Futago

Futago
Akibat dari Kesalahan yang Tidak di Sengaja.



Banyak suara langkah kaki datang mendekat. Hotaru melirik Daren yang terlihat khawatir namun raut wajahnya tetap tenang.


"Apa yang terjadi?." Tanya Daren.


"Putra keluarga Hoshimi terang-terangan menghina putri klan, tidak hanya putri klan, dia juga menghina pelindung tingkat atas, merendahkan klan kita." Jelas Hotaru masih geram. Hotaru bisa melihat beberapa kepala keluarga terhormat berdiri di belakang Daren.


"Kita ke sana." Titah Daren berjalan mendekati Yuki.


"Baik." Hotaru mengikuti ayahnya. Ia sempat melirik Fumio. Orang yang di lirik pun segera menggeser tubuhnya dari gadis yang tiga tahun lebih muda, mengantarkan gadis yang terus menangis itu kepada ayah si gadis.


"Yuki, hentikan." Ucap Daren berdiri di samping kiri Yuki sedangkan Hotaru di sebelah kanan gadis itu.


"Ayah yakin?." Tanya Yuki tanpa membuka matanya.


"Ya, lepaskan dia." Ayah Jack menatap penuh terima kasih kepada Daren.


"Baik." Yuki membuka matanya melepaskan kedua jarinya yang menekan Jack.


Bruk!.


"Aaaarrrggghhh ...!!!!." Jeritan itu melengking semakin keras.


"Buka matamu." Ucap Yuki.


Jack membuka matanya secepat kilat, mata itu melotot dengan air mata membanjiri pipinya. Jack menggeliat-nggeliat di atas tanah dengan posisi tubuh lurus rapat, kedua tangannya bergerak-gerak mencoba meraih sesuatu di leher.


Itu yang Yuki lakukan dulu, mencoba melepas rantai di lehernya malah menyakiti ujung-ujung jarinya membuat ujung jari itu pecah, hancur tak berbentuk.


Ayah Jack. Hoshimi. Mencoba menenangkan putra semata wayangnya dengan ketakutan luar biasa.


"Kenapa dia tidak berhenti?." Tanya Daren.


"Dia tidak akan berhenti." Jawab Yuki.


"Ini bukan hukuman klan." Ucap Hotaru yang bisa membedakan keduanya.


"Memang bukan. Tapi tidak sepenuhnya benar." Jawab Yuki.


"Apa yang kamu lakukan?." Daren menatap datar tubuh kotor Jack.


"Memperlihatkan sesuatu yang ingin ayah lihat." Daren terkejut dengan cepat menatap Yuki.


"Itu yang terjadi pada Dazai saat melihatnya. Tidak separah ini karena aku memperlihatkan sesuatu yang sedikit berbeda. Tapi intinya masih sama." Jelas Yuki.


"Bukankah itu tidak menyenangkan." Imbuh Yuki melirik Daren dengan senyum jail. Daren menghela nafas berat.


"Apa yang kalian bicarakan?." Yuki menoleh kepada Hotaru.


"Pembicaraan tidak penting." Jawab Yuki.


"Hentikan dia Yuki." Titah Daren.


Yuki menaikan satu alisnya menatap Hotaru.


"Haruskah aku menghentikannya?." Tanya Yuki.


"Tidak." Jawab Hotaru cepat. Yuki melempar senyum kepada Daren.


"Yuki. Hotaru." Tegur Daren.


Yuki langsung melangkah mundur sampai menabrak pelan tubuh Hotaru.


"Bagaimana ini, ayah marah." Lirih Yuki. Hotaru juga melirik ayahnya.


"Apa tidak ada cara lain?." Tanya Hotaru.


"Ada. Mungkin aku akan menghentikan rasa sakitnya." Jawab Yuki memberikan keputusan. Bahkan jika rasa sakitnya hilang tidak dengan mentalnya yang sudah terlanjur rusak.


"Lakukan, sebelum ayah marah kepada kita." Balas Hotaru.


"Ung."


Yuki berjalan menghampiri tubuh Jack, menekuk satu kakinya. Sebuah bayangan bergerak hampir saja menyerang Yuki namun Hotaru lebih cepat menahan bayangan itu dengan berada di antara mereka dan menghempaskan lengannya.


BRAK!.


"Lihat posisimu." Ucap Hotaru menatap lurus manik putri tertua Kumori membuat wanita itu terjatuh kaku.


"Ayah. Aku menolak menolongnya." Seru Yuki kesal seraya berdiri.


"Biarkan dia gila seperti ini." Yuki berjalan pergi dengan sebelumnya memberikan tatapan tajam, dingin kepada wanita itu.


"Daren dono, tolong putra hamba satu-satunya. Ampuni hamba. Hamba berjanji akan memberikannya pelajaran." Hoshimi bersujud di depan kaki Daren.


Hotaru meninggalkan putri tertua Kumori yang mengenaskan dengan air mata berlinang tak henti-hentinya lalu berdiri di samping Daren.


"Putramu telah melakukan kesalahan besar, dia sudah mendapatkan hukumannya." Jawab tegas Daren.


"Maafkan dia, kumohon, Daren dono." Hoshimi kembali bersujud.


"Tidak seharusnya kamu memaksakan ego sendiri kepada putramu Hoshimi san. Putramu sudah menjalin hubungan dengan putri keluarga Kumori. Kamu masih memaksanya mengikuti pemilihan ini. Putramu memberikan perlawanan kepadamu dengan cara yang salah. Renungkan masalah keluarga kalian." Ucap Daren berjalan meninggalkan Hoshimi, berhenti sebentar di samping putri tertua keluarga Kumori.


"Yuki hendak menolong kekasihmu. Lihat, apa yang telah kamu perbuat." Daren melanjutkan langkahnya setelah mengatakan itu.


Semua orang membungkuk dalam kala Daren berjalan meninggalkan barak. Hotaru bergerak untuk mengkondusifkan keadaan. Menyuruh beberapa pelindung membawa Jack ke ruang kesehatan dan meminta Kumori Sam selaku adik dari Kumori Zizi untuk membawa kakak dan adiknya kembali ke hotel.


Hotaru membebaskan para putra-putri keluarga terhormat memutuskan untuk masih berada di kediaman utama atau kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing. Sebelumnya ia menekankan kepada semua orang, ini lah yang akan terjadi jika mereka melakukan sesuatu di luar batasan, apakah mereka sudah melupakan konsekuensinya hanya karena sudah belasan tahun keluarga utama pergi. Setelah itu Hotaru pergi mencari saudari kembarnya.


Pergi ke sana ke mari mencari Yuki dan akhirnya Hotaru menemukannya di kamar Lusi. Pelayan neneknya melarang siapa pun untuk masuk ke dalam. Hotaru khawatir neneknya akan memarahi Yuki habis-habisan. Jadilah ia memutuskan untuk menunggu Yuki di depan kamar Lusi.


