
Yuki sudah siap dengan ini. Tidak ada ritual yang berlebih, Daren hanya mengatakan serangkaian pesan dari Hachibara Ko ayah mertua sekaligus yang membuat pelindung rahasia (pelindung bayangan).
Sumpah para bayangan menggunakan setetes darah mereka masing-masing, mengumpulkannya di dalam satu wadah. Mereka mengatakan hal itu adalah sakral, Yuki pun mengulurkan telunjuknya ke depan menempatkannya di atas tabung kecil. Yuki melirik ke depan memperhatikan ke sembilan bayangan.
Tidak ada yang duduk di proses penobatan, semua orang berdiri di depan kursi masing-masing. Daren sudah menggeser tempat duduknya setelah selesai memberikan pesan sang ayah mertua. Sekarang, Yuki berdiri di ujung meja, ia membulatkan tekad dan meyakinkan diri sendiri.
Setelah ini ia akan bertanggung jawab dengan ke sembilan nyawa di bawah kepemimpinannya. Ia akan menjadi seorang pemimpin yang akan membawa bayangan bersamanya. Tanggung jawab yang bebas di berikan keseluruhanya pada Yuki.
Yuki mendekatkan jarum di bawah telunjuk, menusuknya hingga darah kental mengalir jatuh bercampur dengan darah ke sembilan bayangan.
Plung.
"Dengan ini Hachibara Yuki menerima kalian menjadi pelindungnya."
"Nyawa kami milik anda!." Seru mereka serentak.
Srek!.
Para pelindung membungkuk dalam.
"Tegakkan tubuh kalian." Para bayangan mengikuti perintah ketua baru mereka.
"Duduklah." Yuki melirik ke kanan.
"Ayah juga, silahkan duduk." Imbuh Yuki.
Mizutani mendekat membawa sebuah kotak persegi panjang memberikannya kepada Yuki.
"Milik anda." Yuki menerimanya dan membuka kotak itu.
"Kamu yang menyimpannya Tsuttsun?." Yuki mengeluarkan pedang pendek dengan sarung pedang berwarna merah dan ukiran emas.
"Ya, ojou sama. Kaisar pertama memiliki dua samurai dan pedang pendek bercabang." Jelas Mizutani.
"Kakekmu mewariskan pedang itu untukmu." Tambah Daren. Yuki meletakannya di atas meja.
"Bagaimana dengan samurainya?." Tanya Yuki.
"Di pegang ibumu." Jawab Daren.
"Posisinya sebagai pewaris belum di turunkan kepada Hotaru. Kakakmu masih banyak yang harus di pelajari lagi di dalam klan. Tapi, sebagian besar adalah diturunkan langsung dari pewaris sebelumnya, karena itu keberadaan ibumu sangat penting atau tradisi klan akan hancur. Semua orang mengetahui fakta itu." Lanjut Daren. Yuki tidak memberi respon.
"Baik. Langsung saja, tugas pertama dariku." Yuki masih berdiri, wajahnya berubah datar dengan sorot mata yang tegas. Mizutani segera kembali ke kursinya.
"Ame san, aku mungkin akan memintamu menyamar menjadi penari er*tis di beberapa klub. Apa kamu bersedia?." Manik Yuki langsung tertuju kepada ibu Sayuri.
"Saya akan melakukannya dengan baik." Jawaban tanpa keraguan dari Ame membuat Yuki semakin yakin akan kualitas bayangan.
"Baiklah. Ini tugas yang sebenarnya harus kamu lakukan." Yuki mengangkat satu jarinya setinggi dagu, Je melayang di atasnya.
"Je, tunjukan profil bandar internasional klan naga putih." Titah Yuki.
"Di konfirmasi."
Sepasang mata burung hantu itu mengeluarkan cahaya hologram yang mengejutkan semua orang, kecuali Mizutani dan Dazai tentunya.
Foto full badan bergerak berputar pelan, di sampingnya profil lengkap orang tersebut.
