
06 : 00 p.m, latihan selesai. Pemain di bebaskan berlatih jika masih ingin berlatih dengan catatan, harus membereskan dan membersihkan tempat latihan.
Yuki membereskan bola memasukkannya ke dalam keranjang. Bola terakhir sudah ia masukan, Yuki mendorong keranjang memasukkannya ke dalam gudang. Dengan keahliannya Yuki sudah menghilang dari gym.
"Hachi kun, aku tidak menyangka kembaranmu mempunyai banyak pesona." Komentar Kobayashi wing spiker kelas tiga.
"Hahahaa, itu tadi belum seberapa." Jawab Hotaru seraya mengelap keringatnya.
"Dia seperti orang yang berbeda di sekolah lamanya." Hotaru melirik Fumio yang bergabung dengan mereka.
"Ya, aku tidak menyangka sekolah ini ternyata sekolah lama Yuki." Hotaru menengguk minumannya.
"Sifatnya sungguh berbanding terbalik dengan di sekolah." Kobayashi masih mengingat betapa manisnya sikap Yuki kepada teman-temannya.
"Fumio." Panggil Kobayashi.
"Hm?."
"Gomen (Maaf), tapi sepertinya aku jatuh hati dengan Hachibara san." Fumio tersenyum mendengar deklarasi perang dari teman satu angkatannya.
Hotaru menonton dengan khusyu.
"Ya, sejak awal sainganku tidak terhitung." Balas pemuda itu.
"Kamu benar. Melihat anak-anak sekolah oukami melihat Yuki, sudah di pastikan kembaranku itu sangat populer." Sambung Hotaru.
"Di sekolah kita juga." Kobayashi membenarkan.
"Ya, kamu tidak salah tapi. Di sini Yuki terlihat lebih bersinar." Fumio menatap pintu gym yang Yuki lewati beberapa menit lalu.
"Hachi kun, apa yang di katakan teman Hachibara san itu benar?." Hotaru melirik Kobayashi.
"Apa?."
"Hachibara san sakit?, anemia?. Apa itu masalah kalian?." Hotaru menjawabnya dengan tenang.
"Mungkin. Karena aku tidak berada di sampingnya. Kami terpisah cukup lama, itu sulit untuk anak kembar seperti kami." Jelas Hotaru meninju pelan dada Kobayashi lalu beranjak pergi.
"Fumio." Panggilan Kobayashi menghentikan langkah Fumio yang berniat menyusul Hotaru.
"Hm?."
"Aoki sepertinya ingin berbicara denganmu." Fumio menoleh ke samping mendapati adik kelasnya sedang berdiri menatap ke arah dirinya.
Yuki berjalan tanpa suara, ia masuk ke dalam lapangan. Sepi, Yuki mengedarkan pandangan dan menemukan Keiji yang hendak pulang. Yuki berlari menghampiri anak itu.
Sret.
Yuki menepuk punggung Keiji membuat anak itu menoleh.
"Hachibara san."
"Sudah mau pulang?." Yuki mensejajari langkah Keiji.
"Ung."
Mereka berjalan menuju arah rumah mereka.
"Sekarang tinggal di mana?." Keiji membuka pertanyaan.
"Miyazaki, di Hyuga." Jawab Yuki. Berjalan seperti ini mengingatkan Yuki yang selalu pulang bersama Hajime.
"Kenapa pindah?."
"Apa kamu ingin tahu?." Keiji menatap Yuki aneh.
"Ung." Jawab Keiji pada akhirnya.
"Sebenarnya rumahku ada di Hyuga, rumah di sampingmu baru ayahku beli januari tahun lalu." Jawab Yuki.
"Bukankah katamu kamu pindahan dari indonesia?." Yuki mengulas senyum.
"Heee, kamu masih ingat rupanya." Keiji mendengus kecil. Yuki mengangkat tangannya menyentuh pipi Keiji, kakinya masih terus berjalan.
"Aku pindahan dari salah satu sma di indonesia. Aku berhenti sekolah dan pergi ke korea untuk berobat, setelah cukup sembuh aku mulai kembali bersekolah. Di sma oukami dan menjadi tetanggamu. Apa itu sudah menjawab rasa penasaran mu, Keiji kun?." Tanya Yuki.
