
Yuki larut ke dalam permainannya, ingatan yang tiba-tiba menerjang seperti air terjun terus mengalir jatuh mengisi tempat kosong di dalam kepala Yuki.
Yuki ...!.
Hahaha ... Yuki ...!.
Ke sini, Yuki ...
Yuki kecil berlari ke arah Ayumi dengan senyum lebar di wajah imutnya.
Nenek Yuri, apakah tanaman obat ini langka?.
Betul, tanaman ini bisa menyembuhkan orang demam lebih cepat.
Yuki kecil sedang belajar tentang tanaman-tanaman obat dengan nenek buyutnya.
Nenek Yuri, bagaimana lukisanku?.
Bayangan wajah tua yang perlahan terlihat jelas membuat Yuki semakin menghayati setiap petikan senarnya.
Indah sekali, kamu menggambarkan alam dengan sangat indah.
Bibir Yuki bergetar pelan, cepat-cepat ia menggigit bibirnya. Hati kecilnya berteriak akan rasa rindu yang teramat besar untuk wanita yang baru ia ingat.
Suara jernihnya, senyuman menawannya, setiap gerakkannya yang anggun, mata penuh pesona, Yuki melihat lamat-lamat wajah keriput itu.
Nenek Yuri .., apa maksud tulisan ini?, Yuki tidak bisa memahaminya.
Ucap Yuki kecil mengerutkan kening seraya memajukan bibir mungilnya.
Ahaha, kenapa buku ini bisa ada di tanganmu?.
Yuki mengambilnya di rak tersembunyi di bawah peta besar itu.
Yuki kecil menunjuk peta yang tertempel di dinding.
Bagaimana Yuki menemukan rak itu?.
Menekan lalu menggeser dinding aneh di sana.
Yuri tersenyum bangga kepada balita mungilnya.
Coba Yuki baca apa yang tertulis di sana.
Yuki kecil menatap cukup lama tulisan di atas kertas tua.
Kenapa di depannya kosong?.
Yuki kecil menunjuk tanda kurung di bagian depan tulisan.
Itu untuk nama orang yang kamu tunjuk.
Yuki kecil mulai membaca melewati bagian kosong.
( ), sunyi, kegelapan, suci, rahasia leluhur,
tiba-tiba suara Yuki kecil tidak terdengar lagi digantikan oleh suara wanita dewasa meneruskan kalimat Yuki kecil.
Suara itu sangat serak. Bayangan perlahan berubah buram digantikan oleh cahaya remang sebuah ruangan.
Yuki melihat genangan air berwarna merah berada di sekitar empat orang itu, bayangan gelap dua orang tersungkur di lantai, siluet Ayumi menunduk menatap gadis kecil bermata biru, telunjuknya berada di kening gadis kecil.
Sunyi, gelap, dingin, bau amis, Yuki bahkan bisa merasakan suasana di dalam bayangan itu.
Terjerat dalam sulur hitam, kau ... Yuki
Yuki mengerutkan keningnya, ia berusaha mendengarkan apa yang dikatakan Ayumi selanjutnya tapi tidak bisa, suara wanita itu tiba-tiba tidak bisa didengar oleh Yuki. Selanjutnya adalah pemandangan yang sangat mengerikan!.
CETAK!.
"Yuki!." Teriak Mizutani meraih tangan Yuki.
Senar koto putus, darah menetes dari telunjuk Yuki.
"Sensei, saya ambilkan kotak obat." Sergah cepat Ishikawa.
"Terima kasih, aku akan membawa Yuki ke uks." Kata Mizutani menarik pundak Yuki berdiri dari sana.
Mizutani membawa Yuki keluar dari ruang klub koto. Ia melihat wajah Yuki yang berubah pucat, bola matanya bergetar, dan bibirnya tertutup rapat.
Untunglah ada pil itu kalau tidak, apa yang akan terjadi padanya, batin Mizutani.
Yuki membelokan kakinya, Mizutani hendak melarang namun ia urungkan melihat raut wajah Yuki yang tidak berubah, Mizutani memutuskan untuk mengikuti kemana pun gadis itu melangkah.
