
Yuki berjalan meninggalkan bangku cadangan dalam keheningan saat tim A mendekati tim B. Ia terus berjalan sampai di asrama perempuan, mengganti bajunya dengan seragam sekolah lalu memasukan seragam baseball yang kotor ke dalam tasnya.
Yuki berjalan cepat meninggalkan asrama menuju ke gerbang depan, ia tidak ingin melewati gerbang belakang. Ponselnya sejak tadi bergetar namun ia abaikan begitu saja.
Yuki mendengar langkah seseorang berlari di belakangnya, dengan cepat Yuki berbelok ke kanan menyebrangi gedung kedua ke gedung ketiga, ia melihat sebuah pintu tidak jauh darinya tanpa pikir panjang Yuki membuka pintu dan menutupnya cepat.
"Siapa?." Yuki menoleh ke belakang melihat seorang laki-laki sedang membersihkan ruangan itu.
"Yuki!." Teriak seseorang.
Mi chan, batin Yuki.
"Ada yang mencarimu?." Tanya laki-laki itu.
"Boleh aku bersembunyi di sini sebentar?." Tanya Yuki.
"Tentu."
Tok tok tok.
Yuki melirik kesal ke pintu didepannya.
Ceklek.
Yuki terdorong ke balik pintu, laki-laki itu bergerak gesit menghalangi Mizutani agar tidak masuk.
"Maaf ini klub koto, sensei ada perlu apa?." Tanya laki-laki itu.
"Kamu melihat siswi masuk ke sini, Ishikawa san?." Mizutani mencoba melirik ke balik pundak Ishikawa.
"Maaf sejak tadi saya sendirian." Jawab Ishikawa berbohong.
"Baiklah, maaf mengganggumu." Ucap Mizutani berlalu pergi.
Ceklek.
Pintu tertutup.
"Sensei sudah pergi."
"Boleh aku keluar lewat sana?." Tanya Yuki menunjuk jendela berukuran cukup besar.
"Silahkan." Yuki berjalan mendekati jendela menghindari benda-benda yang berserakan di lantai.
"Apa ada yang mengganggumu?." Tanya laki-laki itu.
Sreekk.
Yuki membuka jendela.
"Entahlah." Jawab Yuki mengangkat tubuhnya duduk dijendela lalu mengangkat kakinya berputar seratus delapan puluh derajat membelakangi laki-laki itu.
"Terima kasih." Ucap Yuki melompat pergi.
Brak.
Pintu dibuka kasar.
"Maaf, apa kamu melihat gadis bermata biru?, hanya ruangan ini yang belum aku datangi." Natsume masuk begitu saja, bola matanya menyapu seluruh ruangan.
"Apa kamu menyembunyikannya di dalam lemari?." Tanya Natsume membuka lemari di dalam ruangan itu tanpa izin si pemilik.
"Hati-hati, kamu tidak sopan." Tegur Ishikawa.
"Apa dia lewat sini?." Natsume mendekati jendela melihat pemandangan di luar.
"Kalau kamu tidak mau menjawabnya, berarti dia lewat sini." Ucap Natsume melirik Ishikawa.
"Maaf sudah mengganggu." Ucap Natsume meninggalkan ruangan itu.
***
Yuki segera menyembunyikan dirinya saat melihat Suzune berdiri di pintu gerbang depan, jika seperti ini ia tidak bisa keluar dengan mudah. Yuki melirik kembali, apa tidak ada jalan lain, batin Yuki.
Jawabannya adalah tidak.
Jika Yuki memilih lewat jalan belakang sudah dipastikan dia akan bertemu dengan Mizutani, itu pilihan terburuk. Yuki berjalan mengendap-endap, otaknya berputar cepat. Saat ia sudah dekat dengan Suzune Yuki melempar sebuah batu yang sempat ia pungut mengalihkan perhatian Suzune. Dengan langkah seribu Yuki berlari cepat ke arah yang berlawanan.
"Hachibara san!." Yuki bisa mendengar teriakan Suzune memanggilnya dari belakang.
