
Kelopak mata itu terbuka perlahan, otaknya seketika bekerja keras memindai apa yang sebelumnya terjadi. Tarikan nafas pelan di lakukannya terus menerus. Bayangan ingatan-ingatan yang telah ia dapatkan tiga kali dalam sehari, dan mungkin akan terus seperti itu untuk hari berikutnya.
Dialog yang ia dapat dari ingatan anggota klan naga putih terus berputar, ingatan detik-detik ia mendapatkan hukuman, sampai dialog sang kakek dengannya.
"Rebut hasil penelitiannya, cari kepada siapa tua bangka itu mewariskan penelitian itu." Seseorang bertelanjang dada dengan tato naga di punggungnya berdiri membelakangi.
"Baik!." Jawab anak-anak buahnya termasuk orang yang Yuki lihat ingatannya.
*
"Okaa san (Ibu), darahnya sangat banyak. Harus segera di bersihkan." Anak kecil yang tidak lain adalah dirinya memberikan kain bersih, membersihkan tangan penuh noda darah itu.
"Yuki ... Mau menolong ibu?." Manik birunya mendongak menatap manik coklat terang sedikit gelap itu.
"Hm?. Apa yang bisa Yuki bantu?."
"Berhenti Ayumi!." Manik birunya bergulir mencari asal suara, namun tubuh itu segera menghalanginya.
"Yuki ..." Suara lembut dan tatapan sayu Ayumi menerobos manik biru Yuki, menguncinya.
"Ini satu-satunya cara agar kita bisa hidup beberapa tahun ke depan." Wajah bersih, cerah, bak malaikat kecil itu menunggu kelanjutan kalimat ibunya.
"Kamu sedang tidak berpikir dingin, Ayumi. Masih ada cara lain. Yuki!. Jangan dekati ibumu!." Teriakan suara itu mengganggu perhatian gadis kecil.
"Tou san? (Ayah?)."
"Yuki," panggil Ayumi lembut menarik perhatian gadis kecil itu kembali kepadanya, suara Daren dengan cepat memotong kalimat istrinya.
"Ayumi!. Berhenti!. Dia anakku!." Manik coklat terang sedikit gelap itu berubah tajam.
"Dia juga anakku!!!." Teriak Ayumi, terlihat jelas wajahnya sangat frustasi.
"Tidak ada cara lain. Hiks, hiks." Tangan kecil dan lembut Yuki memegang pipi Ayumi menghapus air mata ibunya dengan ibu jari.
"Jangan bertengkar, Yuki tidak suka. Yuki akan membantu, jangan bertengkar lagi." Ucap gadis kecil itu.
"Tidak!, Yuki!. Jauhi ibumu!. Sial!. Minggir!." Teriakan Daren semakin menjadi-jadi.
"Yuki pergi!. AYUMI !!!. JAUHKAN TANGANMU DARINYA !!." Manik sendu itu menatap dalam manik biru Yuki.
"AYYUUMMIIIII ... !!!!!!!."
Hembusan nafas panjang menenangkan dirinya kembali.
"Apa kamu menyukai klan ini Yuu?." Gadis kecil di pangkuan kakeknya itu mengunyah mochi dengan semangat.
"Ung, swuki (Ya, suka)." Kakek tertawa lepas mendengar jawaban lucu cucunya karena pipi chubby yang penuh itu.
"Apa kamu mau memaafkan kakek dan yang lainnya?." Tangan besar yang sudah berubah sedikit keriputan itu menata rambut cucunya dengan sayang.
"Kenapa?." Yuki kecil menoleh ke belakang menatap wajah kakeknya.
Cup!.
Sang kakek mendaratkan kecupan hangat di dahi Yuki kecil.
"Kakakmu akan menjagamu dengan baik. Lihat siapa yang datang." Yuki mengalihkan perhatiannya.
"Tsuttsun!." Panggil Yuki senang.
Membuka kelopak matanya dengan berat hati. Sedikit-sedikit pazzel ingatannya mulai terisi, namun masih belum bisa di tebak.
"Ojou chan, anda sudah sadar." Dazai mendekati Yuki.
"Hm." Gadis itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar.
"Anda harus makan." Dazai hendak mengambil mangkuk bubur namun terhenti karena Yuki tiba-tiba terbatuk.
"Ojou chan!." Dazai segera mengambil kotak permen di dalam laci nakas, tangannya menyambar handuk bersih.