Daren sendiri sedang sibuk melihat persiapan untuk acara besok malam. Ia menolak bertemu dengan kepala keluarga terhormat mana pun karena kekesalannya. Secara tidak langsung para keluarga terhormat sudah mulai meremehkan kemampuan keluarga utama lewat aksi dari putra Keluarga Hoshimi. Penghinaan dan kesalahan terbesar. Untunglah putra dan putrinya melakukan hal yang tepat, menampar para keluarga utama pada kenyataan.


Ayumi, batin Daren.


Jauh di tempat Hotaru. Yuki keluar dari kamar Lusi dengan mulut penuh, pipi yang menggembung, dan mochi di kedua tangannya. Wajahnya terlihat senang. Menghampiri Hotaru menggesekkan hidung mereka lalu berjalan riang meninggalkannya yang masih bingung.


"Yuki." Panggil Hotaru mengejar gadis itu.


"Apa nenek memarahimu?." Tanya Hotaru yang sudah mensejajarkan langkah mereka.


"Ung." Jawab Yuki lalu memasukkan mochi ke dalam mulut.


"Apa nenek memberikanmu hukuman?." Hotaru mengusap tepung di sudut bibir Yuki dengan ibu jarinya.


"Ung." Yuki mengulurkan mochi kepada Hotaru.


Pemuda itu menggigit kecil, ia tahu Yuki sangat menyukai makanan itu dan Hotaru tidak tega menghabiskannya. Yuki memasukkan mochi terakhir ke dalam mulut.


"Apa hukuman yang kamu dapat?." Yuki menghentikan langkahnya menepuk-nepukkan kedua tangan agar tepung yang menempel di tangannya hilang.


"Hukuman kecil, tidak perlu khawatir. Aku mau pergi ke pandora." Pamit Yuki berjalan meninggalkan Hotaru.


***


Setelah kuliah tentang sikap sopan santun dan tata cara yang akan Yuki lakukan besok malam dari Lusi, ia sekarang sudah duduk di kursi rapat para pelindung.


"Apa kalian paham?." Hotaru tidak memberikan protes. Yuki menjelaskan ulang apa yang ia bicarakan dengan Daren di restoran kemarin.


"Ya ojou sama." Jawab mereka.


"Bagaimana dengan para pelindung yang kalian utus, sudah kembali semua?." Tanya Yuki.


"Mereka baru sampai tadi sore, lengkap." Lapor salah satu pelindung.


"Baik, rapat selesai." Yuki menutup rapat.


"Tunggu Yuki, apa tidak masalah kita tidak melakukan pergerakan?." Tanya Hotaru.


"Kata siapa tidak?. Aku butuh pasukan untuk menyerbu BD nanti, jadi berlatihlah dengan giat. A!, hampir lupa. Aku ingin kalian berlatih beregu, saling melindungi, yang seperti itu." Jawab Yuki. Hotaru menghela nafas kecil.


"Maksudku, mencari BD. Jangan bebankan semuanya pada dirimu. Kami di sini bisa membantu." Imbuh Hotaru.


"Benar, kalian adalah senjata kejutan nanti saat kita menyerang." Jawaban Yuki masih sama dengan kata yang berbeda.


"Yuki." Panggil Hotaru lembut.


"Klan naga putih bergerak di bawah tanah. Kita akan bergerak di bawah bayang-bayang. Sampai di sini bisa kamu terima?." Tanya Yuki.


"Baiklah-baiklah, tapi ingat. Jangan melakukan semuanya sendiri." Hotaru pasrah.


"Good brother. Aku mau makan es krim, sampai besok." Ujar Yuki berdiri mengecup singkat pipi Hotaru dan berlalu pergi.


"Aku rasa Yuki masih menyimpan sesuatu." Ujar Hotaru.


"Bagaimana caranya mengetahui isi pikiran ojou sama?." Sahut Yamazaki.


"Will, kamu bisa merayunya." Ide Hotaru.


"Saya tidak yakin waka." Jawab bocah itu.


"Eiji." Yang di panggil tersenyum simpul.


"Menurutku Fumihiro san satu-satunya yang dapat membantu." Jawab Fumio.


Semua orang menatap Fumio penasaran.


"Bagaimana?." Tanya Hotaru.


"Seperti yang di lakukan Yuki tadi siang, perbedaannya Fumihiro san mencoba mengorek isi kepala Yuki." Jelas Fumio.


"Bisa di terima. Di sini yang memiliki kontrol pikiran paling baik adalah Fumihiro." Sambung Yamazaki.


"Kamu bisa mencobanya kepada ojou sama." Tambah Yamazaki.


"Kalau di lihat dari kejadian tadi siang, ojou sama memiliki kontrol pikiran jauh di atas saya. Akan mustahil jika saya melakukannya di saat ojou sama dalam keadaan sadar." Balas Fumihiro.


"Lakukan saat Yuki tertidur. Aku akan membantumu." Sergah Hotaru.


"Baik, waka." Jawab Fumihiro.


"Tapi, saya dengar ojou sama sudah tidak tidur selama dua hari terakhir." Celetuk Will.


"Tahu dari mana kamu Will?."


"Lusi sama. Beliau meminta saya untuk menjaga ojou sama tetap berada di dalam kamarnya besok." Jawab bocah itu.


"Apa itu hukuman nenek." Gumam Hotaru.


"Aku akan membuatnya tidur. Bersiaplah malam ini Hiro san." Titah Hotaru.


"Baik, waka."


***


Di dalam kamar penuh fasilitas canggih, Yuki sedang beradu kecepatan jari dengan hacker kesayangan Lusi.


"Lah, lo minggir dong." Jari mereka semakin gencar bergerak di atas stik game.


"Agh!. Kalah." Agung menyandarkan punggungnya ke punggung sofa meratapi nasib.


"Apa menariknya bermain game." Celetuk Yuki meletakan stik di atas meja.


"Wah, songong nih. Gue ngalah karena lo cantik." Sahut Agung beranjak berdiri.


"Mau kopi?." Tawar Agung.


"Es lemon." Jawab Yuki.


"Mana ada yang kayak gitu di sini." Srobot Agung.


"Teh mau nggak?." Tawar Agung lagi.


"Air putih." Jawab Yuki.


"Cantik-cantik kok ribet." Gerutu Agung.


Yuki berjalan menghampiri kulkas menggeledah isinya.


"Udah malem, nggak takut di cariin kembaran lo?." Tanya Agung mengulurkan gelas kepada Yuki.


"Buset!, es krim gue itu." Agung menatap nanar es krimnya yang sudah raib di makan Yuki.


"Di indonesia kamu tinggal di mana?." Gadis itu tidak menanggapi Agung.


"Jogja, deket candi prambanan." Yuki sontak menaikan satu alisnya.


"Pantas nada bicaramu agak aneh." Celetuk Yuki.


"Enak aja, gue ngomong pake bahasa gaul anak jakarta." Agung membela diri.


