Futago

Futago
Love Letter.



Berakhirlah Keiji dengan kepasrahannya membiarkan Yuki bermain di pipinya. Tidak sengaja manik Keiji melihat dua surat diatas meja.


"Kamu tidak membacanya Hachibara san?." Yuki menaikan satu alis menatap mata Keiji lalu beralih ke atas meja melihat benda yang dimaksud anak itu.


"Tidak." Jawab Yuki cepat hendak kembali bergerilya namun dua teriakan melengking membuatnya berhenti.


"Tidaak ..?!." Seru Natsume dan Ueno bersama-sama. Yuki menarik kedua tangannya menoleh ke arah mereka.


"Yu chan, kamu tidak boleh seperti itu." Masamune yang mendengar percakapan mereka diam-diam tersenyum.


Biar teman-temannya yang mengajari Yuki, batin Masamune.


"Kamu terlalu jahat tidak membacanya Hachibara san." Ueno berubah sedih.


"Eh?." Yuki bingung sekarang, kenapa Natsume kesal dan Ueno berubah sedih.


"Yu chan kamu punya hati tidak sih." Yuki menaikan satu alisnya. Membuat Hajime yang melihat tersenyum kecil, Kudo menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Hirogane bergerak tak nyaman.


"Ada apa dengan kalian?." Tanya Yuki yang di jawab lirikan sinis oleh Natsume, dan tatapan sendu oleh Ueno.


Apa karena surat ini dari sepupu Ueno san dan satunya dari junior Hazuki?, batin Yuki yang merasa tidak enak.


"Berhenti menatapku seperti itu. Aku akan membacanya." Ujar Yuki meraih dua surat diatas meja memberikan satunya kepada Keiji yang dibuat bingung namun tetap menerima surat yang di sodorkan kepadanya.


Tangan Yuki membuka amplop warna pink mengeluarkan isi surat dengan malas.


"Kenapa kamu memberikannya kepada Keiji kun?." Tanya Natsume.


"Kenapa?, dia membantuku membacanya agar cepat." Jawaban Yuki menimbulkan gelak tawa dari para laki-laki dan keheningan dari Natsume dan Ueno.


"Yu chan kamu tahu itu apa kan?." Sergah Natsume yang di buat pusing oleh Yuki.


"Surat." Jawab Yuki.


Natsume hendak berbicara lagi namun di hentikan oleh Ueno.


"Biar aku saja." Ucapnya lalu menatap Yuki yang kini sedang membaca surat dari sepupu Ueno.


"Hachibara san." Panggilnya.


"Hm?." Yuki tidak mengalihkan pandangannya dari surat itu.


"Surat itu ditulis dengan kesungguhan dan keberanian pengirimnya, mereka menumpahkan perasaan mereka di setiap tulisan, itu dinamakan surat cinta. Setidaknya kamu hargai perasaan mereka." Natsume tersenyum berterima kasih kepada Ueno yang bisa menjelaskan dengan baik dan sabar.


Yuki menaikan satu alisnya, melirik Ueno.


Apa Yu chan masih belum paham?, batin Natsume.


"Jadi, harus aku kirim ke mana surat balasan ini?. Tidak ada alamat pengirim." Celetuk Yuki membuat yang lain speechless. Masamune berusaha menahan suara tawanya saat menaruh minuman untuk Hajime dan Keiji.


"Aduh Yu chan." Natsume memijat kepalanya.


"Apa aku perlu menempelkan kertas di depan loker sepatuku untuk tidak menaruh surat di sana?. Itu loker sepatu bukan kotak pos."


Sudah cukup, Masamune sudah tidak kuat lagi. Suara tawanya menggema di susul oleh Hajime, Keiji, Kudo, dan Hirogane.


Ueno menutup wajahnya dengan kedua tangan, Natsume mengusap-usap dadanya agar bersabar.


"Ueno san, nama sepupumu Kawashima Chizuru?. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini, tapi dia bilang belum pernah berkenalan denganku?." Yuki mengabaikan orang lain menunjuk isi surat di tangannya.