Tanpa pikir panjang Yuki terus berlari mengikuti kakinya kemana pun membawanya pergi.
"Huh huh huh." Yuki bersandar di salah satu pagar rumah orang, mengatur nafasnya yang memburu.
"Dimana ini?." Yuki mengedarkan pandangannya seraya mengelap keringat dengan punggung tangan.
"Are ..?, aku tersesat." Lirih Yuki yang tidak mengenali lingkungan itu, ia akhirnya berjalan menyusuri jalan-jalan kecil.
Lingkungan itu terlihat padat dan sepi, ia juga melihat ada taman kecil di ujung jalan. Yuki memutuskan ingin duduk di taman namun belum sampai di tempat tujuan telinganya mendengar suara aneh dari dalam bangunan di sampingnya.
Yuki melirik bangunan itu, sebuah papan menggantung bertuliskan 'Bengkel Yamada', Yuki melihat pintu bengkel yang terbuka. Kalau ingin ke taman kecil itu Yuki harus melewati pintu bengkel yang terbuka.
Yuki berpikir sebentar. Ini bukan masalah pintu itu terbuka atau tertutup yang membuat Yuki waspada adalah aura gelap yang keluar dari dalam bengkel ditambah suara gaduh dari dalam.
Yuki memutuskan sedikit mendekat untuk menilai keadaan. Tanpa melihat ke dalam bengkel Yuki bisa merasakan ada banyak orang berkumpul di dalam sana.
BUK.
BUK.
BUK.
Tanda bahaya, aku harus kembali ke jalan yang tadi, batin Yuki.
"Are?, siapa disini?." Laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan dua tindik di telinga kirinya berjalan mendekati Yuki.
"Eits, mau kemana?." Laki-laki itu berusaha meraih tangan Yuki yang berniat pergi namun, Yuki dengan gesit menjauhkan tangannya.
"Menguping tidak baik nona." Kata laki-laki itu kembali mencoba meraih tangan Yuki.
"Heeh ..?, gerakanmu boleh juga." Laki-laki itu semakin mendekati Yuki, Yuki melangkah mundur membuat jarak. Karena badannya yang tinggi dan kakinya yang panjang satu langkah laki-laki itu dua langkah untuk Yuki.
Laki-laki itu berusaha meraih Yuki kembali dengan kedua tangan panjangnya, ia sangat bersi keras ingin menangkap gadis itu.
"Berhenti. Mari kita bicara." Kata Yuki yang sadar jika ia lari pun pasti laki-laki itu akan berusaha mengejarnya.
"Baik." Jawab laki-laki itu tersenyum miring.
"Karena kamu sudah menguping. Ayo ikut aku." Tangan panjangnya kembali terulur berusaha meraih tangan Yuki, Yuki segera menjauhkan tangannya dari jangkauan laki-laki itu.
"Jangan sentuh aku. Aku mengerti, aku akan mengikutimu tapi jangan coba-coba untuk menyentuhku." Ucap Yuki menatap manik laki-laki itu.
"Baiklah aku tidak akan menyentuhmu, ikut aku. Jangan mencoba untuk kabur." Balas laki-laki itu membalikan badannya berjalan ke dalam bengkel.
Yuki menghembuskan nafas panjang mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam bengkel.
"Kalian minggir." Ucap laki-laki itu.
Serentak barisan laki-laki berseragam membuka jalan, mata mereka melirik perempuan yang dengan santainya tanpa rasa takut berjalan di belakang salah satu kapten mereka.
Tebakan Yuki benar, di dalam bengkel ada sekitar enam puluh orang berbaris dengan rapih, sepuluh orang berdiri di hadapan mereka, dan tiga orang terkapar di lantai, di tambah dirinya dan laki-laki bertindik ini.
"Menyedihkan, pemimpin kami kalah dengan mudahnya." Kata laki-laki itu memecah kesunyian.
Hening.
Suasana di dalam bengkel sangat panas, Yuki tidak bodoh untuk mengetahui sebuah pertempuran sedang terjadi.
