Futago

Futago
Menolong atau Membunuh.



Yuki membaur ke dalam bayang-bayang, mengamati keadaan sekitar. Ia menajamkan semua indera di tubuhnya. Yuki berdiri memunggungi dinding, ekor matanya melirik ke belakang, melihat tubuh yang sudah bergelimpangan di tanah.


Yuki keluar dari persembunyiannya menghampiri salah satu tubuh, ia meletakan dua jari di tenggorokan mayat itu.


Mereka belum lama mati, batin Yuki mendongak ke atas. Sebuah ide muncul di kepalanya, semoga saja masih sempat, batin Yuki. Ia berlari meninggalkan tubuh tak bernyawa itu, tujuannya adalah lantai tiga, seperti spid*rman di film-film, gadis itu merayap naik ke lantai tiga dengan tangan dan bantuan sebuah tali.


Tidak ada waktu untuk masuk lewat dalam Yuki memutuskan untuk menerobos dari luar.


Yuki yang sudah sampai di lantai tiga menyentuh salah satu kaca, lalu mengerutkan keningnya.


Kacanya cukup tebal, apa boleh buat aku harus melakukannya, batin Yuki.


Cengkraman tangannya pada tali ia eratkan, kakinya berlari kencang di permukaan dinding dan kaca lalu tolakkan kuat dari kaki kanan membawa tubuhnya melayang berputar dan, sebuah tendangan keras menghancurkan kaca.


Tubuh Yuki melayang masuk ke dalam ruang kerja penuh lukisan.


Bruk.


Ia mendarat mulus diatas meja kerja coklat, serpihan kaca bertebaran di sekujur tubuh Yuki.


Maniknya bergerak cepat, gadis itu langsung mengerti situasi di sana, dengan keadaan tubuh yang masih dalam posisi mendarat Yuki menggerakkan kepalanya ke samping kiri, menatap pria berusia lima puluh tahunan itu, keriput kecil baru terlihat di bawah kantung matanya.


"Apa aku terlambat?." Suara serak dan kasar jangan lupakan nada dingin yang keluar dari balik topeng membuat penghuni disana terkejut.


Pria itu membeku, maniknya bergetar hebat melihat tamu lain yang tak diundang masuk ke dalam kantornya.


Yuki menatap lekat-lekat pria tua itu, mencari keanehan yang ia khawatirkan sejak mengetahui penyerangan ini. Di saat Yuki masih sibuk mencari, ke empat orang berbaju serba hitam seperti dirinya terusik akan kehadiran dadakan itu melemparkan jarum tepat ke arahnya.


Zap. Zap. Zap. Zap.


Yuki menangkap ke empat jarum dengan satu tangan tanpa mengalihkan perhatiannya dari pria tua. Jarum-jarum itu bertengger manis di sela-sela jari Yuki.


"Apa kalian tidak bisa bersabar sedikit?." Ujar Yuki, menggerakkan kepalanya perlahan menatap ke empat orang yang ia yakini adalah pelindung klannya.


Entah raut wajah seperti apa yang mereka tunjukan Yuki tidak bisa melihat karena topeng yang mereka pakai. Topeng aneh?, masker dengan moncong panjang di bagian mulut dan kacamata tebal.


Apa mereka ilmuan rahasia gas beracun?, celetuk Yuki dalam hati.


Gadis itu baru menyadari sesuatu, dengan cepat ia mengangkat tangannya ke depan wajah, matanya bergerak mengamati jarum mirip seperti jarum miliknya. Di saat Yuki masih memperhatikan jarum tiba-tiba gadis itu memutar bola matanya malas kala pria tua menodongkan pistol kepadanya, pelatuk pistol sudah ditarik sejak tadi. Pria tua itu langsung mengangkat pistolnya mengincar kepala Yuki.


Sret.


DOR!.


Hening.


"Apa anda sudah terkena jarum ini?." Lagi-lagi suara Yuki membuyarkan keterkejutan mereka. Kepalanya menoleh kepada pria tua yang sudah pucat pasi seperti mayat hidup.


Apa-apa an dia?, apa dia bukan salah satu dari mereka?, batin pria tua, ekor matanya melirik ke tempat empat penyusup di sebrang meja lalu beralih ke tangan penyusup baru yang berada di atas tangannya. Gadis itu membelokkan pistol ke atas sehingga peluru mengenai langit-langit ruangan.


Bukan, mereka berbeda. Entah apa tujuan penyusup satu ini tapi dia sepertinya melindungiku, lanjut pria tua dalam hati. Mulutnya bergerak kaku.


