
Malam ini pemuda dengan kaos hitam dan celana training duduk di temani adiknya. Rutinitas selama satu minggu yang mereka lakukan. Menjenguk tetangganya yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Selamat untuk kemenangan kalian, minggu depan final kan. Maniak baseball seperti kalian pasti akan pergi ke koshien." Lirih Yuki.
"Itu sudah pasti Hachibara san." Yuki tersenyum lemah.
"Kemari, Keiji kun." Ujar Yuki mengulurkan tangannya yang tersemat jarum lancip menembus ke dalam kulit. Anak itu akhir-akhir ini sering menurut apa pun yang di minta gadis itu.
Keiji mendekatkan wajahnya ke depan, membantu tangan lemah itu menyentuh pipinya. Yuki menyunggingkan senyum kala jarinya menyentuh pipi gembul Keiji.
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Celetuk Keiji jujur.
"Terima kasih kalian sudah datang menemaniku setiap malam. Mulai dua hari lagi itu tidak perlu, kalian harus fokus dengan final yang akan datang. Aku juga akan sembuh seperti biasanya." Ucap panjang Yuki.
"Bohong." Geram Keiji. Yuki tidak menjawab ia hanya memutar jari lemahnya di permukaan pipi Keiji.
***
Sepuluh hari sudah terlewati sejak hari festival, selamat tinggal masa-masa terbaring di atas ranjang, dan ketika Yuki sudah bebas menggerakkan tubuhnya, gadis itu langsung menghabiskan waktu siang malam di laboratorium dan bengkel. Gadis itu sangat fokus melakukan penelitian penawar racun gas. Ia juga sudah membuat berbagai barang yang akan di butuhkannya dalam misi selanjutnya.
Besok adalah hari ia dan Natsume pergi ke kampung halaman gadis periang itu. Sesuai janji Yuki, ia akan menginap di Kyoto menemani gadis itu dan bertemu dengan pacarnya yang memiliki saudara kembar.
***
"Jangan lakukan hal yang nekat, jangan melihat kembang api, minum teratur kapsul penambah darahmu, jangan memikirkan hal lain nikmati liburanmu, mengerti?." Yuki menatap datar Mizutani.
"Aku akan baik-baik saja Tsuttsun. Maaf aku tidak datang di final nanti." Mizutani menyerahkan koper berukuran kecil kepada Yuki.
"Hm, hati-hati di sana. Panggil aku jika sesuatu terjadi." Yuki mengangguk singkat lalu menyusul Natsume yang sudah berada di dalam gerbong.
"Mereka terlihat cocok." Bisik Natsume melihat Mizutani yang berdiri bersebelahan dengan Masamune.
"Apa menurutmu juga begitu?."
"Ung."
Pintu kereta di tutup, Yuki melambai pelan kepada Masamune saat kereta mulai berjalan.
"Ayo kita duduk." Natsume mendorong kopernya pelan menuju kursi yang kosong.
Mereka duduk bersebelahan, Yuki yang sibuk melihat pemandangan di luar jendela yang sangat berbeda dengan pemandangan di negara manapun, ciri khas negeri sakura. Ia melirik Natsume yang sedang senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya, lalu jari gadis itu bergerak cepat menekan layar.
"Sepertinya yang dikatakan buku benar, ketika orang sedang jatuh cinta bisa berubah jadi orang gila." Celetuk Yuki datar. Natsume tersenyum lebar kepada gadis itu seraya menyimpan ponselnya kembali.
Tidak, Hazuki memang sudah gila dari sananya, batin Yuki.
"Yu chaann, hidoii (jahaat)." Rengek Natsume.
Setelah menempuh jarak lumayan jauh, Yuki dan Natsume turun dari kereta. Mereka keluar dari stasiun barulah Yuki menyadari bahwa mereka bukan berada di jantung kota kyoto melainkan di pinggirannya, meskipun begitu suasana kota itu sangat berbeda dengan tokyo. Kyoto lebih tenang dari pada ibu kota super sibuk itu.
Tiba-tiba Natsume berlari meninggalkan kopernya menubruk seseorang yang sedang ribut bertengkar.
Bruk!.
"Agh!. Nattchan ..." Pekik orang itu langsung membalas pelukan Natsume.
Yuki yang paham akan situasi itu meraih koper Natsume dengan tangannya yang lain menariknya ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Natsume mempererat pelukkannya, dan menggoyang-goyangkan kakinya yang berada di udara. Kekasihnya yang tinggi itu membuat Natsume tidak bisa menapak saat memeluk lehernya.
"Aku juga. Aku hampir mati di tinggal olehmu." Balas kekasihnya.
Yuki bergidik ngeri mendengar setiap kalimat lebay dari sepasang kekasih itu.
"Siapa di belakangmu?." Natsume yang di tanya langsung melepas pelukkannya sedikit memiringkan tubuh agar mereka bisa melihat gadis bermanik biru itu.
"Dia temanku yang sering aku ceritakan kepada kalian. Ayo ke sana." Ujar Natsume berlari kecil menghampiri Yuki.
"Apa yang kamu ceritakan kepada mereka Hazuki?." Tegur Yuki menatap malas temannya yang tersenyum lebar tanpa dosa.
"Hahaha, kamu penasaran Yu chan." Goda gadis itu. Yuki memutar bola matanya.
"Tidak. Aku bisa menebaknya." Lirih Yuki.