"Bahasa jakartamu aneh." Balas Yuki.


"Eits, lo nggak tau aja gini-gini gue pernah ngontrak di jakarta."


"Kenapa mau di bawa ke sini sama nenek?." Tanya Yuki.


"Gajinya mahal. Gue bisa beli dua motor baru setiap bulan, kasih uang jajan ke adek gue, kasih uang belanja ke nyokap." Jawab Agung enteng.


Mereka duduk di kursi pantry.


"Berapa umur lo?." Agung melirik Yuki.


"Delapan belas, lebih muda tujuh tahun darimu." Sontak Agung terkejut.


"Asal ngomong aja!. Gue baru dua puluh tahun, gini-gini gue mantan mahasiswa ugm jurusan tata boga." Protes Agung.


Yuki hampir terbatuk karena mendengar pengakuan mengejutkan dari Agung.


"Waw, jurusan tata boga." Ulang Yuki.


"Wah, lo nggak percaya. Mau gue masakin gudeg?." Tantang Agung.


"Gudeg?." Ulang Yuki.


"Lo nggak tahu gudeg?. Makanan terenak dan terpopuler di seluruh dunia. Sini gue buatin." Agung berdiri hendak memakai celemek.


"Tidak perlu. Kita mulai taruhannya." Tolak Yuki berdiri menghampiri komputer Agung.


"Seharusnya gue menang tadi." Gerutu Agung menyusul Yuki.


"Ayo cepat." Yuki tidak sabar.


"Iya iya, cantik-cantik kok bawel." Agung duduk di kursinya.


"Ingat, buat jejak palsu di singapur. Biarkan FBI dan MI-6 melihatnya." Ulang Yuki.


"Enjih ndoro ayu, sing pun sabar." Yuki melirik Agung, mengerutkan kening.


"Apa katamu?." Tanya Yuki.


"Iya putri yang cantik, yang sabar ya." Ulang Agung membuat Yuki memutar bola matanya.


Yuki memperhatikan cara Agung mengoperasikan komputer. Dengan ini beban Yuki sedikit terbantu.


"Apa hanya ini yang kamu minta, tidak ada yang lain?." Tanya Agung.


"Untuk sekarang hanya ini." Jawab Yuki.


"Ngomong-ngomong kenapa aku tidak bisa melacak jaringanmu lagi?."


"Jangan coba-coba." Srobot Yuki meletakan kepalan tangannya di depan wajah Agung.


"Astaga, serem banget. Jangan main kasar ih." Plak. Agung memukul pelan kepalan tangan Yuki.


"Lo nggak punya tampang bakat kasar, nggak cocok." Imbuh Agung.


"Ingat, pastikan mereka menangkap sinyalmu."


"Iya." Jawab Agung. Yuki hendak pergi namun urung.


"Minggir sebentar." Ucap Yuki.


"Mau ngapain?." Agung berdiri.


"Lihat ini." Kata Yuki langsung menggerakkan jari-jarinya.


Yuki memasuki villa tua yang sempat ia retas sebelum Agung mengganggu.


"Gilaaaa, ada rumah horor bentuknya seperti ini?." Komentar Agung.


"Mulai sekarang ini juga tugasmu. Perhatikan semua gerak-gerik di dalam sana. Kalau kamu pintar, sadap juga jaringan ponsel mereka." Ledek Yuki.


"Jangan remehkan mahasiswa jurusan tata boga." Jawab Agung.


"Mantan." Yuki mengingatkan seraya beranjak berdiri.


"Ok ok, mantan." Balas Agung.


"Aku pergi dulu, jangan lupakan tugasmu dan laporkan semuanya kepadaku." Agung tersenyum lebar.


"Siap komandan." Yuki terperanjat, itu mengingatkannya kepada Dimas, usia mereka juga sama. Seharusnya Dimas sedang sibuk kuliah sekarang.


"Hubungi aku lewat nomor ini." Yuki memberika secuil kertas yang terlipat lalu keluar dari sana.


Setelah kembali dari pandora Yuki sibuk dengan kedua komputernya. Ia yakin Agung bisa melaksanakan tugasnya dengan baik karena Yuki sendiri sudah melihat kemampuan pria itu.


"Komputer lagi?." Hotaru tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Hm. Tumben malam-malam kemari?." Tanya Yuki tanpa mengalihkan


perhatiannya.


"Istirahat sebentar, kamu butuh istirahat." Ucap Hotaru meletakan gelas berisi es lemon.


"Kamu bisa melihatnya?. Di sini." Yuki menunjuk pantai yang penuh akan pengunjung.


"Pesta?." Lirih Hotaru.


"Ya, pesta pantai tepatnya." Jawab Yuki.


"Lalu?, ada apa di sana?." Yuki menoleh untuk menatap Hotaru.


"Iblis itu sedang ikut berpesta." Jawaban Yuki mengejutkan Hotaru.


"Dimana ini?." Manik Hotaru berusaha mencari sosok yang ia kenal.


"Brazil." Yuki mengambil gelas hendak meminumnya.


"Apa kamu yakin dia ada di sana?."


"Hotaru."


"Yuki, aku tidak bisa menemukannya." Manik Hotaru terus memperhatikan dari satu orang ke orang yang lain.


"Apa maksudmu mencampurkan obat tidur di minumanku?." Hotaru langsung bergeming.


"Ketahuan ya, kamu harus istirahat Yuki." Jawab Hotaru, sebelum Yuki protes lebih lanjut Hotaru membuka botol kecil di bawah hidung adiknya.


Srek.


Yuki mendorong kasar bahu Hotaru.


"Hotaru!."


Bruk.


Hotaru menangkap tubuh Yuki yang terjatuh, lalu mengangkatnya ke atas ranjang. Hotaru mematikan kedua komputer Yuki sebelum membiarkan Fumihiro masuk.


"Lakukan." Titah Hotaru.


"Baik waka."


Fumihiro membungkuk meletakan bibirnya di samping telinga Yuki dengan jarak yang aman, tidak terlalu dekat.


"Ojou sama, anda mendengar saya?." Tanya Fumihiro.


"Hm." Hotaru terkejut Yuki merespon. Ia beranjak duduk di samping saudari kembarnya.


"Apa yang anda rencanakan untuk menghadapi BD dan klan naga putih?." Hotaru memperhatikan wajah tertidur adiknya.


Yuki, maaf, batin Hotaru.


"Menolong Hotaru." Fumihiro kembali membisikan pertanyaan.


"Apa ada yang anda sembunyikan dari waka?."


"Hm."


"Apa itu, ojou sama?."


"Nadi, darah .........., berhenti bertanya." Hotaru kaget, apa Yuki sudah sadar?.


"Kak Dimas, Hotaru, lelah, Hotaru." Yuki mulai berkeringat dingin.


"Hotaru ..." Suara Yuki berubah bergetar.


"Jangan pergi ..... Hotaru," Hotaru langsung meraih tangan Yuki meremasnya pelan.


