
Senior Yuki berlari dengan setumpuk kertas mengejarnya, Yuki yang merasakan kehadiran orang itu pun berhenti lalu berbalik.
"Ada apa senpai?." Tanya Yuki.
"A itu," Yuki melirik tumpukan kertas di tangan seniornya lalu beralih menatap sang senior.
"Bukankah senpai anggota tim inti?." Tanya Yuki.
"Ya, kau tidak tahu namaku?." Tanya balik orang itu.
"Maaf." Jawab Yuki.
"Tidak apa, aku Kawazune Ryou." Yuki mengangkat satu alisnya.
"Apa senpai ada hubungan saudara dengan Kawazune Haruno, pemukul kelas satu?." Tanya Yuki mengingat juniornya memiliki marga yang sama.
"Ya, aku kakaknya." Yuki mengangguk sekilas.
"Mirip." Celetuk Yuki.
"Apanya?. Banyak yang tidak mengira kalau kami bersaudara, perbedaan tubuh yang jauh membuat kami tidak terlihat mirip." Ujarnya.
"Aku setuju soal itu, tapi bentuk mata kalian sama." Jawab Yuki.
Laki-laki di depannya ini lebih tinggi sepuluh senti dari tingginya, otot-otot tubuhnya juga sudah terbentuk, hasil latihan ketat pemain baseball, berbeda dengan adiknya yang jauh lebih pendek, mungkin delapan senti lebih pendek dari Yuki, bentuk tubuhnya juga belum terbentuk masih terlihat kurus meski begitu jangan ragukan kemampuan bocah cilik pemalu itu.
"Senpai, tolong berikan dokumen itu kepadaku." Pinta Yuki, Kawazune mengernyitkan dahi.
"Dua hari lagi ada pertandingan bukan, biar aku yang mengerjakan punya senpai." Jelas Yuki, ia tak ingin fokus pemain inti pecah hanya karena tugas yang diberikan osis.
"Tidak perlu, ini bagianku." Tolaknya.
"Bagaimana kalau kita kerjakan bersama." Ajak Yuki.
"Eh?!." Kawazune terkejut.
"Hari ini jam kosong bukan?. Kita bisa mengerjakannya di perpus." Tawar Yuki, tidak akan mundur begitu saja.
"Ba baiklah."
Akhirnya mereka berjalan menuju perpustakaan di lantai satu.
Hajime sejak tadi sudah menunggu Yuki keluar dari ruang osis. Ia menunggu gadis itu di depan kelas, ketika gadis itu sudah keluar dan berjalan ke arahnya tanpa ingin kehilangan kesempatan lagi ia berjalan menghampiri gadis itu yang terlihat asik mengobrolkan sesuatu, jarang-jarang Yuki mau mengobrol panjang seperti itu dengan orang lain bahkan dengan temannya sendiri juga jarang.
Jarak satu meter lagi Hajime berhasil menghadang Yuki sebuah surai bergelombang keluar dari pintu belakang kelas menatapnya dengan senyum lebar namun tepat saat itu pun Yuki berjalan melewati pintu. Hajime reflek ingin berlari menggagalkan benturan yang akan terjadi namun ia kembali dikejutkan oleh Yuki.
Gadis itu menghindari tabrakan dengan cara yang sama seperti saat ia menghindari tabrakan dengannya pagi itu, saat pertemuan kedua mereka.
Yuki dengan tenang memutar tubuhnya berlawanan arah dengan kedatangan gadis bersurai bergelombang tanpa menabrak senior di sampingnya. Yuki melanjutkan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hahaha, seperti yang diharapkan dari manajer baseball." Celetuk Kawazune di samping Yuki.
"A! gome (A! maa)." Gadis bersurai panjang bergelombang yang tidak lain tidak bukan adalah Sakai ketua tim cheerleaders hendak mengatakan sesuatu namun Yuki mengabaikannya dan tetap berjalan seakan ia tidak melihat gadis itu.
Tawa Kawazune bertambah kencang.
"Hahaha ... Kau lucu sekali manajer." Yuki tak menanggapi ia mengangguk kecil menyapa Hajime yang mereka lewati.
"Yo kapten." Sapa Kawazune.
Kakak beradik ini memang sangat kontras, Haruno yang pemalu dan Ryou san yang?, yang ..?, bar-bar?. Pikir Yuki.
