
Terdengar bunyi bel terus bersahutan. Sepertinya minimarket sedang ramai. Yuki sudah lebih tenang, nafasnya sudah kembali normal. Ia mengamati ruangan kecil itu. Bahkan dengan kamar mandinya masih jauh lebih besar kamar mandinya.
Cukup lama sampai Gaho kembali masuk. Dan itu hanya meletakan kotak kecil namun cukup besar bertuliskan jus lemon dan dua buah nasi berbentuk segi tiga yang di tutupi rumput laut. Yuki bisa mengenali makanan itu karena ia sering melihatnya di salah satu rak.
Yuki mengambil sedotan yang masih terbungkus plastik mengetuk-ngetukkannya pada kotak jus itu.
Haus, batin Yuki mengamati kotak itu.
Ia pernah di berikan minuman serupa oleh guru seni rupa. Mizutani bilang itu adalah susu vanilla, sedangkan ini jus. Yuki terus berpikir, mencari tempat untuk di masukkan sedotan. Yuki masih ingat ia melihat Mizutani mencoblos di sekitar sana.
Baiklah Yuki menyerah. Yang ia cari tidak ada. Ia tidur di atas meja dengan lengan sebagai bantalan. Yuki terus cemberut menatap jus lemon yang seakan menertawakannya.
Ceklek.
Setelah sekian lama akhirnya orang yang memberikan Yuki kedua jenis makanan yang tidak bisa ia buka pun datang.
"Kenapa belum di makan?." Tanya Gaho melihat makanan yang ia berikan tak tersentuh.
Yuki langsung melirik tajam Gaho tanpa merubah posisinya. Bukannya takut Gaho malah melebarkan senyumnya.
"Bisa cemberut juga kamu." Ledek Gaho menarik kursi di samping Yuki.
"Cepat di makan, jam kerjaku sebentar lagi selesai." Ujar Gaho meletakan kaleng kopi di atas meja.
Yuki segera melirik jam dinding yang tergantung. Pukul delapan kurang sepuluh menit.
"Tidak mau?. Melihatmu mengeluarkan banyak keringat aku pikir kamu haus." Ujar Gaho melirik Yuki.
Aku kehausan!, srobot Yuki dalam hati.
Perlahan gadis itu menegakkan tubuhnya, menggeser kotak jus ke arah Gaho seraya membuang muka. Gaho mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?."
Agh!, berhenti. Terserah. Aku tidak akan memintanya membuka ini, batin Yuki. Rasa malu lebih besar dari pada rasa hausnya. Yuki menarik kotak jus dan onigiri kembali, memasukkan makanan itu ke dalam tas.
"Kamu ingin pulang?. Sebentar lagi temanku datang menggantikan sift. Tunggu sebentar, aku akan mengantarkanmu." Ucap Gaho keluar dari ruangan staff.
Baru sebentar saja seorang pria berusia dua puluhan masuk ke dalam ruangan staff menatap Yuki seperti menatap hantu. Lalu pria itu di tarik keluar oleh Gaho. Dari dalam ruangan Yuki bisa mendengar mereka sedang meributkan sesuatu.
Ceklek.
Gaho masuk dengan wajah cemberut. Pemuda itu segera mengganti seragam minimarketnya dengan seragam sekolah. Di susul oleh pria tadi, senyum-senyum sendiri dengan wajah jail. Yuki mengabaikan mereka.
"Ayo pulang." Yuki melirik Gaho lalu beranjak berdiri.
"Apartemenku kosong, mau aku pinjamkan kuncinya?." Celetuk pria itu yang mendapatkan jitakan sangat keras dari Gaho.
Yuki membungkuk singkat pada pria itu dan berlalu meninggalkan ruangan.
"Wow!, dingin. Tapi menarik." Celetuk pria itu lagi. Gaho hanya terdiam menatap pintu.
Plak!. Pria itu memukul punggung Gaho.
"Cepat kejar. Jangan buat dia menunggu."
"Y ya, aku pergi dulu." Gaho tergagap.
Pria itu tersenyum lembut melihat kepergian rekan kerjanya yang hampir enam tahun ini. Gaho tidak pernah salah tingkah saat bersama perempuan, tapi tadi dia menjawab dengan terbata-bata. Pria itu bersiul dengan senyum yang tidak luntur.
Di depan minimarket Gaho mendekati Yuki. Gadis itu sedang mendongak menatap langit gelap gulita.
"Sepertinya mau hujan." Ujar Gaho.
"Ung." Yuki melangkahkan kakinya di ikuti oleh pemuda itu.
"Kalian sudah pacaran." Celetuk Gaho. Bukan pertanyaan atau pun pernyataan.
"Siapa?." Tanya Yuki yang lemot dalam pembahasan seperti ini.
"Kamu dan teman masa kecil kalian." Mendengar itu nyeri di dalam hati Yuki kembali terasa.
"Ung."
"Artinya, aku sudah tidak boleh berada di dekatmu." Yuki menaikan satu alis tanpa menoleh.
"Apa jika sudah memiliki pacar, seseorang tidak boleh berinteraksi dengan orang lain?." Tanya Yuki. Gaho mengedikkan bahunya.
"Entahlah. Tergantung pasangan. Melarang atau tidak." Yuki mengangguk samar.
"Kamu tipe yang mana?." Gaho melirik Yuki.
"Tidak tahu." Jawab gadis itu.
"Haaahh ..?." Kini Yuki yang melirik Gaho.
"Kalau kamu?." Tiba-tiba di tanya seperti itu membuat Gaho mengalihkan pandangan.
"Aku akan menuruti keinginan pasanganku. Jika dia meminta kebebasan aku akan memberikannya tapi tetap dalam pengawasanku." Gaho menekankan kalimat terakhirnya.
"Hmmm." Gumam Yuki. Ia masih tidak paham masalah seperti itu.
Melihat Fumio bersama gadis antah berantah Yuki tidak merasa kesal. Tapi saat melihat keaktifan Aoki mendekati pemuda itu membuat Yuki marah, kesal, sakit di waktu yang bersamaan.
