
Yuki menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga, ia berbalik untuk menatap Fumio.
"Apa ada sesuatu yang tertinggal ojou sama?." Tanya Fumio yang mendapati Yuki tetap bungkam meski sudah berdiri lama menatapnya.
Hening.
Yuki sendiri tidak tahu, ia hanya ingin berbalik dan tiba-tiba isi kepalanya blank (kosong). Apa yang terjadi padanya, tenggorokannya seperti menimbun banyak kalimat yang ingin keluar namun lidahnya kelu.
"Mau saya antar?." Yuki tetap diam.
"Apa anda baik-baik saja?." Fumio berjalan menghampiri Yuki untuk memastikan.
Gadis itu berubah seperti patung. Bahkan maniknya tidak lepas dari wajah Fumio, dan anehnya ekspresi Yuki sangat datar.
Zzzz ... Zzzz ...
Getaran di dalam saku menyadarkan Yuki. Tangannya segera mengangkat panggilan itu.
"Hm?." Yuki menempelkan benda pipih di telinganya.
"Bisakah kamu sedikit mengganti sapaanmu, Yuki." Daren menegur putrinya.
"Maaf, ada apa?." Tanya Yuki.
"Ayah ada di restoran dekat kuil Ume, kamu bisa kemari?." Yuki menaikan satu alisnya.
"Ayah sudah sampai di jepang?. Kenapa tidak langsung pulang?." Yuki mendengar suara berisik di sebrang sana.
"Kemarilah, ayah tiba-tiba ingin melihat hanabi (kembang api) denganmu." Pinta Daren.
"Ayah, aku tidak memiliki pil lagi." Jawab Yuki, ia juga ingin melihat pemandangan indah itu tapi semenjak kejadian tadi malam ia sedikit khawatir hukuman itu akan aktif lagi.
Fumio mngamati ekspresi Yuki.
"Ayah punya, Jun Ho si memberikan satu kepada ayah. Apa itu cukup?." Terdengar nada berharap dari Daren, toh Yuki sudah lama tidak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Ya, walau pun dulu bisa di bilang menghabiskan waktu bersama, dalam pekerjaan.
"Apa aku perlu merubah penampilan?." Tanya Yuki.
"Tidak, kamu boleh memakai apa pun." Jawab Daren.
"Apa ayah bersama orang lain?." Daren yang berada jauh di sebrang sana merasakan keanehan.
Apa sesulit ini mengajak putri sendiri pergi, sejak tadi Yuki terus bertanya, batin Daren.
"Tidak, ayah sendiri." Yuki berpikir sebentar.
Ayahnya hanya memiliki satu pil, akan sulit menangani dirinya jika kemungkinan buruk terjadi.
"Apa aku boleh mengajak seseorang?." Tanya Yuki.
"Siapa?." Tidak ada orang lain lagi untuk di ajak pergi sekarang juga, kecuali pemuda di depannya. Yuki juga tidak mungkin mengajak pelindung yang tidak mengetahui hukuman di dalam tubuhnya.
"Aku akan pergi bersamanya sekarang, ayah kirimkan alamatnya." Jawab Yuki langsung memutus sambungan.
Gadis itu menghela nafas pelan. Ia mengenyahkan perasaan-perasaan yang membuatnya bingung.
"Maaf, apa aku boleh minta tolong?." Tanya Yuki tanpa menatap wajah Fumio.
"Apa yang bisa saya bantu?." Yuki melirik pesan baru di ponselnya.
"Pergi ke alamat ini." Yuki menunjukkan pesan Daren.
Fumio membacanya sekilas lalu memanggil pelayan mengatakan kepada pelayan itu Ai sedang tidur di kamarnya. Pelayan segera mengambil tubuh kecil Ai membawanya ke kamar milik gadis itu.
Fumio mempersilahkan Yuki untuk jalan lebih dulu, lalu ia mengikuti dari belakang.
