
Tok tok tok.
"Yuki!, sudah malam. Turun, kamu harus makan." Teriak Masamune dari balik pintu.
"Hmmm ..?." Gumam Yuki yang tak sengaja tertidur setelah kesibukannya tadi siang.
"Hajime kun dan Keiji kun sudah di bawah menunggumu." Masamune memberitahu.
"Uuunngg ..."
Kenapa dia mengunci pintunya?, batin Masamune yang tidak bisa membuka pintu kamar Yuki.
"Cepat bangun, aku tunggu di bawah."
"Ssssttt, perih." Lirih Yuki memegang punggungnya seraya beranjak bangun.
Ia menguap lebar yang ditutup dengan tangan, kakinya berjalan gontai menuju lemari.
Matanya masih enggan terbuka namun kakinya melangkah turun ke lantai satu.
Hajime dan Keiji yang berada di ruang tengah menatap zombi berjalan dengan mata tertutup. Masamune menggelengkan kepalanya heran, jarang sekali Yuki seperti itu.
Ceklek.
Yuki masuk ke dalam kamar mandi, ia meringis menahan perih di punggungnya yang terkena air shower.
Tidak lama kemudian Yuki keluar dan langsung menuju meja makan.
"Apa kamu kurang tidur?." Tanya Masamune seraya memberikan semangkuk nasi.
"Ung."
"Kamu dimana selama satu minggu ini?." Masamune tidak menahan lagi, ia akan bertanya kepada Yuki.
"Rumah sakit." Jawab Yuki lalu memasukan makanan ke dalam mulut.
Yuki menaikan satu alisnya mendapati Masamune menatap tajam bibirnya.
"Kamu tidak menggigit bibirmu lagi kan?."
Ha?, pertanyaan itu lagi, batin Yuki.
"Hampir, Mi chan menahanku tepat waktu." Masamune terkesiap.
Srek.
Srek.
Buk.
Yuki melirik kanan kirinya, Hajime dan Keiji menarik kursi di kanan dan kiri Yuki tanpa permisi, duduk dengan tenang.
"Ka kalian?, maksudku ... Kalian melakukannya?." Tanya Masamune tergagap.
Apa yang Masa san pikirkan?, batin Yuki memiringkan kepalanya bingung.
Di tatap seperti itu membuat Masamune bergerak gelisah karena salah tingkah.
"Maksud pertanyaan dari Masamune san, apa kamu dan pelatih berciuman?." Hajime mengatakannya dengan lancar tanpa beban.
"Aniki! (Kakak!)." Teriak Keiji menegur kakaknya, telinga anak itu mulai berubah merah, malu karena kakaknya tidak mensensor kata-katanya.
Kenapa bisa berpikiran seperti itu?, batin Yuki semakin tidak paham.
"Aku tidak paham kenapa Masa san berpikir seperti itu tapi, Mi chan menaruh dasinya di antara gigiku agar aku tidak bisa menggigit bibir, mungkin?. Aku rasa itu yang aku ingat." Jelas Yuki membuat Masamune dan Keiji bernafas lega.
Kenapa mereka?, batin Yuki lagi. Melirik Masamune lalu beralih ke Keiji.
"Kenapa kamu tidak pulang?. Setidaknya bisa kabari aku." Yuki memasukkan daging ayam ke dalam mulutnya.
"Jika aku pulang siapa yang akan mengganti kantung darahku?." Jawab Yuki, lalu mengulurkan tangan ke depan untuk menghapus butiran bening yang jatuh di pipi Masamune.
"Masa san tolong jangan menangis, hari ini aku sudah kenyang melihat Hazuki menangis. Karena ini juga aku tidak ingin memberitahu siapa pun. Aku tidak mau melihat kalian menangis." Ujar Yuki.
"Ouh, maaf. Aku hanya tidak bisa menahannya." Masamune menarik nafas panjang berusaha mengolah emosinya.
Yuki mengangguk kecil.
"Apa sakitmu lebih parah?."
