Futago

Futago
Merindukan Ruang Rahasia.



Pelayan mengantarkan pesanan Hotaru dan Takehara. Untuk sejenak Takehara menikmati minumannya dan mulai bicara kembali.


"Aku benar-benar melakukan semua yang ojou chan ajarkan, bergerak seperti seekor cheetah, melumpuhkan musuh menikam titik vital dengan pisau. Aku berhasil membunuh mereka semua yang mengetahui tentang cucu perempuan Hachibara sama, dan merahasiakan cucu laki-laki." Takehara melirik Hotaru.


"Aku kira kamu sudah meninggal karena tidak kembali." Ujar Hotaru.


"Aku meninggalkan tempat itu tapi tidak kembali ke rumah besar, lukaku cukup parah. Jika aku kembali kemungkinan ada yang mengikuti jadi, aku memutuskan untuk bersembunyi merawat luka-lukaku."


"Maaf, paman dan bibi tewas saat melindungi kakek malam itu." Hotaru mengingat kembali jasad berlumuran darah kedua orang tua Takehara.


"Ung, aku sudah tahu sejak lama. Itu adalah tugas kami sebagai pelayan keluarga Hachibara, kehormatan bagi kami meninggal saat melindungi tuan kami, kamu tidak perlu meminta maaf." Jawab Takehara.


"Tiga bulan setelahnya aku mengawasi kediaman besar dari jarak jauh, kediaman besar begitu sepi, aku menyelidiki dimana Hachibara sama dan yang lainnya. Ternyata semua orang sudah meninggalkan kediaman besar. Aku mencari lagi. Sepuluh bulan setelah penyerangan aku menemukan lokasi Ayumi dono, bergegas menuju kesana." Hotaru paham ada sesuatu yang terjadi melihat dari raut wajah Takehara yang gelisah.


"Apa yang terjadi?." Tanya Hotaru.


"Aku hampir terlambat." Lirih Takehara meremas tangannya kuat-kuat.


"Musuh mengetahui lokasi Ayumi dono. Malam itu mereka menyerang, semua pengawal tewas, Daren dono ikut turun tangan melindungi Ayumi dono dan ojou chan."


"Yuki! bagaimana dengan Yuki?." Srobot Hotaru.


"Ayumi dono menyembunyikan ojou chan tepat waktu, mereka tidak pernah tahu ada anak kecil didalam rumah itu." Hotaru menarik nafas lega.


"Jika saja aku bisa bernafas lega sepertimu, bocchama." Kalimat Takehara membuat tubuh Hotaru merinding hebat.


"A apa katakan." Sergah Hotaru.


"Huuufftt." Takehara menghembuskan nafas berat membuang wajahnya.


"Aku dan beberapa pengawal tersisa membantu Daren dono menyerang musuh, tapi pada akhirnya mereka tewas juga hanya tersisa kami berdua, dan musuh semakin banyak." Takehara menatap kosong tangannya, mengingat kembali peristiwa itu.


"Bagi keluarga pelayan dan pengawal seperti kami kisah tentang keluarga Hachibara wajib untuk diceritakan kepada keturunan-keturunan mereka. Kisah yang selalu diulang-ulang oleh ayah setiap malamnya tidak ada satu pun yang menceritakan tentang Ayumi dono menggunakan katana warisan dari Hachibara-Go." Hotaru terkejut ia membeku.


"Kakek buyut." Lirih Hotaru.


"Apa ibu ..." Hotaru menggantungkan kalimatnya menelan kembali tebakan yang ia harap itu salah.


Katana itu adalah warisan turun temurun leluhurnya, warisan yang sangat sakral, bahkan Hotaru belum pernah melihat kakeknya Hachibara Kou menggunakan katana itu.


"Seharusnya aku melindungi Daren dono tapi, aku yang lemah ini malah menyusahkannya." Tanpa Takehara sadari suaranya bergetar.


"Daren dono mendapatkan luka cukup banyak, dan kedua kakiku lumpuh karena tertebas musuh." Takehara membuka tangan kanannya, menatapnya lekat-lekat seakan-akan ada sesuatu disana.


"Musuh memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Daren dono dari belakang, sekuat tenaga aku melemparkan katana ditanganku membunuh orang itu. Tidak memiliki senjata dan lumpuh, aku sangat yakin itu lah akhir perjuanganku melindungi keluarga terhormat bahkan musuh sudah mengelilingiku. Tapi, udara berubah dingin, oksigen ditempat itu tiba-tiba menipis." Takehara menelan salivanya kasar, tangannya gemetar hebat, ia segera menyembunyikan tangannya dibawah meja.


