
"Anda seperti menyimpan sesuatu ojou sama?." Jojo bertanya dengan hati-hati.
"Hmmm, aku tidak berpikir rencanaku sudah benar." Yuki akhirnya duduk juga setelah sekian lama berdiri.
"Apa yang membuatmu ragu?." Yuki menoleh kepada Daren.
"Semua ini akan cepat selesai jika aku menggunakan,"
"Tidak." Srobot Daren. Yuki memutar matanya.
"Aku tahu. Itu akan memunculkan BD BD yang lain." Lanjut Yuki. Ia terdiam menutup rapat-rapat matanya.
Aku akan menyusun kembali rencananya. Tidak, sudah tidak ada waktu. Apa yang bisa aku lakukan?. Para agen?. Nama klan harus tetap tersembunyi, batin Yuki.
".., uki."
Haruskah membiarkan para bayangan menggunakan alat yang aku buat?. Tali hitam sudah aku berikan kepada Will, Yuki memutar otaknya.
"Yuki."
Masih ada tali cincin. Tongkat panjang. Kubus. Haruskah aku membuat yang lain?, batin Yuki tidak mendengar panggilan Daren sejak tadi.
"Yuki!."
Deg!. Gadis itu membuka matanya mengerjap pelan.
"Lihat sekelilingmu." Titah Daren.
Perlahan manik birunya mengedarkan pandangan. Menyapu seluruh penghuni meja satu persatu. Ketegasan mereka, ketenangan mereka, tekad kuat mereka, kobaran api yang terpancar dari sorot mata mereka, membuat bulu kuduk Yuki meremang. Aura mereka ikut mempengaruhi dirinya jauh di dalam sana.
Bersyukur, senang, orang-orang ini bersamanya. Kini Hachibara Yuki sudah berusia delapan belas tahun bukan anak delapan tahun yang selalu menangis kesakitan di dalam gelapnya ruang rahasia sendirian. Dengan memikirkan itu perlahan Yuki melirik pergelangan tangan kanan bagian dalamnya.
Aku merasa telah mengkhianati mereka, batin Yuki.
"Tapi kalian harus benar-benar berjanji padaku akan kembali dengan selamat. Karena tidak kecil kemungkinannya kalau semua ini adalah jebakan. Tidak ada yang tahu sampai kita mengetahui tujuan sebenarnya dari klan naga putih." Serempak para bayangan menganggukkan kepala mereka.
Daren tiba-tiba mengusap kepala Yuki dengan lembut dan mengatakan.
"Mereka orang terpilih dari yang terpilih. Kita harus mengucapkan terima kasih kepada kakek Ryuu yang sudah membantu kakekmu mengumpulkan mereka." Entah kenapa Yuki tiba-tiba berubah sensitif dan sentimental.
Yuki menatap wajah keriput jauh di sebrang mejanya lalu membungkuk sangat dalam. Daren yang melihat itu pun ikut membungkuk kepada kakek Ryuu penuh hormat.
"Daren dono, ojou sama. Anda tidak boleh melakukan ini kepada saya. Tetua dan tuan besarlah yang melatih para bayangan. Saya hanya sedikit membantu." Ucap kakek Ryuu dengan suara seraknya. Menatap ayah dan anak itu bergantian.
"Kebanggaan untuk kami dapat menjadi pelindung anda. Ketulusan anda membuat kami sangat mencintai klan ini. Ojou sama, Daren dono. Mari kita berjuang bersama memusnahkan musuh klan." Lanjut kakek Ryuu lalu membungkukkan tubuhnya, di ikuti oleh para bayangan yang lain.
Setelah perdebatan sangat panjang, Yuki dan Daren sepakat hanya akan menggunakan pistol jarum pelumpuh, jarum racun, dan asap racun.
Daren juga membicarakan hasil negosiasi dengan kaisar bhutan tentang pengusiran kelompok kecil yang tidak lain dan tidak bukan adalah anggota klan naga putih yang hendak membuat markas di negara tersebut.
Ame, Jojo, dan Chibi yang mengamati pembuatan markas itu pun tidak mendapatkan sesuatu yang berbahaya. Bisnis Daren di negara bhutan tetap berlanjut. Kaisar bhutan yang baru mengetahui adanya kelompok asing yang hendak membuat markas di tanahnya pun di buat geram.
Yuki meminta para bayangan untuk beristirahat lebih cepat. Nanti malam mereka harus kembali berpencar. Daren juga memutuskan untuk segera pergi ke russia namun di cegah oleh Yuki.
***
Penampilan sudah rapi. Sarapan berdua dengan Lusi. Yuki terlihat lebih tenang dari biasanya.
"Hotaru sudah berangkat satu jam yang lalu untuk latihan pagi. Hampir satu minggu ini dia pergi lebih awal dan pulang terlambat." Kata Lusi.
"Ung. Nek, boleh Yuki minta tolong?." Gadis itu melirik Lusi.
"Tentu."
"Aku ingin memilih pelindung tingkat tinggi malam ini. Boleh?." Lusi merasa heran namun ia tetap mengizinkan Yuki.
"Terima kasih."
Setelah itu percakapan ringan mengisi meja makan.
Di sepanjang perjalanan menuju sekolah otak Yuki terus berputar. Sudah biasa jika ia kurang tidur, tapi tidak biasa jika ia tidak dapat memecahkan sebuah masalah.
Mobil berhenti di gang biasanya. Seperti sudah di program, ia keluar dan berjalan dengan gaya khas miliknya tanpa memperdulikan sekitar.
"Pagi-pagi sudah kusut?."
"Hm."
"Belum sarapan?."
"Hm."