"Kenapa tidak bilang mau pindah?. Aniki mencarimu berminggu-minggu sampai pelatih memberitahu kami." Yuki merasa bersalah.
"Maaf. Keadaannya tidak memungkinkan untuk memberitahu kalian." Jawab Yuki jujur.
"Apa kamu baik-baik saja?. Penyakitmu?." Tanya Keiji hati-hati.
"Ung. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Yuki.
Mereka melanjutkan obrolan di sepanjang perjalanan, kebanyakan di isi oleh ide jail Yuki kepada pemuda itu.
"Tanganmu tidak lelah Hachibara san?." Yuki menggeleng pelan.
"Tidak pernah lelah untuk mencubit pipi gembulmu ini." Jawab Yuki gemas.
"Keiji." Keiji ikut menghentikan langkahnya karena Yuki berhenti.
"Aku sampai di sini. Kamu hati-hati di jalan." Yuki menarik tangannya.
"Tidak pulang?." Keiji menatap gadis bermanik biru itu, pipi kanannya masih terlihat lebam.
"Tidak, dua hari lagi aku pulang. Tolong rahasiakan tentangku." Pinta Yuki.
"Aku mengerti." Keiji mendekat menatap lamat-lamat wajah Yuki.
"Kamu di sini sampai kapan?."
"Dua minggu." Keiji mengangguk sekilas.
"Aniki ada di fakultas pendidikan. Aku pulang dulu." Pamit Keiji berbalik melanjutkan perjalanannya.
Anak itu, selalu memikirkan kakaknya, batin Yuki menatap punggung Keiji yang menjauh.
Yuki pun berbalik kembali ke sekolah.
Yuki benar-benar memisahkan diri dari manajer yang lain. Sekarang ia tidur di asrama perempuan yang kecil bersama Suzune setelah meminta izin kepada Yamazaki selaku guru pembimbing klub voli dan Mizutani sebagai pelatih klub baseball.
Yuki juga sudah meminta izin untuk libur besok dan tidak memberitahukan tujuannya. Ia memberikan ancaman kepada Yamazaki jika membuntuti atau ikut campur urusannya.
Pagi-pagi sekali Yuki membawa mobil Mizutani meninggalkan sekolah. Ia menghentikan mobilnya di depan cafe yang sudah buka pagi itu. Dengan seragam olah raganya Yuki masuk ke dalam cafe. Gadis itu tidak membawa baju bebas karena tidak berniat pergi kemana-mana. Yuki menghabiskan waktu di cafe sampai waktu jam toko buka.
Setelah di rasa sudah waktunya Yuki pergi ke sebuah mall. Membeli baju di sana dan sedikit kosmetik. Yuki segera masuk ke dalam toilet mengganti bajunya, memakai make up tipis, dan mematut sebentar di kaca. Yup, penampilannya sudah mirip dengan mahasiswi sekarang.
Yuki berjalan ke parkiran mall, menaruh tasnya di dalam mobil, lalu pergi meninggalkan mobil Mizutani tetap di mall. Yuki memesan taksi menuju kampus nomor satu di jepang.
Kampus itu memang patut di sebut dengan kampus nomor satu. Halaman dan bangunannya sangat luar biasa luas dan megah. Yuki membaur dengan para mahasiswa-mahasiswi yang lain mencari informasi. Setelah mendapatkannya Yuki mulai bergerak.
Lagi, mau di manapun sepertinya dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Yuki memang tidak menggunakan soft lens warna normal. Atasan putih lengan pendek dengan pundak terbuka, Yuki sudah berani mengekspos pundaknya setelah tato yang ia miliki di hapus tanpa meninggalkan bekas karena ramuan miliknya. Yuki menaikan rambutnya menyisakan poni dan beberapa helai rambut yang tidak bisa di ikat membiarkannya jatuh. Rok jeans diatas lutut, dan flat shoes sebagai sentuhan akhir.
Yuki juga memakai make up tipis yang sesuai dengan penampilannya, ia memilih lipstik oren lembut agar terlihat cerah menyeimbangkan dengan warna rambut dan kulitnya.
Yuki membuka tas selempang hitamnya mengeluarkan ponsel, melihat setumpuk notifikasi, lalu Yuki merubah mode ponselnya menjadi mode diam (silent).
