
Gerbong sedikit bergoyang mengusik tidur gadis bak malaikat itu. Para penumpang berbaris rapi untuk turun. Sentuhan lembut di pipinya membuat kelopak mata bergerak terbuka.
"Sudah sampai." Ucap Hotaru.
"Hmm." Yuki beranjak berdiri, sempoyongan.
Tanpa mengatakan apa pun Hotaru mengangkat tubuh Yuki membiarkan gadis yang berbagi tempat di dalam sempitnya perut ibu mereka untuk tertidur kembali.
"Ojou chan masih tidur?." Yamazaki melirik Yuki.
"Hm, sepertinya Yuki kelelahan." Jawab Hotaru.
Di dalam briefing lima menit tidak ada yang berkomentar apa pun, mereka semua terlalu lelah.
"Kamu mau mengantar Aoki?." Tanya Hotaru.
"Ya, orang tuanya tidak bisa menjemput." Jawab Fumio.
"Pegang ini." Hotaru menyodorkan tubuh Yuki kepada Fumio begitu saja.
Grep.
Fumio melirik tajam teman karibnya itu. Untunglah Yuki tidak terbangun!. Sepertinya gadis di dalam gendongannya sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Aku yang akan mengantar Aoki, kamu antarkan Yuki sampai kamarnya." Titah Hotaru langsung pergi menghampiri Aoki.
Mau protes tapi percuma, Hotaru sudah membukakan pintu mobilnya untuk Aoki.
Mobil Fumio datang di saat mobil Hotaru pergi. Pelayan laki-lakinya membukakan pintu mobil. Dengan hati-hati Fumio masuk ke dalam mobil, membiarkan Yuki tidur di pangkuannya.
Tubuh Yuki sangat ringan dan terlihat kecil di lengan panjang dan berisinya. Fumio merapikan rambut Yuki yang menutupi wajah gadis itu. Semoga saja Yuki tidak terbangun karena suara berisik detak jantungnya.
Kalau mata ini terbuka mana mungkin kamu mau dekat-dekat denganku, batin Fumio.
Tidak butuh waktu lama mobilnya sampai di halaman luas rumah terbesar di daerah itu. Fumio keluar dengan sangat hati-hati. Beberapa pelayan dan pelindung yang melihatnya langsung terkejut namun pelayan Fumio segera menenangkan mereka jikalau Yuki hanya sedang tertidur.
Fumio langsung berjalan menuju kamar yang sudah sangat ia hafal di ikuti oleh pelayannya dari belakang. Mereka menjaga jarak kesopanan. Di depan kamar Hotaru bibir itu bergerak menyebut satu nama dengan sangat jelas.
"Kak Dimas." Fumio berhenti sebentar menatap lekat-lekat wajah yang mengeluarkan keringat itu.
"Hotaru." Fumio melihat kerutan di dahi Yuki.
"I .., bu ..."
Fumio kembali melanjutkan langkahnya. Kedua pelayan Yuki sudah menunggu nona muda mereka di depan pintu. Mereka membuka pintu sangat pelan seakan tidak boleh ada suara di sana.
Fumio melangkah masuk untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun terakhir. Tidak banyak yang berubah hanya aroma wangi bunga lavender kini sudah berganti menjadi aroma manis, lembut, dan sedikit segar menguar memenuhi kamar.
"Kak Dimas." Gumam Yuki melingkarkan lengan rampingnya di bawah ketiak Fumio.
Keringat kembali mengucur. Perlahan Fumio membaringkan Yuki di ranjangnya. Kedua pelayan gadis itu membungkuk dan segera keluar dari dalam kamar menutup pintu.
"Apa yang kamu mimpikan?." Tanya Fumio lirih, tangannya mengelap keringat Yuki.
"Maaf." Bibir itu bergetar.
Yuki tidak demam, gadis itu sedang mendapatkan mimpi buruk. Fumio dengan tangan panjangnya perlahan meraih selimut, membungkus tubuh Yuki.
"Hotaru." Tangan Yuki sudah mencengkeram kaos bagian belakang Fumio.
"Hotaru." Gadis itu hanya memanggil dua nama berulang-ulang.
Fumio menurunkan kepalanya mendekat di samping telinga Yuki. Membisikan nama gadis itu.
"Yuu."
Kerutan di dahi Yuki mulai mengendur tapi tidak dengan cengkeraman tangannya di punggung Fumio.
Sreet.
Pintu terbuka menampilkan sosok Hotaru yang terlihat khawatir. Pelayan kembali menutup pintu ketika Hotaru sudah berjalan memasuki kamar.
"Kenapa dengannya?." Tanya Hotaru.
"Yuki tidak sakit, dia sepertinya sedang bermimpi buruk." Jawab Fumio.
"Terima kasih." Ucap Hotaru.