"Mau ke kantin?."
"Hm."
"Ayo berkencan."
"Gila."
Gaho sontak mendengus kesal.
"Aku pikir akan berhasil." Gerutu pemuda itu.
"Hm." Gaho melirik Yuki yang melepas sepatunya hendak membuka loker.
Krek!.
Lembaran surat terjatuh dari dalam loker kecil itu, sebuah surat hampir saja mengenai wajah Yuki kalau tidak di tangkap oleh tangannya.
"Seperti biasanya." Komentar Gaho membantu Yuki mengambil surat yang terjatuh.
"Hm." Gadis itu memasukkan surat-surat itu ke dalam tas lalu memakai uwabakinya.
"Apa ada hal buruk yang terjadi?." Gaho berlari kecil mengejar Yuki, ia sempat tertinggal di belakang.
"Hm."
"Apa karena berenang kemarin?."
"Hm."
Mereka terus menaiki tangga. Seperti biasanya Gaho akan menatap tajam perempuan-perempuan yang menatap aneh kearah Yuki di setiap jalan yang mereka lewati.
"Panggil aku Gaho." Pintanya seraya melirik Yuki.
"Hm." Gaho langsung mengulas senyum sumringah. Ia berjalan ringan karena senang.
"Istirahat nanti kita makan di atap bersama." Gaho memanfaatkan kesempatan ini meski ia tahu Yuki asal menjawab.
"Hm." Gaho semakin senang.
"Nanti aku jemput ke kelasmu."
Hm!, jawab Gaho dalam hati.
Namun hening, ia melirik ke samping mendapati gadis itu sudah membuka pintu belakang kelasnya. Mengedikkan mata biru itu ke dalam kelas menyuruhnya masuk.
Gaho tersenyum kikuk lalu melangkah masuk dan.
Bret!.
Ia terlonjak kaget mendengar benturan dari pintu yang tertutup di belakangnya.
Sret.
Buru-buru ia membuka kembali pintu kelas, menyandarkan tubuhnya pada pintu seraya menatap punggung seseorang yang semakin menjauh.
Bising. Suasana kelas yang semakin di penuhi penduduknya. Yuki yang sejak tiga puluh menit lalu sudah tiba di kelas langsung menghempaskan kepalanya ke atas meja, menatap dinding di hadapannya.
"Hahahaaa ... Dame!, yamero! (Tidak boleh!, berhenti!)." Teriak anak-anak laki-laki yang mulai memasuki kelas.
Menikmati masa-masa sma mereka dengan bercanda ria. Di susul oleh suara tawa lirih dan keras dari gerombolan anak perempuan.
"Maji ..?!. Ii ne ... (Beneran ..?!. Enak ya ...)."
"Iya iya iya. Chotto!, sore de ii no? (Tidak tidak tidak. Tunggu!, yakin nggak apa-apa?)."
"Hahaha, daijyoubudayo\~ kawaiimon ... (nggak apa-apa ya\~ kan imut ...)." Sontak suara tawa mereka pecah kembali.
"Hahahaaa ..."
"Wa!, yabaine ... (parah ya ...)."
Sebuah usapan lembut terasa menyisir rambut dark brown lighnya. Kelopak mata itu terlihat enggan terbuka. Jemari panjangnya meraih jari-jari besar itu, menggenggamnya lemah. Menghentikan usapan.
"Tidak tidur?."
"Hm."
"Mau ke uks?."
Yuki menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Tadi sudah sarapan?."
"Hm."
Sreeetttt ... Yuki merasakan sinar terang matahari pagi berubah redup.
"Sudah bel. Yakin tidak mau ke uks?." Hotaru menatap wajah adiknya yang terlihat layu.
"Hm."
Kelas tiba-tiba berubah tenang. Suara ketukan sepatu terdengar semakin mendekat ke dalam kelas. Usapan lembut ibu jari Hotaru di punggung tangan Yuki mengakhiri interaksi keduanya. Sensei sudah berdiri di depan kelas mereka.
Pelajaran kimia di pagi hari. Menu pembuka yang sempurna. Yuki terus menatap buku cetak yang tidak lebih tebal dari buku cetak kimianya di indonesia. Bahkan panjangnya pun tidak lebih dari lima belas senti. Pikirannya terus melayang jauh dari tempatnya. Ternyata hal itu menarik perhatian sang guru.
"Hachibara san." Panggilnya.
Yuki dan Hotaru mendongak secara bersamaan, membuat teman-teman yang lain menahan tawa. Guru itu segera memperjelas maksudnya.
"Hachibara Yuki san, kamu sudah masuk rupanya. Apa liburan musim panasmu menyenangkan?." Yuki tidak menanggapi maksud ejekan tersembunyi dari gurunya dan mulai menjawab dengan nada datar.
"Ya, tidak buruk."
Banyak yang menunggu gadis itu membuka mulut hanya demi mendengar suara yang mengalun dari bibir gadis itu. Sesuatu yang jarang, dan langka.
"Baiklah mari kita lihat, apa kamu masih dalam euforia liburanmu." Guru itu menunjuk papan tulis di belakangnya.
"Tolong kerjakan soal di belakang. Hanya tiga nomor, tidak banyak bukan." Siswi yang terkumpul sebagai haters Yuki saling melempar lirikan dan senyum mengejek.
Yuki tidak menjawab guru itu dengan kata-kata, ia langsung berdiri dan berjalan ke depan dengan gaya khasnya. Cuek seperti biasa.
Fumio dan Hotaru menatap punggung gadis itu yang sedang sibuk mengisi jawaban dari bangku masing-masing. Guru kimia pun memicingkan matanya melihat Yuki yang menjawab tanpa hambatan.
