Futago

Futago
Dunia Mempermainkannya.



Yuki menggeser tubuhnya menghadap wanita itu, ia mengulurkan tangan ke depan. Dengan penampilan yang jauh dari dirinya yang asli ia berusaha menenangkan dan membuat wanita itu merasa nyaman, meyakinkan wanita itu jika dia tidaklah berbahaya.


Tubuh gempalnya perlahan melangkah mendekat. Wanita itu segera bergerak mundur hingga menabrak nakas di belakangnya.


"Menjauh!. Jangan mendekatiku!." Histerisnya lagi. Bibir tebal Yuki tersenyum lembut namun maniknya menerobos masuk ke dalam manik wanita itu.


"Nyonya, bisakah kita bicara dengan tenang sebagai sesama perempuan?." Yuki mengatakannya dari dalam lubuk hati terdalam.


Kalimat dan suara mengerikan itu dibungkus oleh ketulusan dan kehangatan yang membuat wanita itu bimbang.


"Aku juga korban di sini. Aku tidak bermaksud melukai nyonya sama sekali. Bisakah kita bicara?." Yuki menarik perlahan tangannya yang terulur.


"Nyonya, suami anda adalah tangan kanan orang terjahat di dunia. Yang sudah merenggut keluargaku, bisakah nyonya bayangkan betapa hancurnya aku?." Wanita itu menelan salivanya kasar.


Yuki bergerak merapikan pinggir ranjang, dan ia beralih membalik kursi yang sebelumnya menghadap kaca menjadi menghadap ke arah ranjang, dengan jarak yang cukup jauh.


"Kalian duduklah di sana, mungkin nyonya merasa tidak nyaman dengan kalian." Pinta Yuki menunjuk kursi yang mengelilingi meja bundar. Ketiganya segera duduk di kursi masing-masing.


"Nyonya, mereka juga korban dari kejahatan suami anda. Mereka tidak akan melukai nyonya." Jelas Yuki.


"Nyonya, duduklah." Tangan Yuki mempersilahkan wanita itu untuk duduk di pinggir ranjang, agar wanita itu merasa lebih nyaman.


Melihat tidak ada pergerakan Yuki mengulas senyum tipis. Ia beranjak duduk di kursinya.


"Sawamura san duduklah, apa anda tidak ingin mendengar tentang putra anda?." Wanita itu terkejut, melotot kepada Yuki, dan berteriak histeris.


"Jangan menyentuhnya!. Apa yang telah kalian lakukan kepada putraku?!. Kalian brengs*k!!." Yuki menoleh ke samping.


"Nyonya, aku tidak melakukan apa pun kepada putra anda. Kami hanya bicara, seperti yang akan kita lakukan." Jawab Yuki.


"Pembohong!. Kalian pasti sudah melakukan hal buruk kepada putraku!." Hardik wanita itu.


"Dia sangat sehat, tidak ada luka seujung kuku pun. Seperti anda, bukankah salah satu dari mereka tidak menyentuh anda." Yuki mengeluarkan ponselnya mengacuhkan wanita itu.


Hening.


Akashi dan yang lainnya mencoba bersabar mengikuti permainan pemimpin mereka.


Karena tidak ada pilihan lain wanita itu pun bergerak sedikit demi sedikit mendekati ranjang. Duduk di ujung kepala ranjang jauh dari Yuki.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu yang sudah menculikku?." Cicit wanita itu.


"Jika aku adalah manusia seburuk suami anda mungkin aku tidak mau repot-repot membuat anda percaya. Mudah untuk membuat anda bicara dengan kekerasan nyonya. Tapi kita ini korban, kita sama-sama perempuan. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada orang yang tidak bersalah."


"Apa yang kamu inginkan?." Akhirnya wanita itu mengalah.


"Dimana putra tiri anda?." Wanita itu melotot kepada Yuki.


"B bagaimana kamu tahu tentang putra tiriku?!." Suara wanita itu tercekat.


"Putra anda, Sawamura Takuya yang menceritakan semuanya kepadaku." Jawab Yuki. Wanita itu terkesiap menutup mulutnya dengan tangan.


Flashback.


Yuki sudah siap dengan penampilannya. Hoody abu-abu sepanjang paha menutupi celana jeans pendeknya, ia memakai sneakers putih.


Gadis itu memarkirkan mobil di depan cafe, ia keluar dari dalam mobil dan mendapati cowok pertama yang ia ajak keluar sedang berdiri menunggu seraya memainkan ponselnya.


"Maaf, sudah lama?." Tanya Yuki.


Sawamura Takuya, anak basket mantan sekolah Yuki menyimpan ponselnya ke dalam saku.


"Tidak, ini juga masih sepuluh menit lebih cepat dari waktu janjian." Jawab pemuda super kalem itu.


