
Yamazaki melapor kepada penjaga sekolah ia akan membawa dua muridnya keluar dan kembali sangat malam, dengan sangat mudahnya penjaga mengizinkan Yamazaki.
***
Di dalam mobil Hotaru dan Fumio memakai penutup wajah, berwarna hitam selaras dengan baju mereka yang berwarna serba hitam pula.
"Kamu yakin tidak ingin menggunakan soft lens?." Tanya Yamazaki.
"Tidak, mereka harus mengingat mataku." Yamazaki tersenyum lalu memasang wig dan kacamata hitam.
"Berhati-hatilah, Will sudah menunggu di atas gedung. Lima belas menit lagi di jalan selatan, mobil merah. Kalian siap?." Hotaru dan Fumio mengangguk serempak.
"Waktunya berburu anak-anak." Ucap Yamazaki tersenyum lebar, mereka bertiga keluar dari dalam mobil, Yamazaki memisahkan diri dari Hotaru dan Fumio, pria itu berjalan masuk ke dalam bar yang ada di sebelah gedung dimana ia memarkirkan mobil.
Yamazaki berbaur dengan para pengunjung di sana ia duduk di salah satu meja berpura-pura menikmati musik yang di putar dengan keras, matanya bekerja dengan sangat baik. Menghitung, mengunci lokasi para pegawai bar beserta para algojo alias anggota musuh klan mereka.
Tangan Yamazaki menulis sebuah kode mengirimkannya kepada Will.
Di lain sisi, Hotaru dan Fumio memanjat gedung di samping gedung tujuan mereka, Will memberikan kode lantai yang harus mereka masuki masing-masing lalu melemparkan dua tali tipis yang sudah diuji kekuatannya, Hotaru dan Fumio menangkap tali dengan sempurna melilitkan di pinggang mereka.
"Sampai bertemu nanti." Ujar Fumio melompat berayun tepat ke jendela incarannya.
"Waah, tidak sabaran." Komentar Hotaru memberikan kode kepada Will untuk ikut melompat.
"Pahlawan selalu datang belakangan bukan." Kata Hotaru langsung melompat dan berayun ke salah satu jendela gedung.
Gerakan kecil dari tangan Hotaru membuka jendela dengan mudah. Tangannya melepas tali lalu masuk dengan mulus.
Penjagaan yang buruk, batin Hotaru yang tidak mendapati sensor atau pun alat penjagaan yang lain kecuali cctv.
Cctv dapat dihindari dengan mudah, tidak perlu merusaknya, Hotaru bergerak di titik buta cctv. Ia berdiri di samping patung wanita yang memegang sebuah bunga di pojok ruangan, menunggu.
Lima menit berlalu, suara sandi pintu terdengar oleh telinga Hotaru, tiga orang masuk ke dalam ruangan berukuran sedang namun mewah itu.
"Bagaimana Kel bisa mati?!, dia bersamaku dua menit yang lalu!." Wajah Bos mereka merah padam, bola matanya hampir melompat keluar.
"Tidak ada jejak pembunuhan bos, cctv sedang di cek." Jawab salah satu anak buahnya.
Telepon duduk di ruangan itu berdering nyaring, bos mereka mengangkatnya dengan kesal.
"Ada apa lagi!." Serunya.
"Tuan Koga meninggal di dalam kamarnya." Bos yang mendengar tangan kanan dan tangan kirinya meninggal di waktu yang sama mulai frustasi membanting telepon di tangannya.
"B*jingan!, siapa yang melakukannya !!, ini bukan kematian biasa. Kalian cepat cari tahu! jangan kembali dengan tangan kosong." Bos itu mengacak-acak rambutnya seperti orang kesurupan.
"Aaarrgghh ...!!."
"Baik, kami akan mencarinya bos." Ucap Kedua orang itu membalikan badan.
Belum ada empat langkah kaki mereka berjalan tiba-tiba kedua orang itu menggeram lalu tersungkur ke lantai, melihat kedua anak buahnya tumbang begitu saja tanpa ada penyebab membuat bos murka, ia menggebrak meja sangat keras mengeluarkan pistol dari dalam laci mengarahkannya ke sembarang arah.
"Keluar !. B*jingan !!." Hotaru tersenyum miring dari balik maskernya.
