
Yuki melempar ujung tongkat ke tanah, kakinya melompat ke udara melewati pertempuran di bawah kakinya. Sebuah bola melambung di atas atap rumah kaca yang berlubang karena ulah Yuki beberapa menit yang lalu. Tangannya melempar bola miliknya seraya menekan tombol tongkat membuat tongkat kembali ke ukuran semula. Tubuh yang masih melayang di udara, Yuki mengambil pistolnya yang tersemat di samping pahanya membidik bola.
DAR!.
DAR!.
Yuki mendarat di belakang pelindung yang hendak menembak anak buah Youtaro.
Srek!.
DOR!.
Tembakan meleset, Yuki mengubah arah tembakan ke atas. Pelindung yang terkejut segera menyikut perut Yuki.
Set!.
Pak!.
Gadis itu menahannya dengan tangan. Dua pelindung yang Yuki lewati sudah mengepung dirinya.
Oh tidak, batin Yuki.
Satu pukulan dari sebelah kanan, tendangan memutar dari bawah, Yuki memundurkan wajahnya menghindari pukulan.
PAK!.
Tangannya mencengkeram lengan itu, kakinya terangkat menendang keras punggung pelindung di depannya sedikit membuat pijakan untuk memutar tubuhnya menghindari tendangan dari bawah. Pelindung yang menyadari bahwa tangannya digunakan sebagai pegangan musuh segera menariknya. Terlambat. Yuki sudah menekan tombol tongkatnya, memposisikan tongkat agak miring tepat ke arah pelindung sebelah kanan dan kiri yang masih berada di bawah.
Zwoooossshhh.
Hap!.
Kedua pelindung itu berusaha menghindar, Yuki mendarat dengan mulus. Pelindung di depannya yang terjerembab ke depan segera memutar tubuhnya melepaskan tembakan ke arah dada Yuki.
DOR!.
Yuki melepaskan pegangannya pada tongkat melakukan sleding kayang dengan satu kaki tertekuk ke dalam, melihat dengan jelas langit malam dan sebuah peluru lewat di atas kepalanya, lensa miliknya membantu ia melihat benda bergerak dengan kecepatan tinggi, dan akurasi yang tepat meski dalam jarak jauh sekalipun. Ia memutar pinggangnya ke dalam, posisinya menjadi telungkup menghadap ke tanah.
Hap!.
Tangannya menangkap tongkat sebelum jatuh lalu memutar tongkat dengan cepat di atas punggungnya, membuat ketiga pelindung yang hendak merangsek menyerang Yuki melangkah mundur menghindari sabetan dari tongkat. Di saat Yuki memutar tubuh seraya berdiri sebuah pemandangan tertangkap oleh maniknya, membuat amarah langsung menjalar di setiap pembuluh darahnya.
Kurang aj*r !!!, seru Yuki dalam hati.
Tangannya yang bebas mengeluarkan pistol, mengangkatnya ke depan.
Anak buah Youtaro dalam keadaan sekarat merangkak mendekati tubuh Will yang tergeletak tak bergerak, tangannya meraih pisau anak itu mengangkatnya tinggi-tinggi. Kebencian terpancar dari maniknya, sudut bibirnya terangkat menyeringai puas.
"Mati KAU!." Tangannya mengayun ke bawah dengan kuat.
DOR!.
ZEB!.
"Argh!."
"Aku tidak akan melepaskanmu brengs*k!. Bahkan jika tanganku terluka sekalipun!." Seru anak buah Youtaro masih berusaha menusuk jantung Will dengan tangan gemetarnya.
Yuki memutar cepat dan lebar tongkatnya menyingkirkan ketiga pelindung. Anak buah Youtaro yang berada di dekat Yuki yang sempat melihat temannya telah di selamatkan oleh gadis itu berusaha mengalihkan perhatian para pelindung dari Yuki. Namun tidak semua anak buah Youtaro mengerti situasi dan hasil pembicaraan Yuki dan Youtaro, meskipun sudah ada yang memahaminya pun banyak yang menentang keputusan itu dan berusaha menyerang para pelindung yang tergeletak tak berdaya.
