Futago

Futago
Bertemu lagi dengan para senior.



"Ayolah Yu chan, aku tidak tahu kapan bisa bermain musik lagi denganmu." Rengek Natsume tanpa micnya.


"Aku mengerti, ayo lakukan." Yuki mengalah.


Natsume berjalan ke posisinya memberikan sinyal kepada MC, Yuki mengambil gitar dan duduk di depan piano Natsume. Panitia membantu Yuki menyiapkan mic gadis itu.


Manik biru itu bersirobok dengan manik Keiji di barisan belakang. Yuki menghentikan gerakkan tangannya yang sedang mengotak-atik gitar mendekatkan bibirnya dengan mic.


"Mau mendengar suaraku?." Natsume yang mendengar pertanyaan Yuki langsung menoleh ke arah gadis itu melihat.


Natsume menyambar mic MC dan segera bicara.


"Keiji kun diam. Dengarkan saja. Aku tidak akan membiarkanmu menghalangiku lagi." Yuki menjauhkan kepalanya dari mic dan menoleh ke belakang, menyembunyikan wajahnya yang sedang tertawa.


Ekspresi Keiji sangat lucu saat ini. Anak itu pasti kesal.


Natsume sudah mengembalikan mic MC dan mulai bersiap. Begitu juga dengan teman-temannya dengan alat musik masing-masing.


"Kami akan membawakan lagu yang baru kami rilis dua minggu yang lalu." Ucap Natsume yang langsung mendapatkan sorakan meriah dari para penonton.


"Silahkan menikmati suara dewi sma oukami yang sebenarnya." Yuki langsung melirik Natsume kesal yang diabaikan gadis itu.


Percuma saja, Hazuki tidak bisa di cegah, batin Yuki.


Tangan Yuki mengetuk gitar dua kali seperti yang tertulis di kertas. Ia mendekatkan bibirnya pada mic, membuka kecil mulutnya.


"Your, dream." Ucap lirih Yuki penuh kelembutan, kata yang mengawali lagu.


Hening.


Natsume melirik ke tengah lautan penonton yang biasanya akan berteriak keras kala vokalis utamanya mengatakan dua kata pembuka itu. Kini mereka terdiam seakan tersihir oleh dua kata yang di ucapkan oleh suara khas gadis bermanik biru.


Natsume sangat paham apa yang para penonton rasakan. Lembut, dalam, penuh arti seperti dua kata itu sendiri. Mengetuk dada mereka, menggetarkan sesuatu di dalam sana yang membuat merinding sampai ke ubun-ubun. Natsume tersenyum lebar. Ia sangat merindukan suara ini, Natsume juga sudah mempersiapkan merekam penampilan Yuki. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi.


Natsume menyusul dengan melodi pianonya yang ringan dan halus. Petikan gitar Yuki bergabung ke dalam melodi piano.


Itu baru permulaan, kalian akan mendengar yang lebih. Ini lah suara malaikatku, batin Natsume menatap wajah Yuki dari samping. Bibir menawan itu terbuka.


"Kimi ni nani ga okkotte mo, akiramerubekide wa nai. (Kamu seharusnya tidak menyerah terhadap apa pun yang terjadi padamu.)." Suara itu seperti ombak yang menerjang para penonton, menghembuskan setiap makna pada liriknya.


"Jinsei wa okurimonodeaeri, jinsei wa yoriyoi ningen ni naru tame no tokken, kikkai, shiawasede shiawase o uketoru. (Hidup adalah sebuah pemberian, dan hidup memberikan kita keistimewaan, kesempatan, bahagia dan menerima kebahagiaan.)."


Ting!.


Petikan gitar Yuki menghentikan melodi. Kelopak itu memperlihatkan kilauan manik biru yang menyihir para penonton. Sorot mata Yuki yang selalu berubah setiap membawakan lagu membuat aura bintang gadis itu bersinar sangat terang.


Hening.


Tiga detik kemudian suara kencang dari gitar, bas, dan drum menghentak sekaligus, di susul jari Natsume yang menekan tuts piano sangat cepat. Melodi ringan yang halus berubah cepat meledak bagaikan bom atom.