Tak.
Yuki meletakan kapur pada tempatnya. Lalu membalikan badan membungkuk kecil kepada gurunya dan melangkah kembali ke bangkunya.
Hening.
Gadis itu menatap ke luar jendela setelah berhasil duduk di kursinya. Terang-terangan mengabaikan guru kimia yang mulai kembali mengajar.
Sepuluh menit waktu istirahat Yuki di habiskan untuk meladeni sosok pembully baru. Gadis bermanik biru itu di panggil ke luar kelas memotong gerakkan saudara kembarnya yang hendak mendekat.
Di dinding jendela lorong kelas dua pembully super imut itu berpura-pura sedang mengobrol dengannya dengan wajah manis namun kalimat yang keluar dari bibir keduanya sangat menjijikan. Senyuman bahagia terlihat di balik jendela kelas. Bersenang-senang di atas penderitaan gadis itu. Tapi sayangnya Yuki tidak terpengaruh apa pun!. Apa pun!.
Setelah mengerti apa yang ingin pembully itu sampaikan kepadanya Yuki berjalan masuk ke dalam kelas memanggil nama seseorang.
"Tsukamoto san?." Serunya. Pemilik nama yang di panggil pun terkejut tidak percaya.
Kedua gadis itu kelabakan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Lari?, hadapi?, lari?. Belum sempat memutuskan laki-laki bernama Tsukamoto sudah berjalan mendekat.
"Memanggilku?." Tanyanya kepada Yuki.
"Mereka ada perlu denganmu." Ucap Yuki menoleh ke arah kedua pembully dari kelas antah berantah. Yuki tidak perlu repot-repot tahu.
"Agh?!, ya ..." Terdengar nada kecewa pada suaranya.
Yuki melengos melangkah melewati pintu kelas hendak kembali menenggelamkan kepalanya namun sebuah tarikan dari belakang menghentikan kakinya.
"Jalan-jalan sebentar?." Yuki mendapati tatapan tidak bersahabat dari Hotaru dan wajah tenang Fumio namun manik pemuda itu tertuju ke seseorang di belakang tubuhnya.
"Ayo, keburu masuk." Tarikan pelan membuat Yuki terhuyung sedikit. Tentu saja gadis itu mampu menyeimbangkan tubuhnya.
"Lepas." Yuki mencubit pergelangan kemeja Gaho, mengangkatnya ke atas.
Gerakkan kecil Yuki yang pada umumnya tidak biasa di lakukan oleh para gadis-gadis membuat Gaho terdiam terkejut. Tangan Gaho terlepas lalu dengan santainya Yuki membuka capitan ibu jari dan telunjuknya, membiarkan tangan itu terjatuh begitu saja.
Gaho yang tersadar langsung tersenyum gemas. Ia melangkah maju mengikis jarak namun benteng kokoh berdiri tegap di hadapannya, menutup sosok yang tadi sempat bersamanya.
"Sudah bel. Tidak ingin kembali ke kelasmu?." Hotaru menatap Gaho tanpa ekspresi.
Sret.
Gaho memiringkan tubuhnya menatap Yuki di balik tubuh Hotaru.
"Sampai nanti siang." Ucapnya lalu kembali berdiri tegap membalas tatapan Hotaru.
"Terima kasih sudah mengingatkan." Setelah itu Gaho berjalan meninggalkan kelas Yuki seraya memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.
"Yuu."
Yuki sejak tadi merasakan Fumio berdiri tepat di belakangnya bersamaan dengan Hotaru yang menerobos maju, namun Yuki tetap diam. Sungguh isi kepalanya sangat kusut belum juga menemukan solusi. Menyusun rencana, lalu segera ia rubah. Menyusunnya lagi, rubah. Terus seperti itu.
"Hm?."
Sret.
Hotaru membalikan badan, memegang kedua pundak Yuki menatap manik biru adiknya. Lalu beralih menatap Fumio.
"Pergilah." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Hotaru.
"Kami di atap." Balas Fumio meraih tangan Yuki.
"Ung." Hotaru melakukan sapuan halus di pucuk kepala Yuki sebelum saudari kembarnya pergi.
Dalam diam dan kebisuan Yuki mengikuti langkah Fumio. Bohong jika jantungnya tidak berdetak cepat kala tangannya berada dalam genggaman tangan hangat dan besar itu. Namun lagi lagi kekhawatirannya, rasa cemasnya, atas keputusan yang sudah ia ambil membuatnya membiarkan jantungnya berdetak sesuka hati.
Ceklek.
Angin sejuk musim gugur menerbangkan helaian rambutnya. Suara pintu tertutup terdengar dari belakang. Kakinya kembali di tuntun menuju kursi panjang di dekat pembatas.
Fumio tidak berniat menyentuh pundak Yuki. Ia lebih memilih meraih kedua tangan gadis itu menariknya lembut untuk duduk. Setelah gadis itu benar-benar sudah duduk Fumio menekuk kedua lututnya berjongkok di depan Yuki, menengadah menatap manik biru yang tengah menerawang jauh.
Hening.
Belaian angin mengisi kekosongan mereka. Perlahan kedua ibu jarinya mengusap punggung tangan itu.
"Yuu."
"Hm?." Fumio menunggu dengan sabar meski Yuki masih mengabaikan dirinya.
"Klan akan baik-baik saja." Dua bola biru itu bergerak ke bawah, bertemu dengan milik Fumio.
Pemuda itu mengulas senyum khasnya menarik kedua tangan Yuki mendekati bibirnya.
Cup. Cup.