"Ung, lumayan. Sampai aku tidak bisa bergerak selama empat hari." Yuki menjawabnya dengan enteng.
"Kamu mengatakannya seolah-oleh itu hal yang biasa." Yuki menoleh kepada Keiji yang sedang menatapnya.
Yuki tersenyum lalu mengambil telur diatas piring mencubit lengan Keiji hingga anak itu menjerit kecil.
"Arg."
Hap.
Keiji terbelalak menatap manik sebiru laut itu.
Yuki menarik kembali sumpitnya dan kembali melanjutkan makan.
Hening. Sampai Keiji berteriak protes.
"Hachibara san!." Teriak anak itu setelah menelan telurnya.
"YUKI!." Masamune ikut berteriak.
"Hm?." Yuki tidak mengindahkannya.
"Apa kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan?." Tanya Masamune menunjuk sumpit di tangan Yuki.
"Apa?, memberikan telur kepada Keiji?." Jawab polos Yuki.
"Pfft, hahahaha." Hajime tertawa tanpa menahannya. Sedangkan wajah Keiji sudah panas menahan malu dan kesal.
Yuki, Hajime, dan Keiji sedang menonton televisi dengan cemilan di tangan mereka.
"Aku ingin memberikan ini kepadamu." Ujar Hajime memberikan tote bag berukuran cukup sedang. Yuki memangku tote bagnya lalu membuka benda itu.
Keningnya langsung berkerut melihat tumpukan surat berwarna-warni. Dengan acuh Yuki menaruh tate bag di lantai.
"Terima kasih, apa senpai membuka lokerku?." Tanya Yuki. Keiji melirik isi tote bag.
"Tidak, itu terjatuh di depan lokermu beberapa ada yang tersangkut di pintu loker. Mungkin ada lebih banyak di dalam." Jawab Hajime.
"Senpai memungutnya?, tidak maksudku. Mengambilnya?." Yuki sedikit terkejut.
"Ung, aku tidak bisa membiarkannya saja."
"Terima kasih." Yuki lalu melirik Keiji yang tertarik dengan surat-surat itu.
"Kamu mau?." Keiji menoleh menatap Yuki.
"Pasti butuh waktu lama untuk membacanya." Ujar Keiji tidak menjawab pertanyaan Yuki.
"Tidak." Jawab Yuki, Keiji mengangkat-angkat tote bag sebentar.
"Lumayan berat." Gumam anak itu.
"Aku tidak akan membacanya."
"Eh?!." Keiji kaget.
***
OSAKA 00 : 01
BUK.
DAK.
DOR.
"Ahahahaa ... Shine! (Mati kau!)."
Jleb.
Bruk.
Tap tap tap tap.
Wuuusshhh.
Grek.
Hotaru berlarian dari gedung satu ke gedung yang lain, menyergap, menghadang musuh yang mengejar mereka.
Ia menikmati apa yang dia lakukan, mengingat setiap penyerangan oleh musuhnya membuat Hotaru semakin bersemangat membalaskan dendam.
"Ap apa yang kau inginkan?. Jangan bunuh aku." Rintih pria paruh baya bersujud di depan kaki Hotaru.
"Hubungi atasanmu!." Titah Hotaru dengan nada rendah.
"B baik." Pria itu mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Zzzz ... Zzzz ...
"Halo b bos." Pria itu menelan salivanya kasar, ia sangat ketakutan. Rekan-rekan dan bawahannya sudah tumbang semua, tak bernyawa.
"Ada apa dengan suaramu?. Apa yang terjadi?." Pria itu melirik pemuda di depannya dengan takut-takut.
Buk.
Hotaru menaruh kakinya di pundak pria paruh baya mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengambil paksa ponsel pria itu.
"Brengs*k! apa yang terjadi!. Katakan!." Hotaru sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Waktu kalian sudah habis." Orang di sebrang sana membeku, sekujur tubuhnya merinding hebat tatkala mendengar suara dengan intonasi khas itu.
