ai ke dalam gendongannya. Meninggalkan Gaho di belakang.


"Aku mau bayar." Ucap Yuki menunjuk dua botol di meja kasir.


"Gaho. Panggil aku Gaho." Balas Gaho segera mentotal belanjaan Yuki.


"Bagaimana kamu mencari rumah anak ini?." Yuki menerima belanjaannya setelah membayar.


"Dengan ponsel. Terima kasih sudah membawa Ai bersamamu. Ternyata pengecut sepertimu memiliki rasa empati meski kasar." Gaho menyeringai.


"Kalimatmu itu selalu pedas ya." Balas Gaho.


"Ai chan, bilang terima kasih sama onii chan (kakak \= untuk laki-laki)." Ucap Yuki menatap Ai. Gaho yang mendengar panggilan itu dari suara merdu Yuki tersipu malu.


"Onii chan, terima kasih." Kata Ai membungkuk di dalam gendongan Yuki.


"Jangan nakal sama Onee chan ya." Gaho mengacak-acak rambut Ai. Ai malah langsung memeluk leher Yuki.


"Nih bocah." Geram Gaho. Yuki tertawa pelan melihat interaksi Ai dan Gaho.


"Eh?." Gaho menoleh kepada Yuki.


"Onee chan?." Ai menatap wajah tersenyum Yuki lekat-lekat.


"Ayo, kakak antar Ai chan pulang." Yuki menghentikan tawanya.


"Aku pergi." Pamit Yuki pergi keluar dari minimarket.


Hanya perlu melacak dengan ponsel, rumah dengan marga Kimura. Yuki segera menemukannya. Untunglah rumah dengan marga Kimura hanya ada satu di daerah itu.


Yuki berhenti di depan pintu gerbang besar, ia melirik nomor rumah dan nama marga pemilik rumah.


"Ai chan kita sudah sampai." Lirih Yuki melirik ke belakang. Ai yang di gendong di punggung Yuki sudah sejak tadi tertidur dengan nyaman.


"Nnggghhhh." Ai mengedipkan matanya perlahan, melirik pintu gerbang di depannya.


"Onee chan, ini bukan rumah Ai." Celetuk gadis itu.


"Eh?!." Yuki pun terkejut. Ia tidak salah mencari, rumah itu jelas-jelas milik keluarga Kimura.


"Rumah Ai tiga lantai, pagarnya berwarna hitam bukan coklat." Celetuk anak kecil itu.


Bagaimana aku mencari rumah tiga lantai, pagar berwarna hitam?, batin Yuki.


"Mau makan es krim dulu?. Di depan sana ada mesin penjual es krim." Tawar Yuki. Ia ingin istirahat. Jarak minimarket dan rumah itu sangat jauh.


"Ung. Es krim!." Ai menggoyang-nggoyangkan kakinya di samping tubuh Yuki.


Keduanya duduk di kursi pinggir jalan, menikmati es krim masing-masing. Yuki di buat terpesona dengan energi yang dimiliki Ai. Anak kecil itu tidak henti-hentinya berceloteh ria. Yuki mendengarkan dengan seksama, sesekali ia tertawa dan menanggapi gadis kecil itu.


"Ai!." Yuki terkejut.


"Papa ...!." Ai melompat berlari ke arah pria paruh baya.


Keduanya berpelukkan bahkan papa Ai menangis haru berhasil menemukan putrinya. Pria itu membawa dua orang polisi yang kini berjalan ke arah Yuki.


Untuk keterangan polisi Yuki di bawa ke kantor mereka. Lima belas menit, dan itu pengalaman pertama bagi Yuki masuk ke sana. Ai dan papanya menunggu Yuki di depan kantor polisi.


"Maaf kamu jadi di bawa oleh polisi." Papa Ai alias Kimura membungkuk dalam.


"Tidak apa-apa, mereka hanya meminta keterangan saja." Jawab Yuki.


"Onee chan, ayo main ke rumah ada yang ingin Ai tunjukan." Ai menarik-narik tangan Yuki.


Yuki ingin menolak tapi tidak tega dengan wajah polos anak itu. Akhirnya Yuki menuruti permintaan Ai. Mereka memasuki mobil yang sama.


Rumah tiga lantai dan pagar tinggi berwarna hitam. Ai berasal dari keluarga kaya. Halaman rumahnya juga luas. Ai segera menarik tangan Yuki masuk ke dalam rumahnya. Yuki melihat dua pelayan yang sedang membersihkan rumah mewah itu.


