Futago

Futago
Bad/Good Memory.



Ke delapan bayangan langsung turun dari atas pohon. Berlari memposisikan diri masing-masing. Rencana kabur yang tak biasa. Mereka mengingat kembali ajaran awal dari para tetua. Mengelabui orang lain sangatlah mudah, namun mengelabui pewaris klan yang menuruni semua teknik bela diri klan sekaligus mewarisi darah keturunan langsung sangat, sangatlah sulit.


Mereka tidak mengira tuan muda mereka berada di sana. Bagaimana semua ini bisa terjadi?. Segala pikiran berkelebat di dalam kepala mereka namun saat ini fokus untuk menyembunyikan nona mudanya lah prioritas utama mereka.


Dazai berlari seperti orang gila, jika ia melewati jalan barat, utara, atau timur, para pelindung akan bertemu dengan para agen intelejen, satu-satunya jalan aman adalah selatan.


"Dai chan." Panggil Yuki. Dazai tidak melirik sedikit pun untuk mengecek keadaan Yuki ia sangat fokus dengan medan di depannya.


"Ada apa ojou chan?."


"Antarkan aku ke klan naga putih berada." Pinta Yuki.


"Apa?!." Jeritan terkejut Dazai tidak di hiraukan oleh Yuki.


"Turunkan aku. Kita pergi ke sana sekarang." Dazai tidak mendengarkan Yuki ia tetap berlari.


"Dai chan!." Tegur Yuki.


"Sangat berbahaya ke sana. Kita bertemu dulu dengan para bayangan lainnya." Jelas Dazai.


"Kalian sudah melumpuhkan mereka dengan jarumku bukan. Tidak ada yang berbahaya." Tegas Yuki.


Sekelebat hitam menarik perhatian Dazai, kakinya berbelok mengikuti arah kelebatan hitam itu.


Wooosshh.


Wooosshh.


Akashi dan Chibi menampakkan dirinya. Ame, Ogura, dan Jojo muncul di belakang Dazai.


"Dimana Tsubaki, kakek Ryuu, dan Hiza?." Tanya Dazai masih berlari.


"Mengecoh sang pewaris. Kakek Ryuu dan Tsubaki yang pernah melakukannya dengan tuan besar dulu. Hiza sedang memasang jebakan untuk pelindung yang lain." Jelas Ame.


"Auramu sudah terlihat oleh waka (tuan muda), ia akan mengejarmu sampai udara berubah. Berikan ojou sama padaku." Pinta Akashi.


"Ojou chan ingin pergi ke tempat klan naga putih berada." Semuanya menatap Yuki. Dalam keadaan berlari pun mereka masih bisa melihat ke arah lain.


"Aku akan menanam pelacak di tubuh mereka. Aku harus pergi ke sana." Jelas Yuki.


"Baik. Dazai, berikan ojou sama padaku." Dazai berhenti, tangannya menurunkan Yuki.


Akashi langsung berjongkok di depan gadis itu. Yuki mengeluarkan kotak permen menggigitnya.


"Ojou chan." Panggil Dazai khawatir.


"Kita harus cepat." Yuki mengingatkan.


Ini gara-gara melihat wajah pelindung yang hendak menyerangnya sebelum kedatangan Hotaru. Ingatannya berputar secara aneh, ia tak melihat wajah siapa pun atau kenangan apa pun, tapi kepalanya terasa sakit.


"Akashi san. Ayo kita berlari." Ajak Yuki.


"Tidak, anda tidak boleh berlari sendiri jika masih ada kami." Tegas Akashi menolak.


"Baiklah, aku akan berlari sendiri." Ucapnya lalu berlari meninggalkan para bayangan di belakang.


"Je, tunjukan arah menuju klan naga putih." Lirih Yuki.


Jam tangannya berubah tampilan menjadi kompas.


"Jangan manjakan ojou chan seperti dulu. Beliau sudah berubah, aku titip ojou chan." Ucap Dazai menepuk pelan pundak Akashi lalu berlari ke arah yang berbeda.


"Waw!. Calon pemimpin kita sangat keren." Celetuk Chibi.


"Kau benar. MOVE!." Balas Akashi.


Wwoooosshhh...