"S su sudah." Jawabnya menatap topeng hitam spid*rman.


Wuuuuussshhhh.


Zap. Zap. Zap. Zap.


"Aku bilang, sabar." Ujar Yuki yang melayangkan empat jarum sekaligus kala empat orang itu melakukan gerakkan kecil. Yuki menarik tangan kirinya dari tangan pria tua.


Mereka kembali bergeming di tempat, Yuki sengaja tidak mengincar tubuh mereka karena ia tahu jarum apa yang berada ditangannya itu.


"Tuan, anda akan mati dalam dua puluh empat jam, tidak. Lebih tepatnya tiga menit lagi. Dua puluh empat jam jika aku memberikan sedikit bantuan kepada anda." Ujar Yuki melompat turun dari meja menghadap ke empat pelindung.


"Siapa kau!?, tidak itu tidak penting. Apa maksudmu?!." Teriak histeris pria tua.


"Jarum ini beracun, racun yang mematikan." Manik Yuki menangkap gerakkan kecil dari salah satu pelindung.


Mereka terkejut, tentu saja, batin Yuki menyeringai sinis.


"Aku bisa membantu anda tuan, asal anda memberikan saya rahasia di dalam rahasia." Yuki mendengar pekikan kecil dari pria tua di belakangnya.


"Ba ba bagaimana kau tahu!?. Tidak, aku tidak akan memberikannya!." Yuki mengedikkan bahu tanpa melepaskan pandangan dari empat orang di hadapannya, begitu pun sebaliknya. Mereka terus mengamati Yuki menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.


Tidak buruk, inikah yang dinamakan pelindung tingkat atas?, batin Yuki. Ia tidak melihat ada anak kecil diantara mereka. Anak kecil yang pernah terbaring di ruang operasi.


"Tidak masalah tuan, saya akan pergi dari sini. Silahkan kalian lanjutkan urusan kalian yang tertunda, permisi." Kata Yuki sedikit membungkuk melangkah menuju jendela yang sudah hancur.


"** tu tunggu!, tolong aku!. Aku akan memberikannya! tapi selamatkan aku!." Jerit frustasi pria tua yang melihat waktunya hanya tersisa sangat sedikit.


Dua menit lagi sebelum pria tua itu meregang nyawa, pikir Yuki. Lalu tangannya menangkis jarum-jarum berterbangan dengan pisau milik Hiza yang tertinggal di kamarnya. Pisau itu sangat mudah dan nyaman digunakan jadi Yuki memungutnya.


Setelah pria tua selesai berbicara ke empat pelindung itu menyerang Yuki. Gadis itu berkelit menghindar, lagi-lagi ia memutar tubuhnya dan mendarat di atas meja.


Hening.


Mungkin mereka kehabisan jarum, Yuki memanfaatkan kesempatan itu untuk membungkam mulut pria tua dengan botol kecil penawar racun miliknya, untunglah pria tua itu tidak bodoh dan langsung meneguk penawarnya. Manik Yuki tidak lepas dari ke empat orang yang sudah melakukan formasi aneh. Tangan Yuki yang masih memegang botol penawar dengan kasar mendorong kuat mulut pria tua sampai kursi kerja yang di dudukinya menabrak lemari di belakangnya.


BRAK!.


"ARGH!." Jerit pria tua.


Tepat saat kursi menabrak lemari Yuki melompat ke depan, kaki kanannya sengaja mendorong dan sedikit menjungkit tepian meja membuat meja jatuh seraya meneriakan.


"Berlindung!." Bukan teriakan, itu lebih seperti perintah.


Ke empat orang di sana terkejut, mereka mengira musuh akan menerjang mereka lewat depan melihat betapa cepatnya orang itu melompat namun kenyataannya orang itu memutar tubuhnya di udara melakukan salto dan mendarat di pundak salah satu rekan mereka, dengan pisau tertempel di leher.


Siapa dia?, batin mereka.


Siapa orang aneh yang datang tiba-tiba dan mengatakan hal aneh pula, tidak, sebenarnya yang dikatakannya benar, tapi?!, bagaimana dia bisa tahu?. Apa masalahnya dengan kami?, dan apa yang tadi dia berikan, apakah itu penawar racun?, pikiran mereka berkecambuk karena kondisi yang berbalik. Mereka terpojok.


"Berhenti dan dengarkan." Yuki semakin mengeratkan cengkeramannya diatas kepala target, menyuruh target diam.


"Aku datang bukan ingin melawan kalian, aku juga bukan bagian dari kelompok pak tua. Aku hanya memiliki kepentingan dengan pak tua." Jelas Yuki.


