
Fathur terdiam, banyak yang ingin ia tanyakan kepada Yuki namun sangat sulit untuk memilih mana yang lebih dulu ia tanyakan.
"Setelah keluar dari rumah sakit pulang dan ambil bolanya. Aku akan memesan tiket bolak-balik untukmu." Fathur melirik Yuki.
"Aku bertemu Ega satu tahun yang lalu." Yuki melebarkan matanya. Fathur berusaha untuk duduk, Yuki tersadar ia segera membantu laki-laki itu.
"Di singapur, dia mencarimu." Lanjut Fathur. Yuki duduk di pinggir ranjang menghadap dinding polos di sebrang sana.
"Dia bilang, dia kabur dari tante Ayumi, dan bersembunyi dari om Daren." Yuki mengepalkan sebelah tangannya mendengar nama itu.
"Ega sangat mengkhawatirkanmu."
Hotaru masih hidup, tentu saja. Aku tahu dia pasti bisa sembuh, batin Yuki.
"Bagaimana keadaannya?." Fathur melirik wajah datar Yuki.
"Dia tidak baik-baik saja, kalian tidak baik-baik saja." Fathur menekan kalimat terakhirnya.
"Kamu menceritakannya?." Fathur masih menatap wajah datar yang berubah dingin itu.
"Ya, aku mengatakan semuanya yang aku lihat."
"Apa yang dia katakan?."
"Ega tidak banyak bicara, setelah aku menceritakan semuanya dia pergi tanpa mengatakan kemana tujuannya." Yuki menghela nafas panjang.
"Ambil bola itu thur, aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi. Jepang sedang tidak aman." Ujar Yuki menoleh pelan menatap manik gelap itu.
"Apa dua bola lainnya masih mengikuti ibu dan pak Dani?." Fathur kembali terhipnotis dengan manik biru itu.
"Hm."
"Kenapa kamu ke sini?, masih banyak universitas terkenal di luar sana kenapa harus di jepang?." Manik tegas dan dewasanya membuat Yuki merasa aneh.
"Karena mungkin kamu ada di sini, dan tebakanku benar." Jawaban Fathur membuat Yuki membuang wajahnya malas.
"Bodoh."
"Sudah berapa lama hubungan kalian?." Fathur terkejut.
Bagaimana dia tahu?, Tiara sudah menceritakannya?, batin Fathur.
"Dasar bodoh. Tiara belum mengatakan apa pun, melihat sekilas saja sudah jelas. Kalian berpacaran." Jelas Yuki menjawab keterkejutan Fathur. Laki-laki itu membuang wajahnya menatap ke luar jendela.
"Enam bulan." Jawab Fathur.
"Jangan sakiti Tiara, dia tulus denganmu. Berhenti memikirkan aku dan fokus dengannya." Jleb!. Kalimat Yuki menusuk hati Fathur.
Aku selama ini sudah mencobanya, tapi sangat sulit. Kalau bukan Heru dan Ega yang memintaku untuk melepasmu aku tidak akan menerima Tiara, ini tidak mudah buatku, batin Fathur tertekan.
"Bagaimana kabar ibu dan pak Dani?." Tanya Yuki.
"Mereka baik-baik saja." Yuki tersenyum kecil.
"Syukurlah."
Baru saja di bicarakan ponsel Fathur bergetar. Laki-laki itu mengangkatnya.
"Ya bu." Deg!. Yuki melirik Fathur.
"Sudah kok, kami di sini baik-baik saja." Fathur melihat Yuki sebentar, mengulurkan ponselnya. Yuki menggeleng kuat jari telunjuknya di letakan di depan mulut. Fathur paham, ia meloud speaker ponselnya agar Yuki bisa mendengar suara ibunya.
"Di sana sebentar lagi malam kan, jangan telat makan malam. Kamu bisa beradaptasi dengan makanan di sana?." Yuki menatap ponsel di tangan Fathur.
"Iya bu, tidak ada masalah dengan itu. Ibu belum tidur?."
"Belum, baru jam delapan terlalu cepat buat tidur."
Ibu, Yuki kangen, batin Eva menahan gejolak di hatinya.
"Di sana sedang dingin jangan lupa coklat hangatnya kalau habis nanti ibu kirimkan dari sini."