Yuki berlari memacu kakinya, ia kira sudah berlari sangat cepat namun Akashi dan kedua bayangan lainnya sudah berdiri di samping tumpukan tubuh-tubuh anggota naga putih.


"Lari anda sangat cepat ojou sama." Yuki terperanjat menoleh ke belakang.


Ame mengulas senyum hangatnya. Jojo ikut tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya mantap. Yuki tidak sadar sejak tadi ada orang yang mengikutinya dari belakang. Ia belum terbiasa dengan hawa keberadaan para bayangan di saat mereka dalam mode pelindung rahasia seperti ini.


"Terima kasih, tapi tidak secepat kalian." Balas Yuki berjalan menghampiri tumpukan tubuh itu.


Maniknya meneliti setiap wajah. Ia mencari seseorang yang mempunyai posisi lebih tinggi di klan naga putih, bukan pemimpin kelompok sekarang melainkan orang yang memiliki wajah paling licik. Yuki menemukannya, ia meminta Akashi untuk mengambil tubuh itu dan meletakkannya di tempat yang agak luas.


Yuki segera berlutut di samping tubuh anggota klan naga putih. Ia menaruh ibu jarinya di dada dan kening orang itu, memejamkan matanya.


Yuki berusaha menerobos ke dalam ingatan orang itu seperti Jun Ho yang menerobos ingatannya. Para bayangan dengan tenang mengamati apa yang di lakukan Yuki.


Ingatan yang menjijikan. Yuki ingin memuntahkan isi perutnya, hingga sampai pada sebuah ingatan yang berhubungan dengan rahasia negara lain, mereka mencurinya dan menjualnya ke negara musuh. Mereka lebih banyak membantai, menghancurkan, gerakkan berbisa yang menggeliat di bawah tanah. Yuki tidak menemukan BD, sangat sulit mencari sedikit jejak orang itu, bahkan di dalam ingatan orang ini pemimpin kelompok timnya tidak pernah bertemu dengan orang itu. Betapa berbahayanya BD dan klan naga putih.


Yuki menarik dirinya kembali, ia terduduk, nafasnya putus-putus. Manik dua warnanya menatap wajah licik orang itu. Yuki mengelap keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan.


"Ada apa ojou sama?." Tanya Ame.


"Tidak, hanya melihat sedikit ingatannya." Para bayangan terkejut dengan jawaban Yuki.


"Berikan aku waktu sebentar." Pinta Yuki.


"Baik." Ame dan yang lainnya menjaga jarak.


Gadis itu membuka ranselnya mengeluarkan kotak berisikan perlatan medis lengkap. Yuki tanpa ragu mendorong tubuh itu hingga telungkup ia menarik kerah kemeja orang itu. Tangannya memegang pisau bedah dan alat lainnya, bergerak sangat cekatan membelah tengkuk belakang leher sedikit ke bawah, memasukkan benda sangat kecil berwarna hitam, la mulai menjahitnya kembali.


Terlihat sangat cepat, dan tidak ada gerakkan yang sia-sia, semuanya akurat. Lalu Yuki menyuntikkan sesuatu di samping jahitan, mengoles salep berwarna coklat.


"Akashi san tolong taruh tubuh ini di tempat semula." Pinta Yuki.


Di saat Akashi melakukan permintaan Yuki gadis itu membereskan isi ranselnya. Ia berjalan ke dekat pohon duduk bersandar di sana.


"Selain FBI apa ada BND jerman?." Pertanyaan tiba-tiba Yuki mengejutkan Chibi dan Ame.


"Ya. MI-6 dan CIA juga datang." Jawab Ame, Jojo melirik wanita itu.


"BIN juga datang." Imbuh Jojo.


Yuki menarik nafas panjang. Mengeluarkan kotak hitam kecil tempat lensa. Ia menunduk melepas kedua lensa berbeda warna itu, menaruhnya ke dalam kotak. Perlahan Yuki mendongak ke atas melihat para bayangan dengan mata birunya.


DEG!.


"Apa alasan penyerangan kediaman utama karena aku?." Tubuh mereka tak bergerak. Seakan mereka berubah menjadi batu.


