
"Hotaru ..!, cepat, atau kamu akan terlambat dihari pertama!." Seru Takehara membuat mahluk dikamar mandi menggerutu kesal.
"Ini masih pagi sekali, bukannya jarak ke sekolah dekat." Kata Hotaru berjalan ke dapur, tangannya sibuk memasang dasi di lehernya.
"Tentu, seperti yang aku katakan kemarin." Jawab Takehara memasukan bekal ke dalam tas Hotaru.
"Apa kau menyukai seragammu?." Tanya Takehara melihat raut wajah Hotaru.
"Tentu, karena aku akan sekolah, hal yang tidak aku dapatkan selama hampir sembilan tahun." Jawaban Hotaru membuat Takehara tersenyum getir.
"Makan dan cepat berangkat." Kata Takehara menghilangkan ke getiran yang ia rasakan.
Tuan mudanya yang ceria dan ramah, kenapa mereka harus mendapatkan rintangan hidup seperti ini, batin Takehara.
"Aku berangkat." Ucap Hotaru berjalan keluar rumah.
"Hm, semoga berhasil dengan sekolah barumu!." Teriak Takehara melihat Hotaru yang sudah mengayuh sepedanya keluar halaman rumah.
"Tentu!." Balasnya tak kalah seru.
"Sudah dimulai, semoga ojou chan tetap didalam persembunyiannya." Lirih Takehara menatap sinar mentari musim semi.
***
Cetak.
Hotaru menstandarkan sepedanya di parkiran. Ia menatap bangunan sekolahnya lalu berjalan seraya mengamati setiap sudut sekolah.
Sekolahnya berada di pedesaan, tentu saja karena ia juga tinggal di desa. Jarak dekat yang dikatakan Takehara sepenuhnya adalah kebohongan wanita itu. Hotaru harus menanjak, melewati lembah.
Hotaru membuka loker sepatunya, setelah mengganti sepatu dengan sepatu dalam ruangan ia berjalan menuju ruang guru. Ia dengan tenang melangkahkan kakinya, bermodalkan denah yang Takehara berikan tadi malam membuat Hotaru dengan mudah menemukan ruangan yang ia cari.
"Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)." Sapa Hotaru kepada guru-guru yang ada disana.
"Disini!." Salah satu guru laki-laki berperawakan sedikit pendek dan kurus serta kaca mata bundar yang menggelantung di hidungnya melambaikan tangan kepada Hotaru menyuruh pemuda itu menghampirinya.
"Ohayou gozaimasu." Sapa Hotaru lagi setelah berada di samping meja guru yang memanggilnya.
"Ung, ohayou." Sapa balik guru itu.
"Hachibara Hotaru, anak baru itu kan." Kata gurunya menegaskan.
"Hai. Yoroshiku onegaishimasu (Ya. Mohon kerja samanya)." Ucap Hotaru sopan.
"Aku wali kelasmu, aku juga guru pembimbing klub voli. Yamazaki Takeru." Guru itu memperkenalkan diri.
Hotaru membalasnya dengan tersenyum ramah.
"Baiklah mari kita ke kelas, satu menit lagi bel berbunyi." Ujar Yamazaki.
Hotaru mengekori wali kelasnya dibelakang, lorong sudah sepi, beberapa detik lalu bel masuk sudah berbunyi. Hotaru pernah melihat sekolah ini saat ia masih kecil, waktu itu ayahnya mengajak Hotaru bersepeda dan melewati sekolah ini. Hotaru tidak menyangka ia akan bersekolah di sini.
"Hisashiburi, genki?, tuan muda?. (Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?)" Suara orang didepannya mengejutkan Hotaru.
Apa yang dia katakan tadi?, batin Hotaru.
"Sensei ..?." Suara Hotaru terkejut.
Yamazaki membalikan badannya, sedikit menarik turun kacamata bundar miliknya.
"Sepertinya sudah sangat lama sampai anda tidak mengenaliku lagi." Ujar Yamazaki sambil tersenyum.
Jantung Hotaru berdegup kencang, ia berharap, sangat berharap bahwa tebakannya benar.