"Masih banyak bu, dua minggu lagi kayaknya Fathur pulang, ada barang yang tertinggal di rumah." Yuki tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
"Biar ibu paketkan saja dari rumah, tiket pesawat mahal nak." Yuki tersenyum mendengar suara khawatir Dila.
"Ada orang lewat yang menawarkan tiket gratis bu, lumayan." Yuki mendelik menatap Fathur, laki-laki itu tersenyum puas.
"Di sana banyak orang baik yang lewat ya, syukurlah." Yuki mengangkat satu alisnya mendengar komentar Dila.
Bu, anakmu itu baru di keroyok sama preman lewat loh, batin Yuki membalas Dila.
Fathur tertawa lirih melihat ekspresi Yuki.
"Mana ada orang baik bagi-bagi tiket gratis." Terdengar celetukan suara Dani. Yuki tersenyum senang bisa mendengar lagi suara mantan gurunya.
"Dani, jangan pulang malam-malam ibu tidak mau sendirian di rumah." Suara Dila berubah khawatir.
"Iya ibuku sayang, cuman mau nganterin martabak." Suara Dani sangat jauh hampir tidak terdengar.
"Kenapa Gia tidak beli sendiri?." Seru Dila.
"Sekarang hari ulang tahunnya bu, aku kasih kado martabak terus langsung pulang!." Terdengar teriakan Dani.
"Kakakmu itu nggak modal thur. Kado ulang tahun kok martabak." Gerutu Dila, Yuki semakin mendekatkan kepalanya ke ponsel ingin lebih jelas mendengar suara yang dirindukannya.
"Bicaralah." Lirih Fathur mendorong ponselnya ke arah Yuki. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kamu bicara sama siapa thur?. Tiara?." Yuki kaget melirik layar ponsel.
"Kenapa Tiara nggak ngomong sendiri sama ibu, kenapa bisik-bisik sama kamu?." Entah kenapa Yuki menelan salivanya.
"Nak Tiara, kenapa tidak bicara sama tante?." Yuki tersenyum tipis. Mendorong kembali ponsel ke arah Fathur.
"Lebih baik ibu tidak tahu, untuk melindunginya." Ucap Yuki lirih hampir seperti bisikan. Fathur menatap sejenak manik biru itu.
"Fathur, dimana Tiara?." Yuki mengedikkan maniknya ke arah ponsel.
"Ya bu, Tiara sedang ada urusan dengan keluarganya. Bu, besok Fathur telfon lagi ya." Ucap Fathur.
"Baiklah, jangan lupa makan ya nak."
"Ya bu. Sehat-sehat di rumah."
"Kamu juga di sana."
Tuuuttt. Sambungan terputus.
"Siapa Gia?." Fathur menyimpan ponselnya kembali.
"Pacar kak Dani." Yuki mengangguk paham.
"Istirahatlah aku harus pergi." Ucap Yuki beranjak berdiri.
"Va." Fathur menatap punggung itu.
"Hm?."
"Bisakah kalian berhenti saling menyakiti diri sendiri?."
"Apa maksudmu?."
"Apa aku tidak bisa membantu?." Yuki terkekeh kecil menoleh kepada laki-laki itu.
"Melawan preman kecil seperti mereka saja kamu sudah babak belur, apa yang kamu pikirkan ingin membantu?." Balas Yuki.
Zeb!. Sebuah jarum menancap di dinding di belakang Fathur.
"Kamu lihat, menghindar dari jarum kecilku saja kamu tidak bisa. Berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak, jalani hidup normalmu dan jaga Tiara dengan baik. Tiara adalah teman masa kecilku jauh sebelum aku pindah ke indonesia, jangan membuatnya menangis." Kata Yuki tegas. Kakinya berjalan hendak keluar.
"Bagaimana dengan penyakitmu?." Srobot cepat Fathur menghentikan langkah Yuki.
"Apa sudah sembuh?." Lanjutnya.
"Terima kasih untuk semua pertolonganmu, aku sudah baik-baik saja." Jawab Yuki dan pergi meninggalkan Fathur.
***
Di restoran dekat dengan rumah sakit Dazai berbincang-bincang dengan Heru dan Dody. Keduanya menjawab dengan logat indonesia masih belum terbiasa berbicara menggunakan bahasa jepang. Ketiganya sangat asik hingga mengabaikan gadis bermanik biru itu.
"Eva."
"Hm?." Yuki sedang bermain dengan ponselnya.