Tiba-tiba kaki Yuki menekan pundak pelindung yang ia tunggangi membuat pelindung itu menekuk sedikit lututnya.


Wah, kekuatan tubuh yang luar biasa, batin Yuki namun maniknya menatap ke arah lain.


Gadis itu diam-diam menusuk leher pelindung yang berada di dalam cengkeramannya menggunakan jarum kecil biasa membuat pelindung itu menjauhkan tangannya dari botol kecil mirip parfum yang menggelantung di sabuk pinggang milik si pelindung.


Pisau Yuki beralih mengiris bagian belakang topeng masker, gerakkan yang begitu cepat tidak memberikan para pelindung untuk bereaksi.


Setelah gerakannya yang ingin membuka tutup botol kecil terbaca ia kembali dikejutkan oleh topeng maskernya yang jatuh begitu saja ke lantai, keterkejutannya belum usai, tiba-tiba ia mendapatkan tendangan di punggung membuatnya tersungkur ke depan.


Itu adalah penghinaan terbesar baginya, ia menyentakkan wajahnya menatap tajam topeng spid*rman, lebih tepatnya spid*rwoman.


Astaga!, seru pelindung tanpa masker dalam hati. Tangannya buru-buru mencari benda yang menggelantung di sabuknya, dan ... Tidak ada. Spid*rwoman itu sedang memegangnya.


Ia tidak akan membiarkan spid*rwoman bertindak semaunya lebih dari ini, sudah cukup!. Pelindung tanpa masker memberikan isyarat untuk menyerang.


"Urungkan niat kalian, kita bernegosiasi bagaimana?." Spid*rwoman membuka tutup botol sedikit lalu menutupnya dengan cepat.


"Wow, ini menarik. Kalian dapat dari mana racun asap ini?." Yuki dengan santai berjongkok di depan pelindung tanpa masker. Menunggu jawaban.


Yuki melihat bagaiama rahang itu mengeras, menahan amarah yang ingin segera keluar. Yuki tersenyum miring dari balik topengnya.


Sial!, aku ingin .., batin pelindung tanpa masker tiba-tiba menggantung.


"Aku ingin memukul wajahnya, memberikannya pelajaran, dasar pengganggu sialan!. Kau ingin mengatakan seperti itu bukan." Ucap Yuki.


Kurang aj*r!, dia bisa membaca pikiranku, geram pelindung tanpa masker.


"Kalimat itu terlihat jelas di wajahmu." Lanjut Yuki.


"Tck." Decak pelindung tanpa masker.


Dor!.


Prang!.


Dor!.


Pelindung tanpa masker melirik ke samping menatap rekannya yang melepaskan tembakan ke arah pria tua, lalu beralih ke pistol lain yang mengarah ke rekannya. Tanpa sadar pelindung tanpa masker menelan salivanya kasar menatap spid*rwoman yang masih menatapnya tanpa bergerak sedikit pun meski sudah melepaskan tembakannya.


Tembakan spid*rwoman sengaja meleset mengenai kaca, karena terkejut bidikan ke arah pria tua pun jadi meleset, batin pelindung tanpa masker.


"Bukan kalian saja yang punya pistol, aku juga memilikinya." Ujar Yuki menarik tangan kiri seraya memutar pistol di jarinya.


"Tuan, sudah saya bilang untuk berlindung." Lanjut Yuki mengejutkan pria tua yang segera terburu-buru berlindung di balik meja.


"Yo, aku akan mengatakannya sekali lagi. Mari bernegosiasi, aku akan memberikan satu pertanyaan dan kalian boleh memberikanku satu pertanyaan. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian." Ujar Yuki mengarahkan pistolnya ke kepala pelindung tanpa masker, tangan kanannya yang memegang botol racun segera memasukkan botol ke dalam ransel dari samping.


Apa kita tidak akan melawan?, batin rekan-rekan pelindung tanpa masker.


"Kalian tidak akan membuka suara bukan, jadi itu keputusan kalian, baiklah. Mari kita selesaikan ini." Ujar Yuki.


Dalam satu detik berikutnya Yuki melepaskan dua peluru yang mengarah ke dua pelindung yang berdiri di samping dan belakang pelindung tanpa masker. Memberikan mereka kejutan untuk mengulur waktu, benar saja mereka langsung berguling menghindar ke arah berlawanan. Kedua tangan Yuki bergerak bersama-sama, tangan kirinya yang memegang pistol ia arahkan ke pelindung yang hampir menembak pria tua sedangkan tangan kanannya mendaratkan totokan keras di pangkal leher pelindung tanpa masker membuat pemuda itu seketika tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Melihat itu kedua rekannya langsung menerjang Yuki, gadis itu pun tak kalah cepatnya merangsek ke arah pemegang pistol dari bawah meliukkan tubuhnya menghindari peluru dan mendaratkan totokan di pangkal leher.