Puk. Puk.


"Onee chan, kocchi kocchi! (Kakak, sini sini)." Ai menepuk sofa besar di depan tv.


"Ai chan mau menonton kartun?." Tanya Yuki duduk di tempat yang Ai minta.


"Bukan. Ai mau menunjukkan video yang Ai selalu tonton setiap hari." Jawab anak itu berlari menekan remot dengan cekatan.


"Setiap hari?. Ai tidak bosan?." Ai menggelengkan kepalanya sangat cepat.


"Tidak. Ai sangat menyukai video-video ini. Ai bisa menontonnya sampai lima belas kali sehari." Jelas Ai.


Overdosis, komentar Yuki dalam hati.


"Akh, sudah mulai." Ai berlari lalu melompat ke atas sofa. Yuki dengan refleksnya menangkap bocah super energik itu.


"Ai, kamu tidak boleh memaksa onee chan." Kimura datang bersama pelayan yang menghidangkan minuman untuk mereka.


"Tidak apa-apa Kimura san. Saya juga penasaran apa yang ingin Ai chan tunjukan." Balas Yuki.


Tiba-tiba Ai menarik lengan Yuki menunjuk ke arah televisi.


"Onee chan!. Lihat, lihat, dia sangat mirip dengan onee chan bukan. Warna mata kalian sama. Papa!, keraskan tvnya." Rengek Ai heboh. Kimura dengan senyum khas seorang ayah melakukan yang di minta putrinya.


Yuki diam bergeming. Melihat sosok gadis kecil yang sama dengan yang ada di dalam ingatannya.


"Hotaru!, di sana di sana. Tangkap."


"Tunggu sebentar, ini susah." Gadis kecil itu menggembungkan pipi chubbynya kesal.


"Eiji bisa menangkapnya untukku. Hm!."


Yuki tertegun dengan wajah tampan. Yuki akui anak itu sangat tampan. Tersenyum, bahkan senyumnya terlihat berkharisma.


"Ung!." Jawab riang Yuki kecil.


Video itu berisikan tiga anak kecil yang bermain bersama. Di taman mengejar kupu-kupu, di danau bermain air, merangkai bunga, melukis, bermain petak umpet, pemandangan yang sangat indah. Kebanyakan di dalam video kedua anak kembar itu banyak berselisih dan anak laki-laki yang lainlah yang selalu menengahi mereka, dengan mengalah kepada Yuki kecil.


Tiba saat Yuki kecil menjatuhkan kue mochi kesukaannya di tanah. Ia menangis sejadi-jadinya hingga membuat kedua anak laki-laki itu berlari kalang kabut mencarinya. Hotaru kecil tersaruk-saruk sambil meremas sebelah dadanya.


"Yuki!."


"Yuu!."


Yuki kecil berlari memeluk kembarannya mengadu tentang mochinya yang terjatuh.


"Nanti minta lagi sama kakek Go. Sudah jangan nangis lagi." Hotaru memeluk Yuki.


"Kakek Go akan marah, hiks." Fumio kecil mengulas senyum gemasnya melihat tingkah Yuki.


"Aku yang minta, kakek tidak akan marah." Yuki mendongak menatap kembarannya. Tangannya memegang dada sebelah kiri Hotaru.


"Maaf." Cicitnya.


Hotaru mengacak-acak rambut Yuki.


"Sudah, jangan nangis lagi."


Video berganti latar, masih dengan ke tiga sahabat itu. Yuki tenggelam ke dalam video, otaknya sibuk bekerja.


Siapa yang mengambil video-video ini?. Bagaimana bisa video ini bisa ada dirumah Kimura san?, apa hubungan keluarganya dengan keluargaku?. Bukankah video seperti ini sangat penting. Kenapa para pelindung bisa kehilangan dokumentasi saat kami kecil?. Sialan, aku harus mencari tahunya segera, batin Yuki.


Sedangkan di depan pintu kediaman keluarga Kimura dua orang masuk tanpa mereka sadari.


"Kami pulang." Kimura yang mendengar suara istrinya beranjak pergi meninggalkan Ai bersama tamunya.


Kimura memeluk sang istri di depan pintu. Putranya memberikan barang belanjaan kepada pelayan.


"Bagaimana bisa Ai hilang." Srobot Eiko.


"Dia mengejar kupu-kupu dan terpisah denganku. Untunglah Ai bertemu dengan gadis baik." Jelas Kimura.


