Futago

Futago
Rahasia Natsume.



Di sela tawa kecil kedua gadis yang memiliki sifat berkebalikan itu Yuki tiba-tiba mengetuk gitar di pangkuannya dua kali di susul petikan lembut pada senar. Yuki membuka mulutnya menyampaikan bait demi bait lirik penuh makna manis yang di tuliskan gadis periang itu penuh perasaan dan senyuman. Natsume bergabung dengan suara pianonya, tersenyum kepada Yuki.


Terima kasih Yu chan, batin Natsume.


Yuki melirik ke empat audiens yang sedang menonton mereka. Tersenyum lembut kepada keluarga baik yang menjaga temannya di sela-sela nyanyiannya. Yuki benar-benar menenggelamkan dirinya ke dalam lagu Natsume berusaha menyampaikan isi hati temannya kepada mereka. Menyentuh lembut hati keluarga Akihiko dengan suara dan lirik yang begitu manis penuh rasa cinta.


Gadis bermanik biru itu teringat Dila, wanita yang dianggapnya sebagai ibu kandung sendiri. Di setiap lagu buatan Natsume pasti menyentuh hati dan membangunkan adrenalin Yuki namun lagu satu ini seakan menyelimuti hati Yuki dengan kehangatan lembut yang menenangkan.


Lagu berhenti, Yuki memetik senar terakhir, Natsume menekan tuts dengan lembut mengakhiri permainan mereka.


Gadis itu tiba-tiba berlari menubruk nyonya Akihiko. Dan di rengkuh oleh tuan Akihiko beserta kedua anaknya. Mereka bersama-sama memeluk gadis periang yang sedang menangis itu. Yuki di belakang sana mengulas senyum lembut yang sangat tulus, hatinya mendoakan kebahagiaan untuk satu-satunya teman berisik yang ia punya.


Terima kasih Hazuki, lagumu memberikanku ketenangan yang aku butuhkan, batin Yuki.


***


Pagi cerah lagi-lagi terlihat mendung, Yuki merubah posisi tidurnya ke samping membuka maniknya tak sengaja melihat gorden yang masih menutup, maniknya bergulir melirik jam di atas nakas. 01 : 30 p.m!.


Yuki tersentak duduk di atas ranjang melirik tempat di sampingnya sudah kosong. Bagaimana bisa ia bangun sesiang itu, Yuki belum pernah bangun sesiang itu.


Astaga, apa yang sudah aku lakukan, geram Yuki dalam hati mengingat kejadian tadi malam.


Natsume terus menangis bahkan di saat mereka hendak tidur pun gadis itu masih setia mengeluarkan air matanya hingga pagi hari. Yuki meregangkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar dengan handuk di tangannya.


Rumah sangat sepi, gadis itu tidak menghiraukannya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah ia selesai mandi pun masih belum ada tanda-tanda keberadaan penghuni lain rumah itu. Kakinya berjalan ringan ke arah dapur karena perutnya yang sudah berteriak kelaparan Yuki melirik ke atas meja. Ada sebuah catatan di samping sandwich di atas meja, Yuki membacanya sebentar.


Hm?, si kembar ada latihan di gym sekolah mereka, tuan Akiko pergi bekerja, nyonya Akiko ada pertemuan ibu-ibu, dan Hazuki?, dia tidak menuliskan apa pun, batin Yuki.


Yuki lebih memilih memakan sandwich yang sudah di sediakan nyonya Akiko.


Aneh, batin Yuki.


Melihat ada empat sandwich di atas piring, berarti ini untuknya dan Natsume, tapi kemana gadis itu pergi tanpa memakan sarapannya?. Yuki menyelesaikan acara makannya dan kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur setelah itu barulah ia mencari Natsume.


Yuki membuka gorden kamar, menyibak selimut hendak melipatnya namun ponsel milik Natsume sedikit terlempar ke samping. Yuki mengerutkan dahinya.


Kenapa dia meninggalkan ponselnya?, batin Yuki mengambil ponsel Natsume yang terkunci.


Insting hackernya terbangun, gadis itu segera mengambil ponsel miliknya sendiri melakukan sesuatu kepada ponsel Natsume sampai kunci keamanan ponsel temannya terbuka. Yuki dengan cepat membuka daftar panggilan, lalu berganti ke pesan. Tanpa banyak berpikir Yuki memasang jam tangannya, dan membawa ponsel Natsume berlari keluar rumah. Ia tidak memikirkan lagi penampilannya yang menggunakan celana jeans pendek dan kaos putih berlengan pendek sepanjang pahanya yang menutup celana jeans.


Di tengah-tengah larinya Yuki mencari lokasi sekolah sma di sekitar rumah itu.


Kenapa dia tidak membangunkanku, dasar bodoh!, rutuk Yuki kepada Natsume.


Panas hari itu membuat Yuki sedikit pening. Ia masih ingat Natsume pernah memberitahunya kalau Seiko adalah anak klub voli tanpa basa-basi lagi maniknya bergerak cepat mencari gym voli di sekolah besar itu. Kakinya terus berlari mengikuti insting dan logika, ketika melihat sebuah pintu silver Yuki tidak ragu-ragu membukanya dengan kasar, padahal mungkin itu adalah gym klub basket tapi, instingnya jarang meleset, belum pernah melesat.