Yuki terkejut merasakan Gaho sudah tidak di sampingnya. Apa ia terlalu lama melamun?, pikir Yuki menoleh ke belakang.
Gaho berdiri diam satu langkah di belakangnya, menatap lurus ke depan. Yuki ikut menoleh ke depan. Ia juga tidak memperhatikan jalan, sejak tadi ia menatap langit menunggu tetesan bening itu jatuh.
Hening.
Fumio berdiri di depan sana masih memakai seragamnya. Sepeda gunungnya sudah tidak ia naiki lagi.
"Pacarmu sudah menjemputmu. Aku pulang." Pamit Gaho.
Grep.
Gaho yang hendak membalikan tubuh terhenti oleh tangan Yuki yang memegang lengan seragamnya. Gaho melirik Yuki yang masih menatap lurus ke depan.
Hening.
Tidak ada pergerakan dari ketiganya. Tiga orang itu tiba-tiba berubah menjadi patung.
Yuki tidak tahu kenapa ia mencegah Gaho pergi. Tapi ia juga tidak ingin berdua dengan Fumio. Nyeri, sakit, marah, kesal, ingin memukul wajah itu, menendangnya, perasaan Yuki campur aduk. Sejak tadi otaknya sudah memberikan perintah untuk tenang dan cuek seperti biasa namun hatinya tidak menurut.
Yuki melihat Fumio berjalan mendekat, secara otomatis kakinya bergerak mundur.
"Kalian punya masalah?." Yuki mengabaikan pertanyaan Gaho ia fokus memperhatikan gerakkan Fumio.
"Jadi orang tadi yang mengejarmu dia?." Yuki tidak menjawab.
Yuki kembali melangkah mundur melihat Fumio yang maju.
"Kamu ingin aku membawamu pergi?." Tawaran Gaho menyadarkan Yuki.
Apa yang sedang aku lakukan?, batinnya.
"Aku tidak suka menjadi orang bodoh." Celetuk Yuki melepaskan Gaho dan mencari ponselnya.
"Haaahhh ..?!. Kamu sedang mengejekku?." Protes Gaho.
Yuki membiarkan Fumio mendekatinya. Ia memilih fokus dengan ponsel di telinga.
"Ung. Sekarang, di dekat minimarket." Ucap Yuki langsung menutup sambungan.
"A!, aku belum mengganti uang makanan dan minuman yang kamu berikan." Ujar Yuki langsung mengambil dompet kecilnya.
"Tidak. Aku mentraktirmu." Yuki menaikan satu alis menatap Gaho. Gadis itu benar-benar mengabaikan pacar sekaligus calonnya.
"Aku tidak akan miskin hanya karena membeli dua onigiri." Sergah Gaho yang melihat Yuki tetap hendak mengembalikan uangnya.
"Aku tidak berpikir kamu akan jatuh miskin." Balas Yuki membuat Gaho mengerutkan alisnya.
"Terserah." Ucap Gaho mengibas-ngibaskan tangannya.
"Boleh tinggalkan kami sebentar?." Suara dari samping membuat Gaho menoleh.
"Ya, tentu. Aku juga sudah mau pulang." Jawab Gaho.
"Terima kasih sudah menjaga Yuki." Ucap Fumio.
"Ung." Gaho melirik Yuki.
"Sampai jumpa besok." Pamit Gaho kepada gadis itu. Yuki hanya mengangguk kecil.
Gaho berjalan berlawanan arah. Pemuda itu terlihat kembali masuk ke minimarket.
"Yuu."
Dugh!.
Hati Yuki sontak berdenyut nyeri.
Jari Fumio meraih dagu Yuki yang masih menatap punggung Gaho yang sudah tak terlihat lagi. Menarik pelan dagu gadis itu untuk melihatnya.
"Aku tidak akan beralasan dengan apa yang sudah kamu lihat. Tapi aku ingin kamu tahu. Tadi aku menjelaskan kepada Aoki chan tentang hubungan kita. Kita yang sebentar lagi akan bertunangan."
Hening.
Wajah Yuki memang mengarah kepada Fumio namun maniknya menatap jauh ke arah lain.
"Aku melakukannya agar Aoki chan lebih menjaga jarak denganku." Melihat Yuki seperti tidak berniat merespon, Fumio diam-diam tersenyum dalam hati.
Yukinya sangat imut saat cemburu.
"Yuu ..." Panggil Fumio.
Grep.
Yuki memegang tangan Fumio di dagunya. Melepaskan tangan itu dengan acuh lalu berjalan menuju mobil yang berhenti di dekat mereka.
Yuki masuk ke dalam mobil membiarkan Fumio berdiri menatapnya dari belakang. Perlahan mobil berjalan menjauh. Sedikit rasa bersalah tiba-tiba timbul setelah mobil semakin menjauh. Yuki duduk dengan resah, berkali-kali ia membenarkan posisi duduknya meski sebenarnya tidak ada masalah dengan itu.
"Terima kasih sudah menjemputku lagi." Ucap Yuki sebelum keluar dari mobil.
Gadis itu berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia melempar tas ke atas sofa, namun teringat akan sesuatu. Segera saja ia mengambil kembali tasnya dan mengeluarkan kotak jus dan dua onigiri. Dia belum makan. Yuki menghempaskan tubuhnya di atas sofa, melepas sepatu dengan kaki, dan menaikan kaki-kakinya ke atas, memeluk lutut seraya menatap makanan itu di atas meja.
Penasaran, itu yang Yuki rasakan namun bayangan yang tak diinginkan kembali muncul. Berdecak kesal Yuki menyembunyikan wajahnya di atas lutut, menempelkan dahinya.
Ssrrrttt ...
Suara gesekan kertas membuat Yuki mendongak menatap meja. Ia ingin cepat pergi dari sana namun jus yang sudah terbuka memaksanya bertahan.