Kecupan di masing-masing telapak tangan sukses memunculkan semburat merah di bawah mata Yuki. Fumio meremas lembut tangan itu, menenggelamkannya di dalam telapak tangan.
"Bicarakan pada kami. Ini bukan pertarunganmu dengan BD, ini adalah pertarungan klan Hachibara dan klan naga putih." Mata itu terbuka lebar. Fumio melanjutkan kalimatnya.
"Jangan lupa. Anggota klan naga putih bukan hanya BD saja. Sama seperti klan Hachibara. Bukan kamu seorang."
Debaran itu semakin menjadi. Pikirannya tersadar, perlahan melemah mendengar setiap kalimat yang tepat sasaran meski Yuki tidak mengatakan apa pun.
"Bagaimana kamu tahu?." Kalimat terpanjang setelah tiba di sekolah pagi ini dari Yuki.
Bulu mata tebal di bawah sana bergerak pelan membuat Yuki menahan debaran yang semakin membuatnya sakit.
Wajah menawan Fumio terterpa angin, menggoda anak-anak rambutnya bergerak acak.
Eiji, gumam Yuki dalam hati.
"Tidak sulit menebak apa yang kamu pikirkan." Jawaban Fumio membuat Yuki menaikan satu alis. Ingatan kebersamaannya dengan Dimas terputar dengan cepat.
Dimas yang meminta Rian anak panti untuk mengajarinya membaca pikiran Yuki, Dimas yang selalu mengatakan sulit membaca pikirannya ternyata sangat berbanding terbalik dengan laki-laki di hadapannya ini.
Ya. Mereka berbeda. Eijinya selalu tahu dan mengerti Yuki. Eijinya tidak bisa di bandingkan dengan laki-laki manapun. Begitu juga Dimas, pemuda manis yang suka merayu Yuki. Bibir Yuki bergetar, hatinya tiba-tiba merasakan kesejukan yang menggelitik perutnya.
"Eiji." Satu panggilan sudah cukup membuat pemuda itu mengerti.
Fumio beranjak duduk di samping Yuki memeluk gadis itu dari samping.
"Aku dan Hotaru akan izin pulang cepat nanti. Kita bisa melakukan rapat para pelindung lebih awal." Ujar Fumio.
Yuki menaruh kepalanya bersandar di pundak Fumio, tidak risi kala wajahnya berada di dekat ketiak pemuda itu. Ia sudah biasa dengan Hotaru. Dan dulu, ia juga sudah terbiasa dengan Fumio. Bahkan jika tidak seperti itu, Yuki tidak akan bisa tidur.
"Aku akan memilih pelindung tingkat atas nanti malam." Lirih Yuki. Hatinya merasa lebih tenang.
"Ung. Aku boleh bergabung?." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak."
"Apa kamu akan mengirim mereka?."
"Hm."
"Kita sudah boleh bergerak?."
"Hm."
"Karena itu kamu khawatir." Pernyataan mulus dari bibir Fumio tepat sasaran.
"Eiji ..." Panggil Yuki lirih suaranya tenggelam kala wajahnya ia sembunyikan di pundak Fumio.
Yuki belum terbiasa dengan Fumio yang seakan bisa membaca perasaannya juga. Suara tawa lirih yang begitu menarik untuk terus di dengar mengalun di antara mereka.
Terbersit rasa bersalah atas perilaku kejam Yuki kepada pemuda itu. Rasa ingin bertanya pun tumbuh.
"Kenapa tidak marah?."
"Tidak ada alasan untuk marah." Jawab Fumio.
"Aku memperlakukanmu tidak baik." Ucap Yuki.
"Kamu hanya tidak mengingatku."
Yuki melirik dasi di leher Fumio, menaikan tangan kanannya meraih dasi itu. Memainkan bentuk dasi dengan telunjuknya. Fumio yang melihat itu mengulum senyum lega. Sifat manja gadis kecilnya sudah kembali.
"Sebelum pesta pembukaan pemilihan, aku sudah mengingat tentangmu. Kamu benar. Karena itu aku menghindarimu. Tidak. Maksudku, aku sangat bingung saat itu." Ucap Yuki serius dan takut-takut. Tawa lirih itu kembali mengalun.
"Yuu, kamu lebih mengetahui tentangku dari pada siapa pun. Kamu juga pasti tahu apa jawabanku." Dengan cepat Yuki menarik tangannya menutupi separuh wajah yang terekspos.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan memaksamu segera menyukaiku lagi. Aku akan mendekatimu dengan caraku. Sesuatu yang terbuat untukku harus aku jaga sebaik mungkin." Kalimat manis Fumio menggelitik hati Yuki.
"Jadi, jika aku harus menunggumu lebih lama lagi. Aku akan melakukannya. Jika kamu menolakku, aku akan mendekatimu perlahan, terus, sampai kamu tidak mampu menolakku."
Grep!.
Yuki mencengkeram kedua pundak Fumio. Nafasnya tidak beraturan di dekat leher pemuda itu.
"Aku tahu kamu yang sekarang sangat suka menyembunyikan sesuatu. Tidak apa-apa Yuu, lakukan apa yang menurutmu benar. Aku mempercayaimu."
Sret!.
Yuki mengalungkan kedua lengannya di pundak Fumio, menyentuh leher pemuda itu dengan hidungnya. Ia mencari perlindungan. Ya, hanya kepada Hotaru lah Yuki selalu melakukan itu namun, sebelum ia mengingat bahwa laki-laki ini lah pemilik seluruh hatinya.
Fumio mencondongkan tubuhnya sedikit, meraup lutut Yuki mengangkatnya ke atas pangkuan. Mencarikan posisi yang nyaman untuk gadis itu. Setelah lebih baik ia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Yuki.