"Chansu o tsukurou!. Jinsei wa chansudesu. Ikitakute aete ikitai hito ga shoushadesu. (Buatlah kesempatanmu!. Hidup adalah sebuah kesempatan. Dia yang ingin dan berani melaju adalah sang pemenang.)."


"Anata o kizutsuketa hito o nokoshite kudasai. Anata no jinsei wa anata no monodesu. Koufuku, jiyuu wa anata no tenohira no ue ni arimasu. (Tinggalkan mereka yang menyakitimu. Hidupmu adalah milikmu. Bahagia, kebebasan berada di dalam genggaman tangan.)."


Para penonton tidak berkedip. Bagaimana bisa gadis itu bernyanyi dengan sikap tenang duduk di kursinya namun suara dan manik biru itu penuh emosi mendalam menyelami arti lirik seakan sedang menyampaikannya kepada mereka.


Jantung di dalam sana berdegup kencang dan keras, jiwa di dalam tubuh mereka ikut berteriak mengikuti lagu, tenggelam bersama suara indah itu. Suara malaikat yang merengkuh jiwa rapuh banyak orang ke dalam perlindungannya.


Hotaru dan Fumio melihatnya dengan jelas. Mereka merasa bersalah telah mengambil Yuki dari tempat yang membuatnya bahagia, memaksa gadis itu tinggal di kediaman utama tanpa menanyakan pendapat Yuki sendiri. Tapi mereka pun tidak bisa meninggalkan Yuki berada di sini. Klan tidak membiarkannya.


Aku akan membuatmu tersenyum seperti dulu lagi, ucap janji kedua sahabat itu dalam hati.


Yuki sengaja melihat ke arah Keiji, menatap manik anak itu. Semenjak pertemuan Yuki dengan Hajime terakhir kali Keiji sedikit menjaga jarak dengan Yuki. Ketika gadis itu melewati asrama para pemain dan sengaja menghampiri Keiji yang selalu berada di depan pintu asrama, anak itu bersikap tidak biasa. Mungkin Keiji marah atas apa yang Yuki lakukan kepada Hajime. Yuki pantas mendapatkannya, tapi ia juga merindukan Keiji gembulnya.


Lagu berakhir, Yuki menyapu para penonton yang membisu. Maniknya menemukan Hotaru dan timnya, Sayuri terlihat membuka mulut lebar-lebar. Teriakan-teriakan dari siswa-siswi sma oukami memecah keheningan.


"Hachibara san!."


"Hachibara san!. Suki desu!. (Aku menyukaimu!.)."


"Modotte kudasai!. (Tolong kembali!.)."


"Modotte!. Modotte!. Modotte!. Megami!, Modotte kudasai! (Kembali!. Kembali!. Kembali!. Dewi!, kembalilah!)." Sorakan yang terus di teriakan oleh anak-anak tahun ke dua dan ke tiga yang mengenal siapa Yuki.


"Sma oukami kehilangan dirimu." Yuki melirik Natsume.


"Apa kamu sekarang sudah sadar?. Siswa-siswa oukami sangat menyukaimu, banyak dari mereka yang mengidolakanmu jauh sebelum kamu pergi." Yuki melempar pandangan jauh ke belakang. Sakura terisak dan beberapa siswi yang meneriaki namanya dengan air mata berlinang.


"Banyak dari mereka juga membenciku." Balas Yuki meletakan gitarnya.


"Tidak sebanyak yang menyukaimu. Mereka hanya kaum minoritas di dalam kaum mayoritas." Yuki tersenyum kecil.


"Katakan apa yang kamu inginkan sebenarnya Hazuki." Sergah Yuki langsung pada intinya.


"Waaaaahhh ... Tepuk tangan untuk penampilan yang luar biasa ini!." Teriakan MC mengkondisikan penonton.


"Bermain dengan kami lebih lama lagi." Yuki membalas tatapan Natsume. Ia sudah menebak ini.


"Gila." Lirih Yuki.


"Biarin." Srobot Natsume.


Keduanya tiba-tiba tertawa. Sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama. Suara tawa keduanya tertelan oleh kerasnya suara mc.


"Hazuki." Panggil Yuki berdiri dari duduknya.


