
Karena tidak mendapatkan tanggapan, Hotaru melanjutkan kalimatnya.
"Mungkin sekarang ibu ada di italia mengurus perusahaan barunya." Jelas Hotaru.
"Aku sempat bertengkar dengan ibu sebelum kabur dari rumah." Hotaru menghentikan kesibukannya dari kertas.
"Aku meminta izin untuk bertemu dengan Yuki tapi ibu melarangku. Aku pun memojokan ibu tentang sikapnya kepada Yuki." Hotaru menegakkan pundaknya.
"Ibu seperti memendam sesuatu sendiri, ia tidak menyangkal saat aku mengatakan ibu membenci Yuki. Tapi, ibu juga bekerja keras mendirikan sendiri sebuah perusahaan menggunakan nama Yuki. Jadi aku tidak bisa mengatakan ibu benar-benar membenci Yuki jika ia masih menyimpan foto-foto kecil kami di kantornya." Hotaru meletakan tangan kanannya di atas tangan kiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan punggung tangan.
"Sebelas tahun yang lalu tepatnya setelah ibu mengurung Yuki di gudang, ia pergi ke swiss bertemu dengan teman kuliahnya yang seorang dokter, dokter yang sama yang menanganiku dan Rin, bedanya saat itu Rin di rawat di jepang." Hotaru mengingat dan menggabungkan informasi yang dia simpan.
"Dokter itu menyarankan kepada ibu untuk melakukan sesuatu yang ibu sukai sebagai terapi untuknya. Ibu mulai menggambar lagi, merancang banyak desain. Satu tahun kemudian ada sedikit kemajuan, kondisi ibu perlahan membaik ibu pun memutuskan untuk membuat perusahaannya sendiri. Dan ibu memilih itali, tidak mudah membangun perusahaan sendiri, perusahaan mengalami jatuh bangun cukup sering sebelum perusahaan menjadi besar seperti saat ini."
"Apa kalian pernah dengar YuVa?, perusahaan pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya." Tanya Hotaru.
"Tentu saja, siapa yang tidak kenal perusahaan mewah itu. Tunggu." Yamazaki menelan salivanya dengan kasar.
"Sejak dulu ibu memang sangat ahli dalam menggambar, bahkan perusahaan yang serupa di korea pun kakek buyut dan ibu yang membuatnya, ayah yang memberitahuku." Hotaru menekan kalimat terakhirnya.
"YuVa ..?." Gumam Fumio, Hotaru mengangguk singkat.
"Yu dari nama jepang Yuki, Va diambil dari nama belakang amerikanya Eva." Hotaru menarik nafas panjang.
"Alasan itulah yang membuatku meragukan kalau ibu yang telah melakukan hukuman itu kepada Yuki, tidak ada alasan untuk Yuki menerima hukuman itu."
"Apakah Daren dono tahu tentang ini?." Tanya Fumio.
"Aku rasa tidak." Jawab Hotaru yakin.
"Ini mencurigakan, jawabannya benar-benar hanya pada ojou chan, siapa yang melakukan, kenapa, dan mengapa." Lirih Yamazaki.
"Apa ada orang yang pernah berhasil sembuh atau setidaknya bertahan dari penyakit ini?." Tanya Hotaru.
"Sayangnya aku belum pernah mendengar ada yang bisa bertahan, rata-rata mereka akan berubah gila dan .., bunuh diri." Yamazaki mengatakan kalimat terakhirnya dengan sangat pelan.
"Kita harus cepat menemukan Yuki, tapi sebelum itu. Kita harus menghukum kelompok yang berani menyerang kita." Yamazaki dan Fumio mengangguk setuju.
"Baik, sekarang waktunya tuan muda mendengarkan informasi dari kami."
"Hm."
"Setelah semua keluarga utama meninggalkan kediaman, Fumihirolah yang mengambil alih kediaman. Sebagai pemimpin para penjaga, dan mengatur semua yang ada di dalam kediaman." Yamazaki mulai menjelaskan.
"Bukankah Hiro san sedang bertugas di luar kediaman?." Tanya Hotaru, pasalnya laki-laki bernama Fumihiro atau kerap ia panggil Hiro itu sedang ditugaskan kakek Hotaru entah ke mana dan tidak di perbolehkan pulang jika tugasnya belum selesai.
"Betul, sudah enam bulan Fumihiro pergi sebelum adanya penyerangan. Apa anda masih ingat Fumihiro salah satu penjaga yang disukai tuan besar?." Hotaru mengangguk singkat.
"Dia sangat setia dan jujur, walau sering terlihat menyeramkan." Yamazaki tersenyum mendengar komentar Hotaru.
"Apa kau masih cemburu padanya?." Tanya Hotaru melirik Fumio.
"Jangan bertanya." Jawaban singkat Fumio menarik garis miring dari sudut bibir Hotaru.
