Futago

Futago
Sendiri.



"Moshi-moshi (Halo)." Ucap Yuki sedang menelpon seseorang.


"Aku tunggu di jalan belakang dekat sekolah."


"Hm, ja (sampai nanti)." Yuki memutus telephonnya, ia membuka tutup botol menengguk minumannya.


Gadis itu duduk direrumputan hijau menikmati angin segar dipagi hari, ia meluruskan kaki jenjangnya dan merebahkan tubuh menatap awan yang bergerak diatas sana.


Aku tidak bisa mengendalikan isi kepalaku yang terasa bercampur aduk, batin Yuki menghela nafas.


Kenapa juga aku melibatkan diri dengan gadis gila itu, lanjut Yuki menyesal.


Disinilah seharusnya aku berada tapi, kenapa terasa asing, aku benci berinteraksi dengan orang yang tidak aku kenal tapi, kenapa banyak sekali dari mereka yang menghampiriku, apa aku menikmatinya?, tiba-tiba bayangan ekspresi Inuzuka, kohai (junior) lucunya dan Keiji yang selalu ingin ia jahili membuat Yuki menarik sedikit ujung bibirnya.


Enak kali ya, memiliki adik laki-laki, bisa aku jahili sepuasnya.


Kenapa aku bisa berpikir seperti itu?. Aaarrgghh! seperti apa diriku yang sebenarnya?!, teriak Yuki dalam hati. Disaat Yuki masih bertarung dengan pikirannya seseorang beranjak duduk disamping gadis itu.


"Apa yang membuatmu sangat fokus seperti itu?." Yuki tidak melirik sedikit pun orang disampingnya, tangannya mengeluarkan black card dari dalam dompet.


"Sepertinya ini tidak terlalu berguna, aku membutuhkan uang cash." Mizutani melirik kartu ditangan Yuki.


"Aku juga tidak bisa menghubungi nenek atau ayah untuk menukar benda ini dengan uang tunai. Mereka benar-benar membuatku tidak bisa menghubungi mereka." Yuki menjatuhkan tangannya keatas rumput memain-mainkan black cardnya.


"Yuki." Panggil Mizutani.


"Hm?."


"Bukan hm, jawab yang benar." Kata Mizutani tenang. Yuki beranjak duduk menoleh menatap pria berusia dua puluh enaman itu.


"Yuki. Kamu bukan nona muda disini, aku juga bukan pelayan atau pun pengawalmu." Yuki berubah serius setelah mendengar kalimat yang Mizutani ucapkan.


"Jangan memerintahku lagi." Mizutani beralih menatap Yuki.


"Aku mengerti, maaf sudah bersikap kelewatan." Yuki membungkuk sebentar lalu mengalihkan pandagannya.


"Aku walimu disini. Aku hanya ingin kamu menghilangkan kebiasaan nona mudamu itu, dan melihatku sebagai guru sekaligus walimu." Mizutani mengambil dompet Yuki yang tergeletak.


"Lain kali aku akan mengajakmu mengambil uang, untuk sekarang pakai ini." Mizutani menyodorkan dompet Yuki kembali ke gadis itu.


"Tidak. Ambil kembali uangmu." Yuki menatap lurus kedepan.


Duk.


Mizutani memukul kepala Yuki dengan dopet gadis itu.


"Ini tanggung jawabku sebagai wali." Yuki melirik dompetnya yang sudah terisi lembaran uang.


Yuki teringat ucapan Lusi sebelum mereka berpisah, membuatnya menahan diri untuk tidak mendekati barang-barang yang neneknya larang, komputer, laboratorium, dan benda-benda yang menjadi hobinya. Apa lagi saat ia harus terbang ke jepang sendirian, ia sudah tidak peduli dengan wali atau pun sesuatu yang akan terjadi kepadanya.


Yuki menarik nafas panjang dan menerima dompetnya.


"Terima kasih." Ucap Yuki


"Ini mungkin terasa berat tapi tidak seberat yang kamu pikirkan, jika kamu mau bergaul." Lanjut Mizutani. Yuki beranjak berdiri.


"Mi chan, aku pergi dulu." Yuki meninggalkan Mizutani begitu saja.