"Dokter ini siapanya lo?, baik banget orangnya. Jangan-jangan lagi PDKT ya sama lo?." Yuki melirik Dody.
"Eva?, dare? (siapa?)." Dazai menatap Dody dan Yuki bergantian.
"Dody san nani o itta? (Dody bilang apa?)." Dazai menatap bingung Yuki.
"Dai chan, itu namaku yang lain kamu ingat?." Dazai berpikir sebentar.
"Agh, dari Daren do .., ekhem. Daren san." Dazai hampir keceplosan menyebutkan pangkat dono di belakang nama Daren.
Yuki memilih menjawab Dody dengan suara lirih ia tidak ingin sedikit-sedikit menerjemahkan kepada Dazai dari bahasa indonesia ke bahasa jepang.
"Begini, kalian buat surat lamaran kerja dan kirimkan ke alamat ini, nanti biar aku yang bicara dengan kepala bagian. Mungkin kalian juga diminta untuk wawancara ke restoran. Setelah itu tunggu kabar baiknya, semangat ya." Jelas Dazai kepada Heru dan Dody.
"Waaahh, ngelamar kerja pakai jalur orang dalam memang paling mantap." Celetuk Heru mengacungkan jempolnya kepada Yuki.
"Tidak juga, kalian bisa masuk tapi kalian juga gampang ditendang jika tidak kompeten." Balas Yuki tajam.
"Waduh, lo serem va. Iya .., kita tahu kok bagaimana kinerja perusahaannya pak Daren yang sangat terkenal. Tapi setidaknya terima kasih banyak loh, sudah bantu kita." Balas Dody tersenyum lebar.
"Ojou chan sudah malam, saya antarkan pulang." Perhatian mereka beralih kepada Dazai.
"Tidak, aku bawa mobil Tsuttsun. Kamu bisa antarkan mereka?." Tanya Yuki.
"Baik, hati-hati di jalan." Ucap Dazai berjalan ke kasir.
"Terima kasih lagi va, sudah di traktir." Ucap Dody.
"Bukan aku kok yang bayar. Maaf ya nggak jadi ngajak main ke rumah." Kata Yuki.
"Nggak apa-apa, lain kali bisa kan?." Yuki hanya tersenyum simpul.
"Va, bisa bicara sebentar?." Yuki melirik Heru, mengangguk kecil lalu keluar restoran.
"Ada apa?." Tanya Yuki.
"Kalian sudah bicara?." Yuki menaikan satu alisnya.
"Tentang Fathur sama Tiara." Yuki langsung paham ia mengibas-ngibaskan tangannya.
"Jangan khawatir aku mendukung mereka kok. Aku juga tidak akan sering-sering bertemu mereka, untuk menjaga perasaan Tiara." Jelas Yuki, Heru kaget ternyata Yuki langsung paham dan peka dengan maksud yang ingin ia bicarakan.
"Lo masih belum bisa lupain Dimas?." Yuki tersenyum kecil.
"Ya."
"Sorry kalau gue terlalu lancang bicara kayak tadi." Heru menatap Yuki.
"Tidak masalah, kamu sangat memperhatikan temanmu."
"Itu karena Fathur masih belum bisa lupain lo sampai sekarang."
***
Pelatihan musim dingin membuat tulang yang dingin tambah terasa linu karena dinginnya udara, Yuki selalu menjadwal latihan para pitcher tim inti bersamanya secara bergantian setelah latihan sore, lalu di lanjutkan latihan bersama yang lain.
Yuki di beri tugas untuk mengawasi latihan Inuzuka berlari sejauh tiga kilometer, mengawasinya menggunakan sepeda, dan disinilah Yuki berakhir. Menatap horor sepeda mini berwarna biru muda di hadapannya.
"Ayo senpai." Ajak Inuzuka yang baru selesai pemanasan.
"Are?, manajer kita tidak bisa naik sepeda?. Hohoho." Yuki melirik Kudo yang mengejek dirinya.
"Ara ra, siapa yang bicara ini. Baru boleh ikut latihan lari memutari lapangan saja sudah heboh." Sindir balik Yuki.
"Kudo Kotaro!, berhenti menyakiti senpai." Bela Inuzuka, Yuki berjongkok untuk mengikat tali sepatunya lebih kencang.
"Oi!, junior kurang aj*r. Aku juga senpaimu, kenapa cara bicaramu selalu lancang heh." Protes Kudo.
