Futago

Futago
Sedikit Tentang Masa Kecil.



Di saat Yuki dan Chizuru sudah sampai di meja, Chizuru mendapatkan tatapan sengit dari Hirogane dan Keiji, yang di tatap mengangkat dagunya seraya tersenyum miring.


"Yu chan aku membuat mochi strawberry, ayo semuanya di coba." Kata Natsume.


"Natsume chan kamu buat banyak sekali." Ucap Ueno melihat tiga kotak berukuran cukup besar berisi bulatan berwarna pink dengan taburan tepung putih.


Srek.


Sret.


Yuki menarik kursi dan menggeser makanannya begitu saja, duduk dengan manis, matanya berbinar cerah bak anak kecil yang menunggu mainan kesukaan diberikan kepadanya.


Cubit boleh nggak sih, batin Natsume gemas.


Natsume meletakan berjejer kotak mochi di atas meja agar teman-temannya bisa mengambil dengan mudah. Obrolan demi obrolan mengisi kelompok itu, Chizuru yang duduk di samping Yuki dan Ueno menghambur dengan mereka. Hanya satu orang yang tidak bergabung ke dalam obrolan atau pun mendengarkan obrolan.


Yuki. Asik dengan dunia mochinya, bahkan jika ada king kong lepas pun ia tak akan menghiraukannya.


"Yu chan bagaimana menurutmu?." Semua atensi beralih kepada gadis itu.


"Hm."


"Apa tidak masalah minggu depan?."


"Hm."


"Boleh aku tanya sesuatu?."


"Hm."


"Apa kamu pernah tinggal di jepang sebelumnya?."


"Hm."


Natsume mengerutkan kening menatap kesal Yuki, sebuah ide jahil terpikirkan olehnya. Satu tangan menopang dagu menatap lekat-lekat wajah yang terlihat imut itu.


"Yu chan, apa diantara pria di sini ada yang menarik perhatianmu?." Ueno menatap Natsume terkejut. Sedangkan Hirogane dan Chizuru bergerak gelisah.


"Hm." Natsume tersenyum puas, umpannya berhasil.


"Apa kamu ingin mendekatinya?." Kudo melirik Yuki.


"Hm."


"Apa kamu akan mengajaknya berkencan?."


"Hm."


Deg.


Siapa?, siapa yang kamu maksud?, batin semuanya.


Hajime menoleh menatap Yuki yang memasukan suapan terakhir. Bibir gadis itu yang di penuhi tepung membuatnya menahan tawa. Tanpa di sangka Chizuru yang duduk tak jauh dari yuki bergerak mengulurkan tangan ke wajah gadis itu.


Detik berikutnya tepung di bibir Yuki raib tak bersisa, gadis itu menggunakan lidahnya untuk membersihkan mulut menggagalkan niat modus Chizuru.


"Pfftt." Hirogane menutup mulutnya yang langsung mendapatkan pelototan dari Chizuru.


"Apa kamu ingin menjadi kekasihnya?." Pertanyaan Natsume mulai melompat lebih jauh.


"Siapa yang akan menjadi kekasih siapa?." Ucap Yuki yang sudah berubah datar lagi, ia menengguk minumannya.


"Kamu yang bilang ingin berkencan dengan salah satu dari mereka." Ulang Natsume. Yuki memutar otak dan mengingat apa yang ia dengar.


"Jangan bercanda, kejailanmu perlu di beri pelajaran ya, Hazuki."


"Haha, apa kamu sesuka itu dengan mochi sampai tidak menghiraukan sekitar?."


Para pria menarik nafas kecewa.


"Ojou chan!." Yuki melirik lurus ke depan mendapati Dazai dengan style jaket levis kaos hitam dan jeans hitam berjalan menghampiri mereka.


Waaah, ikkemen (cowo tampan)!, seru Natsume dan Ueno. Bahkan mereka saking terpananya tidak bisa berkedip.


"Ojou ... Chan ..?!." Seru Natsume yang baru tersadar dengan apa yang telinganya dengar.


"Apa saya menjemput anda terlalu cepat ojou chan?." Tanya Dazai berdiri di belakang Yuki agak ke samping.


"Oya?, kalian teman-temannya ojou chan?." Mereka menganggukkan kepala.


"Kamu sudah makan Dazai?." Tanya Yuki.


"Sudah ojou chan." Natsume mengeluarkan kedua tangan ke depan menatap Yuki dan Dazai bergantian.


"Siapa?, aku kira kamu lebih suka brondong tapi kenapa sekarang dengan om-om!?, keren siih tapi! Yu chan. Banyak laki-laki di luar sana yang menyukaimu kenapa juga harus dengan om-om?!." Ucap cepat Natsume penuh tenaga.


