Futago

Futago
Rencana.



Hotaru berdiri di samping pelatih seraya menonton pertandingan Jun, Zen, Nagata, dan Atsushi yang di gantikan oleh Yuto.


"Bagaimana caramu membuat Jun melakukan spike?." Hotaru tersenyu kecil mendengar pertanyaan pelatihnya.


"Aku hanya memberikan tos yang sesuai kepribadiannya saja pelatih." Jawab Hotaru.


"Tos seperti itu tidak mudah dilakukan."


"Aku sedang beruntung bisa melakukannya."


"Kamu sudah merencanakannya bukan, tos itu." Selidik Hara.


"Benar sekali, aku sengaja mengembalikan bola tanggung ke Atsushi senpai, dengan kepribadian senpai yang ingin melihat kemampuan lawan dan semangatnya yang tinggi pasti Atsushi senpai akan membuatku berlari ke depan, ia ingin tahu apakah aku bisa menyelamatkan bola." Jelas Hotaru.


"Tapi kamu malah bergerak ke sisi kiri lapangan seakan-akan kamu tahu Jun akan menyelamatkan bola itu." Lanjut pelatih.


"Tebakan anda benar pelatih, Jun bergerak sesuai perhitunganku. Aku menarik perhatiannya agar ia fokus denganku lalu beralih fokus ke bola yang akan aku berikan kepadanya. Sedikit sentuhan kecil untuk menggerakan siput sipit itu." Hara menatap anak muda di sampingnya.


"Dunia harus menunggu lama untuk bayi jenius sepertimu. Menebak kepribadian seseorang tidaklah mudah, bahkan orang dewasa sekali pun banyak yang tidak bisa melakukannya." Hotaru menghilangkan senyum di wajahnya.


"Ceramah panjangmu itu menyentuh lubuk hati Jun di dalam sana, kakak Jun dulu juga sering menceramahinya panjang lebar, mungkin kamu mengingatkan Jun dengan kakaknya." Ucap pelatih.


"Pelatih saudara siput sipit?." Tanya Hotaru.


Hotaru tahu, ia sudah menebaknya ketika Nagata mengajaknya berbicara, Nagata sangat mengkhawatirkan Jun, sikap acuh Jun, dan semua perilaku Jun yang sejak kemarin menarik perhatian Hotaru, sedikit mirip saat Yuki kehilangan Dimas. Kakak Jun sudah lama meninggal.


"Bukan, dulu aku tinggal di samping rumahnya." Jawab Hara.


Puk. Hotaru menoleh ke samping mendapati Yamazaki yang tersenyum kepadanya.


"Pertandingan yang menarik, istirahatlah dulu Hotaru kun." Ucap Yamazaki.


"Terima kasih sensei." Hotaru membungkuk sebentar lalu pergi meninggalkan dua pria paruh baya itu.


"Keringatmu lumayan juga." Kata Fumio tangannya mengulurkan handuk yang diterima oleh Hotaru. Fumio menepuk lantai di sebelahnya.


"Duduk?."


Hotaru langsung duduk meluruskan kakinya di samping Fumio.


"Bagaimana, kau bersenang-senang?." Tanya Fumio.


"Tentu, dan sekarang Yuki pasti sedang kebingungan memikirkanku." Balas Hotaru membuat Fumio tertawa kecil.


Tiba-tiba sebuah botol terulur di depan Hotaru, Hotaru menatap jari lentik di depannya dan kuku sedikit panjang yang terawat itu.


"Kamu membutuhkannya bukan." Hotaru mendongak pelan mendapati Karin manager kelas tiga berdiri sedikit membungkuk untuk memberikannya minuman bervitamin.


"Terima kasih." Ucap Hotaru menerima botol berwarna hitam itu.


"Kamu sangat luar biasa tadi." Kata Karin lalu pergi meninggalkan Hotaru.


"Ekhem, di lihatin terus." Suara Fumio menyadarkan Hotaru.