"Siapa katamu?." Srobot Hirogane. Seketika mereka terdiam.


"Kawashima Chizuru." Ulang Yuki.


"Tidak salah lagi." Sahut Kudo. Hajime menatap Yuki dari kejauhan.


"Kamu ingat musuh bebuyutan sekolah kita?." Tanya Hajime, Yuki memutar otaknya dengan cepat.


"Midori koukou (Sma Midori)." Hajime mengangguk membenarkan.


"Kamu ingat ace terbaik di tingkat sma ada di sma itu?." Yuki memutar otaknya lagi.


Mungkinkah orang yang beradu mulut dengan Inuzuka kun di dekat lapangan sore itu?, batin Yuki mengingat kejadian itu.


"Ung, sepertinya."


"Namanya adalah Kawashima Chizuru." Hajime menyebut nama ace terbaik itu dengan sorot mata penuh gairah bertanding.


Yuki melirik isi surat, lalu meletakkannya di atas meja dalam keadaan terbuka.


"Dia meminta bertemu besok, di kolam renang." Ucap Yuki menyangga dagunya dengan sebelah tangan.


Yu chan, di sini banyak orang apa kamu tidak bisa menceritakannya kepada para perempuan saja, geram Natsume dalam hati.


Hening, sampai Keiji buka suara.


"Kamu yakin pergi ke kolam renang di hari minggu?." Yuki menoleh ke samping.


"Apa bakal ramai?." Keiji menganggukkan kepalanya.


"Apa mereka juga memakai baju seperti Masa san?." Keiji menganggukkan kepalanya lagi.


"Hm..?, apa kamu mau ikut besok. Aku akan minta Mi chan untuk menyewanya." Ajak Yuki.


"Kalian juga mau ikut?." Yuki menoleh kepada yang lain.


"Yu chan, mungkin dia ingin pergi berdua denganmu." Jelas Natsume.


"Di sini tidak tertulis hanya berdua, berarti aku boleh mengajak yang lain bukan." Hajime, Kudo, Hirogane mengangguk serempak.


Yuki tersenyum melirik Ueno.


"Ikut kan?." Semburat pink muncul di pipi Ueno.


"Hachibara san trauma dengan kolam renang kan." Ujar Ueno. Sebelum Yuki menjawab ia menatap Hajime penuh arti sedangkan tangannya meremas kecil tangan Keiji yang berada di bawah meja agar tidak buka suara.


"Ung, aku tidak akan berenang. Kamu ikut kan?." Jawab Yuki.


"Ya." Yuki tersenyum kecil melirik Natsume.


"Kamu kalah suara Hazuki, besok jam sepuluh pagi kita berkumpul di stasiun." Ujar Yuki.


"Aku tidak bisa, aku mau latihan." Tolak Keiji seraya memberikan amplop biru kepada Yuki.


"Tidak boleh, kamu harus ikut." Titah Yuki.


"Pertandinganku lebih penting." Yuki menatap anak smp berbadan bongsor itu.


Plak.


Yuki menangkup pipi Keiji dengan tangannya sampai menimbulkan suara. Yuki menekan tangannya membuat Keiji mengerucutkan bibir lalu menarik pipi itu dengan gemas.


"Kamu harus ikut Keiji kun, aku akan menemani latihanmu besok, bagaimana? hm ..?." Keiji meraih dua tangan Yuki menjauhkan dari wajahnya.


Dalam ratusan penyerangan yang Yuki lakukan baru kali ini gadis itu mengalah dan menurut menjauhkan tangannya dari pipi anak itu.


"Aku maunya hari ini." Kata Keiji. Yuki tersenyum seraya mengacak-acak rambut Keiji yang di potong sangat pendek.


"Hai' hai' (Iya iya)." Suara Yuki yang terdengar lembut membuat seluruh tubuh merinding.


Hajime sebagai penonton ikut tersenyum melihat ekspresi teman-teman Yuki, mereka baru melihat sisi lain dari gadis itu pantas saja jika mereka selalu terkejut, pikir Hajime.