"Buka mulut anda." Dazai segera memasukkan pil ke dalam mulut Yuki, lalu tangannya membersihkan darah di sekitar mulut gadis itu.
"Tsubaki dan saya memutuskan membawa anda ke rumah sakit. Para pelindung sedang bergerak ke setiap sudut jepang mencari anda. Tidak terlalu banyak tapi keahlian mereka dalam mencari sangat baik." Jelas Dazai.
"Hm." Tempat persembunyian paling aman. Rumah sakit, batin Yuki mengejek diri sendiri.
"Ingatan seperti apa yang sedang anda lihat?." Yuki melirik Dazai lalu melihat ke arah lain.
"Kenangan bersama kakek, nenek Yuri, kakek buyut Hachibara Go." Jawab Yuki.
"Saya dengar anda melihat ingatan orang dari klan naga putih. Apa yang anda lihat?." Yuki menjauhkan mulutnya dari sendok berisi bubur yang Dazai ulurkan.
"Ojou chan, anda harus mengisi perut anda." Yuki membuang wajahnya ke samping.
"Dai chan, aku ingin sendiri." Pinta Yuki. Dazai menatap wajah datar yang menyimpan segala emosi tetap terkubur di dalam sana.
"Ojou chan." Lirih Dazai.
"Kembalilah setelah tiga puluh menit." Pinta Yuki. Dazai menuruti permintaan nona mudanya.
Ceklek.
Pintu tertutup. Yuki merenungkan kembali semua yang telah terjadi.
Hotaru bersama para pelindung melakukan penyerangan. Pemimpin penyerangan pastilah Hotaru, lalu garis misterius yang menjadi pola penyerangan di komputer itu apakah Hotaru juga yang membuatnya?.
Dari ucapan kakek saat itu, Hotaru yang akan melindunginya, dari apa?. Ini bukan masalah antar klan?, lalu apa perasaannya yang mengatakan bahwa semua ini karena dirinya itu benar?. Apakah Hotaru juga membohonginya? saat menjawab pertanyaannya tentang masa kecil mereka?, Yuki masih ingat jelas di ruang rahasianya ia pernah bertanya kepada Hotaru. Apakah Hotaru mengingat masa kecil mereka, dan Hotaru jelas-jelas menjawab tidak. Berarti semua orang sedang membohonginya!. Yuki tiba-tiba teringat diskusi Mizutani dan Dazai di dapur.
"Kalau begini jika ojou chan tidak bisa bertahan dia satu-satunya yang menjadi korban heh!." Dazai semakin frustasi.
"Kita tidak bisa melakukan apa pun kau tahu benar itu. Kunci kita hanyalah ojou san. Tanpanya kita tidak bisa bergerak, dan Daren dono lah yang memerintahkan untuk tidak bertindak di luar batas untuk menjaga ojou san dari,"
"Hukumannya." Srobot Dazai cepat.
Satu-satunya korban?. Hukuman?. Apa ada yang masih belum aku ingat di malam sebelum ingatanku hilang?, batin Yuki berusaha mengingat mungkin ada yang terlewat di dalam ingatan lamanya.
"Agh, kenapa aku bodoh sekali." Geram Yuki lirih. Mengingat ucapan Youtaro Taiki.
Klan yakuza di hasut oleh klan naga putih untuk menyerang kediaman utama, tapi Yuki sama sekali tidak mengingat bagaimana itu terjadi, bahkan bentuk rumah kediaman utama pun ia tidak ingat. Lalu,
"Saya juga sedang mencarinya. Orang itu menghilang setelah saya mengirimkan satu pasukan penuh untuk mengejar pewaris klan Hachibara beserta suaminya." Yuki mengingat penyerangan kedua yang merenggut ingatannya.
"Orang-orangku tidak ada yang kembali begitu juga dengan BD dan pasangan suami istri klan Hachibara..."
Penyerangan ke dua. Saat itu aku sudah berpisah dengan Hotaru. Tidak ada yang kembali, karena semua orang tewas di dalam rumah itu. Mereka mengejar iblis itu, lalu kenapa aku dan Hotaru di pisahkan?. Aku ingat nenek Lusi pernah bilang, bahwa lebih aman untuk kami jika berpisah, dan kakek bilang Hotaru yang akan melindungiku. Jadi, jika Hotaru sudah kembali ke kediaman utama lalu Mizutani dan para bayangan berusaha menyembunyikanku, apa titik masalahnya ada padaku?, Yuki semakin frustasi.
