
Hotaru diam sebentar, otaknya memproses apa yang baru ia dengar. Sedangkan sahabat karibnya terlihat santai-santai saja.
"Aku tidak mungkin melarang ibuku untuk jatuh cinta lagi bukan." Lanjut Fumio melempar senyum jenakanya kepada Hotaru.
"Hahaha ... Kau benar, bibi masih muda. Bagaimana keadaannya?." Tanya Hotaru.
"Dia baik-baik saja, kau bisa lihat besok saat ke rumahku." Jawab Fumio seraya berdiri.
"Hari sabtu setelah latihan, Rin san tidak akan mencurigaimu dan sekarang, kita harus ke ruang latihan tidak baik anak baru telat bukan." Ajak Fumio.
"Benar juga, di hari pertama tentu saja aku harus memberikan kesan baik." Balas Hotaru berdiri.
Keduanya berjalan ke ruang ganti klub voli putra. Ruangan itu cukup luas dengan dua baris loker di masing-masing sisi tembok dan empat kursi panjang di tengah-tenah. Hotaru mengganti seragamnya dengan seragam olah raga, ruang ganti sudah sepi saat mereka datang.
"Sshuuuu ..." Hotaru bersiul kecil menatap poster yang tertempel di balik pintu ruang ganti.
"Senpai (Senior) terdahulu yang memasang poster itu." Ucap Fumio memberitahu.
"Matamu sudah tidak suci, Eiji. Kalau aku bertemu Yuki nanti akan aku beritahu dia kelakuan burukmu ini." Hotaru melirik Fumio yang membeku ditempatnya.
Brak.
Fumio menutup pintu lokernya dengan keras menatap lurus ke manik Hotaru.
"Matamu juga sudah tidak suci sekarang," Hotaru menarik sudut bibirnya.
"Lagian, para anggota yang lain melarangku melepas poster itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Jelas Fumio.
Hotaru menghampiri sahabatnya menaruh lengannya di pundak Fumio seraya tersenyum menggoda.
"Yang mana yang kamu suka?." Tanya Hotaru menunjuk poster.
"Tidak ada." Jawab tegas Fumio.
"Yang kuning?" Tanya Hotaru kembali.
"Tidak."
"Bagaimana kalau yang pink?." Hotaru menatap poster dengan seksama.
"Tidak."
"Biru?." Fumio mulai malas meladeni Hotaru.
"Tidak."
Hotaru semakin gencar melancarkan pertanyaan-pertanyaan untuk menggoda Fumio.
"Jangan-jangan kau suka yang merah?." Hotaru mengangguk-anggukan kepalanya dengan mantap.
"Pilihanmu benar-benar berani Eiji." Lanjut Hotaru.
"Sudah aku katakan tidak ada." Tegas Fumio mengangkat tangan Hotaru dari pundaknya.
"Atau .., yang hijau?, kamu suka yang imut-imut bukan." Hotaru menaik turunkan alisnya.
"Berhenti Hotaru, tidak ada wanita lain." Jawaban Fumio membuat bibir Hotaru tersenyum lebar menatap lembut punggung sahabat kecilnya.
"Kamu akan sangat terkejut melihat Yuki yang sekarang." Celetuk Hotaru menghentikan langkah Fumio yang hendak keluar dari ruang ganti. Fumio membalikan tubuhnya menghadap Hotaru menatap manik coklat terang itu. Senyum Hotaru semakin lebar melihat ekspresi sahabatnya.
"Kamu penasaran?, hahaha ... Sayang aku tidak punya fotonya." Kalimat Hotaru sukses membuat Fumio kesal, pemuda itu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang ganti.
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu hati Yuki sudah terisi laki-laki lain Eiji?, apa kamu bisa membuat Yuki melupakan Dimas?. Bahkan Fathur saja tidak bisa berbuat apa-apa, ditambah sifat Yuki yang berubah, batin Hotaru mengacak-acak rambutnya frustasi.
Urusan hati memang ribet, tunggu!. Kenapa selama ini aku tidak pernah membicarakan tentang Eiji dengan Yuki, ya ampuun betapa bodohnya aku. Kita terlalu sibuk di indonesia sampai melupakan semua yang ada di sini, geram Hotaru dalam hati. Ia mengabaikan poster dengan latar belakang pantai dan kumpulan perempuan-perempuan dengan pakaian bik*ni, ikut meninggalkan ruang ganti.
"Hotaru kun sudah siap?." Hotaru bertemu dengan Yamazaki di depan gor.
"Sudah sensei." Jawab Hotaru semangat.
"Ayo masuk."
Mereka memasuki gor dan disambut antusias oleh para penghuni ruangan itu. Setelah para anggota memberikan salam kepada Yamazaki laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Hotaru untuk memperkenalkan diri.