Di sepanjang perjalanan Yuki dipenuhi rasa bosan yang teramat sangat, ia memilih menatap ke luar jendela mobil. Neneknya sudah menelfon dua kali dan sekarang ke tiga kalinya.
"Halo nek." Fumio tidak melirik ke arah Yuki ia tetap fokus menyetir.
"Hotaru bilang kamu pergi bersama Fumio kun?." Tanya Lusi.
"Ung."
"Apa kamu bisa pulang makan malam nanti?."
"Tidak nek, aku pulang lebih malam." Tolak Yuki.
"Setelah pulang bisa ke ruang depan?." Yuki menaikan satu alis.
"Aku sepertinya tidak bisa, apa ada sesuatu?." Tanya Yuki.
"Nenek sudah ada janji dengan seorang designer untuk mengukurmu, kamu perlu gaun baru untuk pesta." Jelas Lusi.
"Beli jadi saja nek." Saran Yuki.
"Tidak bisa, nenek kurang suka." Tolak Lusi.
"Di butik banyak yang bagus." Rayu Yuki. Ia tidak punya waktu lebih untuk melakukan itu. Jika Lusi setuju ia akan langsung membelinya sekarang bersama Daren.
"Baiklah nenek akan menyuruh designernya pergi ke kamarmu." Yuki menghela nafas.
"Besok pagi, bagaimana?." Tawar Yuki.
"Pagi, jam tujuh." Pinta Lusi.
"Ung."
"Baiklah, nikmati waktumu. Besok akan menjadi hari yang panjang." Ujar Lusi.
Sambungan terputus. Yuki menatap layar ponselnya sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku namun, belum sempat ia memasukkannya ponsel itu kembali bergetar.
"Hotaru ..." Lirih Yuki.
"Kenapa suaramu lesu seperti itu?. Apa yang di lakukan Eiji padamu?." Yuki tidak menjawabnya.
"Ada apa?." Tanya Yuki.
"Kamu di mana?, tidak biasanya mengajak Eiji pergi." Yuki heran, kenapa dengan semua orang hari ini.
"Aku ingin melihat dokumen yang di simpan di rumah keluarga Fumio san." Jawab Yuki jujur.
Pembicaraan dengan Hotaru terus berlanjut sampai mobil berhenti di depan sebuah restoran. Yuki menutup telefonnya dan berjalan memasuki restoran bersama Fumio di belakangnya.
Yuki menyipitkan mata melihat punggung tegap kokoh yang di balut jaket denim, terlihat trendi. Tanpa menunggu lama ia berjalan menghampiri sosok itu. Spontan Yuki menutup mulutnya dengan tangan dan membulatkan matanya.
"Wow ..." Lirih Yuki.
"Kamu sudah datang." Balas Daren beralih dari layar ponselnya.
Yuki belum pernah melihat ayahnya memakai baju selain kemeja, jas, celana kain, dan sepatu kerjanya. Oh jangan lupakan dasi yang selalu melilit leher pria itu.
Yuki mengamati penampilan Daren dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambut yang selalu rapi terlihat acak-acakan namun sangat bergaya menonjolkan garis alis tebal yang tegas, kaos pendek putih polos yang tertutup jaket denim yang di biarkan terbuka, celana PENDEK di bawah lutut berwarna hitam, dan sepatu sneakers putih.
Ya ampun!, ayahnya berubah sangat berbeda. Auranya pun berubah, apalagi di dukung oleh wajah dan usianya yang terbilang masih muda untuk ukuran pria beranak dua.
Yuki terpesona oleh ayahnya, ayahnya benar-benar sangat cool di mata Yuki.
Mata biru gelap itu menatap putrinya lalu tertawa pelan.
"Apa ayah semenakutkan itu?." Yuki tersadar ia mengedipkan matanya berkali-kali.
"Who are you? (Siapa kamu?)."