Srak.


Brak!.


Suara itu menghentikan kegiatan di dalam, semua pasang mata menatap aneh gadis super cantik dengan penampilan menggoda, kaki ramping yang panjang dan kencang berotot, ditambah keringat yang membasahi lehernya.


"Wow, ada kucing nyasar." Celetuk sebuah suara.


Manik Yuki segera mencari dua orang di antara banyaknya tubuh-tubuh jangkung bak tiang listrik. Seorang perempuan menghampirinya namun Yuki mengabaikan perempuan itu dan berlari ke arah seseorang.


"Akihiko san, siapa Badri?." Srobot Yuki tidak menghiraukan tatapan aneh orang-orang.


Karena tidak sabar menunggu jawaban dari orang yang masih bergeming menatapnya Yuki menarik tangan orang itu keluar dari gym.


"Hachibara san ada apa?." Yuki menghentikan langkahnya setelah berada sedikit jauh dari gym berbalik menghadap pemuda itu.


"Sebelum pindah Hazuki siswi di sini bukan?." Tanya Yuki cepat.


"Hazuki sudah menceritakannya kepadamu?. Aku kira dia tidak akan pernah menceritakannya." Jawab Seiya.


"Siapa Badri?." Lagi-lagi nama itu keluar dari mulut gadis asing yang baru beberapa bulan mengenal Natsume. Yuki yang kesal menarik kaos depan Seiya. Ia harus cepat, instingnya merasakan hal buruk akan terjadi.


"Cepat jawab Akihiko san." Desak Yuki menatap lurus manik Seiya. Yuki menahan diri agar tetap tenang dan tidak terlihat kacau.


"Dia kakak tiri Nattchan!." Yuki melirik ke belakang melihat Seiko berlari mendekati mereka.


"Baka!, kenapa kamu memberitahunya?!." Teriak Seiya.


"Dasar Baka!, Nattchan sangat percaya dengan Hachibara san dan kejadian di sekolahnya waktu itu juga Hachibara san yang menyelamatkannya apa kamu lupa yang Nattchan ceritakan HAH!." Teriak kembali Seiko seraya menarik kaos kembarannya dan menghempaskannya begitu saja beralih menatap Yuki.


"Ada apa?, aku yakin Nattchan belum menceritakan perihal si bed*bah itu kepadamu. Kamu berlari dari rumah sampai ke sini?!." Kekasih Natsume itu baru tersadar melihat keringat di dahi Yuki. Percayalah itu bukan karena Yuki kelelahan melainkan karena sengatan panas matahari.


"Tidak penting. Dimana tempat yang biasanya Hazuki datangi di sekolah ini?." Srobot Yuki.


"Taman belakang." Jawab Seiko tak kalah cepat. Manik biru itu terlihat tegas, yang biasanya datar-datar saja, firasatnya juga tidak enak.


"Terima kasih. Setelah membacanya cepat cari Hazuki di seluruh tempat di sekolah ini, dan hubungi aku dengan ponsel Hazuki setelah kalian menemukannya." Jelas Yuki memberikan ponsel Natsume kepada Seiko dan berlari sekencang mungkin.


"Hachibara san seperti seekor cheetah." Gumam Seiya ikut melirik isi ponsel Natsume.


Tubuh keduanya menegang, Seiko berteriak marah yang bisa di dengar oleh anak-anak di dalam gym, Seiya langsung berlari ke arah lain dari arah Yuki pergi.


Di tengah jalan saat ia sedang mencari halaman belakang sekolah Yuki tiba-tiba mengerem mendadak, logikanya memberikan jawaban bahwa tidak mungkin Badri kakak tiri Natsume akan menyerang gadis itu di sana. Pesan itu mengatakan tempat luas, dengan angin kencang bukanlah halaman belakang yang luas dan ada beberapa pepohonan namun.


Atap!, seru Yuki dalam hati.


Kakinya melaju ke dalam gedung utama melompati tiga undakan sekaligus. Gadis itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan membiarkan orang yang di sayanginya pergi lagi. Semoga saja ia masih sempat.


Yuki mendengar teriakan histeris Natsume dari atap, kakinya semakin cepat berayun. Mengatur nafas sebentar Yuki memegang kenop pintu, teriakan Natsume kembali terdengar kini sangat jelas.


"Jangan mendekatiku!." Teriak Natsume menatap takut-takut laki-laki yang lebih tua satu tahun darinya.


"Tenang sayang, aku sangat merindukanmu." Suara lembut itu tidak cocok dengan wajah pucat dan mata yang berkilat aneh.


"Jangan mendekat!. Kau sudah berjanji!. Tidak akan melukai Yu chan kalau aku datang ke sini!." Teriakan Natsume bergetar hebat.


"Tentu, tentu, sayang. Aku tidak akan menyentuhnya aku hanya menginginkanmu. Kemarilah." Ucap Badri mendekati Natsume yang terus mundur darinya.


"Apa yang akan kau lakukan?, pergilah. Kumohon." Natsume mulai menangis ketakutan.