"Apa mereka ada di ruang tengah?." Tanya Fumio.


"Ya, Ai sed." Tap. Tap. Tap.


Kimura menghentikan kalimatnya melihat wajah khawatir putranya yang sudah berjalan cepat menuju ruang tengah.


"Apa Ai tidak apa-apa?." Tanya Eiko.


"Hm. Maafkan aku." Sesal Kimura.


"Yang terpenting Ai tidak apa-apa. Sekarang aku harus berterima kasih dengan gadis yang sudah menjaga Ai." Eiko menggamit lengan suaminya pergi menuju ruang tengah.


"A." Tenggorokan Fumio tercekat. Ia meragukan matanya selama beberapa detik.


Gadis bermanik biru itu duduk dengan tenang melihat video mereka empat belas tahun silam. Wajah Yuki sangat datar.


"Onii chan!." Adiknya berlari dan menjulurkan kedua tangannya ke atas meminta di gendong.


Fumio mengangkat adiknya.


"Jangan pergi tanpa sepengetahuan otou san (papa) lagi. Otou san bingung mencarimu." Ucap Fumio mencubit pelan hidung adiknya.


"Ung. Maaf, tapi onii chan. Ai bertemu dengan onee chan yang memiliki mata yang sama dengan Yuu. Lihat!, dia sangat cantik seperti Yuu." Ai menunjuk Yuki.


"Mungkin Yuu kalau sudah besar tidak kalah cantik dengan onee chan. Iya kan, onii chan?." Fumio bergeming menatap sepasang manik biru yang sedang mencoba mencari sesuatu pada dirinya.


"Ai ..."


"Mama ...!." Ai merosot dan berlari memeluk Eiko.


"Putri nakal mama jangan menghilang lagi. Mama khawatir." Ai mengangguk lemah.


"Mama, maaf." Cicit Ai.


"Ung. Mana kakak yang menolong Ai?, mama mau berterima kasih."


Ai dengan semangat menarik tangan Eiko mendekati Yuki. Eiko tersenyum ramah dan menyapa Yuki dengan hangat.


"Selamat siang, maaf ya Ai sudah merepotkanmu. Kalau boleh tahu namamu siapa?." Yuki menoleh memutus kontak mata dengan Fumio.


"Haahpp!." Eiko terperanjat relfleks menutup mulutnya karena sangat terkejut.


"Hime chan?." Panggil Eiko. Yuki menaikan satu alisnya lalu menoleh kembali menatap Fumio tajam.


"Mama kenal dengan onee chan?. Onee chan sangat mirip dengan Yuu kan." Celoteh Ai.


Puk.


Eiko menoleh ke arah putranya yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Nanti aku jelaskan." Eiko melirik Yuki yang terlihat tidak mengenalinya.


"Apa ada sesuatu yang buruk telah terjadi?." Lirih Eiko.


"Hm." Jawab Fumio.


"Bicaralah, ibu ada di dapur untuk mempersiapkan makan siang." Ucap Eiko lalu mengajak putri dan suaminya meninggalkan ruang tengah.


Hening.


Sudah beberapa menit berlalu Fumio yang duduk di ujung sofa masih membungkam mulutnya. Mereka berdua saling membisu menonton video-video yang terus berputar. Banyak sekali video yang mendokumentasikan mereka, seperti tidak ada habisnya. Dan Ai mengatakan melihatnya setiap hari?!.


Kecanggungan yang aneh merayapi Yuki. Kejadian kemarin malam masih melekat di dalam ingatannya.


Yuki frustasi. Video-video itu membuat otaknya bekerja sangat keras. Mencoba mengingat dan menggali lebih dalam lagi ingatannya, di tambah perasaannya yang mulai merasa aneh. Ia tidak sanggup lagi.


Yuki berdiri. Pers*tan dengan video-video itu. Yuki hanya perlu pergi dari sana dan mengurung dirinya di laboratorium. Ia tidak punya waktu untuk semua ini. Kakinya melangkah pergi.


"Yuu."


DEG!. Yuki melebarkan matanya, ia tidak suka perasaan aneh dan frustasi ini.


"Ojou sama, saya akan mengantarkan anda kembali ke kediaman utama." Ucap Fumio berdiri lalu berjalan melewati Yuki.


Yuki menatap punggung itu, ingatannya kembali pada video saat Yuki kecil menatap punggung Eiji kecil sebelum naik ke atas punggung kecilnya. Yuki segera menggelengkan kepalanya mengusir bayangan-bayangan itu.