Cantik. Ya ampun tidak boleh, aku punya Nattchan, aku punya Nattchan, gumam kekasih Natsume.
Matanya .., sangat indah, batin orang di sebelah kekasih Natsume.
"Kalian, kenapa masih di situ?." Protes Natsume. Yuki melirik dua orang yang sama persis, wajah mereka, tinggi mereka, garis alis, mata, hidung, bibir, sampai bentuk dagu dan rahang pun juga sama.
Kembar identik!, batin Yuki.
Karena inilah ia memutuskan menerima ajakan Natsume untuk pergi ke kampung halaman gadis itu. Untuk bertemu dengan anak kembar lainnya. Sejak pertama kali ia mendengar kekasih Natsume memiliki saudara kembar Yuki sangat tertarik akan hal itu.
Bahkan cara jalan mereka sama persis yang membuatnya berbeda adalah tangan mereka, laki-laki yang Yuki yakini kekasih Natsume memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sedangkan di sebelahnya hanya memasukan satu tangan. Anak kembar identik itu berhenti tepat di hadapan Yuki dan Natsume.
"Yu chan kenalkan dia pacarku, dan yang di sebelahnya adiknya." Ucap Natsume. Laki-laki yang di perkenalkan sebagai pacar temannya itu memperkenalkan diri.
"Hai, setiap hari Nattchan menceritakan tentangmu. Aku Akihiko Seiko, salam kenal." Ucapnya tersenyum lebar.
Yuki akui mereka berdua tidak kalah keren dengan laki-laki di luar sana.
"Hachibara Yuki, senang bertemu denganmu." Balas Yuki.
"Akihiko Seiya. Aku harus berterima kasih padamu sudah mau bersabar menghadapi sahabat kami satu ini. Terima kasih." Ucapnya, bawaan yang lebih tenang dari Seiko yang terlihat lebih aktif seperti Natsume.
"Hachibara Yuki. Ya, sebenarnya aku sudah berusaha menghindari Hazuki tapi, kamu tahu kelanjutannya." Jawab Yuki mengibaskan tangannya pelan.
Srek.
Grep.
Serangan rangkulan Natsume dicegah oleh Yuki dengan tangkapan mulus. Gadis itu cemberut.
"Hazuki." Tegur Yuki. Gadis itu memutar otaknya sebentar masih tidak menjauhkan tangannya.
"Aku tahu toko mochi di kyoto yang lebih enak dari buatanku." Goda Natsume kepada gadis bermanik biru itu. Yuki bergeming mengerjapkan kelopak matanya dua kali.
Berhasil!, jerit senang Natsume dalam hati.
Aku punya Nattchan, batin Seiko.
Lucu, batin Seiya.
"Apa kamu ingin ke sana?." Yuki melepaskan tangan Natsume membiarkan gadis itu menyentuh dirinya. Natsume tersenyum menang.
"Kalian berdua bawakan koper kami. Ayo, Yu chan, kita berangkaaat ..." Yuki terkejut saat Natsume langsung menariknya pergi.
"Tunggu, Hazuki. Tidak baik menyuruh orang lain membawakan barangmu." Tolak Yuki hendak berjalan kembali namun Natsume menariknya lebih kuat.
"Biar para pria yang membawanya Yu chan, wanita adalah ratu." Celetuk gadis itu. Yuki memutar bola matanya lalu menoleh ke belakang membungkuk sebagai permintaan maaf. Gadis itu tidak enak kepada si kembar karena mereka baru saja kenal.
Sedangkan di belakang para gadis kedua anak kembar itu tertegun dengan sikap Yuki yang tergolong sangat sopan dan apa adanya, gadis bermanik biru itu tidak terlihat seperti gadis-gadis yang bertingkah imut seperti gadis-gadis yang berada di sekitar mereka.
Natsume benar-benar membawa Yuki ke toko mochi yang terkenal di kota itu. Manik Yuki berbinar tatkala melihat mochi warna-warni dengan berbagai rasa. Yuki membaur dengan Natsume yang bersemangat menjelaskan rasa-rasa rekomendasi yang menurutnya harus Yuki coba.
"Aku pikir Hazuki tidak akan bisa sedekat ini dengan teman baru di sekolah barunya." Komentar Seiya yang memperhatikan sahabat kecilnya dengan gadis bermanik biru itu.
"Aku juga khawatir, tapi lihat. Bahkan dia mengabaikan pacarnya yang memendam rindu berat." Balas Seiko.
"Dasar budak cinta." Ejek Seiya.
"Diam. Jomblo akut." Serangan balik dari Seiko menimbulkan kerutan di dahi kembarannya.
"Kembalikan uangku yang kemarin kamu pinjam." Sergah dingin Seiya.
"Pelit!." Pertengkaran mulut kedua anak kembar itu terjadi dan baru berhenti ketika Natsume dan Yuki menghampiri mereka.
"Maaf Yu chan, mereka memang selalu bertengkar." Jelas Natsume berbisik yang terdengar oleh kedua oknum tadi.
"Hmph." Seiko membuang wajahnya ke samping.
"Ayo kita pergi." Yuki kembali di tarik oleh Natsume.
Sekarang Yuki sedang memasuki rumah tradisional yang cukup besar dengan lahan berukuran sedang yang di tanami sayur-sayuran. Halaman rumah itu juga memiliki bunga hydrangea (bunga yang dapat berubah warna seiring waktu, seperti berubah dari merah muda ke ungu. Satu tanaman muda bisa menghasilkan warna bunga yang berbeda.), ada juga beberapa baris bunga matahari yang menarik perhatian Yuki karena terlihat sangat cerah dan indah.