"Sedikit menangis sepertinya tidak masalah. Hotaru sangat khawatir saat tidak pernah lagi merasakan sakit di jantung dan paru-parunya." Bujuk Fumio yang malah menghentikan tepukan di pucuk kepala Yuki karena terkejut.
Yukinya mengeratkan pelukkan dan membiarkan seluruh wajah gadis itu tenggelam di lehernya. Suara lirih namun sangat jelas di permukaan kulit membuat Fumio benar-benar mematung.
"Dai suki \~ (Aku sangat mencintaimu \~)."
Untuk saat ini aku akan membalas pembuktian kesetiaanmu, membalas perasaan balita kita yang bukan sekedar cinta monyet. Bahkan di luar sana belum tentu ada pasangan yang melewati cobaan seperti kita, yang tidak dapat di bayangkan dengan logika, batin Yuki.
"Aku milikmu Yuu." Bisikan pelan mengalun dari atas kepala Yuki. Wajah yang semakin panas membuatnya bergerak-gerak, semakin ingin bersembunyi. Fumio membeku. Ia tetap bergeming, tidak berniat bergerak sedikit pun.
"Yuu geli." Ucapnya jujur.
Dengan kecepatan kilat Yuki menjauhkan wajahnya, mengedipkan beberapa kali kelopak mata itu.
Hening.
"Sudah lebih baik?." Tanya Fumio. Bukannya di jawab Yuki malah menyentuh tonjolan di tengah leher Fumio menggunakan telunjuknya.
"Dulu tidak ada." Fumio hampir tertawa karena celetukan Yuki.
"Dulu masih bayi." Jawabnya terus menatap wajah yang memiliki perubahan itu.
Fumio mendapati Yuki menyipitkan mata, bergerak mendekatkan mata birunya ke rahang sebelah kirinya, lalu menekan udara kosong di garis dekat dagu.
"Ketemu. Titik kecil tanda lahirmu. Aku pikir ini sudah menghilang." Katanya dengan senyum kecil.
"Ung, hanya kamu dan Hotaru yang bisa menemukannya." Fumio membenarkan. Yuki menggelengkan kepalanya.
"Bukan, paman juga," senyum di wajah gadis itu tiba-tiba menghilang bersamaan dengan kalimat yang menggantung. Manik biru itu bergulir naik ke atas, mencari manik bulat jernih milik Fumio.
"Sekarang kenapa?." Tanya Fumio menyentuh pucuk hidung lancip Yuki dengan ujung jari telunjuknya. Manik biru itu bergetar.
"Sepertinya aku merindukan paman." Aku Yuki. Ia akan mudah mengakui perasaannya jika bersama pemuda itu.
"Syukurlah, sainganku masih ayah sendiri." Jawab Fumio enteng.
Sontak Yuki memutar otaknya. Itu terdengar, aneh. Kenapa Fumio berkata seperti itu?.
"Apa yang masih belum aku ingat?." Tanya Yuki, mencari jawaban di manik jernih Fumio.
"Dulu kamu menolak lamaranku dengan cincin rotan yang aku buat, berlari ke pangkuan ayahku dan mengatakan akan menikahinya." Jelas Fumio.
"Apa?, aku?." Yuki terkejut.
"Ung." Fumio mengulum bibirnya menahan tawa yang mungkin dapat meledak sewaktu-waktu.
"Aku melakukannya?." Ulang Yuki masih tidak percaya.
"Iya."
"Menolakmu?." Yuki menaikan satu alis. Mengingat betapa ia tidak bisa lepas dari Hotaru dan Fumio itu sangat tidak mungkin.
"Iya. Kamu sangat menyukai ayahku." Fumio menegaskan.
"Agh, ya. Mungkin." Lirih Yuki, ekspresinya selalu dapat membuat Fumio tersenyum.
"Eiji." Panggil Yuki cepat.
"Hm?."
Mata Yuki menjelajahi setiap inci pahatan di hadapannya. Jari telunjuk gadis itu bergerak di permukaan kulit Fumio, mengikuti garis alis, pergi ke ujung mata, menyentuh bulu mata milik pemuda itu. Fumio menutup satu matanya membiarkan tangan Yuki terus menjelajah. Hingga berhenti di sudut bibir.
"Fumio Eiji." Panggil Yuki tanpa sadar suaranya berubah bergetar. Fumio bisa melihatnya. Jeritan yang bersembunyi di kedalaman mata biru itu.
"Ini aku."
Tubuh Yuki kini ikut bergetar di atas pangkuan Fumio.
"Eiji ..?." Panggil gadis itu ragu.
"Yuu .., pasti sangat sulit. Maaf." Fumio menangkup wajah gadis satu-satunya yang merajai hatinya dengan gerakkan lembut. Maniknya memaksa menerobos masuk mencari tumpukan luka di dalam manik biru itu.
"Mulai sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Ayumi dono atau siapa pun tidak akan aku biarkan membawamu pergi."
Ketegasan suara itu, kekokohan kalimatnya, tidak akan ada yang bisa meruntuhkan tekad Fumio. Ayumi sekali pun. Itu lah yang terdengar di telinga Yuki. Menyelimuti hatinya yang rapuh, membuat Yuki bagaikan anak kecil yang merasakan perlindungan hangat.
Eiji, aku kembali, batin Yuki.
Manik Yuki terus mencari manik jernih Fumio, ia tidak ingin melepaskan tatapannya barang sedetik pun. Mata bulat jernih itu terasa membesar di hadapan Yuki, hingga gelenyar aneh bertemu dengan bibirnya.