Pertanyaan iseng itu keluar begitu saja dari bibir Yuki saking tidak percayanya ia kalau itu benar-benar Daren, presdir yang sangat berkharisma memiliki wibawa besar dan seorang ayah yang banyak menekannya serta gila bekerja.
"Jangan bercanda Yuki." Tegur Daren.
"Aku bisa mengerti kenapa iblis itu jatuh hati kepada ayah." Komentar Yuki.
"Terima kasih untuk pujian pertama yang ayah dapatkan darimu tapi bisakah tidak menyebutnya, iblis?. Dia," Yuki langsung melanjutkan kalimat Daren.
"Bukan ibuku. Ya, selain itu. Siapa yang mengira pria yang sedang duduk ini sudah berkepala tiga." Komentar Yuki masih saja tajam. Gadis itu menarik kursi lalu duduk di depan Daren, melirik Fumio yang masih berdiri.
"Selamat sore Daren dono." Fumio membungkuk sopan.
Daren sangat terkejut melihat Fumio, ia terlalu sibuk dengan putrinya sampai tidak memperhatikan ada orang lain di sana. Orang yang di maksud Yuki di telefon tadi ternyata adalah pemuda ini. Daren langsung berdiri, saking senangnya ia langsung memeluk singkat Fumio menepuk-nepuk punggung pemuda itu.
"Ayo duduk." Daren mempersilahkan. Fumio tersenyum sopan lalu menarik kursi di samping Yuki.
"Jadi, kamu sudah kembali kepada Eiji kun. Sejak kapan?." Terdengar nada gembira pada suara Daren, pria dua anak itu kembali duduk di kursinya.
"Kembali?, tidak. Kebetulan dia yang ada di dekatku sekaligus yang tahu tentang hukuman ini. Untuk berjaga-jaga kalau hukuman akan aktif lebih dari empat puluh menit." Jawab jujur Yuki melukai hati kedua pria itu.
Daren melirik Fumio tersenyum kecil yang di balas senyuman ramah oleh pemuda itu. Daren memanggil pelayan restoran.
"Sambil menunggu mau pesan apa?." Tanya Daren. Pelayan memberikan buku menu kepada Yuki.
Pelayan itu akhirnya bisa melihat dengan dekat pria matang yang sangat keren dan gadis rupawan beserta pemuda tampan menawan yang sudah banyak menarik perhatian para pengunjung dan karyawan restoran sejak mereka datang.
Yuki memesan es krim berukuran paling besar lalu memberikan buku menunya kepada Fumio. Pelayan meninggalkan meja mereka setelah Fumio selesai memesan.
"Ayah, aku ingin menanyakan sesuatu." Daren menyandarkan punggungnya.
"Sebelum bertanya biarkan ayah bicara dulu." Sela Daren. Yuki seketika diam menunggu apa yang akan di katakan oleh Daren.
"Kalian bertengkar lagi?." Tanya Daren.
"Hanya sebentar." Jawab Yuki.
"Menodongkan pisau ke leher Hotaru?." Daren menatap lurus putrinya.
"Kalau aku tidak melakukannya Hotaru tidak akan berhenti." Daren menghela nafas kecil.
"Ayah membuatmu belajar bela diri bukan untuk menyerang saudaramu." Ucap Daren.
"Maaf." Tapi aku akan menyerang iblis itu, batin Yuki.
"Tidak juga ibumu Yuki." Daren menekankan kalimatnya. Yuki tersenyum meledek mendapati Daren paham apa yang sedang ia pikirkan.
"Sayangnya dia bukan ibuku." Balas Yuki. Fumio melirik gadis itu.
"Mau sampai kapan pun dia tetap ibumu, kamu lahir dari rahimnya." Daren berusaha untuk membuka pikiran dan hati Yuki tentang Ayumi.
"Itu sebuah kesalahan." Daren mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Jadi darah ayah yang mengalir di dalam tubuhmu juga sebuah kesalahan." Yuki tanpa sadar mengulum bibirnya ke dalam, ia sedikit kesal karena Daren.
