Futago

Futago
Ingatan Itu Membawa Perasaan Yang Dulu Ada.



Di dalam hotel super mewah yang sering di kunjungi para selebritis dan orang-orang penting sekaligus jauh dari tempat tkp. Yuki melirik Sawamura yang sudah terlelap tidur. Ia berjalan keluar kamar menuju lantai di atasnya.


Ting tong.


Ceklek.


Hiza membuka pintu mempersilahkan Yuki masuk. Gadis itu masuk dan langsung duduk di atas salah satu ranjang. Hiza menyusul dan memilih berdiri bersandar pada salah satu dinding.


"Anda yakin tidak akan terjadi masalah dengan racun itu?." Tanya kakek Ryuu.


"Tenang saja. Itu adalah racun dari virus penyakit yang belum di temukan. Bukan racun untuk membunuh." Jawab Yuki.


"Tapi fungsinya sama." Sambung Akashi. Yuki mengangguk membenarkan.


"Bagaimana dengan Sawamura san?." Tanya Hiza.


"Sampai kapan kita membawanya?." Imbuh Akashi.


"Aku akan mengirimnya ke vietnam besok. Negara itu sedikit di huni oleh klan naga putih. Jumlah penduduk yang banyak juga akan menyamarkan keberadaan Sawamura san." Jawab Yuki.


"Apa tidak masalah Sawamura sendirian di sana?." Tanya kakek Ryuu.


"Ung. Semuanya sudah aku urus. Tempat tinggal, pekerjaan, sudah aku siapkan. Sawamura san tinggal pergi saja." Yuki memainkan ponselnya.


"Anda sudah merencanakan ini dengan matang." Pernyataan kakek Ryuu di angguki oleh Akashi dan Hiza.


"Harus. Kita harus bersiap dengan rencana-rencana cadangan. Aku juga tidak mengira akan mengambil keputusan untuk menghancurkan klan naga putih sampai ke akar-akarnya." Bayangan wajah Takuya anak dari Sawamura muncul di kepala Yuki.


Meski begitu banyak yang tidak bersalah dan Yuki berusaha untuk tidak melibatkan mereka.


"Apa kita perlu melanjutkan pembersihan klan naga putih besok?." Tanya Akashi.


"Tidak. Besok kita akan ke utara kota london." Yuki mengangkat lima jarinya sedikit ia hendak berbicara dengan seseorang di telfon.


Zzz ... Zzz ...


"Posisi para agen dimana sekarang?." Tanya Yuki.


"Aku mengarahkan mereka ke california, tapi sepertinya mereka sudah curiga." Jawab Agung.


"Tidak masalah, berikan sinyal lain di titik paling timur australia. Mereka akan menemukan sesuatu dengan cepat di sana." Pinta Yuki.


"Siap young boss."


"Kamu bisa meretas kantor CIA?." Tanya Yuki.


"Waduh." Celetuk Agung di sebrang sana.


"Kirimkan kode yang aku berikan kepadamu waktu itu. Jangan sampai jaringanmu terlacak." Tegas Yuki.


"Siiaapp .., bu boss ... Ada lagi?." Tanya Agung.


"Tidak itu saja." Ucap Yuki langsung memutus sambungan sepihak membuat Agung yang sedang duduk di depan komputernya menggerutu kesal.


"Ame san dan yang lain belum juga memberikan kabar." Ucap Yuki menatap kakek Ryuu.


"Anda khawatir?." Kakek Ryuu menebak.


"Ung. Di sana tidak mudah. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan yang di sini untuk ke sana." Jawab Yuki.


"Mereka pasti akan berhasil ojou sama." Ucap Akashi.


"Hmm, Ogawa san dan Dai chan sampai besok pagi. Tapi aku masih butuh satu bayangan lagi untuk misi selanjutnya." Ujar Yuki.


"Masih ada Tsubaki yang kosong." Kata Hiza.


"Tsuttsun sedang sibuk dengan murid-muridnya, aku tidak bisa menganggu Tsuttsun." Balas Yuki yang mengetahui dari Natsume bahwa mantan sekolahnya itu berhasil lolos ke koshien dan sedang sibuk bertanding di sana.