Senyum dan tatapan Yuki kepada Keiji terlihat seperti seorang kakak kepada adiknya, itu yang teman-teman Yuki simpulkan dari interaksi diantara mereka berdua.


***


Setelah makan siang Yuki dan Keiji langsung pergi ke lapangan di dekat rumah, Natsume dan yang lainnya pun mengikuti mereka. Mereka hanya duduk di atas rumput menonton.


Yuki melempar untuk Keiji, tidak lama kemudian Hirogane bergabung dengan mereka.


Natsume sengaja duduk di samping kanan Ueno agar gadis itu bisa lebih dekat dengan Hajime yang duduk di samping kiri gadis itu.


"Dia terlihat segar bugar, tidak akan ada yang menyangka kalau dia punya penyakit di tubuhnya." Celetuk Kudo.


"Kau tahu Yu chan sakit?." Srobot Natsume.


Kudo menoleh ke samping mendapati mereka semua menatapnya.


"Ya, begitulah." Jawab Kudo seadanya.


"Ne, Natsume chan." Lirih Ueno memeluk lututnya.


"Hm?." Natsume menatap temannya itu yang sedang melihat ke bawah sana, tepatnya ke arah tiga orang di tengah lapangan.


"Aku ingin lebih dekat dengan Hachibara san, ingin tahu tentangnya lebih dalam, sebagai teman yang setidaknya bisa membuatnya nyaman untuk dia bisa bercerita." Natsume tertegun sejenak lalu mengalihkan pandangannya menatap gadis bermanik biru yang sedang sibuk melempar bola.


"Aku tidak suka saat Yu chan berpura-pura baik-baik saja dengan penyakitnya. Apa kamu juga melihat kantung sampah yang di bawa bibi Masamune waktu itu, Ueno san?." Ueno mengangguk kecil, masih menatap Yuki yang kini sedang berjinjit mengusap kepala Keiji.


"Hm."


"Aku merasa dia adalah malaikat yang dikirimkan untukku, teman yang melihat aku apa adanya. Dan aku akan terus menunggu Yu chan percaya dan mau bercerita tentang dirinya, sampai saat itu tiba kita harus bersabar." Ujar Natsume tersenyum manis kepada Ueno yang membalas senyumannya juga.


Obrolan kedua gadis itu di simak oleh kedua laki-laki di samping mereka.


"Dan parahnya." Sambung Ueno.


"Hachibara san benar-benar polos tentang asmara." Seketika Natsume tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha ... Sejak kapan surat cinta tertulis alamat pengirim?, dan juga. Ekhem," Natsume menghentikan tawanya dengan dehaman kecil.


"Apa kamu pernah melihat Yu chan menghindar dari laki-laki yang mengkabedon dirinya? (Dalam bahasa jepang Kabe \= tembok, Don \= suara benturan. Saat seorang pria memaksa seorang wanita berdiri membelakangi tembok dengan satu tangan atau lengan memukul tembok dan membuat suara "don" / mengurung dengan tangan yang menempel di tembok)." Ueno langsung menegakkan punggungnya menatap Natsume, tertarik dengan cerita gadis itu.


"Belum." Sahut cepat Ueno, ternyata tidak hanya Ueno yang tertarik laki-laki di belakangnya pun menajamkan pendengaran mereka.


"Jika mengkabedon biasa Yu chan dengan mudah meloloskan diri, tapi pernah ada laki-laki yang nekat mengkabedon Yu chan dengan kedua tangannya lalu berusaha mencium Yu chan, hahaha ..." Ueno gemas karena Natsume menggantung ceritanya dengan suara tawa yang melengking.


"Maaf, aduh. Jika teringat itu aku ingin terus tertawa." Ueno menggerak-gerakkan pundak Natsume tidak sabar.


"Iih Natsume chan, lanjutkan." Natsume mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menatap manik Ueno.


"Laki-laki itu berakhir mencium tembok tanpa sedikit pun bisa menyentuh Yu chan hahahaha ..." Natsume menutup mulutnya dengan tangan.