"Ay Ayumi dono, berdiri di ujung ruangan. Menatap kami semua dengan mata coklat terangnya." Tangan Takehara saling meremas di bawah meja, berusaha untuk tidak gemetar.


"Suara nyaring katana yang tercabut masih jelas terdengar ditelingaku hingga saat ini. Suara yang mampu melumpuhkan musuh, kami semua tunduk. Hanya Daren dono yang tetap berdiri, diam, melihat istrinya menghabisi semua musuh."


Katana warisan, batin Hotaru.


"Untuk pertama kalinya aku melihat Daren dono dan Ayumi dono bertengkar. Mataku melihat, tapi telingaku seakan tuli." Takehara tiba-tiba berdiri.


"Toilet." Ucapnya berlalu pergi.


"Bertengkar, ayah?." Gumam Hotaru.


"Mungkin itu awal perbedaan pendapat mereka." Hotaru meneguk minumannya.


"Rin oneecchan, apa dia baik-baik saja?." Lirih Hotaru menatap kepergian Takehara.


Takehara buru-buru membuka pintu toilet, membungkuk memuntahkan semua isi perutnya padahal sejak kemarin dia belum makan tapi perutnya tetap merasa mual dan memuntahkannya.


Takehara memutar tombol flush (menyiram), menghempaskan p*nt*tnya di kloset toilet. Tangannya masih gemetar, ia menangis mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.


Setelah beberap saat Takehara menguasai dirinya kembali, ia berjalan menuju wastafel membersihkan mulut dan membasuh wajahnya.


Kisah itu benar, bukan hanya sebuah mitos, aku ... Aku adalah pelayan setia keluarga yang leluhurku hormati, batin Takehara menguatkan dirinya.


"Kamu tidak baik-baik saja neecchan." Ujar Hotaru khawatir.


"Ung, ayo kita makan. Lihat, makanan kita sudah dingin sejak tadi." Ujar Takehara mulai menyantap makan siangnya.


"Aku masih ingin mendengar ceritamu." Kata Hotaru menatap Takehara.


"Makanannya sudah dingin, Hotaru." Ucap Takehara menatap manik pemuda itu.


Hotaru mengurungkan niatnya untuk mendesak Takehara dan mengikuti perintah wanita itu.


"Tenang saja, aku akan melanjutkannya nanti, setelah kita sampai di rumah." Imbuh Takehara.


***


Tokyo 5:30 p.m.


Langit senja dengan warna orange bercampur pink sedikit warna ungu terlihat sangat indah. Suzune tadi berpamitan ingin melapor ke Mizutani diruangannya meninggalkan Yuki yang masih berdiri di pinggir lapangan baseball menikmati keindahan langit sore.


Semakin mencari jawaban semakin terperangkap didalam otak, semakin aku menginginkan penjelasan semakin aku tersesat didalam diriku sendiri, apa tidak masalah jika aku membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Batin Yuki.


"Kau! kenapa masih disini?!." Yuki mendengar teriakan seseorang.


"Tenang saja kami baru mau pulang sekarang. Aku juga tidak betah berlama-lama disini." Sahut suara yang lain.


"Lain kali kami akan mengalahkanmu!." Teriak orang itu lagi.


"Kalau berani sini maju!."


"Shinichi kun sudah, berhenti." Yuki menoleh ke belakang melihat dua laki-laki yang sedang menahan masing-masing orang yang ingin saling menerjang itu.


"Haruno apa kamu tidak kesal dengan ace(kartu as) tim lawan sok keren ini." Ucap Inuzuka sarkas.


"Kelas berapa kamu! dasar wajah asing." Sergah lawan bicara mereka.


"Berhenti Chizuru, jangan membuatku malu." Ucap kapten tim lawan yang berusaha melerai keributan anggota timnya.


"Apa? berhenti! dan mengalah sama anak kelas satu kurang *j*r ini. Mimpi saja sana." Balas pemain ace dengan rambut pirang itu.


"Inuzuka, berhenti. Dasar baka (bodoh)." Satu lagi orang dari tim baseball sma oukami datang melerai.