"Laki-laki dengan pikiran licik sepertimu tidak pantas di panggil senpai." Balas Inuzuka yang memiliki dendam pribadi kepada Kudo karena sering di kerjai oleh seniornya itu.
Yuki melakukan peregangan sebentar sambil menonton perdebatan kecil senior dan junior itu. Anehnya mereka selalu kompak saat di lapangan bahkan melebihi ekspektasi semua orang, seperti satu jiwa dalam dua tubuh.
"Inuzuka kun, ayo berangkat." Yuki selesai dengan pemanasannya.
"Eh?!, senpai ikut lari?. Lebih baik jangan, itu sangat jauh loh." Yuki tersenyum, mulai berlari sebelum beradu mulut lagi dengan Kudo.
Inuzuka cukup terkejut seniornya bisa mengimbangi langkah larinya dalam jarak tempuh yang tak pendek tanpa berhenti. Tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah.
Sakura sudah menunggu mereka dengan dua botol minuman dan handuk putih. Yuki segera memberikan botol dan handuk itu kepada Inuzuka lebih dulu. Yuki yang merasa kepanasan melepas jaket tim baseballnya, semua manajer memiliki jaket tim. Lalu Yuki mengaitkan jaket itu di pinggangnya.
"Keringat senpai sangat banyak." Ujar Sakura menatap Yuki tanpa berkedip.
"Hmm, maaf boleh pinjam ikat rambutmu?. Ini panas sekali." Ujar Yuki menerima ikat rambut Sakura dan langsung mengikat rambutnya kucir kuda.
"Waaah, kulit senpai seperti es yang di aliri air, sangat indah." Celetuk Sakura.
"Hmm?." Yuki tidak terlalu menanggapi ia meneguk air di botolnya dan mengelap keringat sekenanya.
"Inuzuka kun segera ke lapangan." Titah Yuki. Inuzuka yang mengagumi Yuki yang sedang berkeringat pun tersadar. Meski para pemain sudah sering melihat pemandangan itu setelah manajernya sangat aktif di klub masih saja mereka belum bisa terbiasa melihat pemandangan menakjubkan itu, apalagi mereka laki-laki normal.
Puk. Yuki menepuk pelan pundak Sakura.
"Terima kasih." Ucap Yuki menyusul Inuzuka ke lapangan. Meninggalkan Sakura yang sudah mendedikasikan dirinya sebagai fans Yuki tersenyum senang di sentuh oleh idolanya.
"Oi oi oi, kamu sedang menggoda kami manajer?." Ledek Kudo. Yuki kini mengabaikan sindiran pemuda itu.
"Kamu berlatih denganku kapten, lenganmu harus mulai berlatih kembali." Yuki berjalan melewati Kudo.
Kudo langsung paham Yuki dalam mode manajer seriusnya, gadis itu memanggilnya kapten tanpa embel-embel ejekan di belakangnya. Kudo mengikuti Yuki dari belakang.
"Pemanasan seperti biasa." Titah Yuki. Kudo segera melakukan pemanasan baru setelah ia mendapatkan cedera.
"Lakukan gerakkan mengayun." Kudo berpura-pura memukul bola.
"Stop." Yuki mendekat tangannya memeriksa lengan Kudo menekan-nekan area sekitar tempat cedera.
"Kamu meminum minuman yang aku berikan dengan teratur kan?." Kudo melirik Yuki.
"Ya. Kamu memberikannya sehari tiga kali sayang buat di buang." Yuki mengangguk pelan.
"Sekarang latihan memukul denganku." Yuki berjalan ke sisi lapangan yang lain membawa sekotak penuh bola.
Kudo mengambil pemukul dan menyusul Yuki yang sudah duduk di atas kotak kosong yang terbalik. Yuki mulai melambungkan bola, Kudo dengan santai memukul bola itu.
"Kamu kapten, catcher, dan pemukul ke empat, bebanmu sangat berat. Kurangi cara bicara pedasmu agar teman-teman yang lain bisa mengerti dirimu." Saran Yuki membuka obrolan.
"Haha, benarkah. Aku sudah terbiasa seperti ini." Jawab Kudo.
"Berpura-pura kejam tapi baik hati. Gengsimu lebih tinggi dariku."
Pang. Bola terpukul.
