
Dua hari berlalu sejak kejadian ditoilet, Yuki tidak bisa lupa dengan raut wajah orang-orang yang membullynya. Saat pulang sekolah mereka sangat terkejut dengan wajah yang terlihat bodoh melihat Yuki gadis yang mereka bully terlihat baik-baik saja.
Meskipun Yuki berpapasan tapi ia mengacuhkan mereka, berpura-pura tidak pernah bertemu dengan kelompok pembully itu.
***
Jam olah raga, Yuki kembali kabur ke toilet untuk mengganti bajunya.
"Ne Yu chan (Hei Yu), kenapa kamu selalu ke toilet sebelum pelajaran olah raga?." Tanya Natsume dari balik pintu bilik toilet.
"Hazuki pergilah dulu nanti aku menyusul." Pinta Yuki.
"Tidak, kita kesana bersama." Tolak Natsume yang sekarang selalu bersama dengan Yuki.
Tidak menunggu lama Yuki keluar dari dalam bilik mengenakan seragam olah raga biasa.
"Yu chan hari ini pelajaran renang kenapa kamu memakai baju olah raga?." Tanya Natsume terkejut.
"Aku punya trauma dengan air." Jawab Yuki berbohong.
"Yu chan maaf, aku tidak tahu." Yuki segera mendorong pelan punggung Natsume meninggalkan toilet.
"Ayo cepat nanti kita terlambat." Ujar Yuki sedikit tersenyum yang dipaksakan.
Sudah gila kali sekolah ini, sampai kapan pun aku tidak akan mau memakai seragam itu, batin Yuki kesal padahal ia sangat ingin berenang, kulitnya merindukan sentuhan air kolam renang, ia sudah sangat rindu menyelam.
Kenapa mencari kolam renang disini susah sekali ..!, geram Yuki dalam hati.
Mereka sudah sampai dikolam renang indoor sekolah, seketika itu juga Yuki berubah canggung melihat pemandangan yang tersaji.
"Yu chan aku ganti dulu kamu tunggu disini." Pamit Natsume.
"Ung." Jawab Yuki. Natsume berjalan ke ruang ganti yang tersedia didalam gedung kolam renang.
Yuki terus mengalihkan pandangannya.
"Hachibara san." Ueno memanggil gadis itu dari belakang.
"Dimana Natsume chan? aku kira kalian bersama." Tanya Ueno yang sudah berdiri didepan Yuki.
"Dia sedang ganti baju." Jawab Yuki yang langsung terdiam menatap seragam yang sangat dibencinya.
Warna biru tua, sangat ketat, sangat pendek, bahkan bisa dikatakan seperti c*l*n* d*l*m, dengan punggung agak terbuka, seragam renang khas sma jepang.
Lekuk tubuh Ueno yang berisi tercetak dengan sangat jelas Yuki merasa sangat malu, padahal bukan dirinya yang memakai.
Yuki mengalihkan pandangannya dari Ueno.
Selamanya tidak akan pernah memakainya, batin Yuki matanya menangkap beberapa anak laki-laki melirik Ueno dan dirinya. Sial, bukannya seragam sekolah harus tertutup!, protes Yuki. Bahkan anak laki-laki pun mereka bertelanjang dada dan hanya memakai celana renang pendek diatas lutut.
Itu kalau di indonesia Yuki, jika bajumu kekecilan atau pun kependekan kamu akan mendapat hadiah spesial dari guru bk, sahut pikiran Yuki yang lain. Gadis itu memijat pelipisnya frustasi.
"Hachibara san kamu tidak apa-apa?." Tanya Ueno khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Yuki
"Ueno chan ternyata kamu sudah ada disini." Kata Natsume yang sudah berada diantara mereka.
"Ung, waah Natsume chan kamu membuatku iri." Celetuk Ueno, Yuki menoleh menatap Natsume penasaran.
"Pinggangmu kecil sekali, perutmu juga rata." Ueno menusuk-nusuk perut Natsume dengan telunjuknya membuat sang empu menggeliat tertawa geli.