Salju mulai turun, jam dua belas sudah terlewat sejak satu jam yang lalu. Gadis itu tidak ingat bahwa umurnya sudah bertambah satu tahun, ia malah mengingat kenangan masa lalu dari ingatan anggota klan naga putih.


Tubuhnya bergetar, membuat para bayangan terkejut dan kebingungan. Apa yang terjadi dengan nona muda mereka.


"Tsuttsun." Panggil Yuki.


Tangannya memasukkan pil kedua ke dalam mulut.


"Ojou sama?!." Panggil Ame khawatir.


"Kita pergi dari sini." Ucap Yuki berlari seraya menutupi mulutnya dengan handuk kecil yang ia bawa. Meninggalkan para bayangan di belakang, ralat. Para bayangan lah yang menyeimbangkan lari mereka dengan Yuki.


***


Kkkrrrssskkkk.


"Dazai." Panggil Mizutani.


"Ya?."


"Salju turun, kembali ke penginapan. Waka (tuan muda) tidak akan menemukanmu." Titahnya.


"Aku mengerti." Jawaban Dazai di ikuti oleh ponsel Mizutani yang bergetar hebat. Suara lirih dari Yuki mengalun pelan.


Tsuttsun.


Pria itu melebarkan matanya melirik ke arah kakek Ryuu yang berhasil lolos dari kejaran Hotaru.


"Anda baik-baik saja kakek Ryuu?." Tanya Mizutani.


"Ya, jangan meremehkan orang tua ini." Balas kakek Ryuu.


"Tentu saja tidak, saya tidak berani melakukannya." Kakek Ryuu menatap tajam Mizutani.


"Jangan selalu merendah Tsubaki. Bagaimana dengan Hiza?." Tanya kakek Ryuu.


"Dia sudah kembali ke penginapan."


"Kita juga harus kembali. Kita harus menyiapkan pesta yang meriah untuk ulang tahun ojou sama." Ujar kakek Ryuu berjalan santai dengan tongkat miliknya.


"Kakek Ryuu saya tidak bisa kembali ke penginapan bersama anda, saya akan menemui ojou san lebih dulu." Jelas Mizutani.


"Ya. Cepatlah pergi." Usir kakek Ryuu.


Wooooossshhh.


Kakek Ryuu berjalan berlawanan arah dengan Hiza. Mereka bersembilan menginap di tempat yang berbeda-beda. Begitulah cara mereka selama ini bergerak.


***


"Ojou sama?. Anda baik-baik saja?." Tanya Akashi melihat Yuki yang sebentar-sebentar berhenti berlari karena hampir menabrak pohon atau batu di depannya. Gadis itu tidak bisa berkonsentrasi, Yuki sibuk meredam suara batuknya.


"Hm." Jawab Yuki.


Wooooossshhh.


Dug!.


Yuki terhuyung ke belakang memegang dahinya. Ia menabrak sesuatu, kepalanya mendongak ke atas. Mizutani menatap manik biru itu. Ia sebenarnya terkejut karena Yuki memperlihatkan matanya kepada para bayangan yang lain. Mizutani melirik ke mulut yang tertutup handuk, handuk itu hampir berwarna merah seluruhnya.


"Tsubaki." Mizutani memotong Akashi.


"Kalian kembali ke penginapan sekarang." Titahnya tanpa mengalihkan perhatian dari Yuki.


"Tsubaki!, dengarkan dulu." Protes Ame.


Sret.


Mizutani melemparkan tatapan tegas kepada wanita itu. Suasana berubah suram, apalagi salju turun semakin lebat.


"Bocah kurang aj*r, sopan sedikit sama orang tua." Chibi melempar kata-kata pedasnya.


"Tck!. Kami mengkhawatirkan ojou sama. Bocah sepertimu harus di kasih contoh sopan santun." Sambung Ogura.


Yuki tidak ingin mendengarnya, ia sudah di ambang batas menahan keinginannya untuk batuk, ia juga tidak yakin handuk di tangannya masih bisa menahan darah dari mulut dan hidungnya.


Bugh.


Yuki menubrukkan tubuhnya kepada Mizutani, tangannya yang lain mencengkeram pinggang pria itu. Semua orang melihatnya.


"Kembali, sekarang." Tegas Mizutani melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Yuki.