"Haha, tidak. Bukan di sini, sebaiknya kita menaruhnya di tengah barisan." Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan seraya menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Yang ini kita pindah di depan?." Ujar lawan bicaranya mencoret buku di atas meja.
"Ung. Selesai." Wanita itu tersenyum manis.
"Yuuki kun, kalau kita lanjutkan minggu depan bagaimana?." Saran si wanita.
"Baik. Mau dikerjakan di mana?." Yuki memperhatikan interaksi keduanya dari bangku belakang.
"Eh?, tidak apa-apa?." Si wanita terkejut.
"Ung. Hari minggu aku kosong." Jawab Hajime.
"Kalau begitu, di cafe dekat kampus jam sepuluh pagi?." Hajime menganggukkan kepala.
"Ya sudah, sampai bertemu hari minggu." Ucap wanita itu beranjak pergi.
Hajime mulai membereskan buku-bukunya yang berserakan diatas meja. Memasukannya ke dalam tas.
"Kencan?. Sepertinya dia perempuan yang baik." Celetuk Yuki.
Hajime membalikan badan. Bergeming, pemuda itu membeku. Yuki menghapus senyumannya setelah cukup lama tidak ada respon dari Hajime.
"Senpai?." Panggil Yuki.
Hajime membalikan badan ke depan meletakan kedua sikunya di atas meja, mengusap wajahnya gusar. Yuki berdiri di samping meja, diam menunggu Hajime menenangkan diri.
Srek.
Hajime menegakkan punggungnya menoleh, sedikit mendongak menatap permata biru yang indah itu.
"Tidak duduk dulu?." Yuki melirik kursi di depan Hajime lalu kembali menatap pemuda itu, Yuki memutar bola matanya malas.
"Aku tidak mau duduk di bekas gebetan senpai."
Hajime biasanya tertawa mendengar jawaban Yuki yang tidak suka di samakan dengan perempuan lain meski pada hal sepele sekalipun. Tapi kali ini Hajime tidak bisa tertawa, mulutnya tertutup rapat. Ia melirik Yuki dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hajime sering melihat Yuki memakai baju bebas tapi tidak yang seperti sekarang. Apa lagi leher sampai ke punggung bagian atas terbuka, tulang selangkanya juga terekspos.
Hajime membuka kemejanya menyisakan kaos tipis berwarna hitam polos yang melekat di tubuhnya.
Srek.
Hajime mendorong kursi berdiri. Memakaikan kemeja super kebesarannya kepada gadis itu.
"Senpai?."
"Pakai saja." Hajime meraup bukunya.
"Tidak perlu, hari ini sangat panas," Yuki menghentikan kalimatnya mendapati Hajime menunduk mensejajarkan wajah mereka.
"Tahan sebentar, di sini kampus, banyak laki-laki yang menatapmu lapar." Ujar Hajime meletakan tangan besarnya di atas kepala Yuki.
"Dan banyak dari mereka yang berbahaya." Setelah mengatakan itu Hajime melepas ikatan rambut Yuki membiarkan rambut brown lightnya jatuh berantakan.
"Ayo." Hajime meraih tangan Yuki, menggenggamnya pergi meninggalkan kampus.
Hajime membawa Yuki ke sebuah restoran yang agak jauh dari kampus. Hajime langsung memesan tanpa bertanya kepada Yuki.
"Kenapa mewarnai rambut?." Yuki menaruh ponselnya di atas meja.
Sebagai tanda bahwa aku telah selamat dari kematian lagi, jawab Yuki dalam hati.
"Ingin." Jawab Yuki.
"Sangat cocok denganmu." Puji Hajime jujur.
"Hmm?, Keiji mengatakan rambutku jelek." Hajime menerima pesanan minuman mereka memberikan minuman favorit Yuki kepada gadis itu.
"Kapan kalian bertemu?."
"Kemarin, di sekolah." Yuki menyeruput es lemonnya.
"Sekolah baruku sedang melakukan kamp pelatihan di sma oukami, kebetulan aku menejer mereka." Jelas Yuki sebelum Hajime bertanya.
"Sekarang dimana?." Yuki menatap curiga kepada Hajime, pasalnya laki-laki itu banyak menghindari kontak mata dengannya sejak keluar dari kampus.
"Hyuga, miyazaki." Jawab Yuki datar.
"Tinggal bersama siapa?."