"Eh?, kok bisa?." Ueno bingung. Bagaimana cara Yuki meloloskan diri?.


"Sepertinya Yu chan bisa bela diri, bahkan saat dia kabur dan terperangkap di tengah-tengah puluhan preman Yu chan tetap tenang." Jelas Natsume.


"Eh?!." Ueno terkejut.


"Tapi aku tidak pernah melihatnya menyerang seseorang, Yu chan selalu bisa lolos dari masalah dengan otak pintarnya." Ueno diam sebentar lalu kembali memandang ke bawah.


"Keren." Ucap Ueno menatap Yuki.


"Ung, Yu chan sangat sempurna. Tapi sayang, dia tidak menyadari kalau dirinya sangat cantik dan sempurna." Ueno mengangguk setuju.


"Aku beruntung bisa menjadi teman Hachibara san."


Tiba-tiba segerombolan anak-anak sd dan dua orang dewasa berjalan menghampiri mereka dan masuk ke dalam lapangan menghentikan latihan Keiji di bawah sana.


"Are?, nee chan (Kakak) bisa bermain baseball?. Waahh kereenn." Seru anak-anak memakai seragam baseball mereka.


Yuki tersenyum, melihat anak kecil mengingatkannya dengan anak-anak di panti.


"Latihannya sudah cukup Hachibara san, aku akan membereskan lapangan dulu sepertinya mereka mau berlatih." Keiji segera membereskan sisa-sisa latihan mereka.


"Hm."


Tiba-tiba Yuki merasakan ada tarikan di ujung bajunya, ia melirik ke bawah mendapati anak perempuan dengan seragam baseball dan topi miring tersenyum lebar ke arahnya.


"Onee chan!, matamu sangat cantik. Apa itu asli?." Yuki tersenyum kecil lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak kecil itu.


"Coba sentuh dan lihat, apakah ini asli?." Jawab Yuki seraya menunjuk satu kelopak matanya yang tertutup dan membiarkan satunya lagi terbuka.


"Maaf, aku akan menyentuhnya." Ucap sopan anak kecil itu.


Jari kecil yang terasa panas di kulit Yuki tengah mengusap-usap dan sesekali menekan pelan kelopak mata Yuki yang tertutup, sedangkan manik anak kecil itu terus menatap manik Yuki yang terbuka, memperhatikannya dengan sangat serius.


"Waaahh, ini asli!." Seru anak kecil itu terperangah takjub.


"Apa onee chan operasi plastik?." Tiba-tiba Yuki sudah di kerubungi anak-anak baseball kecil.


"Tidak." Jawab Yuki, anak lain mulai bertanya lagi.


"Onee chan pakai sabun apa?, wanginya harum." Yuki melirik anak yang bertanya.


Padahal sudah banyak berkeringat, batin Yuki.


"Sabun biasa."


"Apa onee chan sudah punya pacar?." Tanya salah satu anak laki-laki.


"Belum." Tiba-tiba banyak dari anak laki-laki yang membungkuk kepada Yuki meneriakan kalimat ajaib.


"Suki desu! (Aku menyukaimu!)."


"Sukiatte kudasai! (Jadilah pacarku!)."


"Onee san!, kekkon shite kudasai! (Kakak!, menikahlah denganku!)."


Kalimat ajaib mereka membuat orang-orang terkejut apa lagi kalimat ajaib dari anak perempuan yang menarik Yuki tadi.


"Dame!, nee chan (Tidak boleh, kakak). Jadilah pacar kakakku!." Yuki menahan senyumnya membuat kedua pipi itu menonjol, memperlihatkan wajah lain yang menggemaskan.


"Horaa!, kalian. Jangan ganggu onee chan itu!. Kembali ke sini." Teriak pelatih mereka. Yuki menatap anak-anak itu satu persatu.


"Maaf, tapi terima kasih. Kalian sudah di panggil pelatih, semangat latihannya ya." Ucap Yuki membuat anak-anak itu tersenyum lebar karena mendapat ucapan semangat darinya meski tertolak.