"Pergi?. Kita baru bertemu kembali sayang. Kamu yang tiba-tiba kabur dari rumah dan sekarang menyuruhku pergi?. Tidak akan semudah itu." Melihat Natsume yang semakin mundur membuat Badri kesal. Suaranya berubah mengerikan, mengintimidasi Natsume.


"Mendekat!, atau temanmu itu akan menggantikan posisimu." Natsume menggeleng pelan, isak tangisnya semakin kencang.


"Sudah cukup. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tahu kamu tidak akan bisa menggantikan posisiku karena kalian sama-sama iblis!." Teriak Natsume. Badri menggertakkan giginya.


"Kemari! atau aku akan melukai temanmu seperti aku melukai kembaran kekasihmu." Ancam Badri.


"Sudah cukup!. Kalian membuat hidupku hancur!."


"Apa yang kau lakukan bodoh!." Teriak Badri.


Yuki perlahan membuka pintu atap menaruh pelan ponselnya di dekat sana. Yuki tahu ini akan terjadi, ia dengan tenang mendekati laki-laki berotot yang cukup proposional dilihat dari belakang. Mereka sepertinya belum menyadari kehadiran gadis itu.


"Apa kau pikir aku tidak akan melukainya jika kamu bertingkah seperti ini, Hazuki!." Yuki memberikan pukulan belakang kepala dengan kuat.


Wooosshh ...


Grep!.


"Sepertinya ada pengganggu."


Sret.


Tangan Yuki yang di tangkap Badri di lempar ke depan, gadis itu sedikit berputar menyeimbahkan tubuhnya.


"Yu chan!. Apa yang kamu lakukan di sini?!." Teriak Natsume.


"Pergi dari sana, menjauh dari sana, Hazuki. Naik lagi, kembali ke sini." Ucap Yuki menatap temannya dan mengabaikan laki-laki gila yang masih berdiri di belakang tubuhnya.


Natsume terus menangis sampai pandangannya kabur, gadis itu sudah berdiri di luar pembatas atap yang hanya setinggi pinggang, kedua tangannya masih memegang erat besi berwarna hijau.


"Tidak Yu chan, maaf aku membuatmu terseret. Pergilah, dia tidak akan melukaimu, dia hanya menginginkanku." Ucap Natsume nada suaranya penuh kegetiran.


"Kau salah sayang. Aku bisa melakukan apa saja untuk pengganggu kita." Desis Badri.


Sret.


Shuutt.


Yuki menunduk dari tebasan Badri lalu berbalik menahan lengan laki-laki itu yang menghunuskan pisaunya ke dada Yuki.


"Yu chan!. Lepaskan dia!. Aku mengerti, aku akan datang kepadamu jadi lepaskan YU CHAN!." Teriak Natsume kalut sampai-sampai tak sengaja pegangan tangannya pada besi pembatas terlepas.


"Hazuki !!!." Yuki serta merta menendang keras perut Badri sampai tubuh laki-laki itu terlempar jauh.


Tap. Tap. Tap.


Wooosshh.


Yuki berlari secepat kilat lalu meluncur keluar pembatas, untunglah Natsume sempat memegang tembok pinggir atap jadi gadis itu masih menggelantung. Yuki mengulurkan tangannya yang tidak mencengkeram besi pembatas.


"Pegang tanganku." Titah Yuki. Natsume menggeleng pelan.


"Maaf Yu chan. Aku sudah tidak kuat lagi." Yuki ingin memukul kepala Natsume sekarang karena tingkah gilanya tapi ia tahu seberapa besar rasa sakit yang di pendam gadis itu.


"Dengarkan aku Hazuki. Aku akan membunuhnya jika kamu menginginkan itu." Yuki masih senantiasa mengulurkan tangannya.


"Jangan, aku tidak ingin tangan malaikatku berubah kotor." Ucap Natsume meringis kesakitan, tangannya sudah tidak kuat menahan berat tubuhnya.


"Benar, aku adalah malaikatmu. Maka dari itu sekarang raih tanganku dan malaikat ini akan menghukum iblis itu." Yuki menatap lekat-lekat manik Hazuki yang menggelantung di bawahnya.


"Yu chan." Lirih Natsume berusaha meraih tangan Yuki.


Grep!.


Yuki memegang erat tangan Natsume lalu menyentaknya kuat.


Grep!.


Yuki menggenggam erat pergelangan tangan Natsume, refleks tangan Natsume yang lain memegang tangan Yuki. Yuki langsung menyusun rencana cadangan dengan medan baru.


"Ayunkan tubuhmu ke samping." Yuki menuntun Natsume berayun dengan kaki dan tubuhnya.


"Benar seperti itu. Semakin cepat Hazuki." Perintah Yuki.


Natsume melirik ke bawah sambil mengayunkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, mereka berada di lantai empat jika mereka berdua terjatuh pasti tidak akan selamat. Natsume merasa ayunan mereka sudah semakin cepat ia mendongak untuk berbicara kepada Yuki tapi saat itu Badri sudah berdiri di pinggir dalam pembatas mengangkat pisau tajamnya ke atas hendak menusuk tangan Yuki.