"Sebaiknya kamu yang berada di sampingnya. Akan buruk jika Yuki tahu kalau ini aku." Kata Fumio.
"Ung."
Hotaru naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di sisi yang lain. Perlahan dan dengan hati-hati, Hotaru melepaskan tangan Yuki dari Fumio.
"Kak Dimas." Hotaru melebarkan matanya.
"Siapa?." Bisik Fumio.
"Seseorang di masa lalunya." Jawab Hotaru.
"Apa orang ini yang dimaksudkan pemilik hatinya?."
Hotaru melirik manik Fumio sekilas sebelum menjawab.
"Hm."
"Nanti siang ceritakan padaku." Kata Fumio tidak bisa di ganggu gugat.
Dengan perjuangan yang cukup lama akhirnya tangan Yuki lepas juga dari Fumio.
"Aku harus pulang sekarang, pekerjaan sudah menunggu di rumah." Pamit Fumio.
"Eiji, arigatou." Ucap Hotaru.
"Ung, jya na (Ya, sampai jumpa)."
Pelayan membukakan pintu untuk Fumio. Hotaru mengelap keringat saudari kembarannya dengan sapu tangan.
"Hotaru." Lirih Yuki. Tangannya bergerak-gerak mencari sesuatu.
Grep.
Hotaru menangkap tangan Yuki menciumnya sekilas.
"Tidurlah, aku di sini. Aku tidak pergi." Ucap Hotaru memeluk Yuki dengan hangat.
Keduanya jatuh terlelap tidur.
Udara panas mengusik Yuki, ia menggeliat berusaha lepas dari sesuatu yang membelitnya. Dengan berat hati Yuki memaksa kelopak matanya terbuka. Terpampang jelas tangan berotot melingkari tubuhnya, deru nafas teratur ia rasakan pada pucuk kepala.
Yuki membalikan tubuh menatap wajah yang sedikit mirip dengannya, apa lagi di saat mereka tertidur. Yuki menguap, mengedipkan matanya sejenak. Bukannya bangun atau membangunkan kembarannya Yuki malah mencari tempat yang nyaman di pelukkan Hotaru.
Ia teringat detik-detik meninggalkan sma oukami bersama rombongannya. Saat itu Yuki sedang menaiki bus, banyak sekali anak-anak sma oukami melepas kepergiannya dengan berkumpul di halaman depan sekolah.
Flashback.
"Kamu terlalu memaksakan diri." Hotaru mengusap kepala Yuki.
"Tapi mereka benar-benar berhasil menjadi juara dan pergi ke koshien." Jawab Yuki.
"Kemarikan." Hotaru hendak mengambil perlengkapan tim dari tangan Yuki namun di tolak mentah-mentah oleh gadis itu.
"Lihat Aoki, dia akan melahapku bulat-bulat jika tidak melakukan pekerjaanku dengan benar." Hotaru melirik ke arah Aoki yang berdiri di dekat Fumio namun pandangannya mengarah kepada mereka.
"Yuk i ..." Hotaru mencari kembarannya yang sudah tidak berdiri di sampingnya.
Ternyata gadis itu sudah sibuk memasukkan perlengkapan tim bersama Sayuri ke dalam bagasi bus.
Hotaru sangat khawatir satu minggu terakhir Yuki selalu berlatih dengan tim baseball setelah jam latihan tim voli selesai. Setelah latihan baseball pun ia akan mendiskusikan rencana, strategi, menu latihan setiap pemain. Ia juga beberapa kali ijin tidak ikut latihan untuk menonton pertandingan baseball dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya.
Dan berakhir dengan wajah pucat yang kentara karena kurang tidur dan kurang makan.
Hotaru berjalan menyusul yang lain masuk ke dalam bus, berdiri di belakang Yuki sampai jeritan keras dari belakang tubuhnya menghentikan langkah gadis itu.
Yuki membalikan tubuhnya yang masih berdiri di pintu bus. Respon khas miliknya kala tidak paham akan sesuatu membuat lautan orang itu tertawa dan tersenyum senang.
Yuki semakin menaikan satu alisnya sedikit memiringkan kepala menatap salah satu sosok yang ia sangat kenal.
Natsume melebarkan senyum menawannya. Yuki mengedipkan mata beberapa kali.
Ada apa?, kenapa semua orang berkumpul?, tanyanya dalam hati.
Dari anak-anak klub baseball, basket, voli, band, klub seni rupa pun ada, mantan anak-anak kelas 2-1, dan banyak yang Yuki tidak ketahui berasal dari kelas atau klub mana. Mereka berbaris memenuhi halaman.
"Hachibara Yuki san!." Inuzuka berteriak.
Aneh, batin Yuki yang baru kali ini mendengar Inuzuka menyebut nama lengkapnya.
