
Hotaru melakukan jump service yang tidak kalah kerasnya dengan Atsushi membuat pelatih mengukir senyum di bibirnya. Nagata berhasil melambungkan servis Hotaru yang di sambut baik oleh Atsushi, Atsushi memberikan tos / umpan akurat kepada Nagata. Pasangan kelas tiga itu bergerak sangat dinamis.
BRAK!.
Spike keras Nagata di block Hotaru dengan mudah.
Heee .., lumayan, ucap Fumio dalam hati.
Atsushi menyelamatkan bola, Nagata dengan gesit mengejar bola bersiap memberikan tos kepada rekannya. Hotaru yang melihat itu bergerak ke belakang matanya sangat fokus membaca pergerakan lawan dan bola.
Ia berpikir tidak mungkin memblock Atsushi secara langsung dengan kemampuannya yang rendah seperti sekarang ini jadi Hotaru memutuskan untuk menerima spike Atsushi.
Atsushi melompat membuatnya terlihat seperti terbang di udara, tangannya bergerak menghantam bola.
BAK.
DUG!.
Hotaru melambungkan spike Atsushi, Atsushi menatap tajam Hotaru.
Hotaru bergerak ke kanan ia menekuk lututnya hendak melompat, Nagata dan Atsushi tidak tinggal diam ia mengikuti gerakan Hotaru berniat memblock spikenya tapi, sesuatu mengejutkan Hotaru. Ia segera menghentikan niatnya untuk melompat dan memutar arah kakinya berlari ke sisi lapangan yang lain.
Apa yang kamu lakukan siput sipit!, teriak Hotaru mengejar bola yang melambung. Sial aku tidak akan sempat, batin Hotaru. Tiba-tiba Hotaru melakukan lompatan menyamping dan meraih bola menghantamkannya dengan cepat.
Bug. Bug. Bug.
Bola masuk begitu saja.
Puk. Hotaru mendarat mulus dengan satu kaki, ia menoleh pelan kepada Jun.
"Tadi itu apa?." Tanya Hotaru tenang.
Hotaru sangat terkejut, bukan hanya dia melainkan para anggota klub yang lain pun tidak kalah terkejutnya, meski keterkejutan mereka berbeda.
"Lompatan kera." Jawab Jun dengan santai di lanjutkan dengan mulutnya yang kembali menguap.
Hotaru dibuat bengong dengan jawaban Jun.
Nagata menghampiri Hotaru yang masih bengong itu.
"Kamu sudah membuat Jun kesal Hachi kun." Lirih Nagata di sebrang net.
"Apa dia kalau kesal seperti itu?." Hotaru menghampiri Nagata.
"Ya, bahkan bisa lebih parah lagi, tidak ada yang kuat menghadapi Jun kalau sedang kesal." Jelas Nagata.
"Apa ada yang pernah membuat dia kesal sebelumnya?." Nagata mengangguk kecil menunjuk orang di belakangnya.
"Atsushi pernah membuat Jun kesal dan dia benar-benar di jadikan sirkus lompat di pertandingan persahabatan minggu lalu. Jun tidak benar-benar memberikan tosnya kepada Atsushi." Hotaru mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ini rahasia, Atsushi akan membunuhku jika tahu aku menceritakan ini kepadamu." Imbuh Nagata.
"Aku akan menutup mulutku, tapi senpai." Lanjut Hotaru.
"Apa?." Manik Nagata dan Hotaru bertemu.
"Sejak kemarin ada yang mengusik pikiranku." Nagata menunggu Hotaru menyelesaikan kalimatnya.
"Apakah siput sipit tidak pernah melompat?, apa ada lem di sepatunya?." Nagata menutup mulut dengan satu tangan, menahan tawanya agar tidak keluar.
"Sejak sd Jun akan melompat jika dia ingin melompat, tidak ada yang bisa memaksanya untuk melompat." Jelas Nagata.
"Dia bermain voli sejak sd?." Hotaru terkejut.