Yuki hendak pergi dari sana karena merasa Hajime tidak nyaman bersama dengannya namun seorang pelayan mengantarkan pesanan Hajime. Yuki urung, ia segera mengambil sumpit dan menikmati hidangan dalam diam.
Sesekali Yuki melirik Hajime yang masih enggan melihat ke arahnya. Ia meraih ponsel mengetik sesuatu lalu meletakkannya lagi.
"Terima kasih makanannya." Ucap Yuki melepas kemeja Hajime meletakkannya di atas kursi.
"Maaf mengganggu waktu senpai." Yuki berlalu sangat cepat meninggalkan restoran.
Yuki menyadari kegelisahan Hajime saat bersamanya. Laki-laki itu merasa tidak nyaman bersama Yuki. Dan Yuki tidak ingin itu berlanjut, mungkin Hajime mencoba menjaga sesuatu, Yuki tidak boleh merusaknya. Akan lebih baik jika Hajime berterus terang tapi laki-laki itu tidak terlihat memiliki tanda-tanda ingin mengatakannya.
"Yuki!." Teriakan Hajime dari belakang tidak melunturkan niat Yuki untuk pergi.
Yuki terkejut. Ia tahu jalan ini. Dengan langkah cepat Yuki menikung di ujung gang, lalu mengikuti isi kepalanya sampai kepada sebuah gedung apartemen. Yuki memasuki gedung itu membiarkan Hajime di luar sana. Ia naik ke lantai dua lalu memencet bel.
Pintu terbuka. Yuki segera menerobos masuk mendorong pelan tuan rumah, melepaskan sepatunya dan duduk di kursi dapur.
"Sejak kapan putri pak Daren bersikap tidak sopan?." Yuki melirik kantung belanjaan di meja.
"Sejak sepuluh detik yang lalu." Jawab Yuki mengikat rambutnya ke belakang.
Jika saja bukan karena mata birunya Fathur mungkin tidak mengenali Yuki.
"Punya es krim nggak?." Yuki berbicara menggunakan bahasa indonesia. Fathur membuka freezer mengeluarkan cup es krim yang cukup besar.
"Aku tidak heran kamu tahu apartemen ini." Fathur menyodorkan es krim beserta sendok kecil kepada Yuki.
"Dimana Heru sama Dody?." Yuki membuka cup dan langsung melahap es krim. Moodnya sedang buruk.
"Kampus." Fathur membereskan belanjaannya memilih belanjaan yang mau ia masak.
"Kamu?."
"Baru kelar." Yuki melepas tas selempangnya.
"Nggak kerja?." Fathur menatap Yuki.
"Libur. Sedang bertengkar dengan Ega?." Gadis itu melirik Fathur dengan sendok yang masih berada di dalam mulut.
"Terlihat jelas. Aku hafal sifatmu. Syukurlah kalau kalian sudah bertemu." Ujar Fathur, maniknya berhenti di pundak kanan Yuki.
"Sudah di hapus." Yuki menjawab pertanyaan di dalam kepala Fathur.
"Sedang kabur dari siapa?." Fathur membawa belanjaannya ke meja pantry, memulai kegiatan memasaknya.
"Senior." Jawab Yuki beranjak berdiri menghampiri tempat sampah.
"Kamu pergi karena sadar kamu menyukainya." Yuki menertawakan argumen Fathur setelah membuang cup es krim.
"Jangan k*nyol." Balas Yuki membuka salah satu lemari mengambil sebungkus cemilan.
Fathur yang melihat itu mengerutkan keningnya.
"Kesurupan setan mana?." Yuki mencubit lengan Fathur cukup keras.
"Cerewet."
"Argh!." Fathur mengusap lengannya yang sakit.
Yuki mengangkat tubuhnya duduk di atas meja pantry seraya menikmati cemilannya.
Fathur melirik gadis itu sebentar lalu kembali fokus mengupas memotong sayuran.
"Tiara kenapa tidak kemari?. Mumpung kamu libur kerja, suruh dia ke sini." Ujar Yuki.
"Dia ada kelas sampai sore." Yuki cemberut.
"Sudah makan?." Tanya Fathur.
"Hm, pasta." Jawab Yuki.
"Ya sudah, aku masak buatku sendiri." Yuki melirik tangan Fathur yang sibuk.