"Hei! Kotaro, siapa anak kelas satu ini. Sikapnya membuatku jengkel." Tanya laki-laki bernama Chizuru menunjuk Inuzuka.


"Maafkan dia Chizuru, anak ini agak .., kamu tahu, bodoh." Ucap laki-laki itu.


"Ah, begitu ya." Chizuru mulai sedikit tenang.


"Kudo Kotaro kamu benar-benar iblis, aku ini kohaimu (junior)." Protes Inuzuka yang tidak mendapat pembelaan.


"Dan aku ini senpaimu (senior), diamlah." Lirih laki-laki bernama Kudo Kotaro seraya melirik juniornya.


Yuki mendekati mereka, gadis itu merasakan atmosfir panas dari kedua kubu itu.


"Inuzuka kun." Tegur Yuki membuat suasana menjadi hening.


"Sepertinya pertandingan sudah selesai." Kata Yuki mengalihkan pandangannya ke lapangan yang sudah kosong.


"A a ah iya, pertandingannya sudah selesai." Jawab Inuzuka membenarkan postur tubuhnya.


"Kalian sudah bekerja keras hari ini." Ucap Yuki membuat pipi Inuzuka dan laki-laki kecil dibelakang Inuzuka memerah.


Yuki menoleh melihat kedua orang yang pasti adalah lawan sekolahnya tadi, Yuki membungkuk sekilas kepada mereka yang bergeming ditempat dan berjalan pergi.


"Enaknya kalian mempunyai manajer secantik dia. Ngomong-ngomong bukankah sekolah kalian sangat serakah memiliki lima manajer perempuan heh!." Protes Chizuru.


Tuk.


"Berhenti membuat masalah Chizuru, maaf untuk semua kejadian ini." Ucap kapten bertubuh besar yang sejak tadi menahan tubuh anggotanya.


"Sama-sama saya juga minta maaf untuk masalah yang kohaiku (junior) lakukan dan, perempuan tadi bukan manajer kami." Kudo menggaruk belakang kepalanya.


"Kamu dengar Chizuru, ayo pulang." Laki-laki itu menyeret Chizuru pergi.


"Aku mengerti, tapi kamu tidak perlu memukul kepalaku juga kapten." Protes Chizuru.


"Kalau tidak aku lakukan kamu akan bertindak semakin bodoh." Srobotnya.


"Sampai jumpa Kotaro .., tunggu! beritahu aku nama perempuan itu!." Teriak Chizuru yang sudah jauh.


"Kenapa dia menyebalkan sekali." Gerutu inuzuka.


"Kamu juga Shinichi kun, seharusnya kamu tidak melayani ledekannya." Tegur Haruno.


"Untuk hukuman, besok aku tidak akan menangkap lemparanmu di bullpen (tempat pitcher mempersiapkan diri sebelum pertandingan (pemanasan) / tempat latihan pitcher)." Ucap Kudo dengan santai.


"Tunggu, kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku." Protes Inuzuka.


"Kenapa tidak bisa." Balas Kudo.


"Ka karena aku salah satu anggota inti sekarang."


"Aku akan meminta pelatih untuk mengeluarkanmu karena sudah bertindak bodoh."


Mereka berdua terus berargumen seraya berjalan kembali ke asrama, langkah mereka terhenti menyadari ada keanehan didepan mereka.


Yuki berdiri menyandar didepan gerbang memainkan ponselnya.


"Senpai." Panggil Inuzuka berjalan mendekat. Yuki yang merasa dipanggil mengangkat wajahnya, tersenyum kepada Inuzuka.


"Sedang menunggu seseorang?." Tanya Inuzuka.


Inuzuka melirik Yuki dari atas sampai bawah, senpainya itu masih berseragam lengkap hanya tidak membawa tas sekolah melainkan tas ransel yang menggantung di punggungnya.


"Senpai mau kemana?." Tanya Inuzuka yang penasaran.


"Aku akan menginap di asrama perempuan." Jawaban Yuki membuat ketiga laki-laki itu terkejut. Yuki mengabaikan ekspresi mereka, ia memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas laki-laki kecil dibelakang Inuzuka.


Yuki mengulas senyum kepada laki-laki itu yang cenderung imut dan cantik membuat sang empu bergerak gelisah.


"Hachibara Yuki, yoroshiku (salam kenal)." Yuki memperkenalkan dirinya.