Aku harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini tapi, sangat sulit, batin Yuki membuang nafas kasar.
Di sisi lain banyak anak laki-laki yang melihat kelakuan kedua teman Yuki itu.
Yuki mengedarkan pandangannya sekilas melihat betapa banyak orang yang berada di gedung itu.
"Hazuki, kenapa banyak orang asing disini?." Pertanyaan Yuki menghentikan kegiatan mereka.
"Ini kelas renang pertamamu jadi wajar kalau kamu tidak tahu." Ujar Natsume mendekati Yuki.
"Pelajaran renang selalu digabungkan dengan kelas lain dan kelas kita digabung dengan dua kelas lainnya. Karena sekolah ini memiliki kolam renang yang sangat besar jadi wajar saja jika tiga kelas disatukan." Jelas Natsume, Yuki mengangguk menatap kolam renang super besar itu. Ingin masuk kedalam sana, batinnya sedih.
Suara peluit membuat mereka berkumpul sesuai kelas masing-masing. Pak guru mengabsen anak satu persatu dari kelas 2-5, 2-3, dan terakhir 2-1.
"Hachibara Yuki san." Panggil pak guru.
"Hai'." Jawab Yuki.
"Kenapa kamu tidak mengganti bajumu?." Tanya pak guru, otomatis semua mata tertuju kepada Yuki.
Yuki perlahan maju ke depan membisikan alasannya kepada guru olah raga, ia tidak ingin banyak orang yang terbohongi olehnya. Syukurlah pak guru mengerti akan kondisi yang Yuki jelaskan, gadis itu dibiarkan begitu saja tanpa adanya masalah. Absen terus berlanjut.
"Ne Yu chan, lihat perempuan yang ada didalam kolam renang." Kata Natsume tiba-tiba.
Yuki, Natsume, dan Ueno sedang duduk dipinggir kolam agak jauh dari air, menonton para duyung-duyung yang sedang bermain didalam kolam renang.
Pelajaran penilaian berenang gaya bebas sudah berakhir dengan cepat.
"Yang mana?." Tanya Yuki.
"Yang ditengah." Yuki dan Ueno mengikuti arah yang dimaksud Natsume.
"Bukannya mereka bertiga yang kemarin ke kelas kita?." Tanya Ueno.
"Ya, mereka orangnya. Mungkinkah mereka satu kelas."Ujar Natsume terlihat kesal.
"Bukan, jelas-jelas tadi pak guru mengabsen mereka dikelas yang berbeda." Sahut Yuki.
"Bagaimana kamu bisa tahu?." Tanya Natsume, Natsume dan Ueno menatap Yuki penasaran.
"Aku hafal suara mereka." Jawab Yuki.
"Heeh .., telingamu setajam serigala hutan." Celetuk Natsume, Yuki melirik Natsume seraya mengangkat satu alisnya tidak terima.
"Sudah aku katakan, berhenti mengangkat satu alismu." Protes Natsume.
Bukannya Yuki menurunkan alisnya ia malah menaik turunkan satu alisnya menggoda Natsume.
"Kenapa dengan alisku hm?." Ucap Yuki dengan nada menggoda.
"Berhenti kataku." Titah Natsume. Yuki menusuk-nusuk perut Natsume dengan ujung jarinya membuat sang empu tertawa geli.
"Menghentikan apa maksudmu Hazuki." Ledek Yuki semakin gencar menggelitik Natsume. Ueno yang melihat teman-temannya bersenang-senang ikut bergabung dengan Yuki menggelitiki Natsume.
"Hahaha." Yuki dan Ueno tertawa melihat ekspresi Natsume yang lucu karena terus tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Banyak yang melihat ketiga perempuan itu bercanda tertawa ceria, banyak yang terhipnotis dengan mereka, tapi juga ada beberapa orang yang tidak suka.