Fumio berjongkok diantara sofa dan meja, memasukan sedotan setelah membuka pojok kertas lebih dulu. Dengan tenang ia memberikan jus itu kepada Yuki.
Yuki yang curiga melirik ke arah pemuda itu. Bagaimana bisa Eiji mengejarnya secepat ini, pikir Yuki. Dan maniknya menangkap tetesan-tetesan keringat yang membanjiri garis wajah sampai ke leher. Nafas pemuda itu yang teratur membuatnya tidak terlihat telah berpacu dengan otot-otot miliknya.
Yuki membuang pandangan seraya meraih kotak jus. Menyeruput minuman yang membuatnya penasaran sejak tadi.
Meski ia termasuk sering menyambangi minimarket, Yuki hanya akan mengambil jajanan yang ia kenali. Jajanan yang lain tidak terlalu menarik perhatiannya atau mungkin karena Yuki tidak ingin mencoba.
Kesunyian melanda keduanya. Fumio seakan tidak berniat membuka percakapan. Suara gesekan plastik kembali membuat Yuki tertarik. Maniknya bergerak mencari asal suara.
Fumio masih berjongkok di sana seraya mengulurkan onigiri yang sudah di buka. Sofa masih banyak yang kosong kenapa tidak duduk saja?, batin Yuki. Tangannya terulur mengambil onigiri dari Fumio.
Menatap benda kecil segitiga itu lalu memasukkan onigiri ke dalam mulut. Rasanya asing bagi Yuki tapi, enak. Yuki melirik Fumio meski hatinya melarang namun maniknya bergerak secara otomatis.
Senyum khas yang hanya di miliki oleh pemuda itu terukir indah di wajahnya yang sangat rupawan.
"Aku bau, aku akan mandi dulu." Yuki terdiam dengan pernyataan tiba-tiba Fumio.
Pemuda itu beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Yuki. Tanpa sadar gadis itu mencebikkan bibirnya kesal. Sekarang tiba-tiba ia tidak ingin Fumio pergi. Menyadari kelakuan anehnya Yuki menghela nafas frustasi.
Perasaan macam apa ini?, gerutu Yuki.
Labil!, imbuhnya dalam hati.
Ia memutuskan untuk menghabiskan minuman dan onigiri di tangannya, lalu beranjak menuju kamar mandi. Kali ini Yuki memilih mandi cepat meski realitanya ia menghabiskan tiga puluh menit di dalam sana.
Yuki segera memakai jeans pendek, kaos hitam sepinggang, dan segera pergi ke kamar Hotaru. Ia akan mengadu kepada saudara kembarannya itu.
Sret!.
Kedua pelayan Yuki segera membungkuk. Gadis itu berjalan cepat menuju kamar yang tidak jauh dari kamarnya.
Sret.
Hotaru di atas ranjang sedang sibuk dengan laptopnya. Yuki melenggang dan duduk si samping pemuda itu. Menghempaskan acuh ponsel di tangannya ke samping. Memeluk saudaranya.
"Belum baikan sama Eiji?." Hotaru melirik sebentar ke samping kanannya.
"Tidak tahu." Ketus Yuki.
"Sudah makan?."
Yuki malah mengeratkan pelukannya tanpa menjawab. Hotaru tersenyum simpul masih sibuk dengan komputernya.
"Mau makan apa?." Yuki menunduk tidak menjawab.
"Kamu pernah menyukai seseorang?." Pertanyaan acak dari Yuki.
"Selain kamu, nenek, ibu, sepertinya tidak." Jawab Hotaru membuat Yuki mengerucut kesal.
Kenapa iblis itu di sebut juga, batinnya.
"Aku pernah baca artikel tentang orang yang sedang jatuh cinta." Yuki menaikan satu alisnya.
"Kenapa membaca sesuatu yang tidak berguna?." Hotaru menghentikan ketikannya sebentar.
"Sangat berguna. Di sana di jelaskan kalau orang sedang jatuh cinta akan bertingkah konyol seperti anak kecil." Hotaru mencubit pipi adiknya.
"Orang pintar tiba-tiba berubah idiot, orang kejam tiba-tiba berubah lembut, orang bodoh berubah semakin bodoh. Kamu yang mana?." Wajah Yuki yang terdiam dengan ekspresi lucu itu membuat Hotaru menyingkirkan laptopnya dari atas pangkuan.
"Si jenius yang berubah idiot?." Yuki mengedipkan matanya mendengar pertanyaan Hotaru yang meminta persetujuan.
"Artikel itu sangat membantu. Mungkin kamu dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu di sana." Hotaru melepas cubitannya lalu melirik ke balik punggung Yuki.
Gadis itu mengerutkan kening kala Hotaru tiba-tiba diam menatap ke balik tubuhnya. Indera pendengaran Yuki semakin menajam. Ia mendengar suara shower berhenti, tanpa pikir panjang ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa pun, batinnya.
Dua detik kemudian sosok yang ia pikir sudah pulang muncul dari balik dinding lorong kecil menuju kamar mandi. Yuki membeku.
"Hotaru, aku akan menginap. Fumihiro san memintaku untuk membantunya menyusun strategi pelarian tim Morioka san." Ujar Fumio melenggang hendak berjalan ke lemari sahabat karibnya.
Yuki segera membalikkan tubuh bersembunyi memeluk Hotaru. Fumio baru menyadari sosok lain duduk di atas ranjang. Ia melihat penampilannya. Tanpa baju hanya menggunakan celana jeans. Kedua pemuda itu saling menatap lalu tertawa bersama.
Fumio berjalan mengambil salah satu kaos Hotaru dan memakainya.
"Aku harus pergi ke lab, kamu mau." Yuki tersentak cepat mendengar kata lab!. Menghentikan kalimat yang akan dikatakan oleh Hotaru.
Astaga!, hampir lupa!, seru Yuki dalam hati.
"Ada apa?." Tanya Hotaru, Fumio pun ikut bingung.