Yuki melirik uluran tangan Hotaru yang membantunya turun dari bus untuk menemui mereka. Yuki berjalan mendekat namun terkejut dengan pernyataan tiba-tiba dari Nakashima.
"Aku akan melamar senpai dua tahun lagi!, tolong tunggu aku!."
Plak.
Buk.
Yuki tersenyum melihat Nakashima yang di serang pemain baseball yang lain tapi bukan karena kekerasan yang mereka lakukan melainkan tingkah mereka.
"Menejer." Yuki melirik Kudo, menaikan satu alisnya menunggu kalimat ejekan apa yang akan kapten itu katakan.
"Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini. Kami tidak akan melupakan setiap detik waktu yang kami habiskan denganmu. Karena usaha keras menejer jugalah kami dapat melaju ke koshien. Kami akan merebut juara di koshien untuk membalas semua kerja kerasmu untuk kami." Yuki kaget, ia agak tidak percaya kalimat halus itu keluar dari mulut Kudo.
"ARIGATOU GOZAIMASU MENEJER SAN!." Yuki melebarkan matanya mendapatkan serbuan teriakan dari semua anggota tim baseball. Bahkan Sakura sudah terisak.
Para menejer tim baseball berjalan menghampiri Yuki memberikan kado cukup besar kepadanya.
"Dari kami." Ucapnya.
Yuki tentu saja menolak, ia hanya melakukan tugasnya sebagai menejer, menyokong tim dengan kemampuannya.
"Tolong terima lah!." Jerit mereka. Dengan tidak enak hati Yuki menerimanya.
Natsume tiba-tiba berjalan mendekat namun memberikan jarak cukup jauh dari Yuki.
"Aku akan mewakilkan yang lain." Ucapnya. Ueno dan Honda berdiri di belakang Natsume.
"Hati-hati di jalan." Hanya satu baris kalimat itu namun berhasil membuat Yuki hampir goyah dengan perasaannya.
Beginikah rasanya di cintai oleh orang lain?, bahkan untuk melepas pergi saja sangat berat dan menyesakkan rongga dada.
Yuki melembutkan pandangannya, mengulas senyum manis dan lembut secara bersamaan. Tanpa sadar gadis itu merubah auranya menjadi seorang putri klan, menghipnotis siapa pun tanpa terkecuali. Suara merdunya di penuhi aura bangsawan, berkharisma, menyentuh halus hati orang lain.
"Aku hanya siswi biasa di sekolah ini, aku belajar banyak dari kalian. Aku juga tidak menyangka di tempat ini aku mendapatkan banyak sekali teman. Kita akan berjalan di jalan kita masing-masing, aku harap kalian dapat menggapai cita-cita kalian, memenuhi harapan. Kalau tidak berhasil pun masih ada jalan yang lain, jangan menyerah. Selama satu tahun di sini, sangat menyenangkan, aku bersenang-senang. Terima kasih banyak." Ucap Yuki panjang lebar seperti pidato.
Gadis itu membungkuk sembilan puluh derajat cukup lama. Gema isak tangis menyeruak memenuhi udara. Setelah sangat lama membungkuk Yuki menegakkan tubuhnya dan mendapati kejutan fenomenal.
"Suki desu!. Sukiatte kudasai ..!!!!. (Aku menyukaimu!. Tolong berpacaran denganku ..!!!!.)."
Seluruh siswa laki-laki kecuali, Hirogane, Yoshihara, Keiji membungkuk dalam setelah berteriak kompak seperti itu.
Apa mereka sengaja merencanakannya?, batin Yuki.
Natsume dan siswi yang lain tertawa lirih melihat raut wajah Yuki yang cukup kebingungan.
"Terima kasih. Perasaan tulus kalian sangat berharga, dan aku tidak pantas menerimanya." Yuki menolak dengan halus seperti yang sering ia lakukan di sma oukami.
"Di luar sana banyak perempuan manis dan cantik yang lebih layak menunggu kalian. Carilah wanita yang lebih baik. Maaf." Yuki ikut membungkuk dalam.
Para siswa menegakkan tubuh mereka sudah tahu bahwa mereka pasti akan di tolak. Bukannya sedih mereka malah tersenyum kepada Yuki. Gadis itu perlahan menegakkan badannya mendapati semua orang tersenyum.
Natsume berlari menerjang Yuki sebelum gadis itu tersadar. Memeluknya sangat erat.
"Jangan hilangkan nomorku lagi. Sejauh apa pun jarak kita tetap hubungi aku. Jika aku laki-laki sudah aku culik kamu Yu chan." Gerutu Natsume.
"Gila." Balas Yuki ikut memeluk Natsume.
Honda dan Ueno juga memberikan pelukkan memperbesar tumpukan lengan.
"Jangan lupakan kami, sering-sering lah main ke tokyo." Ucap Ueno.