Jadi, aku yang mengundang pertarungan berdarah ini?. Apa yang telah aku lakukan?. Tunggu, jika bukan karena hukuman ini apa mereka mau mengatakan yang sebenarnya?, gerutu Yuki dalam hati.
Ceklek.
Mizutani dan Dazai masuk ke dalam kamar. Mizutani melirik mangkuk bubur di atas nakas.
"Aku dengar kamu menolak makan. Apa yang mengganggu pikiranmu?." Mizutani duduk di kursi samping ranjang.
"Kamu datang lima menit lebih cepat Dai chan." Tegur Yuki melirik Dazai.
"Saya bawakan makanan yang baru, ini lebih hangat dari." Dazai menggantung kalimatnya melihat Yuki yang sudah membuang wajahnya ke samping.
"Yuki." Panggil Mizutani.
"Tsuttsun." Potong gadis itu.
"Kapan kamu akan membawaku menemui kakek dan nenek?."
Hening.
"Tahun depan sudah di depan mata." Lanjut Yuki.
"Setelah anda sembuh, setelah pertandingan di koshien selesai. Bulan februari nanti." Jawab Mizutani.
"Hm." Gumam Yuki. Mizutani menghela nafas pelan.
"Di koshien nanti kamu tidak duduk di bangku cadangan. Kamu hanya perlu ikut dan bersembunyi, aku tidak ingin kamu jauh-jauh dariku." Jelas Mizutani.
"Karena para pelindung sedang mencariku?." Sergah Yuki.
"Hm."
"Apa anda mulai mengingat apa yang dulu terjadi?." Tanya Dazai hati-hati, berjalan ke sisi lain ranjang untuk menyuapi Yuki.
"Apa jika aku meminta melihat kenangan kalian, kalian mengizinkannya?." Tangan Dazai berhenti di udara.
"Tidak." Jawab tegas Mizutani.
"Ojou chan, ngobrolnya di lanjutkan nanti, anda harus makan dulu." Dazai mendekatkan sendok ke mulut Yuki.
"Tidak." Tolaknya.
"Yuki." Tegur Mizutani.
"Uhuk!." Darah hangat keluar dari mulut dan hidung Yuki. Dazai segera mengelap darah gadis itu.
"Lihat, bagaimana aku bisa makan. Uhuk!." Mizutani memberikan Yuki pil ke dua.
Dazai menaikan kepala ranjang, tangannya berada di dekat mulut Yuki bersiap mengelap darah yang keluar.
"Yuki, berjanjilah untuk bertahan. Ak," Yuki menutup matanya membuat Mizutani berhenti.
"Apa yang sebenarnya terjadi?." Lirih Yuki
"Ojou chan." Lirih Dazai.
"Ini semua membuatku pusing. Uhuk!, uhuk!." Yuki masih menutup rapat matanya.
"Aku masih harus bertemu uhuk!, lagi dengan Youtaro san, menyelidiki uhuk!, klan naga putih, menyusun rencana baru, uhuk!." Yuki menarik nafas pelan melirik kedua tangannya yang terdapat infus.
"Bagaimana menurutmu Tsuttsun, uhuk!. Iblis itu mengambil ingatanku agar kami bisa hidup uhuk!, lebih lama. Apa aku adalah sumber malapetaka?." Dazai mematung, pertanyaan yang tidak pernah Mizutani jawab kini terjawab sudah oleh nona mudanya.
"Tidak, kamu salah. Masih ada cara lain untuk menghadapinya, tidak harus dengan mengambil ingatanmu dengan hukuman." Jawab Mizutani. Dazai mencengkeram handuk di tangannya.
"Bahkan aku tidak tahu harus percaya kepada siapa sekarang?." Ucap Yuki menarik sudut bibirnya mengejek diri sendiri.
"Aku lelah, uhuk!. Kalian keluarlah." Pinta Yuki, menjauhkan wajahnya dari tangan Dazai yang hendak membersihkan darahnya.
Aku juga manusia, hahaha atau bukan. Ini juga menyakitiku, sangat. Mendapatkan rasa sakit di bohongi saja sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa hatiku terasa perih menerimanya. Rasa sakit kehilangan satu orang karena kesalahanku terus membayang-bayangi hidupku. Apalagi jika alasan awal dari penyerangan adalah aku, berapa nyawa yang telah aku bunuh?, berapa keluarga yang tersakiti karena orang yang mereka cintai meninggal?, berapa orang yang berkorban untukku?. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Mungkin hukuman ini pantas aku dapatkan untuk menebus semua dosa-dosaku yang telah membunuh banyak orang, batin Yuki.
