
"Hm ..?. Lumayan." Kata Yuki melihat refleks cepat Mizutani menahan meja yang habis ia tendang.
Secara bersamaan Mizutani dan Yuki melirik tas koper yang sudah bergeser ke samping. Mizutani meraih tas secepat kilat namun kemampuan Yuki pun belum tumpul, ia melempar kancing seragamnya tepat mengenai tangan Mizutani membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
Yuki segera memanfaatkan momen itu untuk merebut tas koper, ia meraih tas dengan satu tangannya.
BRAK!!.
Yuki sontak menatap manik Mizutani, mereka saling menatap.
"Jangan berharap aku akan memberikannya kepadamu." Ucap Mizutani, tangan besarnya telah mengubur tangan ramping Yuki yang memegang pegangan tas menekannya ke meja.
"Benarkah?." Tanya Yuki menarik salah satu sudut bibirnya.
"Berhenti!. Ingat, kamu masih memakai rok sekolah." Yuki memutar bola matanya kesal karena Mizutani bisa menebak tendangan yang akan ia lakukan.
Mizutani mengangkat tangan Yuki menjauhkannya dari tas lalu mengambil tas koper meletakannya di samping tubuhnya.
"Mi chan, apa susahnya sih memberikanku dua pil itu." Geram Yuki menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Aku rasa penyakitmu tidak kambuh setiap hari." Yuki cemberut, idenya untuk menguji Mizutani telah berhasil tapi cara pria itu menghentikannya terasa familiar.
"Benar." Jawab Yuki kesal.
"Jadi kenapa penyakitmu bisa kambuh lagi?." Yuki menarik nafas panjang.
"Aku seperti mengingat sesuatu, sesuatu yang tidak pernah aku alami saat mendengar melodi dari alat musik koto." Akhirnya Yuki mengatakannya.
"Itu yang memicu penyakitmu kambuh?."
"Hm."
"Kenapa kamu ingin mengingatnya jika itu membuat sakitmu kambuh?." Wajah Yuki berubah dingin.
"Karena iblis itu ada di sana." Suara Yuki sedingin es di kutub.
Koto juga salah satu tato yang ada di pundak Hotaru, pasti ada arti di balik alat musik itu, sambung Yuki dalam hati.
"Aku akan memberikan dua pil untukmu besok dengan syarat." Yuki menunggu syarat yang akan di katakan Mizutani.
"Aku harus bersamamu saat kamu mendengarkan musik koto lagi."
"Baik, besok pagi-pagi aku akan pergi ke ruangan klub koto. Kita bertemu di sana." Ujar Yuki lalu membenarkan duduknya.
"Selain itu, berikan padaku botol-botol kecil itu."
"Jelaskan dulu botol apa ini." Yuki meraih ponselnya.
"Kamu tidak perlu tahu."
"Aku juga tidak akan memberikannya kepadamu."
Zzzz ... Zzzz ...
"Yeoboseyo? (Halo?)."
"Hm." Jun Ho langsung mengerutkan kening setelah mendengar nada suara gadis nakalnya.
"Apa yang terjadi?." Jun Ho berubah serius. Mizutani yang melihat Yuki tiba-tiba menelpon seseorang dan berbicara dengan bahasa korea hanya diam memperhatikan, pasalnya ia tidak paham apa yang gadis itu bicarakan.
"Katakan kepadanya untuk menyerahkan botol cairan itu padaku."
"Sudah mulai ya, bagaimana dengan penyakitmu?." Jun Ho melepas kacamatanya.
"Kambuh dengan sukses." Jun Ho menarik nafas panjang.
"Kamu tidak menggigit bibirmu lagi bukan." Yuki menjauhkan ponselnya bersiap mendapatkan teriakan menggelegar dari Jun Ho.
"Ya, aku melakukannya." Benar saja perkiraan Yuki, suara teriakan terdengar oleh telinganya padahal ponsel sudah ia jauhkan.