"Aku anggap itu pujian langka darimu manajer. Aku tidak bisa menjadi seperti Yuuki senpai yang peka dan pengertian kepada anggota lain sekaligus menanggung beban berat seorang kapten, pemukul ke empat, dan memikul harapan besar para pemain."
Latihan selesai, Yuki sedang merendam dirinya, memikirkan kembali rencananya untuk dua minggu mendatang. Besok adalah latihan terakhir, akhirnya Yuki akan pulang kerumah, ia merindukan kucingnya dan Je.
Yuki memakai baju bebas, kaos pendek polos dan celana panjang training. Berjalan memasuki kantin. Para pemain sudah selesai menghabiskan makan malam mereka. Selang beberapa detik Mizutani dan Suzune masuk ke dalam kantin. Rapat dimulai.
Mizutani mengevaluasi latihan mereka, kekurangan dan kelebihan masing-masing pemain inti lalu membahas pertandingan yang akan mereka lakukan di penyisihan babak pertandingan jingu (jingu stadion) nanti. Mizutani mengumumkan, di pertandingan jingu Kudo tidak di ikut sertakan bahkan tidak menempati bangku cadangan.
"Yuki." Panggil Mizutani.
"Baik." Jawab Yuki yang paham tugasnya.
Gadis itu segera memakai kedua tangannya untuk menulis grafis dan beberapa keterangan di papan tulis, kedua tangannya bergerak sendiri-sendiri, untuk menghemat waktu pikir Yuki.
"Dan menurut saya pemain yang akan ikut bertanding adalah mereka." Yuki menunjuk daftar nama yang ia tulis. Mizutani membacanya.
"Baik, nama-nama yang tertulis akan bermain di pertandingan nanti tapi saya akan mengganti satu nama," Mizutani melanjutkan meetingnya.
Meeting selesai Yuki segera menyeret Kudo untuk mendiskusikan strategi mereka selanjutnya, bukan untuk pertandingan jingu namun untuk pertandingan di koshien nantinya. Kapten dan manajer itu duduk memisahkan diri, tenggelam ke dalam diskusi mereka.
"Senpaaaiii." Inuzuka berlari menghampiri keduanya.
"Hm?." Yuki melirik sebentar.
"Malam ini ajari aku jenis lemparan baru." Pinta Inuzuka menatap Yuki memohon.
"Ung, nanti aku akan menangkap lemparanmu." Jawab Yuki.
"Malam ini jadwalku berlatih dengan senpai." Nakashima tiba-tiba sudah berdiri di samping Inuzuka.
"Minta sama Kurokawa san untuk menangkap lemparanmu Nakashima kun. Lemparan breaking ballmu masih mentah, setelah sempurna kamu bisa latihan lagi denganku." Jawab Yuki tegas.
***
Pertandingan jingu dimenangkan oleh sekolah serigala, setelah melewati pertandingan yang cukup sengit.
Tanggal dua puluh tiga malam ini Yuki bersama Dazai pergi ke markas bayangan, Yuki akan mengambil barang terakhir hasil eksperimennya yang akan menjadi peran utama dalam rencananya. Tak di sangka Yuki di sambut oleh semua bayangan di dalam markas, untunglah ia memakai penyamaran lengkap tanpa topeng. Maniknya menatap malas Mizutani yang ia yakini sebagai biang kerok, membocorkan kedatangannya.
"Selamat datang ojou sama!." Semua orang berlutut seperti sebelumnya.
"Kalian tidak perlu melakukannya, aku hanya akan mengambil barangku lalu pergi." Ujar Yuki berjalan ke arah pintu bengkel mengabaikan mereka.
"Kami mengabdikan kekuatan kami untuk anda." Seru Mizutani. Yuki berhenti sebentar.
Malam ini akan panjang, merepotkan, batin Yuki kembali melanjutkan langkahnya memasuki bengkel.
Ceklek.
Yuki kembali dengan ransel yang terlihat penuh. Para bayangan masih dalam posisi yang sama, berlutut di lantai tak bergerak. Yuki berjalan hendak meninggalkan mereka namun kakek Ryuu mengatakan sesuatu yang membuat Yuki seketika menghentikan langkahnya.
"Tuan besar menitipkan anda kepada kami. Anggota bayangan bukanlah sekumpulan orang-orang yang ingin keluar dari kediaman utama untuk mengejar impian egois masing-masing." Yuki membalikan badannya menatap kakek Ryuu yang masih menundukkan kepalanya.