Fumio melirik sahabatnya yang tiba-tiba diam, Hotaru menengguk banyak-banyak air di dalam botol itu, menutupnya pelan.


"Aku tahu, aku juga sangat merindukannya." Hotaru menoleh melihat Fumio menatapnya dengan senyuman khas laki-laki itu.


"Panjang rambutnya sama dengan Yuki." Lirih Hotaru.


"Yuki tidak memiliki poni, rambutnya lebih hitam, berkilau, dan sangat halus. Persis dengan punya ibu." Lanjutnya.


"Hm .., apa dia juga suka mengikat rambutnya?." Tanya Fumio melukis gambaran wanita sesuai dengan ciri-ciri yang Hotaru sebutkan.


"Tidak, aku tidak suka Yuki menunjukan lehernya." Fumio mengangguk setuju.


"Dia selalu mengikat separuh rambutnya di sekolah, hanya bagian atasnya."


"Apa banyak pria yang menyukainya?." Hotaru tersenyum kecil mendengar nada suara Fumio.


"Ung." Jawab Hotaru melirik Fumio yang menerawang jauh ke depan sana.


"Aku menanyakan hal yang sudah jelas."


"Hotaru." Panggil Fumio.


"Hm?."


"Menurutmu, apa dia masih mengingatku?."


"Entahlah, aku dan Yuki tidak pernah membahas tentang masa lalu, kami terlalu sibuk, lebih tepatnya Yuki yang terlalu sibuk." Jelas Hotaru.


"Merak kecil kita tidak bisa terbang bebas seperti dulu Eiji, bahkan saat aku di sampingnya aku tidak bisa membantu sama sekali."


"Dia berkembang dengan kecepatan penuh, apa yang kakek takutkan benar-benar terjadi. Kita tidak punya waktu untuk memancing mereka." Suara berat Hotaru menandakan otaknya sedang berpikir sangat keras.


Hotaru meremas kaos sebelah kirinya tepat dimana jantungnya berada.


"Sudah satu tahun aku tidak pernah merasakannya. Aku berpikir bahwa dia pasti baik-baik saja sampai aku mendengar keberadaannya yang tidak dapat di lacak lagi, dua bulan setelah aku meninggalkannya." Fumio melihat Hotaru menyilangkan kakinya, posisi yang selalu sahabatnya lakukan jika ingin menenangkan diri.


"Beberapa minggu yang lalu, aku sengaja menemui sahabat indonesiaku yang selalu membantu kami. Aku hampir kehilangan pikiran jernihku setelah mendapatkan informasi darinya." Fumio yang hendak menghentikan Hotaru mengurungkan niatnya, rasa penasaran yang sangat tinggi membuatnya tetap diam.


"Yuki sakit." Fumio melebarkan matanya menatap Hotaru. Yamazaki yang berada lumayan jauh dari mereka pun menangkap ekspresi yang sudah sangat lama tidak pernah Fumio tampakan.


"Aku tahu, merak kecil kita tidak pernah sakit. Hanya demam sehari besok pasti sembuh, tapi ini berbeda. Jika dia mengingat kejadian disaat aku meninggalkannya, Yuki akan kesakitan, dia mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidungnya, kau tahu itu artinya apa kan Eiji." Hotaru mengepalkan tangannya dengan sangat keras tapi ekspresi wajahnya tetap tenang, ia kembali mengontrol pernafasannya.


Fumio menegang. Sial, rutuk Fumio dalam hati tangannya meraih botol di samping Hotaru meminumnya sampai habis.


"Kita tidak bisa menunggu sampai hari sabtu. Aku akan berbicara dengan Takeru san, tunggulah di sini sebentar." Setelah mengatakan itu Fumio beranjak pergi meninggalkan Hotaru.


Tidak disangka Yamazaki juga sedang berjalan hendak menghampiri Fumio, mereka bertemu di pertengahan jalan. Mereka saling menatap satu sama lain lalu Fumio mengangguk sekilas.


Yamazaki memimpin jalan, mereka berhenti di belakang gor yang luas, mempermudah pandangan mereka jika ada seseorang yang mendekat.