Natsume langsung masuk ke dalam rumah itu mencari seseorang. Yuki mengikuti dari belakang.
"O jamashimasu (Permisi)." Ucap Yuki sopan.
"Bibi ...!." Teriakan Natsume membuat Yuki menaikan satu alis. Bibi?, ulang Yuki dalam hati. Natsume sudah memeluk wanita paruh baya yang sangat cantik.
"Hazuki chan, kamu akhirnya pulang juga. Bibi kangen loh sama kamu." Ucap lembut wanita itu mengelus pelan rambut Natsume.
"Ung, Hazuki juga kangen bi. Oh iya, Hazuki bawa teman yang pernah Hazuki ceritakan di telefon sebelumnya." Wanita itu terlihat sama antusiasnya dengan Natsume.
"Akh, gadis yang memiliki mata biru itu?, yang katamu sangat cantik dan menggoda?." Natsume menganggukkan kepalanya semangat.
Menggoda?, siapa?, aku ..?, batin Yuki.
"Itu dia. Yu chan!. Sini." Yuki yang merasa terpanggil mendekat memberikan hormat sembilan puluh derajat.
"Selamat siang, Hachibara Yuki desu. Maaf saya akan merepotkan nyonya Natsume untuk tiga hari ke depan." Wanita itu terkekeh kecil.
"Yu chan, kamu salah." Yuki kaget ia menegakkan tubuhnya menatap Natsume dengan alis yang terangkat sebelah.
"Wanita ini bukan ibuku, beliau ibu si kembar." Jelas Natsume.
"Eh?." Yuki kembali membungkuk dalam meminta maaf atas kesalah pahamannya.
"Maaf Akihiko san. Seharusnya saya lebih berhati-hati." Ucap Yuki, wanita itu kembali terkekeh dengan sikap Yuki.
"Hachibara chan, jangan terlalu formal tidak apa-apa." Yuki hanya mengulas senyum membalas perkataan wanita itu.
Nyonya Akihiko dan kedua anak kembarnya sempat tertegun dengan senyuman gadis bermanik biru itu.
"Waah, benar kata Natsume chan. Kamu sangat cantik, manis, dan menggoda." Yuki yang risi dengan kata terakhir langsung memberikan lirikan misterius kepada Natsume.
"Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar?." Tanya nyonya Akihiko.
"Eh?, belum." Jawab Yuki sedikit kaget dengan pertanyaan random ibu si kembar.
"Semoga kamu bisa akrab dengan Seiya ya." Katanya seraya melirik anak yang di maksud yang berdiri di belakang Yuki. Gadis itu lagi-lagi hanya mengulas senyum.
"Aku akan mengantarkan koper mereka ke kamar." Srobot Seiya melewati Yuki.
"Hahaha, ibu membuat Seiya salah tingkah." Ledek Seiko menyusul kembarannya dengan koper Natsume di tangan.
Yuki yang bingung menatap Natsume meminta penjelasan. Bukankah mereka akan menginap di rumah Natsume kenapa sekarang tiba-tiba berubah?. Natsume menggamit lengan Yuki.
"Bibi, kami pergi ke kamar dulu ya." Pamit Natsume kepada nyonya Akihiko. Yuki yang paham maksud Natsume langsung membungkuk sopan.
Natsume menuntun Yuki masuk ke dalam kamar di lantai satu yang pintunya terbuka.
"Terima kasih untuk kerja keras kalian, sekarang keluarlah." Ucap Natsume mendorong punggung si kembar. Yuki mengangguk kecil dan berucap terima kasih sebelum Natsume menutup pintu kamar.
"Jadi?." Tanya Yuki.
"Di sinilah rumah keduaku. Bibi dan paman sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri dan aku lebih nyaman berada di sini." Yuki menebak bahwa keluarga Natsume pasti tidak baik-baik saja seperti keluarganya sampai-sampai gadis itu memilih meninggalkan kampung halaman dan pergi ke tokyo sendiri, selain itu ia juga lebih memilih pulang kerumah si kembar ketimbang kerumahnya.
Yuki hanya mengangguk kecil dan mendekati kopernya mengambil beberapa bungkusan besar makanan ringan lalu meletakan beberapa mochi di atas meja menyisakan dua bungkus besar mochi lainnya di atas bungkusan.
"Kamu tidak ingin menanyakan alasannya Yu chan?." Tanya Natsume.
"Untuk apa?, jika kamu tidak ingin menceritakannya aku pun tidak ingin memaksamu." Ujar Yuki membawa makanan-makanan itu di tangannya.
Yuki yang paham akan tatapan murung gadis itu kembali berucap.
"Bukan karena aku tidak peduli padamu Hazuki, tapi aku tidak ingin memaksamu mengingat atau pun mengatakan sesuatu yang tidak ingin kamu katakan. Beri tahu aku jika kamu sudah siap." Ujar Yuki menepuk pelan kepala Natsume.
"Yu chan, aku bukan anak kecil." Natsume menolak lembut tepukan pelan Yuki di kepalanya.
"Ung, balita." Ucap Yuki membuat Natsume cemberut.
"Sudah, ayo keluar." Ujar Yuki membuka pintu kamar.
Yuki meletakan makanan yang ia bawa dari kamar di meja makan dapur, nyonya Akihiko sedang menyiapkan makan siang mereka.