"Apa rencana misi selanjutnya ojou sama?." Tanya Hiza.


"Je, tunjukan villa terbengkalai." Titah Yuki.


Layar hologram muncul di tengah-tengah. Menampilkan bangunan besar nan tua. Reot, dan kotor.


"Jeorge, tangan kanan BD yang lain berada di sana. Sebelumnya aku curiga BD berada bersamanya, namun setelah mengamati seorang nenek memasuki villa itu diam-diam, membuatku yakin tempat itu sudah di tinggalkan oleh BD. Tapi tidak dengan cadangan alat kesehatannya." Yuki tersenyum sangat tipis.


"Kita harus menghancurkan tempat itu." Imbuh Yuki.


"Apa perlu kami berenam untuk menghancurkannya?." Tanya Hiza.


"Aku perlu dua bayangan untuk mempersiapkan pelarian kita dan satu orang membawaku lari secepat kalian. Akan menghabiskan waktu jika aku berlari dengan kemampuanku. Itu sangat beresiko. Kita harus cepat. Dan aku tidak di untungkan disini." Jelas Yuki.


"Villa ini." Lirih Akashi menatap gambar di layar hologram.


"Cocok untuk persembunyian." Srobot kakek Ryuu. Akashi mengangguk setuju.


"Ojou sama, kami bertiga dan Ogura serta Dazai cukup untuk melakukan misi. Karena keterbatasan anggota saat ini, berlima lebih dari cukup" Ujar Hiza. Yuki menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak seperti itu. Villa ini seperti sarang tikus di dalam tanah. Penuh dengan terowongan yang saling terhubung." Yuki mulai menjelaskan.


"Je tunjukan jalur di bawah villa." Titahnya.


Benar saja, seperti pipa-pipa, lalu berhenti di sebuah ruangan dan pipa lain menyambung terus seperti itu. Mirip sebuah kerajaan besar di bawah tanah.


"Ini mengerikan." Celetuk kakek Ryuu.


"Bagaimana mereka bisa betah di bawah sana?." Tanya Akashi.


"Mereka sudah gila." Umpat Hiza.


Yuki menghela nafas sebentar.


"Karena itulah aku membutuhkan minimal enam dari kalian. Itu juga sebenarnya masih kurang. Ada lebih dari delapan jalur yang artinya empat dari kita harus mengatasi dua hingga empat jalur." Jelas Yuki.


"Empat?, bukannya masih ada tiga dari kita?." Tanya Akashi.


"Ung. Dua dari kalian harus mengoprasikan helikopter di sisi barat dan selatan. Kita kabur lewat jalur udara agar tidak meninggalkan jejak di bawah. Salah satu dari kalian terus bersamaku. Cepat, tepat, tanpa jejak. Itu yang aku inginkan." Yuki mengeluarkan keinginannya.


Ketiga bayangan mengangguk setuju.


"Jadi, banyak sekali ruangan di sini. Apa yang akan kita lakukan?." Tanya Akashi.


"Kita hanya perlu menaruh bom kecil di setiap jalur. Menutup semua jalan keluar mereka lalu, menyisakan satu di permukaan." Yuki membuat simbol atap dengan kedua tangannya.


"Lalu setelah itu?." Tanya Akashi lagi. Ketiga bayangan menatap Yuki penuh penasaran. Membicarakan rencana bersama gadis itu membuat mereka bersemangat. Menebak-nebak apa yang akan terjadi.


"Para agen intelejen sudah menunggu mereka, mengepung di berbagai sisi. Kita tidak perlu lagi menghadapi klan naga putih secara langsung. Mulai sekarang." Manik ketiga orang itu melebar tak percaya dengan ide rumit yang sangat rapi itu.


"Sampai kita menemukan dimana BD berada. Kita tidak perlu berhadapan langsung dengan mereka. Selain itu." Yuki menunjukkan layar ponselnya kepada para bayangan.


"Peta dunia?." Celetuk Hiza.


"Ya." Lalu Yuki mengetuk dua kali layar ponselnya. Bukannya memperbesar gambar melainkan muncul titik-titik berkedip-kedip di beberapa tempat pada peta.


