Futago

Futago
Valentine.



"Dan ... Apa kamu mau membunuhku?."


Anak smp yang tingginya tidak lebih dari pundak Yuki itu menatap bingung gadis basah kuyup seperti dirinya.


"Jangan meminta sesuatu yang gila, Aome san." Dan hendak membuka jaketnya namun di cegah oleh Yuki.


"Ini tidak dingin." Ujar Yuki namun bibirnya sudah bergetar.


"Kita berteduh dulu." Yuki segera menarik tangannya sebelum Dan sempat meraih tangannya.


"Jika kamu tidak mau membunuhku tinggalkan saja aku, Dan." Pinta Yuki.


"Apa yang terjadi denganmu?. Kamu bukan Aome san yang aku kenal!." Geram Dan meninggikan suaranya.


"Jangan mengatakan kamu mengenalku jika baru bertemu tiga kali." Yuki memicingkan matanya menatap Dan.


Sret!.


Bugh.


Seseorang menarik Yuki dari belakang hingga wajah gadis itu menabrak dada bidangnya. Payung di atas mereka membuat Yuki tidak kehujanan lagi.


"Ayo pulang." Hajime menarik Yuki menjauh dari Dan.


Dan hanya berdiri diam menatap punggung Yuki yang perlahan menjauh.


Hajime menggenggam erat tangan dingin Yuki. Hari ini ia tidak sengaja melihat wajah khawatir Mizutani membuatnya berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu. Sudah sejak sore ia berkeliling mencari Yuki, ia tidak menyangka gadis itu sedang hujan-hujanan di musim dingin seperti ini, hari juga sudah larut. Hajime menuntun Yuki ke minimarket untuk membeli minuman hangat tapi tiba-tiba gadis itu menghentakkan tangannya sampai terlepas.


Hajime membalikan tubuhnya menatap wajah yang sulit di artikan itu. Yuki membalikan tubuhnya hendak pergi. Hajime segera menahan tangan Yuki. Yuki memegang tangan Hajime dengan tangannya yang lain mendorong tangan Hajime hingga terlepas. Yuki kembali berjalan. Hajime sedikit berlari mengulurkan payung untuk melindungi Yuki dari tetesan air hujan membiarkan dirinya kehujanan, berjalan di belakang gadis itu.


Yuki tiba-tiba berhenti, tangannya merebut payung dari tangan Hajime menutup payung lalu memberikannya kembali kepada pemuda itu, Yuki kembali berjalan. Hajime menatap punggung gadis itu. Ia berlari, menarik Yuki membalikan tubuh gadis itu membawanya ke dalam pelukkan namun Yuki dengan sigap mendorong kuat dada Hajime menjauh dari gadis itu.


Hajime menatap dalam wajah pucat dan bibir bergetar Yuki, uap dingin keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka, kondisi mereka sama namun Yuki lebih parah.


Hajime mengulurkan tangannya ke depan, menyelipkan jari-jarinya ke dalam rambut Yuki memegang pipi gadis itu, sedikit menggerakkannya untuk menghadap ke atas mempertemukan manik mereka.


Hening.


Hajime mencari cairan bening yang mungkin keluar dari mata itu namun nihil. Yuki ingin menepis tangan Hajime namun terhenti, ia merasakan cairan hangat keluar dari hidungnya. Yuki segera mundur mengambil kotak permen yang sempat hampir ia buang, terpaksa memakannya karena ada Hajime di sana.


"Hidungmu berdarah." Hajime kembali mendekat dengan tangan terulur namun Yuki dengan cepat menepis pelan tangan Hajime.


"Tolong jaga jarak denganku, senpai." Pinta Yuki mengelap hidungnya dengan punggung tangan.


Dddrrrttsss ... Dddrrrrttsss ... Suara hujan terus bergemuruh membasahi keduanya.


"Uhuk!."


Sssssttt tes, tes ... Darah keluar dari mulut Yuki. Hajime mematung.


"Uhuk!." Yuki menutup mulutnya dengan tangan kosong.


Hajime mendekat melepas jaket yang di kenakannya.


"Senpai!."


Deg!.


Yuki memanggilnya dengan nada dingin penuh peringatan agar pemuda itu tidak semakin mendekat.


"Uhuk!." Yuki membalikan badannya berjalan meninggalkan Hajime.


Yuki menatap tangannya yang penuh darah, menetes bercampur dengan air hujan, ia melirik bajunya juga dalam keadaan yang sama. Yuki menertawakan keadaan dirinya. Ia bersandar pada tiang listrik di jalan, menunduk sebentar karena batuk yang tidak berhenti-henti.