"Akihiko san, saya membawa sedikit oleh-oleh dari tokyo dan beberapa mochi yang kami beli di toko tadi, semoga anda menyukainya." Ucap Yuki.
"Tidak perlu repot-repot Hachibara chan, tapi terima kasih loh." Balas wanita itu.
"Bibi, sedang masak apa?." Natsume langsung memakai celemek yang tergantung.
"Makanan kesukaanmu." Jawab nyonya Akihiko melanjutkan kesibukannya. Dengan cekatan Natsume membantu ibu si kembar.
"Ap," Baru saja Yuki mau bertanya Natsume langsung memotong gadis itu.
"Kamu duduk menonton tv saja dengan si kembar Yu chan, nanti kalau makanannya sudah siap aku akan memanggilmu." Natsume menolak terang-terangan bantuan Yuki.
"Wakatta (Aku mengerti), aku mau jalan-jalan di luar sebentar." Pamit Yuki.
"Oh, tunggu Hachibara chan." Yuki menghentikan langkahnya. Nyonya Akihiko tiba-tiba berteriak memanggil nama anaknya.
"Yakkuuunn ...!." Yuki melihat kemiripan Natsume dengan nyonya Akihiko yang suka meneriaki nama orang.
"Nani kaa san? (Ada apa bu?), rumah bisa roboh loh karena teriakan ibu." Gerutu Seiya berjalan malas mendekati ibunya.
"Ih, temani Hachibara chan jalan-jalan sana." Nyonya Akihiko memukul lengan anaknya.
"Eh?." Pemuda itu menatap Natsume dan dihadiaih pelototan gadis itu.
Tak!.
"Aw!. Seiya!." Teriak Natsume yang di sentil dahinya oleh kembaran pacarnya itu.
"Jelek!." Ejek Seiya lirih lalu berjalan meninggalkan dapur.
"Dasar robot kaku!, tidak punya perasaan!." Teriak Natsume di belakang sana.
"Ayo, mau jalan-jalan ke mana?." Tanya Seiya. Yuki mengikuti dari belakang menuju teras rumah.
"Aku hanya ingin melihat-lihat sekitar, maaf merepotkanmu."
"Tidak. Kalau begitu lebih baik naik sepeda, kita bisa lebih cepat pulang dan mengitari banyak tempat." Ujar pemuda itu yang langsung berjalan ke bagasi di samping rumah.
"Kamu bisa menggunakan yang merah." Ujar Seiya memegang sepeda gunung berwarna hitam. Yuki diam menatap sepeda mini berwarna merah dengan keranjang di depannya.
"Ada apa?." Yuki menoleh ke arah Seiya.
"Kita jalan saja, aku hanya ingin melihat-lihat sebentar." Ujar Yuki.
Hari itu Yuki dengan mudah beradaptasi dengan suasana di keluarga Akihiko yang banyak di penuhi pertengkaran si kembar. Sebelum waktu makan malam Yuki bertemu dengan kepala keluarga Akihiko, beliau bekerja di sebuah kantor perusahaan berita.
Malam yang biasanya sepi karena banyak keluarga yang memilih menghabiskan waktu di dalam rumah atau pergi ke suatu tempat yang ramai, berbeda dengan keluarga satu itu. Mereka lebih memilih mengadakan acara bakar-bakar kecil, pasangan suami-istri Akihiko duduk di teras samping rumah menikmati teh dan hasil bakaran, sedangkan pasangan muda Akihiko sedang bercengkrama di kursi dan meja kayu estetik dengan bentuk menyerupai meja kursi di dongeng tujuh kurcaci sambil menikmati hasil bakaran mereka. Yuki yang tidak ingin mengganggu lebih memilih jongkok di dekat Seiya tanpa membantu apa pun, hanya melihat dan mengamati apa yang di lakukan pemuda itu.
"Ini." Seiya mengulurkan jagung bakar yang sudah matang.
"Terima kasih." Ucap Yuki menatap lamat-lamat jagung di tangannya.
Apa yang harus aku lakukan dengan ini?, batin Yuki.
Karena tak ingin dianggap aneh ia mengedarkan pandangan kepada dua pasangan Akihiko itu, melihat apa yang harus ia lakukan dengan benda di tangannya. Kepala keluarga Akihiko dengan semangat menggerogoti jagung di tangannya, Yuki beralih ke Natsume yang sedang menggigit besar jagungnya. Masih dengan mengamati cara mereka makan Yuki mendekatkan jagung di tangannya ke depan mulut, menempelkan jagung itu pada bibirnya yang sedikit terbuka.
"Aw!." Jeritnya lirih, Yuki yang terkejut menatap horor makanan itu.
"Itu masih panas, kamu harus meniupnya." Yuki melirik sebentar Seiya lalu kembali menatap horor jagung di tangannya.
Apa tidak ada cara makan yang lebih mudah?, gerutu Yuki kesal.
"Tiup seperti ini." Seiya mencontohkan cara meniup jagung dengan jagung miliknya sendiri. Yuki mengikuti saja tanpa protes.
"Lalu gigit." Yuki ragu-ragu untuk melakukannya. Namun, melihat Seiya dengan tenang menikmati jagung bakar itu membuat Yuki penasaran. Ia membuka sedikit mulutnya.
Hap.