"Datang ke pandora jam sepuluh nanti." Ucap Yuki segera melompat dari kasur berlari meninggalkan kamar.
"Kemana lagi dia?." Tanya Hotaru.
"Menemui seseorang." Tebak Fumio.
"Siapa?." Hotaru beralih menatap Fumio.
"Tidak tahu."
Benar saja, gadis itu berlari menuju pandora setelah kembali ke kamar lebih dulu. Yuki melesat menemui Agung.
"Buset!. Ape lagi sekarang?!." Agung terkejut mendapati Yuki yang masuk tiba-tiba dan berdiri di depan meja pantry.
Ia yang sedang menikmati ayam geprek buatannya sendiri pun terlonjak kaget hampir menyemburkan sambal di dalam mulutnya.
"Agung." Yang di panggil membeku seketika. Ini pertama kalinya gadis hacker itu memanggil namanya.
"Wiiiihhh, aku kira kamu tidak ingat namaku." Ledek Agung menengguk minumannya.
Sret.
Yuki menarik kursi di depan Agung menatap piring penuh cabai dan bau pedas menyengat.
"Mau?." Tawar Agung.
"Ada makanan lain nggak?." Tanya Yuki.
"Puding mau?." Yuki mengangguk kecil. Ia masih lapar.
"Sudah makan malam kan?." Yuki terbayang nasi kepal segitiga.
"Ung." Jawab Yuki.
Agung meletakan kotak besar puding coklat dengan tiga jenis buah di dalamnya. Pria itu menaruh sendok di dekat Yuki.
"Hari ini lagi males. Cuman masak ini sama puding itu." Agung kembali duduk. Yuki yang penasaran langsung mengambil suapan puding Agung.
Enak!, batin Yuki. Moodnya berubah baik.
"Apa ada yang ingin di retas lagi?." Kedatangan Yuki biasanya memintanya untuk meretas.
"Ya, dan tidak." Jawab Yuki menikmati berbagai rasa di dalam mulutnya. Manis, coklat, dan buah-buahan segar.
Agung terpana dengan ayam geprek penuh sambal di tangannya. Menatap tak berkedip wajah Yuki.
"Kamu akan pergi ke russia besok sore." Agung masih belum bisa mencerna kalimat Yuki.
"Retas salah satu politikus di sana. Aku sudah pernah melakukannya, dan mendapatkan sedikit sesuatu yang aku cari. Gantikan aku dan turuti aba-aba dari ayah." Jelas Yuki.
"Ayah?." Ulang Agung.
"Kamu akan pergi menemani ayah. Jika ayah memintamu menyebar kebusukan politikus itu, segera lakukan." Ujar Yuki memasukkan lagi puding ke dalam mulut.
"Kamu berangkat bersama ayahku dari sini." Imbuh Yuki. Agung meletakan ayam geprek di tangannya dan beralih menatap serius Yuki.
Cantik!, heehh!!!, bukan itu!, batin Agung.
"Perjanjianku dengan nenekmu memang tidak boleh menanyakan tentang hal pribadi, tapi aku sudah tidak bisa menahannya." Ucap Agung menatap Yuki yang masih sibuk menyendok puding.
"Hm?."
"Apa kalian dari keluarga mafia?. Tidak ada keluarga militer yang meretas setiap negara. Berurusan dengan agen-agen khusus negara besar. Siapa kalian?." Yuki membuka mulut memasukkan potongan puding seraya menatap pria di depannya.
"Kamu takut?." Tanya gadis itu membuka sedikit mulutnya karena penuh oleh puding.
"Ya, ini gila. Aku masih punya dua wanita yang harus aku cukupi, kalau nyawaku dalam bahaya aku lebih memilih berhenti." Tegas Agung.
"Realistis. Ung, bagus." Balas Yuki kembali menyendok puding.
"Kamu akan tahu sedang bekerja kepada keluarga seperti apa setelah bertemu ayahku besok." Lanjut gadis itu.
"Jangan bawa barang-barang tidak penting. Cukup ponsel,laptop, dan beberapa baju." Imbuh Yuki.
"Ya, mungkin besok kamu dalam bahaya. Tapi aku sudah menyiapkan orang untuk melindungimu dan ayah." Yuki meletakan sendoknya menatap lurus manik Agung.
"Aku sangat terbantu dengan adanya kamu. Hackers menyebalkan yang mampu menyadari jaringanku. Karena itu, aku tidak ingin melepaskanmu begitu saja. Bahkan jika semua ini sudah selesai. Aku ingin kamu bekerja padaku." Aku Yuki jujur.
"Aku mendengar pujian dan sindiran dalam satu waktu." Celetuk Agung tersenyum malu.
"Benarkah?." Yuki mengambil sendoknya kembali.
"Bayaranku mahal." Agung menopang dagunya.
"Berapa gajimu dari nenek?." Tanya Yuki diam-diam tersenyum karena rasa coklat di ujung lidah dan rasa buah-buahan di rongga mulutnya.
"Tiga puluh setiap bulan." Jawab Agung dengan senyum bangga.
"Lima puluh jika bekerja sama denganku. Di bawah kendaliku utuh, bagaimana?." Tawar Yuki.
"Bohong!." Jerit Agung.
"Aku tahu menjadi hacker tidaklah mudah. Kamu bisa berakhir di dalam jeruji besi jika tertangkap." Balas Yuki beranjak berdiri.
"Pikirkan tawaranku untuk dua tahun ke depan." Tepat di usiaku yang sudah menginjak dua puluh, lanjut Yuki dalam hati. Ia tidak lupa dengan perjanjian dengan ayahnya.
"Aah .., ya tentu. Akan aku pikirkan." Jawab Agung.
"Ini aku bawa ya." Yuki mengangkat kotak puding.
"Bawa saja." Yuki melirik Agung sebentar.
"Boleh minta sesuatu?." Tanya Yuki.
"Apa?." Agung mendongak menatap Yuki.