Yamazaki Takeru, Takeru, Takeru, ulang Hotaru menyebut nama itu di dalam hati dan benaknya. Hotaru menelan salivanya kasar, manik coklat terangnya menatap dalam laki-laki berumur tiga puluh lima tahunan itu.
"Takkecchan ...?." Lirih Hotaru hampir seperti bisikan.
"Senang anda mengingat sa-." Sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya Hotaru sudah menerjang laki-laki itu, memeluknya erat.
"Kau selamat, kau selamat, syukurlah..." Gumam Hotaru.
"Aku mencarimu kemana-mana bahkan sampai ke jenazah para penjaga, kemana sebenarnya kamu pagi itu?." Yamazaki mengelus pelan punggung Hotaru.
"Aku berada diruang bawah tanah saat kejadian malam itu, dan aku terkunci dari luar. Aku terkurung selama dua hari disana." Jelas Yamazaki.
Hotaru melepas pelukannya, menghapus sesuatu di sudut matanya.
"Anda menangis tuan muda?." Ledek Yamazaki.
"Diamlah." Lirih Hotaru dan mereka saling melempar tatap, lalu tawa keduanya pecah.
Setelah beberapa saat Yamazaki menepuk pundak Hotaru membuat sang empu menatapnya.
"Okaeri (Selamat datang kembali)." Ucap Yamazaki.
"Ung, tadaima (aku pulang)." Jawab Hotaru tersenyum hangat.
"Banyak anggota yang selamat tuan muda, lebih banyak dari yang berkumpul pagi itu." Yamazaki menarik tangannya dari pundak Hotaru.
Ingatan Hotaru kembali di pagi setelah penyerangan malam itu. Kakeknya mengumpulkan semua orang yang selamat di dalam aula sekaligus dojo rumahnya.
"Benarkah?." Hotaru menahan air matanya sekuat mungkin.
"Ung, sepertinya anda berubah cengeng tuan muda." Ledek Yamazaki lagi.
"Hahahaa, benar. Sepertinya aku berubah jadi bayi berumur satu tahun." Balas Hotaru.
"Betapa beruntungnya keluarga utama memiliki penerus berhati hangat seperti anda." Ujar Yamazaki.
"Bukankah aku terlihat lemah." Yamazaki menggeleng pelan.
"Anda sangat kuat, itu adalah air mata yang selama ini anda pendam." Hati Hotaru seperti terobati mendengar kalimat pendek dari orang di depannya, seperti dulu, sebelum penyerangan itu.
"Kau selalu seperti ini Takkecchan." Hotaru sedikit menunduk lalu menarik rambutnya ke belakang dengan jemarinya, meremasnya pelan.
Kebiasaanmu jika sedang malu masih sama, tuan muda, batin Yamazaki.
"Berusahalah untuk tidak mudah terkejut tuan muda." Hotaru kembali dibuat kaget oleh kalimat Yamazaki.
"He\~?." Lirih Hotaru, melepas jemarinya dari sela-sela rambut.
"Akan ada banyak kejutan menanti anda." Ucap Yamazaki seraya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Sejujurnya Hotaru ingin menanyakan kejutan apa yang menantinya namun Yamazaki sudah berjalan meninggalkannya. Buru-buru Hotaru mengejar Yamazaki.
"Aku sudah mengira kelak anda akan menjadi laki-laki tampan suatu saat nanti tapi .., aku tidak menyangka anda akan tumbuh menjadi laki-laki setampan ini tuan muda, dan anda juga tumbuh terlalu tinggi. Dunia memang kurang adil." Yamazaki menggerutu pada kalimat terakhirnya. Hotaru terkekeh mendengar gerutuan laki-laki di depannya itu.
Yamazaki Takehara, penjaga perpus rumahnya sekaligus murid kesayangan kakek saat ia masih menjadi ilmuan. Yamazaki dipungut oleh kakek di pinggir hutan saat kakek melakukan observasi lapangan, usianya saat itu baru lima tahun. Yamazaki selalu dibawa-bawa oleh kakek ketika melakukan penelitian mungkin karena itu juga dia menjadi tertarik dengan penelitian-penelitian kakek. Kakek membesarkannya dan tinggal dirumah utama, mereka sangat kompak jika berhubungan dengan penelitian. Tak jarang juga dia mengasuhku dan Yuki, dua anak kembar yang tidak bisa diam, hihi .., Hotaru tertawa dalam hati mengingat masa-masa itu.