Matanya berkedip beberapa kali karena rasa bumbu pedas, manis, pada jagung membuatnya terkejut. Gigi masih menancap pada jagung, ia menjulurkan lidah sedikit untuk mencecap kembali rasa yang membuatnya kaget. Maniknya melirik Seiya, menyadari kesalahan cara makannya. Gadis bermanik biru itu berusaha menggigit jagung dengan mata yang menutup erat.
Krunch.
Yuki langsung menutup mulutnya, menatap kekosongan kecil pada jagung di tangan. Di dalam mulutnya biji jagung menggelinding di atas lidah, pedas, manis, gurih, dan sedikit panas.
Apa ini?, apa ini?, apa ini?!. Enak, heboh Yuki dalam hati yang baru pertama kali memakan jagung bakar. Ia tidak pernah tahu jagung bisa dimasak seperti itu dan hasilnya sangat luar biasa.
"Kamu tidak menyukainya?, kalau begitu jangan di paksa." Ujar Seiya salah mengartikan sikap Yuki.
Yuki menjauhkan jagung miliknya dari tangan Seiya yang hendak mengambil jagung dari tangannya. Pemuda itu bingung.
"Masih ada yang lain, kamu tidak," Yuki memotong kalimat Seiya lirih.
"Apa kamu akan menertawakanku jika aku memberitahumu sebuah rahasia?." Seiya tambah bingung dengan apa yang dikatakan gadis bermanik biru laut, tidak! biru langit, tidak! tapi keduanya.
Manik itu mendongak menatap lurus manik Seiya membuat pemuda itu membeku. Euforia tenggelem ke dalam keindahan mata itu seakan mengunci dunia Seiya.
"Aku," Seiya mengedipkan matanya tersadar karena suara merdu yang keluar dari bibir menawan dan menggoda itu.
Semua yang dikatakan Hazuki benar, aku telah salah besar berpikir kalau dia telah melebih-lebihkan temannya, batin Seiya yang bisa melihat wajah Yuki lebih dekat dari saat mereka mulai bertemu.
"Baru pertama kali makan jagung bakar." Lirih Yuki.
"Eh!. Pffttt." Gadis itu langsung menatap datar Seiya yang sedang menahan tawanya dengan punggung tangan.
"Sudah aku duga." Gumam Yuki membuang wajahnya ke depan kembali menikmati jagung bakar miliknya.
"Maaf, bagaimana dengan ini. Kamu pernah memakannya?." Yuki melirik benda kecoklatan yang di pegang Seiya.
"Tanah liat." Celetuk Yuki yang membuat tawa Seiya menggelegar tanpa sanggup menahannya.
"Huahahahaha ...!!." Yuki yang malu ingin sekali bersembunyi di balik punggung Hajime sekarang.
"Hahaha, maaf maaf." Seiya berusaha menghentikan tawanya. Menoleh melihat Yuki yang menunduk dengan wajah merah tipis di pipi putih pucatnya yang sangat kontras, gadis itu terlihat tenang menahan rasa malunya.
Ekhem!, Hazuki melupakan satu fakta kalau gadis ini juga imut dan menggemaskan, batin Seiya.
"Ini adalah ubi madu, rasanya manis kalau di bakar tanpa perlu menambahkan bumbu apa pun." Jelas Seiya mulai menaruh ubi yang Yuki kira tanah liat.
Yuki memperhatikan kegiatan Seiya dengan tenang sambil menikmati jagung bakarnya. Seiya yang menyadari itu tersenyum tipis, pasalnya gadis yang berjongkok agak jauh darinya seperti anak kecil yang penasaran.
"Apa ini bau harum dari," Yuki menggantungkan kalimatnya menunjuk ubi dengan jari.
"Ubi madu." Ucap Seiya, Yuki mengangguk kecil.
"Ya kamu benar, sebentar lagi ubinya matang." Ujar Seiya meminta jagung yang sudah habis dari tangan Yuki.
"Aku bisa membuangnya sendiri, terima kasih." Ujar Yuki berdiri dan berjalan ke tempat sampah yang tak jauh dari Seiya.
Deg!.
Saat Yuki sudah berdiri di depan tempat sampah insting di dalam tubuhnya tiba-tiba terbangun. Ekor matanya bergerak mencari hawa keberadaan seseorang yang haus darah.
Yuki menemukannya. Seseorang bersembunyi di balik pohon rumah sebelah, ia masih memperhatikan orang itu memastikan bahwa orang itu tidak memiliki pistol, jika hanya kecepatan lemparan pisau ia masih bisa mengatasinya tapi jika peluru, Yuki harus berhati-hati.
Yuki semakin risi tatkala aura haus darah orang itu tidak di tujukan kepadanya melainkan kepada pasangan muda Akihiko. Yuki membaca situasi dengan cepat, setelah yakin orang itu tidak akan melakukan hal ceroboh ia kembali berjongkok di dekat Seiya.
"Sudah matang, ini." Yuki menerima ubi madu yang mengepulkan asap, kertas tebal putih yang membungkus setengah ubi melindunginya dari panas ubi itu.
Seiya yang melihat Yuki hanya diam pun bertanya.
"Tidak di makan?." Yuki masih mengamati bentuk ubi.
"Bagaimana memakannya?, apa yang harus aku lakukan?." Tanya Yuki mendongak ke atas dan langsung menyerobot Seiya.
"Jangan tertawa." Seiya tersenyum menggelengkan kepalanya pelan. Padahal ia sudah sangat ingin tertawa tapi tidak tega dengan gadis itu.