"A aa, Kawazune Haruno desu kochira koso yoroshiku onegaishimasu, senpai ( salam kenal kembali, senior)." Balasnya kaku, Yuki melirik laki-laki berkacamata yang tidak asing baginya.


"Sen!." Kalimat Inuzuka berhenti karena teriakan seseorang.


"Oi Inuzuka! kau harus melakukan pendinginan." Teriak seseorang dari dalam asrama.


"Sebentar lagi aku akan melakukannya!." Balas Inuzuka ikut berteriak.


Zzzz ... Zzzz ...


Yuki mengangkat panggilan ponselnya.


"Hai'."


"Mmm, hai'."


"Hai'."


Yuki mematikan ponselnya.


"Kenapa tidak masuk saja kalau mau ke asrama perempuan." Ujar Inuzuka menarik perhatian Yuki dari ponselnya.


"Tidak, aku akan menunggu disini saja." Jawab Yuki.


Para anggota sedang berkeliaran didepan asrama tidak mungkin orang asing sepertiku berjalan melewati mereka, apa lagi aku juga tidak tahu dimana asrama perempuan, ucap Yuki dalam hati.


"Shinichi kun ayo kamu harus segera melakukan pendinginan." Haruno mengingatkan.


"Baiklah, senpai aku pergi dulu." Pamit Inuzuka, Haruno mengangguk sekilas kepada Yuki tanpa melihat mata birunya. Pria berkacamata itu mengikuti kedua juniornya dari belakang.


Aku tidak tahu tim ini memiliki anggota bertubuh kecil, dia terlihat lembut tidak cocok bermain di olahraga keras seperti baseball, batin Yuki.


Zzzz ... Zzzz ...


"Hm, ada apa Hazuki?." Tanya Yuki kepada orang diseberang telephon.


"Yu chan, hari ini kami banyak mendapat protes dari anggota baru." Adu Natsume.


"Kamu menelponku hanya ingin mengadu, aku bukan ibumu Hazuki." Yuki melihat langit yang semakin gelap.


"Kejamnya .., ini juga ada hubungannya denganmu." Protes Natsume, Yuki menaikan satu alisnya.


"Kenapa denganku?."


"Mereka protes karena merasa dibohongi, kamu tidak ada disana, di klub band. Alasan mereka bergabung adalah kamu." Jelas Natsume.


"Kalau begitu biarkan mereka keluar dari klub." Jawab Yuki.


"Jangan mengatakannya seakan-akan itu mudah. Bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami, kamu juga belum memutuskan masuk klub mana kan." Bujuk Natsume.


"Tidak." Tolak Yuki cepat.


"Membujukmu memang sangat sulit." Ujar Natsume.


"Terima kasih." Ucap Yuki.


"Itu bukan pujian Yu chan." Srobot Natsume.


"Aku akan mengatakannya kepada mereka besok." Kata Natsume.


"Besok hari libur Hazuki." Yuki mengingatkan.


"Tidak untuk orang-orang sibuk seperti kami, anggota klub." Yuki memutar bola matanya malas.


"Hari minggu mau jalan-jalan?." Ajak Natsume.


"Gomen (Maaf), hari minggu waktuku bermain dengan Keiji kun."


"Keiji kun!?." Ulang Natsume histeris.


"Tetanggaku, dia dua tahun lebih muda." Jelas Yuki.


"Kamu lebih suka berondong, Yu chan." Kata Natsume nada suaranya masih terdengar terkejut.


"Jangan ngaco, dia kuanggap adik sendiri. Sudah ya Hazuki."


Tuuut ... Tuuut ... Yuki menutup teleponnya sepihak.


Dasar gilanya tidak sembuh-sembuh, batin Yuki.


"Maaf menelponmu untuk menunggu disini." Ucap Suzune menghampiri Yuki.


"Tidak apa-apa." Jawab Yuki.


"Ayo." Yuki berjalan mengikuti Suzune.


Mereka berjalan melewati depan asrama laki-laki memutar ke belakang asrama barulah sampai di bangunan kecil yang terpisah dengan asrama laki-laki. Didepan bangunan kecil itu terdapat pot-pot bunga membuat bangunan terlihat seperti rumah kecil yang sederhana.


"Ayo masuk." Suzune membuka kunci pintu mempersilahkan Yuki untuk masuk.


"Permisi." Ucap Yuki melangkah masuk.