"Jika kami ada waktu, kami akan datang mengunjungimu di Miyazaki." Imbuh Honda.
"Kata terima kasih tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan kepada kami." Natsume berkata lirih dengan suara yang terdengar serius.
"Kami akan menjaga nyawa dan kebebasan yang telah kamu berikan Hachibara san." Sambung Honda.
"Jadilah dirimu sendiri. Lebih perhatikan kebahagiaanmu sendiri. Jangan terluka lagi. Selalu hubungi kami. Aku sudah membuat grup chat untuk kita berempat." Kata Ueno.
"Terima kasih. Jaga diri kalian." Balas Yuki.
Mereka melepaskan pelukkan satu persatu.
"Yuki." Manik biru itu bergerak mendapati Masamune datang untuk mengantarkan kepergiannya.
"Masa san." Yuki berjalan menghampiri wanita itu.
"Jangan menangis lagi, tadi pagi kamu sudah banyak menangis. Aku bukan pergi ke planet lain, hanya ke miyazaki." Tutur Yuki menghapus air mata Masamune.
Sudah menjadi rahasia umum di sma oukami jika sang dewi mereka yang cuek, dingin, datar itu memiliki hati yang lembut, manis dan hangat.
"Ibuku setuju untuk tinggal di tokyo." Yuki tersenyum tulus.
"Ung, syukurlah. Masa san jadi tidak kesepian." Masamune menatap lekat-lekat manik biru itu.
"Ini, bawalah. Aku ingin kamu membawa ini." Yuki menerima kotak biru dari Masamune.
"Apa ini?."
"Berjanjilah untuk meletakkannya di kamarmu." Yuki mengangguk paham.
"Ung, aku akan meletakkannya di kamar." Jawab Yuki.
"Aku datang dengan orang lain." Ujar Masamune memiringkan tubuhnya.
Yuki tersenyum kaku melihat sosok kalem yang berdiri menatap ke arahnya.
"Pergilah." Lirih Masamune.
"Ung."
Yuki berjalan mendekati Hajime, mereka saling diam untuk beberapa detik hingga Yuki yang lebih dulu membuka suara.
"Senpai." Panggil Yuki.
"Hajime. Aku ingin mendengar kamu memanggilku seperti itu." Pinta Hajime mengejutkan Yuki.
Dengan ragu-ragu Yuki menggerakkan bibirnya memanggil nama kecil mantan kapten baseball.
"Hajime .., senpai." Entah kenapa hal itu membuat Yuki merasa malu. Suara tawa lirih yang sangat khas keluar dari mulut Hajime.
"Terdengar lebih baik." Ujar Hajime membuat Yuki mendongakkan kepalanya. Manik mereka pun bertemu.
Hal selanjutnya membuat Yuki membeku. Hajime mendaratkan telunjuknya di bibir bawah Yuki.
"Ini bukan milikku. Aku juga tidak berhasil melindungi milikku sampai dapat di curi oleh orang." Yuki tidak bergerak sedikit pun. Hajime bertingkah aneh.
"Datang padaku jika kamu sudah siap membuka hati untuk orang lain." Kata Hajime menarik telunjuknya menjauh.
"Jangan tunggu aku. Senpai akan menyakiti diri sendiri." Sergah Yuki cepat.
"Aku tidak akan menunggumu. Tenang saja, tapi jika saat itu datang. Aku akan meninggalkan semuanya untuk menjemputmu." Kalimat manis dari Hajime semakin membuat Yuki merasa bersalah.
"Aku merasa menjadi perempuan yang sangat jahat dan buruk sekarang." Balas Yuki.
"Aku tidak menyesal dengan semua yang telah aku lakukan. Aku akan menyimpan setiap kenangan kita sebagai kenangan yang indah." Mendengar itu tangan Yuki bergerak sendiri meraih jari-jari Hajime.
"Mungkin jika aku memiliki hati seperti kapten cheerleaders yang mudah move on, akan lebih mudah untuk kita." Hajime terkejut dengan balasan Yuki.
"Tapi aku kebalikannya. Jika aku sudah menyerahkan hatiku kepada orang lain sikapku akan lebih menyebalkan." Tutur Yuki yang entah mendapatkan pikiran itu dari mana. Hajime tersenyum kalem.
"Aku sangat menantikan itu terjadi." Yuki menarik nafas kecil.
"Senpai, tolong sedikit menunduk." Pinta Yuki.
Hajime pun menunduk perlahan sampai wajah mereka sejajar.
"Carilah wanita yang jauh lebih baik, yang bisa menghargai hati senpai. Terima kasih untuk semuanya, aku beruntung memiliki tetangga sekaligus senpai yang pengertian, baik, dan keren tentunya." Yuki tersenyum geli mendengar kata terakhir yang ia ucapkan. Jarang sekali ia memuji orang lain seperti itu.