"Aku di sini." Lirihnya.


Nafas Yuki berubah cepat, keringatnya semakin banyak. Bibir itu terus memanggil-manggil namanya.


"Hiro san hentikan. Keluar dari sini, tolong." Titah Hotaru meremas kuat tangan Yuki.


"Hotaru ... Maaf, jangan pergi, Hotaru."


"Baik waka." Fumihiro membungkuk dan keluar dari kamar Yuki.


Hotaru langsung memeluk tubuh saudari kembarnya, membisikan kata-kata penenang.


"Hotaru, kakek, sakit." Hotaru meneteskan air matanya.


"Aku di sini, itu hanya mimpi buruk. Tenanglah." Hotaru mengecup pelipis Yuki.


"Jangan bawa Hotaru pergi. Hotaru ..." Tubuh di dalam dekapannya mulai menggigil.


"Yuki, maaf. Astaga." Hotaru semakin mempererat pelukkannya menarik selimut menutupi tubuh mereka.


"Hotaru ... Hotaru ... Hotaru ..."


"Maaf. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini. Bodohnya." Rutuk Hotaru pada diri sendiri.


Tangan gemetaran Yuki bergerak menarik-narik rambutnya. Hotaru langsung berusaha menjauhkan tangan itu.


"Siapa?." Lirih Yuki, keringat di dahinya semakin banyak.


"Bukan siapa-siapa, jangan di ingat. Biarkan saja." Bisik Hotaru tepat di telinga Yuki.


"Hotaru ..."


"Ya, aku di sini. Aku tidak pergi."


"Uhuak!."


Hotaru melebarkan matanya merasakan cairan panas mengenai pundak dan sedikit kulit lehernya. Ia melirikkan mata ke samping. Yuki memuntahkan darah cukup banyak.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan mengingatnya." Hotaru kembali berbisik.


"Yuki, tenanglah ..."


***


"Ngghhh ... Panas."


"Panas?. Aku akan kecilkan acnya." Hotaru segera meraih remot ac, mendinginkan kamar Yuki.


"Hotaru?." Yuki menggeliat dengan mata yang masih tertutup.


"Ya?." Hotaru kembali memeluk Yuki mengusap lembut rambutnya.


"Aku mimpi buruk lagi." Lirih Yuki.


Cup.


Hotaru mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Yuki.


"Hm."


"Apa aku bicara yang aneh-aneh?." Hotaru mengusap punggung Yuki dan tangan yang lain tetap mengusap kepalanya.


"Sedikit." Jawab Hotaru berbohong.


"Aku mengingat pagi yang menakutkan." Hotaru merebahkan tubuhnya membawa Yuki tetap di dalam pelukkannya.


"Apa itu?." Hotaru merasakan Yuki bergerak-gerak mencari tempat yang nyaman, menelusupkan kepala ke ceruk lehernya.


"Aku pulang bersama anak kecil yang selama ini tidak terlihat jelas wajahnya. Kediaman utama sangat sepi pagi itu. Kamar kita hancur, kamar kakek juga hancur, bau amis, banyak noda darah di setiap lorong." Yuki berhenti sejenak, tubuhnya ikut merespon dengan bergetar kecil.


"Jangan di lanjutkan. Biarkan saja, semua itu sudah menjadi masa lalu." Hotaru mengeratkan tangannya di pinggang Yuki mengusap lembut kepala kembarannya.


"Aku tiba-tiba menangis ketakutan, anak kecil itu memegang tanganku, memelukku mencari keberadaan orang-orang." Hotaru menghembuskan nafas berat.


"Kami sampai di dojo. Menemukanmu, kakek, nenek, ayah, dan iblis itu." Cup. Hotaru kembali mengecup pucuk kepala Yuki mencoba menenangkan tubuh adiknya yang semakin bergetar cepat.


"Kamu, di peluk erat oleh kakek karena rasa sakit dariku." Tangan Hotaru beralih mengelus lembut pipi Yuki.


"Kamu berlari cepat menerjangku mencoba berhenti menangis tapi malah semakin deras air matamu." Sambung Hotaru. Yuki menganggukkan kepalanya.


"Betapa bodohnya aku." Balas Yuki semakin menyembunyikan wajahnya.


"Pagi itu langit sangat gelap dan dingin. Udara terasa sangat menyesakkan, jerit tangis dari barak mengalihkan perhatianku, mengarahkan kaki ini berjalan ke sana." Yuki melanjutkan ceritanya.


"Dan aku menahanmu, tapi kakek membiarkan kamu pergi ke sana. Dan akhirnya kita pergi bersama." Sambung Hotaru.


"Aku merasa seperti di sambar petir saat sampai di barak. Tubuh mereka .., mereka yang selalu menyapaku dengan ramah, mereka yang ikut tertawa saat aku melakukan kenakalan, mereka yang kebingungan saat aku kabur dari kakek, mereka yang selalu memberikanku makanan manis diam-diam. Hotaru ..., pagi itu mereka semua tergeletak tak bernyawa di barak." Suara Yuki serasa tercekat. Hotaru mengeratkan pelukkannya.


"Hm."


Hening.


Yuki mencengkeram pundak Hotaru sangat kencang, sampai kuku-kukunya menembus kaos yang di pakai pemuda itu. Hotaru membiarkannya untuk kali ini, ia ikut menyusupkan kepalanya di helaian rambut Yuki menenangkan adiknya.


"Hotaru, anak kecil itu ..." Yuki ragu untuk mengatakannya.


"Dia .., berdiri diam. Di samping tubuh salah satu pelindung. Hotaru, dia ..." Yuki menggigit bibir bawahnya.


"Eiji bersujud sebagai gantinya, memberikan penghormatan terakhir." Lanjut Hotaru melirik adiknya sebentar lalu kembali bicara.


"Kamu malah yang menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh."


"Itu paman. Paman Fumio Hotaru!." Srobot Yuki terengah menahan agar air matanya tidak keluar.


"Oh, apa yang telah aku lakukan?. Paman Fumio yang sangat baik. Oh tidak Hotaru, aku mengingatnya sekarang. Dan aku yang membunuhnya." Racau Yuki.


Hotaru meraup sebelah pipi Yuki menariknya ke atas mempertemukan manik mereka. Hotaru menghembuskan nafas panjang mendapati manik biru itu bergetar.


"Aku yang membunuh paman Fumio." Ucap Hotaru, Yuki menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Aku Yuki." Tegas Hotaru.


"Bukan." Lirih gadis itu.


"Karena demi menyelamatkanku dan kakek paman Fumio tewas malam itu. Jika saja aku lebih kuat, andai aku bisa membantu kakek menyerang mereka. Aku tidak akan menjadi beban." Jelas Hotaru cepat, lalu kembali menarik nafas panjang.