"Hachibara Hotaru kelas 2-3, kore kara yoroshiku onegaishimasu (mulai dari sekarang mohon kerjasamanya)." Hotaru membungkuk sopan.
"Posisi?." Bola mata Hotaru mencari asal suara ketus yang terdengar oleh telinganya.
"Atsushi." Tegur anggota lain, terlihat dari aura tegas yang terpancar dari tubuh laki-laki itu. Ia pasti kapten klub, pikir Hotaru.
"Maafkan dia, Atsushi selalu bersemangat itu ciri khasnya." Jelas laki-laki yang menegur pria bernama Atsushi itu.
"Aku kapten klub Nagata tahun ke tiga, posisi middle blocker. Selamat bergabung Hachi kun." Sambutan hangat dari kapten yang sekaligus memberikan nama panggilan tiba-tiba kepada Hotaru.
"Apa kamu keberatan?, Hachibara terlalu panjang hehe ... Aku termasuk orang yang susah menghafal nama orang lain." Jelas Nagata tersenyum kaku.
"Aku tidak masalah dengan panggilan itu." Balas Hotaru membuat sang kapten tersenyum lega.
"Kobayashi wing spiker tahun ke dua, kelasku berada di samping kelasmu." Ucap laki-laki dengan garis wajah tegas itu.
"Yuto tahun pertama, posisi libero. Aku melihatmu menyerang Fumio senpai." Seru Yuto. Oh iya, dia yang memarahiku kemarin, batin Hotaru.
"Sepertinya ada kesalah pahaman disini. Eiji yang menyerangku lebih dulu." Hotaru membela diri.
"Tanganku gatal ingin melempar minuman ke wajahmu Hotaru." Sahut Fumio tersenyum mengingat kejadian kemarin.
"Kalian saling kenal senpai?." Tanya Yuto kepada Fumio.
"Ung, Hotaru sahabat kecilku. Kami sudah sangat lama tidak bertemu, aku hanya mengingat wajah kecil Hotaru dan warna matanya." Jelas Fumio. Yuto dan yang lain menatap Hotaru dengan seksama yang dibalas senyum menawan sang empu.
"Fumio Eiji middle blocker, selamat bergabung Hotaru." Suara Fumio membuat semua orang kembali fokus memperkenalkan diri.
"Ogata Jun setter." Lirih laki-laki bermata sipit yang Hotaru perhatikan kemarin.
"Zen tahun ketiga, wing spiker. Selamat bergabung Hachi kun." Zen terlihat sangat dewasa dimata Hotaru.
"Atsushi." Singkat padat, tidak ada penjelasan lebih. Laki-laki dengan tinggi melebihi Hotaru itu terlihat tidak ingin bersahabat dengannya. Namun bukan Hotaru jika tidak menanggapi dengan ramah, Hotaru memberikan senyum tulusnya seraya menatap manik Atsushi dengan tatapan hangat.
Fumio tersenyum kecil melihat perilaku sahabat kecilnya yang tidak berubah.
"Saya manager tahun ke tiga, Karin." Wanita cantik dengan rambut panjang yang di ikat ke belakang, dan poni yang menutupi dahi putihnya membungkuk sekilas kepada Hotaru, Hotaru segera balas membungkuk sopan.
Kalau Yuki mempunyai poni apa akan terlihat sepertinya, batin Hotaru membayangkan wajah Yuki dengan poni.
"Aku juga, manager klub. Aoki, tahun pertama, salam kenal." Gadis imut yang kemarin Hotaru lihat membungkuk kikuk kepadanya.
Lucu, tapi masih lucu Yuki kalau lagi ngambek, batin Hotaru. Dan perkenalan terus berlanjut sampai beberapa menit kemudian Yamazaki menutup perkenalan panjang itu.
"Semoga kamu bisa menyesuaikan diri dengan cepat di tim kami Hotaru kun karena kejuaraan musim panas tidak akan lama lagi, selamat bergabung." Kalimat terakhir berasal dari pelatih.
"Sekarang semuanya kembali berlatih, Hotaru kun kamu ikut saya." Titah pelatih.
"Baik!." Seru mereka kompak.
Hotaru membungkuk sebentar kepada Yamazaki sebelum pergi mengikuti Hara pelatihnya.
Gor itu sangat besar, memiliki dua lapangan voli. Hara membawa Hotaru ke pinggir lapangan dengan bola ditangannya. Hara berhenti dan menghadap Hotaru, Hotaru pun ikut berhenti dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh pelatihnya.
"Hotaru kun apa posisimu?." Hotaru bingung. Apa posisinya?, batin Hotaru.
"Spiker, middle blocker, libero, setter, yang mana?."
"Saya tidak tahu." Hara mengerutkan dahinya.