"Eiji kun menjadi salah satu murid unggulan Fumihiro di dojo sekarang." Sambung Yamazaki membuat Hotaru beralih menatap pria paruh baya itu.
"Heeeeehhh ..." Tanggapan Hotaru membuat Fumio menarik nafas berat.
"Takeru san tolong lanjutkan penjelasannya." Pinta Fumio dengan sopan. Hotaru dan Yamazaki menahan senyum mereka.
"Sepertinya tuan besar mengirimkan pesan kepada Fumihiro menyuruhnya untuk segera menyelesaikan tugas dan kembali ke kediaman utama. Enam bulan semenjak kepergian Ayumi dono, Daren dono, dan ojou chan Fumihiro kembali, setelah itu semua pesan dari tuan besar maupun nyonya besar di terima oleh Fumihiro, begitulah caranya Fumihiro memimpin kami."
"Dojo yang mulai sedikit hilang ketajamannya pun membuat Fumihiro kesal, ia mengajukan diri melatih para penjaga dan para anggota keluarga terhormat yang ingin berlatih. Tidak ada yang membantahnya meskipun masih ada penjaga yang lebih pantas melakukannya." Hal itu membuat Hotaru mengerutkan dahinya.
"Kenapa?." Tanya Hotaru.
"Di usia yang masih sangat muda kemampuan Fumihiro sudah diakui oleh tetua membuatnya menjadi salah satu murid asuhan langsung tetua, sangat sulit untuk bisa mendapatkan pengakuan dari keluarga utama. Para penjaga di level ini banyak yang gugur saat penyerangan, beberapa yang masih bertahan di bawa oleh Ayumi dono." Hotaru kembali mencoret kertasnya.
"Hiro san satu-satunya yang tersisa." Lirih Hotaru.
"Benar, tapi sekarang tidak lagi." Hotaru mendongak menatap Yamazaki bingung.
"Sahabat karib anda salah satu yang sudah berhasil di level itu." Hotaru mengangkat kedua alisnya terkejut.
"Sshuuuu ..." Hotaru bersiul kecil melirik Fumio.
"Jangan mulai." Sergah Fumio menghentikan niat Hotaru yang ingin menggodanya.
"Satu tahun yang lalu Fumihiro mengumumkan informasi dari nyonya besar." Yamazaki melirik Hotaru sebentar.
"Anda dan Ayumi dono dilarang masuk ke dalam kediaman utama." Hotaru tersenyum kecut.
Tentu saja, karena dirinyalah Yuki menjadi seperti itu, batin Hotaru.
"Karena alasan itu aku tidak berlatih di dojo melainkan dirumah baru bersama Rin." Hotaru mengambil kesimpulan.
"Itu yang kami pikirkan, karena anda mungkin mengetahui rencana Ayumi dono yang tidak bisa di duga atau malah anda membantunya adalah alasan kenapa anda di larang masuk." Hotaru menarik dua garis bercabang lainnya di kertas.
"Nenek dan ayah yang tidak mengetahui kondisiku mengira ibu membawaku pergi karena takut akan percobaan pembunuhanku. Tindakan ibu yang tidak masuk akal karena menabrak Yuki membuat semua bukti mengarah ke sana. Agar bisa membawaku pergi bersamanya." Hotaru menyambungkan isi pikirannya.
"Karena dengan sangat jelas aku memilih untuk pergi dengan ibu, artinya ..." Hotaru memutar bolpoin di tangannya.
"Ada kesalah pahaman di antara nenek, ayah, dan ibu." Fumio merasa ada yang janggal dari kesimpulan Hotaru.
"Kalau begitu kenapa Ayumi dono tidak menghubungi nyonya besar dan Daren dono?, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Yamazaki mengangguk setuju.
"Benar, dan kenapa juga Rin di tandai?, apa yang telah dia perbuat?. Tidak ada yang salah dengannya." Ujar Hotaru.
"Sepertinya Hiro san melaporkan sesuatu kepada Daren dono." Balas Fumio.
"Tapi apa mungkin hanya dengan satu laporan membuat Rin di tandai, bahkan selama ini Rin yang mengajarkan bela diri kepada Yuki." Pernyataan Hotaru membuat Yamazaki dan Fumio heran.
"Bagaimana bisa, insting Fumihiro sangat tajam." Sanggah Yamazaki.
"Aku sudah mengkonfirmasinya dengan Rin, dua tahun setelah ayah dan ibu ke indonesia ayah membawa Rin ke rumah membuatkan sebuah tempat khusus untuk Rin, di tempat itu juga Yuki berlatih."
"Apa mungkin Rin san dan Ayumi dono," Hotaru memotong kalimat Fumio.
