
Hari perlombaan. Para pemain mulai turun dari bus di susul para manajer di belakang. Yuki dan Sakura sibuk mengecek barang-barang yang mungkin tertinggal. Setelah di rasa tidak ada mereka berjalan menyusul rombongan.
Banyak sekali orang-orang memakai seragam serba putih dengan motif dan nama sekolah berbeda-beda, ada juga yang memakai warna hitam dan abu-abu.
Padahal pintu masuk masih jauh di depan namun Yuki sudah merasakan atmosfir pertandingan, teriakan-teriakan melengking membuat gadis itu merinding.
"Aaaarrgg!!!, Kotaro kuuunn!!." Yuki menaikan satu alis.
"Lihat ke sini!, sebelah sini!." Teriakan ramai dari para penggemar antah berantah.
"Senpai terkejut?." Suara Sakura menyadarkan Yuki.
"Aku baru tahu Kudo kun terkenal." Sakura terkikik kecil jari-jarinya diletakan di depan mulut.
"Kudo senpai memang sudah sangat terkenal sejak kelas satu. Bukan hanya Kudo senpai saja loh." Baru saja Sakura mengatakannya teriakan horor lain membelah angin musim panas.
"Kyaaaaa!!... Hajime kuuuun!. Aku mendukungmu!."
"Yuuki saaan ...!"
"Lihat itu pitcher tercepat!, Nakashima kuuuunn!!. Kyaaaa!, dia melirik ke sini!."
Yuki pusing.
"Ryouuu saaaannn ...!."
"Haruno kuunnn, manis seperti biasanya!." Sang pemilik nama bersemu merah menurunkan topinya menutupi wajah.
Teriakan demi teriakan menyerang gendang telinga Yuki. Ia sadar akan sesuatu, kakinya melangkah mendahului Sakura.
Puk. Puk.
Inuzuka menoleh ke belakang. Wajahnya seakan bertanya kepada Yuki. Gadis itu tersenyum manis seraya mengepalkan tinjunya di depan dada.
"Inuzuka kun, ganbatte." Ucap Yuki tulus, suara datarnya pun hilang entah kemana digantikan suara merdu yang biasa ia berikan kepada Hotaru.
Sontak wajah pemuda itu berubah merah sampai ke leher dan telinga. Senyuman konyol khas miliknya ia tahan hingga menggigit bibirnya sendiri membuat Yuki menutup mulut menahan tawa.
Buk!.
"Oi!, kenapa kamu diam saja heh. Seharusnya kamu senang, dasar bocah sialan!." Geram Kawazune Ryou setelah meninju punggung Inuzuka.
"Hiks, aku iri." Celetuk yang lain.
"Mati saja kau Shinichi!." Senior lain memberikan kutukan.
Sret.
Nakashima langsung berdiri di samping Yuki.
"Senpai milikku." Tegas pemuda itu.
"Kemari kau bocah belagu!." Hirogane melingkarkan lengannya di leher Nakashima lalu menyeret pemuda itu menjauh dari Yuki.
Perdebatan mereka terhenti kala sebuah teriakan yang lebih keras dan ramai dari rombongan yang baru datang di samping mereka. Yuki tersadar, raut wajah pemain langsung berubah serius, tatapan mereka pun berubah tajam, mengintimidasi.
Heeeeh, mereka bisa serius juga, batin Yuki yang selalu melihat wajah santai mereka. Gadis itu menoleh penasaran.
"Mereka dari sma midori senpai." Jelas Sakura yang sudah berdiri di samping Yuki.
Gerombolan pemain sma midori satu persatu turun dari bus. Yuki menaikan satu alisnya, rambut merah, coklat, abu-abu, navy, mereka banyak yang mewarnai rambut.
"Rambut itu, apa tidak melanggar peraturan sekolah?." Tanya Yuki kepada Sakura.
"Tidak, senpai. Mereka bebas mewarnai rambut asalkan tetap berprestasi, di sekolah kita juga ada yang mendapatkan pengecualian." Yuki teringat anak cheerleaders yang membullynya.
Pantas saja sepupu Ueno memiliki rambut pirang, batin Yuki. Dan panjang umur lah orang itu.