"Sampai bertemu di markas." Ucap Akashi dengan nada rendah. Ia pergi di ikuti oleh para bayangan yang lain.


Mizutani mendorong pelan pundak Yuki, memberikan sapu tangan yang baru kepada gadis itu mengambil handuk yang sudah kotor.


"Apa mereka sudah pergi?."


Sret.


Mizutani menggendong Yuki, gadis itu terbatuk mengotori bajunya sendiri dan baju Mizutani menghindari agar darahnya tak terjatuh. Bisa berbahaya jika ada yang mendapati jejak darah miliknya.


"Kita langsung pulang ke tokyo." Ujar Mizutani.


"Barang-barangku masih ada di hotel." Mizutani melirik Yuki sebentar.


"Kita langsung ke hotel."


"Tidak sempat." Mizutani langsung memacu kakinya berlari menerobos malam dingin di dalam hutan.


"Ingatanmu belum akan berhenti?." Yuki memuntahkan darah lebih banyak.


"Ung!."


"Dazai!." Mizutani sedikit meninggikan suaranya.


"Apa yang terjadi?." Dazai yang mendengar nada tak biasa Mizutani segera waspada.


"Siapkan helikopter, di sebelah utara penginapanmu. Ambil barang-barang Yuki di hotel." Mizutani menggantung kalimatnya melirik Yuki.


"Kamar empat ratus tiga belas." Lirih Yuki.


"Kamar empat ratus tiga belas. Cepat." Sergah Mizutani.


"Ojou chan kambuh lagi?." Srobot Dazai segera menjalankan tugasnya.


"Ya."


"Aku akan cepat."


***


25 desember, bagi orang lain adalah hari banyaknya lampu-lampu warna-warni menghiasi jalanan dengan pohon cemara di setiap rumah, di hias dengan begitu ramai. Menikmati waktu kebersamaan dengan orang terkasih atau pun keluarga.


Kantin asrama cukup ramai karena anak-anak kelas tiga ikut berkumpul merayakan yang mereka sebut christmas. Kantin di dekor sangat ramai dengan balon-balon dan pita-pita. Meja kantin di penuhi banyak aneka makanan, bahkan para manajer membuat kue khusus untuk merayakan hari itu.


"Kenapa wajahmu datar begitu?. Yang lain sangat bersemangat." Hajime duduk di samping Yuki.


"Aku tidak tertarik." Jawab Yuki datar.


"Kenapa?." Hajime melirik wajah sedikit pucat Yuki.


"Tidak ada alasan tertentu." Hajime mengulas senyum tipis.


Jika Hajime tahu bahwa gadis di sampingnya itu tidak memiliki hari istimewa atau pun tidak pernah merayakan hari istimewa apa pun, apa yang akan pemuda itu katakan?. Yuki tidak mengenal hari ulang tahun kecuali bertambahnya usia sama saja semakin dekat ia menjadi boneka perusahaan sang ayah. Ia tak mengenal hari ibu, hari ayah, atau pun pesta ulang tahun mereka. Yuki hanya mengetahui hari sumpah pemuda, hari pahlawan, hari ulang tahun indonesia, korea, jepang, sebatas itu.


"Sebentar." Ujar Hajime berlalu pergi.


"Bagaimana keadaanmu?." Yuki melirik Mizutani yang berdiri di sampingnya.


"Masih baik-baik saja." Jawab gadis itu.


"Jangan banyak bergerak. Hemat tenagamu." Yuki menarik nafas kecil.


"Hm."


Setelah Mizutani menghubungi Dazai untuk mengirimkan helikopter untunglah penyakit gadis itu berhenti sebelum waktu efek pil ke dua habis. Mizutani segera membawa Yuki kembali ke tokyo.


Mizutani kembali bergabung dengan Suzune, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Mereka sekaligus sedang merayakan kemenangan keberhasilan merebut tiket bertanding di koshien (pertandingan nasional).


"Aku mengambil beberapa, para manajer membuat banyak kue." Hajime menyodorkan piring berisi tiga potong kue dengan rasa yang berbeda. Yuki melirik sekilas kue itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tidak biasanya kamu tidak bersemangat melihat makanan manis di depanmu?." Hajime menatap gadis di sampingnya itu.