Ruang ganti manajer?, batin Mizutani membukakan pintu.
Mizutani mendudukan Yuki di kursi panjang, gadis itu masih bungkam sorot matanya tidak bisa di artikan. Mizutani keluar ke kantornya mengambil kotak p3k dan kembali lagi. Yuki masih di tempatnya tidak bergerak sedikit pun.
Mizutani berjongkok di depan Yuki mulai mengobati telunjuk gadis itu.
"Uhuk!." Mizutani mendongak melihat Yuki menutup mulutnya dengan tangan kosong.
"Kita pulang." Ucap Mizutani beranjak berdiri memberikan sapu tangan kepada Yuki.
Yuki tidak menjawab ia membuka kotak kecil memakan pil keduanya di pagi ini.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ujar Mizutani setelah melihat Yuki menelan pil keduanya. Mizutani segera menelpon seseorang.
"Siapkan ruangan khusus dan kantung darah." Mizutani membuka loker dengan nama Hachibara mengambil tas Yuki.
"Aku tidak tahu pasti berapa kantung darah yang dia butuhkan, siapkan sebanyak-banyaknya." Mizutani menutup panggilan menuntun Yuki keluar.
"Tetap tutup mulutmu dengan sapu tangan, tunggu disini tidak akan ada orang. Aku ambil mobil dulu." Mizutani berlari ke parkiran.
Kenapa Yuki tetap diam, apa yang terjadi, apa dia mengingat sesuatu?, batin Mizutani membawa mobilnya ke gerbang belakang sekolah.
Mizutani melihat Yuki yang berdiri bagaikan patung, sapu tangannya sudah berubah warna, jaket jersey yang di pakai pun ikut terkena noda darah. Mizutani melompat keluar dari dalam mobil menuntun Yuki untuk masuk ke jok belakang, memasangkan sabuk pengaman.
Zzzz ... Zzzz ...
"Selamat pagi kepala sekolah, maaf saya tidak bisa mengajar hari ini. Ada kepentingan mendadak yang harus saya lakukan." Mizutani berbicara dengan telepon lagi di tengah-tengah ia menyetir.
"Saya benar-benar minta maaf."
"Baik, terima kasih banyak pak kepala sekolah."
Mizutani menutup teleponnya, ia melirik Yuki yang terus-terusan memuntahkan darah tanpa ada batuk.
Mizutani menancap gas semakin dalam mempercepat perjalanan mereka.
Dokter yang sama saat menangani Yuki tempo hari sudah berdiri di depan pintu masuk ditemani dua suster di belakangnya.
Mizutani hendak membukakan pintu untuk Yuki namun gadis itu sudah keluar lebih dulu, berjalan menghampiri dokter yang menunggunya.
Sang dokter dan kedua suster kebingungan melihat gadis pucat berjalan santai menghampiri mereka, sesekali gadis itu memuntahkan darah, bahkan sapu tangannya sudah tidak bisa menyerap cairan kental itu lagi alhasil darah mengotori tangan turun ke lengan dan jatuh ke lantai.
"Maaf dimana ruangan saya?." Gadis itu bertanya dengan sopan membuyarkan kebingungan mereka.
"Antarkan pasien." Titah dokter.
"Baik dok."
Dua suster itu segera mengantar Yuki ke kamarnya, salah satu dari mereka mengganti sapu tangan di genggaman Yuki dengan sapu tangan yang baru.
"Apa yang terjadi?." Lirih dokter penuh penekanan.
"Itu adalah khasiat pil yang kamu lihat waktu itu." Jawab Mizutani.
"Dimana khasiatnya?!, dia masih terus memuntahkan darah." Protes dokter.
"Khasiatnya adalah dia tidak merasakan sakit, tapi darahnya tetap akan keluar." Mendengar itu dokter berjalan cepat menyusul Yuki dan suster.