"Ung, dia sepupuku. Kami selalu satu sekolah, padahal banyak sekolah hebat yang ingin merekrut Jun tapi Jun malah masuk ke sini." Hotaru teringat kenangan saat Yuki marah karena mereka tidak satu kelas.
"Aku sepertinya mengerti apa yang di pikirkan siput sipit." Ucap Hotaru ada sedikit nada sedih di suaranya.
"Nagata! Hotaru! mau sampai kapan kalian ngobrol di situ!." Teriakan pelatih seketika membuat dua orang itu bergerak mundur.
"Sumimaseng ..! (Maaf ..!)." Teriak keduanya.
Hotaru kembali melakukan servis, Nagata memberikan spike keras setelah menerima tos dari Atsushi, Hotaru menutup arah spike yang di incar Nagata mengarahkannya ke Jun.
Bak.
Dug. Dug. Dug.
Hotaru melihat Jun yang membiarkan bola masuk begitu saja tanpa ada niat menyelamatkannya.
Di pinggir lapangan Yuto dan yang lain memperhatikan pertandingan itu.
"Aku masih tidak percaya teman senpai bisa meraih bola mustahil dari Jun." Celetuk Yuto.
"Hm?, itu belum apa-apa." Jawab Fumio membuat Yuto dan Kobayashi tertarik dengan pembicaraan itu.
"Apa ada sesuatu yang Hachibara san sembunyikan?." Kobayashi sangat penasaran, sejak pertama kali melihat laki-laki bermarga Hachibara itu ia memiliki aura yang sangat berbeda, seperti ada daya tarik yang membuatnya ingin mengenal dan berteman dengan laki-laki berkharisma itu.
Fumio menunjuk ke depan.
"Lihat." Ucapnya.
Kobayashi dan Yuto menoleh ke depan melihat Hotaru yang menatap Jun melangkah mantap menghampiri setter itu.
"Apa mereka akan berkelahi?." Celetuk Yuto khawatir.
"Lihat saja." Balas Fumio.
Hotaru menatap tegas manik Jun membuat laki-laki itu merasa terganggu, Hotaru menghampiri Jun yang masih diam di tempatnya.
"Ada apa?, kan sudah aku katakan. Aku tidak suka banyak bergerak." Ucap Jun ketika Hotaru sudah semakin dekat dengannya.
Hotaru mengangkat tangan kanannya membuat Jun refleks mundur.
"Aaarrgghh ..." Lirih Jun.
"Bahkan teriakanmu sangat kecil hm ..." Ledek Hotaru, ia mencubit pipi Jun dengan gemas.
"Yang berdiri di lapangan bukan hanya setter siput sipit, setter tidak berguna jika tidak ada pemain lain." Ujar Hotaru lirih. Jun menatap manik Hotaru yang fokus menatap pipinya.
"Terpesona dengan kata-kataku siput sipit, hm ..." Jari Hotaru semakin gencar bermain di pipi Jun.
"Argh lepaskan, ini pelanggaran." Protes lirih Jun.
Hotaru menghentikan serangannya membalas tatapan Jun.
"Aku akan membiarkan diriku bermain denganmu selama sepuluh menit setelah itu kau yang harus bermain denganku, mengerti?." Hotaru mengacak surai coklat Jun dengan lembut.
Jun menatap tajam Hotaru yang di abaikan oleh laki-laki itu.
"Sepertinya menyenangkan memiliki adik laki-laki." Celetuk Hotaru ketika melewati Jun membuat Jun semakin menatapnya tajam.
Benar saja Hotaru di buat seperti kera yang melompat ke sana sini mengejar bola yang melambung di udara. Jungkir balik, rol depan rol belakang, lari, meluncur ke depan ke samping, hanya untuk menyelamatkan bola agar tidak menyentuh lantai, bahkan beberapa kali Hotaru melakukan aksi akrobatik membuatnya semakin mirip hewan sirkus.