Mereka preman jepang?, mau melakukan tawuran di dalam bengkel?. Mereka butuh ruang yang lebih luas agar bisa lebih mudah menyerang bukan, batin Yuki.
"Aku menangkap ikan segar yang menguping kita." Laki-laki itu melirik ke belakang.
"Maju." Titahnya, Yuki melangkah ke depan berdiri di samping laki-laki bertindik tetap memberi jarak.
"Waaah, kamu pintar memilih ikan segar kapten Jiro." Celetuk laki-laki dibelakang.
"Dia sangat cantik."
"Lihat matanya, ada samudra di dalam mata itu."
"Lihat hidung dan bibirnya."
"Diam!." Teriak laki-laki bertindik menghentikan keributan anggota-anggotanya.
"Apa kau ingin bermain dengan cara menjijikan sesuai dengan gengmu, Jiro?." Yuki melihat laki-laki bertubuh kecil dan pendek berdiri di depan orang bernama Jiro. Ia memiliki rambut sedikit gondrong, berwarna pirang, baju yang tidak dikancingkan, dan celana lebar dibagian bawah.
Hm? ini style preman jepang?, batin Yuki.
Jiro merentangkan tangan kirinya hendak merangkul Yuki, Yuki segera merunduk untuk menghindar.
"Lihat, aku inginnya seperti itu. Tapi dia sangat sulit di pegang. Dia barang yang langka." Ucap Jiro menarik sudut bibirnya, Yuki menatap datar laki-laki bertindik itu.
"Gengmu sendiri yang datang ke sini, jadi ... Jangan menyeret orang yang tidak ada hubungannya dengan kita." Laki-laki kecil itu menatap tajam, tidak di sangka ia memiliki suara yang sedikit berat dan serak.
Dia pemimpin kelompok sepuluh orang rupanya.
Bukankah harus ada yang membawa tiga orang itu ke rumah sakit, mereka mengeluarkan banyak darah di kepala dan hidung, batin Yuki melirik ke lantai.
"Aku tidak bisa." Jawab Jiro bergerak cepat meraih Yuki namun laki-laki kecil itu mendaratkan tendangannya di ulu hati Jiro membuatnya jatuh ke belakang dan sedikit ke samping. Yuki melebarkan bola matanya melihat tubuh Jiro yang sudah dekat dengannya menyenggol pundak kanan gadis itu membuat Yuki hilang keseimbangan.
Aku akan jatuh, batin Yuki.
"DAN!." Teriak teman-teman laki-laki kecil itu, bergerak maju satu langkah, reflek cepat dari rekan satu komplotan.
Semua orang terkejut tanpa terkecuali.
"Jangan sentuh aku." Ucap Yuki lirih.
Zzzz ... Zzzz ...
Yuki mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Hazuki." Kata Yuki.
"Dimana?!. Katakan, sekarang!!." Teriak Natsume, suaranya terdengar sangat marah.
"Aku tidak tahu, aku tersesat." Jawab Yuki.
"Aku mengikutimu, mungkin jarak kita tidak jauh, katakan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk." Sergah Natsume.
"Bengkel Yamada, di dekat taman kecil." Yuki melirik laki-laki kecil yang di panggil Dan itu sedang berdiri di bantu oleh temannya.
"Aku menemukanmu. Kau ada di dalam?." Tanya Natsume, Yuki mendengar suara kaki orang berlari di luar bangunan.
"Hm." Setelah Yuki menjawab telinganya mendengar suara yang sangat dia kenal dari arah pintu masuk.
"Minggir!. Minggir!. Minggir!." Natsume menyibak barisan orang-orang menyeramkan tanpa ragu.
Yuki mematikan ponselnya menatap teman yang mulai ia terima di dalam hidupnya tengah menatap dirinya dengan mata yang berbinar.
"Yu chaaaannn!!." Natsume berlari tidak menghiraukan keadaan sekitar, merentangkan tangannya hendak memeluk Yuki.
Pluk.
Yuki mengulurkan tangannya menahan dahi Natsume dengan ponselnya.
"Jangan memelukku." Tolak Yuki.
Natsume menggerak-gerakan tangannya berusaha meraih Yuki.