"Itu semua sudah berlalu Yuki, mereka sudah melaksanakan tugas mereka sampai detik terakhir. Kita yang masih hidup harus memberikan balasan yang setimpal kepada mereka yang telah mengusik kedamaian kita." Hotaru mengecup kening Yuki sangat lama hingga Yuki mengatakan fakta yang belum di ketahui Hotaru.


"Anak itu menangis diam-diam. Di sudut dojo. Dia menahan suaranya. Hotaru, saat itu aku tidak tahu apa-apa dan hanya memeluknya. Aku tidak tahu penyebab pembantaian itu sebenarnya adalah aku." Hotaru menatap manik biru itu yang sudah menampung genangan air namun seakan ada bendungan kokoh membuat mereka tidak dapat keluar.


"Aku tidak tahu Eiji menangis. Apa kamu menenangkannya?." Tanya Hotaru.


"Tidak tahu. Aku tidak tahu. Kepalaku pusing, Hotaru aku." Suara Yuki tiba-tiba berhenti, tubuhnya terkulai lemah.


"Yuki!." Hotaru segera membaringkan adiknya. Memanggil pelayan di luar.


"Waka memanggil kami?."


"Panggilkan dokter di ruang kesehatan sekarang." Melihat wajah serius tuan muda mereka salah satu pelayan Yuki bergegas meninggalkan kamar.


"Kamu, gantikan baju Yuki dan bersihkan badannya." Titah Hotaru.


Pelayan itu terkejut melihat banyak noda darah di baju Yuki dan Hotaru. Tanpa banyak bertanya pelayan itu segera melakukan tugasnya.


"Kamu bisa melakukannya sendiri?." Tanya Hotaru.


"Ya, waka."


"Aku akan pergi ke kamar sebentar." Ucap Hotaru berlalu pergi.


"Baik waka." Jawab pelayan menundukkan kepalanya.


Dokter datang setelah Hotaru kembali ke kamar Yuki, pelayan Yuki juga sudah selesai melakukan tugasnya dengan sangat cepat dan baik.


"Selamat pagi waka." Dokter itu membungkuk sopan kepada Hotaru.


"Pagi, tolong periksa Yuki segera." Pinta Hotaru.


"Baik, saya permisi masuk." Dokter masuk ke dalam kamar Yuki di ikuti oleh Hotaru. Kedua pelayan Yuki menyingkir ke luar kamar.


Srek.


"Hotaru." Panggilan Daren mengejutkan mereka.


"Ayah." Daren melirik putrinya yang tertidur dengan wajah pucat.


"Apa yang terjadi?." Tanya Daren berjalan mendekati putranya.


"Aku memberikan obat tidur kepada Yuki, mencoba mencari tahu yang di sembunyikannya. Maaf ayah, aku malah membuat Yuki mengingat masa lalu." Jawab Hotaru tidak menyebutkan hukuman karena ada dokter di sana.


"Apa yang kamu pikirkan Hotaru." Ucap Daren menyisir rambutnya ke belakang.


"Maaf ayah." Hanya dua kata itu yang dapat Hotaru ucapkan.


Puk.


Daren menepuk pundak Hotaru, meremasnya pelan. Daren tidak tahu putranya meringis karena pundak yang di remas Daren adalah tempat yang sama yang di cengkeram Yuki.


"Ayah keluar sebentar untuk menelfon Jun Ho si." Ucap Daren.


"Baik ayah." Jawab Hotaru. Daren berjalan keluar.


"Bagaimana dok?." Tanya Hotaru setelah melihat dokter selesai memeriksa Yuki.


"Tidak ada pengaruh buruk karena obat tidur, ojou sama hanya kelelahan dan kurang tidur. Sepertinya bukan dua tiga hari ojou sama tidak tidur. Sebaiknya hari ini ojou sama tetap tinggal di kamarnya." Jelas dokter.


"Saya akan memberikan beberapa vitamin untuk ojou sama."


"Baik, suruh pelayan mengantarkannya. Terima kasih dok." Ucap Hotaru.


"Sudah tugas saya waka."


Hotaru mengantar dokter sampai ke pintu kamar.


"Will keluarlah." Perintah Hotaru.


Bocah itu keluar dari balik pohon sakura di depan kamar.


"Selamat pagi waka." Will membungkuk sopan.


"Kemari." Ucap Hotaru.


Will berjalan mendekati tuan mudanya berhenti di depan teras kamar.


"Tolong siapkan sarapan untuk tiga orang dan bawa ke kamar." Titah Hotaru kepada pelayan Yuki.


"Baik waka." Mereka membungkuk dan berlalu pergi.


"Masuk Will." Ucap Hotaru.


Will ragu-ragu untuk masuk, itu adalah kamar putri klan apakah ia tidak lancang?. Apa lagi itu kamar seorang wanita, kebimbangan menghantui Will.


"Yuki akan merasa lebih baik melihatmu ada di kamarnya. Percayalah, tidak apa-apa, aku yang memintamu." Kalimat Hotaru penuh keyakinan.


"Maafkan kelancangan hamba waka." Ucap Will sebelum melangkahkan kakinya di atas teras kamar.


Hotaru tersenyum lembut melihat Will yang terus-terusan menunduk ke bawah. Hotaru membiarkan pintu kamar tetap terbuka, ia juga membuka gorden dan jendela besar menuju teras samping memperlihatkan kilauan air danau. Ia memutar kepalanya ke arah ranjang memastikan Yuki tidak terganggu dengan sinar matahari, setelah di rasa semuanya baik-baik saja Hotaru duduk di kursi depan danau.


"Duduk Will, jangan berdiri di depan pintu." Titah Hotaru.


Will mendekati Hotaru. Setelah keterkejutannya dengan bau harum khas di dalam kamar Yuki Will merasa lega ia bisa berada di luar.


"Aku dengar ibumu sedang mengandung." Will terkejut.


"Sudah lima bulan waka." Jawab Will.


"Kamu akan menjadi seorang kakak." Ucap Hotaru tersenyum.


"Ya."


"Waka, sarapan anda." Suara pelayan memutus percakapan mereka.


"Bawa kemari."


Beberapa pelayan menyiapkan sarapan di atas meja teras.


"Yang itu taruh di meja dalam. Jangan lupa tutup pintunya saat kalian keluar." Kata Hotaru.


"Baik tuan." Pelayan segera menyelesaikan tugasnya.


"Di makan Will." Titah Hotaru yang sudah mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut.


"Baik, waka." Dengan ragu-ragu Will memegang sumpitnya.


Hotaru hanya tersenyum lembut melihat itu.


Sudah tiga jam Yuki belum juga bangun, Hotaru juga sudah menyuruh pelayan membawa pergi sarapan Yuki yang sudah menjadi dingin. Dua jam yang lalu Daren menghubunginya tentang pill yang akan di kirimkan dua hari lagi. Bukankah itu terlalu lama, pikir Hotaru.


"Permisi waka, nyonya Hoshimi ingin bertemu dengan anda." Suara pelayan dari luar menghentikan permainan shoginya dengan Will.