"Puding?." Yuki mengangguk kecil. Terlihat menggemaskan jika seperti ini, batin Agung.
"Aku ingin membawanya ke sekolah. Dua kotak kecil juga tidak masalah." Agung melebarkan senyumnya.
"Nah, sekarang kamu sudah percaya kehebatan mahasiswa jurusan tata boga kan. Dua kotak?. Kecil. Aku akan masak sarapan juga buat kamu." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Sarapannya kapan-kapan. Terima kasih." Ucap Yuki berjalan meninggalkan kamar super luas itu.
"Pdkt dulu. Siapa tahu bos jatuh cinta sama bawahannya." Lirih Agung menatap punggung Yuki yang sudah di telan oleh pintu.
Membawa puding dan sendok Yuki berjalan masuk ke dalam kamarnya di pandora. Ia menaiki skateboard seraya mengunyah puding itu.
Meliuk-liukkan sedikit skateboardnya sampai di satu ruangan mewah barulah ia turun.
"Dai chaan ..!." Seruan ceria Yuki membingungkan kedua pelindung.
"Ojou."
"Buka mulutmu!." Srobot Yuki.
Dazai menurut. Yuki langsung saja memasukkan puding di tangannya.
Wajah Dazai berubah merah kala menyadari ia telah di suapi oleh nona mudanya. Yuki mengulum senyum menunggu kometar Dazai.
"Puding?. Rasa coklatnya terlalu kuat. Tapi enak." Yuki melebarkan senyumnya.
"Tsuttsun." Yuki beralih ke Mizutani seraya menyodorkan sendoknya.
Pria itu menatap ragu Yuki sebentar namun karena tidak sopan untuk menolak ia pun menurunkan kepala melahap puding itu.
"Yuki. Aku." Je keluar melayang di depan wajah Yuki.
"Bagianmu buatku." Ucap Yuki beranjak duduk dan memakan puding yang tersisa.
"Koki kediaman utama seleranya sudah berubah?." Dazai heran.
"Tidak, yang buat ini koki amatiran dari indonesia." Jawab Yuki.
"Ya, rasanya terlalu kuat." Mizutani melirik puding di dalam kotak itu.
"Dia hacker kepercayaanku." Mizutani dan Dazai segera menatap Yuki.
"Namanya Agung. Nenek yang merekrutnya tanpa sepengetahuanku. Kemampuannya sangat luar biasa. Belum ada hacker yang mampu melacak Je. Tapi dia bisa. Jadi, aku akan mengikut sertakannya besok ke russia dengan kalian. Ayah sudah setuju. Jika ayah tidak berhasil menekan politikus itu, Agung segera menyebarkan kebusukan si politikus tanpa ampun di dunia internet. Menyadari hal itu pasti si politikus akan menyerang balik Agung untuk menghapus postingan yang ia unggah. Orang ini sangat mampu melawan hacker milik politikus itu." Jelas Yuki panjang lebar lalu menyuapkan kembali puding ke dalam mulutnya.
Mizutani dan Dazai paham.
"Kenapa kamu sangat ingin menekan politikus russia ini?." Mizutani mengingat foto yang Yuki kirimkan.
"Membantu para agen melacak klan naga putih yang tersebar dari informasi politikus itu. Sejak awal klan ini bergerak bebas karena campur tangan orang penting, yang membuat kita terus bergerak berputar. Dengan itu para agen akan sibuk membersihkan negara bagian tengah selagi kita menghabisi mereka lewat pinggir." Jelas Yuki.
Mizutani dan Dazai mengangguk paham.
"Jika kita gagal dengan politikus ini dan mereka melawan balik kita haruskah kita ikut menyerang?." Mizutani seperti biasa sangat kritis.
"Tidak Tsuttsun. Bukan politikusnya yang kita serang, melainkan markas besar klan naga putih di bawah mansion besar politikus ini. Negara yang akan mengurusi si politikus." Dazai mengerutkan kening.
"Jika para agen tahu?." Tanyanya.
"Kita menyerang seperti di villa. Bukan berarti kita tidak akan bertemu dengan para agen, karena yang akan menyerang, para pelindung tingkat tinggi dan aku." Keduanya memasang wajah tidak setuju.
"Tenanglah. Kita tidak akan menyerang di hari itu juga." Jawab Yuki.
"Anda tidak boleh terjun langsung." Ucap Dazai.
"Dai chan, di markas ini ada ayah biologis Takuya. Kamu ingat?. Teman satu angkatanku yang di didik untuk segera membunuhku jika bertemu?." Mizutani ikut menambahkan.
"Sekaligus ayah dari mata-matamu di sekolah baru." Yuki mengangguk membenarkan.
"Untunglah Takuya tidak mengetahui identitas Tsuttsun." Yuki menghabiskan suapan terakhir.
"Ini yang anda minta." Dazai menaruh gulungan besar di atas meja.
"Terima kasih."
"Aku harus segera kembali. Kalian istirahatlah. Besok aku akan izin tidak ikut latihan klub." Lanjut Yuki beranjak berdiri dengan gulungan besar itu.
"Ojou chan." Panggil Dazai.
"Hm?." Dazai terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu. Dan Mizutanilah yang akhirnya buka suara.
"Perang?." Yuki menoleh cepat kepada Mizutani.
"Ung." Gadis itu mengangguk.
"Aku berburu dengan waktu Tsuttsun. Jika aku mati dan urusan klan belum selesai, semuanya akan di tanggung oleh Hotaru. Aku tidak ingin itu terjadi. Setidaknya aku menyelesaikan masalah ini sebelum pergi."
Sruak.
Dazai berdiri cepat, menatap manik biru itu dengan wajah yang sangat jelek menurut Yuki. Yuki tersenyum lembut.