"Apa yang kau mau heh !. Uang?!, berapa yang kamu inginkan?." Bos yang tiba-tiba merasakan ancaman berubah waspada.
"Aku sudah sangat kaya, bahkan aku tidak bisa menghitung uangku." Jawab Hotaru masih berdiri di samping patung.
"Keluar!, dimana kau?!." Pria itu mengarahkan pistolnya lagi ke sembarang arah.
"Ada kata-kata terakhir?." Pria itu semakin terpojok, ia berusaha memfokuskan penglihatannya melihat ke seluruh ruangan.
Sebuah siluet tubuh seseorang berdiri di samping patung, penerangan yang remang membuat pojok ruangan sangat minim cahaya.
"Siapa kau!?." Hotaru mengambil satu langkah keluar dari bayang-bayang patung menatap lurus manik pria itu.
"Aku datang untuk menagih nyawa." Pria itu membeku, tangannya yang menggenggam pistol bergetar hebat.
"Pergilah ke neraka."
Setelah mengucapkan itu jari Hotaru melontarkan bulatan hitam sebesar kelereng mengenai bibir musuhnya lalu pecah mengepulkan asap kecil masuk ke dalam hidung dan mulut yang terbuka karena terkejut.
Tubuh pria itu menegang, pistolnya jatuh dari tangannya, ia menggeram kuat memegangi dada sebelah kiri.
BRUK.
Tubuh pria itu tumbang tak bernyawa, Hotaru melangkah santai ke jendela tempatnya masuk, meraih talinya kembali dan melompat dari sana.
Hotaru mendarat di gedung awal, ia melirik ke atas untuk melihat Will yang sedang menarik tali kembali. Hotaru mengulurkan tangan menunjuk gedung di depannya.
"Kami sudah datang." Ucap Hotaru datar.
Ia segera berlari melompati gedung ke arah selatan. Sebuah bayangan lain menarik perhatiannya. Will, anak kecil itu melompat dengan ringan di gedung sebrang. Hiro san tidak pernah salah memilih orang, batin Hotaru.
Mobil merah berada di gang kecil yang sepi tepat di bawah gedung dimana Hotaru berdiri, Will melemparkan tali lagi kepada Hotaru.
Apa dia sudah sering melakukan ini, batin Hotaru meluncur ke bawah dengan tali yang Will lempar.
Will langsung menyusul Hotaru meluncur ke bawah, ia menarik kembali tali diatas sana, seperti sebuah alat ukur meteran yang di tarik dengan kuat akan kembali tergulung ke tempatnya.
Hotaru dan Will masuk ke dalam mobil.
"Apa yang membuatmu sangat lama?." Hotaru tertawa seraya melepas masker yang menutupi wajahnya.
"Sedikit membuat alur cerita kematian." Jawab Hotaru, pintu kemudi terbuka lalu tertutup dengan keras.
"Ahahaha ..."
Hotaru, Fumio, dan Will menatap aneh Yamazaki yang datang-datang langsung tertawa keras.
"Apa tadi sangat menyenangkan?." Tanya Hotaru.
"Anda tidak melihat bagaimana mereka ketakutan seperti anak ayam kehilangan induknya." Jawab Yamazaki melepas wig dan kacamatanya, mulai menyalakan mobil.
"Apa di lantai bawah sangat ramai?." Fumio kini yang bertanya.
"Seperti sebuah festival, bahkan dj mereka di pukul habis-habisan karena dicurigai telah merencanakan pembunuhan ketiga bos mereka." Yamazaki menjalankan mobilnya.
"Aku ragu mereka bisa menemukan mobil yang sengaja kita tinggalkan." Lanjut Yamazaki.
"Orang yang lebih tinggi kedudukannya dari mereka pasti akan menemukannya." Ujar Hotaru.
"Aku tidak menyangka benda kecil ini bisa membunuh sangat cepat." Fumio mengangkat kotak kaca berisi bola-bola hitam sebesar kelereng.
"Bakat darah ilmuan dari tuan besar memang tidak bisa diragukan lagi." Sahut Yamazaki.
"Aku juga tidak menyangka alat buatan Yuki ada yang menggunakannya." Will menyentuh sakunya yang berisi tali tipis yang di berikan kepadanya.