"YAAKK !!. Dasar gila ..!. Apa kamu ingin memutuskan bibirmu HEH!." Yuki memutar bola matanya. Jun Ho menatap tajam ponsel ditangannya, ia berusaha untuk mengatur nafas. Yuki memanglah Yuki, gadis nakalnya itu selalu membuatnya khawatir.
"Kau bersembunyi lagi?." Tanya Jun Ho setelah meredakan emosinya.
"Hm." Yuki kembali mendekatkan ponsel ke telinga.
"Dasar gila." Ternyata Jun Ho belum sepenuhnya meredakan emosinya.
"Kita bisa bicara lagi nanti, sekarang katakan kepadanya untuk memberikan botol itu. Jangan beritahu dia tentang cairan di dalam botol." Yuki melirik ponselnya.
"Aku ini lebih tua darimu, bersikaplah lebih sopan dasar gadis nakal." Protes Jun Ho.
"Tolong, Jun Ho si." Ucap Yuki datar.
"Berikan ponselnya kepada Mizutani san." Yuki segera mengulurkan tangannya ke hadapan Mizutani.
"Moshi-moshi, konbanwa (Halo, selamat malam)." Sapa Jun Ho dengan kaku, pasalnya ia baru beberapa bulan belajar bahasa jepang dan belum fasih sama sekali.
Yuki menunggu kedua pria tidak saling kenal itu berbicara, setelah beberapa menit Mizutani mengembalikan benda pipih ditangannya kepada Yuki.
"Aku harap kamu lebih terbuka tanpa harus aku paksa." Kata Mizutani membuka tas koper memberikan barang yang Yuki minta.
"Tidak semudah itu untuk percaya kepada orang yang menyembunyikan sesuatu darimu." Sindir Yuki.
"Kau benar." Mizutani menyimpan tas kopernya lalu meraih kunci mobil.
"Ayo pulang."
Sepulangnya dari sekolah Yuki tidak langsung tidur ia begadang dengan Je si burung hantu dan cairan yang baru ia dapat, dengan peralatan seadanya Yuki kembali dengan hobinya.
Pukul empat dini hari Yuki baru menutup kelopak matanya.
Yuki berjalan melihat para pemain sedang semangat melakukan latihan pagi, ia masuk ke dalam ruang ganti manajer, tangannya segera melepas seragam menggantinya dengan jaket jersey klub bersiap untuk sesuatu yang akan ia lakukan.
Di depan ruang klub koto Yuki berdiri memegang tas sekolahnya, sudah lima menit belum ada tanda-tanda Mizutani maupun Ishikawa datang.
***
Hyuga prefecture Miyazaki, awal musim panas.
"Sudah siap?." Tanya Hotaru.
"Hm, Hiro san mengirimkan salah satu anak buahnya. Sepertinya dia belum mau bertemu denganmu." Kata Fumio.
"Padahal Takkecchan sudah menjelaskan semuanya kepada Hiro san." Hotaru mencangklek tasnya.
"Hiro san pasti memiliki alasan sendiri." Fumio dan Hotaru berjalan menuju bus sekolah.
"Hotaru kun, kamu duduk di sampingku!." Seru Yamazaki yang sedang berbicara dengan supir bus.
"Hai! (Ya!)." Jawab Hotaru tidak kalah seru.
Hotaru dan Fumio masuk ke dalam bus, pemandangan ganjil tertangkap oleh manik coklat terangnya.
Aoki bergerak gelisah di kursinya mencuri pandang ke arah Fumio.
"Aku mencium bau-bau perselingkuhan." Lirih Hotaru.
"Hanya laki-laki bodoh dan tidak menghargai pasangan mereka yang berani melakukannya." Hotaru tersenyum kecil mendengar jawaban Fumio.
"Pesona adikku memang tidak bisa di duakan." Celetuk Hotaru.
"Tentu saja." Balas Fumio menepuk pelan pundak Hotaru lalu berjalan menghampiri satu-satunya kursi yang masih kosong tepat di sebelah Aoki.