"Ini faktanya. Hukuman itu tidak berhenti di tahap ke tiga. Aku tidak tahu kapan tahapan lain akan meledak. Selain itu." Yuki menutup rapat mulutnya. Hampir saja ia membeberkan tekad yang sudah ia simpan.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan hukuman ini. Ingatanku belum pulih seluruhnya. Jadi, biarkan aku berpacu dengan waktu." Yuki mengatakan apa yang tidak ia katakan kepada orang lain. Sungguh, kedua bayangan ini selalu dapat membujuknya. Yuki yakin, dulu, pasti ia sangat dekat dengan Mizutani dan Dazai.
Mizutani memijat-mijat dahinya tanda pria itu sedang frustasi. Dazai menundukkan kepalanya menatap meja, ia mengepal kuat hingga otot-otot tangannya keluar.
"Bisakah kalian rahasiakan ini?. Hanya kita bertiga?." Pinta Yuki.
"Ojou chan."
"Yuki."
Bentuk protesan mereka.
"Jika ini bocor, kalian tidak akan membiarkanku memimpin lagi. Bahkan jika tidak memimpin pun waktu kematianku tidak akan bisa berhenti." Tegas Yuki.
Yuki meletakan gulungan itu lagi. Ia berjalan menghampiri Dazai. Meraih wajah pria itu dengan satu tangannya mengarahkan manik mereka agar bertemu.
"Kamu masih ingat neraka di dalam air itu?." Tanya Yuki.
Tentu saja, mengingatnya lagi selalu membuat kakiku gemetar, jawab Dazai dalam hati.
"Tidak mungkin bisa aku lupakan ojou chan." Yuki mengulas senyum tipis.
"Itu hanya awal." Ucap Yuki.
"Awal?." Ulang Dazai.
"Ya. Aku tidak tahu apa masih bisa bertahan lagi. Setidaknya kamu lebih mengerti yang aku rasakan." Yuki menjauhkan tangannya.
"Ojou chan ..." Lirih Dazai.
Yuki meraih lengan Mizutani menarik pria itu sampai berdiri. Tanpa ragu gadis itu memeluk Mizutani.
"Kita tidak tahu, apakah kita akan memiliki waktu santai seperti ini lagi. Aku yakin dua hari lagi semua orang akan sibuk." Ucap Yuki dalam pelukkan Mizutani.
Pria itu tidak berani membalas pelukan nona mudanya.
"Terima kasih untuk kalian. Mari memperjuangkan nyawa masing-masing." Ucap Yuki menguraikan pelukkannya.
"Aku harus pergi sekarang." Imbuh Yuki
Gadis itu mengambil gulungan besar, memeluknya. Memerintahkan Je untuk membawa kotak kosong dan sendok. Melambai sebentar kepada kedua bayangan sebelum pergi.
Sampai di kamar mewah, elegan, bak kamar keluarga kerajaan eropa Yuki meletakan gulungan di atas ranjang.
"Je bersembunyilah. Mode silent." Ucap Yuki. Segera saja burung hantu itu menghilang entah bersembunyi di mana.
Yuki melangkah keluar kamar, tak lupa menguncinya dari luar. Ia berjalan menuju lift ke lantai empat.
Ting!.
Lift terbuka memperlihatkan sosok yang mampu membuat Yuki merasakan panas di area wajahnya. Senyum itu terkembang, mengulurkan tangannya ke depan.
"Hotaru akan telat. Mau menunggunya sambil duduk?." Yuki menelan saliva, bergerak menerima uluran tangan Fumio.
Fumio semakin melebarkan senyumnya kala tangan Yuki menerima uluran tangannya. Ia menarik lembut Yuki keluar dari lift. Menuntun gadis itu duduk di salah satu kursi. Fumio berlutut dengan satu kaki di depan gadis itu. Mendongak menikmati berbagai ekspresi di wajah bak dewi aprhodite.
Mendapatkan tatapan seperti itu membuat Yuki risi, di dalam sana jantungnya juga sangat berisik. Yang Yuki tidak habis pikir, masih banyak kursi kenapa Fumio selalu berlutut di depannya.
"Masih banyak kursi kosong." Ucap Yuki, ia terkejut, tangan yang masih bersentuhan itu kini di mainkan seperti saat ia memainkan jari-jari Fumio malam itu.
"Aku akan mengusulkan jadwal tunangan kita di percepat." Mendengar itu perut Yuki langsung mulas.
"Aku akan memakai terus cincin kita, agar orang lain tahu kalau aku sudah ada yang punya." Perutnya bertambah aneh, kupu-kupu itu menggelitik di dalam sana.
"Aku milik seseorang."
Yuki bingung harus mengatakan apa. Ia lega saat Fumio menjelaskan di jalan tadi. Ia senang saat perhatian kecil Fumio di berikan untuknya. Ia juga bahagia saat Fumio mengutarakan keinginannya. Agh!, biarkan Yuki merasakan euforia ini. Menendang jauh-jauh perasaan bersalah atau apa pun itu.
Yuki menundukkan wajahnya, menyingkirkan anak-anak rambut di dahi Fumio, lalu mendaratkan kecupan hangat yang lembut dan sangat lama.
Yuki perlahan menarik wajahnya, saling menatap satu sama lain penuh damba. Fumio tersenyum membuat Yuki ikut tersenyum manis. Pemuda itu mengangkat tangan Yuki mendekatkannya ke bibir.
Cup.
"Eiji." Lirih Yuki.
"Hm?."
"Itu ..."
"Itu?."
"Lupakan." Yuki memutus kontak mata mereka.
"Hahaha ..." Fumio tertawa lirih. Yuki berpikir, apa calonnya ini tidak pernah tertawa keras?.
Cup.
Manik Yuki berkedip merasakan kecupan lembut di ujung hidungnya. Maniknya kembali bertemu dengan manik bulat milik Fumio.
"Cemburunya lucu." Sontak Yuki melebarkan matanya tidak terima.
"Hahaha ..." Cup. Kini kelopak matanya menjadi sasaran.
"Eiji." Tegur Yuki.
"Hm?." Cup. Kelopak satunya pun luput dari serangan.
"Kamu tidak marah?." Tanya Yuki tiba-tiba.