"Apa yang sedang kita bicarakan sebenarnya." Yuki membuang pandangannya ke luar jendela yang sayangnya! Fumio duduk tepat di samping jendela, hal itu membuat keduanya saling berpandangan.
Yuki mengerutkan kening. Perasaan yang selalu membuatnya frustasi tanpa ujung itu kembali menyerangnya.
"Ada apa?." Daren mengusap pucuk kepala Yuki melihat raut wajah bingung putrinya.
"Aku semakin takut jika sikap ayah berubah tiba-tiba seperti ini." Jawab Yuki menyembunyikan perasaannya dan beralih menatap Daren.
"Hahaha, padahal dulu ayah sering melakukannya kepada putra putri ayah." Balas Daren dengan tawa berat yang menawan.
"Huufffttt, aku ingin mengingatnya. Sayang sekali ada harga mahal yang harus aku bayar untuk itu." Ucap Yuki menyangga dagunya dengan tangan.
Daren tersenyum tipis, senyum klise yang selalu di berikan kepada klien-kliennya. Pelayan mengantarkan pesanan mereka, fokus Yuki beralih kepada gunung es krim coklat, vanilla, strawberry, maccha, yang di tumpuk menjadi satu, di tambah taburan-taburan yang membangkitkan jiwa kuliner gadis itu.
"Silahkan pesanan anda." Pelayan undur diri meninggalkan meja mereka.
Yuki segera mengambil sendok kecil dengan mata berbinar membuat Daren dan Fumio tersenyum, suasana hati gadis itu akan cepat berubah jika dihadapkan dengan makanan yang sesuai seleranya.
"Ayah dengar kamu sudah berani mencium laki-laki."
"UHUK!." Yuki melebarkan matanya mendengar kalimat mengerikan itu dari mulut Daren. Es krim yang baru sampai di mulut tenggorokannya pun membuat Yuki tersedak.
"Uhuk!, uhuk!, ay. Uhuk!." Fumio menyodorkan gelasnya.
"Minum ini." Tanpa pikir panjang Yuki menyeruput minuman penuh es batu itu.
Sluuurrpp.
"UHUKK!. Aaaggghh ..." Yuki tersentak ke belakang sampai membentur punggung kursi, matanya terpejam kuat, kedua tangannya mengepal di depan dada bergetar kecil.
Ekspresi Yuki membuat Daren tertawa tertahan yang di tutup dengan lengannya. Putrinya terlihat menyipitkan mata, tubuhnya bergetar dari bawah menjalar ke kepalanya, Yuki menutup matanya lagi erat-erat, kakinya terdengar menghentak-hentak cepat di bawah meja.
"Pahit. Agh, ya ampun." Kini tangan terkepalnya terbuka menutupi mulut.
"Maaf, ini." Yuki melihat segelas air putih yang di sodorkan di depan wajahnya, secepat kilat Yuki meraih gelas itu bersama tangan yang memegangnya.
Menengguknya seperti orang kesetanan, yang ada di dalam pikiran Yuki adalah sesegera mungkin melenyapkan rasa pahit yang menyakitkan di dalam mulutnya.
"Pelan-pelan." Fumio menepuk-nepuk pelan punggung Yuki.
Yuki melepaskan bibirnya dari mulut gelas, ia terengah, kepalanya pusing.
Kopi sialan, umpat Yuki dalam hati.
"Aku hampir mati." Celetuk Yuki, tangannya terjatuh lemas.
Fumio segera menjauhkan tangannya dari punggung Yuki dan berjalan kembali ke kursinya.
"Kamu tidak akan mati karena kopi." Balas Daren tersenyum geli melihat putrinya yang shock.
Yuki pasti tidak sadar telah memegang tangan Eiji kun, batin Daren.
"Ayah. Tidak lucu." Geram Yuki menatap horor gelas berisi air gelap dengan es batu yang mengapung. Jarinya mendorong gelas itu ke samping dengan wajah tidak suka.