"Hm?." Natsume melihat Yuki yang mengambil gitar listrik yang menganggur.


"Ayo menggila bersama." Ucap Yuki mengulurkan gitar kepada Natsume.


Gadis itu menatap wajah Yuki dengan mata berbinar cerah. Berdiri menyambut uluran gitar.


"Ow!. Apa ini apa ini?. Apa yang akan mereka lakukan?." Seru mc tertarik. Penonton semakin bergemuruh bersorak sangat keras yang membuat Yuki berpikir tenggorokan mereka akan sobek karena itu.


"Panggung ini milik kita Yu chan." Natsume mengalungkan gitar. Yuki tersenyum berjalan ke arah drumer kelas satu.


"Boleh pinjam?." Tanya Yuki, membuat anak laki-laki itu tergagap.


"Bo boleh. Ini." Yuki menerima stik drum.


Natsume sedang berbicara dengan vokalis utamanya. Lalu seseorang memberikan Yuki dua sampai empat rangkaian note lagu Natsume. Yuki membacanya cepat dan menyimpannya di dalam kepala.


Natsume membalikan badan menatap Yuki sedang mencari posisi yang nyaman di balik drum.


"Kita mulai?." Tanya Natsume. Yuki menaikan satu alis.


"Tentu." Mereka tersenyum bersama.


Mc terdiam kala hentakan keras drum menggebuk dadanya. Semua orang bisa melihatnya, pemilik manik biru itu memainkan stik drum, memutar cepat lalu menghempaskannya membuat alunan keras yang merobohkan pertahanan siapa pun. Lengkingan suara gitar memekakan telinga, tidak membiarkan satu orang pun mengalihkan perhatian mereka.


Keduanya bagaikan dua melodi yang saling melengkapi membentuk keindahan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Sang vokalis bergabung ke dalam melodi menyuarakan suaranya.


Honda dan Ueno bergabung ke dalam keributan musik. Yuki dan Natsume benar-benar menggila di atas panggung, Natsume yang memainkan gitar listriknya dan Yuki yang bermain dengan stik drumnya.


Udara yang panas bertambah panas karena penampilan mereka.


Lagu ke dua selesai. Natsume berpindah memegang biola. Yuki juga melakukan hal yang sama. Keduanya saling tersenyum memulai permainan duo mereka. Tanpa nyanyian, hanya melodi dari alat musik mereka. Tidak ada yang bisa menghentikan kedua gadis itu.


Yuki mengulas senyum melihat wajah Natsume yang bahagia. Di dunia ini bukan hanya dirinya yang mendapatkan banyak masalah, di luar sana bahkan di sekitarnya juga banyak orang yang memiliki masalah hidup masing-masing. Yuki bersyukur ia bertemu dengan orang-orang yang selalu memberikan kekuatan untuknya. Membuatnya tidak melupakan caranya untuk tersenyum.


Setelah selesai bermain biola Natsume dengan semangat menyodorkan kertas lain. Meminta Yuki untuk menyanyikannya.


"Pfffttt." Yuki menutup mulut menahan tawa setelah selesai membaca lirik yang menggelikan.


"Yu chan!, itu aku tulis dua hari yang lalu." Ujar Natsume, mengabaikan mc yang sibuk berbicara dengan penonton.


"Tidak mau. Kamu menyuruhku menggoda orang?. Berikan lagu ini kepada Seiko kun, dia kan pacarmu." Ujar Yuki bergidik ngeri.


"Yu chan, yah mau ya?." Bujuk Natsume.


"Tidak. Ini terlalu puitis yang berlebihan." Yuki memberikan kertas itu kepada Natsume.


"Kamu juga punya seseorang untuk di rayu kan?." Srobot Natsume.


"Siapa?." Tanya Yuki heran.


"Anak basket." Yuki memiringkan kepalanya berpikir.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan gila." Yuki hendak turun dari panggung namun Natsume menahan lengannya.


"Ayo laaahh .., hm. Kali ini saja, Yu chan. Aku hanya ingin kamu yang menyanyikannya." Rengek Natsume. Yuki memutar bola mata kesal.


"Vokalismu juga ada." Natsume menggeleng cepat, menarik lengan Yuki ke dalam pelukkannya.


