
"Berita berasal dari Chicago kota terbesar di negara Amerika Serikat Illionis. Sebuah pabrik gandum mengalami kebakaran besar yang terjadi kemarin pada tanggal lima April pukul sebelas malam. Kebakaran besar yang memakan satu korban meninggal dan tiga belas orang korban luka-luka itu disebabkan oleh kabel yang terkelupas mengalami konslet listrik yang sangat besar, para petugas ..." Televisi masih menyiarkan berita terbaru malam itu.
"Kau sudah lihat hasil pekerjaanku dan sekarang giliranmu. Kau harus menuruti kata-kataku." Kata seseorang dari seberang telephon. Suara gemerisik kayu terbakar terdengar sangat keras dimalam yang dingin.
"Mmm, jangan terburu-buru nona, masih ada satu target yang harus kamu bereskan." Ucapnya seraya menikmati secangkir kopi.
"Korban kebakaran diduga seorang wanita dengan beberapa tato ditubuhnya, korban tidak bisa di identifikasi karena kondisi wajah yang sangat rusak terbakar. Bahkan para pekerja pabrik pun tidak mengenali siapa korban tersebut ..." Reporter masih menyampaikan berita besar itu.
"Siapa target selanjutnya." Tanya suara diseberang sana.
"Yang satu ini dari kelompok berbeda, anda harus lebih berhati-hati. Target berada di Macau ditempat berbahaya, kelompok ular beracun." Tanpa sadar tangannya menggenggam ponsel sangat kuat menahan amarah.
"Ok, akan aku selesaikan secepatnya. Mari kita ingatkan mereka dengan kelompok yang terlupakan." Jawab suara dari dalam ponsel dengan nada mengancam.
"Aku serahkan kepadamu, semoga berhasil." Sambungan terputus.
"Ini dokumen yang anda minta tuan muda." Seseorang menyerahkan setumpuk dokumen kepada pemuda yang duduk disofa menghadap perapian.
"Terima kasih om." Pemuda itu menerima dokumen yang langsung diperiksanya.
"Ini sudah sangat malam, besok saja anda memeriksanya." Ujar si pengawal.
"Tidak, aku harus menyelesaikannya malam ini juga, agar pekerjaan ibu besok tidak terlalu berat." Ujarnya.
"Kalian memang saudara kembar." Ucap Ronggo seraya tersenyum lembut.
"Hm?." Hotaru atau yang dulu kerap dipanggil Ega menatap Ronggo meminta penjelasan.
"Nona Eva juga sering sekali lembur sampai pagi hari untuk membantu pekerjaan tuan, alasan kalian sama." Jelas Ronggo. Hotaru tersenyum tipis.
"Adikku memang yang terbaik." Tambah Hotaru mengingat wajah saudarinya.
"Apakah nona baik-baik saja?, aku selalu bermimpi tentangnya, tentang kejadian dijalanan waktu itu." Ronggo mengingat kembali saat Eva menghadang mobil mereka dengan luka-luka ditubuhnya, dan pada akhirnya Ayumi menabrak putrinya sendiri.
"Dia pasti baik-baik saja, saudariku lebih tangguh dari yang om bayangkan." Ujar Hotaru melanjutkan mengecek dokumen.
"Tapi tuan muda, tiga minggu setelah kejadian itu nona Eva menghilang, tidak ada yang bisa melacak lokasi non Eva." Tangan Hotaru berhenti seketika mendengar informasi dari Ronggo.
"Bagaimana dengan ayah dan nenek?." Tanya Hotaru.
"Keamanan tuan dan nyonya besar semakin ketat, orang-orang kita tidak bisa menjangkau mereka." Hotaru menyingkirkan dokumen dipangkuannya, berjalan menuju meja kerja miliknya.
"Om sudah mencoba mencarinya?." Tanya Hotaru lagi, tangannya sibuk bergerak diatas keyboard komputer.
"Sudah tuan, enam bulan terakhir saya sudah mencoba melacak dan mencari nona Eva dengan berbagai cara namun hasilnya nihil." Lapor Ronggo.