"Enam warna titik ini mewakili lima agen intelejen negara yang berbeda dan klan Yakuza." Yuki memberikan ponselnya kepada kakek Ryuu. Akashi dan Hiza otomatis bergerak mendekat untuk melihat titik-titik itu.


"Mereka terpencar, tiga di antaranya berada di tempat yang sama." Lirih Hiza.


"Benar, aku membuat mereka berpencar untuk saat ini, dan mengumpulkan agen yang merepotkan dan berbahaya berada di satu tempat." Tanpa Akashi dan Hiza sadari mereka menelan saliva kasar. Kakek Ryuu menatap Yuki dengan tenang.


"Anda selalu menakjubkan ojou sama." Puji kakek Ryuu.


"Dan berbahaya untuk dunia ini kakek Ryuu." Sambung Yuki.


"Aku bersyukur ayah mengurungku di dalam rumah dengan segunung privat dan kursus. Aku tidak bisa membayangkan jika dunia tahu kemampuanku. Mungkin akan ada peperangan dunia selanjutnya." Tambah Yuki. Pernyataan gadis itu ternyata membuat Akashi menanyakan hal yang Yuki benci.


"Apa itu artinya anda bersyukur Ay. Ekhem, dia menghapus ingatan anda?." Akashi sempat berhenti sebentar untuk memperbaiki kalimatnya.


"Tidak." Jawab cepat Yuki.


"Maaf atas kelancangan saya ojou sama." Akashi segera membungkuk dalam.


"Tidak, berdirilah. Tidak masalah. Mari kita lanjutkan rencananya." Ucap Yuki tenang.


"Kita akan melaksanakan misi ini tiga hari lagi. Dan kita masih memiliki masalah." Hiza menatap Yuki.


"Kita panggil Tsubaki. Hanya dia satu-satunya pilihan kita ojou sama." Hiza mencoba meyakinkan Yuki.


Gadis itu terdiam sebentar.


"Baiklah, jika sampai besok Ame san dan yang lain belum juga memberikan kabar. Kita akan meminta Tsuttsun menyusul kita secepat mungkin." Keputusan akhir Yuki.


"Baik ojou sama."


"Lalu, dimana jalur kita masuk?." Tanya kakek Ryuu. Yuki menjawab dengan santai.


"Pintu depan." Yuki menatap penuh tekad manik kakek Ryuu.


"Kalau ada yang melihat?." Tanya Hiza.


"Karena itu aku membutuhkan satu bayangan untuk membawaku. Dengan kecepatan kalian kita tidak akan menimbulkan perhatian sekitar, toh villa ini cukup jauh dari penduduk yang lain." Jawab Yuki.


"Selama satu bulan ini aku membuat jejak palsu klan naga putih untuk memancing para agen yang sekarang sedang berkumpul di beberapa tempat. Mereka mulai curiga dengan jejak palsu itu." Yuki menyuruh Je untuk kembali seperti semula. Burung hantu itu pun menurut.


"Aku meninggalkan dua pilihan. Sedikit memberi tahu tempat yang mereka cari tentang klan naga putih. Atau, mengambil semua informasi yang sudah aku tinggalkan." Yuki berhenti sejenak.


"Keduanya sama-sama menunjukkan ke villa ini. Jika mereka lusa bisa menebak kemana tempat selanjutnya. Kita hanya perlu waktu tiga puluh menit untuk menaruh bom dan pergi dari sana secepatnya. Sebelum para agen datang dan kita ikut terkepung." Jelas Yuki.


"Kami mengerti."


***


"Hati-hati di jalan. Nanti kabari kalau sudah sampai, Sawamura san." Yuki memberikan koper di tangannya.


"Ung. Tapi apa kamu yakin mereka bisa berbahasa inggris?. Aku tidak bisa berbicara bahasa vietnam." Sawamura memelankan suaranya di akhir kalimat.


"Ya, mereka bisa berbahasa inggris. Tempat tinggal dan pekerjaan Sawamura san di sana mendukung untuk berbicara dengan bahasa internasional. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kalau ada masalah segera hubungi aku." Jawab Yuki panjang.