"Ppfffttt!. Hahahahaha ...!!!." Dazai tertawa terbahak-bahak.


"Gomen, ossan dare? (Maaf, paman siapa?)." Chizuru menatap tak suka kepada Dazai yang berdiri terlalu dekat dengan gebetannya.


"Hahahaha ...!." Dazai melirik laki-laki di sana satu per satu, ia sulit untuk menghentikan tawanya.


"Heee, ternyata kamu benar-benar seorang putri." Kudo melirik Yuki dengan tatapan mengejek.


Dazai menghentikan tawanya menatap Kudo.


"Ojou chan, sepertinya pemuda itu sedang punya masalah." Balas Dazai.


Kudo tersenyum kaku.


"Maaf, kalau boleh tahu paman siapa ya?." Tanya sopan Ueno membuat Dazai tersenyum kepada gadis itu.


"Saya dok." Dazai menghentikan kalimatnya setelah mendengar teguran Yuki.


"Dazai." Dazai tersenyum ramah dan mengoreksi kalimatnya.


"Saya Dazai sepupu jauh ojou chan. Salam kenal anak-anak." Natsume menatap tajam Yuki.


"Aneh, kenapa sepupumu memanggilmu ojou chan?. Kenapa kamu memanggilnya dengan nama saja?, aku tahu kamu Yu chan, kamu gadis yang sopan, walaupun cuek, dingin, dan lain-lain." Natsume curiga, tentu saja dia curiga.


"Paman juga terlihat masih muda." Imbuh Ueno.


"Seperti yang dikatakan pemuda di sana bukankah teman kalian ini terlihat seperti seorang putri?." Yuki langsung memutar bola matanya malas mendengar kalimat aneh yang tidak biasanya Dazai lakukan.


"Sejak ojou chan masih bayi sudah kupanggil dengan panggilan ojou chan, karena itu dia sangat kesal dan memanggil namaku saja tanpa ada imbuhan." Yuki menarik nafas panjang, membereskan sampah makanannya.


"Sudah hentikan. Semuanya maaf aku harus pergi dulu, maaf meninggalkan kalian dan terima kasih untuk hari ini. Sangat menyenangkan." Kata Yuki dengan jelas, beranjak berdiri.


"Hazuki, terima kasih mochinya. Aku pergi dulu, sampai jumpa." Semua orang masih terdiam melihat Yuki yang terlihat terburu-buru meninggalkan mereka.


"Yuuki senpai, apa kamu kenal Dazai san?." Natsume masih curiga.


"Hmmm?." Natsume memiringkan kepalanya.


***


Di dalam mobil Yuki sibuk mencari kotak permen kedua, ia yakin telah memasukkannya ke dalam tas. Setelah perjuangan cukup menguras kesabaran kotak permen itu berada di paling bawah tertutup benda lain, mungkin karena ia mengacak-acak isi tas sebelumnya.


Dazai yang melirik Yuki mau memasukkan pil ke dalam mulut segera mencegahnya.


"Ojou chan, itu pil yang ke berapa?."


"Dua." Jawab Yuki datar. Tepat saat itu lampu merah, Dazai segera meraih tote bag di jok belakang meletakkannya di tengah antara dia dan Yuki.


"Sudah di makan?." Tanya Dazai mengambil handuk kecil di dalam tote bag dan memberikannya kepada Yuki.


"Ung, kamu punya seperti ini di dalam mobil?." Yuki melihat tumpukan handuk kecil di dalam tote bag.


"Aku selalu berjaga-jaga, untuk hal seperti sekarang mungkin terjadi." Jawab Dazai kembali menghadap ke depan.


"Uhuk!. Uhuk!." Yuki menutup mulutnya menggunakan handuk yang di berikan Dazai.


"Apa ingatan masa lalu anda sedang berputar ojou chan?." Tanya Dazai melajukan mobil setelah melihat lampu berubah hijau.


"Ung. Uhuk!." Yuki melipat handuk mencari sisi yang bersih.


"Apa yang anda lihat?." Dazai fokus menyetir dan sesekali melirik keadaan Yuki.


"Empat anak kecil, uhuk!. Dan satu anak lebih uhuk!, besar dari mereka." Dazai diam.


"Lupakan, tidak penting memikirkan ingatan yang sedang menerorku ini. Ceritakan bagaimana diriku di masa lalu." Titah Yuki kembali terbatuk.


"Masa lalu ya ... Terdengar seperti seribu tahun sudah terlewati, tapi tidak selama itu ojou chan." Yuki mengambil handuk baru.


"Uhuk!, uhuk!, uhuk!." Yuki mengelap darahnya di sudut bibir.