"Ayah baru tahu kamu tidak bisa minum kopi. Keputusan ayah mengajakmu pergi sangat tepat, dengan begini ayah lebih mengetahui perubahan-perubahan putri ayah yang sudah beranjak dewasa." Yuki menghela nafas berat, tangannya langsung memasukkan beberapa suapan es krim ke dalam mulut untuk menghilangkan bayang-bayang rasa pahit dari kopi itu.
"Akh, iya. Apa lagi mencium mahasiswa universitas tokyo." Yuki melempar tatapan tajamnya kepada Daren, sebelumnya Yuki tidak pernah berani menatap Daren seperti itu meski setelah semua yang ayahnya lakukan kepada Yuki.
"Aku tidak menciumnya ayah." Yuki menggeram kesal.
"Lalu apa itu namanya?." Sudah belasan tahun Daren tidak menggoda putrinya yang manis itu, bibir Daren sedang tersenyum melihat wajah kesal Yuki tapi, jauh di dalam sana hatinya sedang menangis karena rasa rindu akan momen-momen manis mereka seperti sekarang ini.
"Aku mencium tanganku sendiri." Yuki membela diri. Ia ingat apa yang Hajime katakan. Mencium tangan tidak di hitung sebagai ciuman, itu yang di katakan tetangganya.
"Dengan menempelkan tanganmu di bibirnya?." Yuki langsung memutar bola matanya jengah.
Kenapa ayah berubah menjadi mahluk menyebalkan?, apa yang merasukinya, gerutu Yuki dalam hati.
"Tanganku tidak menempel, sama sekali. Berhenti memata-mataiku." Yuki cemberut langsung memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulut.
Agh, apa yang salah dengan dirinya?. Kenapa mudah sekali emosi karena masalah tidak penting, pikir Yuki sadar akan dirinya. Ia menghela nafas panjang menenangkan diri.
"Apa sebaiknya ayah mengundang mahasiswa itu ikut ke dalam pemilihan?." Tawar Daren.
Selain menggoda putrinya sikap Daren saat ini juga untuk mencari tahu bagaimana perasaan putrinya kepada mahasiswa itu, apakah alam bawah sadar Yuki masih memilih Fumio atau sudah digantikan oleh orang lain?.
Daren tidak ingin memaksa kehendak putrinya dalam memilih pasangan. Tapi putrinya juga harus segera mendaratkan pilihannya karena para keluarga terhormat terus medesak Daren, Lusi, dan Hotaru untuk melakukan pertunangan Yuki. Putrinya sudah berusia delapan belas tahun, usia yang di tentukan oleh tetua dulu sebagai peresmian pertunangan Yuki dan Fumio. Seharusnya seperti itu.
"Ayah hentikan. Jangan libatkan dia ke dalam masalah keluarga kita." Jawab Yuki tegas.
"Baiklah, tapi apa kamu yakin?." Daren memastikan, Yuki kembali memutar bola matanya.
"Ok ok, ayah berhenti." Daren menyeruput kopinya seraya mengulas senyum geli.
"Ayah tahu dimana kampung halaman selir kaisar?." Wajah Daren berubah serius mendengar pertanyaan tiba-tiba dari putrinya.
"Kenapa?."
"Jawab saja." Balas Yuki.
"Selir kaisar berasal dari hokkaido." Yuki seperti sedang berpikir.
"Ayah tahu tentang selir kaisar?. Apa dia dari keluarga terpandang dulu?, bagaimana dia bisa menjadi selir?." Tanya Yuki tidak bisa menahan diri.
"Kenapa kamu mencari tahu tentang ini?. Apa ada sesuatu?." Yuki menganggukkan kepala.
Tangannya mendorong mangkuk es krim ke tengah meja, meraih gelas kopi Fumio, meletakannya di samping mangkuk es krim lalu gelas kopi Daren di sisi yang lain.
