Futago

Futago
Keadaan yang Berbeda.



Setelah keributan solo yang dibuat oleh Natsume, kelas kembali riuh karena ribuan pertanyaan yang dilontarkan oleh penunggu kelas. Akhirnya, dengan kekuatan Yamanaka sebagai seorang guru dan wali kelas, mereka berhasil dijinakan. Yamanaka menyuruh Natsume duduk disebelah jendela barisan ke dua dari depan dan Yuki duduk disampingnya. Di jepang, semua siswa duduk sendiri-sendiri membuat Yuki lebih nyaman, mungkin.


"Hari ini tidak ada pelajaran, kalian bebas boleh pulang dan, hati-hati dijalan. Sekian." Yamanaka pergi meninggalkan kelas.


"Ano .., saya Ueno Tsubasa salam kenal." Ucap gadis yang duduk di depan meja Yuki. Entah sejak kapan mejanya dipenuhi oleh gerombolan gadis membawa seribu pertanyaan menyerangnya.


"Chotto matte ..! (Tunggu sebentar ..!)." Teriak Natsume membuat para gadis menoleh kepadanya. Hal itu segera di manfaatkan oleh Yuki.


"Saya harus pergi, permisi." Ucap Yuki meloloskan diri.


"Tunggu sebentar, aku belum tahu namamu!." Natsume hendak mengejar Yuki namun tertahan oleh para gadis yang memberikannya beribu pertanyaan.


Kelas 2-1 berada dipaling ujung lorong sebelah kiri untuk sampai ke tangga Yuki harus melewati kelas 2-2 dan 2-3, ia berusaha berjalan dengan tenang. Saat sudah sampai di tangga, gadis itu menuruni tangga dengan kecepatan tinggi berbelok tajam menuju ruang guru.


"Kamu mencari siapa?." Tanya Yamanaka kepada Yuki didepan pintu kantor.


"Mizutani sensei apakah ada didalam?." Tanya Yuki.


"Oh, Mizutani sensei baru saja pergi ke ruangannya." Jelas Yamanaka.


"Bukankah ruangannya ada didalam?." Satu alis Yuki naik keatas.


"Benar, itu ruangannya sebagai guru, tapi yang saya maksud adalah ruangannya sebagai pelatih." Tidak pernah terpikirkan oleh Yuki, Mizutani memiliki dua peran di sekolah.


"Bisa anda jelaskan ada dimana ruangannya?."


Setelah mengikuti arahan yang diberikan oleh wali kelasnya Yuki masih belum bisa menemukan gedung yang dimaksud, ia terus tersesat karena banyaknya gedung yang terpisah dengan gedung utama.


Gym aula basket putra dan putri yang terpisah, gym bola voli juga terpisah, gym senam ritmik atau rhythmic gymnastics, dan masih banyak lagi. Yuki menyandarkan punggungnya ke tembok menatap tanaman kecil dengan berbagai bunga didepannya. Seorang siswa sedang menaburkan sesuatu ke tanaman-tanaman itu, sepertinya dia sedang memberi pupuk.


Yuki teringat kalimat dari Fathur. Setidaknya dia masih hidup, kamu bisa menemuinya lagi, berhenti memikirkan masalah orang dewasa, kita hanya seorang remaja. Dasar bodoh! aku lebih baik memikirkan masalah orang dewasa dari pada harus menghadapi remaja-remaja liar seperti mereka, dasar Fathur bodoh!, rutuk Yuki dalam hati.


"Yo, kamu disana rupanya." Yuki mengenali suara itu ia segera mengambil langkah seribu melarikan diri.


"Ooii ...!, jangan lari. Tunggu aku!." Teriaknya dari belakang.


Yuki tetap berlari tidak ada niat sedikit pun untuk menurunkan kecepatannya. Siapa juga yang mau menunggumu dasar gadis gila!, ucap Yuki dalam hati.


BRUK!.


"Atta ta ta ta, ittaii (Aduh duh duh duh, sakiit)." Ucap laki-laki dengan rambut kecoklatan seraya menggosok p*nt*tnya sedangkan Yuki masih berdiri mengusap hidung mancung miliknya.


"Kamu harus minta maaf. Ini sakit sekali." Ucap laki-laki itu dengan sarkas.


"Gomenasai (Maaf)." Kata Yuki karena memang dia yang salah telah menabrak laki-laki itu hingga terjatuh.


"Eh?." Laki-laki itu mendongak matanya terbuka lebar, dengan gerakan cepat dia berdiri dan tersenyum kaku.


