Futago

Futago
Muak.



Hari demi hari berlalu Yuki tidak menemukan hal mencurigakan dari semua data yang ia dapat.


Kenapa ayahnya tidak pernah meminta Yuki untuk membantu perusahaan di jepang kalau tidak ada yang ayahnya sembunyikan?.


Siang ini semua siswa dan para guru-guru berkumpul di aula sekolah, setiap kelas berbaris dalam satu barisan ke belakang dan Yuki berdiri di belakang Natsume.


"Hari ini ada acara penampilan dari klub koto karena mereka sudah memenangkan perlombaan di inter high (kompetisi nasional) kemarin." Natsume memberitahu Yuki.


"Hebat dong." Sahut Yuki datar.


Tujuh orang naik ke atas panggung bersama koto (alat musik) masing-masing, Yuki melihat salah satu laki-laki yang ia kenal, Ishikawa.


"Sudah akan di mulai." Ucap Natsume segera menatap ke depan.


Yuki melihat mereka bersiap di belakang koto masing-masing, tangan mereka mengambang diatas koto.


Ting ... Ting ting ...


Suara lembut bagaikan gemericik air mengalun dari alat musik kayu itu, di susul oleh melodi-melodi yang indah. Yuki terhanyut dalam suara musik jenis baru yang ia dengar.


Yuki ...!.


Siapa?, batin Yuki merasa mendengar seseorang memanggilnya.


Hahaha ... Yuki ...!.


Yuki melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang memanggilnya tapi suara itu terus terdengar di telinga Yuki.


Ke sini, Yuki ...


Yuki mengerutkan keningnya. Apa dia sudah gila?, udara panas dari luar aula membuatnya berhalusinasi?. Suara lembut dan indah itu terus menggema di dalam gendang telinganya. Yuki semakin mengerutkan kening, ia tidak mengenal suara itu.


Yuki ...!.


Hahaha ... Yuki ...!.


Ke sini, Yuki ...


Suara itu terus mengganggunya membuat Yuki tidak nyaman. Ia berusaha untuk tetap fokus melihat pertunjukan.


Yuki ...!.


Hahaha ... Yuki ...!.


Ke sini, Yuki ...


Dan saat itu melodi lembut menenangkan bagaikan gemericik air berubah kencang dan cepat seperti sebuah angin. Hati Yuki bergetar hebat, ia tersentuh dengan permainan klub koto bukan hanya dia sepertinya siswa lain juga merasakan hal yang sama.


Ting ting ting ting ... Ting!. Zzzzzzz ... Treeeengg ... Dung ... Treeeengg ...


Agh!, jerit Yuki dalam hati tangannya spontan menutup kedua telinga. Melodi yang luar biasa menurut Yuki kini tiba-tiba menyerang dirinya.


Telinganya berdengung keras membuat Yuki menutup rapat mulutnya, kerutan di kening itu semakin banyak dan terlihat jelas.


Yuki ...!.


Hahaha ... Yuki ...!.


Ke sini, Yuki ...


Suara yang tadinya berada di telinga Yuki kini berpindah ke dalam kepalanya. Kabur-kabur sebuah bayangan berkelebat.


Siapa?, tanya Yuki dalam hati.


Yuki melihat sebuah bayangan anak kecil berlari kencang dengan kaki pendeknya, senyum cerah menghiasi wajah anak kecil itu. Di lain sisi ia juga melihat seorang wanita membungkuk mengulurkan tangannya seakan-akan menunggu pelukan.


Hahaha ... Yuki ...!.


Ke sini, Yuki ...


Siapa?!, seru Yuki yang merasakan sakit di kepalanya mulai kambuh.


Tidak jangan sekarang, kumohon tidak lagi, batin Yuki gelisah.


Suara alunan melodi koto semakin kencang menuju puncak begitu juga rasa sakit di kepala Yuki semakin terasa menyakitkan.


"Uhuk!." Yuki segera menutup mulutnya dengan sapu tangan dari saku seragam.


Sial!, rutuk Yuki dalam hati. Yuki limbung, ia berusaha menyeimbangkan dirinya.


