Futago

Futago
Sebuah Ke*upan.



Bel berbunyi satu menit yang lalu, Yamanaka sensei wali kelas Yuki membuka pintu dengan setumpuk kertas di tangannya.


Setelah pidato singkat tentang ujian dan memberi saran dan arahan kepada muridnya Yamanaka mulai membagikan kertas-kertas hasil ujian.


Ueno terlihat berbinar setelah menerima kertas hasil ujiannya, apa lagi Natsume ia mengulas senyum lebar kepada Yuki.


Hampir dua minggu Yuki tidak berangkat sekolah saat mendekati hari ujian, dan pernah satu minggu gadis itu juga tidak berangkat, kecil kemungkinan Yuki bisa menyalip nilainya, itulah yang di pikirkan Natsume. Dan suara sensei membuat senyuman Natsume runtuh seketika.


"Selamat Hachibara san, kamu mendapatkan nilai sempurna, saya sempat khawatir karena kamu terlalu lama tidak berangkat sekolah tapi sepertinya kekhawatiran saya tidak perlu." Kata Yamanaka seraya memberikan kertas hasil ujian kepada Yuki.


"Terima kasih sensei." Ucap Yuki kembali ke kursinya.


Natsume menatap Yuki sebal, dengan bibir yang mengerucut dan pipi bulat menggembung.


Yuki sengaja menoleh ke samping menatap Natsume jail lalu menjulurkan lidahnya, spontan Yuki menutup mulut dengan tangan agar orang lain tidak melihat senyum lebarnya setelah melihat ekspresi balasan Natsume.


Sungguh sangat lucu ekspresi gadis itu bagi Yuki, telinga Natsume sangat merah, bola matanya memelotot, mulutnya terbuka ingin melontarkan kata-kata kekesalannya namun terhenti karena masih ada sensei di depan. Yuki menahan suara tawanya agar tidak keluar.


"Kalian bisa melihat ranking hasil ujian keseluruhan kelas di mading depan perpustakaan, selain itu ada informasi lain." Yuki menghentikan aksinya dengan berdeham lirih memperhatikan Yamanaka di depan.


"Seperti tahun kemarin, sekolah akan mengadakan festival olahraga sekaligus festival budaya untuk memeriahkan ulang tahun sekolah minggu depan, jadi sekarang kita akan membagi tugas kalian. Ketua kelas, Takamoto kun dan sekretaris Morisaki san silahkan maju ke depan." Yang di panggil pun berdiri dan berjalan ke depan kelas menggantikan Yamanaka, sedangkan guru itu berdiri bersandar ke jendela di samping kiri kelas.


"Ekhem!. Saya akan mulai." Takamoto membuka suaranya menarik perhatian anak-anak yang lain. Morisaki sudah siap dengan kapur di tangannya menulis judul bagian-bagian untuk di isi nama teman-temannya.


"Kita membahas untuk festival budaya lebih dulu, ada saran kelas kita akan membuat apa?." Kelas seketika menjadi gaduh dengan saran-saran yang diajukan oleh anak-anak.


"Rumah hantu pasti sudah di pilih kelas lain." Tolak Takamoto.


"Cafe maid?, boleh juga." Ucap Takamoto dengan senyum misterius yang langsung mendapatkan protesan dari anak-anak perempuan.


"Baiklah baiklah, cafe maid sepertinya ide buruk untuk kelas kita." Takamoto dan anak laki-laki lainnya memasang wajah kecewa.


"Drama ya?." Takamoto memikirkan ide dari sekretarisnya.


"Teman-teman bagaimana dengan drama?, menurutku itu ide bagus." Takamoto menunggu persetujuan yang lain.


"Baik, sudah di putuskan. Kita akan menampilkan drama. Drama apa yang bagus?, ada usulan?."


"Tokyou ghoul!." Seru salah satu anak.


"Jangan ngaco." Protes Takamoto.


"Zombi!." Yuki melirik Natsume yang sejak tadi tidak terdengar suaranya.


"Di tolak!."


"Death note!."


"Kenapa kalian sadis-sadis sekali!." Seru Takamoto kepada teman-temannya.


Yuki bukan orang bodoh yang tidak bisa menebak, pikiran Natsume sedang tidak berada di dalam kelas. Yuki menopang dagunya lalu melemparkan kertas kecil yang ia bentuk menjadi bulatan tepat di samping dahi gadis itu.