Atap sekolah menjadi saksi bisu kedua pasangan yang kini sudah saling terbuka. Dari kisah cinta sebiji anak jagung telah menjelajah waktu hingga kini seumur jagung. Hembusan angin musim gugur yang membelai mereka menambah suasana semakin romantis.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Kening Hotaru berkerut melihat pemandangan ganjil di depannya. Ia dengan santai berjalan mendekat.
"Kenapa berdiri di sini?." Orang itu terlihat mengendurkan pegangannya pada gagang pintu. Membalikkan badan menghadap ke arah Hotaru.
"Tidak jadi keluar?." Tanya Hotaru lagi. Meski dua jam yang lalu Hotaru kesal karena tingkah pemuda itu tapi ia tidak berniat membenci atau melarang Yuki berteman dengan siapa pun.
"Aku melupakan sesuatu di kelas." Jawabnya berjalan melewati Hotaru.
Hotaru menatap kepergian teman satu angkatan berbeda kelas itu menuruni tangga dengan cepat. Anak yang sering terlihat dengan saudari kembarnya diwaktu istirahat. Gaho.
Melirik tiga tumpuk kotak bekal di tangannya mengingatkan Hotaru untuk segera melanjutkan perjalanan. Ia membuka pintu satu-satunya di sana, mendapati sahabat karibnya tengah menekan-nekan pipi saudari kembarnya.
Apa-apaan mereka, batin Hotaru melangkah lebar, mendekat.
"Chubbynya sudah hilang." Ucap Fumio tertawa lirih masih menekan pipi lembut Yuki.
"Eiji, berhenti." Yuki mencoba menjauhkan wajahnya dengan semburat merah semerah tomat.
Bruk!.
Hotaru sengaja meletakan tumpukan kotak bekal itu dengan kasar di ujung kursi panjang yang terbuat dari kayu itu. Membuat atensi kedua sejoli teralihkan kepadanya.
"Hotaru." Lirih Yuki bingung.
Dan dalam sekejap saja tubuh gadis itu melayang berpindah pangkuan. Hotaru dengan entengnya mencomot Yuki dari Fumio. Gadis itu di buat terkejut dan, bingung dan, sedikit terhina karena segampang itu mereka mengangkat-angkat tubuhnya.
Manik coklat terang bertemu dengan manik sebiru langit musim panas. Kedua anak kembar itu terdiam seketika. Mungkin saling berdialog satu sama lain tanpa memerlukan bibir untuk bicara.
Tuk!.
Yuki sengaja membenturkan dahinya dengan dahi Hotaru cukup keras. Yuki memejamkan mata. Ia paham setelah melihat manik saudara kembarnya. Hotaru sangat khawatir kepadanya.
Hotaru menatap wajah Yuki, teringat bayangan gadis itu yang berlumuran darah. Dengan suara pelan ia mencoba bertanya.
"Kamu terlihat lebih baik setelah berbicara dengan Eiji?."
"Ung." Fumio tersenyum menonton kedua saudara kembar itu.
"Lalu, masih ada yang kamu sembunyikan?."
"Ung."
Hotaru menghembuskan nafas berat. Ia menjauhkan dahinya dan beralih memeluk saudara satu darah, belahan jiwanya.
"Apa sangat sulit mempercayaiku?." Yuki membalas pelukan Hotaru.
"Bukan seperti itu." Jawab Yuki.
"Apa karena aku terlalu lemah?."
"Bukan."
"Yuki. Sudah berapa kali aku katakan semuanya bukan salahmu." Ucap Hotaru melirik Yuki yang hanya bisa terlihat belakang kepalanya.
"Aku menyetujui keinginan kakek untuk menggantikan posisimu dalam keadaan sadar tanpa paksaan." Hotaru beralih menatap langit di atas mereka.
"Penyiksaanku bukan salahmu. Malah aku yang harusnya meminta maaf karena tidak bisa menjaga tubuhku dan membuatmu ikut merasakan sakit." Hotaru merasakan cengkeraman kuat di punggungnya.
"Dengar, dibandingkan rasa sakitmu rasa sakitku bukan apa-apa. Yang terpenting kita sudah berhasil menyelamatkan nyawa kita. Dari racun, atau pun dari hukuman itu. Aku tidak bisa membayangkan jika hidup tanpamu di dunia ini. Bisakah kita bersyukur saja untuk itu?." Lengan yang melingkar di leher Hotaru semakin mengerat.
"Sekarang hapus rasa bersalahmu. Lihat ke depan. Musuh besar kita sudah menunggu untuk di hancurkan bukan." Tubuh di dalam pelukkan Hotaru mulai mengendur. Yuki perlahan berubah tenang.
"Kita saudara kembar. Aku dan kamu. Kita selalu bersama bukan. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta dan jangan sembunyikan apa pun lagi dariku." Yuki perlahan melepaskan pelukkannya, mendongak menatap manik coklat terang itu yang kini menunduk membalas tatapannya.
"Apa pun. Bahkan mengajarimu tentang garis warisan klan." Imbuh Hotaru.
Ya, Hotaru sudah bertekad semenjak melihat pemandangan menyakitkan tadi malam. Betapa saudarinya sangat mencintainya, dalam ambang kematian pun Yuki tidak merelakan satu tetes air mata jatuh dari manik birunya. Hotaru akan mengendurkan sifat posesifnya sedikit. Mencoba mempercayai bahwa Yuki dapat melindungi diri sendiri.
"Bohong." Suara Yuki terdengar sangat terkejut.
Hotaru?, mau melakukannya?, tidak mungkin. Dia selalu melindungi warisan dengan sangat baik, batin Yuki.