"Apa ini pertama kalinya kamu bermain voli?." Tanya Hara.
"Tidak, di sekolah yang dulu aku lumayan sering bermain voli dan basket. Tapi aku tidak pernah berpikir tentang posisi, jika ada posisi yang kosong aku akan mengisinya." Jelas Hotaru mengingat kenangannya di sma tunas jaya.
"Lakukan pemanasan selama sepuluh menit mulai dari ... Sekarang." Perintah tiba-tiba membuat Hotaru sedikit terkejut, ia dengan segera melakukan pemanasan. Hara memperhatikan jam ditangannya dan sesekali menatap kedua lapangan secara bergantian.
"Tapi kamu paham dengan peraturan di dalam permainan bola voli Hotaru kun?." Tanya Hara memastikan.
"Ya, pelatih." Jawab Hotaru.
"Bagus, kemarilah." Hotaru mengikuti Hara dari belakang.
"Kapten!." Seru Hara berjalan menuju lapangan di sebelah kanan, suara Hara menghentikan kegiatan di lapangan itu.
"Lakukan latihan dua lawan dua." Titah Hara.
"Baik." Jawab Nagata sang kapten.
"Hotaru kun akan berpasangan dengan Jun," Hotaru menelan salivanya dengan kasar, dua lawan dua?, melawan mereka?, bisakah kamu tidak keras kepadaku Hara san, batin Hotaru.
Hotaru sudah memperhatikan permainan setiap anggota yang tidak bisa dibilang biasa saja kemarin. Dihari pertama masuk klub, latihan yang pertama, dan dia dipasangkan dengan siput sipit yang sedang menatapnya dengan sorot mata malas itu.
"Kita perlu tahu apa kemampuan Hotaru kun untuk tim kita jadi Jun, ini tugasmu." Jun tidak memberikan respon apa pun membuat Hotaru berpikir bahwa hari-harinya di sekolah baru ini akan sangat menarik.
"Kapten kau yang akan melawan mereka dan ..." Hara mengedarkan pandangannya ke setiap pemain disana.
Fumio menatap Hotaru yang di balas sang empu, seakan Hotaru mengatakan 'tidak denganmu Eiji'. Benar saja, nama yang ada di dalam benak Hotaru benar-benar di sebutkan oleh Hara.
"Atsushi. Sepertinya kamu sangat ingin melawan anak baru." Hara tersenyum misterius.
"Nagata berpasangan dengan Atsushi, Zen! kau wasitnya. Lakukan sekarang." Titah Hara seraya berjalan ke pinggir lapangan.
"Baik!." Jawab mereka serempak.
Para anggota yang tidak bermain berjalan ke sisi lapangan. Hotaru dan Nagata melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan melakukan servis pertama dan dimenangkan oleh Nagata.
"Pelatih memang cenderung keras kepada para pemain, membuatmu yang baru masuk melawan blocker dan spiker kelas tiga." Ucap Nagata setelah melakukan suit.
"Tapi setter kelas satu itu jagoan kami setelah ace tim, kamu bisa mengandalkannya. Ayo berjuang." Lanjut Nagata tersenyum menepuk pelan pundak Hotaru.
Hotaru berjalan menghampiri Jun dengan informasi baru yang ia dapat. Kelas satu dan kelas tiga, gumam Hotaru dalam hati. Perasaan apa ini, aku bisa merasakan aliran darahku di dalam sana, aku akan menikmati permainan ini, lanjut Hotaru senang.
"Aku tidak suka banyak bergerak, lakukan apa pun yang senpai inginkan." Hotaru sedikit terkejut mendengar kalimat yang terlontar dari mulut juniornya.
Hotaru tersenyum lebar tangannya mengacak-acak surai coklat Jun dengan gemas membuat kaget para pemain yang lain.
Dia akan mati
Jun akan membunuhnya
Jun tidak suka di sentuh
Selamat tinggal
Semoga Hotaru tenang disana, batin para pemain lain termasuk Fumio.
"Gemesin banget sih kamu." Ucap Hotaru, Jun mendongakkan kepalanya menatap tajam manik coklat terang itu.
Aneh, itu yang dirasakan Jun sekarang. Biasanya ia akan langsung murka jika ada yang menyentuhnya tapi ketika matanya menatap manik coklat terang itu emosinya tiba-tiba menghilang. Tenang, seakan ia melihat hutan dengan air terjun yang mengalir indah, senyum yang Jun lihat terasa seperti angin sejuk yang menyapu kulitnya. Jun tidak pernah bertemu dengan pria dengan aura kuat seperti orang di depannya, suara Hotaru mengagetkan Jun.
"Tenang saja, aku akan menikmati panggung ini." Hotaru mengambil posisinya.
Apa yang terjadi
Kenapa dia selamat
Jun belum membunuhnya
Jun tidak membunuhnya !!!, batin yang lain.