"Aku keluar sebentar." Pamit Yuki membawa piring berisi kue yang di berikan Hajime.


Kakinya membawa Yuki ke bangku panjang lorong asrama yang sepi, ia duduk di samping mesin minuman otomatis. Menyandarkan punggungnya menengadah ke atas. Pikirannya terlalu sibuk hingga membuatnya tidak nafsu makan, tidak ingin melakukan apa pun.


Entah sudah berapa menit ia berada di luar hingga Hajime menghampirinya.


"Belum di makan?." Yuki melirik ke samping.


"Di luar sangat dingin, ayo kembali ke dalam." Ajak Hajime. Yuki menatap kue di piringnya.


"Mau aku suruh Keiji menjemput ke sini?." Tawar Hajime yang melihat suasana hati Yuki sedang buruk.


Gadis itu tidak menjawab, tangannya mengambil garpu kecil memotong salah satu kue dan diulurkannya ke arah Hajime, membuat pemuda itu bingung.


"Mau mewakiliku memakannya?." Bagaimana Hajime bisa menolak jika melihat manik biru itu berkaca-kaca karena dinginnya udara di luar.


Hajime tidak menjawab Yuki, ia sedikit membungkuk lalu membuka mulutnya menunggu Yuki memasukkan kue itu. Yuki mengulas senyum kecil namun sorot matanya masih sama. Yuki memasukan kue itu ke dalam mulut Hajime. Ia terus melakukannya hingga kue di atas piring tandas, manik biru itu menangkap semburat pink di wajah kalem Hajime.


Yuki segera memasukkan beberapa koin untuk membeli minuman hangat.


"Yuki." Gadis itu mengambil dua kaleng minuman hangat.


"Hm?." Yuki memberikan satunya kepada Hajime.


"Kamu ingin kado apa?." Yuki mengangkat satu alisnya.


"Aku bingung mencari kado yang sesuai untukmu." Jelas Hajime.


"Untuk apa?. Aku tidak memerlukan apa pun." Jawab singkat Yuki menengguk minumannya. Hajime mengalihkan pandangannya dari gadis itu ikut menengguk minumannya.


"Ayo masuk." Ajak Hajime beranjak berdiri.


Yuki mendongak menatap manik teduh Hajime. Hajime balas menatapnya menunggu.


"Apa aku berhak meminta sesuatu?." Tanya Yuki, Hajime mengangguk kecil.


"Apa senpai mau memberikannya untukku?." Tanya Yuki lagi.


"Ung."


Aku ingin sebuah pelukkan, pinta Yuki dalam hati.


"Ayo, masuk." Ucap Yuki pada akhirnya.


Gadis itu berdiri seraya mengulas senyum tipis yang ia buat secara paksa. Kakinya mulai berjalan kembali ke kantin.


Pak.


Suara tepukan terdengar di lorong sepi itu. Hajime yang hendak menepuk pelan pucuk kepala Yuki berakhir menepuk tangan gadis itu. Yuki yang membaca gerakkan Hajime segera memblokir niat laki-laki itu.


"Nakal." Celetuk Yuki melirik ke belakang. Tawa Hajime mengalun lirih.


Yuki membuka pintu kantin dan ia di sambut oleh suara melengking dari Natsume dan yang lainnya, suara terompet dan ledakan kertas warna-warni jatuh di atas kepalanya.


"Otanjyoubi omedetou ...! (Selamat ulang tahun ...!)." Seru Natsume.


"Happy birthday, senpaiii !."


"Hachibara san, selamat ulang tahun!." Yuki diam sebentar, menatap dua kue dengan gambar wajahnya, datar, cuek, dan ada kue ke tiga, kue coklat dengan buah cherry merah di atasnya.


Sial!, rutuk Yuki dalam hati.


Tangannya masuk ke dalam saku mengambil kotak permen membukanya tanpa pikir panjang.


"Yu chan, tiup dulu lilinnya, kamu bisa makan permen nanti." Pinta Natsume. Yuki mengulas senyum kecil lalu meniup lilin-lilin kue membuatnya semakin merasakan luapan ingatan dan luapan rasa sakit. Ia membuka tutup permen mendekatkan pil ke dalam mulutnya.


Sret!.