Hotaru ingat fakta yang ia lupakan membuatnya marah kepada diri sendiri hingga tidak sadar hampir membenturkan kepalanya ke meja yang cepat-cepat ia tahan, dirinya tidak boleh terluka atau kembarannya juga akan merasakan rasa sakitnya.
"Aku melupakan sesuatu, Yuki ahlinya dalam komputer. Menyembunyikan keberadaanya sangat mudah untuknya." Hotaru menunduk meremas tangannya kuat.
"Om kenapa baru bilang sekarang!." Sergah Hotaru menahan emosinya.
"Maaf tuan muda, saya melakukannya secara diam-diam karena sangat mengkhawatirkan nona Eva, nyonya Ayumi pun tidak tahu apa yang saya lakukan." Jelas Ronggo. Telinga Hotaru merasakan sesuatu yang ganjil didalam nada suara pria paruh baya itu.
"Katakan kepada ibu besok malam ada yang ingin aku bicarakan." Titah Hotaru menatap datar Ronggo.
"Baik den, saya permisi dulu." Ronggo berjalan keluar ruangan Hotaru.
"Aku harus meyakinkan ibu lagi, mau sampai kapan kalian membohongiku." Kata Hotaru menatap pintu keluar yang sudah menutup.
"Yuki dimana kamu sebenarnya ..." Air mata Hotaru menetes jatuh diatas punggung tangannya.
"Aku harus meminta bantuan dia." Hotaru mengetik sebuah nomor.
"Ada apa lagi."
***
Tokyo 06:01 a.m.
Yuki mencuci wajahnya dan menggosok gigi, dua hari adalah libur panjang bagi dirinya yang dulu selalu sibuk dan tidak memiliki waktu luang. Setelah selesai dengan rutinitas paginya Yuki menuliskan pesan dimemo kecil lalu menempelkannya di pintu kulkas.
Yuki melakukan peregangan didepan rumah. Celana pendek olahraga berwarna biru dengan kaos pendek berwarna senada dan sepatu berwarna peach yang membungkus kakinya, terlihat sangat manis ditubuh Yuki. Gadis itu mulai berlari kecil menyusuri kompleks.
Yuki tidak mengira jika olah raga pagi diluar ruangan terasa sangat nyaman, banyak hal baru yang ia alami setelah meninggalkan indonesia membuatnya merasa betapa ia terkurung sekaligus mengurung diri sebelumnya membuat Yuki terkikik geli.
Yuki sebenarnya tidak ingin mengakui ini, tapi karena kalimat Fathur yang laki-laki itu ucapkan sebelum ia pergi, membuatnya mampu melewati semua keterpurukan serta bantuan-bantuan dari orang-orang disekitarnya.
Bola mata Yuki menangkap sosok yang ia kenal didepan sana, Yuki mempercepat larinya mengejar.
"Ohayou, Keiji kun (Pagi, Keiji)." Sapa Yuki setelah mensejajarkan larinya dengan anak smp itu.
"Ohayou gozaimasu Hachibara san." Sapa balik Keiji dengan sopan.
Hening.
Tidak ada obrolan diantara keduanya.
Yuki sangat menikmati apa yang ia lakukan, ia juga bertemu dengan beberapa orang sedang jogging seperti dirinya.
Pemandangan disetiap jalan juga membuat Yuki benar-benar merasa nyaman ditambah udara sejuk khas musim semi yang memanjakan paru-parunya. Sudah lama mereka berlari, semakin jauh dari kompleks.
Yuki menemukan sesuatu yang menarik ia pun menghentikan larinya, menatap kagum taman umum dengan beberapa permainan anak-anak.
"Hachibara san?." Panggil Keiji didepan sana.
"Keiji kun, ayo kita mampir sebentar." Yuki masuk kedalam taman duduk disalah satu ayunan.
"Dorong aku." Pinta Yuki saat Keiji sudah menghampirinya. Tanpa bertanya Keiji langsung mendorong Yuki membuat ayunan melayang tinggi.
"Ini menyenangkan." Ucap Yuki tidak terasa bibirnya tersenyum cerah.
"Keiji kun ayo kita coba perosotan itu." Ajak Yuki turun dari ayunan berjalan menuju perosotan lalu menaikinya.