"Aku tidak mengingat masa kecilku dan bagaimana diriku saat itu, anggap saja aku terlahir kembali." Ujar Yuki.


Dan ibuku adalah ibu Dila, batin Yuki.


"Ojou chan, apa anda ingin meninggalkan masa lalu anda?." Tanya Dazai hati-hati, Yuki terlihat masa bodo dan tidak peduli dengan masa lalunya membuat Dazai bertanya demikian.


"Uhuk!, aku bukan anak yang suka mencari-cari asal usulnya, tidak penting mencari setiap memori masa lalu. Fakta yang jelas, aku masih hidup, dan menjalani takdir yang sudah di gariskan untukku." Dazai tertohok oleh pikiran Yuki, simpel atau terkesan cuek?. Biasanya seorang perempuan akan mengutamakan emosinya, tapi nona mudanya sedikit berbeda.


"Ojou ch." Yuki memotong kalimat Dazai setelah terbatuk-batuk.


"Jika aku ingin mengeluh aku akan menyalahkan takdir yang berbuat semaunya denganku, aku bukan boneka yang mudah dipermainkan oleh takdir." Lanjut Yuki kembali terbatuk.


Glek.


Dazai menelan salivanya kasar, mendengarkan pemikiran Yuki. Jarang sekali nona mudanya mau mengutarakan pikiran pribadinya.


"Aku adalah manusia yang memiliki harapan, dan manusia berjalan diatas takdir mereka, uhuk!. Aku yakin di luar sana banyak orang yang membenci takdir, karena tidak akan ada yang bisa lolos dari takdir, kecuali mengulur waktu, melarikan diri dari takdir namun hidupmu pasti tidak akan tenang karena takdir akan terus mengejarmu, uhuk!, uhuk!, uhuk!." Mobil kembali berhenti, entah kenapa mereka terus dihadang lampu merah.


Dazai mengulurkan handuk baru dan mengambil handuk penuh bercak merah dari tangan Yuki.


"Sebentar lagi kita sampai, anda bisa istirahat." Ucap Dazai mengelap tangan Yuki yang terkena darah dengan tisu.


Yuki menatap lekat manik Dazai yang sibuk menatap tangannya.


"Dari pada membenci takdir aku lebih membenci shinigami (dewa kematian)." Dazai terkejut, sontak ia mengangkat wajahnya, maniknya bertemu dengan manik Yuki.


Tegas, keras, tak goyah sedikit pun, itulah yang di pikirkan Dazai saat melihat sorot mata Yuki.


"Aku sangat membenci shinigami lebih dari apa pun." Dazai ingin bertanya namun urung.


Apakah Ojou chan pernah kehilangan seseorang sebelumnya?, apakah Ojou chan mengingat kematian tuan besar?, apa yang sudah terjadi dengan Ojou chan?, batin Dazai terus berputar-putar.


"Uhuk!. Lampu hijau Dazai." Dazai tersadar, buru-buru ia memegang setir mobil, melajukannya perlahan.


"Uhuk!." Agh, ini menyebalkan, batin Yuki mengelap bibirnya lagi.


"Aku hanya ingin tahu, seperti apa diriku di masa lalu." Ucap Yuki kembali menutup mulutnya dengan handuk.


"Uhuk!, uhuk!." Sudah handuk ke lima yang Yuki pakai, tangannya mengambil handuk terakhir di dalam tote bag.


"Masih ada tote bag lain di belakang, anda tidak perlu khawatir." Yuki menoleh ke luar jendela, menikmati pemandangan yang jauh berbeda dari kota jakarta.


Tidak ada macet, tidak ada polusi udara, tidak ada pedagang kaki lima, dan tak ketinggalan PANASnya sama, tidak, ini jauh lebih panas. Di sampingnya Dazai mulai menceritakan bagaimana sifat Yuki kecil yang berbanding terbalik dengan dirinya sekarang.


"Ojou chan kecil, apa tidak masalah aku mamanggilnya seperti itu?." Dazai melirik ke samping menunggu persetujuan Yuki.


"Ung, uhuk!." Dazai kembali fokus ke depan.


"Ojou chan kecil anak yang periang, bibirnya selalu tersenyum matanya juga, wajah yang selalu ceria dan penuh rasa ingin tahu. Ojou chan kecil akan sangat serius jika sedang belajar dan melakukan sesuatu. Sifat jahilnya selalu menggoda tuan muda, dan beberapa orang lainnya." Yuki memasang telinga dengan baik ia tak mau ada kata yang tertinggal oleh pendengarannya.


"Ojou chan kecil yang tidak mau diam selalu mencari sesuatu untuk di pelajari, bermain, tertawa, keributan-keributan kecil mengisi kediaman utama. Hanya satu pengecualian yang Ojou chan kecil sangat tidak sukai." Dazai memutar setir di perempatan.