Yuki berdiri menatap anak-anak yang berlari menghampiri pelatih mereka, Yuki membungkuk sebagai pertanda permintaan maaf karena telah mengganggu waktu latihan mereka, lalu berjalan pergi menghampiri teman-temannya yang masih tertawa.


"Bahkan anak kecil juga tahu perempuan cantik sayang kalau di lewatkan." Celetuk Natsume.


"Hentikan, mereka masih polos belum tahu dengan apa yang mereka katakan." Balas Yuki.


"Tidak, menurutku Hachibara san lebih polos dari anak-anak itu." Yuki menaikan satu alisnya menatap Ueno.


"Sudah aku bilang jangan mengangkat alismu Yu chan." Protes Natsume beranjak berdiri.


"Salah apa alisku, Hazuki?."


Dan mulailah perdebatan alis sepanjang jalan mereka pulang. Para laki-laki hanya menyimak di belakang.


***


Sesuai janji mereka berkumpul di depan stasiun kecuali Ueno yang mengatakan akan berangkat bersama sepupunya. Rumah Ueno yang lumayan jauh membuatnya bolak-balik jika berangkat dengan Yuki dan yang lain.


"Aku sudah tidak sabar ingin berenang." Ucap Natsume riang seperti biasanya.


"Apa kalian tidak masalah bertemu dengan musuh bebuyutan?." Tanya Yuki kepada teman-teman klubnya.


"Malas sebenarnya, tapi tidak masalah." Kata Hirogane.


"Menyebalkan memang bertemu dengannya." Ucap Kudo tanpa menahan diri.


"Ayo berangkat." Hajime mengarahkan mereka ke mesin penjual tiket.


Di dalam kereta yang cukup ramai Yuki duduk diantara Natsume dan Keiji, sedangkan yang lain berdiri. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Ueno tersenyum melambaikan tangannya kepada mereka. Gadis itu dan sepupunya sudah sampai lebih dulu.


"Sudah lama?." Tanya Yuki kepada Ueno.


"Tidak, kami juga baru sampai kan, Chi chan." Ueno melirik sepupunya.


Chizuru menatap sengit kepada kumpulan laki-laki di belakang Yuki, ia tersadar ketika sepupunya mengajaknya berbicara cepat-cepat raut wajahnya ia rubah.


"A aah, ya kami baru sampai." Laki-laki bernama Chizuru itu tersenyum lebar yang jelas di buat-buat. Rambut pirangnya sangat cocok dengan kulit putihnya, padahal dia pemain baseball yang pastinya selalu di jemur di bawah terik matahari.


"Ano .., kita belum sempat berkenalan sebelumnya. Aku, Kawashima Chizuru panggil saja Chizuru." Ucapnya seraya menyodorkan tangan kepada Yuki.


Hallah .., modus, batin Hirogane.


Dasar buaya sok pamer, batin Kudo.


Hajime dan Keiji diam saja entah apa yang mereka pikirkan tentang Chizuru. Yuki membalas uluran tangan Chizuru.


"Hachibara Yuki, maaf aku mengajak mereka, tidak masalah bukan." Kata Yuki lalu menarik kembali tangannya.


Yaahh, cepet banget di tariknya, sebenarnya kehadiran mereka mengganggu tapi tidak mungkin aku bilang seperti itu bukan, batin Chizuru.


"Ya tidak masalah kok, malah jadi ramai." Chizuru masih mempertahankan senyumannya.


"Hai, aku temannya Yu chan dan Ueno san, Natsume, salam kenal." Ucap Natsume tersenyum ramah.


"Senang berkenalan denganmu."


"Ayo masuk." Ajak Hajime.


"Senpai tidak berkenalan?." Tanya Yuki sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat Hajime.


"Dia sudah kenal kami." Jawabnya, Yuki mengangguk paham.


"Ayo masuk." Yuki berjalan langsung menuju penjaga di depan pintu masuk.