"Waaahh ..." Seru Yuki saat tubuhnya meluncur turun, Keiji menatap aneh gadis sma didepannya. Yuki kembali naik dan meluncur turun lagi, ia melakukannya beberapa kali tanpa mempedulikan tatapan Keiji.
"Hachibara san seperti anak kecil." Ucap Keiji spontan. Yuki yang mendengarnya tersenyum menarik tangan Keiji berjalan ke kotak pasir yang ada ditaman itu.
"Anak sma memang masih anak-anak keiji kun." Kaki jenjang Yuki sudah masuk kedalam kotak pasir tapi tidak dengan Keiji.
"Ayo." Yuki menatap Keiji yang tetap bergeming diluar kotak pasir.
"Tidak, sepatuku akan kotor." Yuki mengedikan bahu acuh ia langsung jongkok bermain pasir dengan tangannya.
Sudah sangat lama rasanya Yuki tidak merasakan perasaan seperti ini, seperti tidak ada beban dihidupnya, tidak ada yang harus ia pikirkan, tidak ada rasa sakit yang menghantuinya, tiba-tiba Yuki terbersit ide jahil didalam kepalanya. Ia berdiri mengangkat kedua tangan kedepan menghampiri Keiji dengan senyuman jahil.
"Apa yang ingin kamu lakukan Hachibara san?." Tanya Keiji yang melangkah mundur perlahan.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan Keiji kun?." Ucap Yuki dengan nada menggoda, tangan Yuki semakin dekat dengan Keiji membuat laki-laki itu waspada.
"Jangan mendekat." Pinta Keiji yang tidak di indahkan oleh Yuki, gadis itu mencoba mengelapkan tangannya ke jaket olahraga Keiji, tangan kotor penuh pasir.
"Hachibara san!." Jerit Keiji berlari menghindari Yuki membuat Yuki semakin bersemangat ingin mengotori jaket laki-laki itu.
"Keijiii ..." Seru Yuki mengejar anak smp itu, menakut-nakutinya.
Yuki terus mengejar kemana pun Keiji melarikan diri, suara tawa bahagia keluar dari mulut Yuki. Ditengah-tengah aksi kejar-kejaran itu sebuah suara gemerisik dari balik semak-semak membuat Yuki dan Keiji menghentikan kegiatan mereka menoleh ke asal suara.
Yuki mendekati semak-semak diikuti oleh Keiji. Rasa penasaran membuat Yuki menundukkan badan mencoba melihat apa yang ada dibalik semak-semak. Sssrrrrkkkk.
Gguuukkkk!!.
Yuki terperanjat kaget kakinya spontan bergerak mundur. Yuki bisa mendengar suara detak jantungnya saat ini, yang berdetak sangat keras. Pemandangan itu tertangkap oleh mata Keiji. Waktunya pembalasan, batin Keiji mendekati anak anjing.
"Keiji kun jangan mendekatinya kamu bisa digigit." Ujar Yuki menghalangi Keiji.
"Sepertinya anak anjing ini dibuang." Kata Keiji tidak mendengarkan larangan Yuki, mengangkat anak anjing berwarna putih itu.
Gguukk!.
Suara anak anjing itu membuat Yuki melangkah mundur lagi, matanya bergerak-gerak gelisah.
"Bukankah dia lucu." Keiji menyodorkan anak anjing ditangannya kedepan wajah Yuki. Gadis itu bergerak semakin mundur dan Keiji semakin mendekatkan anak anjing ditangannya.
"Keiji kun, jangan coba-coba." Yuki yang berusaha tenang sejak tadi sudah tidak tahan lagi.
"Hachibara saan ..." Keiji langsung berlari kearah Yuki membuat gadis itu berlari super cepat meninggalkan taman.
"Jangan mendekaaat!." Seru Yuki berlari menyusuri jalan.
Beberapa orang tersenyum hingga tertawa melihat Yuki berlari sangat cepat dengan Keiji yang megejar dibelakangnya sambil menggendong anak anjing menakut-nakuti.
Yuki mengira Keiji sudah jauh dibelakangnya dan ia mulai berlari kecil, mengatur nafas.
Gguuukk!!.
Suara itu terdengar sangat dekat dibelakang Yuki, perlahan ia menggerakan kepala menoleh ke belakang, wajah anjing itu tepat berada didepan matanya membuat Yuki melotot kaget.