"Ayo masuk." Ajak Yuki melangkah memasuki cafe.


Mereka duduk di pinggir jendela, di pojok cafe. Pelayan cafe sudah mengantarkan pesanan mereka satu menit yang lalu, dan gadis itu sejak tadi sibuk dengan kue-kuenya. Takuya tidak mempermasalahkan sikap Yuki, ia tengah sibuk mengatasi rasa geroginya.


"Maaf, aku mengabaikanmu. Coba ini, ini tidak terlalu manis." Yuki menyodorkan piring kecil berisi kue tiramisu kepada Takuya.


"Terima kasih." Takuya meraih garpu mini dan melirik Yuki yang sudah kembali menikmati kue-kuenya.


"Hachibara san." Takuya berhasil mengumpulkan keberaniannya memanggil gadis itu. Penampilan bebas Yuki yang tidak memakai seragam membuat Takuya sangat gerogi. Tidak seperti saat ia melihat gadis itu memakai seragamnya.


"Hm?." Yuki memasukkan chees cake ke dalam mulut.


"Kenapa mengajakku?. Maksudku, masih banyak laki-laki lain yang lebih keren dan tampan." Tanya Takuya. Respon Yuki mengejutkan pemuda itu.


"Kamu melihatku dengan cara yang berbeda." Jawab Yuki setelah menggelengkan kepalanya lebih dulu.


"Apa yang kamu lihat, Takuya kun?." Yuki mengalihkan perhatiannya dari kue menatap wajah Takuya yang datar tanpa emosi.


"Aku tidak yakin tapi. Kamu seperti air danau yang keruh." Yuki menaikan satu alisnya mendengar jawaban dari Takuya.


"Kamu sebenarnya sudah hancur. Seperti serpihan kaca." Yuki terkekeh kecil lalu meminum es lemonnya.


"Tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang banyak bicara?." Takuya tersenyum dengan tebakan tepat sasaran gadis itu.


"Apa hanya karena itu kamu mengajakku keluar?." Tanya Takuya lagi.


"Ung, sebelumnya tidak pernah ada orang yang bisa menebakku seperti itu." Balas Yuki.


"Selain itu, apa yang ingin kamu katakan padaku?." Tanya Yuki tepat sasaran lagi.


"Tidak, hanya pertanyaan tidak penting." Yuki menaikan satu alis.


"Hmmm, mau pesan yang lain?." Yuki menawarkan. Gadis itu sudah memesan lagi.


"Maaf." Celetuk Takuya membuat Yuki melirik ke arah laki-laki itu.


"Hm?." Yuki menaikan satu alisnya.


"Ayahku hampir membunuhmu dan, ayahmu." Yuki mengerutkan keningnya.


"Aku tahu tentangmu Hachibara Yuki san. Hachibara ... Yuki." Gadis itu tersenyum sinis lalu memasukkan kue pelangi ke dalam mulutnya. Takuya merasa sangat bersalah.


"Jadi, kita mulai dari awal?." Kata Yuki meletakan sikunya di atas meja, menyangga dagu.


"Aku tidak yakin." Jawab Takuya.


Tiba-tiba Yuki meraih tangan Takuya menariknya berdiri. Gadis itu berjalan ke kasir membayar semua makanannya lalu menarik Takuya masuk ke dalam mobil.


Yuki mengemudikan mobil membelah jalanan ramai. Takuya diam seribu bahasa. Mobil itu berhenti di pinggir jalanan yang sepi. Yuki mengunci semua pintu, lalu menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi.


"Apa di sini lebih baik?." Tanya Yuki.


"Ung."


Yuki menatap jauh ke luar kaca mobil.


"Kenapa kamu memberitahuku sekarang?, setelah menyembunyikannya selama satu tahun terakhir?." Tanya Yuki. Takuya menerawang jauh ke depan, ia memutar kembali ingatannya.


"Aku berubah pikiran sejak aku melihatmu hujan-hujanan pada musim dingin kemarin." Yuki diam, mendengarkan.


"Kamu dan Yuuki senpai." Aku Takuya.


"Seluruh sekolah tahu kalau kamu sering tidak berangkat sekolah karena ada masalah dengan kesehatan. Tapi aku tidak pernah membayangkan kalau penyakitmu sangat parah." Takuya berhenti.


"Kamu melihatku mengeluarkan darah?." Tebak Yuki.


"Ung. Banyak sekali. Dan kalian bertengkar di pinggir jalan."


"Seketika itu aku ingin meminta maaf atas perbuatan ayahku kepada keluargamu. Hachibara san." Takuya melirik Yuki.


"Hm ...?."