"Uhuk!." Matanya bergetar, rasa sakit di dalam kepalanya tidak kunjung mereda malah semakin menjadi. Ia merasakan dingin di bawah hidungnya, Yuki melirik ke bawah, melihat warna merah mengalir turun, cepat-cepat ia menutupnya.


Kakinya yang mulai lemas berusaha untuk tetap menopang tubuh, ia mundur berniat pergi dari sana tapi naas Yuki malah menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Ada apa denganmu?." Kudo menatap ke bawah tangannya memegang lengan atas gadis yang menabraknya.


Yuki terus menunduk, ia membungkuk sekilas sebagai permintaan maaf lalu memaksa kakinya untuk berjalan cepat meninggalkan aula. Nafasnya mulai tidak beraturan ia tidak bisa lebih cepat menahannya.


"Uhuk ... Uhuk ..." Darah yang keluar semakin banyak. Pandangan Yuki mulai mengabur karena rasa sakit yang ia tahan sekuat tenaga.


Bruk. Benar saja kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya.


"Kamu sakit." Kudo memutuskan untuk mengejar Yuki setelah melihat tingkah tidak biasa gadis itu.


"Bawa aku ke atap." Ucap Yuki masih menutup hidung dan mulutnya.


"Hah!, kapan uks pindah di atap?." Yuki mendongak untuk melihat manik Kudo.


"Atap." Ulangnya.


"Ck." Kudo tidak bisa menolak permintaan Yuki setelah melihat tatapan gadis itu.


Kudo meraup tubuh Yuki membawanya berlari ke atap sekolah. Yuki mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan agar tidak terbatuk dan mengerang.


Tidak di ragukan lagi, stamina pemain baseball sangat luar biasa. Kudo dengan cepat berhasil membawa Yuki ke atap sekolah.


"Maaf, bisa tolong panggilkan Mi chan?." Kudo tahu siapa yang Yuki maksud.


"Aku akan segera kembali." Ujar Kudo berlari keluar dari atap.


Apa yang terjadi?, ini aneh, apa dia mau merajuk lagi?, tapi kelihatannya tidak, batin Kudo selama di perjalanan.


Kudo terengah, ia mencari Mizutani di barisan para guru.


Pertunjukan belum selesai, Kudo berjalan sangat pelan, ia memposisikan dirinya masuk ke dalam jangkauan mata Mizutani, dan ya. Mizutani menangkap gerak-gerik seseorang, ia melihat anak didiknya memberikan isyarat untuk mendekat, penting.


Mizutani segera keluar dari barisan guru berjalan ke luar aula, Kudo yang berhasil memberikan pesannya segera menunggu Mizutani di luar aula.


"Ada apa Kudo kun?, tidak seharusnya kamu melakukan hal seperti itu di tengah pertunjukan teman-temanmu." Tegur Mizutani.


"Maaf pelatih, tapi sepertinya ini sangat penting." Mizutani menatap Kudo menunggu alasan yang logis dari anak didiknya.


"Hachibara san sepertinya sedang sakit," deg!.


"Dimana dia sekarang?." Srobot Mizutani namun dengan suara yang tetap tenang.


"Ada di atap sekolah, dia tidak mau aku antar ke uks." Jelas Kudo.


Puk.


Mizutani menepuk pundak Kudo.


"Terima kasih sudah menolongnya, sekarang kembalilah ke aula." Titah Mizutani.


"Baik, saya permisi." Ucap Kudo ia tidak berani menentang perintah pelatihnya.


Mizutani memastikan Kudo masuk ke dalam aula setelah itu ia berlari sekencang mungkin menaiki anak-anak tangga menuju ke atap.


Di atap ini lah Yuki mengerang, meringkuk, berguling, menggigit bibirnya menahan rasa sakit. Matanya terbuka lebar, sesekali ia tersedak darahnya sendiri, darah yang keluar terus menerus membuatnya sulit bernafas.


Suara itu terus menggema di dalam kepala Yuki, sungguh Yuki sudah muak dengan penyakitnya ini. Kepalanya terasa hampir meledak, rasa nyeri, berdenyut-denyut, dan pening yang tidak bisa di bayangkan.