Yuki marah, ketiga pelindung yang tak sadarkan diri masing-masing sedang di kerumuni oleh dua orang anak buah Youtaro. Yuki melempar ke atas sebuah kubus mirip dengan rubik berwarna hitam yang memiliki simbol-simbol aneh di setiap kotaknya. Lalu menghempaskan satu tangan melempar tali-tali yang keluar dari cincin hitam di jari-jarinya.
Swwiiiiizzzz ... Sreeeekkkk ... Grek!. Syuuuuttzz !.
GREP!.
Yuki mengepalkan tangannya. Anak-anak buah Youtaro sangat terkejut, tiba-tiba saja sebuah tali hitam tidak! itu bukan sebuah tali melainkan kawat hitam yang sangat kokoh dan tipis melilit leher mereka.
Syuuttzz.
"OUGH!." Kawat itu tertarik ke belakang mencekik mereka.
"Uhuk!. Uhuk!." Manik mereka bergetar, tangan mereka berusaha melepas kawat namun nihil.
Akhirnya mereka berusaha untuk tidak melawan dan mengikuti arah tarikan agar mereka tidak semakin tercekik.
Salah satu pelindung menerjang Yuki dari belakang. Tidak di sangka oleh si pelindung, Yuki menggeser tubuhnya ke samping dan memutar tubuhnya menghadap si pelindung seraya melepaskan tendangan kuat mengenai perut pelindung itu hingga terlempar ke belakang. Yuki sedikit menghentakkan tangannya memberikan tarikan kejutan pada kawat memberikan cekikan tiba-tiba.
"Cubes ON!." Geram Yuki.
SSZZZWWIIIIIIZZZZSSSSTTT ...
Kubus melayang itu berputar cepat lalu mengeluarkan suara dentuman keras.
JDAARR!!!.
Sinar hijau keluar dari setiap kotak kubus, saling menyilang membuat jaring, memperangkap seluruh halaman kastil. Yuki menatap tajam rumah kaca di sebrang sana, tatapannya menembus para pelindung dan anak buah Youtaro.
Suara serak, berat, dan kasar itu menggema seakan-akan di dalam tenggorokan Yuki terdapat sebuah speaker besar padahal sinar hijau dari kubus itulah yang menyalurkan suaranya.
"Sudah aku katakan jangan membunuh mereka. Apa anda tidak bisa mengendalikan anak buah anda Youtaro Taiki san?!." Geram Yuki dengan nada super dinginnya.
Di dalam rumah kaca itu Youtaro terkejut, ia langsung melempar tatapan tajam kepada anak buah/tangan kanannya.
"Siapa yang berani melakukan itu?!." Ucapnya tajam.
"Tuan, sepertinya masih ada yang belum bisa menerima keputusan anda." Jawab tangan kanan Youtaro.
"Apa kalian buta dan tuli?!. Nona itu memberikan penawarnya dan menyuruh kalian mundur dari pertarungan untuk menyelamatkan kita! tapi apa yang barusan kamu katakan, hah?!."
"Maaf tuan, saya akan pergi keluar untuk mengurusnya." Ucap tangan kanan Youtaro seraya membungkuk dalam.
"Jangan rusak perjanjian damai ini. Atau kita yang akan hancur." Ucapnya mendongak ke atas melihat sinar-sinar hijau yang saling menyilang. Memercikan listrik.
"Baik tuan."
Orang-orang di tengah pertempuran terdiam kaku. Apa yang sedang mereka lihat sekarang?, sinar apa itu?, siapa wanita bertopeng yang memiliki alat-alat aneh?. Wanita itu berdiri tegap mencengkeram tali di tangannya menjerat leher anak-anak buah Youtaro di belakang sana.