Natsume yang terkejut langsung menoleh menatap Yuki, namun gadis yang di tatap tidak memberikan ekspresi apa pun hanya menatapnya dalam lalu bibir itu bergerak tanpa suara kepadanya.


Dunia akan hancur jika kamu memasang wajah seperti itu, Hazuki.


Suara tawa Natsume pecah menarik perhatian anak-anak yang masih sibuk memilih drama apa yang akan di tampilkan.


"Natsume san, kamu memiliki saran?." Tanya Yamanaka menghentikan tawa Natsume.


"Sensei maaf, bagaimana kalau tentang upik abu yang bermimpi menjadi penari ballet dan di saat itu pula ia bertemu seorang pangeran dan mereka jatuh cinta?, tentu saja ada perebutan antara pangeran dan orang ketiga." Yuki menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar usulan aneh Natsume.


"Eh?!." Seru Takamoto.


"Eeeeehhh ...?!." Lanjut anak-anak yang lain.


"Idemu menarik, belum pernah ada yang menampilkan drama seperti itu. Aku setuju." Semua orang terkejut dengan keputusan guru wali kelas mereka.


"Selain itu, ada perlombaan raja dan ratu perkelas, seperti tahun-tahun yang lalu, akan lebih bagus jika pasangan itu menjadi tokoh utama drama, itu akan menambah poin untuk mereka." Natsume menyunggingkan senyum lebarnya.


"Baik sudah di putuskan, sekarang kalian diskusikan siapa yang kalian pilih menjadi perwakilan raja dan ratu kelas kita." Kata Yamanaka. Natsume paling cepat mengangkat tangannya ke atas.


"Silahkan Natsume san, siapa yang kamu pilih?." Tanya Takamoto. Morisaki menulis tema drama di papan tulis.


"Yu chan!. Kalian pasti setuju denganku kan?." Natsume mengedarkan pandangannya menatap teman-temannya yang lain sedangkan Yuki memutar bola matanya malas.


"Setujuuu ...!." Sorak mereka kompak, Yamanaka menganggukkan kepalanya ikut setuju.


"Baik, Hachibara san terpi." Takamoto menggantungkan kalimatnya melihat Yuki mengangkat tangan.


Dia mau protes?, ooohh tidak bisa. Keputusan kami sudah bulat tidak bisa diganggu gugat, batin anak-anak kelas 2-1.


"Boleh saya mengajukkan seseorang?." Tanya Yuki menatap Yamanaka.


"Tentu." Jawab wali kelas Yuki.


Siapa?, kamu mau balas dendam kepadaku Yu chan, batin Natsume.


"Saya mengusulkan Honda san menjadi perwakilan ratu kelas." Usulan Yuki membuat kelas menjadi hening.


Apa Hachibara san salah sarapan tadi pagi?, kenapa memilih gadis suram menjadi ratu, masih banyak gadis lain yang pantas menjadi ratu, batin Takamoto. Anak-anak yang lain pun berpikiran yang sama.


Yamanaka melirik siswi bernama Honda yang duduk di barisan tengah paling belakang di ikuti oleh anak-anak yang lain. Honda yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian pun semakin menundukkan kepalanya, ia meremas tangannya dengan gelisah.


"Aku tidak melarangmu memilih Honda san tapi boleh saya dengar alasanmu?." Tanya Yamanaka, Yuki menurunkan tangannya.


"Bukankah lebih menarik jika Honda san yang menjadi ratu satu sekolah, sensei." Jawaban Yuki terdengar sangat yakin kalau kelas mereka akan memenangkan perlombaan raja dan ratu itu.


"Apa yang membuatmu seyakin itu?." Yuki mengulas senyum tipis, sangat tipis.


"Saya memiliki mata yang tajam untuk menilai seseorang." Jawab tegas Yuki, tak di sangka oleh anak-anak yang lain, Yamanaka menyunggingkan senyum puas.


"Baiklah, saya serahkan masalah ratu ini kepadamu Hachibara san." Yamanaka memutuskan.


"Eeeeeeehhhh ...??!." Seru semuanya.


"Terima kasih sensei, saya akan bekerja keras." Balas Yuki.


"Ya, saya menantikannya."