Mereka berhasil duduk di meja perpustakaan setelah kemacetan di depan mading. Obrolan mereka berhenti ketika memasuki ruangan yang tidak boleh menimbulkan suara berisik sedikit pun. Yuki dengan tenang mengerjakan tugasnya, Kawazune pun sama, laki-laki gaduh itu berubah tenang.
Tidak butuh waktu lama untuk Yuki menyelesaikan tugasnya, ia diam-diam mengambil bagian Kawazune mengerjakannya dengan cepat.
Laki-laki itu meraba tumpukan kertas di depannya, ia hampir selesai dengan kertas ditangan ingin mengambil kertas yang lain. Kawazune akhirnya mendongak mencari dokumen miliknya yang sudah berada di meja sebrang.
"Apa ini kasus pencurian?." Lirih Kawazune.
"Bukan, ini kasus peminjaman." Jawab Yuki masih fokus dengan pekerjaannya. Kawazune menarik sudut-sudut bibirnya, ia tidak pernah tahu kalau manajer yang kerap dipanggil sang dewi ternyata memiliki sisi humor dan asik untuk di ajak berdiskusi.
"Haruskah aku menerapkan bunga pinjaman?." Lanjut Kawazune.
"Boleh, dan aku lebih suka potongan bunga seratus persen." Balas Yuki menyodorkan tumpukan kertas ke arah seniornya.
"Eh?, sudah selesai?." Yuki mengangguk kecil berdiri dari kursinya.
"Ayo kembalikan ke ruang osis, senpai." Ujar Yuki berjalan lebih dulu.
"Tunggu." Kawazune segera meraup tumpukan kertas miliknya dan menyusul Yuki.
"Manajer!, lihat ini." Yuki membalikan tubuhnya melihat Kawazune menggerakkan tangan naik turun menyuruhnya mendekat.
"Lihat apa senpai?." Yuki berhenti di samping Kawazune, laki-laki itu menunjuk mading.
"Hmmm, seperti yang di harapkan dari manajer baseball. Terbuat dari apa otakmu sebenarnya." Yuki melirik namanya yang berada di paling atas.
"Aku sedang beruntung." Jawab Yuki.
"Mana ada, setelah banyak absen itu hasil yang sangat luar biasa." Yuki dan Kawazune terkejut dengan suara asing yang ikut bergabung dengan pembicaraan mereka.
"Nana senpai." Panggil Yuki.
"Ung, kalian baru mau mengerjakan tugas osis?." Tanya gadis itu.
"Tidak, kami sudah menyelesaikannya." Jawab Kawazune.
"Bohong." Tuduh Nana.
Yuki memperhatikan interaksi kedua senior itu.
"Senpai, kalian pacaran." Itu adalah pernyataan Yuki bukan pertanyaan.
"Eh?!, ung." Nana yang kaget langsung membenarkan seraya tersenyum.
"Ayo aku ikut ke lantai empat, kalian mau ke ruang osis kan." Nana berusaha mengalihkan perhatian Yuki. Yuki hanya diam dan mengikuti saja.
Setelah Yuki dan Kawazune menyerahkan tugas mereka tanpa menunggu hari esok, ia berjalan kembali ke kelas namun baru saja Yuki sampai di lantai tiga seseorang sudah menyuruhnya untuk pergi ke ruang seni rupa.
Kenapa hari ini tidak bisa tenang seperti biasanya, batin Yuki ia menutup mulutnya yang menguap.
Ia berjalan cukup jauh, melewati lorong terbuka, ruangan seni rupa berada di dalam gedung yang terpisah dengan gedung utama, setelah menyebrang pun Yuki masih harus berjalan melewati beberapa ruangan, barulah ia sampai.
Tok. Tok. Tok.
Setelah mengetuk Yuki menggeser pintu, melangkah masuk menghampiri seorang guru membungkuk sopan.
"Maaf, sensei memanggil saya?." Tanya Yuki sopan kepada wanita yang mendekati usia lima puluhan tahun dengan beberapa surai yang sudah memutih.
"Ya, saya sebenarnya ingin meminta tolong padamu Hachibara san." Ujar wanita itu.
"Tolonglah jadi model kami untuk hari ini." Yuki enggan, ia ingin menolak tapi melihat wajah wanita itu membuatnya teringat dengan Lusi, neneknya.
"Apa yang harus saya lakukan sensei?." Pada akhirnya Yuki tidak bisa menolak.
"Kamu hanya perlu bersandar di meja." Yuki ikut menoleh ke arah yang dimaksud.
Meja di depan anak-anak klub seni rupa yang sudah membuat sebuah lingkaran. Yuki berjalan dan bersandar di meja.