"Apa anda ingin merusak niat baik saya Youtaro san?. Apakah anda mengira saya sedang bermain-main?." Yuki melirik ke samping, dua pelindung sedang berlari ke arahnya. Ia menghempaskan tangannya yang lain ke arah mereka.
Swwiiiiizzzz ... Sreeeekkkk ... Grek!. Syuuuuttzz !.
"Argh!."
"Ough!."
Kawat melilit tubuh mereka, Yuki menarik kawat itu mempererat lilitannya.
"Diam!." Geram Yuki.
Suara itu bagaikan sihir mutlak, tidak ada yang berani bergerak sedikit pun.
"Youtaro san. Ini kesempatan terakhir anda, saya berikan waktu tiga detik, jika tidak ada niat baik dari anda saya akan menghancurkan tempat ini." Tegas Yuki.
"Satu." Gadis itu mulai menghitung.
"Dua." Yuki mengangkat tangannya ke atas membuat kedua pelindung tertarik ke depan.
Kubus itu bergetar kecil merespon jari-jari Yuki. Inilah alat terakhir yang Yuki buat sebagai tokoh utama malam ini. Seseorang merangsek dengan langkah tertatih ke depan. Berlutut menatap wajah topeng spider itu.
"Ampuni anak buah bodoh kami nona!." Jeritnya. Yuki melirik ke bawah, ke sebrang sana.
"Apa jawaban pemimpinmu?." Suara dingin itu menggema menusuk tulang-tulang mereka.
"Pemimpin kami tidak berniat merusak perjanjian damai antar klan!. Anak buah kami masih ada yang belum mengetahui keputusan perjanjian damai ini nona!. Maafkan kami!." Jeritnya takut-takut. Pasalnya suara gemerisik aliran listrik di atas sana semakin keras terdengar, bisa kapan saja menyambar mereka.
"Jangan bermain-main denganku." Gertak Yuki.
Spontan para anak buah Youtaro jatuh berlutut menghadap Yuki tidak terkecuali ke enam anak buah yang lehernya terjerat kawat Yuki. Melihat itu, tangan kanan Youtaro menghembuskan nafas lega. Rekan-rekannya mendengar dan mengerti pembicaraan mereka.
"Tidak ada keraguan pada keputusan pemimpin kami!." Serunya. Yuki menurunkan tangannya, seketika kubus kembali tenang, sinar hijau pun tidak mengeluarkan percikan-percikan listrik lagi.
"Apa maksudmu membawa-bawa nama klan kami heh!?." Yuki melirik ke belakang, melihat seorang pelindung mencabut katananya.
Zuuuttt ...
Yuki menggoyangkan tangannya ke atas melepas kawat yang melilit leher anak buah Youtaro.
"Perjanjian damai?. Siapa yang kau maksud?!. Kami?!. Jangan bermimpi!." Serunya hendak melempar sebuah bola ke arah Yuki. Gadis itu pun melakukan hal yang sama.
Kedua bola saling berbenturan mengepulkan asap berbeda warna. Pelindung itu mengayunkan katananya hendak menebas leher salah satu anak buah Youtaro.
"Berani membunuh mereka. Aku akan melumpuhkanmu." Ayunan itu tiba-tiba berhenti di udara.
"Hahaha, apa kau kira aku akan takut dengan alat anehmu itu?. Damai?!. Siapa kau berani mengatas namakan klan kami!." Pelindung itu mengayunkan katananya lebih kuat. Yuki menggerakkan telunjuknya melakukan gerakkan simbol pada kubus.
Swiiiinngg.
DER!.
Sinar hijau dari atas tiba-tiba terjatuh berayun seperti pecut memukul keras lengan si pelindung hingga menjerit kesakitan.
"Aaaaarrrgggghhh!!! ..." Semua orang menelan salivanya kasar.