"Masak apa?."
"Nasi goreng."
"Mau. Jangan yang pedas." Fathur menatap Yuki, gadis itu balas menatap, menantang.
"Ayam goreng juga." Imbuh Yuki.
Nih orang, batin Fathur.
"Habis bertarung dengan siapa?." Tanya Fathur mempersiapkan pesanan Yuki.
"Emangnya masih kelihatan?." Tanya Yuki menyentuh pipi bekas tamparan Natsume.
"Sangat jelas."
"Seorang teman tidak sengaja menamparku." Kata Yuki memasukan cemilan ke dalam mulutnya.
Hening.
Hanya terdengar suara pisau yang beradu dengan talenan. Yuki sibuk dengan pikirannya sampai tiba-tiba ia bertanya hal sensitif bagi Fathur.
"Dulu. Kalau badanku gemuk dan wajahku beruntusan. Apa kamu masih menyukaiku?." Fathur menghentikan gerakkan pisaunya.
"Hm."
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?." Fathur kembali mengayunkan pisaunya.
"Matamu, selain itu kamu tidak bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta." Yuki terdiam. Fathur menyadari kebekuan gadis di sampingnya.
"Bagaimana dengan Dimas, apa kamu masih menyukainya?." Lidah Fathur terasa pahit bertanya seperti itu.
"Hm." Gumam Yuki.
"Meskipun banyak laki-laki tampan di sini yang menyukaimu?, seperti seniormu misalnya." Yuki kembali diam lalu menjawab.
"Hm."
"Itu artinya hati tidak bisa di paksakan." Fathur berjalan melewati Yuki memutar kran di samping gadis itu.
"Kamu harus menjalankannya perlahan, tidak terburu-buru agar tidak melukai dirimu sendiri. Tidak terlalu lama agar tidak menyakiti hati yang lain." Yuki menatap Fathur.
"Kesurupan jin mana?." Fathur yang sudah dengan serius menjawab pertanyaan gadis itu dibuat kesal dengan tanggapannya. Fathur mencipratkan air di tangannya kepada wajah Yuki.
"Cengeng." Celetuk Fathur lalu membalikan badan hendak menyalakan kompor.
Sret.
Langkahnya terhenti karena tarikan dari belakang. Yuki menarik kaos belakang Fathur.
"Bagaimana dengan sikapku?. Yang cuek, dan kasar kepada orang yang sudah menyukaiku?."
Yuki bingung harus belajar dari siapa soal hati seperti ini?, ia selalu mencoba memikirkannya sendiri tapi tidak pernah menemukan jawaban. Sejujurnya ia juga enggan bertanya kepada Fathur tapi hanya pemuda itu yang ada di sampingnya sekarang, Tiara masih di kampus.
"Kamu sedang menyindirku dan menyesali perbuatanmu?." Fathur kembali bertanya alih-alih menjawab.
"Thur, serius." Ucap Yuki sungguh-sungguh. Setelah pembicaraannya dengan Lusi, fakta tentang Fumio selalu mengganggunya.
"Siapa?." Fathur tidak berniat menoleh ke belakang ia takut akan terluka.
"Apanya?."
"Laki-laki yang kamu lukai." Yuki menundukkan kepalanya.
"Teman masa kecilku dulu." Fathur meraih tangan Yuki di punggungnya, menarik dengan lembut tangan itu sampai terlepas.
"Dia menyukaimu dan kamu tidak menyukainya?." Fathur berjalan mendekati kompor.
"Tidak tahu." Jawab Yuki.
"Bodoh." Gadis itu tidak bisa membalas laki-laki yang sedang memunggunginya itu.
"Apa kamu ingin mengulangi kesalahanmu lagi?." Yuki melebarkan matanya terkejut.
"Dimas. Bukannya dulu kamu juga terlambat menyadarinya." Yuki merasakan tangannya kembali dingin.
"Apa kamu ingin menyesal lagi dan mengurung diri di kamar menjadi kepompong, kerempeng seperti mumi?." Tenggorokan Yuki tercekat. Perasaan kehilangan Dimas masih sangat membekas di hatinya.
"Apa yang membuatmu ragu?." Fathur mulai mengoseng sayur yang ia cincang.
"Aku tidak mengingatnya." Lirih Yuki tapi masih dapat di dengar oleh Fathur.