"Bersiaplah dan lari sejauh mungkin. Karena kami akan memburu tikus-tikus yang berani masuk ke dalam rumah kami." Ucap Hotaru melirik tajam ke bawah, tepat ke pria di bawah kakinya.
"Kami menagih darah dan nyawa saudara kami."
DOR!!.
Orang di sebrang sana terkesiap mendengar suara tembakan.
"Larilah, hahahaa ... Aku datang."
Tut.
Dak!.
Hotaru mendorong tubuh tak bernyawa dengan kakinya lalu ia melempar ponsel ke atas.
DAR!.
Ponsel meledak setelah ditembak oleh Fumio.
"Kau terlihat seperti pembunuh bayaran Hotaru." Kata Fumio mendekati Hotaru.
"Kau lebih terlihat seperti psikopat Eiji." Balas Hotaru melirik pisau panjang di tangan Fumio.
"Hahaha ..." Dua sahabat itu tertawa berjalan meninggalkan tempat gelap itu.
***
SAITAMA 22 : 00.
"Ya, target sudah masuk dua menit yang lalu. Target terlihat terburu-buru, sudah di pastikan dia sudah tahu siapa dalang penyerangan." Jawab Yamazaki menurunkan teropongnya.
"Tuan muda, semua belajar dengan lancar. Satu jam ke depan kita akan mulai perburuan." Hotaru menatap datar bangunan besar di hadapannya, mereka yang berada di ketinggian lebih mudah untuk melakukan pengintaian.
"Sudah aku duga, wakil pemimpin mereka pasti masih mengingat detail keluarga Hachibara. Dia mengenali suaraku." Fumio menggeleng tidak setuju.
"Kamu salah Hotaru, mereka tidak mengenali suaramu tapi mengenal aura yang keluar dari suaramu." Sanggah Fumio.
"Benar, aura yang hanya dimiliki keluarga utama." Tambah Yamazaki.
Hotaru masih menatap datar bangunan yang di kelilingi banyak pengawal.
"Will, ini belum terlambat jika kamu ingin mundur." Ujar Hotaru. Pasalnya anak berusia dua belas tahun itu mendapatkan beberapa luka di tubuh kecilnya saat pertarungan kemarin.
"Saya tidak akan mundur tuan muda." Jawab Will.
"Eiji, bagaimana menurutmu?." Hotaru beralih menatap sahabat karibnya.
"Lukanya cukup buruk, jika Will tidak memaksakan dirinya mungkin tidak akan ada masalah." Hotaru menatap ragu ke arah anak kecil yang sedang memeriksa pisau di tangannya.
"Will, kamu mundur. Penyerangan sekarang sangat beresiko." Titah Hotaru.
"Tuan muda saya mohon, izinkan saya bergabung dalam penyerangan terakhir ini." Will menunduk dalam.
"Bukan terakhir Will, masih akan ada banyak penyerangan lainnya. Pulanglah, sembuhkan lukamu." Will menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya ingin menyelesaikan tugas ini dengan baik, saya tidak akan merepotkan anda tuan muda. Tolong, izinkan saya ikut." Hotaru berjalan pelan mendekati Will.
Will terkesiap merasakan aura hebat di depannya, ia tidak berani mendongak untuk melihat wajah Hotaru.
Sebuah pistol terulur di depan wajahnya, Will bingung, kenapa Hotaru memberikan pistol milik laki-laki itu kepadanya.
"Gunakan ini, jangan hanya bergantung dengan pisau kecilmu." Will menegakkan tubuhnya menatap pistol mewah di tangan Hotaru.
"Tuan muda." Lirih Will.
"Jika masih ingin ikut pakai ini." Titah Hotaru. Will mengulurkan tangannya dengan ragu.
Puk.
Pistol sudah berpindah tangan.
Will terkagum-kagum dengan ukiran garis di sisi-sisi pistol, Will baru pertama kali melihat pistol yang memiliki ukiran aneh.