"Tidak, ibu tidak tahu menahu keberadaan Rin. Rin tidak pernah sekali pun keluar dari tempat itu bahkan penjagaan tempat Rin pun sangat ketat." Yamazaki berpikir keras.
"Kalau Rin saja berada di pihak kita kenapa namanya di tandai, Fumihiro kakak kandungnya saja tidak memercayai Rin?." Yamazaki memijat dahinya semakin keras.
"Tunggu." Ucap Hotaru tiba-tiba membuat dua orang itu menatapnya penasaran. Tangan Hotaru bergerak dengan cepat di atas kertas, setelah selesai barulah ia mengangkat wajahnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan hukuman?." Fumio melebarkan matanya, Yamazaki menahan nafasnya sebentar. Fumio mulai membuka mulutnya.
"Daren dono dan nyonya besar tidak bisa melakukan hukuman kepada Rin san jadi, ia membuat Rin san tidak bisa keluar dari tempat itu, sedangkan Ayumi dono tidak tahu tentang keberadaan Rin. Kesalahan apa yang telah Rin san perbuat?." Fumio menatap manik coklat terang milik Hotaru.
"Kalau tebakkan kita benar, lalu kenapa nenek memerintahkan Rin untuk mendekatiku secara diam-diam dan membawaku kesini untuk berlatih dengannya?." Pertanyaan Hotaru membuat keraguan lain di hati ketiganya.
"Apa ini?." Gumam Yamazaki memijat dahinya yang sudah berubah merah.
"Takkecchan aku pernah dengar, calon menantu di keluargaku akan mendapatkan pelatihan sebelum menikah, apa itu benar?." Tanya Hotaru.
"Ya, itu syarat wajib." Jawaban paten dari Yamazaki.
"Berarti, sekarang kita harus berhati-hati dengan Rin san sampai kebenaran di balik ia di tandai terungkap." Kata Fumio.
"Ya. Apa anda sudah memberitahu lokasi Ayumi dono kepada Rin tuan muda?." Tanya Yamazaki.
"Tidak." Yamazaki mengangguk, ia merasa lega.
"Sepertinya ada rahasia besar yang sengaja di simpan, menunggu seseorang membukanya." Ujar Yamazaki.
"Siapa?" Tanya Hotaru.
"Jawabannya sudah jelas Hotaru." Hotaru beralih menatap Fumio.
"Siapa?." Tanyanya kembali.
"Kamu atau Yuki." Hotaru menghempaskan punggunggnya ke punggung kursi.
"Aku harus bergerak lebih cepat. Kejanggalan keluargaku sudah terlihat, keluarga utama tidak boleh hancur dari dalam." Hotaru mengangkat sedikit dagunya bergerak pelan menyempurnakan posisi duduknya. Secara otomatis Fumio dan Yamazaki melakukan hal yang sama.
"Kita susun rencana." Tegas Hotaru.
***
Angin malam berhembus pelan, pohon-pohon di sekitar mereka menimbulkan suara gemerisik kecil, beberapa kali suara burung hantu terdengar dari kejauhan.
"Onii sama (kakak, sama adalah sebuah sebutan yang sangat menghormati), apa kesalahan yang telah aku lakukan, kenapa melakukan ini kepadaku?." Tanya Takehara Rin kepada laki-laki di hadapannya.
Kedua orang itu berdiri dengan jarak yang cukup jauh, meskipun suara mereka sangat lirih namun sunyinya malam membuat mereka tidak kesulitan untuk mendengar suara satu sama lain.
Tidak ada jawaban.
"Ibu tidak suka kita bertengkar, kita tidak pernah bertengkar sebelumnya." Rin menatap wajah dingin laki-laki lima tahun lebih tua darinya.
"Onii sama, beritahu aku." Lirih Rin.
"Hal yang paling memalukan adalah, merasa tidak bersalah." Suara dalam yang tak kalah dingin dengan wajah tegas itu mengalun di udara.
Rin bergerak kaku mendongak untuk melihat manik hitam Takehara Fumihiro. Seketika tubuh Rin menegang ketika maniknya bertemu dengan manik sang kakak. Pandangan lurus ke depan namun maniknya melirik sinis ke bawah, menguliti Rin yang sedang gemetar.
"Onii .., sama ..." Lirih Rin suaranya bergetar.
"Apa kau masih pantas menyandang status penjaga, Rin."
Kalimat yang diucapkan Fumihiro menyayat hatinya, Rin tak kuasa menahan cairan bening dari matanya.
"Aku .., aku ..," Rin menelan salivanya dengan kasar.
"Alam yang akan menghukummu Rin." Setelah mengatakan itu Fumihiro membalikan badannya berjalan hendak memasuki pintu gerbang kayu besar di depannya.
Rin menguatkan dirinya ia berlari hendak menerjang sang kakak namun belum sampai setengah jalan suara hentakkan kaki cukup keras membuatnya berhenti seketika, Rin membeku maniknya bergetar melihat sosok yang selalu terlihat lebih besar darinya.