"Ingat dan hafalkan profil orang ini. Tugas Ame san adalah menjadi wanita sosialita sexy yang suka menghamburkan uang. Berkeliling dunia untuk mengikuti pelelangan gelap." Jelas Yuki.
"Dalam kata lain, saya mengikuti orang ini." Yuki mengangguk mantap.
"Tapi tujuan utamanya adalah membuat dia tertarik kepada Ame san. Orang ini sangat menyukai wanita sosialita yang memiliki tubuh sexy agar dapat dimanfaatkan olehnya. Selera anak buah BD tidaklah main-main dan Ame san masuk ke dalam kriterianya. Satu black card sudah cukup untuk menjalankan rencana ini." Yuki memberikan selembar kartu berwarna hitam kepada Ame.
"Harus saya mulai dari mana dan kapan ojou sama?." Tanya Ame.
"Apa kamu sudah paham tugasmu Ame san?. Kamu juga akan bertemu dengan banyak saingan profesional nantinya." Yuki tidak sadar sejak tadi ada yang menahan emosi.
"Saya sangat paham ojou sama. Para agen intelejen dari CIA dan yang lain. Saya pastikan akan mengeruk informasi dari orang ini." Yuki tersenyum kecil.
Daren terkejut mendengar nama salah satu badan intelejen besar dari amerika di sebut-sebut oleh Ame.
"Kalau bisa jauhi agen MI-6 dan BND, peluang resikonya sangat tinggi. Mereka diam-diam bekerja sama, BND memberikan informasi dari hasil meretas data rahasia negara Russia dua hari yang lalu kepada MI-6, sedangkan MI-6 memanfaatkan senjata terkemuka mereka untuk operasi ini." Yuki memberikan informasi penting hasil ia mengorbankan waktu tidurnya.
Hening.
Daren tidak tahan lagi. Ia sungguh tidak menyangka putrinya bertindak sejauh ini padahal orang-orang pilihan di klan belum mendapatkan kemajuan dalam pencarian klan naga putih. Daren kira ia membesarkan Yuki menjadi seorang pengusaha muda yang akan mampu menundukkan bisnis dunia di bawah kaki putrinya. Tapi apa yang sebenarnya putrinya lakukan di belakang Daren selama ini?.
"Yuki!. Cukup. Bagaimana kamu melakukan ini?. Burung hantu ini juga. Kapan kamu membuatnya?." Daren berdiri menatap dalam manik putrinya lalu menarik nafas panjang.
"Sebelas tahun yang lalu aku membuatnya." Para bayangan tidak berani melirik atau pun hanya sekedar menghela nafas. Daren menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan, hal yang tidak pernah Yuki lihat.
Sepertinya ayah marah, batin Yuki.
"Dimana?" Lirih Daren lelah. Ia kecolongan oleh putrinya.
"Di rumah, indonesia." Yuki segera menambahi.
"Butuh waktu bertahun-tahun sampai aku bisa menyempurnakan Je, aku tidak akan membiarkan ayah menyentuhnya." Sergah Yuki.
"Siapa saja yang tahu?." Yuki tidak menyangka Daren akan menanyakan itu.
"Semua orang di sini, tidak ada yang lain." Jawab Yuki.
Bruk.
Daren menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di kursi. Ia sudah melihat betapa berbahayanya burung hantu itu saat menyerang tadi. Ia tidak bisa menggertak Yuki sembarangan jika ada burung hantu itu. Daren di buat lelah oleh putrinya.
"Jangan tunjukan kepada orang lain." Yuki mengedipkan kelopak matanya dua kali melihat ayahnya pasrah begitu saja.
"Ung, tidak akan." Setelah mengatakan itu Yuki kembali menatap Ame.
"Mulai besok pergilah ke Yunani. Cukup pergi ke hotel termahal di ibu kota Athena menginap selama dua hari, lalu pergi ke mesir, pastikan kamu menetap selama dua hari di setiap negara. Orang ini tidak sulit di cari jika kamu selalu membooking hotel termahal. Negara berikutnya kamu dapat menebaknya setelah sampai di mesir." Ame menganggukkan kepala.