"Saya yang memberikan saran kepada tuan besar untuk membentuk pelindung khusus untuk anda. Pemimpin bayangan yang di sana adalah orang yang berhasil mengalahkan saya sebagai pelindung teratas klan, dulu. Maukah anda mendengarkan kami sebentar?." Yuki diam untuk beberapa saat.
"Berdilah." Titah Yuki dengan suara serak kasar dari alat eksperimennya.
Para bayangan berdiri lalu membungkuk dalam sebelum menegakkan tubuh mereka. Dazai menuntun Yuki untuk duduk di kursi yang biasa Mizutani duduki, setelah itu Yuki menyuruh mereka duduk dengan gerakkan kecil dari jarinya.
"Ojou san, Daren dono telah memberikan perintah baru kepada kami untuk melindungi anda sepenuhnya." Mizutani langsung membuka inti pembicaraan.
"Karena itu," Yuki langsung mengangkat tangannya. Mizutani terdiam seketika.
"Kamu tidak lupa dengan kesepakatan kita bukan." Ucap Yuki tanpa melirik Mizutani.
"Ya, ojou san."
"Kesepakatan kita masih sama. Aku tidak akan membiarkan kalian ikut campur dalam pertempuran besok." Tegas Yuki.
"Tapi ojou chan." Protes Dazai terpotong oleh suara dingin serak itu.
"Jaga sikapmu Dai chan." Dazai menelan salivanya kasar. Ini pertama kalinya Yuki sangat dingin dan sarkas kepada dirinya.
Yang lain tertegun dengan sikap tuan mereka, gadis kecil yang ramah dan lembut itu kini berubah sangat kuat.
"Kamu pikir dari mana informasi penting itu kamu dapat?." Gertak Yuki.
"Maaf ojou sama. Tapi ini jug," Yuki langsung melayangkan tatapan tajam kepada Ogura.
Hening.
Yuki kembali bicara.
"Aku tidak melarang kalian untuk melindungiku dari jarak lima ratus meter." Para bayangan terlihat tidak suka dengan keputusan Yuki.
"Tidak hanya para pelindung dan kelompok musuh yang akan berada di sana besok malam." Yuki membuka informasi penting lainnya. Para bayangan menunggu Yuki melanjutkan kalimatnya.
"Kelompok orang di balik penyerangan kediaman utama, dan para FBI (Biro Investigasi Federal adalah badan investigasi utama dari Departemen Keadilan Amerika Serikat), juga akan datang." Semua orang terkejut.
"Fbi mencium pergerakan kelompok Naga putih kelompok dalang penyerangan kediaman utama. Fbi sudah sejak lama mengincar kelompok naga putih yang telah mencari gara-gara dengan fbi, mencuri informasi penting mereka dan alat tempur canggih yang baru berhasil mereka buat."
Hening.
"Mungkin bukan hanya fbi yang akan berada di sana, tapi anggota intelejen dari negara lain. Tujuan mereka hanya satu, kelompok naga putih." Yuki mengamati wajah para bayangan.
"Apa kalian tahu kenapa kelompok naga putih berada di kyoto besok?." Yuki bertanya.
"Membantu klan Yakuza?, tapi kenapa terasa aneh?." Jawab Jojo.
"Memancing mereka. Menjebak klan Yakuza dan klan Hachibara, menjadikan kedua klan sebagai korban untuk menutupi kesalahan mereka." Yuki tersenyum menganggukkan kepalanya kepada Akashi.
"Picik." Umpat Ame.
"Tidak bisa di biarkan." Geram Chibi.
"Tsubaki, kita tidak bisa tinggal diam." Ucap Hiza.
"Prioritas utama kita adalah melindungi ojou san."Jawab Mizutani.
"Benar kata Tsubaki. Kita tidak bisa membiarkan ojou sama terjun ke pertempuran sendirian." Kakek Ryuu membenarkan.
"Keputusanku masih sama. Lima ratus meter atau tidak sama sekali." Tegas Yuki.
"Ojou s!."
SREK!.
Mizutani terdiam kala Yuki menodongkan pistol ke arahnya. Gerakkan tangan gadis itu hampir tak terlihat, bayangan yang lain pasti juga berpikiran yang sama dengannya.
Duk.
Zuuuuutt.
Yuki melempar pistolnya dari atas meja ke arah kakek Ryuu yang duduk di sebrang meja. Kakek Ryuu mengambil dan mengamati pistol itu.