"Wajar, kalian masih kecil." Yuki menggelengkan kepalanya di balik punggung Fathur.
"Bukan tidak ingat yang seperti itu." Yuki menatap tangannya yang terbuka.
"Thur." Panggil Yuki lirih.
Fathur langsung mematikan kompornya setelah mendengar nada lemah dari Yuki. Jarang sekali gadis itu menunjukkan kelemahannya di depan orang lain kecuali, memang dia sudah tidak kuat menahannya dan menemukan jalan buntu. Si keras kepala ini tidak mungkin menyerah begitu saja. Itulah yang Fathur pahami setelah mengenal dan memperhatikan pemilik mata biru itu.
Fathur membalikan tubuhnya mendapati Yuki menunduk menatap jari-jari tangannya.
"Apa?." Gadis itu mendongak menatap lurus manik Fathur seraya menjulurkan tangannya ke depan.
"Mau melihatnya?. Ingatanku. Bisakah kamu memberitahuku apa yang harus aku lakukan?." Fathur mengerutkan kening.
Apa yang dibicarakannya?, batin Fathur.
Yuki tiba-tiba menggelengkan kepalanya pelan, menarik tangannya kembali.
"Maaf, lupakan." Ujar Yuki. Fathur berjalan mendekat, berhenti di depan gadis itu.
"Katakan. Jika aku bisa membantu aku akan melakukannya." Kalimat Fathur, nada suaranya, membuat Yuki menginginkan Dila yang berada di depannya sekarang. Ia butuh pelukan hangat wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Dan menunjukkan betapa ia lelah dengan semua ini.
Yuki bungkam seribu bahasa. Ia berusaha mengatur pernafasannya.
"Lihat orang di sekelilingmu, kamu tidak sendirian." Yuki masih menenangkan diri.
"Va."
"Thur." Yuki memotong Fathur.
Jari tangan sebelah kiri Yuki bergerak mengusap pergelangan tangan kanan bagian dalamnya.
"Berkali-kali aku hampir mati." Fathur terkejut, tapi ia tetap diam mendengarkan.
"Berkali-kali juga aku dapat selamat." Yuki masih menunduk menatap tangannya.
"Aku bukan perempuan yang pantas di cintai. Aku hanya akan membawa derita kepada orang yang menyayangiku." Yuki menelan salivanya.
"Kak Dimas meninggal bukan karena kecelakaan atau pembunuhan acak." Fathur masih menunggu.
"Kak Dimas meninggal karena aku. Pembunuh itu mengincarku, dengan memberikan pelajaran lewat kak Dimas." Akhirnya Yuki jujur kepada orang lain.
"Aku yang membunuhnya." Ulang Yuki.
"Karena itu kamu menolakku." Yuki mendongak ke atas. Manik mereka bertemu.
Fathur melihat selaput bening yang menutupi mata biru itu membuat pantulan sinar indah di dalam sana.
"Kamu takut jatuh cinta lagi." Yuki terdiam.
"Takut orang itu akan terbunuh seperti Dimas." Fathur menatap Yuki tegas. Memaksa gadis itu untuk menjawabnya.
"Thur." Lirih Yuki langsung menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar.
"Kamu menghalangi hatimu sendiri dari perasaan suka kepada orang lain?." Fathur kembali bertanya.
"Bisakah kamu merubah pikiranmu?." Fathur melembutkan suaranya. Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Percayalah, mereka juga dapat di percaya." Yuki kembali menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa kamu menceritakan ini kepadaku?." Yuki kembali menggelengkan kepalanya lemah.
"Kamu tidak menyukaiku bukan?." Yuki mengangguk.
"Kamu menganggapku menyebalkan?." Yuki kembali mengangguk.
"Kenapa bercerita kepadaku?." Yuki diam.
"Jiwamu butuh istirahat. Kamu harus menenangkan dirimu." Yuki melirik nadi di pergelangan tangan kanannya.
"Aku tidak memiliki banyak waktu." Fathur kesal, selalu kalimat itu yang keluar dari mulut Yuki.
"Masih banyak waktu, jadi berikan sedikit waktumu untuk dirimu sendiri." Sergah Fathur.
"Aku akan segera mati." Srobot cepat Yuki membuat Fathur terdiam.
"Apa maksudmu?."