Hajime ingin merengkuh Yuki dan membawanya ke rumah sakit, ia tidak sanggup melihat Yuki dalam keadaan seperti itu. Siapa juga orang yang tega melihat seseorang berlumuran darah, kehujanan di musim dingin menusuk tulang. Hajime mengeratkan pegangannya pada payung maniknya fokus menatap Yuki yang berjalan menggigil dan darah yang menetes di trotoar jalanan.


Hajime menguatkan tekad. Ia berlari, tangannya terulur hendak meraup tubuh Yuki menggendongnya. Gadis itu bukanlah gadis biasa, Hajime sedang tidak beruntung.


Swiisshh.


Yuki membalikan tubuhnya tepat sebelum Hajime bisa meraih dirinya.


Grep.


Yuki menangkap kedua pergelangan tangan Hajime.


Zruk.


Buk.


Yuki mendorong tubuh besar Hajime mengarahkannya ke samping sampai membentur tembok pagar rumah orang.


Manik mereka saling bertemu, Yuki menahan kedua tangan Hajime di samping tubuh pemuda itu.


Hening.


Hajime menatap wajah berantakan Yuki karena noda darah, bau amis menerobos masuk ke dalam hidungnya. Ia melihat Yuki merapatkan bibirnya kuat-kuat, suara gemeletuk antar gigi mengisi keheningan mereka. Darah keluar dari kedua sudut bibir itu, mengalir begitu banyak. Sekarang Hajime baru tahu, ini lah yang membuat gadis itu selalu terpasang infus darah, ini juga yang membuat tubuh gadis itu lemah, bukan karena penyakit anemia.


Hajime ingin merundukkan kepalanya namun jarak tingginya dengan Yuki yang cukup jauh membuatnya kesulitan apa lagi tubuhnya terkunci oleh gadis itu.


"Maaf senpai, aku sedang tidak ingin di usik." Kalimat tajam keluar dari bibir merah itu.


Hajime tidak habis akal, ia langsung melebarkan kedua kakinya ke samping sampai tingginya sejajar dengan Yuki. Hal itu membuat gadis bermanik biru terkejut, tapi belum selesai sampai di situ. Hajime mencondongkan wajahnya ke depan.


Yuki sontak melebarkan matanya kala Hajime mengincar bibirnya. Dengan cepat ia memundurkan kepalanya membuat cengkeraman pada tangan Hajime mengendur.


Sret!.


Yuki semakin melebarkan matanya melirik ke bawah. Tangan Hajime sudah terlepas dan tiba-tiba melingkar di pinggangnya menarik Yuki ke arah pemuda itu.


Grep!.


Nafas Yuki tercekat karena sangat terkejut. Ia mencengkeram erat kedua pundak Hajime menahan tubuhnya menggagalkan pemuda itu memeluknya.


Apa yang terjadi?, batin Yuki. Untuk sesaat pikirannya teralihkan dari kenyataan pahit hidupnya.


Tiba-tiba tubuh Yuki bergetar, tubuhnya terkejut karena merasakan hembusan nafas tenang dan hangat menyentuh kulit wajahnya. Perlahan ia menggerakkan bola matanya naik ke atas. Wajah mereka sangat dekat, manik Hajime menatapnya dengan lembut. Hajime tidak membiarkan Yuki menguasai dirinya kembali, sebelum itu terjadi Hajime menyerang gadis itu di saat pertahanan Yuki masih lemah.


Duk.


Ssrrrtttt.


Hajime menempelkan dahi mereka dan mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Yuki. Sekuat tenaga Yuki mendorong pundak Hajime menahan tubuh bagian atasnya. Yuki berubah kesal, ia mengertakan giginya menahan batuk yang akan keluar, darah kembali merembes dari sudut-sudut bibir.


"Sen, pai." Geram Yuki, maniknya bergulir menatap Hajime.


DEG!.


Yuki tidak mengira akan melihat Hajime menangis. Dada pemuda itu naik turun menahan gejolak di dalam dadanya, ditambah udara dingin yang menyerang mereka.


Yuki menelan salivanya kasar. Satu tangannya merambat naik menyentuh pipi Hajime menghapus air mata itu, ia juga sedikit memajukan wajahnya menggesekkan hidungnya dengan hidung Hajime.


"Aku akan pulang sendiri." Deru nafas Yuki menyapu kulit Hajime.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa." Hajime membalas tatapan gadis itu.


"Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Hajime.


Kebohongan macam apa yang kamu katakan, batin pemuda itu.


Yuki menghentikan gerakkan hidungnya.


"Seharusnya sejak awal kita tidak sedekat ini. Kedekatan kita hanya akan menyakitimu." Ujar Yuki memundurkan kepalanya, namun Yuki lagi-lagi dibuat shock oleh Hajime.


Pemuda itu tidak melepaskan Yuki. Hajime mengejar wajah Yuki yang menjauh.