"Yu chan!." Teriak Natsume.


"Kalau kau ingin mati, ayo mati bersama sayang." Ucap Badri tersenyum miring.


"Yu chan lepaskan aku!." Yuki berdecih dalam hati.


Tidak ada cara lain, batin Yuki.


Gerakkan gadis itu sangat cepat dan tidak terduga. Kaki kanan Yuki mendorong ke atas pinggang Natsume saat ayunan mereka bergoyang ke kanan, tangannya menarik kuat melempar tubuh Natsume, kaki kirinya ikut terangkat namun berhenti di besi pembatas bawah memasukkannya ke dalam besi sebagai tumpuan memperkuat dorongan kaki kanannya pada pinggang Natsume sedangkan tangan kirinya mencengkeram kuat besi pembatas.


Duk!.


Maaf Hazuki, batin Yuki yang tidak bisa memberikan penyelamatan mulus. Tubuh gadis itu terlempar menabrak besi pembatas dan jatuh di lantai atap. Tepat saat Natsume jatuh ke lantai Yuki melepas pegangannya pada besi.


Trang!.


Suara nyaring benturan pisau dengan besi pembatas. Tubuh Yuki jatuh menembus udara.


"YU CHAAAANNN !!!." Natsume menatap nanar besi pembatas.


"Hahahaha ... Sekarang sudah tidak ada lagi pengganggu kita sayang. Hahaha."


Tubuh Natsume bergetar hebat ia meringkuk memeluk lututnya. Sudah banyak sekali ia mengeluarkan air mata sampai tenggorokannya terasa sakit, ia masih terus menangis dan merintih.


"Ayo, pulang." Badri melangkah pelan menjemput gadis itu. Natsume mempererat pelukkannya pada lutut, keadaannya sudah sangat kacau.


"Pergi, jangan mendekat." Lirih gadis itu menunduk takut.


"Diam!. Kau kabur sebelum aku berhasil menyentuhmu sialan!." Natsume semakin mengkerut di tempatnya.


Di terpa angin seperti itu membuat pusingnya sedikit berkurang. Sebelum sempat terjun bebas Yuki menendang tembok lantai atap untuk mengubah posisi tubuhnya yang terbalik, tangannya meraih dinding samping gedung yang menonjol keluar menekuk sikunya dan mendorong kuat menendang kaca kelas.


PRANG!.


Hap!.


Yuki mendarat dengan satu kaki mengejutkan pasutri yang sedang berciuman di pojok kelas.


Gila!, batin Yuki masih sempat mengutuk orang lain.


Ia berjalan santai keluar kelas lalu berlari secepat kilat kembali ke atap. Tepat di depan pintu Yuki berhenti, menatap pemandangan di luar sana dari kaca kecil pada pintu. Darahnya mendidih, maniknya berkilat tajam.


Ia mengangkat kakinya setinggi pinggang dan dalam sekali tendangan.


BRAK!.


WOOOSSHH.


DANG!.


"Hiks!. Hiks!. Hiks!. Yu chan ...." Natsume masih memeluk lututnya erat meringkuk bergetar, menatap sosok yang berjalan pelan dengan wajah super dinginnya.


Tangan Badri yang sempat menyentuh wajah Natsume ia tarik kembali, berdiri dengan seringai buas dan mata yang berkilat tajam.


"Apa kau juga seorang iblis sepertiku?. Tidak ada manusia yang bisa selamat setelah terjun dari gedung berlantai empat." Manik Yuki mengunci mangsanya.


"Hazuki, tutup matamu." Titah Yuki datar. Hanya terdengar isakkan gadis itu.


"Hazuki, kamu mendengarku?." Ulang Yuki.


"Hiks. Hiks. Yu chan ..." Lirih Natsume namun Yuki tahu gadis itu sudah menunduk dan menutup matanya rapat-rapat.


"Hahaha kita sama rupanya, kau harus cepat mati agar aku bisa bermain dengan adikku tercinta!." Teriak Badri.


"Aaarrrgghhh!!." Jerit Natsume menutup telinganya kala mendengar Badri memanggilnya seperti itu.


Tepat saat teriakan panjang Natsume Yuki berlari kencang melompat ke arah Badri, pria gila itu mengayunkan pisaunya ke depan.


Grep!.


BRAAKKK!!.


"Argh!!!." Pekik Badri, mendapatkan benturan keras di kepala dan dadanya. Lutut kanan Yuki yang berada di dada laki-laki itu semakin ia tekan ke dalam.


"Argh!!."


Perlahan Yuki melepas tangan kanannya dari wajah Badri.


"Ingat mataku." Desis Yuki sangat dingin. Gadis itu masih waras tidak ingin temannya yang sedang terguncang tambah ketakutan karena dirinya.


Yuki mendekatkan wajahnya ke bawah, mensejajarkan maniknya dengan manik Badri. Perang mata pun terjadi, manik seorang psikopat dan manik dalam dan tajam yang telah menghadapi segala kesakitan.


"Aku akan membunuhmu dan mendapatkan Hazukiku." Gigi Badri bergemeletuk. Yuki hanya diam semakin menusuk Badri dengan tatapannya.