Aktifitas di lapangan satunya sudah berhenti sejak tadi, para anggotanya berdiri menonton aksi pertandingan langka di lapangan samping mereka. Mereka takjub sekaligus mengasihani anak yang baru bergabung itu.
Hotaru berdiri tegak setelah Nagata mendapatkan poin.
PROOKK !!!.
Suara tepukan tangan Hotaru menggema di dalam gor. Wajahnya yang penuh keringat dan baju belakangnya yang sudah basah tidak memperlihatkan bahwa laki-laki itu sudah kelelahan. Bibirnya tertarik membentuk senyum lebar yang menawan.
"Sepuluh menit sudah habis." Suara Hotaru terdengar sangat jelas karena gor yang hening itu.
"Sekarang giliranmu bermain denganku siput sipit." Jun membuang wajahnya acuh.
Semua orang bingung dengan apa yang dikatakan Hotaru tapi tidak dengan dua orang yang tersenyum menatap laki-laki bermanik coklat terang itu.
Hotaru tetaplah Hotaru, kamu adalah aturannya, batin Fumio.
Tuan muda tidak berubah sama sekali, tuan besar sangat tepat memilih anda. Dan sekarang aku merindukan ojou chan, harus berapa lama lagi aku menunggu anda ojou chan, cepatlah kembali, ucap Yamazaki dalam hati.
Nagata melakukan servis, Hotaru sudah siap menunggu bola dengan kedua kaki ditekuk lebih rendah.
Dug.
Atsushi menangkap gerakan Hotaru yang bergerak ke belakang seakan-akan siap dengan spike kerasnya membuat Atsushi mendapatkan ide lain untuk membuat Hotaru berlari ke depan.
Atsushi tidak melakukan spike keras pada bola tanggung itu ia melakukan tipuan ke depan net. Atsushi menarik salah satu sudut bibirnya melirik Hotaru di depan sana.
Apa ?!, kenapa dia bergerak ke samping kiri lapangan?, batin Atsushi mencari bola yang ia jatuhkan tadi.
Jun terkejut dengan pukulan tipuan yang mendadak Atsushi lakukan, padahal senpainya (seniornya) bukan tipe pemain yang suka melakukan tipuan. Jun yang selalu berada di barisan depan net refleks mengulurkan tangannya untuk menyelamatkan bola.
Bola melambung ke sebelah kiri lapangan.
Sial, batin Jun.
"Siput sipiiiittt ..!." Teriakan Hotaru mengejutkan Jun.
Laki-laki itu berlari mengejar bola, matanya fokus menatap apa yang dia kejar namun jarinya menunjuk Jun.
Hotaru menghentikan kakinya tepat di bawah bola tangannya terulur ke atas.
Sseeettt ...
Jun tidak tahu apa alasannya terpesona dengan tos / umpan yang dilakukan Hotaru untuknya tapi tos Hotaru menyihir tubuhnya untuk bergerak.
Jun menggeser sedikit kaki kanannya dan melompat kecil, tidak perlu lompatan besar tidak perlu gerakan cepat bolanya tepat mengarah di atas net tapi juga tidak terlalu dekat dengan net, ketinggian yang sangat Jun sukai dan tidak pernah ada orang yang bisa memberikannya tos seperti ini.
Atsushi yang melihat itu tidak tinggal diam ia segera melompat untuk memblock pukulan Jun. Tangan kiri Jun menyambut bola lalu memukulnya ke bawah secara diagonal, pukulan yang sangat tipis di sisi net lawan.
Jun menatap bola yang jatuh dengan mulus di sebrang net.
"Mau sampai kapan menatap bola bulat itu?." Suara Hotaru mengalihkan perhatian Jun.
Hotaru yang sudah setengah jalan menghampiri juniornya mengangkat satu tangan kode untuk melakukan high five seraya tersenyum simpul.
Prok !!.
"Nice kill." Ucap Hotaru melirik ke bawah, juniornya lebih pendek delapan senti darinya.
"Aku melakukan spike." Lirih Jun, mata sipitnya sedikit terbuka.