Hotaru meletakan tangan besarnya di pucuk kepala Yuki, mengecup kening saudari kembarnya dengan lembut.
Cup.
"Kita harus bersatu untuk membunuh mereka." Jawaban bulat itu sudah tidak dapat di ganggu gugat.
Yuki membuka matanya lebar-lebar. Jika seperti ini mungkin, mungkin ia bisa berhasil. Pikirnya. Tanpa gadis itu sadari manik birunya berkilat cerah, senyum menggemaskan ciri khas, sesuatu yang besar akan ia lakukan.
Cup.
Hotaru mengecup pipi Yuki.
"Tahan dulu idemu. Sekarang makan, perutku sudah lapar." Ujar Hotaru yang mendapatkan senyum sangat lebar milik adiknya, hingga deretan gigi rapi nan putih itu terlihat indah, kedua mata yang menyipit.
Agh!, sudah sangat lama sekali tidak melihat senyum ini, batin Hotaru dan Fumio bersamaan.
"Kita akan menghabisi mereka semua." Suara riang yang terdengar merdu berkebalikan dengan arti kalimat yang terlontar.
Yuki turun dari pangkuan Hotaru berjalan ke arah pintu.
Grep.
Hotaru menahan tangannya.
"Mau kemana?." Tanya kembaran Yuki.
"Makan." Jawab gadis itu polos.
"Duduk." Pinta Hotaru sambil menepuk tempat di antara dirinya dan Fumio.
"Aku sudah membawanya kemari." Imbuh Hotaru menunjuk tiga kotak bekal sekaligus.
Ini bukanlah cerita pemain utama perempuan di perebutkan oleh dua laki-laki. Kisah mereka lebih dari itu.
Ketiganya menikmati makan siang masing-masing dengan sedikit obrolan di luar klan atau pun masa lalu. Dari belakang, tubuh Yuki terlihat kecil di apit oleh kedua atlit voli sekaligus pelindung dan sang pewaris.
***
Setelah makan malam Lusi, Hotaru, Yuki, dan Daren yang sampai di rumah siang tadi segera menuju dojo. Yuki menjelaskan kepada Lusi dan Hotaru keinginannya mencari pelindung tingkat atas yang kriterianya sesuai untuk misi yang sudah menanti.
Pintu dojo terbuka memperlihatkan barisan para pelindung yang sudah berkumpul berdiri rapi menunggu kedatangan keluarga utama.
Yuki melihat Yamazaki, Fumio, dan keluarga terhormat yang termasuk ke dalam pelindung berkumpul di salah satu barisan. Serentak mereka membungkuk hormat. Fumihiro segera menghampiri Lusi dan Daren.
"Pisahkan pelindung tingkat atas. Suruh mereka bersiap." Titah Lusi.
"Baik, Lusi sama." Fumihiro segera menyebar barisan.
Pelindung biasa yang belum naik ke tingkatan lebih tinggi bergerak ke ujung dojo, berbaris dan duduk untuk menonton sekaligus sebagai pengalaman dan belajar dengan pengamatan mereka. Dojo super besar itu dapat menampung ratusan pelindung dan masih terlihat banyak ruang kosong.
Pelindung tingkat atas segera membelah barisan menjadi dua, mengisi bagian kanan dan kiri dojo, duduk menghadap ke tengah ruangan. Menciptakan sebuah arena.
Pelayan Lusi dan Yuki menyiapkan tempat duduk untuk keluarga utama di ujung yang kosong, menghadap ke arena.
Daren menganggukkan kepala kepada Fumihiro memberi tanda untuk segera di mulai. Untuk pembukaan di mulai dengan satu lawan satu. Yuki mengeluarkan buku catatan kecilnya beserta bolpoin. Menulis nama pelindung yang menurutnya lolos dari seleksinya.
Lima belas menit berlalu belum ada juga nama yang tertulis di buku catatan Yuki. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke samping berbisik kepada Hotaru.
"Ini akan memakan waktu lama." Hotaru mengalihkan perhatiannya dari tengah arena menatap Yuki.
"Tiga lawan satu bagaimana?." Tawar Hotaru.
"Empat lawan satu. Takehara san sebagai lawannya." Pinta Yuki.
"Panggilkan Hiro san." Titah Hotaru kepada pelayan Yuki.
"Baik."
Selang tidak lama Fumihiro mendekat kepada Hotaru. Pemuda itu mengatakan permintaan Yuki.
Semua orang di dalam dojo terpukau dengan kelihaian dan ketangkasan Fumihiro sang pemimpin para pelindung.
"Jika kamu yang melawan Takehara san, siapa yang akan menang?." Tanya Yuki.
"Mau lihat?." Yuki tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala.
"Tiga puluh menit sepertinya cukup." Ujar Yuki mulai menulis nama pelindung yang ia pilih dengan sebelumnya bertanya kepada Hotaru.
Benar, tepat di menit ke tiga puluh Yuki mengangkat tangannya meminta Fumihiro berhenti. Beberapa pelindung yang belum unjuk kebolehan pun merasa tidak setuju.
"Eiji belum." Celetuk Hotaru.
"Dia tidak ikut." Jawab Yuki menutup buku catatannya.
Masih kurang sedikit, batin Yuki.
Tanpa di duga sesuatu terjadi di dalam dojo.
"Mohon maaf ojou sama. Saya belum sempat menunjukkan kemampuan saya." Yuki melirik ke tengah arena.
Bocah tiga belas tahun itu berlutut bertumpu dengan satu kaki, sendiri. Diam-diam Hotaru tersenyum melihat sikap berani Will.