Tubuh di bawah Yuki mulai bergetar ketakutan.


Tangan Badri yang memegang pisau memberontak sekuat tenaga terlepas dari cekalan Yuki, manik Badri melirik ke samping lalu melayangkan pisaunya menebas leher Yuki.


Tuk.


Grek!.


Puk.


Sret.


Yuki melakukan gerakkan menyayat pergelangan Badri dengan tangannya, menggunakan sedikit tenaga. Badri melepaskan pisau dari tangannya merasakan sakit luar biasa pada otot pergelangan bagian dalam. Yuki dengan tenang menginjak lengan Badri yang terjatuh dengan kaki kirinya yang bebas, tangannya menangkap pisau lalu meletakkannya tepat di kulit leher Badri.


Manik Badri bergetar, melirik ke bawah.


"Kenapa takut?. Bukankah kau sangat menikmati ketakutan Hazuki?." Desis Yuki.


"Ya, aku sangat menikmatinya hahaha. Apa lagi saat dia memberontak tidak ingin aku sentuh. Hahahaha. Aku memasukkan obat pada minumannya membuat suara yang dicintainya rusak!. Hahaha." Suara tawa menggelegar itu membuat Yuki semakin panas. Ia menekan pisau lebih dalam, darah segar yang menjijikan keluar membasahi pisau itu.


"Kau yang merusak pita suara Hazuki. Bagaimana jika aku membuatmu tidak bisa bicara." Badri melirik pisau di bawah dagunya, ia tidak berani bergerak.


"Kenapa?." Desis Yuki semakin menundukkan wajahnya.


"Kenapa kau tidak menikmati ketakutanmu?, Badri ...?." Yuki semakin mendesis, suara dinginnya seperti pisau es yang menguliti laki-laki itu.


"Ampuni aku, aku akan melakukan apa pun yang kau minta." Ucap Badri gemetar menatap manik biru tajam itu, Yuki menarik sudut bibirnya menyeringai merendahkan laki-laki di bawahnya.


"Tidak semudah itu. Bukan begitu, Badri?." Yuki semakin menekan mental psikopat itu.


"Heh, apa kau pikir bisa membunuhku wanita rendahan. Hahaha." Suara tawa Badri semakin melebarkan sayatan pada lehernya.


Tak.


"Apa kau bisa merasakan tangan kirimu, Badri?." Pria gila itu terdiam menyadari ia tidak bisa merasakan tangan kirinya.


Tak.


"Apa kau juga bisa merasakan tangan kananmu?." Manik Badri bergetar hebat.


Dua jari kanan Yuki yang tidak memegang pisau bergerak lambat di permukaan baju Badri menuju tengah-tengah dada pria gila itu.


"Bagaimana jika aku menghentikan pernafasanmu di sini." Jari Yuki berhenti tepat di perpotongan dada bagian atas.


"Hey, nikamtilah rasa takutmu sendiri." Desis Yuki. Badri kalang kabut, ia sudah ketakutan setengah mati.


"Sssttt ...." Desis Yuki di dekat telinga seraya menutup mata Badri. Yuki mempraktekkan ilmu yang ia dapat dari masternya.


"Badri, Badri, kata-kataku adalah mutlak untukmu." Yuki melanjutkan bisikannya di telinga laki-laki gila itu dan tangan kirinya melepas pisau beralih menekan salah satu saraf.


Setelah dirasa selesai Yuki menjauhkan tubuhnya dari Badri menyobek kaos bagian bawahnya sampai ke pinggang celana jeans, gadis itu melindungi perutnya agar tetap tertutup. Sobekan kaosnya ia gunakan untuk membalut luka di leher Badri, lukanya tidak dalam hanya tergores tidak berbahaya. Yuki beralih mendekati Natsume yang masih meringkuk menunduk menekan keras kedua telinganya.


Gadis bermanik biru itu berlutut di depan Natsume memeluk lembut tubuh gemetar itu. Yuki menepuk-nepuk pelan punggung Natsume, tangan lainnya mengelus pelan surai gadis itu.


"Hazuki, sudah tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai Hazuki. Tidak apa-apa." Yuki berbicara selembut mungkin kepada gadis itu.


"Yu chan ..?." Cicit Natsume.


"Hmm, ini aku." Yuki mempererat pelukkannya.


"Yu chan." Panggil Natsume lirih membalas pelukan Yuki.


"Ya, Hazuki." Isakkan gadis itu semakin kencang, Natsume tidak bisa mengucapkan sebuah kata-kata untuk menjelaskan perasaannya saat ini kepada gadis yang sudah menolongnya, hanya panggilan kepada gadis itulah yang sanggup keluar dari mulut kering Natsume.


"Yu chan." Yuki masih senantiasa mengelus dan menepuk punggung Natsume.


"Hm."


"Hiks, Yu chan."


"Hm."


"Takut."


"Ayo turun, pasti si kembar sangat mengkhawatirkanmu."


Yuki menuntun Natsume meninggalkan atap tak lupa ia juga mengambil kembali ponselnya yang sengaja ia tinggalkan di sana.


Zzzz ... Zzzz ...