Yuki mengabaikan tatapan anak-anak yang mengarah kepadanya, ia sedikit memutar tubuh ke samping menatap Honda yang ternyata sedang menatap punggungnya. Yuki memberikan seulas senyum kecil kepada gadis itu.


"Sekarang untuk rajanya, ada usulan?."


Hening.


Masih Hening.


Hening.


"Baik saya yang memilih." Suara Yamanaka memecah keheningan.


Anak-anak laki-laki menghindari kontak mata dengan Yamanaka, mereka merapalkan mantra agar tidak terpilih.


Pemilihan berjalan lancar setelah melewati protesan demi protesan saat memilih perwakilan raja. Saat ini Takamoto sedang sibuk memisah dan membagi siapa saja yang akan di ikutkan perlombaan festival olah raga. Semua orang harus ikut berpartisipasi, berbagai jenis olah raga juga diadakan. Yuki teringat keributan di kelasnya dulu saat pembagian lomba untuk memeriahkan hari tujuh belas agustus.


Acara pemilihan dan pembagian yang cukup panjang, bel istirahat mengakhiri diskusi mereka dengan hasil yang memuaskan.


Brak!.


"Yu chan!." Yuki melirik Natsume, gadis itu menggebrak mejanya kesal.


"Natsume san." Tegur Ueno.


Yuki dengan kalem membuka bungkus permen, lalu memasukkannya ke dalam mulut Natsume yang hendak mulai protes. Membungkam gadis itu agar diam.


"Jahat!." Natsume melipat tangannya di depan dada.


Yuki menyunggingkan senyum lalu beranjak dari kursinya.


Pengalaman baru, teman-teman baru, suasana baru, banyak hal baru selalu berdatangan, masa lalu pun mulai menarikku untuk menengok ke belakang, dan masa depan yang sulit sudah menungguku. Setidaknya aku bukan orang yang tidak menyukai perubahan namun, bagaimana aku menghadapai masa lalu?. Aku benci ketidak tahuan, orang-orang di masa lalu mengetahui semua yang tidak aku ketahui sedangkan aku tidak tahu apa pun tentang mereka, batin Yuki berjalan menuju gerombolan siswi-siswi di pintu belakang kelas.


"Hahaha, aku ada tugas nih dari guru matematika kerjain ya, besok aku ambil." Siswi 1.


"Aku juga nih." Siswi 2.


"Tugas sastra juga, dua hari lagi antarkan ke kelasku." Siswi 3.


Di saat siswi ke empat hendak memberikan bukunya Yuki menepuk pundak Honda dari belakang. Menarik perhatian mereka tak terkecuali Honda, gadis itu menoleh dan sedikit mendongakkan kepalanya. Pundak di bawah tangan Yuki menegang.


Yuki menerima buku yang di ulurkan oleh siswi 4, aksi Yuki yang mendekati Honda ternyata mendapatkan perhatian dari beberapa anak di dalam kelas.


"Maaf mengganggu kalian, boleh pinjam Honda san?." Ujar Yuki dengan nada suara yang ia buat ramah mengejutkan Natsume dan Ueno yang berada di belakangnya.


Yu chan aneh, biasanya dia lurus datar-datar saja, batin Natsume.


Hachibara san kenapa ya hari ini, batin Ueno.


"A aa, ok. Kami pergi dulu, sampai nanti Honda." Ujar salah satu dari mereka lalu berjalan pergi. Yuki sedikit menjulurkan lehernya menatap punggung mereka.


"Maaf!, mungkin mulai hari ini Honda san akan sibuk denganku." Seru Yuki seraya melemparkan senyum manisnya yang ia buat-buat.


Setelah melihat pembully itu pergi Yuki berjalan menuju meja Honda membalikkan kursi di depan meja gadis itu menghadap ke belakang.


Natsume mendaratkan p*ntatnya di meja samping bangku Honda sedangkan Ueno berdiri di samping Yuki. Pemilik bangku itu berjalan ragu-ragu menghampiri mejanya.


"Aku baru tahu kelakuan asli mereka, jika aku tidak mendengar percakapan mereka tadi, aku mengira selama ini mereka sedang menghibur Honda san." Celetuk Natsume, Honda yang mendengar itu menghentikan langkahnya semakin menundukkan kepala.


"Aku juga merasa tertipu selama ini." Sambung Ueno. Yuki mengambil pensil dari saku dalam seragam lalu membuka buku di hadapannya.