"Hahaha, wajah merahmu sangat lucu." Komentar Hajime. Wajah gadis di depannya bersemu merah, sama seperti di atas panggung saat itu.
"Terima kasih untuk gelang yang senpai berikan. Ini hadiah terakhir dariku." Ujar Yuki yang mendapatkan gelang manis dari Hajime dua hari yang lalu.
Yuki merapatkan jari-jari tangan kanannya yang tidak memegang jari Hajime, memiringkan telapak tangannya menangkup bibir Hajime tanpa menyentuhnya. Sapuan kecil bibir Yuki di punggung tangannya sendiri membuat pemuda itu tidak berkutik. Sangat cepat namun juga sangat jelas di mata Hajime.
Yuki menyapukan matanya sekali lagi menatap orang-orang yang berkumpul untuknya. Lalu berjalan menghampiri Hotaru yang sudah menunggu di pintu bus.
Flashback off.
Apa Hotaru melihat apa yang aku lakukan kepada senpai?, seharusnya tidak. Kami berdiri cukup jauh dari orang-orang, pikir Yuki.
Hidung mancung Yuki mencium wangi yang berbeda dari tubuh Hotaru. Saudara kembarnya mengganti sabun mandinya dengan produk yang sama dengan miliknya namun dengan wangi yang berbeda. Wangi dari tubuh Hotaru seperti pohon pinus dan kayu manis, menenangkan juga membuat tubuh yang menciumnya merasa nyaman, betah berlama-lama di dekatnya.
Siapa dulu yang membuatnya.
Yuki tersenyum geli mendengar suara pikirannya. Yuki yang masih menjadi anak sd suka sekali belajar dengan guru kimianya, melakukan praktek dengan berbagai jenis gelembung sabun lalu mencoba membuat sabun bersama gurunya, dari situlah Yuki memiliki ide untuk membuat sabun, shampo, dan conditioner, hal itu diketahui sang ayah dan ternyata dijadikan produk sungguhan dengan campur tangan para ahli.
"Sudah bangun?. Kenapa panas sekali?. Ac nya mati?." Hotaru menarik satu tangannya untuk menutupi mulutnya yang menguap.
"Jam berapa?." Hotaru merentangkan tangannya mengedipkan mata beberapa kali menatap langit-langit kamar.
"Sepuluh." Mendengar jawaban Yuki Hotaru beranjak duduk sangat cepat.
"Aku telat!. Jangan lupa makan setelah mandi nanti, aku pergi dulu." Jelas Hotaru lalu mengecup kening Yuki sekilas.
Pemuda itu segera turun dari ranjang berjalan terburu-buru ke arah pintu.
"Mau kemana?." Tanya Yuki.
"Rapat, dengan keluarga terhormat." Jawab Hotaru sebelum benar-benar melewati pintu kamar.
Sreeet.
Pintu tertutup kembali. Yuki melirik beberapa kotak yang ia dapatkan dari tokyo.
"Pagi Yuki." Je melayang di atas tubuh gadis itu.
"Pagi Je." Yuki beranjak duduk.
"Laporan menumpuk Yuki." Gadis itu turun dari ranjang mengambil dua kotak itu.
"Tentang?." Yuki membuka kotak dari klub baseball.
"Samudra pasifik. Ada kapal pesiar yang beberapa minggu terakhir terus berlayar di lautan." Lapor Je.
Yuki mengeluarkan sarung tangan baseball kidal, dan seragam serba putih bertuliskan nama sekolahnya dulu. Yuki tersenyum mengeluarkan topi yang sudah di isi oleh tanda tangan semua anak baseball.
"Terjadi pelelangan gelap?. Badan intelejen mana yang mengikuti mereka?." Yuki beralih ke kotak biru.
"CIA, MI-6 inggris." Jawab Je.
"Hal bodoh apa yang mereka lakukan sampai berani mengusik kerajaan inggris?." Gerutu Yuki membuka kotak biru.
Yuki bergeming, lalu mengeluarkan bingkai foto yang terus terhubung cukup panjang. Tujuh bingkai foto yang saling menyambung itu berisi foto-fotonya memakai yukata di jalan depan rumah.
Yuki tersenyum melihat wajah Keiji yang kaku. Foto dirinya dan Hajime yang hanya berdua di letakan di paling tengah. Yuki ingat Hotaru sempat marah-marah melihat foto-foto itu di ruang tengah. Masamune memang memajang foto-foto mereka yang di ambil musim panas tahun lalu.
Waktu berlalu sangat cepat, batin Yuki.
"FBI menyusup ke markas yakuza tadi malam." Je melaporkan informasi yang lain.
"Bagaimana dengan BIN?." Yuki meletakan foto-foto itu di samping komputernya.
"BIN pergi ke macau meninggalkan satu anggota mereka di jepang." Yuki berjalan ke kamar mandi.