Chizuru menerobos gerombolan teman-temannya dari belakang, saat ia hendak turun dari bus sepasang manik biru menyita perhatiannya. Karena badan anak itu yang tergolong pendek di bandingkan dengan yang lain membuatnya sedikit kesulitan.
Berhasil, setelah usaha dorong mendorong ia berhasil keluar dan tanpa pikir panjang berlari riang menghampiri pemilik manik biru itu.
"Hachibara saaan!."
Tap.
Chizuru berhenti tepat di depan Yuki memberikan senyum khas miliknya.
"Waahh, akhirnya kita bisa ketemu lagi, di setiap pertandingan aku mencari-carimu di bangku manajer loh." Jelas pemuda itu.
Di lain sisi gerombolan pemain sma midori berkasak-kusuk bingung dan terkejut.
"Ada apa dengan ace kita?, dia memang playboy tapi tidak pernah mendatangi perempuan lebih dulu." Celetuk rambut navy.
"Tidak heran jika perempuannya model kayak gitu." Sahut rambut coklat.
"Apa dia manusia?. Lihat, dia seperti seorang dewi, sangat cantik." Srobot rambut merah.
"Aku tidak pernah tahu sma serigala itu memiliki manajer modelan begini. Aaakh!, tidak adil, aku iriiii." Sewot rambut abu-abu.
"Berhenti kalian, jangan mempermalukan diri sendiri." Tegur rambut hitam.
"Kapten, jujur sajalah kau juga berpikiran yang sama dengan kami bukan." Rambut hitam melirik perempuan bermanik biru itu lalu beralih ke laki-laki pirang.
"Huufft, dia akan mendapat masalah." Ujarnya berjalan mendekati Chizuru.
Yuki melihat betapa antusiasnya sepupu Ueno. Ia juga mendapatkan teriakan tidak mengenakan dari fans laki-laki itu.
"Ada urusan penting waktu itu jadi, baru bisa datang sekarang." Jawab Yuki.
"Tidak masalah, kamu akan mendukungku kan?." Yuki hendak menjawab namun sebuah barikade (penghalang) terbentuk di depannya.
Inuzuka, Nakashima, dan Haruno sudah berdiri kokoh menutupi tubuh Yuki dari pandangan ace musuh.
"Ada urusan apa kau dengan manajer kami!?." Geram Inuzuka.
"Jangan coba-coba mendekatinya!." Ancam Nakashima.
"Pergilah." Haruno berusaha membuat suaranya lebih mengancam yang terdengar lucu ditelinga Yuki.
Chizuru hendak maju untuk melawan penghalang kokoh di depannya namun sebuah lengan besar menariknya mundur, menjauh.
"Maafkan kelakuannya." Ucap rambut hitam seraya tersenyum kaku.
"Kapten!, jangan menghalangiku!." Teriak Chizuru.
Hap.
Tiba-tiba saja kedua kaki Chizuru melayang, kedua lengannya diapit oleh si rambut navi dan coklat berjalan menjauh dari Yuki.
"Oii, kalian sialan. Lepaskan!, awas. Lepaskan." Chizuru memberontak.
"Kau tidak lihat mereka semua menatapmu seperti singa kelaparan, Chizuru." Pemuda itu membuang wajahnya kesal.
"Hmp!, apa urusannya denganku." Kedua teman Chizuru menarik nafas panjang.
"Terserah kau saja, sekarang kita harus pergi."
Stadion besar yang dipenuhi lautan manusia dari berbagai umur meramaikan pertandingan, di tambah dengan suara-suara musik marching band serta sorakkan dari anak-anak cheerleaders memekakkan udara. Jangan ditanya apa kabar dengan Yuki, gadis itu sudah membalas pesan Mizutani yang menanyakan keadaan dirinya dan dijawab dengan 'terlalu berisik, panas'.
Yuki duduk berjejer dengan manajer yang lain sedangkan Nana duduk di bangku cadangan bertugas mencatat lemparan para pitcher. Di barisan samping ada Ueno yang memegang brass alat musik tiup itu, dan diantara mereka ada wanita dengan seragam putih tanpa lengan dan rok pendek ala cheerleaders. Sakai terus bergerak menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik dari marching band seraya meneriakkan kata-kata semangat.