Yuki benar-benar tertawa lepas, senyum manisnya mengembang menunjukan deretan gigi putih rapih, ditambah mata yang membentuk bulan sabit menambah kesan manis diwajahnya.
DEG.
Yuki tersadar, ia terakhir tertawa lepas seperti itu saat bersama Dimas dan anak-anak panti ditaman kota.
Ueno berhenti menggelitik Natsume, gadis itu memberikan kode kepada Natsume untuk menyerang Yuki diam-diam, Natsume mengangguk mantap.
Padahal hanya tinggal beberapa senti jari mereka berhasil menggelitik Yuki tapi gadis itu menggagalkan rencana mereka dengan tiba-tiba membuat gerakan gunting batu kertas yang otomatis Natsume dan Ueno mengikuti permainan gadis itu.
"Jang keng pong!." Ucap Yuki mengagetkan keduanya.
"Yey, aku menang." Seru Ueno, Yuki beralih menatap intens Natsume yang dibalas oleh Natsume tidak kalah intensnya.
"Jang keng pong!." Seru Natsume mengeluarkan batu sedangkan Yuki megeluarkan kertas. Natsume bergeming sebentar, Yuki mengangkat tangannya yang mengeluarkan kertas menggerakan jari-jarinya ke depan dan ke belakang menggoda Natsume.
"Bye bye Hazuki. Sampai dikelas nanti." Ucap Yuki beranjak berdiri.
"Ayo Ueno san." Yuki mengajak Ueno untuk pergi.
"Yu chan mau kemana, jam pelajaran belum selesai." Protes Natsume yang masih tidak terima dikerjai seperti itu.
"Jangan mengangkat alismu!." Teriak Natsume dengan wajah yang ditekuk. Yuki tertawa berjalan pergi bersama Ueno.
"Kalian benar-benar akan meninggalkanku?." Teriak Natsume lagi.
"Aku duluan Ueno san." Pamit Yuki.
"Ung, aku ganti baju dulu." Jawab Ueno.
Natsume yang diabaikan sekaligus menjadi bulan-bulanan kejahilan Yuki mulai merasa kesal.
"Yu chan. Apa kamu anak kecil, berhenti tidak!." Rajuk Natsume dibelakang Yuki dan Ueno. Yuki menyeringai, suara Natsume yang sedang merajuk terdengar imut ditelinganya membuat Yuki ingin terus menjahili gadis itu. Yuki membalikan badan seraya menjulurkan lidahnya dan menutup salah satu mata menggoda Natsume.
"Wleee." Ledek Yuki dengan senyum yang ditahan.
Imutnya .., batin orang-orang yang sejak tadi memperhatikan interaksi ketiga gadis itu.
Sial kenapa kamu imut banget sih, mau marah nggak bisa kan, batin Natsume.
Hachibara san bisa berekspresi seperti itu ternyata, batin Ueno.
"Yu chan! tidak adil." Teriak Natsume, Yuki meninggalkan gedung kolam renang dengan senyum merekah diwajahnya.
***
Singapura 4:00 p.m.
Sore hari di Orchard road pusat ritel di singapura dengan outlet yang memberikan diskon di bulan ini, butik kelas atas, dan masih banyak lagi, tempat dimana banyak turis yang mengunjungi tempat itu sebagai salah satu tempat wisata untuk membeli oleh-oleh.
Sebuah rombongan yang cukup besar berpencar membagi kelompok kecil-kecil menjelajahi tempat itu.
"Lo mau coba masuk kesana?." Tanya Heru kepada Dody yang terlihat berbinar-binar menatap sebuah outlet sepatu.
"Tapi gue nggak yakin bisa beli sih." Dody cemberut mengingat uang saku yang diberikan oleh orang tuanya.
"Jangan pesimis begitu bro, kita lihat saja dulu." Ucap Heru menepuk pundak Dody.
Dody yang mendapatkan kepercayaan diri dari sahabatnya kini menatap tajam outlet dihadapannya.