"Karena kamu bersama anak kelas sebelah?."
Cup.
Fumio belum berniat berhenti, pelipis Yuki pun jadi korbannya. Gadis itu hanya diam. Berbanding terbalik dengan jantung dan perutnya.
"Bukan." Jawab Yuki.
"Karena kamu kabur dariku?."
"Bukan." Cup. Pelipis yang lain.
Yuki meraih kerah kaos Fumio, meremasnya pelan. Pemuda itu pun berhenti lalu menatap tenang manik biru yang bergerak-gerak liar.
"Aku, yang. Bersama pria lain. Kamu melihatnya." Yuki langsung menatap lurus manik jernih itu.
"Eiji?." Panggil Yuki yang melihat tidak ada respon dari Fumio.
Laki-laki itu tiba-tiba berdiri, mengulurkan kedua tangannya menangkap pinggang Yuki. Dan dalam sekali ayunan gadis itu sudah terangkat dari kursi berpindah ke atas meja. Bukan Yuki kalau tidak bisa mengelak. Tapi itu dulu!. Saat Yuki tidak mengingat apa pun. Yuki yang sekarang benar-benar tidak bisa berkutik oleh Fumio.
Fumio meletakan kedua tangannya di atas meja di masing-masing sisi tubuh Yuki. Menatap tenang manik biru gadis itu.
"Maksudmu saat kamu mencium seniormu dengan tangan?." Fumio memperjelasnya membuat Yuki bergidik tidak tahu apa yang ia rasakan.
"Tentu saja aku melihatnya. Atau .., saat kamu memainkan jari di pipi pemain baseball?, memeluknya sambil tersenyum?." Agh!!, baru kali ini Yuki merasa seperti di hantam telak secara bertubi-tubi.
"Apa mungkin yang?, kamu di angkat oleh pemain baseball berbadan tinggi itu dan mengaku kamu sebagai miliknya?." Yuki merasakan keringat dingin mulai keluar dari tangannya.
"Atau kamu yang mengajak pemain basket berkencan?."
"Eiji!." Tegur Yuki, ia tidak ingin mendengarnya lagi.
Gadis itu tidak sadar sudah menunduk sampai jari besar dan panjang Fumio mengangkat lembut dagunya. Mata mereka kembali bertemu.
"Atau karena laki-laki yang sempat merebut hatimu?. Dimas?." Yuki sukses membeku, ia bergeming tanpa berkedip.
Fumio melanjutkan kalimatnya.
"Yuu .., aku tidak marah. Ini juga salahku karena tidak berada di sampingmu." Lagi, ketulusan, kharisma, dan kejujuran yang indah di wakilkan oleh kalimat yang sempurna.
"Aku sangat cemburu. Tapi mau bagaimana lagi, ratuku ini memang selalu memikat siapa saja. Bahkan jika hanya duduk seperti patung. Tidak akan ada yang tidak meliriknya."
Boom!.
Bak bom meletus, hati dan jantung Yuki pun meledak seperti itu. Jika saja mulut Yuki dapat bergerak sekarang, ia ingin mengatakan betapa sempurnanya Fumio. Bahkan jika laki-laki itu tidak memiliki wajah rupawan Yuki tetap akan jatuh cinta kepadanya. Pembawaan tenang, tegas, kuat, cerdas, dan yang paling penting dari semua itu. Kepekaan dan pengertian Fumio kepada sekitar, hingga selalu sabar menghadapi Yuki. Apalagi sikap dewasanya. Siapa wanita yang tidak akan jatuh cinta?!. Wanita buta pun akan mencintainya.
Pikiran Yuki kosong. Tiba-tiba hanya terisi oleh pemuda itu, sampai Yuki tidak sadar tubuhnya bergerak mengikuti naluri.
"Aku tidak bisa marah padamu. Aku tidak juga khawatir. Karena kamu wanita yang bisa menjaga hatimu hanya untukk-." Kalimat Fumio terhenti karena kedua tangan Yuki yang menangkup lehernya.
Dan dalam sekejap saja bak vampir pada film hollywood, Yuki menenggelamkan wajahnya di leher pemuda itu.
Fumio memejamkan mata seraya menekan kuat jari-jarinya di permukaan meja. Ia membeku, mendapatkan serangan dari Yukinya.
Menit berganti menit sampai Fumio mengeluarkan suara menginterupsi gadis itu.
"Yuu ..." Lirihnya.
Gadis itu berhasil terdiam. Menarik wajahnya menjauh dan langsung menunduk menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Hahaha ..." Tawa lirih Fumio pecah, terdengar hangat seperti kicauan burung di pagi hari.
Usapan lembut Yuki rasakan di pucuk kepalanya.
"Aku ganti baju dulu, sebelum Hotaru datang. Kamu tidak apa-apa menunggu sendiri?." Yuki menganggukkan kepalanya masih menutupi wajah.
"Aku pergi." Pamit Fumio, selang beberapa detik suara lift tertutup membuat Yuki menjauhkan tangannya dari wajah.
APA YANG TELAH AKU LAKUKAAAANN ...!!!????, jerit histeris Yuki dalam hati.
Fumio sepertinya sedang tidak beruntung. Berhasil keluar dari pandora tanpa bertemu satu orang pun malah di pertemukan dengan calon mertua dan nenek calonnya.
Refleks tubuhnya memerintah untuk membungkuk sopan.
"Eiji. Aku dengar kalian sedang bertengkar?." Fumio menarik senyum kecil seraya menegakkan tubuh kembali.
Suara terkesiap berasal dari nyonya besar, menatap khawatir akan keadaan dirinya. Malu!, tapi mau bagaimana lagi. Sudah tertangkap basah.
"Kalian bertengkar!. Astaga. Fumio kun, maafkan Yuki. Nenek akan mencoba membujuknya." Ujar Lusi. Daren menggelengkan kepala seraya tersenyum penuh arti kepada pemuda itu.