"Baiklah, aku akan mengeksplor vietnam dan mencari tempat yang menarik di sana." Ucap Sawamura. Wajah wanita itu berseri-seri membayangkan kegiatan yang di sukainya, tubuhnya juga sudah tidak sekurus saat pertama kali bertemu Yuki.


Semenjak Yuki menghipnotis Sawamura, wanita itu kembali bernafsu makan dan lebih ceria. Gadis itu tidak akan melukainya, ini semua Yuki lakukan juga untuk melindungi Sawamura dari suaminya yang pasti sekarang sedang kalang kabut mencari wanita itu.


Yuki melambaikan tangan membalas lambaian Sawamura yang kini mulai menarik koper untuk check in.


Setelah wanita itu tidak terlihat lagi Yuki membalikan badan dan duduk di salah satu kursi tunggu.


"Hm?." Yuki menerima telefon dari saudara kembarnya.


Setelah tiga puluh menit berlalu dua orang tiba-tiba duduk di kanan dan kiri gadis itu. Yuki mengakhiri panggilannya.


"Kita makan di jalan." Ujar Yuki beranjak berdiri.


"Baik, ojou chan." Dazai dan Ogura segera mengikuti Yuki.


Gadis itu sudah lima kali mengecek ponselnya menunggu kabar dari sang ayah atau dari bayangan yang lain, yang tak kunjung datang. Hal itu membuatnya tidak nyaman karena terus berpikir, menebak-nebak, dan khawatir.


"Apa ada yang salah ojou chan?." Tanya Dazai yang duduk di balik kemudi.


"Kalian bisa menerbangkan helikopter?." Pertanyaan balik yang pria itu dapatkan.


"Ya, tidak buruk." Jawabnya.


Mobil berhenti didepan lampu merah. Gadis itu melirik ke luar jendela. Menatap televisi layar lebar di balik kaca toko, tv itu sedang menyiarkan sebuah berita pembunuhan misterius di empat tempat pada waktu yang sama. Ditemukan ada lima belas korban meninggal. Pelaku tidak meninggalkan jejak sekecil apa pun. Banyak polisi dan detektif dikerahkan untuk menyelidiki kasus itu.


"Ojou sama, anda sengaja membiarkan publik mengetahuinya." Celetuk Ogura.


"Hm. Menggiring mereka kemari." Jawab Yuki mengalihkan perhatiannya.


"Apa ada masalah ojou chan?." Dazai melirik Yuki yang menatap layar ponselnya.


"Tadi malam." Yuki menggantung kalimatnya menatap separuh wajah Dazai.


"Pertama kalinya membunuh orang secara langsung dengan kedua tanganku." Lanjut Yuki.


"Ojou chan." Panggil lirih Dazai.


"Menyuruh atau melakukannya sendiri sama-sama bersalah. Tapi sepertinya aku memang tidak menyukai kekerasan yang merenggut nyawa orang." Yuki menutup mulutnya dengan cepat.


Ia mengingat memori kejam, sadis, dan sangat menjijikan milik anggota klan naga putih, Sawamura, dan yang terakhir, tangan kanan BD. Tiba-tiba perutnya merasakan mual yang luar biasa.


"Ojou chan?!."


"Ojou sama?!."


Kedua bayangan langsung gelagapan. Dazai segera meminggirkan mobil di depan minimarket.


"Kalian tunggu di sini. Aku ingin ke toilet." Yuki segera keluar dari dalam mobil dan berlari memasuki minimarket.


"Aku akan menyusul ojou sama kamu parkirkan dulu mobilnya." Ogura langsung berlari menyusul gadis itu tanpa menunggu jawaban dari Dazai.


Cukup lama Ogura berdiri di depan pintu toilet. Ia samar-samar mendengar suara dari dalam. Kekhawatirannya semakin bertambah.


Ceklek.


"Ogura san?." Yuki melirik pria itu yang sudah menyambutnya tepat di depan pintu toilet.


"Terima kasih." Ucap Yuki menerima uluran tisu dari Ogura. Ia mengelap sekitar mulut.