Terkadang aku merasa bahwa diriku yang sekarang sedang merindukan diriku yang lain, sesuatu yang terkadang menggangguku. Apa lagi sekarang ruang gerakku juga sangat terbatas disini tapi, lagi-lagi perasaan aneh apa ini? tubuhku terasa ringan, aku bebas kemana pun aku ingin pergi, aku bebas dari para pengawal, aku bebas dari urusan perusahaan, aku terlalu bebas. Sangat aneh.


Dulu dimataku dunia terasa sangat sempit dan mudah ditebak tapi sekarang, dunia terlihat sangat luas dan penuh kebohongan, batin Yuki masuk kedalam rumah.


Setelah Yuki membersihkan diri dan sarapan ia mengunjungi rumah bibi Yuuki, gadis itu lupa tidak menanyakan dimana tempat Keiji bertanding hari ini. Yuki memencet bel rumah menunggunya sebentar.


"Ya?." Bibi Yuuki membukakan pintu dengan terburu-buru.


"Bibi maaf mengganggu." Ucap Yuki.


"Ah, tidak apa-apa ada yang perlu aku bantu?." Tanya bibi Yuuki.


"Dimana tempat Keiji kun bertanding ya bi?, aku lupa menanyakannya kemarin." Jelas Yuki.


"Hachibara chan mau menonton pertandingan Keiji? syukurlah." Bibi Yuuki menarik nafasnya pelan lalu beralih menatap gadis itu.


"Begini Hachibara chan, tadi Hajime sudah berangkat, dan bibi lupa menitipkan bekal Keiji karena bibi juga harus berangkat kerja sekarang, bolehkah bibi menitipkannya kepadamu?." Tanya bibi Yuuki.


"Hai' (Ya)." Jawab Yuki.


"Yokatta (Syukurlah), tunggu sebentar ya bibi ambilkan dulu bekalnya." Bibi Yuuki kembali masuk kedalam rumah dan kembali dengan kotak bekal cukup besar yang dibungkus dengan kain halus.


"Tolong ya Hachibara chan soalnya Keiji kalau makan banyak, bibi takut makanan dari sekolah masih kurang." Ucap bibi Yuuki seraya menyerahkan kotak bekal itu kepada Yuki.


Pantas saja wajahnya bulat, batin Yuki tersenyum didalam hati.


"Tenang saja bi pasti aku berikan kepada Keiji kun." Yuki menerima kotak bekal itu.


"Oh ya, terima kasih. Pertandingannya dimulai dua jam lagi dan ini alamat tempatnya." Bibi Yuuki memberikan secarik kertas berisi alamat kepada Yuki.


"Terima kasih bi, aku pergi dulu." Pamit Yuki.


"Ung, itterasshai (Ya, selamat jalan)."


***


Di stadion yang cukup besar itu Yuki melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, stadion yang mirip dengan stadion sepak bola namun dengan lapangan yang berbeda. Masamune menuntun Yuki untuk duduk didekat pembatas agar lebih jelas untuk menonton.


Sebelumnya Yuki sudah meminta Masamune untuk mengantarnya sekaligus menemani dirinya melihat pertandingan Keiji.


Terlihat salah satu tim sedang melakukan pemanasan dibawah sana.


"Yuki apa nama sekolah Keiji?." Tanya Masamune membuat Yuki langsung menatap wanita itu.


"Aku tidak menanyakannya." Masamune terdiam sebentar. Kebiasaan Yuki yang dulu masih melekat.


"Baiklah kita cari dimana anak itu." Ujar Masamune melihat pemain-pemain dibawah lapangan.


Sebuah pemberitahuan bahwa pertandingan akan dimulai, Yuki masih sibuk mencari keberadaan Keiji hingga pertandingan dimulai pun Yuki masih belum menemukannya.


Sorakan terdengar dari tribun samping merayakan pukulan jauh yang berhasil salah satu pemain lakukan, Yuki menikmati pertandingan itu, sesekali ia bertanya kepada Masamune tentang arti dalam istilah-istilah permainan baseball itu.


"Pemukul ke empat nomor punggung tujuh, Yuuki Keiji kun." Seru pemberitahuan dari pengeras suara.


"Yuki .., Keiji pemukul nomor empat." Ucap Masamune yang terlihat terkejut.


"Memang kenapa dengan pemukul nomor empat?." Tanya Yuki.