"Mereka tidak akan menemukan apa pun di sini." Yuki melepas bajunya mulai membasuh wajah dan membersihkan gigi.
"Bagaimana dengan BND jerman?." Yuki melepas semua kain yang melekat di tubuhnya menyalakan shower sambil menunggu bathup terisi penuh.
"Mengejar iblis." Yuki menghentikan tangannya yang sedang membasuh rambut.
"Ke mana?."
"Palestina." Jawab Je yang melayang di pojok kamar mandi.
"Iblis itu sudah gila. Informasi apa yang sudah iblis dapatkan sampai pergi ke sana?." Gumam Yuki menerka-nerka.
"Je. Klan naga putih masih belum menyadari peretasan kita kan?." Yuki membasuh seluruh tubuhnya lalu masuk ke dalam bathup.
"Belum."
"Yuki." Je melayang di samping kepala gadis itu.
"Hm?." Je tiba-tiba menampilkan layar hologram menunjukkan sebuah villa besar yang terbengkalai.
"Pergerakan aneh terekam di rumah ini. Tadi pagi ada seorang nenek tua keluar dari sana menggunakan kursi roda." Jelas Je.
Yuki menyipitkan mata. Maniknya bergerak cepat memperhatikan setiap sudut.
"Kamu tidak bisa menangkap gambar di dalamnya?."
"Tidak, harus ada kamera yang masuk."
"Sangat jelas villa ini sudah lama terbengkalai. Tapi itu yang membuat persembunyian lebih aman bukan." Lirih Yuki.
"Je, fokuskan halaman depannya." Titah Yuki.
Villa model eropa itu memiliki dua air mancur di kanan dan kirinya, jalan masuk yang luas, rumput liar yang menjalar kemana-mana, gerbang hitam tinggi runcing.
"Bagaimana halaman belakangnya Je."
Gambar berubah menunjukkan kolam renang besar memiliki air keruh berwarna kehitaman. Pondok kecil terbuka tempat untuk meminum teh. Yuki semakin menyipitkan mata.
"Perlihatkan seluruh atap villa."
Yuki melihat dua cerobong asap, atapnya pun sangat lapuk di makan usia.
"Perkecil Je."
Villa berubah mengecil dari atas. Yang Yuki cari adalah kabel listrik setempat yang menyambung ke villa dan hal itu sudah cukup memberikan jawaban kepada Yuki bahwa ada kehidupan di dalam dan di bawah villa.
"Cukup Je, nanti malam kita menyusup ke dalam villa itu." Je mematikan layar hologramnya.
"Hari ini aku harus mencari sejarah klan." Lirih Yuki keluar dari bathup.
***
Yuki sudah mengambil dua tumpuk buku, seperti masih belum cukup Yuki mengambil dua tumpuk lagi. Tidak ada cara lain selain membaca semua buku yang sudah berusia tua di dalam perpustakaan. Yuki mendudukan diri di belakang meja memulai dari tumpukan paling kiri.
Beberapa orang melewati Yuki namun tidak ada yang berani menegur, mengganggu keseriusan gadis itu.
Yuki terus membaca hingga satu tumpuk sudah ia selesaikan, beralih ke tumpukan selanjutnya. Yuki tenggelam ke dalam tumpukan buku.
Di dalam dojo Hotaru dan Fumio sedang beradu pedang kayu. Mereka berlatih sekaligus membahas pemilik nama yang Yuki sebut pagi tadi.
"Jadi mereka sering keluar bersama?." Fumio melempar pertanyaan yang ke sekian kali.
Trang!.
Keduanya saling berhadapan mendorong pedang kayu milik masing-masing.
"Tidak juga. Aku dengar dari sumber terpercaya mereka mulai dekat sejak Yuki kelas satu. Lebih tepatnya Dimas yang selalu berusaha mendekati Yuki." Jawab Hotaru.
Brak!.
Mereka saling bergerak mundur.
"Apakah aku harus lebih agresif?." Fumio melangkah memutar begitu juga Hotaru.
"Jangan jadi orang lain, cukup jadi dirimu dan cepatlah buat Yuki menjadi milikmu. Aku sudah pusing menghadapi para keluarga terhormat yang memaksa melakukan pemilihan lagi."
"Kamu pikir seberapa inginnya aku." Balas Fumio. Mereka saling merangsek ke depan melanjutkan latihan siang itu.
***
"Prof, dimana Yuki?." Kakek tua itu berjalan mengantarkan Hotaru ke lantai pertama perpustakaan.
"Apa Yuki tidak turun sama sekali sejak tadi?." Hotaru gelisah tapi sikap dan suaranya tetap tenang.
"Ojou sama hanya bergerak dari meja ke rak buku sejak beliau datang." Jawab profesor.
"Selalu begini jika dia sibuk." Gumam Hotaru sangat lirih.