"Ayo kita masuk." Ucap tegas Dody yang diangguki oleh Heru.
Dody melangkah dengan percaya diri memasuki outlet diikuti oleh Heru dan Fathur dibelakang mereka. Namun sebuah tangan mencengkeram kuat lengan Fathur menyeretnya menjauh dari gerombolan teman-temannya.
Fathur yang terkejut meronta mencoba melepaskan diri tapi kekuatannya tidak sebanding dengan laki-laki yang menyeretnya. Fathur menyesal kenapa dia meninggalkan benda bulat yang selama ini mengikutinya di rumah.
Hanya ada satu cara yang bisa Fathur ambil dalam situasi seperti ini, ia membuka mulutnya hendak berteriak minta tolong tapi dengan gerakan cepat dan kuat laki-laki itu mengalungkan lengannya dileher Fathur membekap mulutnya dengan kain.
Fathur terkunci, ia tidak bisa melakukan perlawanan.
Sial, rutuknya.
Fathur melirik laki-laki berbaju serba hitam dengan jaket yang menutupi kepala dan masker hitam yang menutupi wajah laki-laki itu.
Ia terus diseret sampai ke sebuah gang kecil dan sepi.
Apa dia salah satu penjahat yang mencari Eva, apa dia berniat mengintrogasiku, hal yang terburuk adalah menjadi sandera, batin Fathur.
Fathur tidak boleh tertangkap, dia harus cepat lepas dari orang ini.
Fathur melihat ada kesempatan saat laki-laki itu mengendurkan tangannya, dengan gerakan tiba-tiba Fathur mencengkeram tangan laki-laki itu yang melingkar dilehernya memelintir tangan itu seraya tubuhnya bergerak lepas dari cengkeraman laki-laki tak dikenal.
Fathur yakin gerakannya sangat sempurna, belum ada yang bisa lepas dari gerakan itu kecuali Eva, tapi laki-laki itu dengan mudahnya mengikuti gerakan Fathur membuat gerakannya sia-sia, setidaknya Fathur bisa lepas.
Fathur melayangkan tinjunya yang ditangkis dengan mudah. Fathur semakin yakin dengan dugaanya bahwa laki-laki itu pasti salah satu penjahat yang mencari Eva.
Fathur melayangkan tinjuan ke dua secara bertubi-tubi kepada laki-laki itu. Dengan tendangan kuat mengarah ke wajah sebelah kiri incarannya, ia yakin pasti akan mengenainya telak.
"Thur! ini aku!." Seru laki-laki itu sambil tangannya menahan kaki Fathur yang sudah berada disamping wajahnya.
Fathur menghentikan kakinya diudara, ia sudah lama tidak mendengar suara itu tapi seketika keraguan merasuk kedalam hatinya.
"Siapa kau!." Tanya Fathur dengan nada dingin.
Laki-laki itu membuka tudung jaket dan menarik kebawah masker hitamnya menunjukan wajah dibalik masker itu. Fathur bergeming.
"Lama tidak bertemu. Bisa kamu turunkan kakimu?." Fathur menurunkan kakinya perlahan.
"Bagaimana kabarmu?, aku tidak tahu loh kamu bisa bela diri seperti ini." Fathur menatap tajam laki-laki didepannya yang berbicara seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Bisa kamu jelaskan apa maksud semua ini, Ega?." Tanya Fathur senormal mungkin, bukannya Fathur senang sahabat yang ia rindukan dan sering ia pikirkan berdiri dihadapannya tapi malah rasa marah yang menggebu didalam dirinya memberontak ingin keluar.
"Aku ingin bicara berdua denganmu, karena aku tidak bisa menghubungimu dan aku juga tidak memiliki banyak waktu aku terpaksa menculikmu." Jelas Ega menyandarkan punggungnya ke dinding gedung disampingnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?." Tanya Fathur, Ega menundukan wajahnya sedikit ragu lalu dengan perlahan ia menarik nafas panjang.