"Tunggu aku di ruangan depan." Ucap Hotaru.


"Baik waka."


Hotaru melirik Yuki yang masih tertidur di atas ranjang lalu beralih menatap Will.


"Will jaga Yuki sampai aku kembali. Aku tidak akan lama." Ucap Hotaru.


"Baik waka."


Hotaru pergi meninggalkan Will dan Yuki. Apa yang di inginkan wanita itu, batin Hotaru.


Pelayan membungkuk kepada Hotaru sebelum membukakakan pintu. Pemuda itu berjalan dan langsung duduk di kursinya.


"Maaf saya menganggu waktu anda waka." Wanita berkebangsaan kanada itu sangat fasih berbicara bahasa jepang.


"Tidak apa-apa nyonya, apa yang membuat anda ingin bertemu dengan saya secara pribadi seperti ini?." Tanya Hotaru sopan.


"Anda memang tidak pernah berbasa-basi, saya bisa melihat ketegasan tuan besar dari anda." Ucap wanita cantik itu.


"Terima kasih nyonya Hoshimi, jadi apa yang membuat anda datang kemari?." Hotaru mengulang pertanyaannya.


"Saya meminta maaf atas tindakan buruk putra saya. Saya sadar kesalahan putra saya sangatlah besar. Dan tujuan kedatangan saya untuk meminta ampun dan meminta keringanan hukuman untuk putra semata wayang kami." Jawab nyonya Hoshimi membungkuk dalam di kursinya.


"Tuan Hoshimi juga mengatakan hal yang sama kepada ayah kemarin. Ayah sudah sangat kecewa kepada kalian, jika kami meringankan hukuman pelanggar klan, maka akan ada yang berani mengikuti jejak putra anda nyonya. Saya menentang peringanan ini." Jawab tegas Hotaru.


"Tapi waka, dia adalah penerus perusahaan dan keluarga terhormat Hoshimi, jika di biarkan seperti ini tidak akan ada penerus dari keluarga kami." Balas nyonya Hoshimi. Hotaru menjawabnya dengan tenang.


"Kami tidak akan rugi kehilangan satu keluarga terhormat, tetua kami sering menghapus keluarga terhormat dari buku klan. Mereka telah melakukan pelanggaran besar, yang tidak dapat di tolerir oleh klan." Pundak nyonya Hoshimi terlihat bergetar menahan tangis.


"Bersyukurlah nyonya, saudari kembar saya tidak memberikan hukuman klan yang di wariskan turun temurun. Jika saja ia melakukannya, putra anda tidak akan bertahan sampai hari esok." Imbuh Hotaru.


"Waka!, saya mohon." Nyonya Hoshimi semakin menunduk, dahinya hampir menyentuh meja.


"Aku rasa anda dan suami anda belum menghadap nenek. Pergilah, katakan yang sebenarnya kepada Lusi sama, biar beliau yang memberikan keputusan." Hotaru mendorong kursinya, berjalan meninggalkan nyonya Hoshimi yang menangis tersedu-sedu.


Nenek tidak akan membiarkan kalian lepas, batin Hotaru. Kakinya berjalan menuju kamar sang adik.


"Hotaru!." Ia menghentikan langkahnya berbalik mendapati Fumio.


"Yo." Sapa Hotaru.


"Bagaimana tadi malam?." Tanya Fumio.


"Buruk, aku tidak akan melakukannya lagi." Fumio terkejut.


Fumio satu-satunya keluarga terhormat yang mendapatkan izin berkeliaran di bangunan pribadi keluarga utama (Kamar si kembar dan tempat santai tetua).


"Apa dia baik-baik saja?." Tanya Fumio.


"Tidak, bukan. Maksudku, aku harap Yuki baik-baik saja. Bagaimana keadaan dojo dan barak?." Tanya balik Hotaru.


"Fumihiro san yang menanganinya. Apa boleh aku melihat keadaan Yuki?. Aku dengar kamu menjaganya sejak tadi malam." Fumio sempat curiga karena tidak melihat Hotaru di dojo tadi pagi.


"Sebaiknya jangan. Maaf, tapi untuk sekarang jangan dulu." Tolak halus Hotaru.


"Aku mengerti. Kembalilah, mungkin dia sedang mencarimu sekarang." Ucap Fumio.


"Arigatou tomo yo (Terima kasih sobat). Aku pergi dulu." Kata Hotaru menepuk singkat pundak Fumio.


"Ung ikke (Ya pergilah)."


Mereka berpisah berjalan berlawanan arah.


Apa yang akan terjadi sekarang?, Yuki mengingat Eiji tapi tidak mengingat wajahnya. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Yuki menerima semua ini?, batin Hotaru di perjalanan kembali ke kamar Yuki.


"Waka." Hotaru melirik pelayan adiknya.


"Apa ada yang terjadi?." Tanya Hotaru.


"Ojou sama sempat memuntahkan darah, tapi beliau belum siuman juga." Lapor pelayan.


"Kalian sudah membersihkannya?."


"Sudah waka."


Hotaru langsung menggeser pintu kamar, maniknya tertuju ke atas ranjang. Dengan langkah cepat Hotaru menghampiri Yuki. Wajah adiknya terlihat damai dalam tidurnya namun sedikit pucat.


"Will, dimana kamu?." Panggil Hotaru.


"Saya disini waka." Will berdiri di depan pintu teras samping.


"Apa nenek tahu keadaan Yuki?." Tanya Hotaru mengusap lembut pucuk kepala adiknya.


"Belum waka."


"Jangan biarkan nenek tahu, beliau sedang kurang sehat." Titah Hotaru.


"Baik waka."


"Siapa?, nenek?." Hotaru langsung melirik Yuki.


"Kamu sudah bangun?." Hotaru mengusap wajah gadis itu.


"Ya, suara kerasmu memanggil Will membuatku terganggu." Jawab Yuki membuka matanya perlahan.


"Maaf, tidurlah lagi." Hotaru menarik selimut lebih tinggi.


"Aku sudah kebanyakan tidur dan sekarang aku lapar." Hotaru terkesiap segera memanggil pelayan.


"Siapkan makanan untuk Yuki." Titah Hotaru.


"Baik waka." Pelayan membungkuk hendak pergi namun Yuki menghentikan mereka.


"Tunggu, bukan itu." Yuki berusaha duduk.


"Pelan-pelan." Hotaru membantunya namun Yuki sengaja mendorong Hotaru memeluk pemuda itu.


"Aku butuh darah dan sedikit pasta seafood, dua gelas es lemon jangan lupa." Hotaru menunduk menatap wajah Yuki yang tersenyum kecil.


"Apa maksudnya?."


"Bisa kalian ambilkan dua kantung darah dan jarum sekalian?. Golongan darah A. Bisa sedikit cepat?, aku sudah lapar." Yuki menekankan kalimat terakhirnya.


"Baik ojou sama." Kedua pelayan Yuki bergegas pergi.