"Lagu ini hanya boleh di nyanyikan sama kamu." Yuki melirik Hotaru yang menahan senyum di bawah sana.


"Tidak." Tolak Yuki.


"Yu chaaann!." Teriakan Natsume menarik perhatian mc.


"Aku mengerti. Lepaskan tanganku." Yuki akhirnya pasrah. Toh ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu.


"Yes!. Dai suki (Aku sangat menyukaimu)." Seru Natsume tersenyum lebar.


"Gila." Ucap Yuki datar.


"Ow?, apa kalian akan menampilkan lagu lain?." Tanya MC. Natsume menjawabnya dengan semangat.


Vokalis Natsume tersenyum kepada Yuki seraya memberikan micnya. Gadis itu menyingkir agar Yuki berdiri di tengah.


"Maaf membuatmu bergeser." Ucap Yuki sedikit membungkuk.


"Tidak kok senpai. Aku juga senang bisa mendengar suara senpai lagi. Alasanku masuk klub band juga karena menonton penampilan senpai waktu itu. Aku adalah salah satu fansmu." Ungkap vokalis utama band.


"Aku berterima kasih karena itu tapi, kamu terlalu berlebihan." Balas Yuki.


"Itu semua benar senpai. Kalau boleh, aku ingin berfoto dengan senpai nanti. Poni senpai bagus, warnanya juga sangat cocok. Senpai jadi mirip seperti orang amerika." Ucapnya panjang lebar.


"Maa."


"Yu chan. Mau sampai kapan kalian ngobrol?." Srobot Natsume memotong kalimat Yuki.


"Senpai semua orang sudah menunggu." Ucap vokalis utama band berlalu menyingkir.


Tunggu, padahal aku ingin menolaknya, batin Yuki.


Natsume tiba-tiba saja sudah menghitung mundur dan memulai intro lagu.


Gila!, Hazuki. Aku belum siap, rutuk Yuki dalam hati melirik temannya itu. Natsume tersenyum tanpa dosa. Yuki menarik nafas berat mendekatkan bibirnya dengan mic.


"Watashitachi wa issho ni aruki, anata wa hoka no hito o miru. (Kita berjalan bersama dan kamu melihatnya.)."


Natsume tercengang. Suara Yuki berubah, sangat manis seperti perempuan yang sedang merajuk. Tebakannya selalu benar. Suara Yuki memang sangat unik, suaranya bisa berubah menyesuaikan lagu.


Natsume tersenyum lebar melihat Yuki yang sedikit menunduk menutupi separuh wajahnya. Menahan rasa malu. Bisa di mengerti jika Yuki menolak lagu ini. Karena tidak sesuai dengan sikap gadis itu yang cuek, datar, dan yang cenderung masa bodo.


"Itsu chikadzuki hajimeta no ka wakarimasen. Touku kara mita bakari no watashi o mushi shite hitori de jikan o sugosu. (Entah sejak kapan kalian mulai dekat. Menghabiskan waktu berdua mengabaikanku yang hanya melihat dari jauh.)." Yuki menelan salivanya menahan rasa geli yang tidak mengenakan.


"Stop. Watashi wa anata to watashitachi no omoide o nokoshite furikaerimasu. (Stop. Aku membalikkan badan meninggalkanmu dan kenangan kita.)."


"Mune ni fuan ga tamarimashita. Kidzukimasen ka? Watashi wa anata ga hokanohito no mawari ni iru no ga kirai desu. Watashi, itsumo anata o sukidatta hito. Ame no yoru, anata wa watashi no tokoro ni kite itta, 'aishiteru'. (Kekesalan yang menumpuk di dada. Apa kamu tidak menyadarinya?. Aku tidak suka kamu dekat dengan orang lain. Aku adalah orang yang selama ini menyukaimu. Malam hujan deras, kamu mendatangiku dan berkata, aku mencintaimu.)." Yuki tidak sadar wajahnya sangat manis saat menahan rasa malu, semburat pink muncul di pipinya.


"Watashitachi no karamiatta yubi. Me de warau. Watashi wa hontouni anata ga suki. (Jemari kita yang bertautan. Aku tersenyum dengan mataku. Aku sangat menyukaimu.)." Yuki merinding kala menyanyikannya. Ini seperti ia sedang menembak seseorang.