"Kita sudah sampai." Hotaru menghentikan langkahnya menatap papan yang tergantung diatas pintu. 2-3.
"Ingat tuan muda, disekolah aku adalah gurumu dan anda adalah murid." Yamazaki mengingatkan.
Hotaru mengangguk mengerti.
"Kita lihat apakah anda juga tidak mengenal kejutan besar ini." Lirih Yamazaki yang samar-samar terdengar oleh Hotaru.
Yamazaki menggeser pintu kelas, kakinya memasuki ruangan yang diikuti oleh Hotaru di belakangnya.
Seketika suasana berubah hening, dua detik setelah itu terdengar kasak- kusuk dari berbagai arah.
Seorang siswa memberi aba-aba yang lain untuk melakukan salam kepada Yamazaki. Hotaru mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, mencoba menilai kelas itu.
"Baik, hari ini ada murid baru di kelas kita. Silahkan perkenalkan dirimu." Yamazaki menatap Hotaru tersenyum simpul.
"Hachibara Hotaru, yoroshiku (salam kenal)." Ucap Hotaru singkat, suara berat dan maskulinnya menyihir penduduk kelas tanpa terkecuali.
"Waaah, kamu melakukannya dengan sangat keren Hotaru kun." Terdengar seperti pujian memang tapi bagi Hotaru Yamazaki sedang meledeknya.
"Ada yang bertanya?." Tanya Yamazaki mengedarkan pandangan.
Hening.
Hotaru menangkap sepasang mata sedang memelototinya membuat Hotaru tidak bisa mengabaikan mata itu.
"Tidak?, baiklah kamu bisa duduk di belakang sana Hotaru kun." Yamazaki menunjuk bangku paling belakang tepat disamping jendela.
Hotaru membungkuk sopan kepada Yamazaki lalu melangkah ke bangkunya. Ia melewati sepasang mata itu yang tak lepas dari dirinya. Hotaru duduk persis dibelakang si pemilik mata.
Yamazaki memulai pelajaran geografi di kelas itu. Hotaru merasakan banyak pasang mata mencuri-curi pandang ke arahnya, pandangan mereka berbeda, tidak memelototinya.
Hingga istirahat pertama pun datang, penghuni bangku di depannya segera melangkah pergi, Hotaru cepat-cepat beranjak ingin mengikutinya namun langkahnya terhenti karena tiba-tiba banyak siswa dan siswi menghadang dirinya.
"Hachibara san, apa kamu blasteran?." Tanya seorang siswa.
"Hachibara kun, pindahan dari mana?." Tanya siswa lain.
"Apa yang membuatmu pindah ke sini?." Tanya siswi cantik disamping Hotaru.
"Apa makanan kesukaanmu?." Siswi yang lain tidak mau kalah.
"Kamu tinggal dimana?." Entah suara siswi dari mana lagi manik Hotaru sibuk mengikuti si pemilik mata.
"Maaf, aku akan menjawab pertanyaan kalian nanti boleh aku pergi sebentar?." Tanya Hotaru dengan tenang. Lagi-lagi suaranya menyihir setiap telinga yang mendengar, secara otomatis mereka memberikan jalan kepadanya.
"Arigatou." Ucap Hotaru segera pergi.
"Ya ampun .., suaranya juga ganteng banget." Celoteh seorang siswi yang disetujui oleh siswi yang lain.
"Kenapa aku tiba-tiba iri ya dengan suara Hachibara san." Kata salah satu siswa.
"Apa kita bisa berteman dengannya?." Tanya siswa yang ikut bergabung dengan gerombolan tadi.
Kelas 2-3 dibuat ramai oleh siswa pindahan itu.
Hotaru mengedarkan pandangan mencari seseorang, ia yakin orang yang dia ikuti mengarah ke lantai pertama. Masih mengedarkan pandangan Hotaru melangkahkan kakinya untuk terus maju.