"Aku sudah bertanya kepadamu, apa penyakit yang dia derita. Apa sekarang kau masih tidak mau mengatakannya?." Mizutani mengikuti dokter dari belakang.
"Tidak." Jawab tegas Mizutani.
"Kalau begitu jangan halangi aku kali ini. Aku akan memeriksanya meskipun tanpa persetujuanmu." Mizutani hanya diam tidak menjawab.
Ceklek.
Dokter tidak melihat pasiennya di kamar tapi malah mendapati kedua suster tadi yang berdiri di depan pintu toilet.
"Apa yang sedang kalian lakukan?, dimana pasien?." Tanya dokter.
"Pasien sedang berada di dalam toilet, pasien melarang kami membantunya." Jawab salah satu suster.
"Apa dia sudah gila?." Komentar dokter menatap Mizutani.
"Jaga mulutmu Dazai." Mizutani menatap manik Dazai memberikan peringatan kepada pria itu.
Ceklek.
Semua orang langsung menatap pintu yang terbuka, gadis bermanik biru itu sudah mengganti bajunya dengan baju rumah sakit, tangan kanannya memegang handuk tebal di depan mulut sedangkan tangan kirinya membawa tiga lapis handuk baru.
Ia berjalan tanpa menghiraukan yang lain, meletakan handuk baru di atas nakas, menaikan kepala brankar lalu duduk menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
"Pasien mandiri." Komentar Dazai berjalan menghampiri Yuki.
"Maaf, saya akan memeriksa anda sebentar." Kata Dazai mulai memeriksa Yuki seperti pasien pada umumnya.
"Apa ruangan ini kedap suara?." Bukannya jawaban tapi malah pertanyaan acak yang Dazai dapat.
"Tidak, kenapa anda menanyakan itu?." Yuki tidak menggubris ia sibuk mengelap bibir dan hidungnya.
"Apa bisa aku menyewa satu lantai penuh untukku sendiri?." Semua orang terkejut dengan permintaan Yuki.
Seharusnya dia dibawa ke rumah sakit jiwa bukan ke sini, batin kedua suster.
"Mi chan tolong lakukan sesuatu. Waktumu tinggal dua puluh menit." Untuk pertama kalinya Mizutani meremas kuat rambutnya untuk berpikir.
Aku tidak mungkin membawanya ke markas, keberadaannya akan terbongkar dan dapat berdampak buruk untuk kesehatannya. Aku juga tidak mungkin mengusir pasien yang berada di lantai ini, pikiran Mizutani terus berkecambuk mencari solusi.
"Apa maksudnya jelaskan padaku." Sergah Dazai menatap tajam Mizutani.
"Khasiat obatnya akan berhenti dan sepertinya penyakitnya masih kambuh." Jawab Mizutani menatap Yuki yang masih duduk diam menatap jendela kosong kamar.
"Karena itu aku sedang memeriksanya!." Dazai mulai frustasi.
"Mi chan, bawa aku ke ruang jenazah."
Hening.
"Kamu tidak bisa mengosongkan lantai ini bukan, tujuh menit telah hilang sia-sia karena pertengkaran kalian." Yuki turun dari brankar membuang handuk di tangannya menyambar handuk yang baru.
"Bisa tolong antarkan saya ke ruang jenazah?." Tanya Yuki kepada salah satu suster.
"A a it itu ..." Suster kebingungan menoleh kepada Dazai lalu menatap Yuki kembali.
"Baik, aku akan mencarinya sendiri." Yuki berjalan melewati suster.
Mizutani menghadang jalan Yuki.
"Ayo keruang jenazah." Kata Mizutani menunduk menatap Yuki yang mengelap mulut dan hidungnya untuk kesekian kali.
"Bisa kamu berlari untukku?."
"Ung."
Bibirnya bergerak tapi sorot matanya masih sama, batin Mizutani.
"Dazai, tunjukan jalannya." Titah Mizutani mengangkat tubuh Yuki.
"Ini menyebalkan." Geram Dazai berjalan di depan Mizutani.
"Kalian berdua kembali bekerja." Dazai melirik sekilas kedua susternya.