"Tidak, anda salah." Suara Dazai terdengar bergetar. Pria itu merasa hancur kala melihat sepasang mata biru berubah kosong.
Apanya yang salah?, bukankah semua ini mulai jelas, balas Yuki dalam hati.
"Tidak ojou chan. Ini bukan kesalahan anda. Jangan bicara seperti itu. Kami tidak membohongi anda, saya tidak. Semua ini untuk melindungi anda dari hukuman," Yuki menghentikan Dazai.
"Dai chan uhuk!. Tolong keluarlah." Air mata Dazai mulai turun.
"Biarkan saya tetap di sini. Saya tidak akan mengganggu anda." Balas Dazai melirik Yuki yang masih tidak melihat ke arahnya.
Siapa yang akan percaya kepada siapa?, percuma memiliki kemampuan mendeteksi kebohongan jika tidak di gunakan. Percuma memiliki kemampuan melihat ingatan seseorang jika tidak di manfaatkan, batin Yuki lelah.
Mizutani dan Dazai dengan berat hati meninggalkan kamar gadis itu, dua orang suster Dazai perintahkan untuk menjaga dan membersihkan darah Yuki. Namun siapa sangka hukuman itu berlangsung tiga kali, seorang suster keluar dari kamar Yuki dengan wajah ketakutan, melaporkan keadaan pasien.
Dazai dan Mizutani segera masuk dan melihat Yuki yang sudah terjatuh dari atas ranjang, dua jarum di tangannya juga terlepas, gadis remaja itu meringkuk, menarik-narik rambutnya, berteriak melengking. Suster terduduk lemas berusaha menenangkan Yuki dengan tangan gemetarnya.
"Kalian keluar dan siapkan handuk, baju baru, dan air hangat." Titah Dazai, kedua suster segera melaksanakan perintah sang Dokter.
***
Tahun baru sudah satu minggu yang lalu tapi gadis bermanik biru itu tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Natsume sudah seperti orang kesetanan berulang kali mengirim pesan dan menelpon Yuki, meski tidak pernah mendapatkan jawaban gadis itu terus saja melakukannya.
Ini sudah kelewatan, pencariannya pada malam natal tidak menghasilkan apa pun, sudah tiga kali ia mengelilingi sekolahannya yang super luas tetap tidak bisa menemukan Yuki. Natsume menaruh kasar ponselnya di atas meja, tangannya bersilang menenggelamkan kepalanya di sana.
Dimana kamu Yu chan, lirih Natsume.
Pelajaran sudah di mulai, Natsume menoleh ke belakang dengan cepat kala sensei mengabsen nama pemilik manik biru itu.
"Aku harap kamu bisa mengurangi tidak kehadiranmu, Hachibara san."
"Hai sensei." Jawab gadis itu.
***
Satu minggu di osaka, Yuki benar-benar tidak memunculkan dirinya di khalayak ramai, gadis itu selalu menjauhi keramaian. Pertandingan di koshien pun berjalan dengan lancar, Yuki mengatur strategi dan melakukan meeting bersama para anggota yang lain.
Mizutani melirik Yuki yang sedang menjelaskan dengan wajah datar dan tak bersemangatnya. Semenjak penyerangan di kyoto gadis itu berubah lebih tertutup, senyuman di bibirnya pun tak pernah terlihat lagi meski hanya senyuman tipis atau senyuman kecil, sama sekali tidak ada. Nafsu makan gadis itu juga sangat berkurang membuat Mizutani sangat khawatir, apalagi sekarang Yuki memblock para bayangan yang ingin berbicara dengannya. Penyakit hukumannya juga lebih sering kambuh. Mizutani menarik nafas panjang.
Hari ini final, setelah pulang dari osaka Mizutani akan berbicara dengan Yuki, mereka harus bicara, Mizutani sudah memutuskan.
***
Siapa yang mengira niat kuat untuk berbicara dengan gadis bermanik biru itu terhalang oleh burung hantu mini yang terus melayang menghalangi Mizutani.
Di dalam kamar Yuki Mizutani tidak bisa berkutik. Menatap punggung gadis itu yang sibuk berhadapan dengan komputernya. Sudah berkali-kali ia hendak mendekat namun Je langsung menghadangnya dengan moncong pistol teracung ke depan. Saat ia hendak membuka mulut pun Je segera memberikan peringatan menyerang.