"Hari ini kalian melukis semirip mungkin dengan model di depan, dan kreatifitas kalian juga di perlukan. Dua jam apa itu cukup?." Tanya sensei.
"Baik sensei."
Dua jam?, waktu yang banyak, sahut Yuki dalam hati.
"Silahkan kalian mulai."
Yuki membuang wajahnya menatap ke luar jendela.
Kenapa jadi seperti ini?, aku ingin menguap, batin Yuki menahan rasa kantuknya.
Keheningan itu membuat pikiran Yuki kembali kepada masalah-masalahnya. Pernyerangan berikutnya akan terjadi pada musim dingin, penyerangan besar-besaran. Mungkin akan ada banyak pertumpahan darah, tapi juga tidak bisa di pastikan BD Bloody Death akan muncul disana.
Sangat sulit mencari identitas BD, Yuki akan mencobanya lagi nanti malam. Ada cara agar dia bisa mendapatkan informasi BD lebih cepat namun Yuki juga tidak tahu apakah kelompok musuh masih berpihak kepada otak penyerangan keluarganya atau hubungan mereka sekarang sudah hancur. Cara itu sangat beresiko, selagi Yuki tidak tahu alasan mereka menyerang keluarganya Yuki harus bertindak hati-hati.
Mengingat tentang keluarga, ia merasakan lengannya pegal-pegal seperti terhantam bola. Yuki menyimpulkan bahwa kembarannya dalam keadaan baik-baik saja, Hotaru memainkan voli, dia sudah sehat. Apakah dia masih marah kepada Hotaru?, apakah dia masih kecewa?, entahlah. Sejujurnya hatinya masih terluka.
Hotaru adalah segalanya untuk Yuki, di saat orang tua dan dunia tidak berpihak kepadanya kehadiran Hotaru membuat hal lain tak berarti apa-apa, namun kejadian terakhir menggores luka, luka yang ditinggalkan Dimas terbuka kembali dan semakin besar dan semakin terasa dalam.
Haruskah Yuki mencari keberadaan Hotaru?, jawabannya TIDAK. Gadis itu tahu hanya dengan melihat racun yang dilumurkan ke jarum pelindung klan adalah racun buatan kembarannya, karena selama ia tinggal di rumah sakit dulu, ia bertekad untuk membuat segala jenis penawar racun yang tak biasa, bermodal ingatan catatan racun di tubuh Hotaru Yuki berusaha membuat penawarnya kembali. Ke depannya Hotaru pasti akan mengembangkan racun yang lebih mematikan karena itu ia juga membuat penawar racun dari berbagai kemungkinan. Dan terbukti berhasil tadi malam.
Untuk saat ini Yuki akan fokus mencari keberadaan Bloody Death, ia mengenyampingkan hal yang lain dan fokus dengan rencananya. Selain itu, akan sulit bagi Yuki jika bertemu lagi dengan para pelindung klan dan terlibat pertarungan, sudah di pastikan ia kalah telak. Mereka berbeda dengan Fathur, kemampuan mereka sangat jauh berbeda. Mizutani juga tidak bersungguh-sungguh saat menghadapinya. Yuki berpikir, bagaimana cara untuk menghadapi para pelindung klan nantinya.
Yuki mengalihkan pandangannya ke depan, maniknya menangkap lukisan unik yang tergantung di belakang sana.
Kuharap mereka cepat selesai, batin Yuki.
"Hachibara san, apa kamu mau minum?." Tanya sensei.
"Eh?, boleh sensei?." Wanita itu tersenyum seraya menyodorkan minuman bersoda.
"Tidak, terima kasih sensei." Tolak Yuki.
Aku tidak akan minum itu, batin Yuki.
"Kamu tidak menyukainya?." Yuki tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.
"Bagaimana dengan susu rasa vanila?." Tawar sensei menyodorkan sekotak vanilla milk. Yuki menatap kotak, berpikir sebentar.
Kapan aku terakhir minum susu?, saat usia tujuh tahun?, delapan tahun?, batin Yuki tangannya menerima susu kotak.
Yuki mengangkat susu kotak itu mendekat ke wajahnya.
Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini?, baiklah ini salahku karena tidak pernah ke kantin, atau membeli makanan ringan dengan bentuk seperti ini, tapi jangan bercanda!. Apa kau sebodoh ini Yuki?. Pikirkan bagaimana caranya, batin Yuki.
"Kenapa Hachibara san?." Tanya sensei.