"Begini." Seiya mematahkan bagian atas ubi membuangnya lalu mengupas kulit ubi.
Sret!.
Seiya terkejut Yuki menarik ubinya menjauh.
"Panas, jangan." Yuki mulai meniup ubinya yang masih mengepulkan asap menguatkan harum khas yang manis. Gadis itu sudah tidak sabar ingin memakannya.
Seiya tersenyum lalu melakukan sesuatu dengan ubi yang baru matang. Yuki mencium bau lebih wangi dari ubi sebelah melirik tangan Seiya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." Seiya memberikan ubi yang sudah terkupas kepada Yuki dan mengambil ubi milik gadis itu.
"Apa?."
"Kalian saudara kembar, apa ada sesuatu yang hanya bisa di lakukan oleh kalian berdua dan orang lain tidak bisa melakukannya?." Seiya mengupas ubi milik Yuki dengan cepat lalu mulai memakannya.
"Apa maksudmu seperti telepati?." Yuki mengangguk singkat.
"Entahlah, kami hanya terus bertengkar dan cepat berbaikan. Selain itu kami sedikit bisa mengerti apa yang sedang kembaran kami pikirkan." Seiya menunjuk kembarannya yang duduk sangat jauh dari mereka.
"Seperti ini, budak cinta itu hendak mencium Hazuki." Yuki memperhatikan tubuh Seiko yang sedikit demi sedikit condong ke arah Natsume yang duduk di sampingnya.
"Lalu aku akan menggagalkannya dengan cara seperti ini." Lanjut Seiya.
Yuki tidak melepas maniknya dari pasangan muda Akihiko menunggu sesuatu yang besar terjadi.
"Mulutmu bau, baka!." Lirih Seiya hampir seperti bisikan. Jauh di sana Seiko tiba-tiba membelokan tujuannya menatap Seiya marah.
"Brengs*k, Seiya! kau mengatai mulutku bau hah?!." Yuki sedikit terkejut.
"Siapa?, aku?. Kapan?." Jawab kembarannya.
"Jangan berpura-pura. Kamu juga mengataiku bodohkan!." Teriak Seiko hendak menyerang Seiya namun ditahan oleh Natsume.
"Itu yang sering kami lakukan." Yuki kembali melirik Seiya dan melihat sebuah bayangan menjauh dari pohon.
"Keunikan anak kembar." Lirih Yuki.
Rasa penasarannya terjawab sudah. Itulah yang membuatnya memilih menerima ajakan Natsume ketimbang menemani para pemain bertanding di final. Keduanya memiliki jadwal yang sama membuat Yuki harus memilih salah satunya.
"Ubimu sudah dingin makanlah tapi jika kamu memakannya mulutmu akan bau seperti budak cinta itu." Seiya menunjuk ubi di tangan Yuki.
"Seiya!, ngajak berantem ya. Berhenti mengatai mulutku bau!." Teriak Seiko yang kembali di tenangkan Natsume.
"Kamu juga memakannya." Balas Yuki memasukkan ubi madu bakar ke dalam mulut.
Rasa manis memenuhi mulut Yuki, lidahnya merasakan tekstur lembut dan sedikit berserat. Ia tidak tahu ada makanan se enak ini di dunia.
***
Kamar dengan cahaya minim dari bohlam kecil memperlihatkan dua bayangan di atas ranjang. Dua gadis itu belum beranjak tidur meski malam sudah larut. Natsume yang menjelaskan kegiatan mereka besok sangat berantusias, menjelaskan sebuah danau dengan air terjun di dekat laut.
Yuki mendengarkan dengan khidmat.
"Yu chan."
"Hm?."
"Aku baru melihatmu bisa langsung akrab dengan Seiya, apa saja yang kalian bicarakan?." Tanya Natsume.
"Obrolan biasa." Jawab Yuki singkat.
"Aku sungguh penasaran Yu chan. Kamu itu tidak mudah di dekati tapi kenapa tiba-tiba bisa banyak mengobrol dan tertawa dengan Seiya. Apa kamu memiliki sesuatu pada pandangan pertama?. Hm?, hm?, hm ...?." Natsume mendesak Yuki mendekatkan wajahnya kepada gadis itu, mencoba mencari semburat merah di bawah manik birunya.
Yuki hanya tersenyum kecil, menggerakkan maniknya menatap lurus manik Natsume membuat gadis itu diam seribu bahasa.
Hening.
"Kyaaa!, Yu chan, kamu menyukainya. Tebakanku benar, kamu menyukai Seiy," Suara Yuki menghentikan teriakan heboh gadis itu.
"Aku juga memiliki saudara kembar."
"Eh?." Yuki menatap wajah bingung Natsume.
"Aku juga memiliki saudara kembar Hazuki." Ulang Yuki.
Raut wajah bingung Natsume langsung berganti dengan raut penasaran dan bola mata yang membulat sempurna.
"Keren, ada gadis sempurna lain yang sama persis sepertimu ini keajaiban dunia namanya!." Pekik Natsume, menyerang Yuki secara bertubi-tubi.
"Apa dia juga memiliki mata biru sepertimu?, apa dia juga memiliki hidung lancip sepertimu?, apa bibirnya juga seksi sepertimu?, apa dia juga memiliki body goals sepertimu Yu chan?. Seberapa panjang rambutnya?, pasti dia juga memiliki rambut sehalus milikmu, apa dia juga cuek dan dingin?, sepertinya tidak. Bag," Yuki memencet hidung Natsume agar berhenti bicara.