Ketemu, batin Hotaru.
Orang yang dicarinya ternyata sedang membeli minuman dimesin jual otomatis. Hotaru melangkah pelan menghampiri orang tersebut.
"Yo." Sapa Hotaru membuat orang itu menghentikan gerakannya yang hendak menusuk minuman dengan sedotan ditangannya.
Orang itu memiliki tinggi yang sama dengan Hotaru, ia menatap Hotaru menunggu orang yang menyapanya membuka suara. Namun Hotaru malah tetap diam.
"Ada yang perlu aku bantu?." Akhirnya orang itu mengalah membuka suaranya lebih dulu.
Hotaru tetap diam, kembali membuat keheningan diantara mereka. Tiba-tiba dari arah berlawanan seseorang memanggil nama orang yang masih berdiri di depan Hotaru.
"Fumio senpai ..!." Orang itu membalikan badannya memunggungi Hotaru, ia melangkah menghampiri orang yang memanggilnya.
"Eiji lama tidak bertemu." Ucap Hotaru datar yang berhasil membuat langkah pemuda itu terhenti. Pemuda itu membalikan tubuhnya perlahan menatap lurus manik coklat terang Hotaru.
"Yo." Sapa Hotaru lagi.
Tiba-tiba pemuda itu melemparkan minuman ditangannya dengan cepat ke arah wajah Hotaru dan memanfaatkan kelengahan Hotaru yang sedang menangkap minuman itu untuk memberikan pukulan keras di perut.
Buk!.
"Fumio senpai !." Terdengar jeritan orang dari belakang sana.
"Bukankah kau tahu, aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaiku atau Yuki akan menangis." Ucap Hotaru seraya menggeser minuman yang ia tangkap dari wajahnya.
"Fumio senpai!, apa yang terjadi?, yah kau! lepaskan tangan Fumio senpai!." Orang yang memanggil Fumio itu menunjuk-nunjuk Hotaru.
Hotaru menatap pemuda di depannya yang membalas tatapannya. Hotaru tersenyum simpul seraya meremas kepalan tangan pemuda itu.
Sreeettt!.
Dengan cepat pemuda bernama Fumio itu menarik tangannya dan beralih melingkarkan lengan berototnya di leher Hotaru, mengunci kepala Hotaru.
"Yagh yagh Eiji leherku !.., leherku !!." Teriak Hotaru.
"Fu Fumio senpai, lepaskan. Dia bisa mati." Ucap junior Fumio panik.
"Heh!, jadi kau benar-benar Hotaru." Sergah Fumio semakin mengencangkan kunciannya.
Hotaru yang kesulitan bernafas menyikut perut Fumio cukup keras.
"Argh!." Teriak Fumio melepaskan kunciannya. Hotaru segera berdiri menghadap Fumio. Mereka saling melempar tatap dalam keheningan.
"Sudah jangan bertengkar, banyak siswa yang melihat kalian, nanti kalau ada guru yang datang bagaimana?." Cicit junior Fumio.
Tanpa memperdulikan ketakutan siswa itu Hotaru dan Fumio sama-sama menerjang ke depan.
"Senpai stoooppp!." Jerit nyaring si junior.
Namun seketika junior itu dibuat bengong oleh kedua pemuda didepannya.
Hotaru dan Fumio saling berpelukan erat, wajah mereka tersenyum.
"Apa yang terjadi?." Lirih si junior bingung.
Hotaru dan Fumio melepaskan pelukan mereka dan berjalan meninggalkan TKP begitu saja.
"Sambutan yang cukup meriah." Celetuk Hotaru.
"Sama-sama." Balas Fumio.
"Aku tidak berterima kasih kepadamu." Sergah Hotaru.
"Tentu."
Hotaru menemukan mesin jual otomatis lainnya, ia memencet beberapa tombol lalu menunggu minumannya keluar.
"Gomen (Maaf), minumanmu tertinggal di tempat tadi." Ucap Hotaru seraya menyodorkan minuman yang sama dengan minuman Fumio tadi.
"Arigatou (Terima kasih)."
Mereka berdiri menatap lapangan luas di depan mereka sambil menikmati minuman dari mesin jual otomatis.