"Okaa san (Ibu) aku mau mengantar ojou sama pulang." Pamit Fumio.


Eiko dibuat kaget lagi oleh panggilan formal putranya kepada sang kekasih. Hati Eiko terasa teriris mendengarnya. Setetes air mata jatuh membasahi pipi.


"Ung, hati-hati." Kimura yang peka terhadap situasi langsung mengalihkan perhatian putrinya.


Yuki membungkuk hormat kepada kedua pasangan Kimura sebelum pergi. Ia sengaja melirik ukiran nama di dinding pagar depan rumah tiga lantai itu.


文男 (Fumio).


Maniknya menyipit, bagaimana bisa marga pemilik rumah ini?. Apa mungkin Ai dan orang tuanya menumpang di sini?, otak Yuki kembali memaksa bekerja.


"Ojou sama seharusnya menunggu saja di depan pintu." Ujar Fumio membuka pintu belakang mobil.


Yuki benci saat-saat seperti ini. Tidak tahu apa-apa, frustasi, kesal. Yuki sangat membenci ketidak tahuan.


"Menjauh dariku." Geram Yuki berjalan melewati Fumio.


"Aku tidak bisa janji. Masuklah, aku akan meminta supir untuk mengantarmu." Yuki tidak mendengarkan, ia kembali melangkah.


Wooosshh.


Fumio bergerak menyusul Yuki, membisikan sesuatu dari belakang tubuh gadis itu.


"Ayahku sudah meninggal. Ibuku menikah lagi, Ai adalah adik tiriku. Aku tidak mengganti marga ayahku dengan marga suami baru ibu. Apa itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu?."


Sontak Yuki membalikan badan dan melihat kancing kemeja hitam di depan matanya. Ia mundur dengan cepat, otaknya memproses informasi yang baru ia dapat. Hukuman ini sangat menguji kewarasan Yuki.


Tangannya dengan cekatan menekan satu angka pada layar ponsel.


"Yuki, kamu belum pulang?. Nenek ingin membicarakan sesuatu denganmu." Suara Lusi dari sebrang.


"Nek, jemput aku di dekat kediaman keluarga Fumio sekarang." Pinta Yuki membalikan badannya lagi mengabaikan Fumio yang berdiri memperhatikannya.


"Kamu di sana?. Eiji bersamamu?. Bisa minta Eiji datang ke rumah juga. Nenek ingin membicarakannya dengan kalian." Yuki bertambah kesal mendengar permintaan Lusi.


"Yuki pulang sendiri." Ucap Yuki datar, lalu memutus telefon secara sepihak.


Yuki tahu dia akan dimarahi habis-habisan setelah sampai di rumah karena sikap tidak sopannya kepada sang nenek. Tapi sekarang Yuki tidak bisa berada di dekat Fumio atau otaknya kembali gaduh, berdemo, memaksa Yuki untuk mengingat dan memutar otak dengan keras. Yuki berjalan cepat meninggalkan kompleks rumah elit itu.


Di tengah jalan ketika Yuki mencoba melihat peta rumahnya di ponsel suara decitan ban nyaring berhenti di samping tubuhnya. Fumio keluar dari balik kursi kemudi berjalan ke arah Yuki.


Kenapa dia lagi, gerutu Yuki dalam hati.


"Ojou s,"


"Ojou sama." Fumio menoleh ke belakang kala mendengar panggilan dari orang lain.


Yuki melirik ke sebrang jalan. Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan, Fumihiro membungkuk kepadanya lalu membuka pintu penumpang.


Fumio berusaha tenang menatap gurunya. Sekelebat bayangan melewati Fumio. Hatinya terasa sakit melihat Yuki yang lebih memilih Fumihiro ketimbang di antarkan olehnya.


Sret.


Fumihiro yang sempat merasa lega karena Yuki berjalan ke arahnya dibuat terkejut tiba-tiba gadis itu memutar kakinya ke samping.


Ceklek.


Yuki membuka pintu kemudi, tubuhnya dengan santai masuk ke dalam mobil.


Jebret.


Yuki dengan sengaja menutup pintu mobil Fumio dengan kasar. Kakinya menginjak pedal gas.


Mobil itu bergerak mundur untuk menghindari Fumio lalu Yuki menancap gas memutar setir, mobil melewati Fumio yang masih membeku.


Mereka menyebalkan, kesal Yuki.