"Ada apa?." Sergah cepat Yamazaki.


"Keadaan sepertinya tidak sebaik yang kita pikir. Aku rasa aku tahu alasan Hiro san menandai nama adiknya." Kata Fumio.


"Rin." Gumam Yamazaki. Fumio mengangguk sekilas.


"Ada sesuatu yang terjadi dengan ojou chan, aku juga sudah menebaknya." Lanjut Yamazaki.


"Tapi kenapa Hotaru juga tidak di perbolehkan kembali ke rumahnya, kediaman utama." Lanjut Fumio.


"Kita sudah membahas ini Eiji kun." Fumio menggeleng pelan.


"Memang dulu kita berpikir kalau Hotaru tahu rencana Ayumi dono, tapi itu salah. Aku sangat yakin Hotaru tidak tahu. Dia masih memegang teguh pesan-pesan tuan besar. Dan ada sebuah rahasia yang Hotaru sembunyikan, dia membutuhkan kita Takeru san." Yamazaki berpikir keras.


"Bisakah anda meminta izin kepada Rin san agar Hotaru menginap di rumahku malam ini?." Pinta Fumio.


"Bagaimana dengan latihanmu?." Tanya Yamazaki.


"Aku akan melakukan sesuatu."


"Apa kau yakin, jika Fumihiro tahu dia mungkin akan marah." Ujar Yamazaki.


"Tidak, Hotaru tidak di tandai, kita masih bisa berbicara dengannya." Fumio menatap Yamazaki untuk beberapa saat.


"Takeru san, apa anda masih berada di pihak kami?." Pertanyaan yang terlontar dari bibir Fumio menimbulkan senyum cerah Yamazaki.


"Apa kau pernah meragukanku?." Fumio ikut tersenyum mendengar jawaban Yamazaki.


"Kami perlu anda nanti malam."


"Baiklah sudah di pastikan, kita berkumpul nanti malam. Tidak di rumahmu." Fumio mengangguk sekilas.


"Situasinya belum pas. Ayah dan adikku tidak tahu menahu tentang keluarga utama." Lirih Fumio berpikir.


"Bagaimana dengan ibumu?."


"Ibu sudah siap dengan segala sesuatunya sejak menikah dengan almarhum ayah." Jawab Fumio.


"Ibumu memang wanita terhormat."


"Jadi, kita akan berkumpul di mana?." Tanya Fumio kembali ke inti.


Yamazaki tersenyum cerah, matanya berkilat terang.


"Seperti ciri khas klan kita." Fumio tertawa kecil mendengar jawaban Yamazaki.


Fumio menghampiri Hara melapor kalau dia sudah kembali setelah itu ia berjalan menuju Hotaru yang kini sedang duduk bersama Atsushi.


"Sepertinya kalian sudah lebih akrab." Ujar Fumio berdiri di depan kedua pemuda itu.


"Hachi kun lumayan juga." Celetuk Atsushi.


"Berapa nilaiku senpai?." Ledek Hotaru.


"Empat."


Hotaru melirik Atsushi protes.


"Tolong jangan terlalu keras kepadaku." Atsushi melempar handuknya ke wajah Hotaru.


"Empat itu sudah besar untuk anak baru sepertimu." Sergah Atsushi.


"Hahahaa, baiklah aku hanya perlu mencari enam." Hotaru menjauhkan handuk dari wajahnya, Atsushi menepuk cukup keras belakang kepala Hotaru hingga terdorong ke depan.


"Selamat bergabung."


Hotaru dan Fumio yang tadinya terkejut dengan pukulan cukup keras itu kini berubah bingung. Atsushi ternyata bukan orang yang kaku, sedari tadi Hotaru meledek seniornya itu.


Hotaru menatap wajah Atsushi lekat-lekat membuat yang di tatap melemparkan pukulan kedua.


Hotaru dengan gesit menghindar dari serangan Atsushi, menjadikan aksi serang dan menghindar di antara mereka.