Yuki mulai berkeringat dingin, ia melirik tangan Mizutani yang menggenggam tangannya erat, menjauhkan kotak permen dari mulutnya. Yuki sudah tidak kuat, ia hampir hilang kendali.


"Kamu tidak boleh memakan pil ke tiga." Lirih Mizutani seperti sebuah bisikan.


"Sensei?." Panggil bingung Natsume dan yang lain.


Hajime yang berdiri di belakang Yuki dapat melihat dengan jelas wajah serius Mizutani, teringat wajah pelatihnya saat terburu-buru datang ke rumah Yuki. Hajime tersadar, ia langsung menurunkan pandangannya kepada gadis yang terlihat bergetar kecil.


"Ada urusan keluarga mendadak, maaf mengganggu acara kejutan kalian. Yuki harus pulang sekarang." Jelas Mizutani menatap murid-muridnya.


"Tapi sensei, kita sudah," Hajime memotong Natsume.


"Natsume san. Sepertinya sensei harus pergi sekarang." Anak-anak terkejut.


Ada hubungan apa Yuuki senpai dengan Yuki?, batin mereka.


Yuki sekuat tenaga berjalan pelan meninggalkan kantin melewati Hajime yang memberikannya jalan. Mizutani mengikutinya dari belakang.


Ceklek.


BRUK!.


Setelah pintu tertutup Yuki tidak bisa menjaga tubuhnya lagi, tubuhnya bergetar hebat.


"Suara apa itu?!. Yu chan, kamu tidak ap. Senpai?." Suara Natsume dan Hajime mulai samar-samar terdengar.


"Uhuk!." Mizutani tidak sempat menutup mulut Yuki. Gadis itu sudah mulai menarik rambutnya.


Srek.


Mizutani langsung membawa Yuki pergi ke ruang lab bahasa yang kedap suara menguncinya dari dalam. Ia melakukan seperti biasanya. Mizutani juga menyempatkan diri menghubungi Dazai.


Di dalam kantin, Natsume yang merasa curiga dengan tingkah gurunya itu bersikeras mengejar Yuki. Ini bukan pertama kalinya guru sekaligus wali temannya itu bertingkah mencurigakan seperti tadi.


Hari ini sudah kelewatan, Yu chan sedang berulang tahun dan alasan mendadak macam apa itu?, bukankah tadi sensei terlihat tenang-tenang saja, gerutu Natsume dalam hati.


"Yuuki senpai, awas." Ketus Natsume mendorong Hajime ke samping. Ia berjalan keluar kantin.


"Natsume san." Panggil Hajime menyusul dari belakang. Pemuda itu menatap bingung teman Yuki yang memiliki semangat berlebihan itu sedang berjongkok memperhatikan sesuatu.


"Natsume san." Panggil Hajime lagi mendekati gadis itu.


"Darah, masih basah." Lirih Natsume menunjukkan cairan kental berwarna merah di jarinya.


"Senpai tahu ini?." Hajime menatap cairan kental itu.


"Tidak."


Natsume merinding di sekujur tubuhnya. Ia berdiri menatap Hajime dengan manik bergetar.


"Aku akan mencarinya." Lirih Natsume berlari pergi.


Pemuda itu masih berdiri diam menatap darah kental di atas tanah sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Hajime menoleh mendapati Kudo melihat apa yang sedang ia lihat.


"Aku pernah melihat mulutnya mengeluarkan darah." Deg!. Hajime melebarkan matanya menatap Kudo.


"Aku juga sudah tiga kali ini melihat reaksi tubuhnya yang menahan rasa sakit." Aku Kudo. Hajime tidak menyangka, sejak kapan Kudo mengetahui semua itu?.


"Mereka tidak akan pergi jauh, mereka memiliki alasan tidak pergi jauh saat tubuhnya bereaksi." Jelas Kudo.


"Tapi menurutku Yuuki san." Kudo menghentikan langkah Hajime yang hendak pergi.


"Biarkan ini menjadi sebuah rahasia yang tidak kita ketahui, manajer mungkin tidak ingin orang lain mengetahui penyakitnya." Mantan kapten dan kapten sekarang saling menatap penuh arti.


"Kamu benar." Ucap Hajime.