Lengkap sudah penderitaan telinga Yuki. Yuki tidak sengaja melihat sosok rambut pirang disebrang tribun sebelah kiri sedang melambaikan tangannya dengan semangat. Gadis itu mengangguk kecil sebagai balasan.
Sekolah Yuki untuk sekarang tidak akan melawan sekolah Chizuru, sma midori akan bertanding setelah sekolahnya. Dua pertandingan lagi agar bisa menuju final, jika sekolah Yuki menang hari ini mereka akan masuk semi final dan barulah di final mereka bertemu dengan sma midori.
Yuki melirik ke bawah setelah para pemain yang tidak bertanding dengan heboh menunjuk ke bangku cadangan sekolah mereka. Para pemain yang tidak bertanding berkumpul di bangku penonton tepat diatas bangku cadangan memberikan semangat kepada tim inti.
Di bawah sana Yuki melihat para pemain membentuk sebuah lingkaran dengan Hajime yang berada di tengah-tengah mereka.
Yuki sempat terkejut ketika Hajime meneriakan yel-yel sekolahnya, memimpin para pemain mengumpulkan semangat juang mereka. Suara berat dan tenang yang biasa Yuki dengar kini berubah berapi-api, aura kepemimpinan Hajime menguar menyelubungi anggotanya, sorot mata itu pun berubah, Yuki baru melihat sisi lain Hajime. Tekad, persaingan, dan ambisi untuk meraih kemenangan. Laki-laki itu terlihat seperti seorang ksatria yang sudah siap dengan perang di depan matanya.
Pertandingan di mulai, semua orang menyorakkan semangat, berteriak memanggil nama pemain yang berada di lapangan, memuji jika permainan mereka bagus, memberikan semangat ketika pemain melakukan kesalahan, bersorak senang ketika sekolah yang di dukung mendapatkan poin, bagaimana dengan Yuki?, ia diam. Terhanyut dengan alur pertandingan, suara berisik masih menyakiti telinganya namun di lain sisi juga membuat dirinya bersemangat.
Gadis itu ikut gugup ketika pemain di base ke tiga berlari ke home plate, ketika pukulan tidak bisa melambung jauh, ketika pemain terkena strike. Ia juga mengamati strategi-strategi yang dilakukan kedua sekolah, bibirnya tersenyum miring ketika membaca arahan Kudo yang terbilang berani, cara laki-laki itu mendapatkan out dengan menjebak pemain lawan, ia juga senang saat Hajime memukul home run.
Ini .., menarik, batin Yuki.
Di akhir babak Inuzuka di turunkan untuk bermain, Yuki tahu anak itu penuh semangat dan berisik, mengira mungkin pemuda itu akan bersikap lebih tenang saat pertandingan. Tapi salah, Inuzuka juga berisik di tengah-tengah lapangan meneriakan slogan miliknya. Yuki tertawa lirih yang hanya terdengar olehnya.
Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh sekolahnya. Para pendukung kembali ke bus untuk pulang ke sekolah sedangkan Yuki meminta izin kepada Mizutani untuk melihat pertandingan sma midori.
Bangku tribun sekarang di isi oleh para pemain inti, mereka tidak di perbolehkan pulang untuk menonton pertandingan sma midori, mengamati dan mencari kekurangan tim lawan.
Yuki duduk di samping Mizutani dan Suzune di sisi satunya sedangkan Nana di samping wanita itu.
"Ung, tadi di depan stadion." Jawab Yuki.
"Apa yang kamu lihat?." Mereka mengobrol tanpa mengalihkan fokus para pemain yang sedang pemanasan di lapangan.
"Selalu empat anak kecil dan satu orang remaja mungkin, wajah mereka tidak jelas." Jawab Yuki jujur.
Mizutani paham.
"Bagaimana dengan kemarin?, apa berhenti dengan satu pil?."
"Tidak, malam hari setelah pulang dari rumah senpai aku memakan pil yang kedua." Yuki berhenti sejenak.
"Pagi harinya Masa san terkejut dengan tumpukan handuk berwarna merah di kamar." Mizutani melirik Yuki.