"Aku percayakan orang ini kepadamu Ame san."
"Baik ojou sama." Yuki beralih menatap Chibi.
"Untukmu Chibi san. Je tampilkan algojo klan naga putih." Layar hologram berubah tampilan.
Chibi mengamati baik-baik profil pria botak yang memiliki banyak bekas luka di kepalanya.
"Dia bodoh." Komentar Chibi.
"Benar. Tapi dia adalah hewan buas. Tidak butuh pintar untuk menjadi hewan buas. Berhati-hatilah dengannya, orang ini bisa mencium aroma darah seseorang dari udara, mendeteksinya, menyimpulkan orang itu berbahaya atau tidak, siksa atau bunuh."
Ogura menyipitkan matanya membaca satu baris tulisan pada layar hologram.
"Mantan nara pidana Alcatraz (berada di teluk San Fransisco, California, Amerika Serikat. Tempat menampung penjahat-penjahat yang paling sulit ditangkap dan berbahaya di Amerika selama beberapa tahun, dan hanya beberapa penjahat yang di tahan di sana). Chibi, kau akan di bunuh olehnya." Celetuk Ogura.
"Karena itu aku memilih Jojo san untuk ikut bersama Chibi san." Jojo mengangguk semangat mendengar tugas yang di berikan kepadanya.
"Apa yang harus kami lakukan dengan orang ini?." Tanya Jojo.
"Bunuh dia dengan racun gas. Tanpa bertemu dengannya, kalian harus memasang jebakan yang sangat halus dan sempurna." Yuki memberikan tugas berat.
"Baik."
"Baik."
Yuki tersenyum lalu beralih menatap Hiza dan Akashi.
"Hiza san pergilah ke taipe. Sekap wanita ini, jangan biarkan dia meloloskan diri apa pun yang terjadi." Setelah mengatakan itu Yuki meminta Je menunjukkan profil yang lain.
"Dia adalah kunci untuk membuka salah satu rahasia BD. Jaga dia dengan nyawamu." Imbuh Yuki.
"Baik. Ojou sama." Manik Hiza berkilat tajam.
"Akashi san."
"Mungkin kamu tidak menyukainya tapi kamu lah yang cocok dengan tugas ini." Akashi di buat penasaran oleh Yuki.
"Kejar iblis itu untukku." Geram Yuki. Mizutani dan Dazai terkejut mengetahui siapa orang yang di maksud oleh Yuki sedangkan yang lain menampakkan wajah bingung mereka, tak terkecuali Daren.
"Je tampilkan profil iblis."
"Di konfirmasi."
Layar berubah menampilkan wajah wanita muda, kulit kecoklatan khas wanita timor-timur. Mata bulat hitam, bibir tipis dengan tindik di bibir bawah, hidung agak besar.
"Iblis itu pikir bisa menipuku." Komentar sinis Yuki.
Jika saja aku boleh memegang komputer sejak berhasil membuat pil aku pasti bisa menemukan Hotaru lebih awal, batin Yuki.
"Siapa itu ojou sama?." Tanya Akashi.
"Kamu akan mengetahuinya Akashi san. Cukup ikuti dan perhatikan apa yang dia lakukan." Jawab Yuki.
"Baik."
"Ini yang terpenting. Kirimkan laporan kalian padaku dengan ponsel kalian. Ketik sandi ini di awal pesan. Je, tunjukan." Je menampilkan sandi rumit yang terlihat simpel dengan huruf dan angka.
"Lalu sandi ini di akhir laporan untuk mengirimnya padaku. Je." Sandi lain muncul.
"Ojou sama bukankah itu terlalu mudah?." Chibi meragukan sandi milik Yuki.
"Benarkah?. Sandi itu hanya bisa di tuliskan oleh kalian. Je merekam sidik jari kalian dari pistol yang aku berikan. Selain dengan sidik jari yang terekam sandi itu tidak memiliki efek apa pun." Jelas Yuki.
Ojou sama mempersiapkannya sampai sejauh ini, batin mereka kagum.