Bahaya, aku tidak mungkin menjawab jujur bukan, bisa-bisa aku ditertawakan di sini, batin Yuki.
Tok. Tok.
Srek.
"Maaf sensei, apa Yuki masih lama?." Yuki menoleh ke pintu maniknya bertemu dengan manik Mizutani.
"Oh, tidak Mizutani sensei. Anak-anak saya sudah menyelesaikan gambarnya."
"Kalau begitu boleh Yuki saya pinjam?." Tanya Mizutani.
"Silahkan, terima kasih Hachibara san." Yuki segera berdiri tegap menghadap wanita itu seraya membungkuk sopan.
"Saya senang bisa membantu sensei. Dan terima kasih minumannya." Ujar Yuki berjalan menghampiri Mizutani.
"Tunggu!." Yuki menoleh ke belakang melihat seorang siswi sudah berdiri kikuk.
"A ..,no ... Apakah senpai bisa melukis." Pertanyaan macam apa itu?, batin Yuki.
"Ung, sedikit." Manik siswi kelas satu itu berbinar cerah.
"Bo bolehkah senpai meninggalkan lukisan senpai di sini sebagai kenang-kenangan?." Yuki menoleh kepada Mizutani meminta izin.
"Lakukan jika kamu mau." Yuki menitipkan vanilla milknya kepada Mizutani.
Hanya lima menit Yuki sudah menyelesaikan lukisannya, simpel namun penuh makna tersirat di setiap goresannya. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruang seni bersama Mizutani.
"Ne Mi chan." Panggil Yuki yang mengangkat kotak minuman itu di depan wajahnya.
"Aku merasa jadi orang terbodoh di dunia." Mizutani melirik gadis di sampingnya.
"Kenapa?."
"Bagaimana caraku meminumnya?." Mizutani mengambil vanilla milk dari tangan Yuki.
"Aku menyesal tidak pernah nonton tv, hal-hal sederhana saja banyak yang tidak bisa aku lakukan." Ujar Yuki menerima kembali minumannya.
"Setelah kamu kehilangan ingatan, apa kamu mengingat masa-masa kecilmu?." Tanya Mizutani.
Minuman ini tidak buruk, batinnya.
"Apa yang kamu lakukan selama di indonesia?." Yuki menjauhkan sedotan dari bibirnya.
"Sekolah, belajar, privat, kursus." Jawab Yuki.
"Jika hanya itu aneh jika kamu tidak bisa memasang sedotanmu sendiri, bisa ceritakan yang lengkap?." Yuki memutar bola matanya.
"Aku mengurung diri, belajar. Tidak ada waktu untuk sekedar nonton tv, makan hanya di tempat tertentu atau membawa bekal yang dimasakan pelayan dirumah. Benda seperti ini asing untukku." Yuki menatap vanilla milk di tangannya. Yuki memiliki ide.
"Mi chan."
"Yuki."
Yuki menoleh menatap Mizutani dari samping.
"Ada apa?."
"Kemarin dua kali penyakitmu kambuh lagi, bagaimana dengan hari ini?." Yuki membuang wajahnya menatap lurus jalan di depan mereka.
"Sekali, tadi pagi." Jawabnya.
"Yuki."
"Hm?."
"Jangan pergi ke festival kembang api."
***
Duduk di depan komputer ditemani dengan es lemon dan buah kiwi, jari Yuki terus bergerak meretas video cctv di tempat-tempat yang berkemungkinan BD datangi, setelah mengumpulkannya Yuki menonton dengan sabar meskipun begitu tangannya tidak mau diam memainkan kacamata pelindung klan.
"Je."
"Ya, Yuki?."
"Mau kabur?." Celetuk Yuki maniknya masih fokus pada layar komputer.
"Tidak, ide buruk."
"Hanya tiga hari." Bujuk Yuki.
"Tidak."
"Apa yang kamu pikirkan Yuki?."
Zzz ... Zzz ...
Yuki meraih ponsel tanpa mengalihkan fokusnya.
"Moshi-moshi. (Halo)."
"Bisa keluar sebentar?." Yuki menaikan satu alis.
"Hm?." Yuki menghentikan video melirik jam di komputer.
"Apa Keiji kun ikut?."
"Tidak, kamu ingin aku mengajaknya?."
"Apa dia sedang sibuk?." Yuki beranjak mengambil hoodie panjang sampai ke bawah pahanya.
"Tadi dia sedang latihan di ruang tengah."