Tiba-tiba Takuya melepaskan jaket denimnya dan juga kaos putih yang membungkus tubuhnya.


"Apa yang ingin kamu tunjukan?." Tanya Yuki. Takuya terkejut dengan tebakan gadis itu.


"Kamu tahu aku akan menunjukkan sesuatu?." Srobot Takuya.


"Ung." Jawab Yuki santai.


Takuya bersemu merah melirik botol air minum di antara kursinya dan kursi Yuki.


"Tolong basahi punggungku." Pintanya lalu memunggungi Yuki.


Gadis itu dengan patuh membuka tutup botol, mengambil sedikit air, menciprat-cipratkannya ke punggung Takuya.


Yuki menaikan satu alis, mengambil air lebih banyak dan mencipratkannya lagi. Sesuatu timbul perlahan. Dua garis mengombak, kepala bersisik, kaki-kaki berkuku tajam dan panjang. Kepala naga dan tubuhnya berwarna putih. Tato itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Separuh naga putih. Ibuku menghentikan ayahku saat memberikan tato itu." Lanjut Takuya. Yuki diam-diam tertawa dalam hati.


Kejutan apa lagi ini?!. Brengs*k!, seru Yuki dalam hati. Ia merasa dunia sangat mempermainkannya.


"Apa saja yang kamu tahu tentang semua ini?." Tanya Yuki.


Takuya memakai kembali kaosnya, duduk dengan benar.


"Saat ibuku menikah dengan ayahku, dia tidak tahu apa-apa tentang kelompok klan naga putih. Ibu menikahi ayah, duda satu anak. Yang saat itu baru berusia satu tahun." Takuya berhenti sejenak.


"Tujuh tahun kemudian aku tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan kakak tiriku. Mereka membicarakan tentang anak perempuan keluarga Hachibara, memilik mata biru langit, yang harus di bunuh apa pun yang terjadi. Ayah memberikan tugas itu kepada kakak, tugas yang gagal ayah kerjakan." Yuki segera bertanya.


"Apa yang terjadi padamu?."


"Eh?!." Takuya bingung.


"Kamu ketahuan sedang menguping bukan." Tebakan Yuki tepat sasaran.


"Ung." Takuya tertegun sebentar.


"Aku langsung di seret ke dalam kamar kakak. Ayah langsung menjelaskan tentang klan naga putih dan pekerjaan apa yang klan lakukan." Takuya menarik nafas panjang.


"Aku tidak tahu sama sekali ayahku adalah anggota penting di klan busuk itu. Aku di paksa memegang pisau, membunuh anak anjing, dan hal-hal mengerikan lainnya. Pada hari ayahku memberikan tato ini, ibuku tidak bisa menahan diri lagi. Dia membawaku pergi sejauh mungkin dari ayah. Ibuku menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani ayah dengan imbalan ayah harus membiarkanku pergi dan tidak boleh menyentuhku lagi."


"Mulai hari itu aku pindah ke tokyo tinggal dengan nenek dari ibu." Takuya menoleh menatap Yuki.


"Aku tidak tahu apa masalah klan naga putih denganmu. Ketika aku melihatmu, dan mengetahui kita satu angkatan, aku baru sadar. Dulu, aku di paksa untuk membunuh anak kecil sepertiku."


Takuya kun tidak tahu kalau ibunya sedang aku sekap, batin Yuki.


"Aku ingin menyampaikan ini." Takuya menghela nafas berat.


"Aku berbeda dengan kakak tiriku. Aku beruntung memiliki ibu yang bisa menyelamatkanku dari kekejian ayah, tapi tidak dengan kakak tiriku. Dia mengikuti jejaknya. Hachibara san, berhati-hati lah, dia bisa berada di mana saja. Dan ciri-cirimu sangat mudah di tebak." Yuki tersenyum tipis.


"Terima kasih sudah memberitahuku sesuatu sepenting ini." Ucap Yuki.


Instingnya untuk mengajak pergi Takuya sangat tepat.


"Dia tidak memakai marga Sawamura. Sawamura adalah marga dari ibu. Dia memakai marga ayah, Kogawa." Jelas Takuya.


Flashback off.


"Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Dia kabur dari rumah di tahun kedua smpnya." Jawab jujur ibu Takuya.


"Bagaimana dengan suami anda?." Tanya Yuki.


"Aku tidak tahu. Terakhir kami bersama saat aku menemaninya berlibur di thailand." Yuki menoleh untuk melihat ekspresi wanita itu.


"Nyonya, apa anda tidak tahu tentang BD?." Wanita itu menggelengkan kepalanya cepat.


"Nyonya, bukankah BD adalah adik dari ibu anda." Pernyataan Yuki membuat wanita itu bergetar ketakutan.