"Kamu sudah menjelaskan kepadanya?." Yuki mengangguk kecil.
"Aku butuh kantung darah lebih banyak lagi." Mizutani memijat hidungnya.
"Tidak baik untuk tubuhmu jika terus seperti ini." Respon Yuki malah tersenyum menertawakan Mizutani.
"Mi chan, ini bukan apa-apa dibandingkan di korea dulu." Laki-laki itu mengepalkan tangannya.
Yuki yang menyadari itu menepuk-nepuk pelan tangan besar Mizutani menenangkan pemimpin bayangan itu.
"Apa ada masalah dengan para bayangan?." Tanya Yuki, maniknya menangkap Chizuru yang melompat-lompat melambai ke arahnya. Yuki hanya tersenyum kecil menahan rasa malu. Laki-laki itu mendapatkan tatapan tajam dari para pemain yang duduk di bawah Yuki, Inuzuka cs.
"Aku terlalu sibuk, tidak bisa mengawasimu. Apa perlu menyuruh Dazai untuk tinggal di rumah?." Mizutani tidak menjawab pertanyaan Yuki, pasti ada yang di sembunyikan pria itu.
"Tidak perlu, cukup berikan aku kantung darah lagi." Jawab Yuki, selain itu kalau Dazai tinggal di rumahnya Yuki akan susah menyelinap keluar lagi.
Suara debuman keras antara sarung tangan dan bola membuat Yuki menaikan satu alis. Di bawah sana Chizuru sedang melempar, gaya sombong dan angkuhnya tertera jelas di wajah pemuda itu. Sesuai dengan kemampuan yang di milikinya, tidak ada satu pemain pun yang berhasil memukul bolanya.
Babak demi babak sudah terlewati, hasilnya 15 - 0, kemenangan telak untuk sma midori. Yuki bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran timnya.
"Dia hebat, tapi kamu lebih hebat darinya." Yuki memangku siku diatas lutut lalu menyangga dagunya.
"Jangan bercanda. Senpai bisa memukul lemparan itu." Ujar Yuki masih menatap lemparan Chizuru.
"Tapi aku akui, catcher sma midori lebih hebat dari catcher kita." Kudo yang mendengar percakapan itu mendongak melirik Yuki dengan senyuman menyebalkan.
"Apa kamu mau coba?." Yuki mengabaikan Kudo melirik Mizutani.
"Apa?."
"Simulasi bertanding melawan tim inti, dengan kamu dan Kudo sebagai pasangannya." Yuki beralih ke lapangan.
"Kudo kun sudah pernah menangkap lemparanku." Ujar Yuki.
"Itu saat latihan memukul, ini adalah simulasi bertanding." Yuki berpikir. Tanpa ia sadari para pemain mendongak tertarik akan pembicaraan pelatih dan manajer mereka.
"Tim akan terbantu jika kamu mau membantu mereka berlatih." Lanjut Mizutani, Yuki masih berpikir.
"Ada syaratnya." Ucap Yuki, Mizutani dan Suzune menatap gadis itu penasaran.
"Katakan." Yuki tersenyum tipis.
"Aku ikut bermain full set." Kata Yuki.
Sang dewi sudah gila, batin para pemain.
"Baik." Jawab Mizutani.
Pelatih!, seru pemain dalam hati tidak setuju.
"Lalu, tidak ada penonton."
Apa dia berniat mengusir para orang tua yang biasanya menonton, batin para pemain lagi.
"Hm."
Pelatih!, bagaimana caranya mengusir masyarakat?, protes para pemain dalam hati.
"Dan," masih ada lagi?, batin mereka.
Yuki mendekatkan wajahnya ke telinga Mizutani seraya menutup bibirnya dari samping agar tidak ada yang bisa membaca bibirnya.
"Pinjamkan aku bengkel kakek Ryuu." Bisik Yuki. Yuki menjauhkan wajahnya menatap Mizutani.
Pria itu mengeraskan rahangnya, menatap lurus manik Yuki. Para pemain, Suzune, dan Nana terkejut melihat ekspresi pelatih mereka, meskipun sedang marah saat melatih para pemain Mizutani tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Ok, not deal." Kata Yuki santai.