Fumio duduk memberi jarak aman untuk dirinya dan juniornya, sesekali ia melihat Hotaru melirik ke arahnya memberikan senyum jenaka.
"Anda sudah siap tuan muda?." Lirih Yamazaki di samping Hotaru.
"Ya, kita harus bergerak cepat." Yamazaki mengangguk singkat.
"Setelah sampai di sana kita akan bertemu dengan Will agar kalian bisa berbicara."
"Will?." Hotaru merasa asing dengan nama itu.
"Apa dia orang amerika?." Tanya Hotaru.
"Bukan, itu hanya nama samaran."
"Tenang saja, levelnya sama dengan Eiji kun." Imbuh Yamazaki.
Bus itu membawa klub voli ke Tokyo untuk melakukan kamp pelatihan musim panas dengan sekolah elit di sana, kesempatan itu di manfaatkan oleh Hotaru untuk meluncurkan rencana yang telah ia susun bersama Yamazaki dan Fumio. Rin tentu saja tidak tahu tentang rencana Hotaru, mau bagaimana pun Hotaru harus berhati-hati dengan orang-orang di sekitarnya.
"Senpai tidak tidur?." Aoki melirik Fumio, sejak awal bus berangkat hingga mereka sampai sekarang Aoki tidak pernah melihat Fumio menutup matanya padahal jarak yang sangat jauh membuatnya beberapa kali tertidur.
"Aku tidak mengantuk." Jawab Fumio ramah seperti biasanya.
"Ung." Balas Aoki tersenyum kecil.
"Waaahhh ... Sudah sangat lama aku tidak kemari, kamu ingat saat kita liburan ke disneyland?." Fumio dari belakang Hotaru menyahuti laki-laki itu.
"Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa kejadian saat kalian hilang di wahana star tours." Hotaru tertawa mengingat hal itu.
"Yuki tidak mau keluar dari sana, dia sangat menyukai perjalanan ruang dan waktu."
"Dan kalian masuk sampai lima kali." Imbuh Fumio.
"Hahaha, benar."
Tidak hanya sekolah Hotaru yang mengikuti kamp itu, empat sekolah lainnya pun bergabung dengan mereka salah satunya adalah sekolah tuan rumah yang menyiapkan tempat untuk para pemain tinggal selama kamp pelatihan.
Hotaru dan teman-teman klubnya saling menyapa dengan para pemain sekolah lain yang mereka temui.
"Hachibara san, waktunya makan." Kata Karin menghentikan latihan Hotaru bersama teman barunya dari sekolah lain.
"Ung, aku akan membereskan ini lebih dulu." Sahut Hotaru segera membereskan bola.
Hotaru tidak menyangka manajernya masih menunggu sambil memegang botol minum, ia segera menghampiri seniornya seraya menyambar handuk kecil yang berada di lantai.
"Yang lain dimana?." Tanya Hotaru setelah berada di depan Karin.
"Sudah di kantin, hanya kamu yang belum datang." Jawab Karin memberikan botol minum.
"Aku terlalu menikmati waktu latihan dengan mereka. Semuanya, aku duluan!." Seru Hotaru melambai kepada pemain lain di lapangan.
"Mereka juga seharusnya segera makan kalau tidak mereka akan kehabisan makanan." Hotaru menarik sudut bibirnya melangkah menuju kantin.
Malam hari di tokyo tidak setenang di Hyuga, suara sirene ambulance dan polisi beberapa kali terdengar, Hotaru dan Fumio menyelinap keluar dari kamp. Berbekal ponsel, topi, dan masker, mereka menutupi wajah dengan sempurna.
"Takkecchan tidak ikut dengan kita?." Mereka berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi.
"Tidak, Takeru san sedang memastikan ulang lokasi-lokasi pelarian kita dan jalan alternatif lainnya."
"Takkecchan memang selalu dapat diandalkan."
"Kita bertemu di mana?." Hotaru melirik sekitar, mereka semakin masuk ke dalam.