"Aku ingin membeli coklat. Apa kamu mau?." Tawar Yuki berjalan mempersilahkan pengunjung lain yang ingin masuk ke dalam toilet.


"Saya akan membeli dua kopi nanti." Jawabnya berjalan terus di belakang gadis itu.


Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di hotel. Dazai segera membongkar kopernya yang berisi beberapa stel baju. Kopernya sangat longgar karena memang hanya untuk formalitas bahwa mereka adalah turis di negeri itu. Ia mengeluarkan tiga kotak besar mochi di atas meja membuat sepasang manik biru berbinar cerah.


"Untuk anda." Dazai membuka kotak paling atas menunjukkan isinya.


"Terima kasih." Ucap Yuki mengambil mochi dengan riang.


"Untukku?." Tanya Akashi.


"Aku?." Sambung Hiza.


"Dazai kamu tidak melupakan kakek tua ini bukan." Sahut kakek Ryuu.


Yang di keroyok hanya nyengir kuda.


"Kita bisa delivery." Jawabnya.


Ting tong.


Ogura keluar untuk membukakan pintu dan kembali dengan tiga tumpuk pizza dan tujuh kaleng minuman bersoda. Padahal mereka hanya berlima.


"Pegawai hotel sudah mengantarkan pesanan kita." Ucap Ogura. Lalu menatanya di atas meja.


Yuki memperhatikan interaksi para bayangan. Ramai, penuh canda namun tidak meninggalkan sopan santun.


Bagaimana bisa orang hebat seperti mereka mau mengabdikan diri, mau menyerahkan nyawa mereka kepada anak keras kepala sepertiku, batin Yuki menjauhkan mochi di tangannya.


***


Yuki menghela nafas berat. Menatap langit-langit hotel. Tangannya meraba atas nakas mengambil kotak permen menggigit pilnya. Masih dalam keadaan telentang Yuki menutup wajahnya dengan bantal.


Ingatan masa lalu terus berputar. Ia semakin menekan bantal di atas wajahnya. Semenjak hari itu, ingatan tentang Fumio menghujaminya terus menerus. Bahkan di jam-jam terakhir pesta malam pemilihan, Yuki bertengkar dengan dirinya sendiri. Deru nafas berat tak membuatnya menyingkirkan bantal dari atas wajahnya.


Berhenti, batin Yuki memohon.


Dengan kembalinya ingatan-ingatan itu menumbuhkan sesuatu yang sudah lama tertidur di dalam hati Yuki. Namun logikanya tetap bertahan, enggan menerima kedatangan semua perasaan asing itu.


Eiji .., lirih Yuki pada akhirnya sebelum ia terlelap kembali ke alam mimpi.


"Kita harus bergerak sekarang. Apa belum ada kabar dari ojou sama?." Tanya kakek Ryuu.


"Belum. Kita tunggu lima belas menit lagi." Jawab Akashi.


"Tidak biasanya ojou chan terlambat." Gumam Dazai.


"Apa hukumannya kambuh lagi?." Srobot Hiza.


"Aku tidak mendengar tentang itu semenjak ojou chan bangun dari komanya." Jawab Dazai.


"Heeee ... Apa mungkin ada masalah lain?." Sambung Ogura.


Ceklek.


Yang di bicarakan muncul dari balik pintu. Yuki menyisir rambutnya ke belakang. Terlihat wajah lelah dan kusutnya.


Bruk.


Yuki meletakan tas kopernya di atas meja, membukanya perlahan.


"Ini bom. Tidak kuat juga tidak lemah. Cukup untuk keperluan kita." Yuki mengeluarkan tiga toples berisi bulatan berukuran bola ping pong meletakannya di tengah meja tanpa menyapa atau melirik salah satu dari mereka.


"Dai chan sudah mendengar rencana kita?." Tanya Yuki tatapannya masih kepada tas koper.


"Ya, Akashi san sudah menjelaskannya tadi malam." Jawab Dazai yang diangguki oleh Yuki.