***
Tokyo, januari, 17.
Hotel berbintang lima lantai tiga. Pemimpin grup mafia duduk di kursi meja bundar di temani oleh sepuluh pengawalnya. Ia datang lebih cepat dari janji yang ia buat, acara makan malam rahasia. Tempat yang ia pesan sangat mewah, kaca besar di sampingnya memperlihatkan pemandangan malam, kerlap-kerlip lampu tokyo.
Tok tok.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga, Youtaro memasang senyum ramah di wajahnya bersiap menyambut tamunya.
Ceklek.
Seorang pelayan membuka pintu membungkuk mempersilahkan seseorang masuk. Youtaro berdiri dari duduknya melihat ke arah pintu, di ikuti oleh sepuluh pengawalnya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara sepatu high heels memasuki ruangan mewah itu. Seluruh orang di dalam ruangan dibuat terpukau oleh penampilan wanita sexy yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa wanita itulah yang mampu melumpuhkah tiga orang dari klan Hachibara dalam waktu lima menit.
Dress panjang berwarna merah melekat di tubuh sempurnanya, lengan pendek dengan kerah lebar dan terbuka sebatas dada, garis dress bagian pinggang sebelah kanan terbuka menunjukkan kulit mulus dan kencang, dress panjangnya terbelah cukup panjang memperlihatkan pahatan indah. Tangan itu menyelipkan anak rambut pirangnya ke belakang telinga, mata sipit dan manik hitam itu membalas tatapan Youtaro. Bibir tipis dan hidung agak pesek membuat kesan imut di wajah ovalnya.
"Apa saya membuat anda menunggu terlalu lama Youtaro san?." Suara serak, berat, dan kasar itu membangunkan fantasi semua orang. Yuki sengaja menyamar sebagai wanita dewasa. Pelayan membungkuk sebentar sebelum pergi menutup pintu di belakang Yuki.
"Tidak, saya juga baru sampai nona." Jawab Youtaro mempersilahkan Yuki duduk. Gadis itu membungkuk sebentar lalu berjalan ke meja bundar, pengawal Youtaro sigap menarik kursi membantu Yuki duduk.
"Terima kasih." Yuki sengaja memberikan senyum ramahnya kepada pengawal itu.
"Sepertinya anda memiliki beberapa pengawal baru." Kata Yuki menemukan ada lima wajah asing yang tidak ia lihat pada malam penyerangan.
"Mereka adalah tangan kanan masing-masing pemimpin. Mereka mewakili pemimpin yang lain untuk mendengar dan menyampaikan hasil pembicaraan kita malam ini, agar cerita yang sebenarnya bisa sampai ke semua anggota." Yuki mengangguk paham.
"Mari kita makan malam lebih dulu nona. Saya sudah memesan menu utama di restoran ini." Yuki tersenyum sebagai jawaban.
Yuki berjalan bak model keluar dari dalam gedung mewah memasuki taksi yang sudah terparkir di depan loby.
Lima belas menit kemudian ia memasuki bar di pinggir jalan. Bar itu cukup ramai dan, bising!. Yuki segera merangsek ke dalam kerumunan orang-orang kesetanan yang berjoget mengerikan, dengan cepat kakinya berbelok ke arah bartender, memberikan satu kedipan, bartender langsung paham dan memberikan tas hitam kepada Yuki. Gadis itu memberikan beberapa lembar uang kepada bartender sebelum pergi ke toilet.
Sepuluh menit kemudian Yuki sudah keluar dari bar lewat pintu belakang. Ia tahu pasti akan ada anak buah Youtaro yang mengikutinya karena itu Yuki memilih bar untuk menyimpan barang-barangnya dan melepas penyamaran. Bar yang bising dan penuh orang membuatnya mudah melarikan diri.
Yuki berjalan menuju rumahnya yang terbilang cukup jauh. Kakinya berhenti di tengah jembatan, menatap ke bawah, air sungai sangat tenang dan terlihat dingin. Ia kembali memikirkan pembicaraannya dengan Youtaro di restoran.
"BD dulunya adalah anggota yakuza, ia bergabung satu hari setelah calon pemimpin klan Hachibara bergabung dengan kami, Hachibara Ko. Hachibara Ko tidak pernah bergerak layaknya anggota kami pada umumnya, ia hanya datang jika ada pertemuan lalu tidak melakukan kegiatan kelompok." Youtaro memutar gelas winenya.