Gguuukk!!!.
"Waaa!." Yuki menancap gas mengayuh kakinya, lagi.
"Ahahaha anak anjingnya sangat imut Hachibara san hahaha." Seru Keiji tertawa sangat puas.
"Aku memang takut cacing tapi aku juga tidak menyukai anjiiingg!." Teriak Yuki.
"Awas kamu Keiji kuun!." Teriak Yuki lagi membuat Keiji semakin tertawa puas. Yuki melihat gerbang rumah Keiji yang berarti sebentar lagi dia sampai dirumahnya dan selamat dari kejaran anjing itu BUKAN tapi dari kejahilan Keiji.
Yuki tersenyum tipis saat ia sudah hampir melewati rumah Keiji, namun tiba-tiba dari arah dalam rumah anak laki-laki itu, muncul seseorang berbelok kearahnya. Yuki yang terkejut tidak mungkin mengerem kakinya mendadak jika ia melakukan itu tubuhnya pasti akan terdorong kedepan dan menabrak orang itu.
Dengan refleks yang cepat Yuki memutar pergelangan kaki sebelah kanan membuat tubuhnya juga berputar berlawanan arah jarum jam melewati orang itu. Syukurlah aku bisa menghindari tabrakan mematikan, batin Yuki.
Gguuukk gguuukk !!.
Yuki merinding mendengar suara gonggongan di belakangnya, tanpa pikir panjang Yuki bersembunyi dibelakang tubuh orang itu.
"Aniki? (Kakak? \= laki-laki)." Ucap Keiji lirih. Yuki melebarkan matanya mendapatkan ide.
"Onii san, tasukete kudasai (Kakak, tolong aku)." Ucap Yuki, tubuh laki-laki didepannya yang sangat tinggi dan memiliki bahu yang lebar membuat tubuh ramping Yuki tidak terlihat dari depan, tersembunyi dengan sempurna.
"Darimana kamu mendapatkan anak anjing itu?, kembalikan ketempat asalnya." Titah sang kakak.
"Ung, kembalikan Keiji kun." Yuki ikut menambahi, menjulurkan kepalanya kesamping agar bisa melihat raut wajah masam Keiji.
"Kasihan dia, masih bayi." Jawab Keiji mengelus kepala anak anjing itu.
"Siapa yang akan merawatnya, kamu sibuk, ayah dan ibu juga." Tolak halus sang kakak.
"Ung sibuk." Ulang Yuki semangat seraya mengangguk-anggukkan kepala. Keiji memberikan tatapan tajam kepada Yuki yang dibalas juluran lidah gadis itu mengejeknya.
"Tidak bisakah kita merawatnya?." Keiji menatap penuh harap kepada sang kakak.
"Tidak Keiji." Tolak sang kakak dengan nada lembut, sedangkan Yuki dibelakangnya mangangkat jari telunjuk menggerak-gerakan ke kanan dan ke kiri.
"No Keiji." Ucap Yuki dengan wajah sok serius.
Sang kakak membalikan badan membuat Yuki mundur satu langkah, laki-laki itu menunduk melihat siapa gadis yang berlindung dibelakangnya. Tubuh Yuki yang tidak sampai sepundak laki-laki itu mendongak, balas menatap.
Yuki mengangkat satu alisnya melihat laki-laki dengan potongan rambut sangat pendek hampir seperti para tentara dengan bentuk wajah yang imut namun terlihat tegas, aura tenang yang terpancar dari dirinya mengingatkan Yuki dengan laki-laki diruangan Mizutani dihari pertama ia masuk sekolah.
"Kamu?." Lirih Yuki.
"Hajime .., cari adikmu suruh dia cepat pulang." Seorang wanita keluar dari pintu depan dengan celemek yang menggantung ditubuhnya.
Yuki menoleh ke asal suara, mereka saling menatap beberapa detik.
"Aaaah, Hachibara chan! mari masuk, pas sekali kita mau sarapan ayo kita sarapan bersama." Wanita itu alias nyonya Yuuki mendekati Yuki dengan riang.
"Ohayou gozaimasu, Yuuki san." Sapa Yuki menunduk sopan.