Cup!.


Yuki mencengkeram kuat pundak sebelah kanan Hajime. Maniknya menatap tidak percaya manik pemuda itu yang menatapnya lembut dan dalam. Deru nafas mereka saling bersahutan.


Yuki bisa merasakan tekstur bibir Hajime di telapak tangannya. Yuki hendak mendorong wajah Hajime dengan tangannya namun pemuda itu malah mengeratkan pelukkannya.


Yuki mencoba membuang wajahnya ke samping.


Sret!.


"Uhuk!. Uhuk!."


Darah tersembur dari mulut Yuki mengotori pundak kirinya. Gadis itu mengatur nafas tanpa mengendurkan penjagaannya.


"Kamu sudah bertindak terlalu jauh senpai." Lirih Yuki mendorong pelan bibir Hajime, kepalanya menoleh menatap pemuda itu. Darah menetes-netes dari dagunya.


"Jika aku tidak melakukannya kamu akan terus kabur tanpa mengatakan apa pun." Kalimat terpanjang Hajime sejak tadi yang hanya menatap dalam manik gadis itu. Yuki menarik nafas panjang.


"Aku sudah bilang, aku akan pulang, uhuk!." Yuki langsung menunduk kala batuknya datang.


"Aku ingin sendiri. Bisakah senpai mengerti?." Pelukkan Hajime mengendur.


Yuki sedikit bernafas lega, ia melangkah mundur untuk melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Hajime.


"Dan satu lagi." Yuki mengelap darah di mulutnya dengan punggung tangan.


"Jangan coba-coba menciumku lagi dengan bekas kapten cheerleaders itu." Gerutu Yuki.


Hajime sedikit terkejut mendengarnya. Apa karena alasan itu Yuki sangat mempertahankan diri agar tidak bisa di cium olehnya?. Hajime meraih tangan kanan Yuki membalik tangan itu. Yuki segera menarik tangannya namun di tahan oleh Hajime. Pemuda itu mengelus lembut permukaan tangan Yuki dengan ibu jarinya yang dingin dan kasar.


"Bekas kapten cheerleaders sudah berpindah ke sini." Kata Hajime melirik Yuki melihat reaksi gadis itu yang bengong.


"Senpai!." Seru Yuki memukul pundak pemuda itu dengan tangannya yang lain.


"Hahaha." Hajime tertawa melihat reaksi Yuki yang sudah kembali seperti biasanya.


Tepat saat itu hukuman berhenti pada pil ke dua.


Hajime membuka jaketnya, meskipun basah tapi masih bisa menutupi baju Yuki yang penuh noda darah. Dengan berbagai siasat yang tidak pernah Hajime lakukan Yuki akhirnya mau di gendong pemuda itu. Yuki meletakan kepalanya di punggung Hajime, tangannya terkulai jatuh di samping.


***


Hajime langsung pulang setelah mengantar Yuki ke rumah gadis itu.


"Aku pulang." Ucap Hajime melepas sepatunya.


"Ya ampun!. Hajime!, apa yang terjadi padamu?!. Darah apa ini?." Ibunya berteriak histeris menatap baju miliknya.


"Darah Yuki." Manik ibunya langsung membulat sempurna.


"Okaa san (Ibu), akan aku ceritakan nanti. Aku mau mandi dulu." Ucap Hajime dengan bibir bergetar.


"Ya, cepatlah, ibu akan membuatkanmu sup hangat. Apa kamu sudah makan?." Hajime menggeleng pelan.


"Ibu akan menyiapkannya." Sergah nyonya Yuuki mendorong putranya masuk ke dalam kamar mandi dengan lembut.


***


Helaan nafas kasar berulang kali Mizutani lakukan. Sudah empat minggu berlalu setelah Yuki diantar pulang Hajime dalam keadaan membeku dan berlumuran darah, gadis itu masih saja memblock para bayangan. Sekarang tanggal empat belas februari, sebentar lagi penobatan ketua bayangan yang baru. Seharusnya ia membicarakan ini dengan Yuki tapi gadis itu sangat sulit di dekati bahkan jika mereka hanya berdua Yuki akan menunjukkan pertahanan tak tertembusnya.


Mizutani menyeruput kopi di meja kerjanya. Ia melirik layar komputer, jadwal permintaan latih tanding dari sekolah lain membludak dan ia tidak bisa menemani murid-muridnya. Mizutani mengambil ponsel menghubungi calon pelatih sementara yang akan menggantikan dirinya untuk sementara.


Yuki kewalahan menerima coklat entah dari siswa laki-laki maupun perempuan. Ia bingung harus di letakan di mana coklat-coklat itu. Natsume juga sejak tadi menyerbunya meminta coklat pertemanan. Mana Yuki tahu yang begituan.