"Hmmm, aku ingin mandi." Lirih Yuki seraya mengeratkan pelukkannya pada Hotaru.


"Kamu tidak memberitahukanku apa yang sudah kamu ingat?."


"Kamu pasti juga sudah tahu. Gendong aku ke kamar mandi." Pinta Yuki.


"Apa kamu bisa mandi sendiri?." Tanya Hotaru menggendong Yuki masuk ke ruangan di samping mereka.


"Ya, aku tidak suka ada yang melihat tubuhku. Agh, pasti pelayan sudah melihatnya." Geram Yuki.


"Sesama perempuan tidak masalah, haruskah aku menyuruh mereka?." Tawar Hotaru.


"Turunkan aku di sini. Kamu meremehkanku Hotaru. Sana keluar." Usir Yuki setelah berhasil berdiri di depan wastafel.


"Kalau ada apa-apa aku ada tepat di belakang pintu ruang ganti." Ucap Hotaru.


"Hai hai, cepat keluar." Usir Yuki lagi.


Sudah satu jam Yuki tidak kunjung keluar dari dalam sana. Hotaru sudah berjalan mondar-mandir lalu berhenti duduk di atas ranjang menatap pintu di depannya, kembali mendekat hendak mengetuk pintu namun Yuki lebih dulu membukanya.


"Ada apa?." Tanya Yuki. Hotaru bernafas lega.


"Aku pikir kamu pingsan lagi di dalam." Jawab Hotaru.


"Gendong ke sofa." Yuki mengangkat kedua tangannya. Hotaru tersenyum.


"Bayi hulk semakin manja ternyata." Ledek Hotaru mengangkat tubuh Yuki.


"Dokter?." Lirih Yuki melihat dokter sudah duduk di sofa kamarnya.


"Selamat siang ojou sama. Saya senang anda sudah siuman." Dokter berdiri lalu membungkuk.


Hotaru menurunkan Yuki di sofa panjang, meraih piring pasta dan duduk di samping adiknya.


"Saya akan memeriksa anda sebentar." Izin dokter.


"Tidak perlu. Berikan kantung darah dan jarum padaku." Tolak Yuki.


"Yu," Hotaru menghentikan kalimatnya melihat tangan Yuki yang sudah terangkat ke atas.


"Will, kemari. Duduklah." Pinta Yuki.


"Baik ojou sama." Will mendekat dan duduk di sofa samping. Yuki mengulurkan tangannya kepada dokter.


"Silahkan ojou sama." Yuki menerima dua barang yang di ulurkan kepadanya.


"Tolong jelaskan kondisi nenek." Titah Yuki membuka bungkus jarum. Hotaru menarik nafas berat mengangguk kepada dokter.


"Aaa." Ucap Hotaru mengulurkan garpu berisi gulungan pasta. Yuki membuka mulutnya, menerima suapan dari Hotaru.


"Lusi sama memiliki gangguan pencernaan satu bulan terakhir. Tekanan darahnya juga rendah. Saya sudah memberikan perawatan intensif, dan perlahan-lahan kondisi Lusi sama mulai membaik." Jelas dokter melihat Yuki menyuntikkan tangannya sendiri, memasang jarum ke dalam pembuluh darah.


Dokter segera mengangkat kantung darah, menggantungkannya ke tempat seharusnya.


"Berikan aku kertas dan bolpoin." Pinta Yuki, membuka mulutnya menerima suapan yang lain.


"Silahkan." Dokter memberikan apa yang Yuki minta.


"Bukannya saya tidak mempercayai anda dok, saya ingin nenek cepat sembuh." Ujar Yuki.


"Dengan ini mungkin membantu." Yuki memberikan kertas yang sudah di isi tulisan-tulisannya kepada dokter.


"Yang atas untuk di minum, yang bawah anda harus menumbuknya lalu masukkan ke dalam wadah kecil, campurkan dengan air panas. Buat minimal lima wadah, letakan dua di samping ranjang nenek, satu di kamar mandi, satunya lagi di meja dekat jendela. Yang terakhir di dekat pintu kamar." Jelas Yuki.


"Baik ojou sama." Dokter menatap daftar di dalam kertas itu.


"Dan sekarang buka bajumu." Pinta Yuki mengambil alih piring pasta meletakkannya di atas meja.


"Aku?. Kenapa?." Tanya Hotaru bingung.


"Buka atau aku yang buka?." Ancam Yuki.


"Baiklah baiklah." Hotaru membuka pakaiannya.


Yuki mendorong Hotaru untuk membelakanginya. Ia mengerutkan kening melihat punggung mulus tanpa ada satu pun bekas-bekas yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Dokter iblis itu lumayan juga, tidak ada yang tersisa di sini. Apa yang dia lakukan?." Tanya Yuki.


"Ya, hanya sedikit salep, laser, dan sulaman kecil." Jawab Hotaru.


"Dokter tolong obati pundaknya." Yuki menunjuk pundak Hotaru. Bekas kuku jari yang masih merah dan ada sedikit darah kering yang tertinggal.


"Baik ojou sama." Hotaru bergerak menghadap Yuki agar dokter berada di sisi kirinya dan Yuki tidak harus repot-repot bergeser.


"Milikmu juga sudah di hapus?." Hotaru paham apa yang dimaksud Yuki.


"Hm, ayah yang memintanya setelah pulang ke sini." Yuki mengangguk kecil mengambil suapan pasta ke dalam mulutnya.


"Kemarikan tanganmu." Ucap Yuki dengan mulut yang masih mengunyah.


"Habiskan makananmu dulu Yuki." Gadis itu mengibaskan tangan kirinya lalu meraih tangan Hotaru.


"Apa kamu yakin sudah sembuh seratus persen?." Tanya Yuki mencari denyut nadi di pergelangan tangan Hotaru.


"Seribu persen yakin." Jawab Hotaru.


Yuki menarik nafas panjang meletakan tangannya di bawah hidung Hotaru lalu perlahan menutup matanya. Hal itu menarik perhatian dokter dan Will. Tidak lama Yuki menarik tangannya kembali.


"Baiklah, kali ini aku percaya." Ucap Yuki. Hotaru tersenyum memakai kembali kaosnya.


"Terima kasih dok, anda boleh kembali." Ucap Hotaru.


"Baik waka, saya permisi." Dokter membereskan barang-barangnya lalu pergi dari kamar Yuki.


"Will kamu mau?." Yuki menyodorkan piring berisi kue kecil yang di bawa pelayan.


"Tidak, terima kasih ojou sama."


"Kamu sudah lebih baik?." Hotaru menatap khawatir Yuki. Pasalnya sikap Yuki berubah seperti biasanya, bahkan ia terlihat tidak terganggu dengan jarum yang menancap di punggung tangan.


"Tentu, ini sudah biasa." Yuki melirik meja shogi yang terletak tidak jauh dari mejanya.


"Apa itu?."