"Taman." Hotaru mengerutkan alisnya.
"Kita sudah sampai." Hotaru mengikuti Fumio masuk ke dalam taman besar.
Fumio berjalan menuju salah satu kursi taman di dekat pepohonan, lampu taman tidak mencapai tempat itu dengan sempurna alhasil Hotaru menajamkan penglihatannya.
"Keluarlah." Ucap Fumio menatap salah satu pohon di sana.
Seseorang yang tingginya jauh di bawah Hotaru keluar dari balik pohon menghampiri mereka. Orang itu membungkuk dalam kepada Hotaru, Hotaru dengan sopan pun menerima salam hormat dari orang itu.
"Senang bisa bertemu dengan anda tuan muda." Anak kecil, batin Hotaru.
"Suaramu belum berubah, berapa usiamu?." Hotaru tidak bisa menahan untuk tidak menanyakan hal itu.
"Dua belas tahun tuan muda." Hotaru diam.
Dua belas tahun tapi dia berada di level yang sama dengan Eiji, dia sudah mendapatkan pengakuan rupanya, batin Hotaru.
"Dari keluarga mana kamu berasal Will?."
"Saya hanya anak salah satu pelayan di kediaman utama." Jawab Will menunduk hormat.
"Terima kasih sudah memutuskan untuk menjadi salah satu pelindung keluarga utama." Fumio melirik Hotaru, kharisma dan hati hangatnya sebagai pewaris sangat mirip dengan pendahulunya.
"Saya merasa sangat beruntung dapat bergabung dengan para pelindung lainnya, tidak ada yang saya inginkan lebih dari ini." Hotaru berjalan mendekati Will, kakinya berhenti tepat di depan anak itu.
"Angkat wajahmu Will." Will mengangkat wajahnya menatap lurus perut Hotaru.
"Lihat mataku atau aku yang melihat matamu." Kata Hotaru, sikapnya berubah.
Sejak kecil Hotaru diajarkan bersikap layaknya pendahulu-pendahulu di keluarganya, tidak hanya dia, Yuki pun sama. Meskipun sudah sangat lama Hotaru masih mengingat semua pelajaran tata krama dan semua yang pernah diajarkan kepadanya.
Perlahan Will mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap manik coklat terang Hotaru. Will tertegun, ia belum pernah bertemu atau pun melihat foto putra putri penerus kediaman utama dan sekarang ia sedang menatap langsung mata sang pewaris.
Mata itu seakan mengunci pergerakan Will, seperti seekor anak kancil yang di awasi oleh seekor singa. Will sangat mengagumi sosok di hadapannya, dari cerita-cerita yang selalu ayahnya ceritakan setiap malam, dari jejak yang sosok itu tinggalkan di dalam dojo, jauh di dalam lubuk hati Will menantikan saat-saat ia bertemu dengan sang pewaris. Will tidak dapat menahannya lagi, ia tersenyum di balik penutup wajahnya satu tetes air mata lolos jatuh begitu saja.
"Will, tunjukan padaku jika kamu benar-benar layak di usiamu yang masih sangat kecil." Kata Hotaru tidak menghiraukan air mata yang jatuh mengotori masker yang menutupi wajah anak itu.
Will yang masih bingung sedang berpikir, apa yang seharusnya ia tunjukan kepada Hotaru agar membuktikan bahwa ia sangat layak, usia hanya sebuah angka.
Gerakan lembut dari tangan Hotaru tertangkap oleh manik Will, namun anehnya anak itu tidak bisa berkutik dari tempatnya berdiri.
BUK!.
Will terdorong ke belakang kaki kanannya menahan berat tubuh agar tidak terdorong lebih jauh. Pukulan telapak tangan Hotaru mendarat mulus di dada kecil Will.
"Pertahanan yang bagus." Hotaru menyunggingkan senyumnya.
"Apa kamu bisa bergerak lebih cepat Will?." Will yang sudah kembali dari keterkejutannya menganggukkan kepala.