"Anda menikah dengan Kogawa san bukan karena kebetulan bukan?. Anda sudah tahu tentang klan naga putih sebelumnya." Tatapan Yuki berubah mengintimidasi.


Mungkin benar niat tulus Takuya untuk memperingatkan dirinya, Yuki bisa melihat kebenaran dari manik pemuda itu. Namun ia curiga bahwa wanita yang telah melahirkan Takuya sudah membohongi putranya sejak awal. Bahwa ketua klan naga putih adalah saudara ibunya sendiri. Om ibunya.


"Jadi!. Kamu akan membalas dendam kepadaku?!. Kamu sudah tahu semuanya dan sekarang kamu mau membunuhku?!. Jangan harap!." Teriak histeris wanita itu. Bergerak gelisah meraih fas bunga di meja nakas hendak melemparkannya kepada Yuki.


Zub!.


Gadis itu lebih dulu melontarkan jarumnya.


Wooozzhhh.


Hiza tiba-tiba sudah berada di depan wanita itu menangkap vas bunga dan tubuh kurus ibu Takuya.


"Baringkan dia Hiza san." Pinta Yuki.


Hiza meletakan vas bunga ke tempat asalnya lalu dengan mudah meletakan ibu Takuya di atas kasur.


"Apa kalian paham apa yang aku bicarakan dengan nyonya Sawamura?." Tanya Yuki beranjak berdiri.


"Ya. Siapa putra wanita ini, dan kenapa anda mencari anak tirinya?." Tanya Hiza.


"Putra Sawamura san bersekolah di sekolah yang sama denganku di tokyo. Sejak aku meninggalkan jepang sepertinya suami Sawamura san mendidik anak-anaknya untuk mmbunuhku, menjelaskan dengan detail ciri-ciriku." Jawab Yuki.


"Tapi sepertinya putra kandung Sawamura san tidak menyukai perbuatan kotor, berbanding terbalik dengan saudara tirinya." Lanjut Yuki berjalan mendekati ranjang.


"Dengan kata lain. Anak tiri ini sedang berkeliaran bebas di luar sana, yang dapat menjadi ancaman bagi nyawa ojou sama kami." Kesimpulan Akashi.


Yuki duduk di pinggir ranjang.


"Akashi san benar, tapi yang jauh lebih penting adalah informasi darinya. Lokasi Kogawa, berarti tempat BD berada." Balas Yuki.


"Apa yang membuat anda berpikir seperti itu, ojou sama?." Tanya kakek Ryuu.


"Setelah mendengar informasi penting ini dari putra Sawamura san sendiri, aku langsung mencari tahu alamat rumah ibu Sawamura dan mencari apa pun yang bisa aku dapat." Yuki membuka lensa matanya menyimpan lensa itu di dalam kotak khusus.


"Kogawa adalah salah satu tangan kanan BD malam itu, yang hendak membunuhku dan ayah. Kalau begitu, Kogawa adalah penembak jitu kepercayaan BD." Jelas Yuki.


"Dan laki-laki yang Akashi san tangkap adalah, petarung jarak dekat. Apa dia masih aman?." Yuki melirik Akashi.


"Saya bisa menjaminnya ojou sama." Jawab Akashi mendapatkan anggukkan kepala dari Yuki.


"Aku tidak tahu betul ada berapa tangan kanan BD, tapi pria yang Akashi san tangkap adalah salah satunya." Yuki menghadap ibu Takuya.


Gadis itu meletakan satu jarinya di dahi dan satunya di dada wanita itu. Perlahan maniknya menutup.


Hening.


Kakek Ryuu yang baru pertama kali melihat Yuki melakukannya pun tertegun. Dulu pernah ada yang bisa melakukan lebih dari mengontrol pikiran di klan Hachibara. Itu sudah sangat lama, cerita dari neneknya. Tetua pada masa itu.


Kini ketrampilan itu di turunkan kepada Yuki. Anak kedua, yang belum pernah ada sebelumnya. Anak kedua yang pertama di klan Hachibara.


Gadis itu perlahan membuka matanya, menjauhkan tangan dari wanita itu.


"Rencana baru." Ucap Yuki.


Ketiga bayangan bersiap untuk mendengarkan.


"Habisi semua anggota klan naga putih. Tanpa terkecuali." Perintah sudah di berikan.


"Baik ojou sama."


Gadis itu menancapkan jarum yang lain membuat Sawamura terbangun, dan di sambut oleh sepasang manik birunya.


"A!." Suara Sawamura tercekat.


Yuki langsung mengunci manik itu. Melakukan hipnotis. Tidak ada yang bicara sampai Yuki selesai dengan urusannya, dan wanita itu kembali tertidur.


"Antar aku kepada pria itu." Titah Yuki berdiri dari duduknya.