"Shogi, permainan catur jepang." Jawab Hotaru.


"Aku memainkannya dengan Will tadi." Imbuh Hotaru.


"Lagi, aku ingin melihatnya." Pinta Yuki.


"Baiklah. Will siapkan shogi." Perintah Hotaru.


"Baik waka."


Akhirnya hari itu Yuki memaksa Hotaru bermain shogi sampai sore. Ia sangat tertarik dengan permainan itu. Hingga tak sadar lima pelayan berdiri meminta izin untuk masuk.


"Ada apa?." Tanya Hotaru kepada salah satu pelayan.


"Waktunya untuk mendandani ojou sama waka, hari sudah mulai gelap." Jawab pelayan.


Hotaru melirik ke teras samping, langit oren sudah berubah keunguan. Ia menoleh ke samping melihat satu kantung darah kosong berada di atas meja.


"Sejak kapan kamu menggantinya?." Tanya Hotaru menunjuk kantung darah.


"Sedari tadi." Jawab Yuki mencabut jarum di tangannya.


"Waka, anda juga harus bersiap." Ucap seorang pelayan mengingatkan.


"Sampai ketemu di pesta nanti." Kata Hotaru mengusap kepala Yuki.


"Hm." Gumam Yuki.


"Will, ayo pergi." Hotaru berdiri di susul oleh Will.


Setelah kepergian kedua laki-laki itu ke lima pelayan langsung menyerbu Yuki membawa gadis itu ke dalam kamar mandi dengan sopan.


Yuki melarang keras para pelayan membantunya mandi, memang mereka hidup di jaman apa?!, jaman sekarang adalah jaman yang menjunjung tinggi privasi setiap manusia.


Setelah keluar dari kamar mandi Yuki yang hendak memakai baju dalamnya segera di cegah oleh para pelayan. Mereka sudah menyiapkan baju dalam yang warnanya serasi dengan gaun yang akan dikenakan Yuki. Gaun rancangan tempo hari. Yuki memuji kecepatan para pekerja yang menjahit baju itu, apa lagi sang designer.


Lihat, betapa indahnya gaun maxi dress tanpa lengan berwarna putih dengan tali tipis di kedua pundak, rok bagian depan pendek di atas lutut, dan bagian samping sampai ke belakang sepanjang mata kaki. (Maxi dress adalah gaun terusan bersiluet A yang memiliki panjang sampai ke mata kaki). Motif dan guratan kecil di bagian perut terlihat rumit dan elegan.


"Ojou sama, izinkan kami membantu anda memakai,"


"Tidak. Tolong keluar sebentar." Tolak Yuki cepat. Perintahnya kali ini tidak boleh di bantah.


Pelayan satu persatu meninggalkan Yuki di ruang gantinya. Mereka sudah gila, batin Yuki. Gadis itu segera memakai baju yang sudah di siapkan setelah mengeringkan rambut terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menyuruh mereka masuk.


Para pelayan segera menata rambut Yuki, menggelungnya ke atas.


"Biarkan rambutku tetap jatuh ke bawah, jika tidak ingin berakhir berantakan. Aku tidak mau Hotaru mengacak-acak jerih payah kalian." Ucap Yuki membuat mereka kembali menata ulang.


Setelah selesai dengan menata rambut bagian depan ke belakang, agar setiap sudut wajah gadis itu terlihat lebih jelas. Pelayan mulai memoles wajah Yuki, menggambarnya sesuka hati mereka.


"Anda sangat cantik ojou sama." Puji salah satu pelayan.


"Aku lebih suka make up yang lebih tipis." Komentar Yuki.


"Kami tidak memakai pilihan warna yang kuat ojou sama. Anda sungguh terlihat sangat mempesona." Balas pelayan.


"Menggoda maksudmu?." Yuki membenarkan.


Para pelayan tersenyum malu-malu. Yuki menghela nafas berat.


"Aku bukan akan di jual kepada pria-pria di luar sana kalau kalian ingat." Komentar Yuki.


"Maafkan kami ojou sama. Kami akan mengulanginya." Mereka membungkuk dalam. Yuki mengulas senyum tipis.


"Tidak apa-apa, aku senang melihat raut wajah kalian yang tidak meninggalkan senyum saat melukis wajahku. Tapi lain kali tolong jangan membuatku seperti wanita penggoda." Celetuk Yuki membuat para pelayannya menahan senyum dengan leluconnya.


Yuki kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak terlalu seksi memang tapi masih tergolong ke dalam kata itu, apa lagi bibirnya. Pilihan yang bagus dengan warna soft pink glossy yang agak pekat tapi, apa harus glossy??. Yuki menghela nafas. Di setiap acara perusahaan dengan ayahnya ia selalu merias diri sendiri.


"Ojou sama?." Panggil takut-takut salah satu pelayan.


"Tidak apa-apa untuk kali ini." Jawab Yuki melirik sepatu high heels putih yang di pegang salah satu pelayan.


"Aku belum akan menikah kan." Ledek Yuki membuat para pelayan kembali tersenyum.


"Belum ojou sama. Silahkan sepatu anda." Jawab pelayan itu seraya menaruh high heels itu di depan Yuki.


Yuki memasukkan kakinya yang langsung membuat para pelayan tersenyum cerah.


"Anda sangat,"


"Cantik." Srobot Yuki membuat mereka menunduk dengan rona di pipi.


"Ketahuilah kalian lebih cantik dariku. Aku hanya sedikit beruntung." Nada suara Yuki sedikit ragu pada akhir kalimat.


"Ojou sama terlalu memuji kami." Mereka membungkuk lagi.


"Pujian sebenarnya akan membuat kalian lebih percaya diri, dan terkadang membuat kesal, kalau yang itu aku." Imbuh Yuki di akhir kalimat.


"Baiklah mari kita bertempur!." Ujar Yuki menguatkan diri.


"Eh?." Bingung para pelayan yang di tinggal pergi nona muda mereka.


Sret.


Yuki sedikit terkejut namun tidak ia tampakkan kala melihat sosok berkharisma yang memiliki wibawa tinggi berdiri di depan pintu kamarnya.


"Putri ayah sudah dewasa." Ucap Daren dengan senyum di bibir.


"Ayah sudah sering melihatku seperti ini." Balas Yuki.


"Yang ini berbeda. Kasihan mereka yang tergoda." Ledek Daren.


"Benar, aku harus mengganti kaos dan jeans saja." Ucap Yuki mmbalikan badan hendak masuk ke dalam kamar.


"Hahaha, ayo." Daren menekuk tangan kirinya mempersilahkan Yuki untuk mengalungkan tangannya di sana.


"Jangan tinggalkan aku sendirian di pesta nanti ayah." Pinta Yuki memasukkan tangannya diantara tangan dan pinggang Daren, memegang lembut lengan ayahnya.


"Ini bukan pesta bisnis Yuki. Ini pestamu." Jawab Daren.


"Yang benar saja." Gerutu Yuki.