"Itu bukan pistol biasa."
"Eh?!." Kaget Will.
"Cukup bidik sembarangan musuhmu pelurunya yang akan bekerja." Hotaru menjelaskan.
"Baik tuan muda." Jawab Will bertambah kagum.
Puk.
Hotaru menaruh tangan besarnya diatas kepala Will.
"Jangan mati, saudariku membutuhkanmu kelak." Kata Hotaru berjalan meninggalkan Will.
Baik tuan muda, saya tidak akan mati!, batin Will.
"Hotaru, apa kamu tidak berlebihan?. Will terlihat tertekan dengan permintaanmu." Eiji melipat lengannya di depan dada.
"Yuki suka anak kecil, setidaknya Will bisa membuat Yuki lebih nyaman."
"Jika kamu meragukanku sampai sebegitunya, aku harus lebih berjuang untuk merak kecil kita." Hotaru mengulas senyum.
"Benar, berjuanglah Eiji bahkan jika dewi cinta tidak mendukungmu." Fumio tertawa renyah.
"Akan aku lakukan."
Satu jam yang ditunggu-tunggu, ke empat orang di dalam gedung persembunyian mulai bersiap.
Yamazaki mengamati pergerakan target mereka yang tidak lain adalah tangan kanan pemimpin musuh.
"Keamanan mulai di perketat, target berada di halaman depan. Sepertinya dia akan pergi." Lapor Yamazaki.
"Bagus, sesuai dugaan." Jawab Hotaru.
"Kita mulai perburuan ini." Hotaru membalikan badan seraya mengeratkan sarung tangannya.
"Hai! (Baik!)." Seru Yamazaki, Fumio, dan Will. Mereka mengikuti Hotaru dari belakang.
Masker hitam tebal, kacamata hitam menutupi wajah mereka. Yamazaki memisahkan diri ke jalan lain. Langkah ringan yang terlihat mantap tanpa rasa takut memasuki pintu depan rumah besar itu.
"Siapa kalian!?. Keluar!!. Tahan mereka ...!!." Teriak salah satu penjaga menatap tajam ketiga tamu tak diundang.
Penjaga bermunculan dari segala sisi, pintu depan juga sudah tertutup rapat, mereka berlari hendak mengepung lalu menyerang tamu tak diundang.
Hotaru mengeluarkan sebuah botol kecil ia terus melangkah ke depan di ikuti oleh Fumio dan Will.
Pluk.
Tutup botol terbuka mengeluarkan asap berwarna ungu gelap.
Buk. Buk. Buk. Buk.
Para penjaga yang hendak menyerang saling berjatuhan tanpa sebab ketika jarak mereka sudah dekat dengan Hotaru, Fumio, dan Will.
"Apa yang terjadi?!." Teriak bos penjaga.
Salah satu dari mereka mendekati penjaga yang tumbang mengecek nadi di pergelangan tangan.
"Mereka sudah mati bos!." Teriaknya.
"Omong kosong!. Jangan biarkan mereka masuk. Serang !!."
Dak. Dak. Dak. Dak.
Suara hentakan kaki mengepung Hotaru cs yang lagi-lagi mereka tumbang seketika.
"Kep*rat!, gunakan pistol kalian!." Titah bos mereka.
Sheeett ...
Zap. Zap. Zap. Zap.
Hotaru menyambar tubuh penjaga yang hampir tumbang di dekatnya, menjadikan tubuh tak bernyawa itu sebagai tameng. Fumio dan Will juga melakukan hal yang sama, sesekali mereka juga melepaskan tembakan menjatuhkan penembak-penembak musuh.
Hotaru melempar dengan kasar tubuh berlubang layaknya sampah. Matanya menatap lurus manik bos penjaga.
"Ap apa kalian kelompok yang dimaksud oleh Shiga san?." Tanyanya ketakutan.
"Kau orang baru?. Kau tidak ingat telah menyerang kami empat belas tahun lalu?." Orang itu menodongkan pistol ke arah Hotaru, maniknya bergetar melihat semua anak buahnya yang sudah gugur berjatuhan.