"Pemukul ke empat sering disebut sebagai clean up atau pemukul pembunuh, bisa juga disebut pemukul pembersih yang memiliki kemampuan batting (pukulan) yang sangat bagus dan pemukul yang ditakuti oleh tim lawan." Jelas Masamune.


"Keiji kun keren dong." Baru saja Yuki memuji anak laki-laki itu, tiba-tiba suara pukulan yang sangat keras menggema diseluruh stadion. Mata Yuki mengikuti arah bola yang terbang jauh.


"Home run ...!." Teriak pembawa acar.


Tribun penonton bergemuruh bersorak gembira dengan pukulan keluar lapangan yang masih berada didalam tiang pembatas membuat Keiji dan pelari yang sebelumnya ada di base mendapatkan skor.


"Lihat betapa menakutkannya pemukul ke empat, dengan satu pukulan ia bisa mendapatkan dua skor sekaligus padahal baru inning (babak) pertama." Masamune menunjuk papan skor yang tertulis 2-0.


"Keiji kun." Lirih Yuki tersenyum senang menatap Keiji yang sedang beradu tos denga temannya dibawah sana.


Permainan berjalan sangat cepat dengan tiga home run yang Keiji lakukan, skor berakhir dengan 8-0 di ining ke lima. Yuki dan Masamune keluar gedung menunggu Keiji diluar.


Yuki melihat tim yang kalah berkumpul tidak jauh darinya, mereka menangis sesenggukan membuat Yuki merasa tidak tega. Yuki tidak pernah ikut dalam pertandingan apa pun ia tidak terlalu mengerti dengan perasaan anak-anak itu.


"Yuki, itu Keiji." Tunjuk Masamune membuyarkan lamunan Yuki.


Keiji dan teman-temannya berjalan keluar dari gedung dengan wajah yang ceria.


Yuki dan Masamune berjalan menghampiri anak laki-laki itu.


"Keiji kun." Panggil Yuki yang berhenti tidak jauh dari gerombolan tim Keiji. Anak laki-laki itu terlihat kaget saat melihat Yuki yang memanggilnya.


"Hachibara san, kenapa ada disini?." Tanya Keiji yang sudah menghampiri mereka.


"Untuk melihat pertandinganmu, senpai yang memberitahuku kemarin, kalau kamu akan bertanding hari ini." Jelas Yuki.


"Tiga home run heh," Ucap Yuki menggoda Keiji membuat anak laki-laki itu sedikit tersipu malu.


"Itu sudah biasa." Jawabnya sombong.


"Hai' hai' (Ya ya)." Yuki lalu mengulurkan kotak bekal kepada Keiji.


"Apa ini?." Tanya Keiji yang merasa tidak asing dengan kain dan kotak bekal ditangan Yuki.


"Oba san (Bibi) menitipkan ini untukmu." Keiji menerima kotak bekalnya.


"Terima kasih." Ucap Keiji.


"Selamat untuk kemenanganmu." Suara rendah dan tenang membuat mereka menoleh ke pemilik suara.


"Yuuki siapa perempuan itu, pacarmu? atau pacar kakakmu?." Sergah teman Keiji langsung, setelah Keiji berada diantara mereka.


"Bukan keduanya." Jawab Keiji datar.


"Heeh?, kalau begitu kenalkan padaku." Srobot yang lain.


"Kalian kenalan sendiri." Keiji berjalan meninggalkan teman-temannya.


"Hei! Yuuki tunggu. Kenalkan pada kami, Yuuki!." Seru teman-temannya.


Dilain sisi Yuki, Masamune, dan Hajime kembali pulang. Didalam mobil itu terasa sangat sepi tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan membuat Masamune sedikit risih.


"Yuuki kun sepertinya kamu juga bermain baseball." Ucap Masamune memecah keheningan.


"Ya." Jawabnya singkat.


"Apa posisimu?." Tanya Masamune.


Yuki menatap keluar jendela pikirannya sibuk berperang lagi.


"Penjaga base pertama dan pemukul ke empat." Jawabannya membuat Masamune terkejut.


"Pasti orang tua kalian sangat bangga." Kata Masamune yang hanya mendapat anggukan dari Hajime.