"Ini perundungan anak baru namanya." Seru Hotaru di dalam kesibukannya menghindari tangan Atsushi.


"Anak baru belagu sepertimu pantas mendapatkannya." Balas Atsushi semakin bersemangat mengincar tubuh Hotaru.


"Senpai masih marah karena aku bisa mengembalikan servismu bukan." Tebak Hotaru asal.


"Kenapa aku harus repot-repot marah, kalau kau tidak bisa mengembalikannya bukan hanya pukulan yang akan aku berikan padamu." Jawab Atsushi.


"Tetap saja, ini pelanggaran senior kepada juniornya."


"Junior cerewet harus di bungkam mulutnya." Atsushi mempercepat gerakkan tangannya membuat Hotaru semakin berusaha melindungi diri.


"Kekerasan tidak di benarkan, senpai."


Kedua laki-laki itu terlalu sibuk sampai tidak menyadari udara di sekitar mereka berubah dingin, seseorang yang sedari tadi melihat keduanya menekuk lutut berjongkok meletakan kedua lengannya di atas lutut, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Hentikan."


Hanya satu kata dari Fumio berhasil menghentikan mereka. Suara pelan dan halus itu sukses membuat bulu kuduk Atsushi dan Hotaru berdiri, perlahan keduanya menoleh ke asal suara.


Fumio dengan wajah datar, bibir tertarik ke atas, dan bola matanya yang menatap Atsushi dan Hotaru secara bergantian terlihat sangat mengerikan.


"Maafkan aku." Ucap cepat Hotaru seraya menjauhkan diri dari Atsushi begitu pun Atsushi yang segera menjauh dari Hotaru.


"Baiklah, ayo kita latihan lagi." Fumio berdiri berjalan ke lapangan. Atsushi membisikan sesuatu kepada Hotaru.


"Fumio jarang sekali memasang wajah mengerikan itu, ini kedua kalinya aku melihatnya." Jelas Atsushi memberitahu Hotaru.


"Hahahaha." Atsushi terkejut dengan tanggapan Hotaru.


"Aku dulu sering melihat wajah Eiji yang seperti itu." Ia berdiri melirik sebentar Atsushi di bawahnya.


"Aku pergi dulu senpai, sebelum Eiji membunuhku." Pamit Hotaru lalu berjalan menyusul sahabat karibnya.


"Dengan adanya dia, tim ini pasti memenangkan kejuaraan musim panas nanti." Lirih Atsushi menonton Hotaru yang dengan cepat menyatu dengan permainan Fumio di lapangan.


Kini para anggota klub sedang duduk dengan rapih di depan pelatih dan Yamazaki, mendengarkan evaluasi latihan mereka hari ini.


"Sudah aku putuskan, Hotaru kun akan menjadi spiker kita. Kekalahan kita di inter high (kejuaraan musim semi) harus kita balaskan." Kata Hara menyulut api semangat anak didiknya.


"Saya juga baru mendapatkan permintaan dari sekolah lain meminta sekolah kita melakukan latih tanding dengan mereka." Sambung Yamazaki dengan santai.


"Lalu lalu?." Tanya Yuto bersemangat.


"Tidak ada alasan untuk menolak." Jawab Yamazaki tersenyum hangat.


"Yes!." Seru Yuto dan yang lainnya.


"Latih tanding di adakan di sekolah kita dua hari lagi, selamat berjuang." Yamazaki mengangguk sekilas kepada Hara.


"Baik, hari ini selesai. Jangan lupa membersihkan lapangan." Setelah mengatakan itu Hara dan Yamazaki berjalan meninggalkan gor.


Hotaru memunguti bola yang berceceran di lantai memasukannya ke dalam ranjang besar sedangkan Fumio merapihkan net yang baru ia turunkan. Setelah di rasa semua sudah bersih Nagata membubarkan mereka.


Hotaru dengan cepat membaur dengan semua anggota tim voli, mereka berjalan menuju ruang ganti yang di isi celotehan-celotehan anak-anak klub itu.