Di lantai empat Mizutani mendengar erangan kesakitan dari atas ia memacu kakinya semakin cepat.


Brak!. Mizutani yang terburu-buru tidak berhasil mengontrol tenaganya, pintu itu ia buka secara kasar.


Sunyi, itulah yang Mizutani dapat sesampainya di atap. Angin menerpa wajah tegas miliknya, perlahan Mizutani menutup pintu dan mengedarkan pandangannya. Ia tidak melihat siapa pun, suara erangan itu juga tiba-tiba menghilang.


Mizutani berjalan ke sisi kanan pintu atap, kosong. Ia beralih ke sisi kiri pintu atap, betapa terkejutnya Mizutani dengan pemandangan yang ia dapat. Yuki duduk bersandar ke dinding kepalanya terkulai lemah, seragam bagian depan dipenuhi dengan darah, lengan dan tangannya juga, rok, kaki, bahkan kaos kakinya pun terdapat bercak-bercak darah.


Hatinya mencelos melihat keadaan remaja perempuan itu. Ia ingin menangis tapi tidak bisa. Bau amis langsung menyeruak ke dalam hidung Mizutani.


"Uhuk!." Yuki meloloskan darah dari mulutnya begitu saja, kedua tangannya sudah lemas tidak sanggup bergerak. Secuil rasa sakit di dalam kepalanya mereda setelah Yuki mampu mengendalikan pikirannya lagi, meskipun hanya secuil tapi sangat berarti bagi Yuki.


Mizutani berlutut di depan Yuki berhati-hati agar tidak menginjak genangan darah di sekitar gadis itu, ia bisa mendapatkan kecurigaan dari pihak sekolah jika sepatunya meninggalkan jejak darah.


"Makan ini, maaf aku tidak membawa air." Ucap Mizutani mengulurkan sebuah pil mendekatkan pil ke depan mulut Yuki.


Yuki membuka mulutnya menggigit pil bundar gepeng mirip permen itu. Dengan susah payah Yuki menelan pil ke dalam tenggorokannya. Perlahan semua rasa sakit di kepalanya mereda. Mizutani mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


"Tolong secepatnya keadaan darurat, bawa alat kebersihan."


"Pergantian dan keamanan."


"Sekarang."


Telinga Yuki mulai kembali normal, pandangannya juga mulai jelas, tapi dia masih tidak bisa bergerak. Mizutani mengeluarkan sapu tangan miliknya, dengan hati-hati membersihkan setengah wajah yang penuh dengan darah.


Mizutani menatap lekat-lekat bibir bawah Yuki menekannya sangat pelan.


Dia menggigit bibirnya sangat keras, kulitnya sampai mengelupas seperti ini, ucap Mizutani dalam hati.


Zzzzz ... Zzzzzz ...


"Ya?."


"Bagus."


"Semuanya aman?."


"Aku akan turun."


Mizutani menyimpan lagi ponselnya. Ia membuka jas seragam gurunya untuk menutupi tubuh Yuki, mengangkat gadis itu sangat hati-hati seperti ia memegang benda rapuh.


Di tangga lantai tiga Mizutani berpapasan dengan tiga orang, mereka semua terkejut dengan tubuh kecil di gendongan Mizutani, menurut mereka yang memiliki ukuran badan tidak jauh berbeda dengan Mizutani tubuh itu terlihat kecil. Dua orang melanjutkan berjalan ke atap membawa peralatan kebersihan, apa lagi kalau bukan untuk membersihkan sesuatu di atas sana.


Satu orang mengawal Mizutani sampai ke gerbang belakang sekolah, mobil miliknya sudah terparkir rapi. Orang itu membuka pintu belakang membantu Mizutani meletakan gadis itu.


"Terima kasih, aku serahkan yang di sini kepada anda." Kata Mizutani lalu masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, takut membuat Yuki tidak nyaman.


Tidak ada yang tahu ada sesuatu yang terjadi saat itu, semua orang masih berada di dalam aula.