"Boleh aku main ke sana?." Hajime sebenarnya ingin mengajak Yuki bicara empat mata namun gadis itu sudah lama tidak main ke rumahnya, tidak ada alasan untuk menolak.
"Ya."
Beberapa detik kemudian Yuki sudah berdiri di depan pintu keluarga Yuuki.
"Permisi." Ujar Yuki setelah dibukakan pintu oleh Hajime.
"Hachibara chan, sudah lama tidak main ke rumah. Kamu baik-baik saja?." Suara bibi dari arah dapur langsung menyeruak menghampiri Yuki.
"Ya, saya sudah sehat, maaf membuat bibi khawatir." Bibi Yuuki memeluk lembut gadis itu.
"Keiji sangat mengkhawatirkanmu saat itu. Mau bertemu dengannya kan, dia ada di ruang tengah." Yuki tersenyum berjalan ke ruang tengah, Yuki sudah sangat hafal tata letak rumah itu.
Yuki tersenyum lembut menatap wajah tenang Keiji yang tertidur di atas sofa. Ia berjalan dan duduk di lantai menatap pipi gembul anak itu.
"Latihan sampai tertidur memeluk pemukul heh." Lirih Yuki meledek, telunjuknya menyentuh pipi Keiji.
"Dasar maniak." Lanjutnya.
"Dia terlalu bersemangat untuk pertandingan hari sabtu nanti." Ucap Hajime duduk di lantai jauh dari Yuki.
"Hmm." Jari Yuki setia mengusap pipi Keiji.
"Yuki, kamu melihatnya tadi siang?." Hajime sudah tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.
"Ung."
"Apa yang kamu pikirkan tentang itu?." Hajime tidak ingin terlalu percaya diri dan langsung menjelaskan kronologi sebenarnya.
"Wow, ternyata dia gadis yang agresif. Itu yang aku pikirkan." Hajime tersenyum kecil.
"Apa kamu juga pernah berada di posisi sepertiku?."
"Tidak, aku tidak akan membiarkan orang lain melakukannya tanpa seizinku." Hajime mengangguk sekilas.
"Bagaimana jika di posisi Sakai san?." Yuki yang sejak tadi menatap wajah Keiji menoleh menatap Hajime.
"Senpai penasaran?." Hajime mengangguk jujur.
"Kenapa?."
"Hanya ingin tahu."
Tanpa ragu Yuki memberikan jawaban.
"Pernah." Sejak awal Hajime sudah bisa menebaknya, Yuki akan menjawab seperti itu.
"Masalah hati bukan sesederhana melihat barang cantik atau bagus lalu membelinya." Lanjut Yuki kembali memperhatikan wajah Keiji.
"Itu lebih rumit dari rumus pembentukan tata surya, bahkan aku saja sulit untuk memahaminya."
Yuki sadar topik mereka sedang mengarah kemana, seperti kepada Fathur, ia akan memperjelasnya dengan cara halus.
"Karena aku." Pergerakan di bawah jari Yuki membuat kalimatnya terhenti.
Keiji membuka matanya perlahan.
"Mm?, Hachi bara san?." Yuki tersenyum. Tangannya beralih mengusap pucuk kepala Keiji. Bibirnya menggumamkan sebuah nada lembut, perlahan kelopak mata Keiji kembali tertutup. Yuki kembali mengusap pipi gembul itu.
"Tadi, sangat indah." Yuki terkejut mendengar suara bibi Yuki yang sudah berada di belakangnya.
"Tidak, hanya bergumam asal. Maaf." Ujar Yuki tidak enak, ia juga sudah menjauhkan tangannya dari pipi Keiji.
"Kamu terlalu rendah hati Hachibara chan, sekali-kali bersikap sombong juga tidak masalah." Yuki tersenyum tipis.
"Diminum." Lanjut bibi Yuki menyodorkan segelas lemon dingin. Wanita itu memang sudah hafal minuman favorit Yuki.
"Bagaimana kalau kamu menjadikan Keiji pacarmu?." Yuki terkekeh kecil dengan bercandaan bibi Yuuki, ini bukan pertama kalinya wanita itu mengatakannya.
"Keiji memang menggemaskan karena itu aku suka menjahilinya." Balas Yuki.
"Tapi sayang dia masih seperti anak-anak." Tambah bibi Yuuki.
"Ung, tidak sesuai dengan tubuhnya." Sambung gadis itu, lalu mereka tertawa bersama. Hajime hanya menyimak dua perempuan yang asik membahas tentang adiknya itu.