"Lalu tiba-tiba Hachibara Ko keluar. Sayang sekali, padahal kami sangat senang mendapatkan anggota dari klan yang kami hormati dan segani. Tiga tahun kemudian BD keluar dari kelompok mendirikan klan baru." Yuki menengguk air putih dari gelas antik di tangannya, menyimak cerita Youtaro.
"Saya tidak tahu kelompok macam apa yang BD dirikan, yang saya tahu kelompoknya bergerak tidak jauh berbeda dengan kelompok kami, mungkin lebih modern. Dua puluh empat tahun kemudian BD mendatangiku mengatakan tujuannya, meminta bantuan serta mengajukan kerja sama. Ia menginginkan seseorang yang berhasil menciptakan alat yang mampu membuat seluruh negara bertekuk lutut menginginkannya." Yuki menatap Youtaro dari mata sipitnya.
"Hanya sebentar Hachibara Ko bergabung dengan kelompok namun sebelum meninggalkan kelompok Hachibara Ko menemukan batu kristal langka di dasar laut di dalam reruntuhan kuno. BD mengetahuinya, karena ia pun sejak lama tertarik dengan reruntuhan itu. Dan orang yang berhasil membuat alat luar biasa dari batu kristal adalah keturunan Hachibara Ko."
DEG!.
"Dengan iming-iming klan kami berdua bisa menguasai seluruh negara di lima benua saya menyetujui melakukan penyerangan kepada klan Hachibara untuk merebut orang yang sudah menciptakan alat itu. Kami mengincar putri Hachibara Ko yang saat itu berstatus sang pewaris klan." Youtaro meneguk wine di tangannya.
"Di penyerangan pertama kami gagal, tidak menemukan sang pewaris tapi kami menemukan informasi penting. Sebuah catatan kecil berisi cerita singkat isi perasaan orang yang membuat alat itu. Jelas sekali ia memanggilnya kakek bukan ayah. Target kami berganti kepada cucu Hachibara Ko." Yuki dengan tenang mencerna cerita Youtaro, mata elangnya mengamati gerak-gerik sekecil apa pun dari orang tua itu, mendeteksi kebohongan yang mungkin di sisipkan di dalam cerita.
"Kami pergi untuk melakukan penyerangan ke dua namun kami terlambat, kediaman klan Hachibara sangat sepi, tidak ada tanda-tanda pimpinan mereka beserta keturunannya ada di sana. Kami segera pergi dan melacak jejak mereka."
"Satu tahun kemudian kami menemukan lokasi sang pewaris, rencana kami susun mendadak. Penyerangan ke dua di kota ini, tokyo. Tapi kami gagal total, saya kehilangan banyak sekali anggota dan tidak mendapatkan informasi apa pun. Dua hari kemudian sebuah surat kosong datang pada saya, ada simbol klan Hachibara di belakang surat yang di gambar menggunakan darah."
"BD tidak pernah muncul lagi setelah malam penyerangan ke dua, jadi saya lah yang memimpin pencarian. Hanya memerlukan kurang dari satu minggu anak buah saya menemukan tempat persembunyian Hachibara Ko dan cucunya." Youtaro menyandarkan punggung tuanya pada kursi.
"Saya mengirimkan dua pasukan sekaligus untuk menyerang ke indonesia. Anak buah saya yang diam-diam membangun bisnis di negara itu ikut menyerang. Butuh tiga kali penyerangan untuk mendapatkan cucu berharga dan jenius dari klan Hachibara. Hachibara Hotaru, dialah cucu sekaligus anak ajaib yang berhasil membuat alat itu." Youtaro meneguk winenya entah sudah yang ke berapa kali.
Yuki memakan pilnya dengan santai tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Saya menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah di temukan orang. Dia benar-benar anak jenius, dia berhasil membuat racun mematikan yang tidak akan terdeteksi oleh alat medis. Saya menggunakan racun itu untuk membunuh pemimpin kelompok ular berbisa dari negara sebrang dan hasilnya sangat memuaskan."
Dasar mafia, geram Yuki dalam hati.
"Tapi sayang, anak buahku kehilangannya sebelum sempat membuat alat itu. Saya membutuhkan batu kristal untuk membuatnya. Di penyerangan pertama, kami sudah mencari batu itu di seluruh tempat kediaman utama keluarga Hachibara tapi tidak ada. Saya yakin Hachibara Ko pasti sudah menyembunyikannya." Yuki tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya duduk.