"Hachi kun, permainan duetmu dengan Jun luar biasa sekali. Tidak ada satu orang pun yang pernah bertahan dengan Jun saat latihan dua lawan dua." Celetuk Nagata, loker laki-laki itu berada persis di samping Hotaru.


"Aku setuju dengan itu, baru kali ini aku bermain seperti monyet terbang, buaya meluncur, bahkan menjadi samsak incaran servis dan spike kalian." Balas Hotaru membuat Nagata terkikik geli mengingat kejadian di lapangan.


"Dan aku juga ingin berterim kasih kepadamu." Hotaru melirik Nagata.


"Kau mengingatkan Jun dengan almarhum kakaknya, setelah kakaknya meninggal Jun mulai berubah. Sikap kalian sedikit mirip." Jelas Nagata.


"Benarkah, pasti dia orang yang baik." Hotaru mengambil tasnya dari dalam loker.


"Ya, dia sangat baik."


Puk.


Nagata menepuk sekilas pundak Hotaru.


"Sekali lagi terima kasih." Ucap Nagata yang di angguki oleh Hotaru.


Jun berdiri di belakang Nagata menunggu laki-laki itu.


"Aku duluan, sampai besok." Nagata menunjuk Jun di belakangnya dengan ibu jari. Hotaru mengerti kode kaptennya.


"Ya, hati-hati di jalan kapten."


Nagata dan Jun keluar meninggalkan ruang ganti disusul satu persatu oleh para anggota yang lain.


"Zen senpai, kami pulang dulu." Pamit Fumio menunduk sopan, Hotaru segera melakukan hal yang sama.


"Sampai jumpa besok senpai." Sambung Hotaru.


"Kalian hati-hati." Balas senior kalem itu, Atsushi yang berada di samping Zen mengibaskan tangannya membuat Hotaru tersenyum kecil.


Fumio dan Hotaru berjalan berdampingan menuju parkiran sepeda. Hotaru berhenti sejenak mendongak menatap langit diatas sana, pergantian warna senja hari yang sangat indah mengingatkan ia akan memori masa lalu, Fumio pun ikut melakukan hal yang sama.


Hening.


Dua sahabat itu sibuk dengan pikiran masing-masing, Hotaru dengan tangan kirinya sedangkan Fumio dengan tangan kanannya refleks mereka bersama-sama menggenggam udara kosong. Jarak kosong di antara mereka adalah tempat di mana gadis yang mereka rindukan seharusnya berdiri.


"Tunggu kabar dariku nanti malam." Kata Fumio seraya mengulurkan ponselnya kepada Hotaru.


Hotaru mengambil benda pipih itu dari Fumio ia segera mengetik sesuatu, beberapa detik kemudian suara dering ponsel terdengar dari dalam saku celana Hotaru.


"Gomen (Maaf) kemarin aku lupa tidak meminta nomormu." Ucap Hotaru mengembalikan ponsel Fumio.


"Apa Takkecchan mengabulkan permintaanmu?." Fumio menyimpan kembali ponselnya.


"Ya, dia masih Takeru kita." Jawaban Fumio memiliki arti lebih dan Hotaru paham arti dari kalimat itu.


Takkecchan masih berada di pihak kami, syukurlah, batin Hotaru.


"Jangan terlalu khawatir, sekarang kamu tidak sendiri."


Puk.


Fumio menepuk pelan punggung Hotaru lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Rasanya ini lebih berat dari saat aku meninggalkan Yuki pertama kali." Celetuk Hotaru mensejajarkan langkahnya dengan Fumio.


"Situasi yang berubah membuat kita seperti ini. Dan, setelah aku bertemu denganmu lagi." Fumio menghentikan kalimatnya menatap Hotaru.


"Aku tersadar, sudah waktunya. Menyusun rencana baru sebelum mereka selesai menyusun rencana mereka." Lanjut Fumio.


"Kita lanjut nanti." Setelah mengatakan itu Fumio menaiki sepedanya meninggalkan Hotaru.