"Kamu tidak ingin memberikan coklat kepada seseorang yang spesial?." Tanya Honda.


"Aku tidak memiliki orang yang spesial." Jawab Yuki.


"Hachibara san benar-benar." Sambung Ueno.


"Tuh, ada yang memanggilmu Yu chan." Natsume menunjuk pintu kelas.


Aku harap hari ini cepat selesai, batin Yuki.


Saat pulang sekolah pun loker Yuki yang berada di dalam kelas di penuhi dengan coklat entah dari siapa, loker sepatu yang biasanya di isi surat-surat berubah menjadi tumpukan makanan manis itu. Untunglah Natsume memberikan kantung besar kepadanya jadi ia tidak kesulitan membawa pulang semua coklat.


***


Di sofa Yuki asik bermain dengan Yuu, kucingnya. Mizutani dan Dazai menatap Yuki dari meja makan, Masamune sedang sibuk menata coklat yang di bawa pulang gadis itu ke dalam lemari pun menghentikan kegiatannya, menghampiri kedua pria itu.


"Mungkin aku bisa membantu kalian." Ujar Masamune.


"Ya, sepertinya itu satu-satunya cara." Ucap Dazai.


Mizutani mengambil secarik kertas dan bolpoin di nakas dekat meja makan menuliskan sesuatu.


"Tolong berikan padanya." Pinta Mizutani memberikan kertas itu.


"Hai." Masamune menerima kertas dari Mizutani lalu berjalan menghampiri Yuki.


Masamune tidak memberikan kertas itu langsung melainkan sebuah mochi besar berwarna coklat.


"Aku menemukannya di toko dekat supermarket langganan. Happy valentine day." Yuki mengerjapkan matanya pelan, lalu menerima mochi itu.


"Terima kasih." Ucapnya langsung menggigit kecil mochi membiarkan lidahnya merasakan tekstur dan rasa mochi itu.


Masamune sempat mengobrol dengan Dazai beberapa minggu yang lalu, kalau Yuki ternyata tidak pernah membuka pesan atau pun mengangkat panggilan kedua pria itu. Pasti ada alasan kuat yang membuat gadis itu mengabaikan mereka.


"Baca juga ini." Pinta Masamune memberikan secarik kertas.


Yuki melirik sebentar sebelum menerimanya. Gadis itu tidak curiga apa pun, dengan santai Yuki membuka kertas membaca tulisan di sana.


Besok kita akan menemui tetua dan tuan besar, bisakah kita bicara?.


Yuki mengedipkan matanya sebentar lalu melirik Mizutani dan Dazai jauh di meja makan.


"Masa san." Yuki menghabiskan mochinya.


"Hm?." Masamune menghentikan jarinya yang menggelitik kucing Yuki.


"Tolong suruh mereka berdua ke kamarku. Terima kasih." Ucap Yuki berlalu pergi.


Kenapa pekerjaannya tiba-tiba berubah menjadi pak pos?, pikir Masamune tapi tetap melakukan yang di minta Yuki.


Tidak lama Mizutani dan Dazai masuk ke dalam kamar Yuki, gadis itu sedang duduk di atas kasurnya.


"Kita berangkat malam ini." Ucap Yuki tiba-tiba.


"Selama di sana, aku yang memegang pil ke tiga." Mizutani menatap Yuki yang mengacuhkan mereka sibuk dengan ponselnya sendiri.


"Apa aku perlu menyamar?."


"Tidak."


Dazai mencoba mendekat.


"Ojou chan ..." Panggilnya lirih.


"Hm." Dazai mengatur nafasnya.


"Saya akan menjawab semua pertanyaan anda, tapi tolong berhenti bersikap dingin dan mengabaikan kami." Pinta Dazai.


"Untuk apa?, aku sudah tahu semuanya." Jawab Yuki membuat pria-pria itu termenung. Kekhawatiran mereka terjawab sudah.


"Aku akan memastikan semuanya sendiri, sudah terlalu banyak aku memaksa kalian dan itu melelahkan." Lanjut Yuki menatap langsung manik Dazai.


"Tidak akan ada yang bisa membuat rencana di belakangku mulai sekarang. Jangan harap bisa membodoh-bodohiku lagi." Ancam Yuki dingin.


Yuki melirik Mizutani.


"Kamu tahu siapa yang memberikan hukuman padaku dari cerita ayah bukan, Tsuttsun."


"Ya." Jawab pria itu.


Berarti Tsuttsun tidak berada di tempat kejadian, lalu siapa orang yang ayah teriaki?, batin Yuki.


"Ayo bersiap." Yuki beranjak dari kasurnya membuka lemari pakaian.