"O oh, tidak apa-apa, tadi tidak terlalu sakit kok. Aku hanya bercanda, jatuh seperti itu tidak terasa apa-apa." Ucapnya bergerak-gerak canggung.


"Hum, ano..." Yuki berniat bertanya kepada laki-laki dihadapannya.


"Ya?, ada apa?." Sergah laki-laki itu cepat, laki-laki didepan Yuki terlihat polos.


"Kamu tahu dimana ruangan Mizutani kantoku? (pelatih Mizutani?)." Raut wajah laki-laki itu berubah seketika.


"Tentu saja aku tahu, tempatnya searah dengan asramaku, ayo." Yuki menaikan satu alisnya memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.


"Disekolah ini ada asrama?." Tanya Yuki.


"Benar, Oukami koukou sangat terkenal dengan tim baseballnya. Banyak orang yang berusaha masuk ke sekolah ini demi bisa masuk kedalam tim baseball, meskipun jauh dari rumah sendiri tidak menyurutkan niat mereka, karena itu sekolah menyediakan asrama agar para pemain juga lebih fokus berlatih." Jelas laki-laki itu.


"Apa banyak dari mereka yang rumahnya jauh dari sekolah?." Laki-laki itu mengangguk-angguk antusias.


"Selain mendaftar dan mengikuti tes mandiri, banyak juga dari mereka yang berkemampuan tinggi lolos masuk tanpa tes karena mendapatkan undangan dari sekolah seperti.., aku. Hahaha." Laki-laki itu tertawa keras dengan kedua tangan berada dipinggang, Yuki sedikit memiringkan kepalanya. Apakah tidak ada orang wa*as disini?, batin Yuki.


"Pertandingan musim semi ini pasti kami yang akan memenangkannya." Lanjutnya menggebu-gebu.


"Tapi aku tidak bisa bermain, hiks hiks." Lirih laki-laki itu, tangan dan pundaknya turun kebawah.


"Kamu cedera?." Tanya Yuki.


"Tidak." Laki-laki itu melirik Yuki yang berada dibelakangnya.


"Lalu?."


"Karena aku belum masuk kedalam tim inti. Aaarrgh! menyebalkan. Aku harus menambah porsi latihanku!." Serunya mengepalkan tangan, raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Ada berapa tim memangnya?." Laki-laki itu mengacungkan tiga jari ke udara.


"Tiga. Tim utama atau disebut tim A, tim B, dan tim pelatihan. Tim utama masih harus dipilih lagi, mereka yang terpilih disebut sebagai tim inti. Dan, mereka yang diberikan kesempatan untuk bertanding." Jelasnya.


"Kamu masuk tim mana?." Tiba-tiba tangan laki-laki itu terkulai lemas, lagi.


"Tim pelatihan." Gumamnya.


"Kamu mengatakan apa?." Tanya Yuki yang tidak mendengar jawaban dari laki-laki didepannya.


"Tim pelatihan." Lirihnya, Yuki mengerutkan kening.


"Aku tidak mendengarmu." Laki-laki itu berbalik dengan cepat.


"Tim pelatihan!." Serunya dengan wajah yang ditekuk.


"O oh ma maaf, semangat! kamu pasti bisa masuk ke tim inti, (mungkin, tambah Yuki dalam hati)." Yuki tergagap dia terkejut dan merasa tidak enak kepada laki-laki polos didepannya.


"Benar kan .., kamu juga percaya kalau aku bisa masuk kedalam tim inti." Tiba-tiba raut wajahnya berubah semangat lagi, Yuki hanya bisa menarik sudut bibirnya dengan canggung dan mengangguk sekilas.


"Kita sudah sampai." Ucapnya.


"Hah?." Yuki menoleh mengikuti arah pandang laki-laki itu.


Ia melihat sebuah bangunan seperti apartemen dua lantai dengan banyak pintu disana. Bangunan yang terletak dibelakang sekolah menghadap ke lembah hijau yang menyejukan mata, diatas lembah kecil itu adalah jalan raya. Yuki tidak habis pikir ia terlihat sedikit senang melihat pemandangan itu.


"Ruangan pelatih ada diatas, ruangan paling ujung dengan pintu yang menghadap ke lorong." Jelas laki-laki itu menunjuk ke sebuah ruangan. Yuki menatap pintu yang dimaksud.


"Terima kasih sudah mau menolongku." Ucap Yuki tulus.