"Yu chan kejam ..." Rengek Natsume. Yuki memutar bola matanya malas.
Pluk.
Yuki terkejut, Natsume menangkup tangan Yuki dengan kedua tangannya membalikan tangan itu.
"Lihat, tanganmu merah." Natsume menatap tangan Yuki.
"Lepaskan." Ucap Yuki datar.
"Ooii oii oi, siapa yang menyuruhmu ma." Kalimat protesan dari salah satu anggota Jiro di potong oleh teriakan Natsume.
"Apa yang kamu lakukan!!, bermain baseball dengan anggota klub baseball!. Apa lagi menjadi pitcher mereka!. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan Yu chan!. Lihat!! kamu melukai tanganmu sendiri!. Kamu tahu tidak sih kalau itu berbahaya!." Srobot Natsume panjang.
Natsume tidak memberikan waktu untuk Yuki menjawab.
"Setelah pertandingan kenapa kamu kabur?, Mizutani sensei dan Suzune san bingung mencarimu ke seluruh penjuru sekolah, termasuk aku. Untung saat Suzune san melihatmu berlari keluar dari sekolah aku ada di dekatnya dan berlari mengejarmu!." Natsume menatap tajam manik Yuki.
"Kamu tahu betapa jauhnya aku mengejarmu?. Apa yang kamu pikirkan berlari sampai ke sini!, kamu sudah gila Yu chan!. Hah huh hah huh." Natsume mengatur nafasnya yang terkuras untuk memarahi Yuki.
Semua orang disana menelan salivanya dengan susah payah, mereka merinding, takut, melihat perempuan yang tiba-tiba datang dan marah-marah.
"Sepertinya tidak hanya aku saja yang gila, kamu juga Hazuki. Apa kamu sadar keadaan kita sekarang." Jawab Yuki membuat Natsume tersadar.
Natsume mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Mereka berada di tengah-tengah pertempuran preman-preman yang haus darah.
"Ke kenapa perempuannya hanya ada kita berdua, Yu chan?." Tanya Natsume lirih seraya mendekati Yuki.
"Aku di seret ke sini oleh orang itu." Natsume menatap laki-laki bertindik yang ditunjuk Yuki.
"Aku tidak akan melepaskanmu." Kata Jiro beranjak berdiri.
"Pemimpinmu sudah aku kalahkan, tidak ada alasan untuk kalian berada di sini." Balas Dan. Natsume menoleh ke asal suara.
"Heh?, anak kecil ini yang mengalahkan tiga orang itu?." Natsume shock.
"Kata-katamu terlalu kasar, onee san." Jawab Dan.
"Apa ..?!." Teriak Natsume.
"Jangan berteriak Hazuki." Tegur Yuki yang telinganya terasa sakit.
"Kalian masih anak smp?." Sergah Natsume tidak mengindahkan Yuki. Yuki menoleh menatap Dan.
"Aku akan pergi membawa dua ikan segar ini." Ujar Jiro dengan percaya diri.
"Kamu tidak akan membawa apa-apa kecuali kekalahan." Balas Dan.
"Ap apa yang sebenarnya terjadi Yu chan?." Tanya Natsume semakin mendekati Yuki.
Yuki yang sudah mengumpulkan informasi dari situasi saat ini di dalam kepalanya sudah mendapatkan jawaban.
"Kita sedang di atas papan catur Hazuki." Jawab Yuki.
"Eh?." Natsume menatap bingung temannya itu.
"Mereka sedang berperang." Lanjut Yuki.
"Tapi kata anak kecil itu dia sudah mengalahkan pemimpin mereka, lihat. Mungkin orang yang memakai jaket dengan warna berbeda sendiri adalah pemimpin mereka." Natsume menunjuk laki-laki yang terkapar di lantai.
Yuki mendekati laki-laki itu dan berjongkok di sampingnya, meneliti wajah yang bersimbah darah. Menarik perhatian orang-orang.
"Dia bukan pemimpinnya." Kata Yuki menimbulkan pertanyaan di kubu Dan dan banyak anggota geng Jiro.