"Bagaimana jika ada orang lain yang memegang pistol kami?." Yuki melirik Mizutani.
"Je hanya merekam sidik jari pertama yang memegang pistol." Jawab Yuki.
"Selesai, kalian berangkat besok. Berhati-hatilah. Sekarang giliran kita untuk berburu." Yuki mengakhiri pembagian tugas. Gadis itu untuk pertama kalinya duduk di kursi ketua klan.
Di sana, saat Yuki bersandar di punggung kursi ia merasakan sesuatu yang aneh. Tangannya terulur ke bawah mencari sesuatu mengikuti instingnya.
"Yuki. Sekarang waktunya tatomu di hapus." Gerakkan tangan Yuki berhenti, ia melirik Daren.
"Kenapa?."
"Kamu sudah tahu semuanya. Tato itu tidak berguna lagi." Yuki mengiyakan setuju dengan Daren.
Dazai berjalan menghampiri Yuki membawa alat miliknya. Gadis itu menyingkirkan rambut dan lengan gaun. Selagi Dazai menghapus tato Yuki dengan infra merah buatan kakek Ryuu Yuki melanjutkan dialognya dengan sang ayah.
"Ayah, bisakah merahasiakan semua yang ayah dengar?." Daren melirik Yuki.
"Kenapa?."
"Nenek dan Hotaru sedang bergerak untuk menyelesaikan semua ini. Jadi, informasi yang aku miliki sangat penting dan aku tidak ingin mereka mengetahuinya."
"Kamu masih mengabaikan saudaramu?."
"Hm."
"Yuki, jangan lakukan itu." Daren tidak ingin anak kembarnya yang tidak dapat terpisahkan berubah seperti musuh seperti ini.
"Ini untuk kebaikan Hotaru."
"Bukan. Kenapa kalian tidak bekerja sama untuk mencari BD? itu lebih baik dan tidak bergerak sendiri-sendiri." Yuki menoleh menatap ayahnya. Daren membalas menatap Yuki.
Kedua pasang mata berwarna biru itu saling beradu, Daren menekan Yuki dengan kharisma dan wibawanya membuat sang putri buka mulut.
"Nenek dan Hotaru berencana melakukannya sendiri dan menyembunyikanku dari musuh. Lagi." Ucap Yuki.
"Mereka mengkhawatirkanmu. Sembilan bayangan juga akan melindungimu, tidak perlu mengabaikan saudaramu, Yuki." Yuki menghela nafas berat untuk pertama kalinya di hadapan Daren.
"Tujuanku bukan sekedar yang ayah pikirkan." Daren diam menunggu.
"Katakan." Yuki membuang wajahnya menatap Je yang masih melayang di depannya.
"Mereka tidak akan membiarkan aku ikut campur, mereka masih menganggapku Yuki yang dulu. Jika aku bersikap seperti biasanya kepada Hotaru aku tidak bisa bergerak bebas." Yuki membuka satu tangannya membiarkan Je mendarat di sana.
"Hotaru lagi-lagi akan mengorbankan dirinya untukku dan aku tidak menyukai itu." Jelas Yuki.
"Dia kakakmu sudah seharusnya Hotaru melindungimu." Yuki melirik Daren dengan cepat. Ketegangan tercipta diantara keduanya.
"Kami hanya terpaut dua menit ayah. Ayah tidak merasakan betapa sakitnya sebuah cambukan mendarat berkali-kali di kulit polos Hotaru. Ayah tidak merasakan perih dan nyerinya setiap sayatan pisau yang mengiris-iris punggung Hotaru. Ayah tidak merasakan betapa menyakitkannya menahan efek racun di dalam tubuh Hotaru, tendangan di ulu hatinya, wajah, kaki, cekikan di leher, mereka melakukan semua itu hanya karena salah paham!. I feel it Dad! (Aku merasakannya Ayah!)." Geram Yuki di akhir kalimat.
Dazai terkejut melihat pundak Yuki yang bergetar. Gadis itu mulai memukul-mukul dadanya seraya mengatur nafas. Yuki menahan air matanya, ia menahan gejolak menyiksa itu.