"Baik. Mari ojou sama." Akashi membukakan pintu kamar.


Yuki meraih tas kopernya setelah selesai memasang lensa. Mereka masuk ke kamar sebelah.


Seorang pria duduk di lantai berkarpet bulu, kaki dan tangannya terpasung. Pria itu masih belum sadar setelah mendapatkan tusukan jarum dari Akashi.


"Tolong lepas baju dan basahi punggungnya."


Hiza segera mengambil air sedangkan Akashi langsung merobek baju pria itu dengan tangan kosong.


"Dia salah satu musuh yang ada di tkp waktu penyerangan ke dua." Lirih kakek Ryuu berjongkok di depan pria itu.


"Ojou sama, saya siram langsung?." Izin Hiza.


"Ya."


Hiza menuangkan air dari dalam gelas ke atas punggung pria itu. Akashi sangat fokus memperhatikan perubahan yang muncul.


"Kakek Ryuu, coba lihat ini." Panggil Hiza.


"Apa yang terjadi?." Kakek Ryuu berdiri menghampiri keduanya.


"Hm. Seperti kisah orang tua kita. Tato naga besar di punggung. Klan yang hampir menyerang mendiang permaisuri." Lanjut kakek Ryuu.


Yuki mendekat menancapkan jarum di leher pria itu. Tiga detik kemudian matanya terbuka menatap nyalang ke arah Yuki.


"Dari kelompok mana kalian?!." Jeritnya.


"Kenapa kamu mengincar kelompok ular berbisa dengan berpura-pura menjadi anggota klan Hachibara?." Desis Yuki.


"Hahaha jadi kalian dari kelompok tenggelam itu, hahaha. Jagoan kalian sudah tidak berguna!. Bocah itu sudah tidak berguna lagi."


Tuk!.


Yuki meletakan ujung jari telunjuknya di dahi pria itu membuatnya menatap manik hitam Yuki.


"Tiga detik. Jawab, atau racun." Yuki menunjukkan jarum berisi cairan kuning pudar di tangannya yang lain.


"Lucu sekali permainanmu. Mereka tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu denganku." Ancam pria itu.


"Benarkah. Aku sudah membunuh algojo kesayanganmu. Ah!, hampir lupa. Si gesit bisnis kotor klanmu juga. Apa kamu menyadarinya?. Sepertinya tidak." Ujar Yuki.


"Kepar\~ aaaarrrrgggghhh!." Yuki langsung menghujam lengan polos pria itu dengan jarum di tangannya.


"Tiga detikmu sudah habis sejak tadi."


Pria itu mendongak menatap semakin nyalang. Yuki melepaskan lensa matanya. Mengejutkan pria itu.


"Tidak mungkin ... Bocah itu bukan b*bi gendut sepertimu. Mustahil." Gerutunya.


Yuki langsung mengarahkan manik pria itu ke arah maniknya lalu mengunci.


"Apa yang kau lihat."


Yuki kembali melakukan pencurian ingatan. Ia mencari keberadaan anggota penting klan naga putih yang lain. Mencari jejak BD. Ia segera menemukan banyak informasi namun sangat sedikit informasi tentang BD.


Gadis itu langsung menanamkan hukuman klan setelah selesai menjelajahi ingatan pria itu. Untuk menghapus semua jejak yang ada.


Yuki mengeluarkan banyak keringat, dalam waktu sesingkat itu, ia sudah menjelajahi dua ingatan menjijikan sekaligus.


Yuki ingin muntah. Banyak ingatan yang tidak seharusnya ia lihat, ini lah kenapa ia lebih suka bertanya dari pada melihat ingatan mereka langsung.


Meskipun melihat ingatan mereka lebih mudah dan lebih cepat tapi, dampak yang Yuki dapatkan pun sangat besar. Karena ingatan orang lain yang ia lihat akan menjadi bagian dari ingatannya.


Gadis itu segera berlari ke kamar mandi di kamar itu, ia benar-benar memuntahkan semua isi perutnya. Ingatan pembunuhan yang menjijikan, penganiayaan yang tidak pernah bisa di bayangkan. Kesedihan dan kengerian yang di alami ibu Takuya. Semuanya menjijikan bagi Yuki.


Gadis itu terengah, kepalanya pening. Ia mencoba mengkondisikan tubuhnya.


Tok tok tok.


"Ojou sama, anda baik-baik saja?." Suara kakek Ryuu memanggil dirinya.


"Ya, aku akan segera keluar." Jawab Yuki.


Ketiga bayangan saling melempar pandang. Mereka masih sulit percaya bahwa gadis remaja itu sudah bisa melakukan eksekusi hukuman.


Ceklek.