"A ah, tidak masalah. Kamarku nomor tujuh." Ucapnya lirih dengan tersenyum kecil menunjuk pintu yang tidak jauh dari mereka.


"Hm, aku naik. Sampai jumpa." Yuki membungkuk sekilas lalu berjalan menaiki tangga.


Yuki melewati beberapa pintu disampingnya ia terus berjalan lurus hingga sampai didepan pintu yang dituju mengetuknya tiga kali.


"Ya masuk." Titah suara dari dalam, Yuki perlahan membuka pintu memasuki ruangan pelatih.


"Yuki?, bagaimana kamu bisa sampai kesini?." Suara serak dan berat Mizutani menyamarkan keterkejutannya.


"Jadi anda seorang pelatih baseball sekolah ini?." Alih-alih menjawab Yuki malah memberikan pertanyaan kembali.


Yuki melihat sekilas ruangan pelatih itu, ruangan yang tidak besar tapi juga tidak kecil. Ada meja dengan sofa ditengahnya, lalu satu meja dengan kursi biasa yang berada didekat pintu, meja kerja berjejer menghadap ke jendela dengan tiga kursi dan dua komputer. Terlihat sangat nyaman. Yuki melirik beberapa penghargaan penting tersimpan diatas nakas.


"Benar, aku belum sempat menceritakannya kepadamu, aku juga tinggal disini, mulai hari ini aku tidak akan menginap dirumahmu lagi, satu bulan sepertinya sudah cukup." Ucap Mizutani. Yuki menghampiri Mizutani yang duduk disofa menghadap pintu, gadis itu menghempaskan tubuhnya dengan pelan disofa yang lain.


"Aku sepertinya tidak bisa bersekolah disini." Kata Yuki seraya merebahkan dirinya meletakan kepala dilengan sofa.


"Apa ada sesuatu?." Tanya Mizutani melirik gadis yang terkulai diatas sofa.


"Mereka sangat mengerikan, aku tidak mungkin selalu mendapat keburuntungan seperti hari ini untuk bisa kabur dari mereka." Keluh Yuki dengan wajah masam. Mizutani terdiam sejenak.


"Haha, mungkin mereka hanya ingin mengenalmu lebih banyak." Yuki cemberut melihat respon dari Mizutani.


"Dilihat dari mana pun mereka mengeroyoku." Yuki meletakan kedua kakinya dilengan sofa satunya mengambil bantal sofa untuk menutupi rok pendeknya, gadis itu menatap langit-langit ruangan.


"Bukankah itu bagus." Celetuk Mizutani.


"Hm?." Yuki melirik sinis pria berusia tiga puluh tahunan itu.


"Dengan banyaknya orang yang ingin berteman denganmu, kamu lebih mudah membuka diri kepada orang lain." Yuki kembali menatap langit-langit ruangan.


"Tidak, itu mustahil." Tolak Yuki.


"Asal kamu tahu, ada gadis liar dan gila terus mengejarku." Lanjut Yuki mengerutkan dahinya bergidik ngeri.


"Aku tidak bisa membayangkan hidupku besok. Aku akan bolos." Yuki mengatakan kalimat terakhirnya penuh keyakinan.


"Informasi yang selama ini aku dapatkan ternyata salah." Ucap Mizutani membuat Yuki menoleh kepadanya.


"Yuki, cucu dari Hachibara san. Gadis jenius dengan sikap cuek, mental yang kuat, sosok yang selalu tenang, dan berpikir dengan kepala dingin, ternyata tidak benar." Yuki menaikan satu alisnya menatap datar Mizutani.


"Jangan bersikap bodoh Mi chan, aku tahu selama satu bulan terakhir kamu mengawasi dan mengamatiku. Kamu sudah tahu seperti apa diriku yang sebenarnya." Mizutani terkejut ia bergeming ditempatnya.


"Tapi tetap saja, aku tidak pernah menghadapi yang seperti ini, apakah mereka tidak memiliki saraf sensitif? jelas-jelas aku sudah menunjukan sikap tidak bersahabat. Kenapa mereka melakukan ini kepadaku." Lanjut Yuki meletakan satu lengannya diatas dahi.


"Mi ..., chaaann?." Ulang Mizutani.


"Hm, aku sudah memutuskan akan memanggilmu seperti itu." Jawab Yuki dengan enteng.


"Aku ini gurumu, kamu tidak boleh memanggilku seperti itu." Protes Mizutani.


"Aku tidak akan merubah keputusanku." Yuki tetap kekeh.