"Ung, Honda san ayo duduk." Honda yang di panggil namanya terkejut, dengan perlahan dan kepala yang masih setia menunduk itu duduk di kursinya.


"Kenapa kamu mengerjakannya Hachibara san?." Ueno menatap lembaran buku yang entah sejak kapan sudah terisi penuh oleh tulisan Yuki.


Yuki menutup buku mengulurkannya kepada Honda lalu meminta ketiga buku yang masih di peluk erat gadis itu.


"Honda san boleh pinjam buku itu?, aku tidak akan merusaknya." Ujar Yuki tersenyum lembut, senyum tulus yang membuat hati siapa saja meleleh.


Dengan gerakkan patah-patah dan ragu-ragu Honda memberikan buku itu kepada Yuki. Yuki tersenyum menerimanya lalu membuka salah satu buku, tangannya sudah sibuk bergerak di atas kertas.


Hening. Ketiga gadis itu menatap takjub ke arah tangan yang bergerak cepat seakan Yuki menulisnya tanpa berpikir.


"Honda san, boleh pinjam pensilmu?." Tanya Yuki, kini gadis itu tidak terlalu kaku dan memberikan pensil miliknya.


"Terima kasih." Ucap Yuki menutup buku meletakkannya di samping lalu menempatkan kedua buku tersisa di hadapannya.


Yuki membuka kedua buku, dua tangannya langsung bergerak tak sinkron, mengisi kertas kosong dengan jawaban-jawaban yang benar. Selesai, Yuki menutup kedua buku dan langsung menumpuknya jadi satu dengan buku yang berada di samping, mendorong buku ke depan dan meletakkan pensil Honda di atasnya, menyimpan kembali pensil miliknya ke dalam saku.


"Mulai hari ini jangan menerima buku tugas orang lain lagi, karena kamu akan sibuk mulai sekarang. Janji?." Ucap Yuki menatap manik yang tertutup poni panjang di hadapannya.


"A apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?!." Jeritan Honda membuat Natsume dan Ueno terkejut tapi tidak dengan Yuki yang masih tersenyum lembut kepada gadis itu.


"Karena kamu berharga." Jawab Yuki mengulurkan tangannya ke depan.


"Sudah cukup bermain dengan mereka bukan?, mulai hari ini. Yoroshiku ne, Honda san."


Yu chan?, batin Natsume.


Hachibara san, batin Ueno.


Honda menatap tangan yang terulur kepadanya, entah kenapa itu seperti jawaban yang selama ini ia tunggu-tunggu. Dengan ragu-ragu Honda menerima uluran Yuki. Yuki meremas lembut tangan kecil miliknya menyalurkan dorongan positif.


"I itu bukan jawaban." Cicit Honda. Yuki terkekeh kecil.


"Ung, kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Boleh angkat wajahmu sedikit Honda san?." Pinta Yuki.


Natsume dan Ueno masih belum paham apa yang di inginkan Yuki sebenarnya.


Honda mengangkat dagunya ke atas dengan malu-malu.


"Terima kasih, kamu boleh menurunkannya." Honda dengan cepat menunduk lagi. Yuki yang merasa ada sesuatu menoleh ke belakang.


"Ada apa?." Takamoto dan teman-teman yang lain yang hendak protes dengan usulan Yuki terdiam di tempat.


Setelah melihat dan mendengar sedikit kejadian di meja itu mereka jadi mengurungkan niat untuk protes.


"Ti tidak, i tu ..." Yuki memotong kalimat Takamoto.


"Aku pergi dulu, ayo Honda san." Ajak Yuki berdiri dari kursinya.


"Eh?." Lirih gadis itu menatap Yuki.


"Mau ke kantin?." Tanya Yuki melirik Ueno dan Natsume.


"Maaf Hachibara san aku ada latihan." Kata Ueno yang mendapati teman satu klubnya sedang menunggu di depan kelas.


"Ung, semangat." Ucap Yuki yang diangguki Ueno. Gadis itu sudah pergi, Yuki beralih kepada Natsume.


"Maaf, aku juga. Ada rapat klub untuk festival budaya besok." Yuki melihat Natsume yang berlari pergi.


"Sepertinya tinggal kita berdua. Mau makan bareng?." Ajak Yuki menatap Honda.