***


Pagi yang cerah seperti biasa dan seperti biasanya juga loker sepatu Yuki penuh dengan surat. Yuki merapihkan surat-surat itu memasukannya kedalam tas. Ia berjalan menaiki tangga dan berpapasan dengan seorang laki-laki dengan rambut sedikit panjang menghadangnya.


"Bisa kita bicara sebentar." Ucapnya.


Aku tidak ingin bicara denganmu, apakah tidak apa-apa jika aku menjawab seperti itu?, batin Yuki tapi ia teringat kata-kata Masamune Tidak baik jika kamu tidak menghargai perasaan mereka. Membuat Yuki menerima ajakan orang itu.


Laki-laki itu membawa Yuki menuruni tangga berjalan ke luar gedung menuju taman terdekat.


"Hachibara san." Panggilnya, Yuki menatap laki-laki itu menunggu kalimat selanjutnya.


"Aku menyukaimu, jadilah kekasihku." Ucap laki-laki itu seraya membungkuk dan mengulurkan tangan ke depan.


Yuki menatap tangan itu sebentar.


"Terima kasih." Ucap Yuki membuat laki-laki itu mendongak menatapnya.


"Aku tidak bisa menerimanya, maaf." Tolak Yuki.


"Kenapa?." Tanya laki-laki itu menarik kembali tangannya dan berdiri tegap.


"Aku kurang percaya diri." Kilah Yuki.


"Itu tidak masalah, aku akan membuatmu menjadi percaya diri." Sergahnya cepat.


"Maaf, pasti kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. Permisi." Ucap Yuki langsung pergi dari sana.


Aku telah melukai tiga hati orang, betapa sangat kejamnya aku, batin Yuki hendak masuk kedalam gedung namun tiba-tiba ia merasa ada sebuah pergerakan mengincar tanganya dengan cepat Yuki menarik tangannya dan menoleh kesamping dimana pelaku berasal.


"Wah gerakanmu cepat juga." Seorang laki-laki bermata sipit muncul dari sisi tembok yang lain.


"Jangan melihatku seperti itu, aku tidak mungkin melukaimu." Ucapnya melihat sorot mata datar Yuki.


Yuki menarik nafas pelan melihat kebawah. Masih pagi jangan lagi kumohon, batin Yuki.


"Begini Hachibara chan." Ucapnya dengan nada manja.


Hah?!, telingaku sepertinya bermasalah, batin Yuki terkejut.


"Hari minggu besok, maukah kamu berkencan denganku?."


Deng!.


Seperti suara pukulan (gong) menggema didalam telinga Yuki. Yuki melirik laki-laki didepannya, laki-laki itu tidak lebih tinggi darinya, sedikit gendut, dan bermata sipit. Yuki menarik nafas lagi dan bersiap untuk menolak.


"Maaf, aku tidak bisa pergi. Permisi." Ucap Yuki segera meninggalkan laki-laki itu.


Setelah dirasa sedikit jauh Yuki semakin mempercepat langkahnya menaiki tangga ia tidak ingin ada orang yang menghadangnya lagi, ia juga tidak ingin ada orang yang memanggilnya, ia terus berjalan sampai kedepan kelas dan membuka pintu.


Safe (Selamat), batin Yuki.


Gadis itu berjalan menghampiri mejanya menggantungkan tas dan duduk menyandar dikursi miliknya.


"Ohayou." Sapa Ueno yang dijawabi anggukan oleh Yuki.


"Ohayou Yu chan." Salam ceria dari gadis yang tidak Yuki harapkan. Yuki tetap diam.


"Yu chan kenapa wajahmu seperti itu?." Tanya Natsume.


Jangan mulai please, batin Yuki tidak menjawab Natsume.


"Ne Yu chan, aku sudah mengisi formulirku." Ucap Natsume berusaha menarik perhatian Yuki.


"Eh, Natsume san memanggil Hachibara san dengan nama belakangnya?." Kata Uena terkejut. Natsume melebarkan senyum menawannya.


"Ung, kita sudah berteman sekarang kan Yu chan." Natsume menatap Yuki penuh harap namun Yuki malah meletakan kepalanya diatas meja tanpa memberikan jawaban.


"Jadi, Natsume chan ikut club apa?." Tanya Ueno mengalihkan perhatian Natsume yang terlihat kesal karena telah diabaikan oleh Yuki.