"Dia hanya sebuah bidak." Lanjut Yuki.
"Yu chan." Lirih Natsume memanggil Yuki.
"Mereka mengerahkan prajurit untuk maju lebih dulu sedangkan di kelompok yang lain mereka mengerahkan raja, patih, dan jenderal mereka." Yuki melirik ke sepuluh orang di sisi lain.
"Karena di dalam permainan catur permainan akan selesai jika raja mereka mati, untuk membuat permainan berjalan lama dan tujuan tercapai mereka membutuhkan bidak untuk dijadikan raja palsu." Jelas Yuki.
"Di dimana raja yang asli?." Tanya Natsume mewakili kelompok Dan.
"Hazuki, orang baik dan lugu akan mudah di kelabui oleh orang licik yang penuh siasat." Kata Yuki berdiri.
"Eh?." Natsume tambah bingung.
"Mungkin raja yang asli sedang menyusup di wilayah musuh, dan membuat drama di kelompoknya untuk pengalih perhatian." Jawab Yuki mendekati Natsume.
"Tapi Yu chan, penjelasanmu sangat membingungkan. Di jepang jarang ada orang yang bermain catur." Celetuk Natsume.
"Benarkah, jadi mereka memainkan apa?." Tanya Yuki.
"Shogi." Jawab Natsume.
"Apa itu?."
"Aku juga tidak bisa menjelaskan dengan benar, karena aku tidak pernah memainkannya."
"Ayo kita pulang, aku sangat haus." Ajak Nastume mendorong Yuki dari belakang.
"Jangan sentuh aku Hazuki." Protes Yuki.
"Ya ya ya, ayo cepat." Balas Natsume tidak mengindahkan Yuki.
"Bukankah kamu ada urusan klub hari ini?." Tanya Yuki cepat lalu berhenti di depan Jiro.
"Yu chan ada apa?." Tanya Natsume memiringkan kepalanya melihat Jiro yang menatap mereka.
Dan merentangkan satu tangannya diantara Yuki dan Jiro.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kalian pertarungkan, aku juga tidak mau tahu. Masalahku sudah sangat banyak aku tidak ingin menambahnya lagi. Selesaikan masalah kalian sendiri bukankah itu yang namanya laki-laki?." Semua orang tertegun dengan kalimat yang keluar dari mulut Yuki.
"Kami bukan ikan segar atau pun daging segar. Ayahku banting tulang mecari uang untuk memberiku makan dan membesarkanku, dan kamu," Yuki menatap dalam manik Jiro.
"Baru bertemu dan seenak jidatnya sendiri mengatakan tidak akan melepaskanku, apa yang telah kamu lakukan untukku?. Siapa kamu?." Natsume bergerak gelisah di belakang Yuki. Ia tidak tahu Yuki sangat mengerikan jika sedang serius.
"Lebih baik kau buang pisau ditanganmu, anak kecil ini bisa dengan mudah menendang jantungmu sebelum kamu berhasil melukainya." Jiro terkejut. Begitu pun semua orang.
"Silahkan melanjutka urusan kalian, kami permisi." Ucap Yuki menatap tagan Dan yang meghalangi jalannya.
Laki-laki kecil itu segera menurunkan tangannya setelah melihat tatapan Yuki, Yuki berjalan dengan mantap, orang-orang di depannya pun secara otomatis memberinya jalan.
"Yu chan apa kamu kesurupan?." Celetuk Natsume di ambang pintu bengkel.
"Apa yang kamu katakan, Hazuki."
"Soalnya, seperti ada hantu yang merasukimu tadi. Aku yakin yang tadi bukan dirimu."
"Diamlah." Pinta Yuki kesal.
Dan dan yang lain menatap kedua perempuan yang terus bertengkar itu berlalu pergi.
"Apa jangan-jangan kamu seorang cenayang Yu chan?." Natsume masih tidak menyerah.
"Kamu terlalu banyak menonton drama korea Hazuki." Jawab Yuki.
"Tentu saja mereka sangat keren." Balas Natsume semangat.
"Diam, Hazuki."