Pandangan mereka tertuju kepada gadis yang sudah berubah bentuk itu, manik birunya pun sudah berganti hitam lagi.


"Aku menyuntikkan racun makanan ke tubuhnya. Racun itu akan bekerja nanti malam. Bawa dia ke dekat rumah sakit di pelosok Hawaii." Jelas Yuki memberikan perintah.


"Anda ingin dia di sembuhkan?." Tanya Hiza.


"Tidak. Mustahil untuk selamat dari keracunan makanan buatanku. Selain itu, dia sudah mendapatkan hukuman yang tidak dapat di sembuhkan." Jawab Yuki.


"Ojou sama, haruskah kita memburu klan naga putih sekarang juga?." Tanya Akashi. Yuki menggelengkan kepalanya.


"Bukan kita Akashi san. Tapi mereka." Jawab Yuki tidak terasa bibirnya tertarik memunculkan senyum tipis.


Malamnya, di sebuah restoran terbuka. Yuki dan ketiga bayangan sedang menikmati makan malam mereka.


"Setelah ini kita akan pergi membawa Sawamura san bersama kita." Ucap Yuki.


"Saya segera membawa pria itu ke dekat rumah sakit." Sambung Akashi.


"Ung. Kita bertemu di bandara." Ucap Yuki.


"Kita mau kemana ojou sama?." Tanya kakek Ryuu.


"London." Jawab Yuki.


10.00 p.m. Yuki menggandeng Sawamura masuk ke dalam pesawat. Sampai sekarang gadis itu belum mendapatkan informasi dari Ame dan yang lainnya.


Pesawat mulai lepas landas, Yuki memberikan secarik kertas kepada Hiza yang duduk di sebrangnya.


Kertas yang ia tulis dengan kode sederhana, agar Hiza dan kakek Ryuu bisa mengerti. Kakek Ryuu membaca dengan seksama rencana Yuki sesampainya di sana.


***


Di lain negara, tepatnya di dalam dojo. Hotaru meletakan ponselnya di samping tubuh kala semua telefon dan pesannya tidak ada satu pun yang Yuki balas. Ia mendongakkan kepala membiarkan matanya terpejam.


"Aku sebegitunya tidak bisa di andalkan ya." Gumam Hotaru.


"Jika aku ikut bergerak, rencanamu tidak akan sukses nantinya." Hotaru mengepalkan tangan.


"Waka."


"Hm."


"Giliran anda memilih calon pelindung." Kata Will.


"Istirahatkan mereka. Lanjutkan satu jam lagi." Titah Hotaru.


"Baik." Will pergi meninggalkan Hotaru.


"Apa lagi sekarang?." Seseorang duduk di samping Hotaru.


"Apa kamu tidak merindukannya?. Kenapa kamu bisa bersikap tenang seperti itu?." Hotaru membuka perlahan kelopak matanya.


"Bohong jika aku tidak merindukannya. Jauh di dalam diriku tidak pernah tenang sama sekali." Fumio membuka ponselnya menatap layar benda pipih itu.


"Bagaimana jika dia menyukai pria lain?, bagaimana jika dia tidak bisa menyukaiku lagi?, bagaimana jika dia berubah membenciku?. Dulu kita masih kecil, Yuki bisa saja tidak menyukai perubahanku yang sekarang." Hotaru melirik sahabat karibnya.


"Yuki memperumit semua ini." Sambung Hotaru.


"Kalau saja dia mau berbagi denganku, atau menyerahkan semuanya kepadaku. Lebih banyak orang yang membantu akan lebih cepat. Dan jika saja Yuki mau menerima ingatan masa lalunya. Semua akan lebih mudah untukmu dan untukku." Ucapnya.


"Aku akan coba menelfonnya." Hotaru menatap Fumio.


"Kamu yakin?." Hotaru tidak salah dengarkan?. Akhirnya sahabatnya itu sudah berani mendekati Yuki lebih intens.


"Hm. Aku kurang yakin dia akan mengangkat telfonku." Kata Fumio menempelkan ponselnya di telinga.


Panggilan pertama gagal. Panggilan ke dua tidak di angkat. Panggilan ke tiga juga sama, empat, lima, enam, sampai panggilan ke tujuh juga tidak di angkat. Fumio menjauhkan ponselnya menatap layar benda itu. Tiba-tiba hitungan pada layar bergerak. Hotaru juga terkejut melihatnya. Fumio pun menempelkan lagi ponselnya di telinga.


"Hm?." Suara dari sebrang. Fumio mengulum senyum.


"Apa semuanya berjalan lancar?." Tanyanya.


"Siapa?." Fumio melirik Hotaru setelah mendengar pertanyaan Yuki.


"Fumio, ojou sama."


Hening.