"Hachibara san!. Kamu sudah menemukan Nattchan?." Seru Seiko dari ponsel Natsume.


"Ya, kami di tangga gedung utama." Tut!. Seiko langsung menutup sambungan. Yuki menaikan satu alis melihat sebuah pesan yang belum dibuka pada layar ponsel.


Yuki dengan hati-hati membantu Natsume menuruni tangga. Lumayan juga kecepatan si kembar, mereka sudah sampai saja di tangga Yuki dan Natsume berada.


"Nattchan!." Seru Seiko menatap pacarnya sebentar lalu melirik tangga ke atas.


"Akihiko san." Yuki menghentikan niat Seiko yang ingin pergi ke atap.


"Hazuki lebih membutuhkanmu." Laki-laki itu tersadar dari emosinya lalu meraup tubuh Natsume ke dalam gendongannya.


"Aku akan membawanya pulang." Ucap Seiko langsung menuruni tangga dengan cepat. Yuki melirik Seiya yang menatap tajam ke tangga di belakang Yuki dengan kedua tangan terkepal kuat.


Set.


Yuki menggeser tubuhnya menghalangi pandangan Seiya.


"Aku membutuhkanmu untuk menyelesaikan kekacauan ini." Ujar Yuki ketika manik Seiya menatapnya.


"Ayo." Ajak Yuki menuruni tangga.


"Akihiko san." Tegur Yuki yang melihat Seiya masih berdiri di tempatnya.


"Mau kemana kita?." Tanya laki-laki itu.


"Ruang kepala sekolah."


***


Cukup lama berada di dalam ruangan kepala sekolah, pembicaraan sangat panjang pun terjadi antara Yuki dan kepala sekolah. Seiya hanya menjadi pendengar kala Yuki melakukan penjelasan, permintaan maaf karena sudah merusak fasilitas sekolah, dan bernegosiasi. Seiya dibuat terkesan dengan gadis bermanik biru itu, bahkan sangat takjub.


Bagaimana bisa remaja kecil sepertinya melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan orang dewasa. Kepala sekolah bahkan berkali-kali dibuat tak berkutik oleh gadis itu. Perjanjian damai di lakukan, Yuki akan mengganti semua kerusakan dan ia juga menuntut Badri di keluarkan dari sekolah dengan bukti kuat yang gadis itu miliki. Toh Yuki memiliki rencana sendiri untuk psikopat itu.


Seiya di serbu oleh teman-temannya saat ia kembali ke gym untuk mengambil barang-barang miliknya dan milik saudara kembarnya. Mereka meminta penjelasan dan mengorek informasi tentang gadis yang dua malam ini tidur di rumahnya. Sangat sulit pergi dari predator kelaparan, namun dengan wajah serius dan mengatakan teman masa kecilnya sedang berada di rumahnya membuat mereka langsung melepaskan Seiya begitu saja. Ya, siapa yang tidak tahu tentang Natsume Hazuki, dia adalah salah satu primadona sekolah. Dan tentang kejadian buruk yang menimpanya satu tahun lalu di sekolah.


Seiya berjalan gontai dengan semua informasi dan rekaman suara yang telah ia dengar dari ponsel teman sahabat kecilnya. Apalagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini, bagaimana gadis itu lepas dari jeratan Badri yang sangat berbahaya tanpa terluka sedikit pun, lalu bagaimana bisa gadis itu merusak jendela kelas?. Tidak sengaja?, kebetulan?. Di saat Seiya masih sibuk dengan pikirannya sebuah siluet ramping sedang mengangkat kedua tangan melakukan peregangan memperlihatkan pinggang kencang dan perut berotot yang indah di balut kulit putih pucat. Tak sadar Seiya menelan salivanya kasar.


"Ekhem!. Ayo pulang." Seiya berdeham lalu kembali berjalan. Gadis itu menurunkan kedua tangannya.


"Tidak, bisakah kamu mengantarkanku ke rumah sakit dekat sini?."


***


Di rumah sakit, Seiya tidak di perbolehkan oleh Yuki ikut masuk, laki-laki itu harus menunggu di loby tidak boleh beranjak dari sana, Seiya menurut saja. Ia tidak bisa menebak jalan pikiran gadis itu. Setelah tiga puluh menit lamanya akhirnya Yuki keluar. Mereka terus diam dalam perjalanan pulang, di dalam taksi, saat berjalan, bahkan saat sudah masuk ke dalam rumah.


Yuki langsung menemui Natsume di kamar. Seiko masih setia menjaga gadis itu, pacar yang baik. Yuki mengelus pelan pucuk kepala Natsume.


"Akihiko san, ini vitamin. Natsume sebelumnya pernah mengkonsumsi obat penenang bukan." Seiko terkejut, Yuki hanya mengulas senyum lembut.


"Aku dan Akihiko Seiya san pergi ke rumah sakit sebelum pulang." Seiya yang berdiri di ambang pintu mengerutkan kening.


"Panggilanmu sungguh aneh." Protes pelan pemuda di ambang pintu itu. Panggilan selanjutnya membuat desiran aneh di dalam dada Seiya.