Hahaha .., itulah Hotaru yang aku kenal, batin Fumio menyunggingkan senyum tipis.
Hotaru melihat dua lawannya yang bertolak belakang itu, Nagata tersenyum kepadanya tapi tidak dengan Atsushi. Laki-laki itu meremehkannya, sudah sangat jelas dengan sorot mata yang terpancar dari laki-laki tinggi yang mungkin lebih dari seratus sembilan puluh senti meter.
Priiiitt !!!. Zen membunyikan peluit tanda pertandingan di mulai.
Bug. Bug. Bug.
Atsushi memantulkan bola tiga kali ke lantai lalu melemparkan bolanya ke atas, ia berlari dan melakukan loncatan tinggi. Jump service, batin Hotaru.
Wuusshh ...
BUG!!!.
Hotaru melirik ke belakang melihat bola yang sudah memantul di belakang sana.
Lah gila, kecepatan putaran bolanya, itu tidak bisa dianggap servis bukan, lebih tepat di sebut smash mematikan, batin Hotaru merinding. Memiliki tubuh yang sangat tinggi membuat lompatan Atsushi semakin tinggi juga dan itu menghasilkan servis super cepat dan keras.
Hotaru kembali menoleh ke depan maniknya tidak sengaja bertemu dengan manik Jun. Mata sipit Jun menatap malas Hotaru seakan mengatakan 'apa yang bisa kau lakukan' Hotaru memberikan senyum yang sama seperti tadi.
Prriiitt !!.
Atsushi kembali melakukan servis. Kita lihat apa kau masih bisa tersenyum anak baru, batin Atsushi seraya memukul bola dengan keras.
Atsushi senpai ingin membunuhku!, seru Hotaru. Untung ia bisa menghindar tepat waktu dari servis mematikan yang di arahkan ke dadanya.
"Hotaru kau tidak boleh menghindar!." Fumio meneriaki sahabatnya.
"Aku akan mati jika tidak menghindar!." Balas Hotaru ikut berteriak membuat para pemain tertawa oleh celotehan kedua orang itu.
"Kau tidak akan mati!." Seru Fumio menatap dalam manik Hotaru bibirnya bergerak tanpa suara.
Beritahu Yuki bahwa kau baik-baik saja, Fumio menunjuk lengan Hotaru. Hotaru menangkap pesan Fumio, ia tersenyum.
Eiji, kau selalu mengerti kekhawatiranku yang tidak pernah orang lain tahu, sekalipun ayah dan ibu. Kau mirip sekali dengan kakek, batin Hotaru menoleh ke depan mendapati Jun sedang menguap lebar.
Hahaha, aku akan membuat matamu terbuka siput sipit, batin Hotaru.
Priiitt !!!.
Kau masih bisa tersenyum heh, ucap Atsushi dalam hati ia memukul bolanya lebih keras dari yang sebelumnya. Hotaru melihat Jun menguap untuk ke dua kalinya.
Datang, batin Hotaru. Matanya berubah fokus, Yuki ... Aku baik-baik saja!, seru Hotaru tepat saat bola mengenai lengannya.
Dug !.
Bola melambung tinggi.
Gila sakit, tapi aku puas hahaha ... Yuki, kau merasakannya?, Hotaru menatap mata sipit Jun yang sedang menengadah menatap bola di atas sana.
Hotaru segera berlari ke depan lalu melompat, Jun yang merasakan pergerakan Hotaru dengan santainya mengambil satu langkah kecil ke samping memberikan umpan cepat sesuai dengan posisi tangan Hotaru.
BUG !!.
Bola memantul di dalam area lawan.
Hening.
Hotaru menatap tangannya, ia merasakan darahnya mengalir deras. Bola siput sipit tidak selambat pemiliknya, hahaha, bolanya akurat sekali, batin Hotaru takjub menatap Jun yang, menguap lagi!.
"Siput sipit! bolamu membuatku merinding." Seru Hotaru memecahkan ke heningan.
"Siput?, sipit?." Ulang Jun ekspresinya berubah kesal.
"Suaramu sangat kecil, gerakanmu sangat lambat, tapi bolamu seperti berteriak kepadaku. Berikan aku bola seperti tadi lagi." Ucap Hotaru berjalan ke belakang bersiap melakukan servis.
"Suara kecil, gerakanku sangat lambat." Ulang Jun yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Senpai, temanmu tidak akan hidup tenang." Celetuk Yuto kepada Fumio.
"Ya kau benar, dia akan dijadikan sirkus oleh Jun." Balas Fumio.
"Lihat betapa kesalnya Jun, dia akan menjadikan Hachibara san budaknya." Sambung Kobayashi yang disetejui oleh Fumio dan Yuto.