"Kamu cantik sekali, benar kata ibu-ibu, kamu sangat cantik." Ucap nyonya Yuuki seraya mengelus pelan pundak Yuki, membuat gadis bermata biru itu tersenyum kaku salah tingkah.
"Ayo ikut sarapan bersama kami. Aa, Keiji juga sudah pulang." Keiji berjalan memasuki halaman rumah bersama anak anjing itu ditangannya. Untuk sesaat kakak beradik itu saling menatap.
"Maaf Yuuki san badanku sangat kotor, aku juga berkeringat, mungkin lain kali aku akan menerima ajakan Yuuki san." Tolak Yuki dengan sopan.
"Baiklah, Hajime antarkan Hachibara chan pulang." Titah bibi Yuuki menepuk punggung putranya.
"Tidak usah, rumah saya juga disebelah, tidak perlu diantar." Yuki memberikan senyum yang terlihat kaku.
"Tidak boleh begitu Hachibara chan, ayo Hajime. Ibu masuk dulu." Setelah mengatakan itu bibi Yuuki melenggang begitu saja masuk kedalam rumah.
Yuki menarik nafas menenangkan diri lalu berjalan menuju rumahnya yang diikuti Hajime dari belakang.
Hening.
Yuki berhenti didepan pagar kecil rumahnya, membalikan badan menghadap laki-laki tinggi itu.
"Terima kasih." Ucap Yuki.
"Hm."
Hening. Yuki ingin segera masuk kedalam rumah tapi laki-laki itu tetap berdiri dihadapannya.
"Yuuki Hajime kelas 3-4 yoroshiku (salam kenal)." Yuki mendongak setelah mendengar perkenalan tiba-tiba itu.
"Hachibara Yuki kelas 2-1, kochira koso yoroshiku onegaishimasu (salam kenal juga)." Yuki memperkenalkan diri dengan sopan seraya membungkuk sekilas. Ternyata laki-laki itu adalah seniornya.
"Masuklah." Kata Hajime.
"Sampai jumpa, senpai (senior)." Ucap Yuki sebelum masuk kedalam rumah.
Didalam rumah Yuki langsung masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya, tidak lupa membenamkan dirinya ke dalam bathup setelah tiga puluh menit berlalu barulah gadis itu keluar dan menuju ke dapur untuk sarapan.
"Yuki aku menemukan ini dilantai saat membersihkan kamarmu." Masamune menyodorkan dua amplop surat kepada Yuki.
"Hm." Yuki hanya meletakan surat itu disampingnya begitu saja.
"Sebaiknya segera kamu baca dan membalasnya." Saran Masamune.
"Aku bingung mau membalasnya kemana, tidak ada alamat pengirim." Masamune bengong dengan mulut terbuka mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis remaja yang duduk tepat didepannya itu.
"Tentu saja tidak ada. Ya ampun Yuki ..." Yuki tetap menyantap sarapannya dengan tenang.
"Tidak baik jika kamu tidak menghargai perasaan mereka." Tegur Masamune.
"Masa san, bukankah mereka yang jahat kepadaku?." Masamune menunggu kelanjutan kalimat Yuki.
"Mereka setiap hari menerorku dengan meletakan surat-surat itu kedalam loker sepatu." Ujar Yuki kesal.
"Bukannya itu berarti banyak yang menyukaimu." Masamune tersenyum menggoda.
"Bagaimana bisa menyukai seseorang yang tidak dikenal dan baru melihat orang itu beberapa kali." Rutuk Yuki.
"Itu bisa saja, kamu percaya ada cinta pada pandangan pertama?." Tanya Masamune, Yuki teringat kisah cinta kakek dan neneknya.
"Tidak begitu percaya tapi aku tahu itu ada." Jawab Yuki.
"Mungkin perasaan seperti itu yang mereka rasakan." Kata Masamune.
"Aku meragukannya." Sahut Yuki, tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Moshi-moshi Mi chan?." Jawab Yuki.
"Pergilah kesekolah ada yang ingin aku bicarakan."
"Hm."
"Saat kamu sampai mungkin pertandingan sedang dimulai, aku ingin memperlihatkannya kepadamu." Jelas Mizutani.
"Baiklah."