Istirahat itu Yuki habiskan di bangku Honda, menikmati makanan yang mereka bawa masing-masing dalam diam.


"Ha Hachibara san, kenapa kamu memilihku?. Ap apa kamu sedang menghinaku?." Yuki tidak melirik gadis berambut hitam panjang dengan poni panjang yang sepenuhnya menutupi mata.


"Apa kamu akan menghabiskan masa sekolahmu di bully mereka?." Tanya balik Yuki, memasukkan sepotong sosis goreng berbentuk kelinci ke dalam mulutnya.


"Te tentu saja tidak." Jawab cepat Honda meski masih terbata-bata.


"Karena itu aku memilihmu menjadi ratu." Honda menghentikan kegiatannya menatap gadis bermanik biru yang sibuk dengan bentonya.


Honda selalu menatap punggung Yuki dari kejauhan, berandai-andai jika ia memiliki kecantikan yang gadis itu miliki, tubuh tinggi sempurna yang gadis itu miliki, kepribadian keren, cuek, namun terlihat feminim yang gadis itu miliki. Honda sadar dirinya dan Yuki seperti langit dan dasar bumi. Tapi, hanya dengan menatap Yuki dari belakang saja ia sudah senang.


"Percayalah padaku, kamu tidak kalah cantik dengan perempuan-perempuan cantik di sekolah ini, bukankah karena alasan itu mereka membullymu?." Kalimat yang Yuki lontarkan tepat sasaran, Honda terkejut bergeming di kursinya, bahkan jika poninya di angkat akan terlihat jelas matanya yang terbuka lebar.


"Honda san, maukah kamu berjuang melepaskan diri dari para pembully itu?." Yuki melirik dagu gadis di depannya yang dialiri cairan bening susul menyusul.


"Ha Hachi bara san." Lirih Honda dengan suara gemetar.


"Ung, makan dulu." Ujar Yuki.


Setelah mereka menghabiskan makanan mereka Yuki langsung meminta bertukar nomor agar lebih mudah menghubungi gadis itu.


Karena Yuki malas menulis di kertas ia langsung mengetik daftar olah raga yang harus Honda lakukan selama satu minggu ke depan, makanan apa saja yang harus gadis itu makan dan daftar-daftar lainnya lalu mengirimkannya ke Honda.


Gadis itu terkejut melihat kumpulan daftar yang Yuki buat.


"A aku tidak mungkin bi." Yuki menyela Honda.


"Itu adalah cara membalas dendam dengan cara yang elegan Honda san. Kita tidak perlu otot perut dan leher untuk berteriak kepada mereka, kita juga tidak perlu menggunakan kekerasan, karena jika seperti itu. Apa bedanya mereka dengan kita?." Ujar Yuki meminum es lemonnya.


"Sepulang sekolah kita mulai latihan." Ujar Yuki.


"Tapi mungkin kamu juga harus berlatih sendiri, aku dan yang lain sibuk dengan klub masing-masing, maaf." Lanjut Yuki.


"Ti tidak, tidak apa-apa, aku harus berjuang agar mereka berhenti membullyku." Suara Honda terdengar tegas namun masih kaku.


"Hachibara san!." Yuki menoleh ke belakang mencari siapa orang yang memanggilnya.


"Ketua osis mencarimu, kamu di suruh ke ruang osis sekarang!." Seru siswi dari kelas yang sama. Yuki mengangguk kecil untuk menjawabnya.


"Honda san, kamu tahu dimana ruang osis berada?." Tanya Yuki seraya membereskan kotak bentonya.


"D di lantai empat, paling ujung." Jawabnya.


"Terima kasih, aku pergi dulu. Kalau kamu tidak ada kerjaan tolong lakukan daftar nomor empat." Ujar Yuki seraya menunjuk ponsel gadis itu.


Yuki beranjak menaiki anak tangga ke atas, beberapa kali ia berpapasan dengan anak-anak kelas tiga, gadis itu tetap berjalan dengan tenang bahkan suara dari uwabakinya tak terdengar. Yuki berhenti di antara lorong, ia menoleh ke kiri lalu ke kanan, instingnya berkata untuk berjalan ke kanan.