"Baik dok."
Setelah lift terbuka Dazai dan Mizutani berlari di lorong sepi, ruang jenazah adalah ruangan yang sangat jarang orang kunjungi selain itu beberapa ruang jenazah berada di lantai bawah atau di basement. Seperti rumah sakit ini yang ruang jenazahnya berada di basement.
Dazai membuka lebar pintu besi membiarkan Mizutani masuk lebih dulu. Seperti ruang jenazah pada umumnya, banyak lemari besi tertata rapi di dinding ruangan.
Mizutani menurunkan Yuki duduk di salah satu kursi, ia melihat Yuki menatap sesuatu, Mizutani pun ikut melihat apa yang gadis itu tatap.
"Aku melarangmu berbaring di sana." Tegas Mizutani saat melihat meja besi besar tempat untuk meletakan mayat sebelum di bersihkan.
"Kalau begitu tahan aku." Jawab Yuki tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau harus menjelaskan," Mizutani memotong cepat kalimat Dazai.
"Kunci pintunya. Jangan biarkan ada orang yang masuk." Dazai menatap Mizutani dari samping, pria itu sedang sangat serius. Tanpa bertanya lagi Dazai mengunci pintu. Tiga detik kemudian semuanya dimulai.
Awalnya Yuki hanya mengerang memegangi kepalanya, lalu berubah menarik kuat rambutnya. Dazai membeku melihat pemandangan itu, perlahan ia menghampiri Mizutani menatap punggung lebar laki-laki itu lalu melayangkan tendangan yang mengarah ke kepala Mizutani.
Mizutani menangkap pergelangan kaki Dazai tanpa mengalihkan perhatiannya dari Yuki, Dazai merasakan darah di dalam tubuhnya sudah mendidih dengan memusatkan tenaga di telapak tangannya Dazai meninju belakang kepala Mizutani.
BRAK!.
Tubuh Dazai terlempar menghantam keras dinding, ia menatap tajam Mizutani yang berusaha menahan tangan Yuki agar tidak menarik rambutnya.
"TSUBAKI ...!!." Teriak Dazai murka.
Mizutani tidak menghiraukan Dazai ia sangat fokus menjaga Yuki.
"Jangan gigit bibirmu." Mizutani menarik dasinya hingga terlepas menaruhnya di mulut bagian depan memastikan ujung-ujung mulut Yuki tidak tertutup agar darah bisa keluar tanpa terhambat sesuatu.
"Siapa yang berani melakukan ini kepada ojou chan HAH!." Dazai berteriak mencoba mengangkat tubuhnya, lemparan Mizutani sangat kuat sampai membuat Dazai kesulitan untuk berdiri.
"Dia tidak bersalah, penyerangan itu bukan salahnya!." Dazai kalut, ia menatap Yuki yang mulai berteriak menggeliat di dalam kurungan lengan Mizutani.
"Tsubaki sialan kau!." Dazai berlari hendak menerjang Mizutani.
"Aku juga merasakan hal yang sama!." Mizutani menaikan suaranya menghentikan Dazai.
"Aku juga sepertimu saat pertama kali mengetahui kenyataan ini." Mizutani memperkuat pegangannya di kedua tangan Yuki.
Dazai merosot, ia jatuh terduduk menatap Yuki yang semakin menjadi, air matanya tidak bisa di bendung lagi.
"Aku juga sakit melihatnya seperti ini." Yuki tidak sengaja menendang perut dan kaki Mizutani, gadis itu terus meronta hingga terjatuh dari kursi.
"Kumohon bertahanlah ..." Rintih Dazai.
"Aaarrggghhh ...!" Erangan Yuki berubah menjadi teriakan.
Dazai merangkak mendekat, tangannya terulur untuk mengelap darah yang keluar dari mulut Yuki.
"Bertahanlah, ojou chan." Lirih Dazai, air matanya tidak mau berhenti.
"Aaaakkhhh ...!!!." Yuki melotot, kakinya menendang-nendang ke segala arah, tangannya berusaha lepas dari cengkeraman Mizutani. Gadis itu kesakitan.