"Tempat bisnis rahasia di indonesia hancur, semua anak buah tertangkap oleh polisi dan di hukum mati. Saya kembali mencari jejaknya tapi tidak ketemu sampai tiba-tiba dia mendatangi kami menyatakan menagih nyawa dan darah yang sudah kami tumpahkan. Cucu Hachibara Ko sudah kembali dan kami baru menyadari bahwa kekuatan mereka sangatlah mengerikan. Sejak dulu memang sudah mengerikan."
"Saya dan pemimpin yang lain melupakan satu hal, bahwa kelompok kami ada karena dukungan dari pemimpin klan Hachibara kepada leluhur kami. Dulunya kami adalah kelompok yang membantu pemerintahan untuk memberantas kejahatan di negara ini namun karena banyak hal kami menjadi kelompok besar seperti sekarang." Youtaro menghabiskan dua botol wine.
"Setelah kami menyadari kesalahan yang seharusnya tidak kami lakukan, penghianatan dan merusak hubungan klan kami dengan klan Hachibara. Saya mulai mendesak BD, meminta janji yang pernah ia katakan. Tapi nona pasti sudah mengetahui kelanjutannya. Saya di jebak, di manfaatkan."
"Saya ingin merebut kembali Hachibara Hotaru namun tidak adanya batu kristal itu sama saja sia-sia. Apalagi anak itu sudah menjadi sang pewaris sekarang, dia pasti memiliki kekuatan penuh seperti leluhurnya." Yuki membuka mulut.
"Kenapa anda tidak mengincar menantu Hachibara Ko?." Youtaro tersenyum kecil.
"Hachibara Daren, pengusaha sangat besar tanpa celah. Dunia mengenalnya, image positif, sangat sulit untuk mendekati pria itu. Resiko besar untuk kami, dia adalah warga negara amerika, menantu klan tertua di jepang dan memiliki koneksi penting di negara-negara lain. Jika kami salah bergerak seluruh dunia pasti akan mengejar kami. Saya tidak suka kelompok kami di liput oleh media."
"Bukankah bisnis menantu Hachibara kebanyakan adalah warisan dari keluarga Hachibara itu sendiri, lalu kenapa anda berani menyerang klan Hachibara tapi tidak dengan menantunya?." Tanya Yuki.
"Anda sangat pintar nona. Ya .., anggota klan Hachibara memang berisi orang-orang pintar." Komentar Youtaro.
"Nona, klan Hachibara adalah klan tersembunyi. Leluhur mereka meminta kepada setiap kaisar yang sedang memimpin untuk tidak mempublikasikan informasi tentang mereka. Hanya anggota keluarga kaisar dan wakilnya yang mengetahui silsilah keluarga Hachibara termasuk kami, karena leluhur kami dulunya adalah murid keturunan kaisar pertama. Pemerintah jepang mengabulkan permintaan leluhur klan Hachibara sebagai tanda hormat mereka karena berkat perjuangan kaisar pertamalah jepang dapat merdeka."
"Karena publik tidak mengetahuinya jadi anda dengan bebas menyerang klan kami?." Youtaro terkejut sebentar lalu ia mengembalikan raut wajahnya seperti semula.
"Nona, anda mengatakan bahwa anda adalah bagian dari klan Hachibara kenapa anda tidak mengetahui informasi umum seperti ini?. Sebenarnya siapa anda?." Yuki tersenyum ramah.
"Saya hanya menguji anda Youtaro san. Apakah anda menjawab dengan jujur atau memanipulasi kata-kata anda." Jawab Yuki. Youtaro terkekeh pelan.
"Saya tidak akan melakukannya nona. Pikiran saya sudah terbuka sekarang, dari pada mencari batu kristal dan merebut kembali Hachibara Hotaru saya lebih memilih membalas dendam kepada BD yang sudah membuat saya kehilangan banyak anggota, dulu maupun sekarang." Terdengar geraman kecil dari suara Youtaro.
"Apa anda yakin bahwa yang membuat alat itu adalah Hachibara Hotaru?." Tanya Yuki.
"Tentu saja nona. Karena dia adalah satu-satunya cucu Hachibara Ko."
DEG!.
Yuki terdiam sesaat, ia kembali mengulang jawaban Youtaro di dalam kepalanya.