Yuki mengikuti instingnya untuk berjalan ke lorong sebelah kanan, ia melirik kaca jendela yang menampilkan pemandangan halaman tengah sekolah yang sangat luas dan lapangan sepak bola. Ia tak sengaja berpapasan dengan tiga senior yang pernah menyudutkannya di dekat gudang belakang sekolah. Ketiga senior yang sedang bersandar di jendela sambil bercakap-cakap terkejut melihat Yuki, mereka tersenyum kaku kepada gadis itu.


Yuki membalasnya dengan anggukkan kecil tanpa seulas senyum sama sekali.


"Apa menurutmu begitu?."


Chup.


"Maaf, itu hukuman. Hehe ..."


Yuki menaikan satu alisnya, ia di suguhkan pemandangan langka, mungkin super langka karena bukan hanya dirinya yang terdiam namun semua orang di lorong pun lebih terkejut dari dirinya, dan laki-laki yang habis mendapatkan ciuman di pipi itu tetap kalem-kalem saja.


Wow!, kapten cheerleaders ternyata orang yang sangat agresif, batin Yuki melirik pintu kelas yang dimasuki perempuan tadi.


Ia kembali berjalan melewati para seniornya, juga Hajime yang masih bersandar dengan vanilla milk di tangan.


Hajime yang melihat Yuki berjalan melewatinya seraya mengangguk kecil ingin menghentikan langkah gadis itu namun sayang, gadis itu terlibat percakapan dengan temannya seraya berjalan menjauh.


Yuki memasuki ruang osis bersama seniornya sekaligus anggota klub baseball. Mereka berdua sama-sama di panggil oleh ketua osis.


"Ada apa kau memanggilku Tajima, jangan katakan kau mau memberikan tugas merepotkanmu lagi ya." Hardik senior Yuki.


Laki-laki yang pernah Yuki tolak itu tertawa di kursi kebesarannya.


"Kau benar sekali." Jawab Tajima.


"Apa kau kekurangan anggota osis?, tinggal rekrut anak baru, kenapa harus menyusahkan orang sih." Yuki hanya menyimak, sekilas pandangan matanya menyapu ruang osis lalu kembali tidak berminat.


"Kamu lihat sendiri diantara kami tidak ada yang beristirahat sama sekali. Salahkan wali kelasmu kenapa memberikan namamu kepada kami sebagai perwakilan relawan kelas." Yuki mulai paham apa yang sedang terjadi.


"Mohon bantuanya, kamu boleh ambil semua dokumen ini. Dan tolong kumpulkan besok siang." Ucap Tajima memberikan setumpuk dokumen berisi kegiatan festival yang akan diadakan minggu depan.


"Hachibara san." Panggil Tajima melirik gadis itu. Yuki mengangguk kecil.


"Apa perlu aku jelaskan lagi?. Setiap kelas diminta mengajukan relawan untuk membantu osis, dan yang memilihnya adalah para wali kelas masing-masing." Jelas Tajima, Yuki kembali mengangguk kecil.


Para anggota osis yang lain merasa aneh mendengar ketua mereka seperti berbicara sendiri alhasil mereka melirik siapa lawan bicara sang ketua berani-beraninya tidak sopan.


"Kamu hanya perlu mengurutkan jadwal perlombaan, jam, tanggal, dan beri nama perkelas, untuk jadwal lomba perklub tolong di pisah. Kamu paham?." Yuki mengangguk sekilas.


"Heeee .., kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku selembut itu Tajima?." Ejek senior Yuki.


Brak!.


Semua orang melirik si pelaku yang menggebrak meja kecuali Yuki, gadis itu hanya menghela nafas malas.


Kenapa orang-orang hobi banget ingin berurusan denganku, batin Yuki.


"Ada ap." Tajima belum selesai bertanya sudah di srobot dengan seruan sinis.


"Berhenti bersikap angkuh seperti itu!, apa kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa!, dimana sop." Lagi, orang itu tidak menyelesaikan kalimatnya ketika Yuki berbalik dan langsung membungkuk empat puluh lima derajat.


Tanpa mengatakan apa pun Yuki berjalan meninggalkan ruang osis.


"Hahahaha ... Bagaimana perasaanmu sekarang?. Itulah manajer istimewa kami, kau merasakan auranya bukan. Dia membuatmu diam hanya dengan satu gerakkan, bahkan matanya tak sudi melihatmu. Hahahaha, aku pergi dulu Tajima."