"Kita seperti sedang di buat memutari tiga benda ini. Dan di setiap perjalanannya di pasang perangkap-perangkap untuk menghambat kita menyadari apa yang sebenarnya harus kita hadapi." Yuki mulai membicarakan ini dengan Daren.
"Aku sangat berterima kasih kepada ayah karena sudah gila berkerja menaikan kedudukan ayah di mata dunia sebagai pengusaha yang membuat klan yakuza tidak berani membidik ayah sebagai target. Di sini ayahlah yang bisa bebas memotong jalur kita menuju sisi gelas ini." Yuki menunjuk gelas Fumio paling kanan.
"Aku sedang memotong sisi lain." Menunjuk gelas Daren di sebelah kiri.
"Lalu menggiring para agen memotong di depan dan belakang. Setelah itu, para pelindung memiliki bagian paling atas. Untuk bagian bawah tanah, hanya boleh untukku." Yuki menjeda sebentar. Fumio ikut serius mendengarkan.
"Apa sebenarnya tiga gelas ini?." Yuki menatap ayahnya lekat-lekat.
"Apa ayah bisa menebaknya?." Pancing Yuki. Daren menatap gelas miliknya.
"Kristal." Yuki mengangguk mantap.
Daren beralih menatap gelas Fumio.
"Klan?." Ucap Daren ragu. Yuki menggelengkan kepalanya lemah lalu menunjuk gelas Fumio.
"Aku, dan yang paling besar ini adalah dendam." Fumio dan Daren menatap Yuki tidak percaya.
"Kenapa dendam?." Tanya Daren.
"Klan tidak pernah menyulut api kepada siapa pun." Imbuh Fumio.
"Bukan klan, tapi mereka. Dendam ini sudah ada sebelum klan terbentuk." Jawab Yuki.
Fumio memutar otaknya dengan potongan-potongan yang berusaha Yuki sampaikan.
"Apa itu alasannya anda mencari tahu tentang selir?." Daren menoleh menatap Fumio yang tenang.
"Ini berhubungan Daren dono. Menurut saya. Selir, klan naga putih, mereka berkaitan satu sama lain. Pemimpin klan naga putih berusia tidak jauh berbeda dengan tuan besar, apa mungkin klan itu juga berusia sama dengan klan kita?." Fumio mengutarakan pemikirannya.
"Ung, aku membaca nama kedua saudara selir kaisar ada di salah satu buku sejarah di perpustakaan pandora dan Youtaro san pernah mengatakan padaku kalau klan naga putih ada sejak zaman dahulu." Yuki menghentikan argumennya sebentar.
"Aku belum tahu pasti apa masalah mereka dengan kita, keluarga utama. Bukan pada klan. Aku butuh informasi lebih tentang selir kaisar dan kedua saudara selir. Bisakah ayah meluangkan waktu pergi bersamaku?." Daren terlihat tenang dan fokus.
"Kamu benar, mereka selalu mengincar keluarga utama. Jika mereka mengincar klan seharusnya sudah menyerang klan di saat pemimpin klan tidak ada di tempat." Ujar Daren, Yuki menganggukkan kepala menarik mangkuk es krimnya yang hampir mencair.
"Kita mau kemana memang?." Tanya Daren teringat kalimat terakhir Yuki.
"Berkelana sebentar, sebagai gantinya aku akan membantu di perusahaan ayah, bagaimana?." Yuki mencoba bernegosiasi dengan Daren.
Agh, rencananya sangat rapi. Dengan Fumio bersama mereka mendengarkan sedikit isi kepala Yuki dan mengajak Daren untuk pergi bersamanya untuk menjalankan kasus ini akan membuat Lusi dan Hotaru percaya sekaligus tidak menimbulkan kecurigaan. Daren juga satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan bayangan, Yuki sudah mendayung kapal dan lima pulau terlampaui. Diam-diam Yuki tersenyum senang dalam hati.