Sesampainya Mizutani di depan rumah sakit seorang dokter sudah menunggunya. Mereka dengan cekatan mengeluarkan Yuki dari dalam mobil membawanya masuk. Mizutani dengan sabar menunggu di luar ruang ICU.


"Mizutani san." Dokter itu duduk di sebelah Mizutani.


"Kami sudah membersihkan semua darahnya dan mengobati luka di bibir." Mizutani mengangguk.


"Tapi kami tidak menemukan luka lain, tenggorokannya sangat sehat, organ tubuhnya yang lain juga sama." Mizutani menganggukkan kepalanya lagi.


"Apa yang terjadi?." Tanya dokter itu.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Mizutani menatap kotak pil yang isinya tersisa dua itu.


"Yang aku dengar ada kerusakan di dalam kepalanya, apa itu bisa membuat dia mengeluarkan darah saat batuk?."


"Biar aku memeriksanya lagi." Ujar dokter.


"Jangan." Cegah Mizutani membuat dokter bingung.


"Dokternya yang dulu melarang siapa pun memeriksanya, nyonya besar juga mengatakan hal yang sama." Sambung Mizutani.


"Tapi dia bisa mati kehabisan darah jika ini terjadi lagi." Sergah dokter.


"Tidak, selama ada pil ini." Dokter melirik pil di dalam kotak yang Mizutani pegang.


"Boleh aku meminta satu untuk sampel, aku akan membuatkannya untukmu." Mizutani menggeleng.


"Kenapa?."


"Mereka juga melarangnya, pil ini tidak boleh di berikan kepada siapa pun." Dokter menyandarkan punggungnya dengan kesal setelah mendengar jawaban Mizutani.


"Kenapa ribet sekali." Gumam dokter.


"Jadi?, mau rawat inap?." Tanya dokter.


"Tidak, siapkan saja semua stok darah. Dia tidak boleh terlalu lama di rumah sakit." Dokter menatap Mizutani tidak percaya.


"Oi, siapa yang akan mengganti kantung darahnya nanti?." Dokter sudah mulai marah.


"Dia yang akan melakukannya sendiri." Dokter menepuk dahinya pelan.


"Kau benar-benar." Geram dokter.


"Jangan remehkan dia." Ucap Mizutani serius membalas tatapan dokter.


"Aku sangat serius. Jangan remehkan dia." Dokter akhirnya menarik nafas panjang."


"Ya terserah kalian saja."


Yuki dibawa pulang ke rumahnya oleh Mizutani, memencet bel rumah menunggu sampai Masamune membukakan pintu.


"Eh!?, selamat siang Mizutani san. Ada apa ya kok jam segini datang kemari?." Tanya Masamune yang kaget melihat Mizutani berdiri di depan pintu.


"Yuki sakit, bisa kamu bantu aku membawa Yuki ke kamarnya?." Pinta sopan Mizutani.


"Ya ampun sakit!, apa yang bisa aku bantu?." Seru Masamune terkejut.


"Tolong bawa kantung darahnya agar tetap berada di atas." Jelas Mizutani berjalan ke mobilnya di ikuti oleh Masamune.


Masamune dengan cekatan melakukan yang di pinta Mizutani, ia memegang tinggi-tinggi kantung itu sedangkan tangan yang satunya membawa besi untuk menggantung kantung darah. Perlahan Mizutani meraup tubuh Yuki menggendongnya tidak terlalu tinggi agar memudahkan Masamune.


Masamune membuka pintu kamar Yuki mempersilahkan Mizutani untuk masuk lebih dulu. Masamune yang melihat Yuki masih menggunakan baju rumah sakit mengingatkan ia dengan ibunya tempo hari. Mizutani sangat pelan meletakan Yuki diatas kasur.


"Apa yang terjadi?." Tanya Masamune khawatir.


Mizutani mengambil besi dari tangan Masamune, menarik besi menyesuaikan panjangnya, Masamune yang melihat itu segera memberikan kantung darah ditangannya lalu beralih menyelimuti Yuki. Setelah selesai mereka keluar dari kamar.


"Yuki memiliki penyakit langka yang mengharuskan ia mendapat transfusi darah." Mizutani tidak sepenuhnya berbohong, ia sebaik mungkin menjelaskannya kepada Masamune.