Oh tidak. Apa yang sedang aku lakukan?, batin Yuki menyesal.


Lagu berhenti dan Yuki langsung membalikan badan menutup seluruh wajahnya dengan tangan.


Ini gila!, Hazuki gila!, rutuknya dalam hati.


Tepuk tangan menggema menyadarkan Yuki. Gadis itu menegakkan tubuh mengatur nafas. Kembali meraih mic.


"Maaf untuk penampilan buruk saya." Yuki mendapatkan protesan dari para penonton.


Yuki memilih kabur ke belakang panggung agar penonton di depan sana tidak melihatnya dan ia terhindar dari menjadi pusat perhatian.


Yuki segera berkelit ke sana ke mari menghindari teman-temannya yang berusaha mengejar.


Sret.


Yuki melirik tangannya lalu beralih menatap Hotaru. Kembarannya menarik Yuki membantu gadis itu kabur.


"Jadi, Natsume san yang berhasil merobohkan dinding esmu?." Hotaru menarik Yuki ke lorong perpustakaan.


"Dia gila." Keluh Yuki.


"Hahahaha. Oh, Eiji." Yuki melirik ke depan.


Pemuda itu berjalan santai dan gagah menghampiri mereka.


"Kamu berhasil mengalihkan perhatian mereka?." Tanya Hotaru. Yuki memalingkan wajahnya tanpa memiliki alasan.


"Ung, mereka sangat banyak. Mau kembali ke gym?." Tawar Fumio.


"Hm. Pelatih akan marah mendapati banyak dari kita yang belum kembali." Ujar Hotaru berjalan menarik tangan Yuki.


"Aku tidak ikut." Hotaru melirik kembarannya.


"Kamu pikir mau di taruh di mana mukaku." Imbuh Yuki sebelum Hotaru bertanya.


"Penampilanmu sangat bagus tidak perlu malu seperti itu." Ucap Hotaru.


"Bolos?." Yuki melirik Hotaru. Fumio menatap interaksi kedua saudara kembar yang sudah berbaikan itu, walaupun mereka masih tidak membicarakan hal-hal yang berat dan serius karena suatu hal.


"Sejak kapan suka bolos?." Hotaru menunduk menatap kembarannya.


"Satu tahun yang lalu. Ayo." Yuki balik menarik tangan Hotaru.


"Yuki, kamu lupa aku kapten tim voli?. Aku tidak boleh melakukan ini." Yuki sontak melepaskan tangan Hotaru.


Yuki mengedikkan bahu acuh. Berjalan keluar dari lorong perpustakaan.


"Sampai nanti sore kalau begitu." Kata Yuki.


"Kamu pergi begitu saja?." Sergah Hotaru kecewa. Yuki menaikan satu alisnya.


"Kamu tidak mau ikut kan?. Aku tidak akan memaksamu." Jawab Yuki.


"Jangan berubah." Yuki melebarkan matanya mendengar nada lirih Hotaru.


"Kamu tidak pernah menyerah memaksaku menuruti keinginanmu." Yuki mundur satu langkah.


Hotaru benar, aku akan merengek jika Hotaru menolak atau melarang. Apa aku sudah berubah sejauh itu?, batin Yuki.


"Aku pergi." Ucap Yuki raut wajahnya terlihat buruk. Gadis itu kembali berjalan.


Grep.


"Yuki." Hotaru menahan tangan saudara kembarnya.


"Kamu sudah berjanji tidak akan menghindariku lagi." Yuki menoleh ke belakang menatap manik coklat terang saudaranya. Mereka berdua melupakan kehadiran Fumio di sana dan tidak merasakan kehadiran orang lain di belakang Yuki.


"Yuki."


Gadis itu terkejut. Hotaru dan Fumio sontak menatap ke arah asal suara. Menatap datar seseorang yang berani memanggil nama kecil gadis bermanik biru itu.


"Senpai." Yuki menoleh mendapati Hajime berdiri agak jauh darinya. Terlihat buliran keringat yang jatuh ke pelipis laki-laki itu.