"Sebaiknya tidak mengajak Daren dono, beliau orang penting di klan. Masih ada pemimpin pelindung atau pelindung tingkat atas yang lain ojou sama." Yuki melirik Fumio seraya menunjuk gelas pemuda itu yang masih berada di tengah meja agak ke kanan.
"Sudah aku katakan bukan, hanya ayah yang bisa memotong arus berputar kita di sini. Kedudukan ayah di mata dunia, itu alasannya. Jika kita bisa bermain halus kenapa harus bermain sembunyi-sembunyi?." Jawab Yuki yang langsung menerbitkan senyum lebar di wajah Daren.
Oh, putri jeniusku, lirih Daren dalam hati merasa sangat bangga.
"Ayah jadi ingin segera menikahkan kalian." Celetuk Daren membuat Yuki berjengit kaget.
"Ayah. Jangan ngaco." Srobot Yuki kesal.
"Hahaha ... Yuki, ayah sudah ingin menimang cucu." Balasan Daren membuat Yuki merasa geli dan kesal secara bersamaan.
"Simpan ide gila ayah." Entah keberanian dari mana Yuki mengatakan gila kepada Daren.
"Hahaha, ayah tidak sabar ingin melihat seperti apa cucu ayah nantinya. Apa dia akan lebih pintar darimu." Yuki tidak tahu kenapa tubuhnya bergetar, ia merinding hebat, ngeri mendengar kalimat ajaib itu.
"Hentikan ayah, aku tidak akan menikah dengan siapa pun, kak Dimas sudah pergi." Daren menghentikan tawanya dalam sekejap. Ia menatap dalam manik yang mirip seperti dirinya.
"Anak itu lagi." Mendengar nada rendah dari Daren membuat Yuki berubah waspada.
"Kenapa dengan anak itu?." Tanya Yuki.
"Lihat di sampingmu. Eiji kun tidak kalah berkorban untukmu." Ekspresi Yuki berubah datar.
Kenapa semua orang selalu membelanya?, batin Yuki kesal.
"Lupakan. Eiji kun, lakukan yang terbaik untuk pemilihan nanti." Titah Daren menatap Fumio.
"Baik Daren dono, saya tidak akan melepaskan ojou sama." Jawab Fumio penuh percaya diri.
"Bagus." Balas Daren.
"Tidak bisakah kamu tidak ikut saja?." Daren melirik cepat ke arah putrinya yang menatap Fumio dari samping.
"Apa pun yang kamu lakukan akan percuma saja. Aku tidak mengingatmu, jangan berharap lebih." Daren melebarkan matanya mendengar kalimat tajam Yuki.
"Yuki." Panggil Daren datar. Gadis itu menoleh kepada ayahnya.
"Apa ayah ingin tahu, aku sangat membenci apa yang aku rasakan sekarang. Sesuatu di dalam diriku memaksa-maksaku untuk mengingat sesuatu, tapi di dalam sana tidak ada yang keluar sedikit pun. Aku membencinya, ketidak tahuan adalah kelemahan, ayah." Ucap Yuki menurunkan jarinya yang telah menunjuk samping kepalanya.
Hening.
"Akan lebih mudah jika hukuman tahap ke dua belum terlewati. Ingatan itu akan muncul se enak hati mereka, tidak perlu merasakan perasaan yang menjijikan ini."
Yuki sangat kesal sampai tidak menyangka ia mengutarakan apa yang ia rasakan. Padahal selama ini ia selalu memendam semuanya sendiri. Wadahnya mulai tidak muat menampung semua kekejaman dunia ini.
"Jadi tolong berhentilah. Aku hanya milik Dimas, anak itu." Yuki melirik Daren sebentar lalu mendorong kursinya pelan berjalan ke luar restoran.
Daren menatap Fumio memperhatikan pemuda itu.
"Apa kamu sanggup menghadapinya yang sekarang?." Tanya Daren.
"Tentu Daren dono." Jawab Fumio tidak ada perubahan di nada suaranya setelah semua kata-kata tajam dari bibir Yuki.