"Tentu saja." Balas Hotaru.
"Bolanya tepat berada di atasku." Hotaru tidak bisa menahan rasa gemasnya melihat ekspresi Jun yang kegirangan alhasil kedua tangannya mendarat di pipi Jun.
"Senang hm .., gimana mau melakukannya lagi ..?." Jun menganggukan kepalanya mendengar tawaran Hotaru, sensasi saat ia memukul bola masih sangat terasa di tangannya.
"Sekarang kau sudah lihat, bukan hanya kamu saja yang bisa memberikan umpan jenius di tim ini." Jun yang mendengar pernyataan Hotaru segera melepaskan tangan laki-laki itu dengan kasar dari pipinya.
Mereka berdua saling melempar tatap, Hotaru menatap manik Jun dengan tenang sedangkan mata juniornya seakan mengeluarkan laser berwarna merah.
"Setter tidak mau banyak bergerak untuk mengejar bola itu tidak masalah, karena anggota yang lain akan menghubungkannya kembali ke setter tapi .., Setter juga perlu menyelamatkan bola agar tim mendapatkan poin dan mendapatkan kemenangan bersama."
Semua tertegun, selama ini belum pernah ada yang berani menegur Jun. Di saat Jun belum resmi menjadi siswa sekolah itu ia sudah aktif berlatih dengan para anggota klub, pelatih dan Nagata sebagai sepupu Jun pun enggan menegur laki-laki itu karena jika Jun kesal tim akan kerepotan. Atsushi yang pernah membuat Jun kesal pun tidak sanggup meladeni anak itu, Atsushi berusaha terus bersabar karena pelatih yang memintanya. Tapi anak baru itu dengan tenang namun tegas menekan Jun di lapangan, menceramahi anak itu.
"Jika kamu kesal lampiaskan ke lawan dan dapatkan poin, tidak ada untungnya membuat anggota sendiri kesusahan. Jika egomu masih tinggi, ada lapangan sebelah kamu bisa bermain sendiri di sana, aku yang akan menggantikan posisimu." Jun menahan emosinya.
"Hachibara senpai sedang memarahi Jun tapi suara dan sorot matanya terlihat lembut, seperti ibuku yang berusaha membuatku berhenti menangis waktu kecil." Fumio tersenyum mendengar komentar Yuto.
Itulah kekuatan Hotaru, si jenius yang bisa menggerakan hati orang lain, batin Fumio.
"Ego memang susah di hilangkan tapi bagaimana kalau kamu menggeser egomu sedikit, mengisi ruang kosong dengan kebersamaan anggota tim yang lain." Jun mengerutkan keningnya.
"Tidak perlu melakukan banyak aktifitas, tidak perlu banyak bicara. Hanya melihat mereka sebentar, melihat mereka yang berjuang di garis yang sama denganmu, dan hadir di antara mereka." Hotaru berjalan melewati Jun dan tiba-tiba melempar bola ke belakang kepala anak itu.
Dengan gerakan pelan Jun menghindar dan menangkap bola dengan sebelah tangannya membalikan badan menatap Hotaru bingung.
"Seperti kamu merasakan bola itu." Jun semakin bingung.
"Hening, tapi kamu bisa merasakannya, mereka akan sadar dengan sendirinya jika kamu tidak ada di antara mereka. Seperti umpan tadi, tidak perlu lompatan besar tidak perlu gerakan cepat, jadilah dirimu sendiri." Hotaru mengangkat kedua alisnya.
"Ada yang ingin kamu protes?." Tanya Hotaru melihat ekspresi Jun yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
Jun membuka mulutnya tapi tidak ada suara yang keluar, ia kembali menutup mulutnya.
Aku tidak terima kamu menceramahiku, tapi kenapa aku tidak bisa marah padamu, semua yang kamu katakan masuk begitu saja di telingaku, itu yang ingin aku katakan, batin Jun tanpa ia sadari ia menggigit bibirnya dengan keras.
Puk.