"Aku dan Seiya san pergi kerumah sakit untuk meminta vitamin pengganti obat penenang. Aku rasa vitamin ini bisa menggantikan obat itu." Yuki menyodorkan beberapa vitamin yang ia ketahui khasiat rahasianya. Karena vitamin itu hanyalah para dokter yang memilikinya, Yuki sempat berdebat sedikit dengan dokter dan akhirnya membeli vitamin itu dengan harga dua kali lipat.


"Jangan biarkan Hazuki sendirian, mentalnya masih terguncang." Yuki melirik ke luar pintu.


"Aku akan berbicara dengan nyonya Akihiko." Ucap Yuki meninggalkan kamar di susul oleh Seiya.


"Hachibara chan apa yang terjadi?." Yuki memeluk lembut wanita itu yang baru pulang dan sedikit mendengar obrolannya dengan Seiko. Wajah takutnya kentara sekali.


"Kita duduk dulu Akihiko san." Yuki menuntun wanita itu duduk di sofa. Saat hendak mengambilkan minum Seiya mencegahnya. Pemuda itu mengambilkan dua gelas air dingin untuk ibunya dan Yuki.


Setelah menenangkan wanita itu Yuki mulai bercerita dari kecurigaannya selama ini, melihat Natsume yang periang tiba-tiba diam sampai ke siang tadi, ia banyak melewati bagian-bagian peretasan dan percobaan bunuh diri yang Natsume lakukan. Seperti kepada kepala sekolah, Yuki memberikan alibi lain tentang kaca yang pecah dan leher Badri yang tergores. Yuki sudah menyesuaikannya dengan hipnotis yang ia tanamkan kepada Badri, jadi jika psikopat itu di interogasi jawaban mereka akan sesuai.


"Maaf Akihiko san, saya harus pulang malam ini. Saya titip Hazuki kepada kalian." Ujar Yuki.


"Kenapa buru-buru, apa ada sesuatu di tokyo?." Tanya wanita itu.


"Ya, sedikit. Terima kasih banyak sudah membolehkan saya tinggal di sini, terima kasih juga untuk masakannya. Maaf, kalau saya merepotkan kalian." Ucap Yuki sopan.


"Tidak tidak, kami malah senang Hachibara chan menginap di sini, kapan-kapan menginaplah lagi." Yuki hanya tersenyum simpul.


"Terima kasih banyak sudah menolong Hazuki." Lanjutnya. Wanita itu tiba-tiba membungkukkan badan sangat rendah membuat Yuki segera turun dari sofa dan berlutut, bersimpuh menghadap wanita itu seraya menundukkan pandangan.


"Jangan seperti ini Akihiko san, Hazuki juga teman saya. Orang yang menyakitinya juga menyakiti saya, terima kasih untuk keluarga Akihiko sudah mau memberikan tempat berlindung untuknya. Hazuki gadis yang sangat baik." Jelas Yuki, nyonya Akihiko kembali menangis menatap gadis yang sangat sopan itu. Pada jaman sekarang jarang sekali masih ada gadis sepertinya.


"Hazuki benar sekali tentangmu. Ia menelphon ke rumah pada hari pertamanya masuk sekolah. Dia menceritakan tentangmu, tentang matamu, sikapmu, semuanya. Dan keyakinan Hazuki benar, kamu adalah seorang malaikat yang menjelma menjadi seorang remaja. Terima kasih Hachibara san, terima kasih. Untuk semuanya, kami tidak mungkin bisa membalasnya." Ucap panjang nyonya Akihiko menarik Yuki kembali duduk di atas sofa memeluk lembut gadis itu. Yuki membalas pelukkannya.


"Tidak ada yang perlu di balas Akihiko san. Jangan berpikir seakan aku melakukannya karena meminta imbalan. Semuanya akan baik-baik saja, Hazuki akan sembuh beberapa hari lagi." Ucap Yuki menenangkan.


"Apakah anda tidak ingin melihat Hazuki?." Tanya Yuki, sebenarnya ia butuh Seiko untuk berbicara.


"Ya, kamu benar. Aku ingin melihatnya." Wanita itu melepaskan pelukannya kepada Yuki, gadis itu tersenyum lalu mengangguk pelan.


Tidak lama setelah nyonya Akihiko masuk ke dalam kamar Seiko berjalan menghampiri Yuki dan saudara kembarnya. Yuki langsung buka suara tanpa berbelit-belit.


"Aku perlu memberitahukan sesuatu kepada kalian, seharusnya aku mengatakannya kepada tuan Akihiko tapi nanti tidak akan sempat mengejar kereta sore jika menunggu beliau pulang. Bisakah kalian berpikir dingin sekarang?." Yuki menatap si kembar satu persatu, mereka mengangguk serempak.


"Tolong jelaskan padaku masalah singkat keluarga Hazuki." Seiko memilih menceritakannya.


"Orang tua Nattchan cerai saat ia duduk di bangku kelas dua smp. Ayahnya pergi ke amerika untuk bekerja dan ibunya menikah lagi satu tahun kemudian." Yuki mengangguk paham.