"Penemuan-penemuan ojou chan diberikan kepada pelindung berbakat, sayang jika penemuan ojou chan hanya di simpan untuk koleksi." Jawab Yamazaki.
"Aku harap kalian memilih dengan bijak penemuan-penemuan Yuki." Fumio melirik Hotaru, ia tahu apa yang sahabat karibnya khawatirkan.
"Tiga orang yang memilikinya, Hiro san, Takeru san, dan Will." Fumio memberitahu Hotaru agar laki-laki itu tidak terlalu memikirkannya.
"Kenapa kamu tidak memilikinya?." Hotaru menatap Fumio dari samping.
"Aku bukan anggota keluarga utama, tidak ada satu orang pun di luar anggota keluarga utama mendapatkan izin untuk memilikinya. Untuk menghindari kudeta atau penghianat yang ingin melawan keluarga utama." Jelas Fumio.
"Tapi semua orang tahu kamu adalah calon anggota penting di dalam keluarga utama." Yamazaki tersenyum melirik jok belakang dari spion dalam mobil.
"Sampai waktunya nanti, aku akan dengan senang hati menerimanya." Hotaru menangkap ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan.
"Siapa yang berani mencalonkan dirinya untuk menjadi pendamping adikku?." Suara Hotaru berubah serius.
Will yang baru mendengar suara serius dari sang pewaris menelan salivanya dengan kasar, tangan kecil Will saling menggenggam erat.
"Fumihiro tentu saja." Sontak Hotaru menatap ke depan meminta penjelasan lebih dari sorot tatapannya. Yamazaki berhenti di depan lampu merah.
"Ada beberapa keluarga terhormat lainnya yang diam-diam mempersiapkan putra mereka untuk siap menjadi calon ojou chan." Ucap Yamazaki.
"Apa mereka berani menentang keputusan kakek?." Hotaru berusaha untuk tidak merasa kesal.
"Fumihiro juga orang kepercayaan tuan besar, sudah di tunjuk menjadi penjaga pribadi ojou chan sejak kalian masih bayi."
Tidak masuk akal, batin Hotaru.
"Fumihiro jugalah yang membangkitkan dan menjaga klan di saat keluarga utama tidak ada, banyak orang yang berspekulasi kalau Fumihiro juga pantas bersanding dengan ojou chan."Jelas Yamazaki.
Fumio menarik nafas pelan membuka jaket yang melekat di tubuhnya.
"Aku tidak akan melepaskannya, jadi kamu tenang saja." Ucap Fumio dengan santai, tapi jawaban Hotaru membuat hatinya bergetar.
"Perset*n dengan menjaga klan atau apa pun itu, aku tetap menghargai Hiro san tapi jika janji kakek kepada mendiang Fumio san ada yang berani merusaknya aku akan turun tangan sendiri." Yamazaki mengangguk setuju.
"Sial, aku tidak menyangka ada yang berani mau merebut Yuki darimu." Hotaru menatap lurus ke depan.
"Berhenti memikirkannya, besok adalah rencana kedua kita." Ucap Fumio mengalihkan fokus Hotaru kalau tidak sahabatnya bisa terus-terusan merasa kesal.
Yuki .., bagaimana caramu untuk merebut hati Yuki dari Dimas, adikku sangat sulit untuk merubah perasaannya, dia tipe perempuan setia. Apalagi dengan semua keadaan ini akan sangat sulit untukmu Eiji, batin Hotaru.
Tidak ada berita tentang pembunuhan beruntun itu, musuh menutupinya dengan sangat rapi, semua orang yang mati terbunuh karena racun yang tidak diketahui namanya membuat kelompok musuh melakukan pertemuan rahasia.
"Apa selanjutnya?." Hotaru melempar kaleng masuk ke dalam tong sampah.
"Satu bulan lagi, osaka." Jawab Hotaru menerawang jauh.
"Sudah waktunya bertemu dengan kepala tim kecil." Lirih Yamazaki ikut membuang kaleng minumannya.
"Baiklah ayo pergi, aku sudah ingin berendam." Ujar Fumio melangkahkan kakinya.
Hotaru, Will dan Yamazaki ikut berjalan meninggalkan mesin penjual otomatis.
Wuuuussshhh ... Seseorang dari arah berlawanan berlari secepat angin melewati mereka.