Jauh di lima ratus meter dari kastil para bayangan bergerak gelisah. Mereka saling berdebat untuk membawa Yuki pergi dari sana atau tetap membiarkannya. Mereka sangat was-was melihat alat-alat yang di keluarkan nona mudanya.
"Pertempuran malam ini berakhir. Kembali dan katakan kepada semua orang, perjanjian damai antara kedua klan sudah di sepakati. Dilarang menyerang atau melakukan balas dendam." Jelas Yuki menoleh ke sebrang jauh di dekat rumah kaca. Kepada seorang pelindung yang berdiri diam dan memperhatikannya sejak tadi, menatap maniknya di balik kacamata tebal.
"Lindungi Youtaro san dan bawa beliau ke dalam kastil. Sekarang." Geram Yuki.
Anak-anak buah Youtaro bergegas menjemput pemimpin mereka dan melindunginya dari para pelindung, berjalan cepat memasuki kastil. Menyisakan delapan pelindung dan Yuki.
Keheningan menyakitkan menyelimuti halaman kastil luas itu. Tidak ada yang bergerak, untuk menarik nafas pun terasa berat. Langkah mantap dan terasa berat itu perlahan maju ke depan. Tangannya terulur ingin meraih seseorang jauh di sana. Yuki menggoyangkan tangannya melepas kawat pada tubuh kedua pelindung.
"Pergi dari sini. Jika ada yang melanggar perjanjian aku akan memberikan pelajaran kepada kalian." Ancam Yuki.
Seakan tuli dengan suara menggema itu, pelindung yang sejak tadi berusaha melangkahkan kakinya ke depan berubah lebih cepat dan suara langkah lari itu pun menggema dalam keheningan.
Yuki menatap tajam pelindung yang hendak menyerangnya.
Gadis itu mengeluarkan pistol jarum mengarahkannya ke kepala pelindung itu. Tangannya yang lain teracung ke atas.
"Cubes off." Lirihnya.
Zzzuuuuuuttt.
Sinar hijau tertarik kembali ke dalam kubus. Maniknya tak lepas dari pelindung yang kini sudah mengeluarkan katananya.
"Kembali." Titah Yuki.
Syyhhuuuuttt.
Kubus turun ke bawah jatuh ke telapak tangan Yuki yang terangkat. Gadis itu langsung mengamankan kubus mengeluarkan tongkat. Jarinya menarik pelatuk melepaskan tembakan. Pistol jarum adalah sebuah pistol peredam suara.
KRANG!.
Jarum kecilnya ditangkis dengan bilah katana, pelindung itu memiliki mata yang sangat tajam. Yuki melepaskan tiga tembakan sekaligus, namun dengan mudah ditangkis oleh pelindung itu.
Ini sangat merepotkan, batin Yuki.
Akhirnya ia memutuskan untuk melawan pelindung itu. Toh sepertinya pelindung lain masih tak bergerak dari tempatnya. Yuki berkonsentrasi dengan kakinya, menarik nafas sebentar.
GO!, serunya dalam hati.
SRAK!.
Kakinya melompat ke depan, langkah ringan bagaikan kaki cheetah mengambang saat berlari, tanpa suara, mengayunkan tongkatnya kembali menjadi pendek digantikan dengan sebuah pisau tajam.
"Kita harus segera menolong ojou sama!." Teriak Ame khawatir.
"Tidak!. Itu sama saja menunjukkan keberadaan kita." Tolak tegas Mizutani.
"Aku akan menjemput ojou chan dari atas dinding kastil. Seharusnya itu tidak masalah kan?." Ujar Dazai melirik Mizutani.
"Lakukan dengan cepat." Titah Mizutani. Dazai mengangguk sekilas lalu berlari cepat.
"Mereka adalah pelindung tingkat atas, ojou sama tidak bisa melawan satu lawan satu dengan mereka, jenis bela dirinya sangat berbeda." Gerutu Ame, jiwanya sebagai seorang ibu sangat mengkhawatirkan Yuki.