Telapak tangan Hotaru yang besar mendarat di pucuk kepala Jun menghentikan langkah tergesa Nagata menghampiri sepupunya.
"Kamu mirip sekali dengan seseorang yang sangat aku kenal, dia juga terlalu lama tenggelam ke dalam kesedihan." Jun mendongak menatap wajah Hotaru, Hotaru tersenyum lembut.
"Dia tidak egois tapi keras kepala." Imbuh Hotaru.
"Apa kau juga memperlakukannya seperti anak kecil?" Suara Jun akhirnya keluar juga. Nagata yang sudah berdiri di depan net menghembuskan nafas lega.
"Ung, dia sangat manja." Jun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Hotaru.
"Pasti sangat mengerikan." Celetuk Jun membuat Hotaru tertawa.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan siput sipit, tapi dia bukan laki-laki dia perempuan hahaha." Hotaru semakin tertawa melihat ekspresi Jun yang berarti tebakannya benar.
"Dia pacarmu." Hotaru menggeleng pelan ia berusaha mengontrol dirinya kembali.
Melihat ketegangan di lapangan sudah hilang Hara berinisiatif mengambil tindakan.
"Kapten! pertandingan selesai, pergantian pemain!." Seru Hara dari pinggir lapangan.
"Baik!." Jawab Nagata.
"Tunggu!." Hotaru terkejut sontak menatap laki-laki di sampingnya.
"Kamu bisa berteriak siput sipit?." Lirih Hotaru tidak percaya, Jun mengabaikan Hotaru begitu saja.
"Pelatih biarkan kami bertanding lima belas menit lagi." Pinta Jun. Hotaru berpikir cepat, ia mengedarkan pandangan menatap setiap ekspresi anggota yang lain.
Mereka menatap bingung siput sipit seakan mereka tidak percaya dengan ucapan siput sipit, batin Hotaru semakin berpikir alasan dibalik permintaan setter itu.
"Maaf pelatih, tolong ganti saya." Kalimat Hotaru mengejutkan Jun. Hotaru melihat reaksi Jun dari ekor matanya.
"Senpai harus bertanding lagi." Kata Jun lirih.
"Heee .., senpai ..?." Ulang Hotaru sengaja meledek Jun. Jun yang kesal membuang wajahnya.
"Agh badanku sepertinya remuk setelah menjadi partnermu siput sipit." Ucap Hotaru seraya melangkah hendak meninggalkan lapangan.
Pelatih tersenyum melihat tingkah Hotaru ia tidak keberatan dengan sikap anak baru itu, karena Hotaru terlihat mampu membawa perubahan yang lebih baik kepada tim asuhannya.
"Senpai." Hotaru berhenti, melirik Jun di belakangnya.
"Berikan aku tos (umpan) lagi." Pinta Jun dengan wajah yang kaku.
"Tidak mau." Jawab Hotaru, Jun sedikit melebarkan matanya.
"Mungkin jika kamu meminta maaf kepada Atsushi senpai aku bisa berubah pikiran." Gumam Hotaru yang sengaja dibuat agar Jun mendengarnya.
Dengan gerakan kecil tapi pasti Jun menghampiri Atsushi dan mengatakan sesuatu, volume suara yang rendah membuat orang lain tidak bisa mendengar apa yang Jun katakan. Atsushi terlihat terkejut dan menggaruk belakang kepalanya.
Tidak lama Jun kembali menghampiri Hotaru.
"Sudah." Ucapnya.
"Sudah?, apa kau yakin?." Jun menatap malas Hotaru, mengingatkan tatapan Yuki kepada Fathur.
"Baiklah apa boleh buat." Kata Hotaru kembali berjalan ke tengah lapangan.
"Hotaru kun kemari!." Seru Hara.
"Zen! kamu gantikan Hotaru." Titah pelatih.
"Baik." Jawab Zen.
"Maaf siput sipit, kamu kurang beruntung." Ucap Hotaru mengacak surai Jun sebelum pergi menghampiri pelatih.
"Sial." Geram Jun.