"Belajar bela diri. Bahkan sampai tuan besar menyogok anda dengan mochi kesukaan agar mau belajar bersama tuan muda di dojo." Dazai tersenyum tipis kala mengingat saat ia mengantarkan setumpuk piring penuh mochi kepada Yuki kecil di hadapan kakeknya.


"Apa yang aku lakukan?." Tanya Yuki mengelap darah di hidungnya.


"Anda mengambil piring penuh mochi lalu kabur membawanya, hahaha maaf Ojou chan, saya teringat betapa lucunya kaki kecil anda berlari kencang membawa mochi itu. Pipi anda tidak mau berhenti bergoyang saat anda berlari, hahaha suasana di teras ruang kerja tuan besar langsung hening melihat betapa cepatnya anda berlari dan menghilang. Bahkan tuan besar tidak bisa berkata-kata, beliau terus tertawa satu hari penuh." Dazai masih tertawa lalu ia mengakhiri tawanya dengan mengusap satu cairan bening yang jatuh ke pipi.


"Ojou chan kecil tidak suka bela diri, ia tidak suka melukai orang lain. Saat di bujuk lagi karena bela diri dibutuhkan untuk mempertahankan diri jawaban Ojou chan kecil sangat simpel. 'Ada Hotaru yang melindungiku, aku tidak perlu belajar'. Seperti itu."


Yuki terlihat menarik nafasnya pelan yang tertangkap oleh manik Dazai.


"Ojou chan kecil sangat pandai dalam urusan medis, tetua Yuri sama lah yang mengajari anda dengan telaten, bahkan saat Ojou chan mencari tumbuhan obat dan mencampur-campurkannya untuk menyembuhkan tuan muda yang sedang sakit parah saat itu, anda berhasil. Karena melihat kepiawaian anda saat itu juga membuat saya bercita-cita menjadi seorang dokter." Jelas Dazai memarkirkan mobil di sebuah basemen besar.


"Hotaru sakit?." Tanya Yuki menatap Dazai.


"Ya, jika anda ahli dalam medis tuan muda ahli dalam membuat racun. Hal itu di ketahui saat tuan muda diam-diam masuk ke dalam laboratorium Yamazaki san. Ingat, orang yang berada dirumah sakit waktu itu?, yang tidak ingin saya pertemukan dengan anda." Yuki mengangguk singkat.


"Tuan muda melakukan prakteknya sendiri, anda dan tuan muda adalah saudara kembar, rasa ingin tahu yang dimiliki juga sama. Malam itu tidak sengaja tabung milik tuan muda meledak dan tuan muda menghirupnya. Anda bisa menyimpulkan apa yang terjadi selanjutnya." Ucap Dazai seraya melepas sabuk pengaman, mengambil tote bag baru memberikan handuk bersih kepada Yuki.


"Apa Hotaru sembuh? atau masih ada racun yang tertinggal?." Dazai membereskan handuk bekas darah Yuki.


"Berkat anda dan tetua Yuri sama tuan muda bisa terselamatkan malam itu juga. Karena racun yang dibuat tuan muda sangat keras dan menyebar dengan cepat dokter yang tinggal di dekat kediaman utama pun tidak dapat membantu banyak, kita juga diburu oleh waktu." Dazai menatap Yuki dengan senyuman lembut. Sorot mata yang menyiratkan akan kekaguman, terlukis di sana.


"Semua orang bisa melihat betapa besarnya perjuangan anda malam itu, kalian adalah bayi kembar ajaib, sungguh kalian tak ternilai bahkan jika dibandingkan dengan kekayaan sebuah negara sekali pun masih belum cukup. Kalian adalah kehormatan, keberuntungan, dan harapan bagi klan. Jika mengingat saat kalian dilahirkan." Dazai tak sadar sebutir air mata jatuh ke pipinya.


"Para tetua sangat bahagia, tetua Hachibara Go sama memeluk erat tuan besar, kebahagiaan menyelimuti kami semua. Seakan dewa belum puas memberikan kami kebahagiaan, ia memberikan bayi kembar jenius dan elok rupawan untuk menambah rasa bahagia kami. Terima kasih sudah lahir, terima kasih sudah bertahan, maaf kami belum cukup kuat melindungi anda dan tuan muda. Maaf membuat kalian ikut turun tangan. Maaf," Yuki mengangkat tangan menyuruh Dazai berhenti.


"Hapus air matamu. Aku ingin bertanya satu hal." Dazai menghapus air matanya dengan tisu.


"Siapa yang menggambar tato di tubuhku?." Dazai menegakkan tubuhnya perlahan.


"Saya Ojou chan."