"Yuki." Daren berdiri membawa putrinya ke dalam pelukkan.
"Please dad, please understand my feelings (Aku mohon ayah, tolong mengerti perasaanku)."
"Sorry, daddy forgot the inner contact between you two (Maaf, ayah melupakan kontak batin di antara kalian)." Yuki melingkarkan tangannya yang lain di punggung Daren.
"I don't want Hotaru to sacrifice for me anymore. I don't want to lose anyone again. Because it hurts so much. (Aku tidak ingin Hotaru berkorban untukku lagi. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi. Karena itu sangat menyakitkan.)." Lirih Yuki menyembunyikan wajahnya di dalam pelukkan Daren.
Cup.
Daren mengecup pucuk kepala Yuki, ikut merasakan rasa sakit yang selama ini putrinya pendam sendiri.
"It's ok honey, its ok (Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa)." Daren mencoba menenangkan putrinya.
Yuki membeku mendengar panggilan hangat yang tidak pernah Daren berikan untuknya mungkin, karena Yuki tidak mengingatnya. Tapi hati Yuki tidak bisa berbohong, seakan hatinya sudah sangat merindukan panggilan itu dari Daren.
***
Pagi yang cerah dan sibuk di dalam kediaman utama. Para petugas pandora terkejut menemukan diri mereka tertidur di lantai. Tapi tidak ada keanehan di keamanan atau di sekitar mereka. Dengan kepala penuh pertanyaan mereka tetap melakukan kegiatan pagi mereka.
Yuki membuka pintu kamarnya di pandora. Ia baru pulang dari markas utama bayangan. Siapa yang menyangka jika kakek Yuki membuat jalan bawah tanah dari markas menyambung ke dalam kamarnya di pandora. Pantas saja ayahnya menyuruh Yuki pergi ke perpustakaan di pandora.
Setelah menjelaskan alasannya mengabaikan Hotaru Yuki menghabiskan waktu mengobrol dengan kakek Ryuu. Mendengarkan cerita tentang salah satu orang tertua di klan. Hanya tersisa dua orang, kakek Ryuu yang dulunya mengabdi kepada kakek buyut Yuki dan sekarang sampai kepada cicitnya. Satu lagi, orang yang sering dijuluki profesor buku leluhur. Yang tidak pernah meninggalkan pandora.
Kini Yuki sedang menatap orang itu. Kakek tua yang mengantarnya ke kamar.
"Selamat pagi prof. Apa tidur anda nyenyak?." Sapa Yuki saat berpapasan di lantai dasar.
"Ojou sama, anda sudah mengingat panggilan saya." Yuki mengulas senyum.
"Ung."
"Kami para petugas pandora sedang kebingungan, bagaimana kami bisa ketiduran di tempat yang tidak seharusnya, secara bersamaan. Mungkin ojou sama tahu sesuatu?."
"Saya masuk ke dalam kamar setelah di antarkan oleh anda bagaimana saya bisa tahu apa yang terjadi di luar." Kilah Yuki berbohong.
Kakek itu tersenyum sebagai jawaban.
"Prof, saya pergi dulu lain kali kita bicara lagi." Ujar Yuki membungkuk sopan. Setelah mendapatkan jawaban, Yuki baru pergi.
Setelah sarapan Yuki pergi ke luar sendiri. Sebenarnya ia ingin naik sepeda tapi tidak ada Mizutani yang mengayuh sepeda untuknya.
"Ojou sama." Yuki menoleh ke belakang.
"Berhenti mengikutiku." Sergah Yuki dingin.
"Nyonya besar mengkhawatirkan anda karena pergi sendirian."
"Aku bukan balita lagi. Kembali atau aku akan menghukummu." Ancam Yuki. Fumihiro membungkuk dalam.
"Katakan pada nenek. Aku tidak akan kabur." Ujar Yuki kembali berjalan meninggalkan Fumihiro di depan pintu gerbang.
Ya ampuun, rumah apa penjara, kesal Yuki dalam hati.