"Empat orang. Aku, kakek Ryuu, Akashi san, dan Hiza san akan masuk lewat villa. Kita berpencar setelah menginjak lantai bawah tanah mereka. Dai chan dan Ogura san terus mengudara di titik aman. Masalah kamera keamanan biar aku yang urus. Di menit ke dua puluh delapan, ulurkan tangga ke bawah. Lalu tarik ke atas dengan cepat." Jelasnya lalu mengeluarkan lima kotak kaca penuh jarum.


Tidak ada yang berani menyela gadis itu. Meski mereka merasakan kejanggalan.


"Kalian membawa pistol yang pernah aku berikan?." Tanya Yuki menutup rapat kelopak matanya lalu membuka lagi.


"Ya, kami membawanya." Jawab Hiza.


"Ambil ini untuk mengisinya lagi." Yuki menyodorkan kotak kaca itu ke tengah meja.


"Mereka sudah bergerak. Menuju kemari. Perkiraan nanti siang mereka semua berkumpul di london. Kita harus pergi pagi ini juga." Ucap Yuki. Tidak menyadari jika sejak tadi para bayangan memperhatikannya.


"Apa ada pertanyaan?. Jika ada kita lanjutkan di perjalanan nanti. Ayo pergi." Yuki hendak merapikan tasnya namun suara Mizutani yang tak di sangka sudah berada di sana, menghentikan gerakkannya.


"Kamu sedang tidak sehat." Yuki kembali menutup tasnya yang sempat terhenti.


"Ung." Jawab Yuki.


"Kita undur misi ini." Ujar Mizutani.


"Tidak. Setelah misi ini selesai kita bisa istirahat sebelum misi selanjutnya." Tegas Yuki.


"Aku ingin misi ini sukses. Apa kalian mengerti?." Kata Yuki lembut.


Semua orang mengangguk paham.


"Ayo kita pergi, tunggu apa lagi." Ucap Yuki membalikan badan, melempar senyum sekilas kepada Mizutani lalu keluar dari kamar itu.


***


Kaca mata hitam, crop top putih tanpa lengan, blazer hitam, high heels tujuh senti menambah ketinggiannya menjadi tidak manusiawi.


Di sekitarnya ada dua rekan yang menemaninya selama lima belas tahun ini. Agen FBI, itulah mereka. Dua laki-laki kekar dan satu wanita seksi menyedot perhatian di bandara internasional london.


Sret. Sret. Sret.


Ketiganya langsung masuk ke dalam lift untuk turun. Mereka tidak membuka mulut melainkan berbicara dengan sorot mata masing-masing.


Bak. Bak. Bak.


Taksi berjalan meninggalkan bandara. Mereka acuh tak acuh tapi sorot mata ketiganya menatap tajam empat orang yang berdiri di dekat taksi mereka sebelumnya. Pakaian rapi, tinggi serempak, ke empat orang itu akhir-akhir ini sering mereka temui di berbagai negara.


Agen CIA, batin mereka.


Ketiganya semakin yakin jika mereka sedang mengejar orang yang sama. Meski mereka berasal dari negara yang sama pula namun, keduanya memiliki rahasia masing-masing. Yang di jaga rapat oleh kedua belah pihak. Dan orang yang mereka incar saat ini sangatlah penting untuk FBI. Mereka tidak akan mengalah atau meloloskannya begitu saja.


Selang dua jam bandara yang sama dibuat takjub kembali dengan kharisma kelompok kecil yang baru datang dari california. Entah ada apa hari ini, bandara tidak henti-hentinya menerima tamu menawan dan mengintimidasi secara bersamaan.


Satu jam kemudian. Sekelompok pria berpakaian nyentrik dengan beragam kepribadian juga menjadi sorotan pengunjung dan penghuni bandara.


***


Bus yang dalamnya sudah di sulap menjadi sebuah hotel itu membawa rombongan klan rahasia. Satu-satunya perempuan di dalam bus itu terus menatap ke luar jendela. Sesekali menjawab jika di tanya.


"Yuki." Hanya Mizutani yang berani memanggil gadis itu dengan nama kecilnya. Pemimpin bayangan hanya akan memanggil sopan di waktu tertentu.


"Hm?." Gumam Yuki.