"Dimana rasa hormatmu kepada orang yang lebih tua?." Nada suara Mizutani sedikit meninggi.


"Hmm." Gumam Yuki.


"Kita baru bertemu satu bulan dan aku bukan penjagamu, bukankah ini terlalu berlebihan?." Yuki mengangkat tubuhnya perlahan duduk menatap Mizutani.


"Kalau begitu aku kembalikan pertanyaannya kepadamu." Mizutani terdiam membalas tatapan Yuki.


"Kenapa kamu memanggilku dengan nama belakang?." Mizutani memijat-mijat dahinya.


"Kita impas Mi-chan." Yuki kembali merebahkan tubuhnya.


"Lakukan sesukamu." Sahut Mizutani pasrah.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu masih ada disini?." Tanya Mizutani.


"Aku takut gadis liar itu masih mencariku. Selain itu ... Aku lupa jalan pulang."


"Aku tidak bisa mengantarmu, ada jadwal latihan sampai nanti sore." Mizutani berdiri dari duduknya.


"Tidak masalah, setelah sekolah sepi aku akan meminta Masamune san untuk mengarahkan jalan pulang."


"Lebih baik seperti itu, aku akan ganti baju diluar." Pamit Mizutani.


Kenapa jadi seperti ini?, capeknya ... Jantungku bekerja terlalu keras hari ini, batin Yuki menutup matanya. Bagaimana dengan besok? bisakah Yuki melewatinya.


Ceklek.


"Kantoku (Pelatih), semuanya sudah berkumpul di," suara laki-laki yang tiba-tiba masuk membuat Yuki membuka matanya, perlahan Yuki mendongak, mata mereka bertemu laki-laki itu terdiam tanpa menyelesaikan kalimatnya.


"Oh Yuuki." Panggil suara serak dan berat itu.


"Hai' (Ya)."


"Hai '(Ya)."


Mereka bertiga saling melempar tatap bergantian.


"Ekhem, semuanya sudah berkumpul?." Mizutani menghampiri lemari kecil menggantung kemejanya.


"Ya semua sudah siap." Jawab laki-laki itu.


"Mau sampai kapan kamu tidur disitu yuki,?." Tanya Mizutani.


"Malam ini kamu harus pulang atau besok aku tidak akan berangkat." Ancam Yuki beranjak berdiri lalu berjalan melewati laki-laki itu.


Ceklek.


"Katakan kepada anak-anak, lari dua puluh kali mengelilingi lapangan untuk pemanasan." Perintah Mizutani.


"Baik, saya per."


Jebbrreett!!.


Mizutani dan laki-laki itu terkejut menoleh serentak menatap gadis yang memunggungi mereka, mencengkeram gagang pintu.


"Kenapa sekolah ini sangat menyeramkan?." Lirih Yuki yang terdengar oleh telinga kedua orang dibelakangnya, gadis itu membalikan badan perlahan menatap Mizutani.


"Ada apa?." Tanya Mizutani.


"Ada hewan buas diluar, dan jumlahnya tidak sedikit." Mizutani dan laki-laki itu terlihat kebingungan.


"Apa maksudmu anggota tim baseball?." Tanya laki-laki itu yang diangguki oleh Yuki.


"Mereka memang buas tapi bukan hewan, Yuki." Tegur Mizutani dengan senyum tertahan.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak masuk kesini." Ujar Yuki.


Setelah meninggalkan ruangan Mizutani beberapa menit yang lalu, Yuki berjalan menuju loker sepatu mengganti sepatu dalamnya dengan sepatu luar dan berjalan keluar gedung.


"Sumimasen... Ano.. (Maaf.. Anu..)," Yuki menghentikan langkahnya ia merasa ada yang menegur dirinya. Yuki membalikan badan mendapati seorang laki-laki berdiri kaku tidak jauh darinya.


"Ya?." Tanya Yuki ia mengedarkan pandangan ke sekitar, tidak ada orang lain disekitar mereka, hanya ada mereka berdua.


"I ini, untukmu." Laki-laki itu menyodorkan sebuah amplop berwarna biru kepada Yuki yang gadis itu terima dengan ragu-ragu.


"Sampai jumpa." Ucap laki-laki itu berlalu pergi begitu saja.


Aneh, apa ini, surat? angpau?, eeh tidak mungkin dia mau menyogokku kan, kenal juga tidak, batin Yuki memasukan amplop biru itu kedalam tas. Aku tidak tahu jika dibebas tugaskan dari semua urusan perusahaan dan kelas privat, kelas kursus akan begini jadinya, sangat aneh karena tidak ada pengawal dibelakangku. Bukannya dulu aku pernah meminta ayah untuk tidak memberikan pengawalan ketat, tapi bukan berarti sama sekali tidak ada!, rutuk Yuki dalam hati.