"Aku menyukai pikiran positif dan sifat berjuangmu. Sangat mirip dengan mendiang Fumio san. Kejar dia Eiji kun, buat Yuki sadar." Kata Daren.
"Baik Daren dono, saya permisi." Fumio membungkuk sopan sebelum pergi. Daren mengangguk kecil memberikan restu.
Aku tidak ingin melepas Eiji menjadi menantuku. Nenek Yuri sudah memilih orang yang sangat tepat. Yuki, cepat sadarlah nak, dia adalah laki-laki yang hebat seperti kakakmu ini, batin Daren menyeruput kopinya.
Di lain tempat, belum jauh dari restoran tempat Daren menunggu. Yuki berjalan sangat cepat berlawanan arah dengan kerumunan yang mulai ramai. Ia merasakan seseorang terus berjalan mengikutinya. Yuki menghentakkan kaki semakin cepat, ia sedikit menyingkir dari keramaian. Kakinya sontak melangkah mundur ketika tiga anak laki-laki saling kejar-kejaran lewat di depan kakinya persis.
Set.
Pak.
Yuki langsung menyikut ke belakang agar tidak menabrak tubuh Fumio yang mengikutinya, pemuda itu menangkap siku Yuki dengan mulus.
"Hahaha, awas!." Laki-laki dewasa memperingati temannya yang sedang berjalan mundur.
Sret.
Bugh.
Yuki lengah karena pikirannya kacau. Kakinya sudah tidak menapak di tanah, tubuhnya sukses menempel dengan Fumio, ia menggelantung dalam gendongan satu lengan pemuda itu, menyelamatkan kakinya dari ancaman sandal kayu tradisional, dan tangan yang lain menahan tubuh orang asing yang sudah gila karena berjalan mundur di keramaian.
Orang gila itu terkejut dan langsung membalikan badan membungkuk berkali-kali meminta maaf. Fumio mengangguk kecil sebagai respon dan mereka pergi. Perlahan tubuh Yuki mulai turun, kakinya sudah kembali menapak di tanah. Tangan itu juga sudah bergerak melepas lilitannya.
Hening.
Tidak!. Suara bising dari orang-orang yang berbondong-bondong pergi ke satu arah di sekitar mereka mengisi kesunyian kedua orang itu.
"Yuu, apa aku mengejutkanmu?."
Lagi!. Panggilan itu membuat Yuki membeku lagi. Ia membencinya, sangat. Suaranya terdengar sangat dekat dengan telinga Yuki, semakin membuatnya frustasi.
Jika ada yang bisa menolongnya tolong beri tahu Yuki cara keluar dari rasa frustasi ini.
Sret.
Fumio bergerak ke samping Yuki, berdiri menghadap gadis itu yang masih tetap bergeming, melindunginya dari luapan barisan pejalan kaki. Sesekali punggung atau lengan Fumio bertabrakan dengan pejalan kaki yang lewat.
"Yuu, mau minggir sebentar?." Tawar Fumio. Tatapan Yuki seakan kosong.
Jari panjang dan besar itu menyentuh ujung dagu Yuki mendorongnya ke atas untuk mempertemukan mata mereka.
"Kamu tidak perlu mengingatnya. Aku akan melukis kenangan baru kita." Perlahan kesadaran Yuki kembali.
Pak!.
Zuut!.
Yuki menampar jari Fumio dari dagunya lalu mendorong kasar pemuda itu.
"Menjauh dariku." Desis Yuki.
"Aku tidak bisa melakukannya." Yuki melirik Fumio dengan lirikan tidak bersahabat.
Sekarang laki-laki itu berbicara non formal dengannya. Aku tidak boleh di buat gila oleh orang ini, batin Yuki menenangkan diri.
"Tujuanku ke sini untuk melihat hanabi (kembang api) dengan ayah." Lirih Yuki berjalan kembali ke restoran. Fumio tersenyum lembut menatap punggung Yuki lalu mengikutinya dari belakang.