"Senpaaaiii ...!." Seru laki-laki itu tanpa rasa malu, Hotaru dan lainnya menghiraukan orang aneh yang mereka temui.
"Jangan berteriak Inuzuka kun."
DEG!.
Hotaru merinding hebat, jantungnya berpacu keluar dari irama normal. Kakinya berputar cepat mengejar sosok laki-laki tadi.
Yuki!, Yuki!, Yuki!, dimana kamu?, panggil Hotaru mengedarkan pandangannya seperti orang gila.
Aku tidak mungkin salah mendengar suaramu, batin Hotaru semakin kalut karena tidak melihat sosok yang ia cari.
"Hotaru, ada apa?." Tanya Fumio yang sudah berdiri di sampingnya.
"Aku mendengar suara Yuki." Fumio mengerutkan keningnya.
"Tidak mungkin." Sahut Fumio.
"Kamu meragukanku?!." Geram Hotaru, pandangannya kembali mencari sosok laki-laki tadi.
"Benar kata Eiji kun, tidak mungkin ojou chan ada di jepang. Itu sama saja mengantarkan ojou chan ke akhir hidupnya." Yamazaki menambahi. Tangan Hotaru memukul ruang kosong di samping wajah Yamazaki menguliti laki-laki itu dengan tatapannya.
"Saya mohon maaf, saya telah kelewatan, mulut saya berhak mendapatkan hukuman." Ucap Yamazaki menundukkan tubuhnya sangat dalam.
Fumio menarik tangan Hotaru menurunkannya perlahan.
"Daren dono dan nyonya besar tidak akan gegabah mengirim Yuki ke sini, kamu tahu betul itu." Kata Fumio membuat Hotaru berpikir kembali.
Hotaru mulai meragukan pendengarannya, apa yang dikatakan Yamazaki dan Fumio benar. Jepang adalah kelemahan Yuki, jika dia ada di sini sama saja mengantarkannya kepada kematian.
***
Sma Oukami, bulan enam. Satu bulan sebelum musim panas.
"Ohayou." Sapa Ishikawa kepada Yuki.
"Ohayou gozaimasu." Balas Yuki.
"Kamu ingin melihat latihan kami lagi?, tapi di pagi hari hanya ada aku, anggota lainnya tidak berlatih." Kata Ishikawa.
"Tidak masalah jika hanya melihat senpai." Jawaban Yuki membuat arti lain di kepala Ishikawa.
"Apa kamu sedang merayuku?." Yuki menaikan satu alisnya. Hah?, apa dia habis merayu Ishikawa?, pikir Yuki bingung.
"Tidak." Jawab Yuki tegas.
"Mungkin otakku yang terlalu berimajinasi."
"Ohayou." Ishikawa menoleh ke belakang menunduk hormat membalas sapaan Mizutani.
Ia melirik sedikit kearah Yuki, terakhir kali yang Ishikawa tahu Yuki sedang mencoba kabur dari guru satu ini.
"Boleh aku bergabung Ishikawa kun?." Ishikawa terlihat bingung untuk menjawab.
"Mizutani sensei adalah waliku, ada masalah keluarga saat itu." Yuki menjawab pertanyaan yang ada di dalam kepala laki-laki itu.
"Mizutani sensei ayahmu?." Tanya Ishikawa terkejut.
"Wali, bukan orang tua." Ulang Mizutani.
"A ah, benar juga. Mari masuk." Ishikawa membuka kunci pintu.
Mereka memasuki ruang klub, Ishikawa langsung mengambil posisi di belakang koto, Yuki dan Ishikawa berdiri di dekat pintu menonton permainan solo Ishikawa.
Alat musik itu sudah terjejer rapi, dua di tengah dan sisanya di belakang. Mizutani melirik Yuki mengulurkan kotak kecil berisi pil obat.
"Makan dulu."
Yuki menerima pil itu membuka dan mengeluarkan setengah pil menunggu jari-jari Ishikawa menyentuh senar koto, Yuki tidak ingin membuang waktu efek obat itu. Butuh sepuluh detik baru khasiat pil akan bekerja, dan khasiatnya hanya bertahan selama empat puluh menit.
Ishikawa memainkan melodi yang sama seperti kemarin, Mizutani melirik Yuki yang masih belum memakan pilnya.