"Nattchan tidak menyetujui pernikahan itu karena tidak suka dengan calon ayah dan kakak tirinya, tapi bibi mengabaikan keinginan Nattchan yang tidak membolehkannya menikah lagi. Pernikahan itu terjadi, berkali-kali kedua bed*bah itu hampir menyentuh Nattchan." Seiko berhenti, pemuda itu telihat emosi dan digantikan oleh kembarannya.


"Setelah kelulusan smp, Hazuki pindah ke rumah kami, dan sayangnya kami bertiga masuk ke sekolah yang sama dengan baj*ngan itu. Kami berdua selalu menjaga Hazuki dari si baj*ngan yang selalu berusaha menyentuhnya. Berita tentang Hazuki yang berpacaran dengan Seiko menyebar sampai ke telinga baj*ngan itu." Yuki menghentikan cerita yang sudah bisa ia tebak.


"Badri melukaimu untuk mengancam Hazuki, jika Hazuki tidak menurut, pacarnyalah korban selanjutnya, karena tidak ingin ada yang terluka lagi Hazuki nekat pindah ke tokyo sendirian dan bersekolah di sana, begitu kan?." Kedua saudara kembar itu takjub dengan prediksi tepat sasaran Yuki.


"Jadi, selama ini ayah Hazuki mencukupi kebutuhan hidupnya, karena tidak ingin ayahnya khawatir Hazuki tidak pernah menceritakan yang sebenarnya. Apa aku salah?." Mereka menggeleng serempak. Yuki tidak memiliki waktu untuk menunggu mereka berdua berhenti kaget dan takjub.


"Hmm, semuanya sudah jelas. Jadi, ini yang ingin aku beritahukan kepada kalian." Yuki melirik kedua anak kembar itu memastikan mereka memperhatikan.


"Baik. Dua hari lagi Badri akan pergi ke kantor polisi mengakui perbuatannya, psikopat itu akan menyeret ayahnya juga karena tidak ingin di salahkan sendiri." Seiko dan Seiya terkejut, lagi.


"Karena ini adalah kasus berencana kemungkinan besar Hazuki sebagai korban dan kalian sebagai saksi akan di interogasi juga. Aku akan mengirimkan perwakilanku ke sini atau mungkin, pihak polisi berkenan ke tokyo."


"Kamu tidak akan ke sini?." Tanya Seiya.


"Tidak, aku tidak bisa." Jawab Yuki.


"Setelah itu ayah dan anak ini akan mendapatkan hukumannya dari pihak yang berwajib. Aku akan menyiapkan pengacara untuk persidangan. Masalahnya bukan di sini tapi pada Hazuki." Yuki beralih menatap Seiko.


"Apa kamu bisa meyakinkan Hazuki untuk membuka lukanya kembali?."


"Ya."


"Kamu harus menjaganya dua puluh empat jam, apa aku bisa percaya padamu?." Seiko berasa seperti sedang menghadapi ayah mertua.


"Ya."


"Kalau begitu, jangan lupakan vitaminnya, jika Hazuki melakukan hal-hal aneh langsung bawa ke rumah sakit dan hubungi aku." Pesan Yuki.


"Baik." Yuki tersenyum lembut menatap Seiko.


"Hazuki beruntung memiliki kekasih sepertimu." Ujar Yuki membuat semburat merah muncul di bawah mata Seiko.


"Mental Hazuki sedang buruk, jangan biarkan dia menangis terlalu banyak. Aku percaya pada kalian. Tolong kerja samanya." Yuki membungkuk sopan.


"Tidak, kamilah yang tertolong olehmu. Jika bukan karenamu mungkin kami tidak akan pernah bisa lepas dari bed*bah-bed*bah itu."


***


Pukul lima sore Yuki diantarkan Seiya ke stasiun, pemuda itu banyak diam tanpa melirik Yuki sedikit pun.


"Apa kamu penasaran kenapa aku bisa menduga apa yang akan di lakukan Badri?. Apa Hazuki lupa menceritakan sesuatu tentangku?." Yuki berhenti di depan stasiun menatap Seiya yang tingginya hampir sama dengan Hajime.


"Ung, kepalaku hampir pecah karena tidak cukup menampung semua informasi hari ini. Bagaimana kamu bisa lolos dari baj*ngan itu?, bagaimana kamu bisa merencanakan semuanya dengan teliti dan sempurna?, kamu terlihat tidak jauh berbeda dengan kami." Yuki tersenyum.


"Apa tidak ada dari cerita Hazuki yang bisa menjawabnya?." Seiya terdiam, di paksa berpikir kembali.


"Sepertinya ada." Ucap Seiya senang lalu menunduk menatap Yuki.


"Misterius." Yuki terkekeh geli.


"Hazuki mengatakannya?."


"Aku rasa aku tidak salah dengar." Ucap Seiya menatap lamat-lamat wajah tertawa Yuki.


"Kalau begitu biarkan itu menjadi jawabannya, jangan terlalu memaksakan otakmu kasihan mereka. Terima kasih sudah mengantarku. Kabari aku jika ada apa-apa." Pesan Yuki menyeret kopernya memasuki stasiun.


"Hachibara san!." Yuki menoleh.


"Sampai ketemu lagi!." Yuki tersenyum membalas lambaian Seiya.