"Jika kamu tidak melototiku tadi mungkin aku tidak akan mengira kamu adalah teman lamaku." Ujar Hotaru menengguk minumannya.
"Saat mendengar perkenalanmu aku juga mengira kau adalah orang lain. Tidak mungkin teman masa kecilku berubah setampan ini." Balas Fumio.
"Hahahaaaa .., Takkeccan juga tidak menyangka akan hal itu." Hotaru tertawa. Fumio ikut tersenyum melihatnya.
"Selain itu, tidak ada orang lain yang memiliki marga kalian." Fumio menatap lembut manik coklat terang milik Hotaru.
"Kapan kamu kembali?." Tanya Fumio.
"Beberapa hari yang lalu." Jawabnya.
Fumio menatap dalam Hotaru, menunggu. Hotaru memberikan senyumnya.
"Yuki tidak ikut denganku." Hotaru tahu persis apa yang di pikirkan sahabat kecilnya itu.
"Apa kalian sempat bertemu?." Hotaru mengangguk sekilas.
"Hanya beberapa bulan, setelah itu aku kembali meninggalkannya." Fumio menatap lurus ke depan, pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
"Apa Yuki terus menangis saat aku tinggal dulu?." Tanya Hotaru.
"Hm, dia sangat terpukul. Bahkan dia selalu bermimpi buruk." Jawaban Fumio membuat hati Hotaru bergetar perih.
"Kau menemaninya tidur bukan?." Hotaru menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakang.
"Hm, dia tidak akan bisa tidur jika aku tidak disampingnya."
"Arigatou." Lirih Hotaru. Fumio melirik ke belakang.
"Apa dia baik-baik saja?." Tanya Fumio.
"Terakhir aku meninggalkannya," Hotaru menjeda kalimatnya, mengingat wajah yang selama ini hadir di mimpinya.
"Apa seburuk itu?."
Fumio benar-benar tahu dan memahami apa yang Hotaru rasakan tanpa mengatakannya.
"Ung."
"Dia tidak akan membencimu. Dia tidak bisa membencimu." Hotaru tersenyum mendengar kalimat sederhana itu, hatinya kembali terobati.
Orang-orang dimasa lalunya lah yang bisa mengobati hatinya, ia rindu, sangat rindu kepada mereka.
"Aku tahu kamu sudah sangat berjuang keras. Maaf." Hotaru melirik punggung sahabat kecilnya.
"Karena aku tidak bisa membantu kalian." Lanjut Fumio membuat Hotaru diam membeku.
Hotaru menarik nafas panjang bersamaan dengan Fumio membuat mereka saling menatap tak percaya.
"Hahahaaa." Keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Bahkan kita masih sama seperti dulu." Ujar Hotaru.
"Sepertinya hanya tubuh kita yang berubah." Sambung Fumio.
"Yuki akan kecewa jika mengetahui tinggi kita." Lanjut Hotaru.
"Ung, dia ingin tingginya mencapai seratus tujuh puluh senti." Imbuh Fumio.
"Tunggu." Tiba-tiba Hotaru berhenti tertawa, wajahnya berubah serius.
"Ada apa?." Tanya Fumio.
"Sepertinya Yuki bisa mencapainya." Lirih Hotaru.
"Seratus tujuh puluh senti." Ulang Fumio.
"Ung."
"Aku harus lebih tinggi lagi." Gumam Fumio.
"Hah?."
"Seratus delapan puluh masih kurang Hotaru." Sergah Fumio.
"Yuki baru seratus enam puluh lima saat itu." Protes Hotaru, tidak setuju jika Fumio ingin meninggikan tubuhnya.
"Saat itu." Fumio menegaskan.
Pak!.
Hotaru menepuk punggung Fumio cukup keras sampai pemuda itu terdorong ke depan.
"Jika berurusan dengan Yuki kamu terlalu lembek Eiji." Ucap Hotaru seraya berjalan mendahului Fumio.
"Ayo, sebentar lagi pelajaran dimulai." Tambah Hotaru tersenyum kepada sahabat kecilnya.
Fumio berlari kecil menyusul Hotaru.