Para bayangan bersantai sendiri-sendiri, namun telinga mereka selalu siap siaga. Seperti kali ini, pemimpin bayangan mengajukan rencana dadakan kepada gadis itu. Sang ketua.


"Menurutku, kita ganti rencananya." Mizutani melirik Yuki yang menempelkan dahi pada kaca jendela.


"Apa?." Tanya gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar bus.


"Jika kamu dan Ogura berganti posisi bagaimana?. Akan ada lima bayangan yang masuk ke dalam villa, misi juga akan selesai dengan cepat." Ujar Mizutani. Yuki berpikir sebentar.


"Ya, tidak masalah." Jawab Yuki enteng. Padahal para bayangan sudah khawatir dengan ide Mizutani.


"Aku juga akan lebih mudah mengatur yang di luar villa." Imbuh Yuki.


"Apa kalian sudah mengingat semua rute terowongannya?." Tanya Yuki lagi-lagi tidak mengalihkan pandangan dari kaca.


"Sudah." Jawab beberapa diantara mereka.


"Bisakah aku serahkan padamu Tsuttsun, pembagian arah dan jumlah terowongan?." Dazai melirik Yuki dari kaca spion dalam. Ia yang sedang menyetir sulit untuk melihat gadis itu.


"Ya." Dan setelah itu Mizutani langsung membahas rencananya.


Ini sudah yang ke lima puluh kali Yuki mengecek layar ponselnya. Hanya ada pesan dari Hotaru dan beberapa orang lainnya. Ia membalas pesan Hotaru lalu kembali menutupnya.


"Yuki. Ada apa?." Mizutani beranjak duduk di depan gadis itu.


"Perasaanku tidak enak dengan misi di bhutan." Setelah memasuki bus ini pertama kalinya gadis itu menatap salah satu di antara mereka.


Manik sebiru langit musim panas tanpa awan itu menatap lurus manik hitam Mizutani.


"Ayah, dan bayangan yang lain belum juga memberikan kabar." Jawab Yuki.


Seharusnya aku yang pergi bersama ayah setelah menemui Sawamura san dan tugas di sini sudah selesai. Tapi itu akan memakan waktu yang lebih lama, lanjut Yuki dalam hati.


Bukannya Yuki tidak percaya kepada para bayangan. Namun, jika seperti ini terus, ia tidak bisa tidak merasa khawatir.


"Aku ingin mengingatkan padamu. Jangan remehkan bayangan." Yuki menarik salah satu sudut bibirnya mendengar tanggapan Mizutani.


"Di sini ayah juga baru melakukan terobosan dengan kaisar dari bhutan. Mereka baru sepakat bekerja sama dalam bisnis ini setengah tahun yang lalu. Negara atau kerajaan bhutan ini sangat menjunjung tinggi masyarakatnya tetap bahagia. Sedangkan yang kita bawa adalah sebaliknya." Jelas Yuki.


Yuki mendengar dari Daren malam sebelum mereka meninggalkan kediaman utama, kalau ayahnya berusaha mati-matian agar bisa bekerja sama dengan negara itu. Jika ini berjalan tidak baik, bisnis Daren akan gagal, usahanya yang dibangun selama ini untuk bhutan akan sia-sia.


"Apa hubungannya dengan misi kita?." Ogura yang penasaran buka suara.


"Kaisar bhutan salah satu poin penting yang sanggup membuat kita keluar dari jalur berputar-putar dalam pencarian BD ini." Jawab Yuki.


Dzzzz ... Dzzzz ...


Yuki segera membalik ponselnya, semoga itu adalah kabar baik dari Daren atau para bayangan yang lain.


-_-


Jangan lupa makan.


Yuki menghela nafas berat melihat pesan dan melihat siapa yang mengirimnya. Tangannya merogoh kotak permen memalingkan wajah ke luar jendela seraya diam-diam memakan pil itu. Ia mengabaikan pesan Fumio.


Kalau di pikir-pikir dia lupa makan sejak pagi. Para bayangan juga sudah membujuknya namun ia sedang tidak berselera. Lidahnya terasa pahit.


"Yuki." Panggil Mizutani.


"Hm?."


Hening.


"Aku baik-baik saja." Lirih Yuki.