Di dalam bangunan terdapat dapur kecil, dua meja, dua tempat tidur, satu mesin cuci, toilet, dan kamar mandi, mirip apartemen yang sangat sederhana. Suzune melirik Yuki yang sibuk melihat-lihat isi asrama.


"Ruangan ini kecil tapi cukup untuk dua orang." Kata Suzune meletakan map yang ia pegang sejak tadi di atas meja.


"Anda tinggal sendirian disini?." Tanya Yuki.


"Ya. Kamu bisa meletakan tasmu disana." Suzune menunjuk meja satunya, Yuki mengangguk sekilas.


"Bagaimana dengan para manajer, mereka tidak tinggal di asrama?." Yuki membuka tasnya.


"Asrama perempuan hanya ruangan ini saja, tidak ada untuk para manajer. Mereka juga tidak diperbolehkan menginap kecuali ada camp pelatihan." Jelas Suzune, Yuki menoleh menatap Suzune.


"Hahaha, kamu pengecualian. Pelatih yang memperbolehkanmu menginap disini kapan pun kamu mau." Kata Suzune tersenyum.


"Meskipun aku bukan manajer." Ujar Yuki datar.


"Ya."


"Itu terdengar tidak adil." Balas Yuki.


"Hahaha, kamu bisa saja." Suzune melepas ikat rambutnya dan menanggalkan jaz seragam, berjalan ke arah kamar mandi.


"Aku akan mandi, kamu bisa merapihkan barang-barangmu. Oh yang disebelah kiri itu, ranjangmu." Tunjuk Suzune sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Yuki merapihkan barang-barang yang sangat sedikit dia bawa, seperangkat alat mandi lengkap, hal yang wajib. Yuki tidak nyaman jika tidak mandi dengan sabun sampai conditioner miliknya sendiri, wangi dari mereka sudah melekat dengan tubuh Yuki seperti ciri khasnya. Yuki mengeluarkan semua barang-barangnya untuk menginap semalam, menatanya diatas meja.


Yuki duduk membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan tempo hari, menunggu Suzune keluar.


Ceklek.


"Apa yang sedang kamu baca?." Tanya Suzune melirik isi buku yang di pegang Yuki.


"Sejarah perang jepang." Jawab Yuki menutup bukunya.


"Eeh?, kamu suka buku yang seperti itu." Celetuk Suzune aroma shampoo manis yang sedikit tajam menusuk hidung Yuki.


"Aku hanya tidak memiliki kerjaan." Jawab Yuki mengambil peralatan mandinya.


"Bolehkah aku mandi sekarang?." Tanya Yuki.


"Tunggu." Yuki menaikan satu alisnya.


"Setelah ini aku harus pergi ke kantin asrama untuk melakukan meeting tim, tentu saja pelatih yang memimpin meeting. Jadi, pelatih memintaku untuk menyampaikan padamu jam delapan nanti dia menunggumu diruangannya." Jelas Suzune.


"Ah! satu lagi, ada bahan makanan dikulkas kecil itu kamu bisa memasaknya. Maaf ya aku tidak bisa memasak untukmu." Ujar Suzune.


"Ya tidak apa-apa, aku pergi mandi dulu." Pamit Yuki.


Berendam adalah hal yang menyenangkan, Yuki merilekskan tubuhnya menikmati aroma sabun yang manis dan lembut. Setelah lama berendam Yuki membasuh tubuhnya lagi dan beranjak keluar.


Kamar sepi hanya ada dirinya, Yuki mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, melirik ponselnya sesaat. Perutnya bergemuruh meminta untuk di isi, ia berjalan membuka kulkas yang penuh dengan sayuran, ikan, dan daging. Yuki tidak bisa memakan apa pun dari sana.


Yuki membaringkan tubuhnya diatas kasur, berguling ke kanan dan ke kiri lalu kembali telentang.


Tidak ada yang bisa aku lakukan, batin Yuki mengangkat tangan kanannya ke atas.


Aku merindukan laboratoriumku, bengkel superku, dan Je komputerku. Aku ingin melakukan hobiku ... Apa yang harus aku lakukan?., Yuki berpikir.


Masuk klub karya ilmiah!. Benar, aku harus masuk kesana, batin Yuki tersenyum lebar.


Setelah mendapat ide besar, Yuki melirik sekilas jam di meja Suzune, kurang dari lima menit jam delapan malam, tanpa pikir panjang ia berlari cepat meninggalkan asrama.


BRAK!.


"Mi chan!."