Cetak!.
Kakek Ryuu membuka magazine bukan berisikan peluru namun tumpukan jarum sepanjang satu senti dengan magazine yang sudah di modifikasi sangat rumit dan tertata rapi menimbun lebih dari tiga ratus jarum. Takjub. Satu kata itulah yang mewakili wajah para bayangan.
"Dalam jarak lima ratus meter kalian bisa melihat dengan jelas kelompok selain para pelindung dan Yakuza. Tembak semua orang selain dua anggota kelompok tersebut dengan pistol itu." Ame menoleh menatap Yuki hendak bertanya.
"Mereka tidak akan mati, tapi cukup buat mereka tidak sadarkan diri. Jika kalian melakukannya, kalian bisa melindungi para pelindung dan anggota yakuza, selain itu mereka tidak akan pernah tahu siapa orang yang menembaki mereka, dari mana orang tersebut." Jelas Yuki menjawab pikiran Ame.
"Anda sudah memutuskan untuk memaafkan klan yakuza ojou sama?." Tanya kakek Ryuu.
"Ya, mereka korban hasutan naga putih, para pelindung sudah cukup membalaskan dendam. Korban dari yakuza sudah seimbang dengan korban anggota klan kita. Tidak perlu menambah korban lain, hal itu hanya akan menimbulkan dendam-dendam lain di kemudian hari." Jawab Yuki panjang.
"Sejak dulu memang klan yakuza dan klan Hachibara memiliki hubungan yang baik dalam artian berjalan sendiri-sendiri. Mereka dengan jalan yang mereka pilih sebagai mafia, dan kami dengan jalan yang leluhur kaisar pertama tinggalkan." Jelas Akashi.
"Semua ini tergantung dengan tetua pemimpin di kyoto, jika beliau setuju dengan kesepakatan yang aku ajukan, penyerangan ini selesai. Tapi jika tidak, aku sendiri yang akan menghancurkan mereka." Para bayangan tersenyum puas, lalu membungkuk seraya berseru.
"Baik, kami mengerti. Ojou sama!." Hal itu membangunkan ingatan Yuki. Gadis itu mengambil kotak permen memakannya langsung.
"Apa aku bisa mempercayai kalian?." Tanya Yuki.
"Nyawa kami milik anda." Ucap Mizutani membungkuk lagi.
"Jaga baik-baik pistol ini, aku segera tahu jika kalian menggunakannya untuk hal di luar yang seharusnya." Ancam Yuki.
Gadis itu mengeluarkan delapan pistol yang lain memberikannya kepada masing-masing dari mereka.
"Cukup satu tembakan, peluru itu tidak ada di manapun." Jelas Yuki.
"Anda sudah mempersiapkan ini untuk kami semua?." Tanya Chibi.
"Kemampuan yang belum di akui pasti akan menimbulkan ketidak percayaan meski sudah berulang kali melihatnya, karena itu aku sudah menebak hal ini akan terjadi bukan begitu Tsuttsun." Yuki melirik Mizutani.
"Ya, ojou san." Jawab Mizutani tegas.
"Baiklah sudah selesai, aku mau pergi." Ujar Yuki berdiri dari duduknya.
"Tunggu ojou sama." Yuki menoleh kepada Hiza.
"Jika mereka mengetahui jarum ini, bukankah sangat berbahaya." Yuki tersenyum tipis.
"Ini yang menarik." Ucap Yuki dengan binar di matanya.
"Jarum itu akan masuk ke dalam tubuh melebur mengikuti peredaran darah lalu hancur dalam waktu setengah jam." Kakek Ryuu ikut penasaran.
"Bagaimana dengan efeknya setelah korban tertembak?." Yuki kini menatap kakek Ryuu.
"Cairan yang melumuri jarum akan menyebar sangat cepat seperti peluru yang menembus kepala, korban akan langsung tergeletak." Jawab Yuki tersenyum tipis.
"Kami akan menjaga dan merahasiakan pistol ini." Srobot Mizutani.
"Ung, tolong jaga pistol itu. Dai chan, ayo." Ucap Yuki.
"Baik ojou chan."
"Terima kasih kalian mau mengerti, mohon bantuannya besok." Kata gadis itu membungkuk sekilas lalu pergi.
"Baik!. Ojou sama!." Seru mereka di belakang Yuki.