"Senpai?." Ulang Hotaru menatap Yuki menuntut penjelasan. Gadis itu mengabaikan tatapan Hotaru merasa was-was kala Hajime berjalan mendekati mereka.


"Apa ada masalah?." Tanya Hajime melirik tangan Hotaru yang menggenggam tangan Yuki.


"Tidak, tidak ada. Senpai bagaimana bisa kemari?. Tidak ada kelas?." Tanya Yuki penasaran.


"Beberapa alumni angkatanku datang kemari setelah mendapatkan undangan klub band dengan kamu sebagai bintang tamunya." Jelas Hajime. Yuki mengedipkan matanya beberapa kali.


"Kenapa aku tidak melihat kalian?." Ujar Yuki.


"Kamu terlalu fokus bermain dan hanya melihat Keiji." Jawaban Hajime membuat Yuki tersenyum kaku.


Sret.


Dug.


Hajime melirik Hotaru kalem meski sebenarnya ia sedikit tidak suka pemuda tinggi, tampan, yang memiliki manik berwarna coklat terang itu menarik tangan Yuki sampai gadis itu menabrak tubuhnya.


Oh tidak, Hotaru, batin Yuki.


"Maaf, kalau boleh tahu. Sudah berapa lama berteman dengan Yuki?." Tanya Hotaru dengan nada ramah.


Hajime, pemuda itu bukannya menjawab malah melirik Yuki dan mengabaikan Hotaru.


"Aku mencarimu, yang lain sudah menunggu kita di depan gerbang sekolah." Yuki diam seribu bahasa.


Sret.


Hotaru melepas genggamannya pada tangan Yuki beralih melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu menariknya semakin mendekat.


"Apa ucapan saya kurang sopan?. Sepertinya tuan bukan anak sma lagi. Jika tuan tidak ingin menjawab saya tidak apa-apa saya akan pergi bersama Yuki." Kata Hotaru sangat formal. Membungkuk sedikit hendak pergi.


Hajime diam menatap kalem Hotaru lalu beralih kepada laki-laki di belakangnya.


Yuki segera membuka suara sebelum situasinya semakin buruk.


"Senpai, kenalkan. Dia saudara kembarku." Ucap Yuki mengejutkan Hajime. Pemuda itu melirik Yuki kaget dengan pengakuan tiba-tiba gadis itu.


Hotaru mengulurkan tangan tanpa melepas rengkuhan lengannya pada pinggang Yuki.


"Hachibara Hotaru, saudara kembar Yuki." Ucap Hotaru. Hajime menerima uluran tangan Hotaru.


"Yuuki Hajime, mantan senior Yuki." Kedua laki-laki itu melepaskan tangan masing-masing.


Hajime melirik Yuki, manik mereka berpapasan.


"Aku tidak tahu kamu memiliki saudara kembar. Apakah ayahmu juga." Yuki segera menghentikan kalimat Hajime.


"Senpai yang lain sudah menunggu kan. Kita harus cepat pergi ke sana, tidak baik membuat mereka menunggu terlalu lama." Yuki membalikan tubuhnya mendongak menatap Hotaru yang enggan menatap ke arahnya.


Hotaru kesal, batin Yuki.


"Hanya sebentar, setelah jam latihan nanti aku kembali. Ada tempat yang ingin aku datangi bersamamu." Jelas Yuki.


Hotaru tetap diam tanpa melonggarkan pelukkannya.


"Hotaru." Bujuk Yuki. Tidak ada tanggapan.


Akhirnya Yuki menjijit, karena tubuh kembarannya yang terlalu tinggi membuat Yuki usaha Yuki tidak sampai.


Sret. Yuki menarik kaos bagian depan Hotaru membuat saudaranya menunduk.


Cup.


Yuki mengecup singkat pipi kiri Hotaru mengejutkan Hajime.


"Jangan mulai lagi." Tegur Yuki lalu mendorong pelan tubuh Hotaru.


"Aku pergi dulu." Yuki berusaha melepaskan diri selembut mungkin agar tidak menyakiti hati kembarannya.


"Kamu mau pergi dengan laki-laki lain padahal di sini ada calon tunanganmu." Yuki di buat terkejut oleh ucapan Hotaru.