Mizutani menghela nafas panjang. Bukan seperti ini yang ia maksud bicara, masih banyak yang ingin ia katakan. Tapi untuk sekarang mungkin ia tunda dulu. Mizutani dan Dazai keluar dari kamar Yuki.


Ceklek.


Yuki melirik ke arah pintu, ia menguncinya lalu memasukkan barang-barang yang ia pikir diperlukan di sana. Yuki melirik dua kotak permen yang ia punya, Mizutani benar-benar membatasinya sejak malam natal ia hampir memakan pil ke tiga.


Gadis itu memiliki rencana sendiri yang akan di lakukannya di sana. Ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menuntut jawaban, kesibukannya melacak beberapa orang sekaligus sudah membuahkan hasil.


Haneda airport.


Yuki melirik satu persatu ke tujuh bayangan yang duduk santai di kursi tunggu. Gadis itu menyimpulkan bahwa mereka semua akan pergi bersamanya. Tanpa ambil pusing Yuki berjalan menuju pemeriksaan, mereka semua mengikutinya dari belakang.


Di dalam jet pribadi milik keluarga Hachibara, Yuki memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Melacak koordinat pesawat membawanya ke mana, ia menghela nafas berat. Tebakannya benar, tempat yang mereka tuju tidak berbeda dengan tempat yang ingin ia datangi diam-diam. Kalau begini caranya akan sulit pergi ke sana, kecuali para bayangan tidak mengetahui tempat apa itu.


Hyuga, prefecture Miyazaki.


Setibanya di Hyuga para bayangan berpencar meninggalkan Mizutani dan Dazai bersama Yuki. Mereka bertiga menaiki mobil menuju sebuah rumah cukup besar di tengah kota. Tidak ada yang berani buka suara setelah pembicaraan di kamar beberapa jam yang lalu.


Yuki merebahkan tubuhnya di atas ranjang, otaknya kembali bekerja. Skenario hidupnya terasa sangat berat melebihi apa yang bisa ia tanggung. Ayahnya sukses menyembunyikan dan mengalihkan perhatiannya selama bertahun-tahun. Dan dalam waktu sesingkat ini ia di paksa mengingat semuanya, bahkan untuk mengingat pun ada harga yang harus dibayar, bayaran yang tidak biasa.


Sampai kapan hukuman ini bekerja?, sampai kapan ia bisa bertahan?. Perasaan macam apa yang sedang ia rasakan sekarang?. Kenapa semua orang mempermainkan hidupnya sesuka hati mereka?. Bisakah ia hidup normal dengan caranya sendiri?, jawabannya jelas tidak. Ia terlahir di keluarga yang tidak biasa, sejak ia berubah menjadi zigot di dalam perut wanita itu, beban besar sudah menempel padanya.


Yuki beranjak duduk, menyilangkan kakinya.


Jika semua ini kesalahannya tidak seharusnya di limpahkan kepada orang lain, semua ini salah. Kenapa Hotaru yang menerima semua akibat dari ulahnya, saudara kembarnya disekap, di paksa memegang barang haram, di siksa, di paksa membuat racun, di paksa menjadi kelinci percobaan racun ciptaannya sendiri. Yuki mengingat wajah Hotaru saat pertama kali mereka bertemu.


Rambut kusut, tubuh kurus, kantung mata gelap, mata sayu kurang tidur. Yuki meremas dadanya karena sakit mengingat memori tidak mengenakan itu. Seharusnya dia lah yang berada di sana, seharusnya dia yang mereka siksa, seharusnya dia yang mereka tangkap. Yuki mengatur nafasnya yang semakin cepat, ia tidak boleh menangis.


Menarik nafas panjang, Yuki mulai menutup matanya melakukan meditasi.


***


Tok tok tok.


"Ojou chan, sudah pagi. Anda mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?." Suara Dazai terdengar dari luar pintu.


Tidak ada jawaban, Dazai memutuskan masuk ke dalam.


Sreett.


Hening.


Dazai melihat nona mudanya sedang bermeditasi masih menggunakan baju tadi malam saat berangkat.


Wajahnya begitu tenang dan tegas. Dari mana ojou chan mempelajari hal seperti ini?, batin Dazai.


Mizutani menghampiri Dazai yang tidak kunjung kembali. Ia pun mendapatkan pemandangan langka itu.


Mizutani pernah melihat Yuki bermeditasi sebelumnya, tapi gadis itu melakukannya di dalam air.


Dazai menutup pintu kembali tidak ingin mengganggu Yuki.


Meditasi mengolah emosi dan pikiran membantu Yuki dalam keadaan seperti Sekarang.


Sekarang mereka sedang menuju ke pemakan yang cukup jauh dari kota. Dazai memberikan seikat bunga kepada Yuki dan beberapa di tangannya dan Mizutani.