"Waka, ojou sama di sebelah sana." Profesor menunjuk satu meja yang di penuhi tumpukan buku tebal sampai ujung kepala Yuki tak terlihat.
"Terima kasih prof." Hotaru berjalan menghampiri kembarannya.
Yuki membolak-balik kertas sangat cepat, bola matanya bergerak lincah, bibirnya terkatup rapat.
"Yuki." Panggil Hotaru melirik buku apa yang sedang adiknya baca.
"Hm?." Gumam Yuki sebagai balasan.
Buku tentang sejarah di atas meja itu sudah seperti gedung-gedung tinggi di tokyo.
"Kamu tahu ini jam berapa?."
"Berapa?." Yuki balik bertanya meletakan buku yang baru selesai ia baca. Tangannya yang lain ternyata sudah mengambil buku baru dari salah satu tumpukan.
"Setengah delapan malam. Nenek dan aku menunggumu di meja makan setengah jam yang lalu." Jawab Hotaru.
"Maaf." Balas Yuki singkat.
"Kamu pasti belum makan sejak pagi tadi?." Hotaru menarik nafas panjang. Sabar sabar, batinnya.
"Hm."
Hotaru mengambil pelan buku dari tangan Yuki.
"Makan dulu, setelah ini kamu ada latihan bukan." Yuki yang baru tersadar segera beranjak berdiri.
"Maaf aku lupa, terlalu asik dengan cerita sejarah." Yuki berjalan menghampiri profesor.
"Prof bisa tinggalkan buku-buku itu tetap di sana?. Besok pagi aku akan datang lebih awal untuk melanjutkannya." Pinta Yuki.
"Baik ojou sama."
"Terima kasih."
Yuki menarik tangan Hotaru masuk ke dalam lift.
"Bagaimana kamu bisa lupa makan?." Yuki tidak menjawab melainkan berlari cepat sembari menarik tangan Hotaru.
Para pelayan dan pelindung yang berpapasan dengan mereka segera menyingkir seraya membungkuk. Setelah pulang dari tokyo hubungan nona muda dan tuan muda mereka terlihat membaik.
Pelayan Lusi yang melihat kedatangan Yuki dan Hotaru segera membukakan pintu. Yuki mengerem kakinya, menarik nafas panjang merapikan rambut sebentar barulah melangkahkan kaki masuk ke dalam.
"Maaf, membuat nenek menunggu lama." Ucap Yuki membungkuk dalam.
"Sudah, ayo makan." Lusi mengisyaratkan untuk duduk.
***
Liburan musim panas masih panjang, sudah tiga hari Yuki menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di dalam perpustakaan. Buku-buku itu seperti tidak ada habisnya.
Yuki sedang tenggelam ke dalam kedua komputer miliknya. Menyusup jaringan ke dalam villa terbengkalai itu yang cukup memerlukan kesabaran. Yuki selalu berhati-hati dalam tindakannya agar mereka tidak merasa curiga.
"Yuki, sinyal dari bawah villa tertangkap." Gadis itu tersenyum, semakin bersemangat menekan-nekan tombol keyboard.
Maniknya tidak berkedip menatap pada layar komputer, satu tangannya berpindah ke keyboard yang lain.
"Je pecahkan kode keamanannya." Yuki menampilkan serangkaian kode berbentuk huruf dan angka pada komputer satunya lalu ia kembali fokus dengan komputer di hadapannya.
"Kode keamanan terbuka." Lapor Je. Jari Yuki menari sangat cepat, suara ketikan dari keyboard bak suara piano dari pianis profesional.
"Sebentar Je, aku butuh mengambil alih kamera cctv mereka." Yuki menekan tombol enter.
Cetak!.
Sebuah gambar lorong putih hitam yang bersih dan sangat terang muncul di layar komputer Yuki.
"Sudah aku duga. Kita lihat, mereka memiliki sepuluh kamera cctv."
Yuki memperbesar kamera 3. Ruang santai yang penuh dengan elektronik canggih tersedia di sana. Yuki menyipitkan matanya melihat pria dengan ciri-ciri berdarah eropa sedang duduk santai dan berbicara dengan ponselnya.
"Je kita butuh menyadap telefon mereka."
"Baik."
"Kamu ambil alih semua jaringan mereka, dan cari kemana saja jaringan mereka terhubung." Titah Yuki.
"Di konfirmasi."
Akhirnya .., butuh tiga malam Yuki baru berhasil masuk ke dalam jaringan mereka. Sepuluh jari Yuki sudah bersiap di atas keyboard.
"Yuki!. Darurat!. Peringatan!." Je meraung keras.
"Ap." Yuki menghentikan kalimatnya melihat layar komputernya yang bergerak sendiri.