"Hotaru." Tegur Yuki tidak senang.


"Kamu tidak memikirkan perasaan Eiji?." Tambah Hotaru tidak berniat membiarkan Yuki pergi.


Gadis itu merubah raut wajahnya menjadi dingin.


"Hotaru, berhenti." Lirih Yuki.


Tangan Hotaru memegang sebelah pipi adiknya.


"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Tapi aku tidak bisa hanya diam saja." Jelas Hotaru.


Puk.


Sebuah tangan kekar menepuk pundak kanan Hotaru membuat pemuda itu melirik ke samping.


"Biarkan dia pergi. Aku tidak masalah." Hajime mengamati Fumio yang menengahi kedua saudara itu.


Apa maksudnya, dia adalah calon tunangan Yuki?, batin Hajime.


"Jangan di pikirkan, pergilah." Ucap Fumio.


Hotaru perlahan melepaskan tangannya. Menunduk mencium kening Yuki dengan lembut.


"Maaf. Kamu boleh pergi, hati-hati di jalan." Kata Hotaru, beralih melirik Hajime.


"Senang bertemu denganmu, maaf untuk sikapku yang berlebihan." Hajime menganggukkan kepalanya.


Perasaan bersalah, tidak enak, menggelayuti Yuki secara tiba-tiba. Gadis itu meraih tangan Hotaru meremasnya agak kuat tanpa mengatakan apa pun dan berjalan menghampiri Hajime meninggalkan Hotaru dan Fumio di sana.


***


Hajime membawa Yuki pergi ke kedai ramen terdekat. Pemuda itu berbohong mengatakan teman-teman yang lain sudah menunggu di depan gerbang.


Hajime menggeser pintu kedai melirik Yuki yang berada di belakangnya.


"Ayo." Yuki melewati Hajime masuk lebih dulu.


"Hachibara san ...!!." Yuki tertegun.


Di dalam kedai di penuhi oleh alumni klub baseball Ryou cs, klub band Abe cs, mantan ketua Osis, mantan kapten basket bersama sang kekasih hati, mantan menejer klub baseball juga ada. Manik Yuki berhenti kepada gadis cantik yang pernah merundungnya, Sakai, mantan kapten cheerleaders. Yuki melirik Hajime.


"Sakai san sudah berpacaran dengan Kichida, drumer dari klub band." Hajime menjelaskan, Yuki memutar bola matanya berjalan menghampiri mereka mantan-mantan senior.


"Waw!, penampilanmu yang sekarang sangat cocok." Puji Ryou kakak dari Haruno.


"Terima kasih. Sepertinya senpai sekalian sedang tidak memiliki kerjaan sampai-sampai berkumpul di sini?." Celetuk Yuki membuat suasana kedai hening sebentar.


"Hahahaha, sang dewi tidak berubah ya." Suara tawa Abe di ikuti oleh yang lain.


"Duduk sini." Nana menepuk kursi di sampingnya.


Karena hanya tersisa dua kursi di sana. Hajime pun duduk di samping Yuki.


"Kamu pasti bingung kenapa kami berkumpul di sini." Kata Nana mantan menejer baseball sekaligus kekasih Ryou.


"Ung." Jawab Yuki melirik empat orang yang duduk di hadapannya.


Yamashita beserta kekasihnya, Tajima ketua osis dengan Sato catcher klub baseball.


"Karena di hari kelulusan kami kamu tidak datang, padahal kami ingin membuat kenangan bersamamu." Jelas Nana.


"Kenapa?." Tanya Yuki. Hajime menerima kertas menu yang di berikan oleh Abe.


"Sadar tidak sadar. Kamu telah memberikan perubahan positif kepada kami." Jawab kekasih Yamashita.


"Penjelasannya sudah dulu, aku sudah lapar." Srobot Ryou.


"Oi, Ryou san. Aku setuju denganmu." Sahut Kichida yang duduk di samping meja Yuki.


Hajime memberikan kertas menu kepada Yuki. Gadis itu membaca dengan seksama. Ia tidak memilih ramen daging babi, Yuki sangat menghindarinya.


Perlahan suasana kedai mulai ramai dengan obrolan mereka. Yuki juga ikut bergabung sesekali.