"Kamu tahu dimana Eva sekarang?." Pertanyaan Ega membuat amarah Fathur semakin bertambah ia mengepalkan tangannya menahan semua perasaannya.
"Aku sudah berusaha mencarinya kemana-mana, berusaha melacak keberadaannya, tapi aku tetap tidak bisa menemukannya thur." Suara Ega sedikit bergetar. Fathur berusaha menenangkan dirinya, ia yakin pasti ada alasan kuat kenapa sahabatanya itu tega meninggalkan saudari kembarnya yang sangat Ega cintai.
"Kenapa kamu mencarinya, setelah kamu meninggalkan dia seperti itu?." Tanya Fathur.
"Aku tidak punya pilihan saat itu, aku harus pergi." Jawab Ega yang masih menunduk.
"Apa tante Ayumi yang memintamu pergi?." Fathur menatap wajah sahabatnya.
"Hm."
"Dan kamu mau-mau saja menurutinya?." Fathur merasa bola matanya mulai terasa panas.
"Hm."
"Dengan berbohong dan diam-diam pergi seperti itu?." Fathur tidak paham dengan perilaku sahabatnya yang sangat menurut kepada ibunya itu yang jelas-jelas salah.
"Hm, kalau tidak seperti itu, Yuki tidak akan membiarkanku pergi." Jawab Ega.
Fathur melayangkan tinjunya sekuat tenaga.
PLAK!!.
Ega menangkap tinju Fathur tepat didepan wajahnya dan menggesernya sedikit ke samping.
"Kamu boleh marah kepadaku thur tapi tidak dengan memukulku, aku tidak akan membiarkanmu melukaiku sedikit pun karena nanti Yuki pasti akan ikut merasakannya." Ucap Ega seraya mengangkat wajahnya menatap tepat kedalam manik hitam Fathur.
Tangan Fathur bergetar, ia menariknya dan beralih mencengkeram jaket Ega mendekatkan wajah mereka. Rahang Fathur mengeras, tatapan matanya sangat tajam. Melihat wajah Ega yang sangat dekat seperti itu memutar memori satu tahun lalu saat Eva mengamuk dan kesakitan, bau darah yang amis masih melekat dikepala Fathur dan ia hanya berdiri tidak bisa melakukan apa-apa. Sangat menyedihkan.
"Ini tidak adil ga." Lirih Fathur tepat didepan wajah Ega.
"Sial." Geram Fathur melepaskan cengkeramannya dari jaket Ega dengan kasar. Fathur mulai melampiaskan amarahnya kepada dinding digang sempit itu menendang dan meninjunya berkali-kali.
"Ugh!. Sial!." Teriak tertahan Fathur terus meninjunya.
Ega menyandarkan kembali tubuhnya ke dinding menunggu sahabatnya melepaskan semua emosinya.
"Huh huh huh." Fathur mengatur nafasnya berjalan menghampiri Ega ia menyandarkan tubuhnya disamping sahabatnya itu.
"Huh huh huh huh." Fathur merosot, berjongkok meletakan kedua tangannya diatas lutut menunduk menatap semut yang berjalan diantara kedua kakinya.
"Huh huh huh."
Hening.
"Kenapa kalian seperti ini?. Apa yang membuat kalian menjadi seperti ini?. Aku kira aku sudah dekat dengan kalian, tapi nyatanya tidak. Aku tidak bisa membantu meskipun aku sangat ingin." Ucap Fathur mulai membuka mulutnya.
"Kenapa kalian terus berjuang sendiri?. Kenapa kalian selalu menyakiti diri sendiri?." Lanjut Fathur.
"Ga, terakhir aku melihatnya. Dia hancur." Suara Fathur bergetar, ia mengepalkan satu tangannya kuat-kuat. Ega membeku menatap sahabatnya yang terduduk lemah.
"Fisik dan jiwanya." Satu tetes air mata lolos dari ujung manik Fathur.
"Aku tidak bisa menolong Eva." Suara Fathur tercekat.