"Fyu cwhann." Dengau Natsume.
"Dia laki-laki." Gadis itu bergeming sejenak dan kembali menyerang Yuki namun dengan cepat jari tangan Yuki memencet hidung Natsume menghentikan kehebohan gadis itu.
"Sudah dua tahun kami tidak bersama, karena aku yang sibuk berobat." Ucap Yuki memanipulasi fakta. Natsume terdiam, gadis itu berubah kalem.
Akhirnya Yu chan mau membaginya denganku, batin Natsume senang.
"Kalian pasti sering telephonan kan. Pasti sulit untukmu Yu chan." Yuki terkekeh geli dengan sikap Natsume.
"Kami tidak melakukannya. Aku harus fokus dengan pengobatan dan sekolah." Jawab Yuki.
"Eh?!, kamu pasti sangat merindukannya. Sikembar Sei saja tidak pernah jauh satu sama lain." Ucap Natsume.
"Nanti juga kami bertemu, setelah aku sembuh." Kata Yuki tersenyum. Natsume tiba-tiba meneteskan air mata.
"Si kembar, jika Seiko sakit pasti Seiya uring-uringan dan menangis diam-diam begitu juga sebaliknya. Kalian pasti sangat kesulitan." Yuki tersenyum.
"Terima kasih, sudah menangis untukku." Ucap Yuki menepuk pelan pucuk kepala Natsume.
Grep.
"Bolehkah aku bertanya?." Natsume merangkul pundak Yuki dan gadis itu tak menolaknya.
"Kamu sudah bertanya Hazuki."
"Yu chan!." Yuki menutup matanya karena teriakan gadis itu tepat di dekat telinga.
"Hm, apa?."
"Sebenarnya, penyakit apa yang ada di dalam tubuhmu?. Kenapa kamu memerlukan banyak sekali darah?, apa betul itu anemia?." Yuki menjauhkan tangan Natsume.
"Aku tidak bisa menjawab untuk yang satu itu." Ucap Yuki tidak ingin menambah kebohongannya, atau ia akan semakin menyesal. Di luar dugaan Natsume menurut begitu saja.
"Aku juga tidak akan memaksamu sampai kamu sendiri yang menceritakannya."
"Baiklah, sekarang tidur. Besok kita harus berangkat pagi." Ujar Yuki memposisikan diri untuk tidur.
***
Pagi yang seharusnya cerah terlihat mendung kala Yuki membuka matanya melihat wajah Natsume yang terlihat khawatir, keringat membanjiri wajahnya, gadis itu membuang ponsel di genggamannya ke samping lalu beranjak pergi membawa handuk.
Yuki tidak banyak bertanya atau mencari tahu, ia juga bersiap untuk membersihkan diri.
Hari itu ke empat remaja pergi ke danau dengan air terjun deras yang mengisi danau di bawah sana. Natsume langsung membuka jaket yang sejak berangkat di pakainya lalu melepas rok pendeknya begitu saja. Membuat Yuki terkejut karena tidak siap dengan pemandangan itu. Natsume hanya memakai bik*ni berwarna kremnya dan melompat ke dalam danau di susul oleh Seiko yang sudah bertelanjang dada dan memakai celana pendek selutut.
Jantungku, masih ada?, batin Yuki memeriksa detak jantungnya.
Mataku, sudah tidak mungkin bisa menjaga kesuciannya jika aku berada di negara ini. Oh, selamat tinggal Yuki, lanjut gadis itu dalam hati duduk di kursi panjang dekat danau.
"Tidak ikut berenang?." Seiya berdiri di samping Yuki.
"Kamu tidak apa-apa sendirian?."
"Ung." Dua detik kemudian sekelebat bayangan laki-laki yang sama bertelanjang dada celana pendek selutut berlari masuk ke dalam danau.
Agh, aku juga ingin melompat dari batu itu, batin Yuki iri. Sudah kepalang berbohong kepada Natsume.
Mereka menikmati berenang di danau dan menikmati pemandangan alam sekitar, suara deburan air yang jatuh membuat tubuh dan pikiran rileks. Yuki juga di ajak mampir ke sebuah kuil yang cukup ramai saat itu. Dan karena kuil itu pun Yuki memakan satu pilnya.
Setelah makan malam Yuki tidak sengaja melihat foto kanak-kanak si kembar dan Natsume yang di pajang di dekat tv, di foto itu terlihat bahwa gadis kecil pemilik senyuman cerah sedang memegang sebuah piala bertuliskan juara 1 menyanyi solo. Yuki tidak terkejut karena memang ia sudah tahu sejak awal dari tulisan lagu yang di buat gadis itu. Maniknya tidak sengaja melihat sebuah buku tipis besar yang terhimpit oleh buku yang lain.
"Apa kamu ingin membaca buku Hachibara san?." Suara halus itu menyapa telinga Yuki.
"Bolehkah saya meminjamnya sebentar?." Tanya Yuki kepada kepala keluarga Akihiko.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Yuki mengambil buku yang menarik perhatiannya, membawa buku itu ke sofa. Terdengar suara kekehan kecil dari mulut Yuki menarik perhatian kepala keluarga Akihiko dan istrinya yang duduk tidak jauh dari Yuki.
"Yu chan!." Teriak Natsume dari belakang Yuki, mencoba mengagetkan gadis bermanik biru itu.