"Ojou sama, apa semuanya baik-baik saja?." Ulang Fumio kala tidak mendapatkan jawaban dari Yuki.


"Yuki." Panggil Hotaru. Akhirnya Fumio memberikan ponselnya kepada Hotaru.


"Hotaru." Sahut Yuki.


"Apa semuanya berjalan lancar?."


"Hm. Maaf aku tidak sempat mengecek ponselku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu." Jelas Yuki.


"Syukurlah." Hotaru menyandarkan punggungnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?." Tanya Hotaru.


"Setumpuk dokumen menungguku Hotaru. Kita bicara lagi nanti." Jawab Yuki.


"Ung, jangan lupa makan." Hotaru mengingatkan.


"Ung. Bye," ucap lembut Yuki langsung menutup sambungan.


"Ayah membuatnya bekerja lagi." Ujar Hotaru seraya mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


"Apa kamu percaya?." Balas Fumio.


"Tidak." Jawab Hotaru tegas.


"Aku juga."


"Bagaimana cara melacak keberadaan Yuki?." Tanya Fumio.


"Tidak ada. Yuki selalu pandai menghilang."


Tanpa sepengetahuan keduanya gadis yang sedang di bicarakan itu tengah melawan tiga anggota klan naga putih sekaligus.


Brak!.


Yuki melayangkan lengannya, telak mengenai leher anggota klan naga putih. Sedangkan tangan satunya melepaskan tembakan ke arah jam sepuluh tanpa melihat. Mengincar penembak jarak jauh musuhnya.


DOR!.


Syuuuuu ....


Bruk!.


Dua musuh tumbang membuat satu orang tersisa kelabakan. Tangan orang itu mengarahkan pistolnya dengan tangan bergetar. Manik merah gadis itu menyala-nyala dalam kegelapan. Berdiri bak patung tanpa berkedip ke arah si pria.


"Kau mencari orang yang salah nona. Klan naga putih tidak akan membiarkanmu lolos meski kami terbunuh di sini." Ancamnya lalu melepaskan tembakan.


Dor!.


Tangan terbungkus sarung tangan hitam itu bergerak ke depan melakukan gerakkan menangkap.


Shut!.


Sret!.


Tangan menggenggam udara itu di hempaskan ke samping, digantikan dengan pistol yang teracung tepat ke arah kepala si pria.


Bagaimana bisa?!, peluruku?!. Dimana peluruku?!!!, jerit pria itu.


Dor!.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Pria itu dengan takut-takut membuka kedua matanya. Ia tidak merasakan sakit apa pun. Matanya berhasil terbuka sempurna! namun, sepasang mata biru terpampang sangat jelas, tepat di depan wajahnya. Lima senti di hadapannya. Terlihat sangat besar. Mengintimidasi.


"Dimana Jeorge." Desisan rendah mengulitinya.


"Villa. Di utara london." Mulutnya bergerak sendiri sebelum dapat ia cegah.


"Tutup matamu." Kelopak matanya lagi-lagi menutup sendiri.


Dor!.


Bruk!.


Gadis itu bergerak mundur. Memasang kontak lensanya dengan cepat. Membalikan badan seraya memasukkan pistol ke sabuk yang melingkar cantik di pinggangnya.


"Ojou sama."


"Kalian juga sudah selesai." Ujar Yuki.


"Ya. Apa anda baik-baik saja?. Tembakan tadi mengenai anda?." Tanya Akashi sekuat tenaga menahan diri agar tidak menatap tubuh gadis itu.


Pertanyaan Akashi di jawab dengan terbukanya lima jari Yuki di depan dada. Burung hantu itu turun tanpa hambatan. Satu detik kemudian perut Je terbuka menjadi dua. Sebutir peluru menggelinding keluar ke atas telapak tangan Yuki.


"Je memiliki sensor pistol dengan jarak bermil-mil. Aku tidak khawatir untuk penembak jarak jauh. Je bergerak lebih cepat dari luncuran peluru." Jelas Yuki.


Ketiganya menatap tidak suka burung hantu yang bergerak menutup perut dan kembali melayang ke atas.


"Aku tahu Je berbahaya. Sama seperti keberadaanku sendiri." Ucap Yuki sebelum kembali mengatakan.


"Move."


SRET!.


Ke empatnya bergerak berlawanan arah. Sangat cepat meninggalkan tkp. Tangan gadis itu bergerak cekatan membuka baju serba hitamnya tanpa memperlambat laju larinya.


Kaos crop top peach tanpa lengan memperlihatkan otot perut dan jeans ketat sudah melekat di balik baju serba hitamnya. Di gang sempit dan gelap yang sedang ia lewati, gadis itu mengayunkan kakinya ke depan secara bergantian.


Buk. Buk.