Yuki berdiri di depan tangga yang menjulang tinggi, entah ada berapa ratus anak tangga karena Yuki agak sulit melihat ujungnya, pepohonan lebat mengisi kanan kiri tangga, udara dingin bulan februari menyapa Yuki dari arah ujung tangga seakan menyambut kedatangannya.


Mizutani memimpin paling depan, Dazai memegang tangan Yuki menuntun gadis itu dengan lembut dan sopan. Jantung Yuki ikut berdetak keras dan cepat membalas sambutan angin itu.


Sudah beberapa menit berlalu namun Yuki masih belum melihat ujungnya. Dazai beberapa kali menanyainya untuk istirahat tapi Yuki menolak. Setelah perjuangan cukup lama Yuki melihat dua pagar batu tinggi berwarna merah. Kakinya terus melangkah hingga menapaki puncak tangga.


Angin lebih kencang kembali berhembus menabrak Yuki. Dua biksu menghampiri Mizutani, entah apa yang mereka bicarakan Yuki tidak bisa mendengarnya. Kedua biksu tiba-tiba berdiri di depan Yuki membungkuk dalam, salah satu diantara mereka terlihat meneteskan air mata. Yuki menjawab salam mereka dengan membungkuk pula.


Penghormatan yang cukup lama hingga Yuki menegakkan tubuhnya dan mengangkat satu tangan ke depan barulah biksu-biksu itu menegakkan tubuh mereka. Senyum lebar dan cerah Yuki dapatkan, lima biksu kecil terlihat mengintip dari dalam kuil.


Dazai kembali menuntun Yuki memasuki kuil, gadis itu hanya memperhatikan Mizutani dan Dazai yang melakukan sesuatu di depan kuil. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kuil. Tenang, damai, kuil itu juga sangat besar, bersih, dan apik.


Dazai menuntun Yuki ke sebelah kanan kuil terlihat ada gerbang yang sama persis dengan gerbang di depan namun ukurannya lebih kecil. Mizutani sudah memasuki gerbang yang di penuhi kayu-kayu berbentuk persegi panjang penuh tulisan yang tergantung tertata rapi di kanan dan kiri bak lorong panjang. Yuki melangkahkan kakinya melewati gerbang, seketika itu juga angin kencang berhembus menggoyangkan kayu-kayu menimbulkan suara saling berbenturan.


Klantang klantang klantang.


Tiba-tiba suara gemericik aneh terdengar di susul suara gong keras menggema memenuhi bukit itu berkali-kali.


Krincing ... Krincing ... Krincing ... Krincing ...


Goooong ... Goooong ... Gooooong ...


Yuki tanpa sadar meremas tangan Dazai lalu melepasnya cepat-cepat, mengambil kotak permen memasukkan pil ke dalam mulutnya.


"Apa itu?." Tanya Yuki menatap Dazai.


"Itu adalah ritual setiap keturunan kaisar pertama datang berziarah." Jelas Dazai.


Setelah itu kelebat-kelebat ingatan mendesak, merobek, memaksa Yuki mengingat mereka.


Mereka kembali berjalan. Yuki masih di sambut oleh gerbang lain, yang ini terlihat agak unik, memiliki ukiran-ukiran aneh. Yuki masuk semakin dalam, maniknya langsung di sambut oleh deretan makam tertata rapi dengan pemandangan apik di bawah sana. Rumah-rumah, deretan sungai yang saling menyambung, pohon-pohon hijau, ia bisa melihat keseluruhan kota Hyuga dari sini.


Asri berbeda jauh dengan tokyo, mirip seperti kyoto tempat tinggal si kembar namun ini lebih asri dan memiliki hawa mistis yang positif.


Dazai kembali menuntun Yuki menuju makam kakeknya. Mizutani sudah menunggu keduanya di depan salah satu makam. Pria itu mundur beberapa langkah ketika Yuki sampai.


Manik birunya membaca nama yang tertera. Hachibara Ko. Yuki menatapnya cukup lama, ia menaruh bunga di depan makam mengusap batu bertuliskan nama kakeknya.


Bibirnya terkunci rapat, ia sibuk mengatur semua emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Ia beralih ke samping, Hachibara Yuri. Dazai memberikan bunga lain kepada Yuki yang gadis itu letakan di depan makam. Ia termangu lama di depan makam nenek buyutnya memutar ingatan yang ia dapat tentang nenek Yuri. Yuki beralih ke samping, Hachibara Go. Orang yang sangat hebat dalam memimpin, orang yang sangat pandai dalam bidang seni, mungkin keahlian seni Yuki menuruni kakek buyutnya.


Mizutani dan Dazai melakukan ziarah kepada tuan-tuan mereka setelah Yuki. Gadis itu berdiri lalu membelakangi makam melihat pemandangan terbentang di bawah sana.