"Ya, tuan muda."
"Tunjukan padaku, aku berikan waktu sepuluh detik. Mulai dari sekarang." Tanpa membuang waktu Will berlari menerjang Hotaru.
Hotaru yang sudah siap tidak menghindari Will, ia menyambut beberapa pukulan Wil dengan satu tangannya, Fumio duduk menonton Hotaru yang sedang mengetes teman latihannya dua tahun belakangan ini.
"Aku mengakuimu Will." Ucap Hotaru setelah sepuluh detik berlalu.
Will mengatur nafasnya membungkuk dalam kepada Hotaru.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa menunjukan kemampuan saya kepada anda. Semua orang di dojo membicarakan kehebatan anda yang membuat saya mengagumi dan mengikuti jejak anda. Suatu kehormatan bagi saya diakui langsung oleh anda." Kata Will dengan nada rendah.
"Angkat tubuhmu Will." Will perlahan menegakkan tubuhnya.
"Aku sangat senang mendengarnya, apa mereka juga membicarakan tentang saudariku?." Tanya Hotaru.
"Ya, tuan muda."
"Boleh aku meminta tolong kepadamu?." Will sedikit gugup, sang pewaris meminta tolong kepadanya?!.
"Saya akan melakukan apa saja untuk anda." Will menjawabnya dengan mantap.
"Hahaha, jangan seperti itu kamu masih sangat muda nikmati hidupmu, tapi aku berterima kasih untuk itu." Suara tawa Hotaru membuat Will canggung karena malu, Fumio ikut tersenyum dari kursinya.
"Will." Panggil Hotaru.
"Ya, tuan muda."
"Ketika suatu saat nanti kamu bertemu dengan saudariku, kecepatan kakimu sangat aku harapkan untuk menjaganya." Will tentu saja sangat terkejut, ia diminta untuk menjaga saudari kembar sang pewaris yang selama ini di jaga sangat ketat oleh semua orang, kehormatan besar untuk Will.
"Jika situasi buruk terjadi dan saudariku berbalik melawan kita, kakimu sangat aku perlukan untuk melawannya." Will kembali terkejut, bagaimana dia bisa melawan saudari kembar sang pewaris.
Hotaru membaca raut wajah Will yang ragu-ragu ingin menolak.
"Will, aku tidak yakin laki-laki di belakangku bisa melakukannya." Fumio yang merasa kalau Hotaru membicarakan dirinya mengerutkan kening.
"Aku juga tidak bisa melakukannya, tentu saja aku juga tidak mau situasi buruk terjadi tapi jika pilihan saudariku seperti itu aku harus menerimanya. Maukah kamu menolongku?." Will langsung menekuk satu lututnya berlutut di depan Hotaru.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin." Hotaru tersenyum.
"Terima kasih."
"Kamu boleh kembali untuk beristirahat, selanjutnya mari kita lakukan misi ini dengan baik." Sambung Hotaru.
"Baik. Saya permisi tuan muda." Pamit Will.
Hotaru menatap punggung anak itu yang hilang di antara pepohonan gelap.
Hotaru berjalan, menghampiri Fumio duduk di sebelah laki-laki itu.
"Apa ini?, aku tidak bisa menjaga dan melawannya heh." Ulang Fumio, Hotaru tertawa seraya menyandarkan punggungnya.
"Apa kamu pikir bisa melawannya, melihat Yuki menangis saja kamu kelabakan." Balas Hotaru.
"Aku akan melakukannya." Ucap tegas Fumio.
"Tidak, kamu tidak bisa Eiji." Tandas Hotaru.
"Yuki akan menyerangmu tanpa pandang bulu, apa kamu bisa melakukan hal yang sama kepada Yuki?." Fumio diam. Hotaru mendongak menatap bintang yang tergantung di langit.
"Aku harap itu tidak akan terjadi." Gumam Hotaru yang terdengar oleh Fumio.