Belum, belum, batin Yuki menunggu sesuatu di dalam dirinya terbangun.
Seperti suara mic eror berdengung di dalam telinga Yuki. Ngiiiiiiiiiiing .....
Yuki membuka mulutnya menggigit pil memasukkanya ke dalam mulut, tepat seperti perkiraan Yuki, bayangan-bayangan aneh itu kembali berputar di dalam kepalanya.
Mizutani menatap Yuki yang tidak berkedip melihat Ishikawa bermain dengan kotonya, keringat yang muncul di dahi gadis itu tidak luput dari penglihatan Mizutani.
Yuki, ingat melodi ini nak ... Jangan kamu melupakannya.
Nenek?, batin Yuki yang tidak bisa melihat jelas wajah wanita tua di hadapannya.
Ini adalah lagu warisan dari ibu nenek buyutmu ini.
Yuki menegang, kulitnya merinding hebat. Bayangan wanita tua yang sedang bermain koto di depannya terus tersenyum memainkan senar dengan sangat indah, jari keriputnya terlihat anggun di mata Yuki.
Apa lagi ini?, nenek buyut?!, lelucon apa lagi sekarang!, geram Yuki dalam hati.
Apa nenek buyut juga yang mengajarkan ibu bermain koto?.
DEG!.
Siapa yang kau panggil ibu heh! anak kecil ..!?, teriak Yuki di dalam hati.
Bayangan anak kecil yang sama datang lagi di ruangan yang sama pula seperti kemarin. Yuki ingat, bahkan kini bayangan Ayumi terlihat sangat jelas di samping bayangan wanita tua yang menyebut dirinya nenek buyut. Ayumi menjawab Yuki kecil tanpa menghentikan jarinya dari senar koto.
Tentu, nenek Yuri mengajari ibu dengan sangat sabar, dan suatu saat nanti kamu akan meneruskannya.
Br*ngsek!, siapa yang kamu panggil ibu. Dasar iblis!, Yuki terus berperang dengan bayangan yang muncul di dalam kepalanya.
Yuki ...
Suara tenang bagaikan air yang mengalir itu mengagetkan Yuki, menariknya untuk menatap manik tua itu. Begitu juga bayangan Yuki kecil yang langsung menyempurnakan duduknya bersimpuh meletakan kedua tangan diatas pangkuan.
Hai, Yuri obaa sama (Ya, nenek Yuri).
Tanpa sadar Yuki otomatis menjawab dalam hati bersamaan dengan bayangan Yuki kecil mengatakan hal yang sama.
Ada apa ini?, aku tidak bisa menolak pesona wanita yang mengaku nenek buyut ini, geram Yuki dalam hati.
Ingat melodi ini, perhatikan baik-baik.
Tiba-tiba gerakan tangan keriput itu bergerak cepat membuat melodi megah di dalam telinganya, manik Yuki maupun manik Yuki kecil tidak berkedip sedikit pun.
Sebuah not melodi muncul begitu saja di dalam kepalanya seperti sesuatu yang seharusnya memang berada di sana.
Tubuhnya bergerak tanpa di perintah mengambil tiga tusuk jari memasangnya dengan cepat.
Mizutani terkejut dengan perilaku Yuki, gadis itu memasang tusuk jari koto memposisikan dirinya di samping koto Ishikawa.
Apa yang akan dia lakukan?, batin Mizutani.
Yuki diam sebentar, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, mengangkat kedua tangan dengan anggun.
Bukankah dia tidak mengenal musik koto, apa maksudnya sekarang?, batin Ishikawa yang sudah menghentikan permainannya melihat Yuki bersiap dengan koto di hadapan gadis itu.
Raut wajah Yuki berubah, sikapnya berubah, aura di sekitarnya pun ikut berubah.
Tolong beritahu aku semuanya, siapa pun dirimu, tolong, batin Yuki.
JREEEENNGGG .......
SREEEEEEEKK ....
Dung, teng, teng, sreeeekkk .....
Teng, teng, treng, teng, dung.
Mizutani dan Ishikawa melebarkan mata mereka, melodi yang sama seperti melodi beberapa menit lalu dimainkan oleh Ishikawa terdengar sangat berbeda saat gadis bermata biru itu memainkannya.