"Tempat peristirahatan yang sangat indah." Celetuk Yuki.


"Ini adalah tempat peristirahatan khusus keturunan langsung kaisar pertama dan pasangan mereka." Jelas Mizutani.


"Hm?." Yuki langsung mengedarkan pandangannya, sudah sebanyak ini leluhur Yuki.


"Anda juga harus mengunjungi makam sang kaisar dan permaisuri ojou san." Yuki mengangguk sekilas.


Mereka menaiki tangga lain, di sana pohon-pohon lebih terawat indah, beberapa tanaman bunga juga ada. Yuki menghabiskan waktu cukup lama untuk berziarah. Mereka kembali melanjutkan ke tujuan selanjutnya.


"Saya akan mengantar anda agak jauh dari kediaman utama. Untuk mencegah anda memakan pil ke dua." Jelas Dazai yang kini sedang menyetir menggantikan Mizutani.


"Hm."


Benar saja Dazai tidak membiarkan Yuki keluar dari dalam mobil, mereka parkir di pinggir jalan yang sangat jauh dari kediaman utama. Yuki hanya bisa melihat ujung-ujung atap-atap besar kediaman utama, dari sana Yuki bisa menyimpulkan kediaman utama memiliki lebih dari satu bangunan, tempat yang sangat luas. Mungkin dulu kaisar pertama membangunnya berniat untuk membuat monumen? atau, tempat wisata sejarah, pikir Yuki.


"Kita langsung ke penginapan di dekat sini. Anda harus makan, kita sudah sebelas menit melewatkan jam makan siang." Yuki menaikan satu alisnya menatap belakang kepala Dazai.


Pria itu sedikit berlebihan hari ini.


Di penginapan tidak ada pengunjung selain mereka. Penginapan tradisional dilengkapi dengan onsen (pemandian air panas) yang sangat di gemari oleh orang-orang jepang.


Setelah Yuki menghabiskan makanannya ia hendak keluar penginapan untuk melihat-lihat sekitar, Dazai dan Mizutani mencegahnya. Mereka takut jika ada anggota klan yang mungkin melihat mata Yuki. Gadis itu akhirnya melakukan negosiasi, ia tidak keluar sekarang tapi nanti malam ia ingin keluar berkeliling ke desa-desa sekitar. Mizutani menyetujuinya tapi mereka berdua harus ikut. Kesepakatan terjadi.


Di dalam penginapan Yuki tidak sabar untuk pergi ke tempat tujuan ke tiganya. Ternyata tempat tujuan rahasianya lumayan dekat, ia sedang beruntung.


Setelah makan malam Yuki masuk ke dalam kamarnya mengganti baju. Ia memakai sweater panjang warna cream muda, rok mini hitam lima senti di atas lutut, memakai stocking hitam sepaha, dan sepatu heels tiga senti.


Dazai dan Mizutani sudah menunggu Yuki di depan penginapan, mobil sudah terparkir siap berangkat.


"Aku tidak ingin naik mobil." Celetuk Yuki.


"Eh?!." Dazai kaget. Yuki menunjuk sesuatu yang terparkir di depan penginapan.


"Aku belum pernah naik ini. Kudo kun mengejekku karena benda ini." Jelas Yuki menatap Mizutani.


"Di luar dingin, kamu tidak apa-apa?." Mizutani memastikan.


"Ya." Jawab Yuki tegas.


Mizutani dan Dazai akhirnya mengambil sepeda yang tersedia untuk pengunjung. Yuki menatap horor benda yang Mizutani naiki.


"Ayo." Yuki melirik Mizutani lalu kembali pada sepeda hitam itu.


"Bagaimana caraku menaikinya?." Tidak ada yang menertawakan Yuki, Dazai segera turun dari sepeda lalu memberikan contoh kepada gadis itu duduk di belakang Mizutani.


Yuki paham, ia mendekati Mizutani memegang pinggang pria itu lalu duduk menyamping.


"Hati-hati kakimu." Mizutani memperingati.


"Angkat sedikit ojou chan, letakan di sebelah sini." Dazai mengajari Yuki.


"Begini?."


"Ya, seperti itu."


Mereka mulai mengayuh sepeda mengitari tempat sekitar. Getaran ponsel Yuki membuat gadis itu merogoh tas selempang kecilnya.


"Yeoboseyo? (Hallo?)." Untunglah kedua bayangan itu tidak memahami bahasa korea, Yuki bisa bebas berbicara dengan Jun Ho.


"Gadis nakal, aku sudah sampai di Hyuga." Yuki melirik Mizutani lalu kembali fokus dengan ponselnya.


"Aku sudah mengirimkan lokasinya."