Apa maksudnya ini?, sudah sangat jelas kami adalah saudara kembar. Lalu apa yang dulu Fitri pikirkan tentangku?. Apakah wanita itu berpikir aku adalah anak pungut?, anak dari selingkuhan ayah?. Heh!, jangan bercanda!!, batin Yuki.
"Lalu, apakah semua ini menjawab pertanyaan anda nona?." Yuki kembali menatap Youtaro di sebrang meja.
"Ya, dan satu lagi." Youtaru menatap Yuki menunggu kalimat selanjutnya.
"Alat seperti apa yang dikatakan oleh BD?." Tanya Yuki.
"Saya tidak yakin karena belum pernah melihatnya, namun BD dan anak buahnya pernah melihat alat itu."
"Alat yang bisa menghentikan waktu, menyerang satu kota dalam hitungan detik, alat ini sangat menguntungkan untuk mencuri informasi dan sangat bermanfaat dalam peperangan, tanpa harus menggerakkan satu kontinen prajurit." Yuki menarik nafas kecil.
"Terdengar menarik." Komentar Yuki.
"Ya, apa anda belum pernah melihatnya nona?." Tanya Youtaro.
"Tidak, mungkin saya terlalu sibuk dengan urusan di luar kota saat alat itu di buat." Balas Yuki.
"Anda benar, beberapa anggota klan Hachibara sepertinya juga tidak mengetahui tentang alat ini. Nona, boleh saya bertanya?." Yuki meletakan gelas di tangannya.
"Silahkan."
"Anda mendapatkan dari mana benda hijau yang mengalirkan listrik itu?." Yuki tersenyum ramah.
"Saya kenal seseorang jenius di suatu negara terpencil. Dia yang membuatkannya untukku." Jawab Yuki berbohong.
"Akan tidak sopan jika saya meminta anda memperkenalkan saya dengan orang itu. Jadi saya akan menahannya." Yuki tersenyum kecil.
"Apa anda yakin tidak ingin bergabung dengan kami untuk membalaskan dendam kepada BD?." Youtaro berusaha merubah pikiran Yuki.
"Tidak terima kasih Youtaro san. Memang sejak dulu klan kita tidak pernah memiliki kerja sama apa pun." Tolak Yuki untuk ke sekian kalinya.
"Baiklah. Walaupun berulang kali saya dan pemimpin yang lain meminta maaf kepada klan anda, tidak akan pernah cukup. Jika nona atau pun klan membutuhkan bantuan sesuatu jangan sungkan hubungi kami, saya dan seluruh anggota pasti akan membantu." Yuki mengangguk singkat.
"Kemurahan hati nona akan selalu klan kami ingat." Lanjut Youtaro.
"Terima kasih. Saya pergi sekarang, lain kali saya yang akan menjamu anda." Ucap Yuki beranjak berdiri.
"Terima kasih banyak nona."
Yuki keluar dari restoran, Yuki yakin meski Youtaro percaya akan semua yang ia katakan orang tua itu pasti masih penasaran dengan dirinya terbukti dari salah satu anak buah Youtaro yang mengikutinya.
Yuki menarik nafas panjang mendongak ke atas menyambut butiran-butiran bening yang turun dari langit. Suara guntur menggelegar, kilatan cahaya menyambar-nyambar, angin kencang mengombang-ambingkan air di dalam sungai. Yuki masih berdiri di sana, di pinggir pembatas jembatan.
Hachibara Hotaru adalah cucu satu-satunya Hachibara Ko. Semua orang berusaha menyembunyikan keberadaanku. Hahahaha ...!. Bukankah semua ini sangat lucu, bahkan anak sd pasti bisa menebak apa yang terjadi!. Aku adalah anak yang mereka cari, aku adalah anak yang membawa petaka untuk klan Hachibara, jadi kenapa kakek menyembunyikan fakta ini dan membiarkan Hotaru menanggung semuanya?!. Teriak Yuki dalam hati.
Kakakku akan menjagaku dengan baik?, jangan bercanda!. Kakek melempar Hotaru sebagai tumbal untuk melindungiku!. Kakek jahat!. Jahat!. Agh!. Ssiiiaaalll ..!!, jerit Yuki hendak melempar kotak permen di tangannya.
Grep!.
"Aome (Mata biru) .., san?." Yuki mendengar suara lirih itu. Ia menoleh ke samping.
"Dan ... Apa kamu mau membunuhku?."