"Hari ini aku terlalu banyak mengeluh." Yuki berjalan meninggalkan halaman sekolah ia menghubungi Masamune untuk mengiriminya rute jalan pulang yang tercepat.


Setelah sampai dirumah Yuki bergegas masuk kedalam kamar mengganti bajunya dan langsung berendam membuat Masamune kebingungan.


Tok. Tok. Tok.


Pintu kamar mandi diketuk pelan dari luar.


"Ada apa Masamune san?." Seru Yuki dari dalam.


"Ojou chan baik-baik saja?." Tanya Masamune dari luar.


"Aku hanya ingin berendam." Jawab Yuki ia ingin menenggelamkan kepalanya kedalam air untuk menenangkan pikirannya. Sebenarnya Yuki ingin berenang tapi karena tidak ada kolam renang dirumah barunya mau tidak mau dia menyelam di bathtub.


Setelah selesai dengan urusan bathtub Yuki duduk dimeja dapur dengan kotak bekal yang belum sempat ia makan, membuka dan memakannya.


"Ojou chan apakah terjadi sesuatu yang buruk?." Masamune duduk diseberang meja.


"Banyak yang telah terjadi. Aku belum pernah merasa takut dikeramaian sebelumnya." Lirih Yuki. Tunggu, aku jarang sekali pergi ke keramaian bukan? tapi saat itu aku tidak merasa takut sama sekali, batin Yuki.


"Mungkin saat itu ada yang menemani anda." Ujar Masamune.


"Kamu benar, dan sekarang aku sendiri. Disekolahku dulu tidak ada orang yang mau mendekatiku, aku terbiasa sendiri." Yuki memandangi makanannya.


"Sekarang, disini, banyak yang mendekati anda karena itu anda merasa frustasi?." Masamune menyimpulkan.


"Hm."


"Jangan terlalu memaksakan diri." Masamune meraih tangan Yuki menggenggamnya sekilas, membuat Yuki terdiam kaku. Gadis itu merindukan sentuhan ibunya Dila di indonesia.


"Masamune san, bisakah kamu memanggil nama belakangku? dan jangan gunakan bahasa formal saat bicara denganku." Pinta Yuki menatap manik Masamune.


Wanita itu bergeming sebentar, mata biru gadis didepannya seperti menarik dirinya untuk membalas tatapannya, Masamune terpesona dengan mata itu, ia tersenyum kecil.


"Tapi saya dibayar untuk mengurus rumah ini jadi anda adalah tuan saya ojou chan." Yuki membalas meremas pelan tangan Masamune, memberikanya tatapan lembut yang tulus.


"Jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar merasa sendirian, dulu aku paling bahagia jika sendiri karena banyak yang bisa aku lakukan." Yuki mengingat ruang rahasianya.


"Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan apa pun, komputer saja aku tidak boleh memilikinya, hanya ponsel satu-satunya benda elektronik yang aku miliki." Yuki mempautkan bibirnya kesal dengan keputusan Lusi dan Daren dua bulan yang lalu.


"Baiklah, aku akan melakukannya." Masamune tersenyum kecil.


"Terima kasih dan, bolehkan aku memanggilmu Masa san?." Masamune mengangguk sekilas. Untuk pertama kalinya setelah Yuki tiba di jepang ia tersenyum memamerkan deretan gigi rapihnya.


"Kamu memang memiliki kekuatan sihir." Gumam Masamune yang terpaku dengan senyum Yuki.


"Hm?." Yuki mengangkat satu alisnya tidak paham.


"Tidak apa-apa, jangan kaget jika nanti banyak yang jatuh kepadamu." Masamune melihat raut wajah Yuki yang berpikir keras terlihat imut dimatanya.


"Aku mau pergi berbelanja mau ikut?." Ajak Masamune.


"Boleh." Jawab Yuki berdiri dari duduknya.


Yuki sadar ia mulai sedikit berubah sejak saat itu, setelah meninggalkan indonesia dan bertemu dengan mereka. Ia tidak setertutup dan sedingin dulu, meskipun perubahannya hanya sedikit tapi, ia mulai berubah. Akankah ia terus berubah dan memaafkan rasa sakitnya?. Yuki menantikan apa yang akan terjadi kepadanya dimasa depan.