"Sedang baca apa?, kelihatannya seru sekali sampai tertawa-tawa sendiri." Natsume mengintip buku yang sedang Yuki baca dari balik pundak gadis itu.
"Kapan kamu menulis lirik seperti ini Hazuki?. Pfftt." Yuki menahan tawanya.
"Yu chan! jangan tertawa. Tapi kalau di pikir-pikir, agak geli membacanya lagi." Natsume mengakui.
"Apa lagi yang ini, hahaha." Yuki membuka lembar sebelumnya.
"Ahahaha, itu saat aku baru masuk smp." Keduanya tertawa geli membaca lirik yang penuh kalimat berlebihan.
"Lihat yang selanjutnya Yu chan." Yuki membalik kertas dan tawa keduanya langsung pecah.
"Apa-apaan ini Hazuki, hahaha pangeran?. Hahaha berkuda putih?, apel merah, dan sepatu kaca?. Pffttt." Yuki menutup mulutnya dengan sebelah tangan bahkan ia hampir menangis karena tertawa.
"Aku tidak mengira ini sangat memalukan Yu chan, hahaha."
Interaksi kedua gadis itu yang asik mengomentari lagu yang Natsume tulis dilihat oleh pasangan Akihiko dan si kembar, mereka tersenyum senang tak ketinggalan air mata bahagia lolos dari manik ibu rumah tangga itu.
"Syukurlah Hazuki memiliki teman sebaik Hachibara san." Ucap kepala keluarga Akihiko, istrinya menghapus jejak air mata seraya mengangguk setuju.
"Ung, kita tidak akan khawatir lagi."
"Kamu harus lihat yang ini Yu chan." Ucap Natsume mengulurkan tangan dari atas pundak Yuki membuka lembaran yang ingin di tunjukkannya. Yuki membaca lirik itu, hatinya bergetar. Itu adalah isi hati Natsume, ditujukan kepada seseorang yang istimewa bagi gadis itu, Yuki melirik Natsume. Gadis itu menarik sudut-sudut bibirnya ke atas, membentuk senyum cerah yang lembut.
"Aku ingin kamu menyanyikannya." Lirih Natsume.
"Hazuki aku tidak bisa." Tolak Yuki halus, namun Hazuki malah beranjak menarik Yuki mendudukan gadis bermanik biru itu di samping piano.
"Yu chan." Panggil Natsume seraya mengambil sebuah gitar yang di gantung di tembok dekat piano mengulurkannya kepada gadis itu.
"Aku belum sempat menyanyikannya saat itu." Yuki menatap gitar akustik berwarna pink yang Yuki yakini milik Natsume.
"Tapi bukan aku yang," Yuki menggantungkan kalimatnya menatap dalam manik Natsume.
"Aku ingin dia mendengarnya, paling tidak hanya sekali." Yuki menerima gitar itu.
Bersiap dengan gitar di tangannya, lalu Natsume menarik kursi kecil di depan piano. Keluarga Akihiko sudah duduk di sofa menunggu penampilan dua gadis itu. Seiko ingin melarang Natsume namun mengingat apa yang selama ini gadis itu ceritakan tentang kembalinya ia bermain musik membuat Seiko ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Yuki mengetuk gitar dua kali sambil melirik Natsume yang menunggunya penuh harap, ide jail muncul di kepalanya. Saat jari Yuki terangkat bukan senar gitar yang ia petik melainkan udara kosong membuat wajah Natsume berubah masam.
"Hahaha." Yuki tertawa lirih idenya berhasil membuat Natsume kesal.
"Ekhem!." Deham Yuki yang berpura-pura mengecek suaranya.
Gadis itu kembali mengetuk gitar, kini tiga kali ketukan membuat Natsume berpikir Yuki tidak akan bertingkah jail lagi namun ia salah Yuki seakan ingin membuka suaranya lalu menutup rapat lagi bibirnya. Natsume menghentakkan kakinya kesal.
"Yu chan!." Yuki malah tertawa puas melihat wajah cemberut Natsume.
"Hahaha, kamu cepat tua kalau memasang wajah seperti itu Hazuki." Komentar Yuki.
"Apa maksudmu?!." Yuki mengulum bibirnya ke dalam menahan tawa yang akan keluar.
"Dengan wajah kakumu itu kamu bisa menghancurkan planet mars loh, kan berbahaya bumi bisa langsung terkena dampak besar matahari." Natsume sontak memijat-mijat wajahnya dengan kedua tangan.
"Benarkah Yu chan?." Yuki tersenyum tipis mengangguk mantap.
"Ung."
"Hachibara san memiliki cara tersendiri untuk membuat Hazuki merasa nyaman."
"Ya, dan aku tertipu."
"Aku juga."
"Ibu sudah deg-degan ini loh." Komentar keluarga Akihiko.
Yuki menatap Natsume meminta atensi gadis itu, setelah Natsume membalas tatapannya Yuki kembali berucap.
"Lihat dia dulu sebentar." Titah Yuki, Natsume menoleh dan langsung menatap lurus wajah kekasihnya tersenyum lembut dan kembali melirik Yuki. Jantung Seiko di sana berdegup kencang, meskipun ia bingung dengan arti tatapan itu. Tiba-tiba ia menjadi gugup sendiri.
"Yu chan, aku tidak tahu kamu bisa seromantis ini." Lirih Natsume.
"Tidak seromantis yang sudah berpengalaman." Ucap Yuki meledek Natsume.