"Band." Jawabnya dengan nada ceria.


"Eeh, bukannya club itu mau dibubarkan ya?." Natsume mengangguk sedih.


"Kami hanya berempat dan masih kurang tiga anggota lagi, tapi itu tidak masalah asalkan ada anak baru yang mau bergabung." Jawab Natsume moodnya berubah semangat.


"Ung, semangat Natsume chan, kamu terlihat seperti vokalis handal." Celetuk Ueno.


"B benarkah, padahal aku tidak bisa bernyanyi loh. Aku hanya bisa memainkan beberapa alat musik." Sahut Natsume. Telinga Yuki mendengar keganjilan dari suara Natsume.


Pelajaran dimulai, kelas berubah tenang. Yuki tidak bisa tidur seperti yang biasa ia lakukan di sma tunas jaya dulu, ia tidak ingin mencolok atau pun membuat masalah, Yuki ingin melewati dua tahun sekolahnya dengan tenang.


10:15 break time (istirahat) dua puluh menit. Yuki tiba-tiba mengulurkan tangannya memberi tanda Natsume untuk berhenti dan tidak mengajaknya untuk bicara dan cara itu berhasil. Yuki kembali meletakan kepalanya diatas meja.


Baru beberapa detik Yuki menenangkan pikirannya yang seperti benang kusut itu, terdengar seseorang memanggilnya.


"Hachibara san, ada yang mencarimu." Seru teman perempuan satu kelasnya.


Yuki menggembungkan pipinya kesal sebelum ia mengangkat kepalanya. Pasti itu lagi, batin Yuki seraya menegakan tubuh dan beranjak meninggalkan kursinya.


"Natsume chan, apakah Hachibara san baik-baik saja?." Tanya Ueno khawatir.


"Sepertinya tidak. Ueno chan bisakah kita bekerja sama?." Tanya Natsume menyeringai.


"Eeh..?."


Yuki melangkah keluar dari dalam kelas ia mengedarkan pandangan, perempuan yang tadi memanggilnya menunjuk dua orang laki-laki yang berdiri didekat jendela lorong.


"Terima kasih." Ucap Yuki sebelum pergi lalu ia menghampiri dua laki-laki itu.


"Ada perlu denganku?." Tanya Yuki langsung to the point.


"Ung, gomenne (Ya, maaf ya) mengganggu istirahatmu." Ucap salah satu diantara mereka. Laki-laki dengan model rambut sedikit nyentrik.


"Daijyoubu (Tidak apa-apa), jadi?." Tanya Yuki yang sudah tidak sabar.


Cepatlah aku ingin kembali ke mejaku, batin Yuki.


"Bisa ikut kami sebentar." Kata laki-laki satunya yang terlihat seperti murid teladan yang pintar.


Yuki mengikuti mereka menaiki tangga melewati lantai empat. Dan sekarang orang yang akan kamu lukai hatinya bertambah Yuki, sindir Yuki kepada dirinya sendiri dalam hati. Ternyata mereka berdua membawa Yuki ke atap sekolah.


Kedua laki-laki itu membalikan badan menghadap Yuki namun gadis itu tidak menghiraukan mereka, ia terlalu terpaku kepada pemandangan dari atas sana. Ini menarik, terlihat sepi juga, batin Yuki berjalan ke pagar pembatas besi.


"Apa kamu menyukai pemandangannya Hachibara san?." Tanya salah satu dari mereka di belakang Yuki dan Yuki tebak itu suara dari laki-laki dengan model rambut nyentrik.


"Hm." Jawab Yuki tanpa membalikan badannya.


"Apakah pemandangan itu lebih menarik dari pada kita?." Tanya laki-laki teladan.


"Hm." Jawab Yuki lagi.


"Baiklah kami akan menunggumu." Ucap laki-laki rambut nyentrik. Mereka tidak boleh menungguku, batin Yuki perlahan membalikan badannya.


"Aku kira kamu masih ingin menikmati pemandangannya." Ujar laki-laki rambut nyentrik yang dijawab gelengan kecil oleh Yuki.


"Baiklah, jadi kita mulai saja." Laki-laki rambut nyentrik menatap laki-laki teladan memberi aba-aba.


Alam bawah sadar Yuki segera bersiaga.