Fumio menyimpan kembali pistolnya di balik tubuh, Will mengusap-usap sayang pistol di tangannya.
Tap.
Orang itu terkejut Hotaru sudah berdiri di hadapannya. Perlahan Hotaru memegang bagian atas pistol yang mengarah kepadanya, membelokkan pistol itu ke samping lalu menempelkannya tepat di kepala orang itu.
Seperti melihat hantu menyeramkan di depan mereka, orang itu sama sekali tidak bisa berkutik ia sangat ketakutan.
"Jika kalian lupa akan aku ingatkan. Kami datang untuk balas dendam." Ucap Hotaru menarik pelatuk pistol. Tangan orang itu semakin bergetar pegangannya mengendur namun tangan Hotaru menekannya agar tetap berada di tombol pemicu.
"Klan \~\~\~ …" Orang itu memelotot horor, badannya bergetar hebat. Hotaru tersenyum miring di balik masker.
DOORR!!!.
BRUK.
Hotaru berjalan melangkahi tubuh tak bernyawa di bawahnya.
Wow keren, seru Will menatap punggung lebar Hotaru.
Mereka memasuki rumah itu semakin dalam, Hotaru menutup dan menyimpan botol di balik bajunya.
Suara gemuruh langkah kaki terdengar menghampiri mereka.
"Datang." Gumam Fumio.
"Will." Panggil Hotaru.
"Ya tuan muda?."
"Apa yang harus kamu lakukan?." Tanya Hotaru menoleh sedikit ke belakang menatap ke bawah.
Will mendongak ke atas untuk membalas tatapan sang pewaris untuk menunjukkan bahwa tekadnya sangat kuat.
"Tidak boleh mati dan tidak akan mati." Jawab Will tegas.
Hotaru tersenyum menganggukkan kepala.
"Bagus."
"Musuh sudah datang kalian bersiaplah." Fumio memberi tahu.
"Dia ada di kamar paling belakang, aku dan Will akan membukakan jalan untukmu." Mendengar kalimat Fumio Will langsung berjalan ke depan.
"Siap?." Tanya Hotaru menatap ke deretan musuh di depan mereka.
"Mulai!." Mendengar seruan Hotaru para penjaga yang sudah memblokir jalan Hotaru cs terkesiap menarik pelatuk pistol melepaskan tembakan. Tapi naas, mereka kurang cepat.
Hotaru sudah melemparkan ke atas kepala para penjaga dua botol yang sama persis dengan botol sebelumnya.
Dor!. Dor!.
Praakk!.
Dua botol itu hancur mengepulkan asap ungu pekat, menjatuhkan musuh dalam sekejap tidak memberikan waktu untuk melepaskan tembakan.
Hotaru, Fumio, Will, berlari menerjang asap, terus berlari ke depan. Penjaga yang menghadang mereka selanjutnya lebih sulit di tangani, racun yang di bawa Hotaru juga sudah habis hanya tersisa satu.
Fumio menghadang tiga dari mereka sedangkan Will melawan dua dari mereka. Hotaru terus berlari, sesekali ia melepas pelurunya.
Bruk.
Dor!.
Dor!
SRET!.
"Shhuuuutt." Hotaru bersiul melihat Fumio yang sudah menarik katananya.
"Ahahaha, pergilah." Balas Fumio melirik Hotaru.
SRET!. Fumio menebas pundak hingga perut musuh yang hendak menyerangnya dari belakang.
"Aaaarrrggghh!." Jerit orang itu.
BRAK.
Fumio menendang tubuh orang itu hingga menabrak keras dinding di belakangnya.
"Apa yang kamu tunggu?." Tanya Fumio saat mendapati Hotaru masih berdiri menatapnya.
"Wow, kamu terlihat seksi." Ledek Hotaru lalu mengambil langkah seribu menjauh dari Fumio yang hendak memukulnya.