Teriakan Yuki menggema sampai kepenjuru lorong basement.
Sudah sepuluh menit berlalu tapi gadis itu masih meronta kesakitan, bahkan darahnya menggenangi lantai ruang jenazah, seragam putih Dazai dan Mizutani tidak luput dari noda merah.
"Bagaimana ojou chan tidak menangis merasakan sakit luar biasa yang tidak bisa kita bayangkan." Dazai menyeka air matanya, ia berniat meraih pergelangan tangan gadis itu mengecek denyut nadi.
Yuki dengan sedikit tenaga memaksa menggerakan tangannya menjauh, Dazai terkejut menatap gadis lemah yang sedang berusaha bernafas dengan baik.
"Ojou chan ..." Lirih Dazai menatap Yuki penuh khawatir juga sedih.
"Ja-nga-n laku-kan ap-a pun." Ucap Yuki terbata-bata.
"Baik." Jawab Dazai. Kepala Yuki terkulai lemah di lengan Mizutani.
"Man-di." Lirih gadis itu.
"Dazai kau dengar itu." Mizutani melirik Dazai yang segera sadar dari lamunannya bergegas berdiri dan membuka pintu ruang jenazah.
"Aku akan mempersiapkan semuanya." Kata Dazai bergerak cepat.
***
Disinilah Yuki selama tiga hari, menghabiskan berkantung-kantung darah, duduk dan terbaring di brankar rumah sakit, membiarkan suster keluar masuk memeriksa keadaannya.
Dazai, dokter itu belum menemui Yuki lagi setelah kejadian di ruang jenazah.
"Apa kamu tidak bosan melihat keluar jendela?." Mizutani menaruh keranjang buah yang dibelinya di jalan.
"Masamune san, Yuuki, dan dua temanmu, setiap hari datang kepadaku untuk menanyakan keadaanmu." Yuki tidak menjawab, selama tiga hari ini Yuki tidak pernah membuka mulutnya kepada Mizutani atau para suster sekali pun.
Mizutani melepas jaketnya, ia langsung kerumah sakit setelah latihan selesai.
"Aku tidak memberikan jawaban kepada mereka semua, tidak tanpa seizinmu." Mizutani mendekati kursi di dekat brankar.
"Mau makan?." Mizutani tidak menunggu Yuki menjawab karena itu sia-sia, ia mengambil apel lalu mulai mengupasnya.
Ceklek.
"Kamu sudah ada di sini?." Dazai datang dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku seragam dokternya.
"Hm." Mizutani memotong apel kecil-kecil.
"Maaf, aku butuh waktu lama untuk menenangkan diri." Kata Dazai berdiri di ujung brankar.
"Ya, aku mengerti."
Perlahan Yuki menggerakan kepalanya menatap tepat manik Dazai, yang di tatap masih tidak menyadarinya.
"Yuki, buka mulutmu." Kata Mizutani seraya menyodorkan apel.
"Yuki?." Panggil Mizutani pelan, Dazai yang melihat temannya termangu ikut melirik gadis yang duduk di atas ranjang sedang menatapnya tanpa berkedip.
Dazai perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam saku, tubuhnya merespon secara otomatis tatapan itu. Dazai sedikit menurunkan tatapannya berdiri dengan sikap sempurna.
"Aku bertanya, dan kau menjawab, Dazai san." Mizutani sangat terkejut mendengar suara dalam, tenang, sekaligus tegas yang keluar dari mulut Yuki.
Seperti sebuah perintah mutlak, Dazai maupun Mizutani tidak bisa menolak atau membantah ketika gadis remaja lemah itu merubah aura disekitarnya.
"Baik, ojou chan." Jawab Dazai.
Mizutani gelisah, ia khawatir Dazai akan membeberkan semuanya, laki-laki itu belum tahu tentang rencana rahasianya.
"Siapa nenek Yuri?."
Dazai dan Mizutani sontak melebarkan mata mereka, terkejut.