Sepatunya masuk ke dalam tong sampah dengan mulus. Tangannya meraih dua sepatu high heels dan tas selempang. Memakai keduanya sambil berlari.


Tap. Tap. Tap.


Ia memelankan kecepatan larinya mengambil kaca mata hitam dari dalam tas seraya melirik ke belakang. Tepat seperti perhitungannya. Gadis remaja lusuh sedang memungut sepatunya. Gadis remaja broken home yang selalu memulung apa pun di sekitar gang itu. Kalau seperti ini tidak akan ada yang dapat menemukan jejaknya.


Yuki menoleh ke depan seraya memakai kaca matanya. Satu langkah keluar dari kegelapan gang dan, berbelok ke kanan, sirine polisi meraung keras melewatinya.


Gadis itu menyebrang jalan. Ia dengan santai memasuki sebuah cafe. Memesan minuman dingin, lalu duduk di teras cafe tersebut. Berlagak seperti orang dewasa membaur dengan orang-orang di sekitarnya. Manik di balik kaca mata hitam itu terus mengamati jalanan yang semakin ramai oleh mobil polisi.


Ia memilih tempat yang strategis. Perempatan besar. Mobil-mobil itu bergerak ke empat penjuru. Sirine mereka juga tidak mau diam, terus meraung membuat para penduduk resah dan bertanya-tanya.


Maniknya menatap pria di dalam restoran di sebrang kanan jalan. Pria itu duduk di dekat kaca sambil menikmati makanan cepat saji. Hiza.


Yuki beralih menatap halte bis di depan restoran. Seorang kakek tua dengan tongkatnya sedang duduk memakai topi bundar berwarna hitam. Kakek Ryuu.


Maniknya bergerak ke sebrang jalan tepat di depannya yang tadi ia lewati. Seorang pria bersandar ke tembok toko seraya memainkan ponselnya. Akashi.


Apa yang mereka lakukan?. Menunggu anggota klan naga putih menyadari rekan-rekan mereka yang terbunuh di empat tempat pada waktu yang bersamaan. Ke empat tempat itu berjarak tak jauh. Jalanan itu pasti akan mereka lewati.


Sesuai prediksi. Gerakkan mencurigakan dari kedua pria berpakaian hitam dan coklat melewati meja Yuki.


Zub. Zub.


Sluurruuupp ...


"****!. Serangga sialan!."


"Ck!."


Kedua orang itu mengibas-ngibaskan celana pada betis mereka. Menganggap seekor serangga telah menggigitnya. Keduanya kompak menyapukan pandangan ke sekitar. Waspada. Meniknya mencurigai punggung seorang perempuan namun terhenti karena perempuan itu sedang meminum minumannya dan memainkan ponsel di pangkuan.


"Kita harus pergi sekarang." Ucap salah satunya.


"Serangga sialan." Gerutu temannya.


Mereka tidak tahu bahwa gadis itu telah melontarkan jarum beracun di sela-sela jarinya memegang ponsel.


Rencana mereka berjalan. Ketiga bayangan juga melakukan hal yang sama. Para anggota klan naga putih banyak yang berkeliaran di daerah itu dan otomatis banyak juga yang melewati mereka.


Tiba-tiba banyak anggota polisi berjalan mengarah ke toko-toko di sekitar perempatan. Mencoba mencari pelaku pembunuhan yang mungkin masih berada di sekitar tkp. Yuki dan para bayang beranjak dari tempat mereka.


Kakek Ryuu segera masuk ke dalam bus yang berhenti di depan halte. Hiza berjalan menyelinap ke pintu belakang restoran tanpa di ketahui para karyawan resto. Akashi masuk ke dalam taksi yang berhenti di depannya. Yuki berjalan santai ke arah berlawanan dari para polisi. Tangannya masih senantiasa memainkan ponsel dan menyeruput minumannya.


Gadis itu menghampiri sebuah mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan. Yuki membuka pintu mobil dan duduk manis di dalamnya.


"Apa pameran lukisannya ramai Sawamura san?." Tanya Yuki kepada wanita di balik kemudi.


"Ya, mereka benar-benar memajang lukisan unik berstandar internasional. Aku beruntung dapat melihatnya." Jawab Sawamura seraya melajukan mobil.


Yuki melirik para polisi yang tertinggal jauh di belakang lewat spion mobil.


"Bagaimana dengan kencanmu?. Apa berjalan lancar?." Tanya Sawamura membuat Yuki mengalihkan perhatiannya.


"Ya, cukup menarik." Jawab Yuki.


"Waah, hebat. Aku ikut senang. Kita langsung kembali ke hotel atau mampir dulu?." Yuki melirik jam di layar ponselnya.


"Hotel terdengar lebih baik."