"Sial!. Siapa yang berani meretas kita!. Je!. Pasang pelindung!." Geram Yuki ini baru pertama kalinya ada yang berhasil menemukan jaringannya yang sangat tersembunyi.
"Di konfirmasi!."
Rahang Yuki mengeras, maniknya terbuka lebar, jari-jarinya seperti kesetanan bergerak tanpa ampun. Hacker yang sedang berhadapan dengannya tidak bisa di remehkan. Hacker itu sangat cerdas.
"Yuki, data markas klan naga putih di prancis berhasil di curi." Lapor Je.
Tanpa sadar Yuki menggertakan gigi. Ia sangat fokus dan berkonsentrasi. Keamanan miliknya di buat compang-camping begitu saja. Yuki tidak pernah semarah ini selain kepada Rin dan iblis itu. Tapi hacker sialan ini seperti sedang merobek-robek harga dirinya. Darah Yuki mendidih, ia berusaha mengatur nafasnya.
"Yuki peretas mencari data iblis." Yuki menatap tajam layar komputer.
"Je. Biarkan aku yang menangani keamanan. Serang balik dia, cari dari mana dia melakukan peretasan." Titah Yuki suaranya berubah sangat rendah.
"Di konfirmasi."
Yuki segera menggeser mendekat keyboard satunya dengan satu tangan. Ia melakukan tiga pekerjaan sekaligus. Yuki sedang berperang dengan hacker lain. Keringat membasahi dahi gadis itu, bola matanya bergerak dari satu komputer ke komputer yang lain.
Tidak boleh ada yang meretasnya. Semua data yang ia miliki adalah data-data rahasia yang lebih penting dari sebuah wilayah. Seluruh negara berada di dalam jaringannya, jika hacker itu bisa mengambil satu data ada kemungkinan dia dapat mengambil data-data yang lain.
Bagaimana jika hacker itu penjahat, Yuki yang bisa masuk ke semua akses negara dapat membahayakan negara-negara itu. Yuki memblock tanpa henti, mempersempit jalur peretasan.
"Yuki, dia mengincar Je di ruang rahasia indonesia."
"SIAL!." Geram Yuki, emosinya sudah mendidih. Yuki bertekad tidak akan melepaskan siapa pun orang yang berani meretasnya.
"Kamu sudah menemukannya Je?!." Tanya Yuki mendesis tanpa membuka suaranya.
"Serangan balik berhasil, dia mundur tapi masih mencoba melacak Je yang lain." Burung hantu itu tiba-tiba menunjukkan layar hologram.
"Jaringan hacker terdeteksi. Lokasi berjarak dua ratus meter dari kita. Di kunci, peretasan menggunakan jaringan klan." Yuki melirik layar hologram yang menunjukkan titik merah berkedip-kedip sangat jelas.
"Aku hajar dia!." Ucap Yuki dingin.
"Je putuskan jaringan. Sembunyikan semua jaringan 'Je'." Titah Yuki.
"Di konfirmasi. Semua 'Je' menuju proses tidur."
Burung hantu itu turun ke atas meja, perlahan sinar kecilnya meredup, dan mati. Yuki segera mengunci kedua komputernya lalu mencabut semua kabel. Ia meraih jam tangan lalu mematikannya.
Yuki meraup Je menyembunyikannya di tempat yang aman. Langkahnya sangat cepat dan kasar.
Jeddeerr!.
Kedua pelayan Yuki terperanjat kaget. Langsung menundukkan kepala mereka tidak berani melihat wajah emosi Yuki.
"Dimana nenek?." Desis Yuki.
"Di ruang rapat pelindung, ojou sama." Jawab pelayan Yuki takut-takut.
Yuki yang langsung tahu kemana ia harus pergi langsung berjalan cepat meninggalkan kamarnya.
"Ojou sama, baju anda." Yuki mengabaikan seruan dua pelayannya yang tertinggal jauh di belakang. Yuki sudah marah.
Bangunan pertama, paling depan. Yuki berbelok tajam ke kanan ia tak sengaja menabrak pelindung yang berpapasan dengan dirinya. Ruangan di ujung lorong, Yuki mengulangi kalimat Lusi saat ia pertama kali datang ke kediaman utama. Di belakang sana kedua pelayan Yuki tergopoh-gopoh mengejar gadis itu.
Yuki berjalan di dalam lorong terang yang sepi karena waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Manik birunya menangkap dua pelindung sedang berjaga di depan pintu.
Mereka yang melihat kedatangan Yuki segera membungkuk memberikan salam namun yang terjadi sangat mengejutkan semua orang. Yuki menerobos melewati pelindung begitu saja tangannya mendorong kuat pintu tebal dengan ukiran aneh lagi.
BRAAKKK!!.
"Astaga!."
Yuki tidak mengira mereka sedang melakukan rapat selarut ini. Semua mata tertuju kepadanya.