"Tidak." Jawaban singkat Yuki mengejutkan Hotaru dan banyak pelindung. Will sontak mendongak menatap Yuki dari kejauhan.
"Yuki, aku pernah mengetes Will. Aku mengakui kemampuannya. Dia juga ikut denganku dalam misi perburuan klan yakuza." Jelas Hotaru, membujuk Yuki. Will segera menurunkan kepalanya berterima kasih kepada Hotaru.
"Dan berakhir tertembak." Hotaru langsung terdiam.
Pelindung biasa yang tidak mengetahui misi perburuan itu terdiam, bertanya-tanya.
"Ojou sama!." Seruan itu mengalihkan perhatian Yuki.
Manik Will berkilat penuh tekad, Yuki bisa melihatnya dari jarak sejauh itu.
"Tolong berikan saya kesempatan." Yuki menaikan satu alis.
"Apa karena harga dirimu terluka Will?." Bocah itu terkejut.
"Tidak ojou sama." Will semakin menunduk.
"Kamu termasuk jajaran pelindung atas, yang mengikuti rapat penting pelindung. Tidak di berikan kesempatan unjuk kemampuan membuatmu protes Will?." Hotaru melirik saudarinya yang tiba-tiba sudah berubah mode tak tersentuh seperti ini.
Bahkan ayah hanya menonton. Sudah tidak ada yang bisa membujuk Yuki, batin Hotaru.
"Ampun. Saya tidak berani berpikir seperti itu." Jawab Will. Udara ruangan berubah canggung setelah protesan anak itu.
"Ojou sama." Yuki yang hendak berbicara dengan Lusi kembali melirik Will.
"Bolehkah saya tahu alasan anda menolak saya?." Will ternyata masih belum menyerah membuat Hotaru tertawa sangat lirih.
"Kamu masih kecil." Jawab Yuki menyipitkan mata mendapati ujung bibir anak itu hendak kembali bergerak.
Fumio belum pernah melihat ekspresi Yuki yang seperti itu. Sangat berbeda. Tapi membuat gadis itu semakin mirip dengan keturunan langsung klan Hachibara. Will kembali membuka suara.
"Ojou sama, umur tidak menjadi penghalang." Daren dan Lusi hanya menunggu apa yang akan putri dan cucunya lakukan.
"Buktikan Will." Jawaban Yuki melebarkan senyuman Hotaru.
"Terima kasih atas kemurahan hati anda." Ucap Will menundukkan kepalanya.
"Melawanku."
Hening.
"Kamu laki-laki yang tidak akan menarik ucapanmu bukan?." Suara Yuki memecah keheningan.
"Ya, ojou sama."
Yuki berdiri meletakan buku catatan dan bolpoinnya di atas kursi. Gerakkan membuka jaket tipis kebesarannya membuat Hotaru terkejut. Tapi adiknya terlihat sangat keren.
"Yuki." Tegur Hotaru.
"Jangan hentikan aku. Kita masih harus melakukan rapat setelah ini." Ujar Yuki membuat Hotaru terpaksa mengalah.
Gadis itu memakai kaos putih ketat tanpa lengan di balik jaketnya. Celana elastis hitam melekat memperlihatkan kaki jenjang dan sepatu hitam khusus, ringan dan sangat nyaman dipakai.
Yuki melangkah menuju ke dalam arena seraya mengikat rambutnya kucir kuda. Hotaru cemberut di belakang sana.
Sebaiknya kamu jangan lengah Will, Yuki serius menghadapimu, batin Hotaru.
Yuki menghentikan langkahnya, ikut membungkuk seperti Will sebagai penghormatan sebelum bertanding.
"Kamu sudah tahu aturan mainnya Will?." Tanya Yuki menatap bocah setinggi dadanya jauh di sebrang.
"Ya, ojou sama." Jawab Will maniknya berkobar penuh tekad.
Yuki menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban semangat anak itu. Gadis itu perlahan menutup kedua matanya lagi-lagi hal yang mengejutkan penduduk dojo.
Melihat itu Will pun ikut terkejut. Tanpa sengaja maniknya bertemu dengan manik coklat terang di sebrang sana. Tuan mudanya memberikan isyarat untuk menyerang sungguhan. Dengan patuh anak itu mengangguk samar.
Menajamkan telinga, memfokuskan penglihatan. Ingat kata-kata waka, ojou sama sangat cepat, kecepatanku akan sangat di butuhkan untuk melawan ojou sama, batin Will bersiap.
Ia mendorong ke belakang kaki kirinya tanpa menimbulkan suara. Membungkuk serendah mungkin. Dan.
WUUUUSSSHHH ....
Aku mengincar pangkal lengan ojou sama, seru Will dalam hati.
Gerakkan cepat Will membuat semua orang terkesiap. Bahkan Lusi sampai menutup mulut dengan tangan keriputnya.
PPAAKK!.
GRREPP!!.
"Astaga!?."
"Hhah?!."
Jeritan takut dan terkejut berasal dari tempat Lusi dan para pelayan-pelayannya.
Daren tersenyum tipis. Sedangkan Hotaru menggaruk belakang kepalanya.
Sayuri di belakang sana membuka mulutnya sangat lebar, maniknya berbinar menatap aksi memukau secepat kilat yang berlangsung sepersekian detik itu.
Nona muda mereka memotong gerakkan Will yang sangat cepat. Tangan Yuki mencengkeram tangan Will membelokkan serangan sekaligus menguncinya sedangkan tangan yang lain teracung ke depan, melakukan gerakkan mencekik leher anak itu.
Will sangat terkejut. Di depannya mata itu bergerak terbuka. Sangat tajam. Dingin. Mematikan.