Bruk.


Tanpa memberikan jeda Yuki berbalik merangsek menyambut dua orang sekaligus.


Harus lebih cepat lagi, batin Yuki memerintah tubuhnya.


Gadis itu menghindari pukulan dan tendangan dari samping kanan kirinya.


Cepat, cepat, cepat, atau aku yang akan kalah dari mereka, ucap Yuki dalam hati fokus dengan pergerakannya mendekat.


Tok. Tok.


BRAK!.


Bruk!.


Bruk!.


Tepat saat Yuki mendaratkan dua totokkan kepada dua orang tersisa sebuah pukulan keras mendarat di perutnya, tubuh rampingnya melayang hingga membentur tembok sangat keras.


Gila!, ini sakit sekali, batin Yuki. Untuk beberapa detik ia masih meringis merasakan nyeri di perutnya. Pukulan itu terasa sampai menembus ke belakang.


"Tuan ayo kita pergi." Ujar Yuki beranjak berdiri. Pria tua dengan takut-takut menyembulkan kepalanya dari balik meja. Melihat ke empat penyusup yang menyerang mansionnya sudah jatuh tak bergerak.


"A apa mereka mati?." Tanyanya.


"Tidak." Jawab Yuki.


Di luar dugaan, tiba-tiba pria tua mengeluarkan pistolnya hendak menembak para pelindung. Yuki sejenak tidak habis pikir tapi ia segera ingat bahwa ia berhadapan dengan kelompok musuh yang notabennya adalah seorang mafia.


Sontak Yuki menatap tajam pria tua mengeluarkan aura dingin mengintimidasi.


"Anda menyentuh mereka sedikit saja, aku pastikan akan membunuh anda detik ini juga." Suara serak dan kasar itu terdengar sangat tajam seakan mengulitinya.


Meskipun begitu, pria tua memaksakan tangan gemetarnya menggeser bidikan ke arah Yuki.


Hening.


Ke empat pelindung yang terbaring tak bergerak menyimak dialog spid*rwoman dan musuh mereka. Ingin sekali mereka menggerakan mulut dan anggota tubuh yang lain namun hanya kelopak mata yang bisa mereka gerakkan.


"Brengs*k!. Siapa kau sebenarnya?, kenapa tahu tentang rahasia didalam rahasia!." Suara gemetar yang berusaha pria tua keraskan namun malah terdengar seperti rengekkan anak kecil.


"Je, tangan." Pria tua merinding hebat mendengar suara pelan yang terdengar seperti bisikan angin dingin.


"Jawab!." Cicit pria tua.


"Shoot." Ucap Yuki dengan tenang.


Dor!.


Tak.


"Aargh!." Jerit melengking menggema di dalam ruangan. Pistol di tangan pria tua terjatuh di ikuti tetesan darah.


"Brengs*k!." Koar pria tua memungut pistolnya dan membidik Yuki, namun sebelum ia sempat menarik pelatuk pistol gadis itu sudah kembali menggerakkan bibirnya.


"Shoot."


Dor!.


"Aargh!."


Tak.


Pria tua menatap Yuki nanar, takut. Darah hangat membasahi kedua lengannya.


Apa yang terjadi?, batin para pelindung. Mereka hanya mendengar suara spid*rwoman dan suara tembakan.


"Kau ... Bagaimana bisa?." Lirih pria tua mengedarkan pandangan mencari orang yang menembaknya.


"Kaki, shoot."


"Ap!."


DOR!.


Bruk.


Pria tua terjatuh dengan satu kaki, darah langsung membasahi celana panjangnya. Ia kalut, rasa takut serta merta menyerangnya. Rintihan demi rintihan keluar dari mulutnya.


"Sho-." Pria tua langsung menatap Yuki dan menjerit memohon.


"Ampun!, hentikan. Ampuni aku, tolong jangan tembak lagi." Suaranya memelan di akhir kalimat. Tak di sangka pula air mata menyedihkan membasahi wajah pria tua.


Isakkan dan ringisan berasal dari pria tua itu.


Apa tujuannya sebenarnya?, mau menolong atau membunuh?, tapi dia tadi melindungi kami, kenapa?, batin para pelindung.


"Jangan main-main denganku tuan."