Apa yang manajer katakan?, apa yang membuat pelatih seperti itu, batin mereka.
"Kita bicarakan nanti." Ujar Mizutani pada akhirnya. Yuki menggeleng pelan.
"Yuki." Tegur Mizutani lebih tenang.
Jika aku tidak memaksanya sekarang, aku akan kehilangan kesempatan. Aku tidak bisa memaksa Dazai lagi, atau laki-laki itu akan mendapatkan amukan Mi chan, batin Yuki.
Yuki menaikan satu alis menatap pria itu. Mizutani menghela nafas lalu berdiri.
"Ayo kita bicara." Yuki ikut beranjak dari duduknya mengikuti Mizutani.
Mereka akan bertengkar lagi, batin Kudo dan Hajime.
"Eh kenapa dengan mereka?." Tanya Ryou.
"Kenapa jadi serius begini?." Lirih Hirogane.
"Senpai milikku." Celetuk Nakashima sedih melihat Yuki pergi bersama Mizutani.
Mizutani berhenti di bangku luar stadian yang sepi, menyuruh Yuki duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu itu berbahaya. Kamu tahu kan nyonya besar melarangmu." Kata Mizutani langsung ke pokok pembicaraan.
"Ya, kamu tidak perlu mengingatkanku. Tapi toh aku sekarang sudah memegang komputer lagi, masuk ke lab rumah sakit, lalu apa salahnya masuk ke bengkel kakek Ryuu." Ujar Yuki kekeh.
"Nyonya besar, Daren dono, tidak ada yang tahu tentang semua eksperimen yang telah kamu buat apalagi burung hantu itu. Bisakah kamu bermain dengan komputer dan lab Dazai saja?." Bujuk Mizutani.
"Tidak Mi chan, aku membutuhkan bengkel kakek Ryuu." Tolak Yuki.
"Jika aku tidak mengizinkanmu dan melarang Dazai masuk ke sana?." Yuki memutar bola matanya.
"Aku akan memaksa salah satu anggota bayangan." Jawab Yuki.
"Semua anggota sedang bertugas."
"Apa kamu pikir aku tidak bisa menemukan mereka?." Mizutani menarik nafas berat menghempaskan punggungnya ke kursi panjang. Yuki paham atas keresahan Mizutani. Tapi, ia juga tahu apa yang harus ia lakukan.
"Tidak ada gunanya terus menghindar, dariku atau dari mereka." Yuki sedikit membalikkan tubuhnya menatap wajah Mizutani.
"Apa kamu percaya padaku Mi chan?."
"Aku percaya, tapi. Ojou san." Yuki terkesiap dengan panggilan itu, Mizutani dalam mode pemimpin bayangan.
"Bisakah anda berhenti melakukannya sendiri?, bisakah anda membiarkan kami yang membereskannya?." Giliran Yuki yang menarik nafas panjang.
"Jangan merasa iba dan kasihan kepadaku. Tidak ada gunanya mengeluhkan penyakit ini, aku bukan lagi putri kecil dari keluarga Hachibara." Yuki meyakinkan Mizutani.
"Anda seharusnya tidak seperti ini." Mizutani menekan-nekan dahinya. Yuki ikut bersandar.
"Jika sudah waktunya nanti aku akan meminta bantuan kalian jadi, jangan khawatir." Mizutani menjauhkan tangannya.
"Berjanjilah satu hal."
"Hm?."
"Jangan membuat benda aneh-aneh lagi, seperti burung hantu itu atau semacamnya." Yuki tertawa kecil.
"Ung, lagi pula membuatnya memerlukan waktu yang cukup lama." Yuki melirik Mizutani.
"Deal?."
"Deal." Yuki menyunggingkan senyum senang, ia tidak bisa menahan senyuman itu untuk tidak terukir di wajahnya.
"Maaf!, kalian tidak bertengkar lagi kan?!." Kedua orang itu menoleh. Mendapati semua rombongan berdiri cukup jauh dari mereka.
"Aku akan bermain ke rumah sakit nanti." Lirih Yuki berdiri menghampiri Suzune.
"Rumah sakit bukan taman bermain ojou san." Gumam Mizutani ikut menghampiri rombongannya.