"Apa dia pingsan?." Terlihat jelas raut khawatir di wajah Masamune.


"Tidak, Yuki sepertinya sedang tertidur. Dia kehilangan energinya."


"Dokter memperbolehkanku membawa Yuki pulang, jadi tolong jaga dia Masamune san. Aku tidak bisa selalu berada di sini." Pinta Mizutani.


"Tentu saja, aku pasti akan menjaganya." Jawab cepat Masamune.


"Hm, aku akan mengambil barang dari rumah sakit." Ujar Mizutani langsung pergi ke luar rumah.


Mizutani kembali dengan kotak pendingin di tangannya, laki-laki itu membuka kulkas, menarik rak bagian bawah memindahkan semua barang-barang yang ada di bagian bawah kulkas ke bagian atas.


"Perlu saya bantu?." Tawar Masamune.


"Tidak, terima kasih. Nanti saat kantung darahnya tinggal sedikit tolong berikan kantung yang lainnya." Masamune mengangguk paham.


Masamune sangat terkejut saat Mizutani membuka kotak pendingin, melihat betapa banyaknya kantung-kantung darah yang dia bawa.


Apa Yuki membutuhkan sebanyak itu, batin Masamune.


Mizutani mulai memasukan kantung-kantung darah ke dalam kulkas.


"Aku akan kembali ke sekolah, tas Yuki masih tertinggal di sana." Mizutani berdiri mengangkat kotak pendingin yang sudah kosong.


"Aku akan datang lagi sebelum jam makan malam." Ujar Mizutani melirik jam di tangannya.


"Sebaiknya anda minum dulu Mizutani san, saya sudah membuatkan teh untuk anda." Ucap Masamune.


"Terima kasih, tapi tugasku di sekolah masih banyak, lain kali saja." Tolak Mizutani.


***


Di sekolah Mizutani segera menghampiri orang yang membantunya, dia adalah salah satu donatur besar di sekolah itu usianya tujuh tahun lebih tua dari Mizutani.


"Bagaimana keadaannya?." Tanya laki-laki itu. Mereka sedang berada di ruangan Mizutani, hanya berdua.


"Sangat buruk, mungkin." Mizutani mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dia seperti habis membantai seluruh kompeni, bagaimana dia bisa bertahan sampai saat ini?." Ujar laki-laki itu.


"Aku saja hancur melihatnya seperti itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan nyonya besar dan Daren dono." Laki-laki itu menarik nafas panjang.


"Kelangsungan kelompok kita bergantung kepada gadis kecil itu, aku sangat meragukannya." Ucapnya menatap Mizutani meremehkan.


"Apa anda juga meragukan pengamatanku?, jika anda masih ragu silahkan menemuinya dan uji dia." Kata Mizutani tanpa keraguan.


"Kau tidak keberatan dengan apa yang akan aku lakukan?."


"Tentu saja, jika anda bisa." Tantang Mizutani.


"Pfftt, apa kamu tidak melebih-lebihkan gadis kecil itu Mizutani. Gadis itu tidak pernah mendapatkan pelajaran dari tuan besar (kakek Yuki)." Mizutani tetap tenang di tempatnya.


"Silahkan jika anda masih meragukannya, tapi saya minta. Anda berhati-hati saat menemuinya, jangan sampai rahasia kita terbongkar." Mizutani membalas tatapan laki-laki di depannya. Laki-laki itu menarik ujung bibirnya menampilkan senyum sinis.


"Sudah aku bilang kamu terlalu melebih-lebihkannya." Balas laki-laki itu.


"Aku sudah mengurus semuanya, tidak ada yang melihat. Kepala sekolah juga sudah aku tangani, tidak ada alasan lagi aku berada di sini." Laki-laki itu berdiri.


"Sepertinya kediaman utama mulai bergerak, kita tidak bisa terus-terusan merahasiakan keberadaan kita, karena itu aku ingin melakukan sesutu kepada gadis kecil itu, aku akan melihat apa dia pantas untuk kita perjuangkan." Laki-laki itu meninggalkan Mizutani yang terdiam di ruangannya.