***
Yuki berlari di jembatan yang menghubungkan gedung utama dan gedung ke tiga, ia baru teringat isi surat berwarna biru itu tadi malam. Seharusnya ia menemui pengirim surat kemarin tapi karena kesibukan yang tiada henti membuatnya lupa.
Pagi ini ia ada janji dengan Honda dan berangkat lebih awal, Natsume juga mengabarinya kalau klub band ada latihan pagi sampai malam, mungkin. Karena itu sebelum bertemu dengan Honda Yuki akan menemui pengirim surat lebih dulu.
Srek.
"Yu chan!, tidak biasanya melihatmu lari, ada apa?." Yuki sadar ia kini menjadi pusat perhatian.
"Ohayou Hachibara san, mau ikut latihan?." Yuki menggeleng pelan kepada ketua klub, Abe.
"Lihat, kita kedatangan tamu istimewa." Ucap Kichida, drumer.
"Apa kamu sedang mencari Tsukishima kun?." Tanya Natsume.
"Ung."
"Dia sedang berdiri di belakangmu." Yuki langsung membalikan tubuhnya.
"Hazuki, nanti temui aku di atap." Seru Yuki berlalu pergi.
"Bisa kita bicara?." Lanjutnya kepada laki-laki yang masih mematung itu.
Yuki menyenderkan punggungnya di pembatas jembatan sedangkan laki-laki itu berdiri cukup jauh darinya.
"Sepertinya aku pernah melihatmu, Tsukishima san." Laki-laki itu tergagap.
"Y ya, senpai pernah menyelamatkanku saat pembullyan." Jawabnya, Yuki baru ingat anak kelas satu yang di bully oleh senior kelas tiga.
"Maaf kemarin aku lupa tidak datang, semoga kamu tidak menungguku." Ujar Yuki.
"Tidak, kemarin aku tidak menunggu senpai, Natsume senpai memberitahuku kalau Hachibara senpai sedang sibuk mungkin tidak akan datang." Jelasnya.
"Ung, maaf. Jadi?, ada apa?." Tanya Yuki, bukan Yuki ingin berpura-pura tidak tahu pasalnya pesan di dalam surat itu bukan tentang pernyataan suka atau sejenisnya.
"Senpai, dibully juga kan." Yuki tidak memberikan respon apa pun.
"Aku tidak sengaja melihat senpai di kerubungi oleh anak-anak cheerleader, mereka juga terlihat mau menyerang senpai. Saat di toilet, aku juga tidak sengaja mendengar cerita apa yang terjadi ditoilet dari anak perempuan di kelasku. Tapi, bagaimana bisa senpai bersikap biasa saja setelah kejadian itu?." Tsukishima mengatur nafasnya setelah berbicara panjang lebar.
"Intinya?." Tanya Yuki datar.
"Aku tidak ingin senpai merasakan hal yang sama sepertiku, aku akan membalas budi." Jawabnya.
Kenapa dia harus repot-repot mengirim surat segala kalau masalahnya cuman seperti ini, batin Yuki sedikit kesal.
"Jawabannya mudah, harimau tidak akan ikut menggonggong seperti anjing." Tsukishima terdiam.
"Terima kasih untuk niat baikmu, aku harus pergi sekarang." Ucap Yuki berjalan pergi namun ia kembali membalikan badan.
"Tsukishima san." Laki-laki itu membalas tatapan Yuki.
"Tenang saja, mereka tidak akan pernah bisa menyentuhku. Karena aku memakai, ini." Yuki menunjuk kepalanya sendiri, dan berjalan pergi.
Sekali-kali sombong tidak ada salahnya, batin Yuki teringat kata-kata bibi Yuuki.
***
"Hachibara san, boleh istirahat sebentar?." Pinta Honda.
"Tidak." Tegas Yuki.
"Yu chan kamu terlalu keras. Tapi aku mendukungmu." Celetuk Natsume menikmati penyiksaan terhadap Honda.
Di atap, Honda berlatih berjalan diatas garis yang Yuki buat dengan selotip, tiga tumpuk buku tebal berada di atas kepalanya.
Jika Yuki yang mengawasi pergerakan Honda, Natsume mengatur irama langkah Honda agar sesuai dengan ketukkannya.
"Ueno san, pergi kemana?." Tanya Yuki belum melihat gadis itu sejak tadi.
"Dia sedang membantu Takamoto dan yang lainnya." Yuki mengangguk paham.
Yuki dan Natsume membantu Honda agar lebih percaya diri dan mempersiapkan gadis itu untuk perlombaan nanti.