"Ame chan, ojou sama kita sangatlah kuat. Tidak perlu khawatir." Balas Akashi menenangkan ibu satu anak itu.
"Semoga saja." Balas Ame. Yang lain masih mengamati dengan teropong di tangan mereka.
Pelindung yang sudah bersiap menghadapi Yuki ternyata masih kurang siap dengan kenyataan di hadapannya. Wanita yang berada di jarak dua meter di depannya tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan wajahnya.
Gerakkan satu tangannya sangat halus dan mematikan, menusuk setiap rusuk tangan kanannya hingga katana jatuh ke tanah. Pelindung itu sampai tidak sadar jika pisau wanita itu sudah merusak masker dan melontarkan kacamata miliknya hingga terlempar.
Tang!.
TOK. TOK.
Dua totokan di kedua kakinya membuat ia lumpuh seketika.
Bruk.
Tangan kanannya pun tidak bisa di gerakkan.
"Kamu masih hidup?." Yuki melebarkan matanya bergerak mundur dengan cepat.
Yuki kecolongan, pelindung lain ternyata sudah berdiri di belakang pelindung yang menyerangnya, ia tidak sempat merasakan keberadaan pelindung itu. Yuki melirik ke bawah. Tidak ada jejak kaki, pelindung itu bergerak seperti para bayangan.
"Yuukiii ..." Lirih suara itu.
Maniknya melebar penuh, jantungnya berdegup sangat kencang. DUG DUG!, DUG DUG!, DUG DUG!. Yuki mendongak ke atas. Tangan besar itu melepas kacamata memperlihatkan manik coklat terangnya.
Hotaru, lirih Yuki dalam hati.
Kaki Yuki lemas, isi kepalanya tiba-tiba kosong. Orang itu melangkah maju berusaha mengikis jarak diantara mereka.
"Yuukii ..." Suara itu bergetar, manik Yuki menangkap cairan bening yang mulai turun dari manik coklat terangnya.
Tanpa di perintahkan oleh otaknya, tangan Yuki bergerak mengambil tongkat dari samping ransel, mengacungkannya ke depan. Ibu jarinya menekan tombol.
Tak.
Zuuuuutttss.
Hotaru terkejut!, tubuhnya bergerak mundur dengan cepat menghindari pukulan ujung tongkat. Maniknya bergetar menatap sepasang bulatan putih topeng spider itu.
"Kamu tidak mengenaliku?." Tanyanya lirih seraya melepas topeng yang menutup mulut sampai ke pangkal hidungnya.
"Ini aku." Kalimat Hotaru terpotong oleh sabetan cepat tongkat itu membuatnya membungkuk menghindar.
Yuki menerjang ke depan dengan tongkat di tangannya. Melihat itu beberapa pelindung hendak merangsek membantu Hotaru mengingat wanita misterius itu memiliki benda-benda aneh.
Hotaru mengangkat tangannya ke samping, kode agar tidak ada yang mendekat.
ZUB!.
Tongkat berubah pendek. Yuki menerjang ke depan. Pertarungan jarak pendek pun terjadi, Hotaru selalu menghindar tanpa berniat membalas, ia berusaha mengimbangi kecepatan Yuki agar tidak mendaratkan pukulan atau tendangan mengenai tubuhnya.
Kkkrrrssskkkk.
"Dazai, kamu mendengarku?." Suara Mizutani tertangkap oleh telinga Dazai dari alat yang tersemat di telinganya.
"Ya."
"Pergantian rencana. Ambil ojou san dan bawa pergi dari sana." Titah Mizutani yang melihat pertarungan Yuki dan Hotaru.
"Kenapa tiba-tiba?." Tanya Dazai terkejut, bukankah beberapa menit lalu Mizutani menolak tegas rencana itu.
"Ojou san sedang melawan pelindung tingkat akhir. Bukan!, ojou san sedang melawan pewaris klan."
DEG!.
Dazai spontan menghentikan laju larinya.