"Ibu, biarkan anak muda mengurus masalah mereka. Orang tua seperti kita hanya bisa mendoakan." Lusi terkejut dengan kata-kata mutiara dari mulut Daren.
"Sejak kapan kamu jadi religius?." Tanya Lusi. Fumio mengulum senyum, sependapat dengan nyonya besarnya.
"Aku hanya mengutip secuil kalimat dari buku." Jawab Daren.
"Sudah, mari saya antar ibu ke kamar." Imbuh Daren melirik Fumio. Pemuda itu membungkuk kecil sebagai ucapan terima kasih.
Namun belum juga kedua orang itu melangkahkan kaki mereka sosok lain menambah keramaian lorong.
"Eiji!, apa Yuki masih marah?. Aku telat lebih dari tiga puluh menit." Hotaru menghentikan langkah lebarnya tepat di sisi Lusi yang kosong.
Fumio hanya menghela nafas kala mendapati raut wajah Hotaru saat melihat keadaan dirinya.
"Anjing mana yang menggigitmu?." Pertanyaan Hotaru membuat Daren ikut menghela nafas berat.
"Di kediaman utama tidak ada anjing." Tambahnya.
Tentu saja tidak ada, Yuki takut anjing, jawab Fumio dalam hati.
"Hotaru, kamu sedang buru-buru bukan." Daren lagi-lagi menyelamatkan Fumio.
"Akh!, benar. Kita urus masalah anjing ini nanti." Ucap Hotaru berlari kecil melewati Fumio.
Pemuda itu kembali membungkuk kepada Daren sekaligus Lusi, berterima kasih telah menyelamatkannya dari berbagai pertanyaan.
"Ibu, mari." Daren menekuk satu lengannya di depan perut, mempersilahkan Lusi menggandengnya sekaligus membantu wanita tua itu berjalan dalam gaya tubuh yang sopan dan penuh hormat tanpa merendahkan.
Calon mertuanya ini benar-benar gentelman, membantu mertuanya tanpa terlihat merendahkan. Inspirasi untuk Fumio. Mendiang ayahnya juga tidak kalah dari calon mertuanya.
Fumio hendak melanjutkan langkah sampai sebuah teriakan menusuk telinganya.
Seperti tersadar dari tidur panjang, Hotaru seketika itu juga menghentikan kakinya tak jauh dari pintu pandora. Membalikan tubuh sangat cepat seraya berucap.
"Anj****ngg .....????!!!."
Ia menatap tajam manik sahabat karibnya yang juga menghentikan langkah membalas tatapannya.
Mendapati telinga Fumio yang memerah Hotaru mendapatkan jawaban. Tanpa menunggu lagi ia mengayuh kakinya sangat cepat masuk ke dalam pandora.
Anjingnya adalah saudarinya sendiri?, batin Hotaru.
***
Di depan cermin besar kamar milik sahabatnya, Fumio berdiri menatap pantulan dirinya. Ia menyentuh kerah kaos hitam yang sedikit robek, lalu melepaskannya. Kembali menatap pantulan di sana. Seketika itu juga kedua pipi dan telinganya bersemu merah, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Tangannya menyentuh letak jantung yang sejak tadi bergemuruh bagai guntur. Bibirnya membentuk garis melengkung.
"Aku telah membangunkan seekor singa." Ucapnya.
Sedangkan di dalam pandora Yuki yang tengah asik membaca strategi menghadapi musuh licik tiba-tiba tubuhnya di guncang hingga berdiri, lalu di putar paksa, di gerakkan ke kanan dan ke kiri.
Mendapati itu Yuki mengangkat tangannya yang memegang buku lalu memukulnya.
Tuk!.
"Apa yang kamu lakukan?." Kesal Yuki.
Hotaru memegangi kepalanya, tidak terlalu sakit. Yang terpenting sekarang adalah saudarinya.
"Apa yang Eiji lakukan padamu?!." Srobot Hotaru.
"Hah?." Yuki menaikan satu alis.
Grep.
Hotaru menangkup wajah Yuki mencari sesuatu.
Gadis itu menghela nafas berat meraih tangan saudara kembarnya dan menyeretnya masuk ke dalam lift.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Sekarang. Kita harus cepat." Ujar Yuki yang tak paham. Mungkin jika gadis itu sedikit peka rona merah bak kepiting rebus akan menghiasi wajah putih pucatnya.
Mendapatkan tanggapan seperti itu membuat Hotaru menurut. Ia menggenggam posesif tangan Yuki.
Yuki membuka kunci kamarnya, mengajak Hotaru masuk. Setelah itu ia kembali menguncinya dari dalam.
"Kenapa ke sini?." Tanya Hotaru.
Kamar itu terang benderang, Hotaru tidak terkejut dengan kemewahan kamar itu karena dia juga punya, tepat di samping kamar.
"Kamu sudah berjanji padaku mau mengajarkan cara membaca garis warisan klan Hotaru." Ucap Yuki.
"Aaa, itu. Kamu mau belajar di sini?." Yuki menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin belajar. Karena itu memang di wariskan hanya untuk pewaris sah. Dan itu bukan aku." Yuki berjalan melewati Hotaru.
"Lalu?." Hotaru mengikuti saudarinya.
"Aku hanya ingin kamu menerjemahkan ini." Jelas Yuki membuka gulungan selebar satu meter dan sepanjang satu meter setengah di atas ranjang king size.
Gulungan itu terpampang sangat jelas. Yuki menegakkan tubuhnya di samping Hotaru.
"Bisa kamu jelaskan isinya?." Tanya Yuki menoleh ke samping. Tapi apa yang ia dapat?!.
Hotaru membeku dengan kelopak mata yang melebar serta wajah memucat. Yuki melirik tangan saudara kembarnya yang bergetar. Kekhawatiran menjalari tubuh Yuki.
"Hotaru." Lirihnya.
Bibir Hotaru terbuka, ada sedikit getaran di sana. Dan hanya satu kata yang berhasil terucap.
"Bencana."
Next season.