Fumihiro menghentakkan kaki kirinya bergerak pelan menghadap sang adik, menatap remeh wanita yang bergetar di tempatnya dengan air mata yang terus menetes.
"Butuh puluhan tahun untukmu melawanku Rin!. Kau tidak mendengarkan apa yang selalu ayah ingatkan. Kau sudah gagal!." Ucap Fumihiro tegas, suara dingin beratnya seperti sebuah palu besar yang menghantam Rin berkali-kali.
Rin tidak sanggup membuka suaranya, ia diam seribu bahasa. Rin kembali menegang ia merinding hebat saat suara langkah kaki besar datang menghampirinya. Fumihiro melangkah pelan ke depan, langkah tegasnya terdengar sangat keras di malam itu. Fumihiro berhenti memberikan jarak lima jengkal dari adiknya.
"Berlutut Rin!." Perintah Fumihiro pelan namun sangat tegas.
"Kenapa kamu melakukan ini kepada adikmu onii sama?." Entah Rin mendapatkan keberanian dari mana sanggup membuka suaranya kembali.
"Ber. Lu. Tut. Rin!."
Bruk!.
Rin berlutut di depan Fumihiro, tangannya mengepal karena marah. Kenapa ia tidak sanggup melawan apa yang di katakan kakaknya, kenapa hanya dengan langkah kakinya saja sudah membuat Rin menyerah.
"Aku turut bersedih. Tapi aku tidak berhak mencampuri." Rin tersenyum pahit.
"Fokus dengan tugasmu." Fumihiro membelakangi Rin, mengatakan sesuatu sebelum ia meninggalkan adiknya.
"Tidak lama lagi, dia akan datang untuk menghukummu." Ucap Fumihiro berjalan pergi dalam keheningan.
"Siapa?." Lirih Rin.
"Siapa yang kamu maksud onii sama?." Rin menundukkan kepalanya membiarkan air mata turun begitu saja.
"Katakan padaku siapa yang kamu maksud?."
Keheningan angin malam menyapu wajah sedih itu, sendiri .., di depan pintu gerbang kayu yang dulu ia sering lewati, kini terasa sangat jauh, sangat .., jauh.
"Menyedihkan." Ucap Rin masih berlutut dengan kepala yang tertunduk.
***
"Apa rencana seperti ini sudah benar?." Tanya Fumio, Hotaru mengangguk mantap.
"Aku akan berlatih dengan Rin di pagi dan di jam sepuluh malam, setelah kita selesai latihan klub aku akan berlatih denganmu. Takkecchan akan membuatkan racun sesuai dengan resepku." Fumio menggeleng pelan.
"Kita tukar, setelah latihan voli kamu berlatih dengan Rin san karena aku juga harus berlatih di dojo. Jam sepuluh malam kita bertemu di gubug kecil yang dulu pernah kita temukan." Hotaru mengangguk setuju.
"Gubug itu masih ada?." Tanya Hotaru.
"Aku merawatnya." Jawab Fumio.
"Bagaimana pergerakan musuh kita?." Kini Yamazaki yang angkat suara.
"Selama ini kami mengintai mereka secara diam-diam, kelompok mereka berkembang dengan pesat, tidak sulit untuk di dekati namun sia-sia jika kita melenyapkan anggota kecil mereka, ditambah akan membutuhkan waktu yang lama." Hotaru diam sejenak, menemukan ide yang menarik.
"Yuki akan senang jika mendengar ide ini." Celetuk Hotaru.
"Apa?." Tanya Fumio. Hotaru meletakan kedua tangannya di atas meja, ia tersenyum kecil.
"Incar pencernaan mereka agar berhenti bekerja dan berkembang." Ucap Hotaru seraya menunjuk perut dimana letak lambungnya berada.
"Lambung, lalu kita incar hati mereka untuk membuat keributan." Jari Hotaru beralih menunjuk dimana hatinya berada. Bergerak kembali dan berhenti.
"Paru-paru, membuat mereka sulit bernafas." Hotaru menyunggingkan senyum lebarnya menggeser jari ke kiri.
"Jantung. Selesai." Ucap Hotaru santai.
"Hahahaha .., anda memang luar biasa tuan muda. Rencana ini sangat mirip dengan cara klan kita. Tetua pasti senang memiliki penerus seperti anda." Yamazaki menghentikan tawanya mengangguk-angguk setuju.
"Apa kamu yakin Yuki senang dengan rencana ini?." Tanya Fumio sedikit ragu dengan yang ia dengar.
"Yuki sudah berubah Eiji .., bahkan mungkin dia lebih kejam dariku." Jawaban Hotaru entah mengapa membuat dapur itu tiba-tiba menjadi hening.