"Tunggu sebentar, ayahmu menelfonku." Yuki mengerutkan dahi. Panggilan mereka terputus.


"Tsubaki, sudah lama kita tidak bersepeda di jalan menanjak seperti ini." Celetuk Dazai. Yuki melihat sekitar, jalan yang mereka lalui sedang menanjak curam.


"Ya, paling seru saat kita." Mizutani menggantung kalimatnya. Pria itu mengayuh kuat seakan-akan Yuki tidak membebaninya.


Yuki melihat ke bawah, turunan yang panjang, batinnya.


Dazai bersorak riang, pria itu lupa umur sepertinya. Mizutani melanjutkan kalimatnya.


"Turun." Setelah mengatakan itu sepeda langsung mengarah ke bawah, Yuki spontan memeluk erat pinggang Mizutani matanya terbuka lebar, ia merasakan sensasi yang menyenangkan di terpa angin kencang dan suara roda yang berputar. Adrenalinnya terbangun.


Mizutani menancap gas sebelum roda melambat, kakinya seperti mesin yang mengayuh cepat. Yuki mengukir senyum setelah lama tidak menghiasi wajahnya. Dazai melihat itu, ia langsung memberikan kode kepada Mizutani untuk melakukannya lebih cepat.


Di sela euforia bersepeda, Yuki melirik jam tangannya. Sudah dekat, batin Yuki. Tanpa kedua bayangan sadari Yuki mengarahkan mereka ke tempat tujuan rahasianya. Ia tiba-tiba mengingat Jun Ho, tangannya langsung mengecek ponsel. Ada pesan dari pria itu.


Gadis nakal, ada sesuatu yang penting, aku harus pergi ke sana. Besok pagi kita bertemu di lokasi penginapan yang kamu kirimkan. Sampai besok.


Yuki mempautkan bibirnya kesal. Niatnya ia akan pergi dengan Jun Ho membahas pembaharuan pil ke dua.


Yuki mengedarkan pandangannya. Rumah-rumah mulai jarang di temui, satu rumah dengan rumah yang lain terpisah jauh.


"Kita sudah bersepeda sangat jauh, tidak ada yang bisa di lihat di sini. Anda mau kembali ke penginapan ojou chan?." Yuki menggeleng pelan.


"Sudah malam, besok ada pertemuan dengan para bayangan yang lain. Kamu harus datang. Kita kembali untuk istirahat." Ujar Mizutani hendak memutar balik sepedanya namun Yuki lebih dulu menepuk punggungnya.


"Berhenti." Mizutani dan Dazai menghentikan sepeda mereka di depan rumah penduduk.


"Ada apa?." Tanya Mizutani. Yuki turun dari sepeda.


"Tadi sangat menyenangkan." Ucap Yuki jujur.


"Bisakah kalian tidak berisik dan tetap diam?." Tanya Yuki dengan nada riang yang tiba-tiba, membuat kedua bayangan kedua pria itu was-was.


"Yuki, apa yang kamu rencanakan?." Sergah Mizutani. Yuki menjawabnya dengan telunjuk yang di tempelkan di bibir menyuruh mereka untuk diam.


"Tolong, untuk kali ini." Pinta Yuki. Dazai dan Mizutani tidak tenang.


"Je." Mereka berdua melebarkan mata melihat burung hantu itu tiba-tiba melayang di samping kepala Yuki.


"Sssttt ... Yang penting kalian bersamaku bukan." Kata Yuki menatap keduanya bergantian.


"Je, sembunyi." Burung hantu itu tidak menjawab perintah Yuki dan langsung melayang pergi.


Yuki berjalan dalam mode menyusup, langkahnya ringan, tidak menimbulkan suara membuat kedua bayangan yakin Yuki menyembunyikan sesuatu dan gadis itu sedang serius sekarang. Mizutani menatap Dazai mengangguk kecil memberikan kode untuk mengikuti permainan Yuki.


Tangannya dengan luwes membobol pintu, memasuki rumah asing di ikuti oleh kedua bayangan juga dalam mode hening.


Rumah tradisional itu cukup besar, Yuki melepas sepatu heelsnya agar tidak menimbulkan suara. Ia melangkah santai menuju salah satu ruangan, satu-satunya tempat yang masih berpenghuni.


Terdengar suara khas sedang bercakap-cakap, Dazai melebarkan matanya menangkap lengan Mizutani. Ia ingat suara siapa itu.


Mizutani menoleh kepada Dazai, mulutnya bergerak menyebut sebuah nama. Pemimpin bayangan itu shock, sepersekian detik sebelum Mizutani bergerak cepat, suara pintu terbuka membuatnya mematung.


Sial, gerutu Mizutani.


Yuki sudah membuka pintu itu dan sebuah kalimat keramat keluar dari bibirnya.


"Shoot."