"Jangan bercanda." Protes Dazai.
"Tidak ada waktu untuk bercanda. Cepat bawa ojou san pergi dari sana." Tegas Mizutani.
"Aku mengerti." Jawab Dazai.
Ayunan kaki Dazai semakin cepat melewati setiap pepohonan dan bebatuan di depannya, manik itu tertuju pada tembok tinggi kastil.
Sekali sentakkan tangan besar itu menangkap kedua lengan Yuki menguncinya di samping tubuh gadis itu. Hotaru menatap ke bawah.
"Yuki, aku tahu itu kamu. Bisakah," kaki ramping itu menendang ke atas mengincar dagu Hotaru.
Sret.
Hotaru tepat waktu menghindari tendangan mematikan Yuki namun, ia salah mengambil keputusan. Karena membuat Hotaru menghindar adalah tujuan Yuki. Gadis itu mengalungkan tangannya yang di cekal menyilang di leher Hotaru, jadilah ia mencekik saudara kembarnya namun Hotaru yang memahami posisi tangannya dan tangan Yuki segera melepas cekalannya. Lagi-lagi itu adalah rencana Yuki, saat tangannya terlepas kedua tangannya menjadi sangat dekat dengan leher Hotaru, Yuki mengurai cepat tangannya seraya mendaratkan dua totokan di leher Hotaru.
Tok. Tok.
Sret.
Tepat saat Yuki menotok Hotaru, Hotaru pun menarik cepat topeng Yuki.
Rambut sebawah bahunya terurai jatuh, manik hitam-merah menatap lurus manik coklat terang Hotaru. Wajah asing berada tepat di bawah pandangannya.
"Bohong. Aku tahu itu kamu!." Geram Hotaru.
"Jawab aku. Jangan seperti ini." Hotaru meneteskan air matanya, lagi.
"Lepaskan aku. Biarkan aku memastikan itu kamu." Isakkan mulai terdengar, menyayat kedua hati itu.
"Omong kosong apa yang kau katakan." Suara serak, berat, dan kasar itu sejak tadi mengganggu pendengaran Hotaru. Ia tidak menyukainya.
"Ingat. Perjanjian damai ini mutlak." Ucap Yuki dingin.
Hotaru berusaha melepas totokan Yuki dengan aliran chi di dalam tubuhnya. Ia ingin merengkuh tubuh adiknya dan, tidak akan pernah ia lepaskan lagi!.
Wush!.
Manik hitam-merah itu melebar kala merasakan kehadiran seseorang yang sangat tiba-tiba tepat di belakang tubuhnya. Sebuah tangan melingkar di pinggang Yuki membuat wajah Hotaru merah padam menahan gejolak amarah.
Wajah berbalut topeng navy gelap mendekati telinga Yuki, menempel di sana. Sebuah suara yang sangat Yuki kenal mengalun pelan di telinganya.
"Keadaan berubah buruk, kita harus cepat pergi dari sini." Manik ODD (warna bola mata berbeda antara sebelah kanan dan sebelah kiri) hitam-merahnya menutup sebentar.
"Jauhkan!. Wajahmu, darinya!." Geraman berat suara dari dalam dada Hotaru membuat Dazai dan Yuki terdiam sesaat.
"Jauhkan!. Atau aku akan membunuhmu!." Dada Hotaru naik turun menahan emosi yang sudah meluap.
Yuki terkejut, totokkannya tidak akan bertahan lama. Ia membalikan badan menghadap Dazai mengalungkan tangannya di leher pria itu, membisikan sesuatu.
"Kamu datang tepat waktu. Aku hampir tidak bisa mempertahankan kakiku." Dazai langsung mengangkat tubuh Yuki, melirik manik Hotaru yang menatapnya tajam.
Tubuh Dazai seketika terasa kaku, ia merasa sedang dikuliti hidup-hidup sekarang. Bisikan dari Yuki membebaskannya dari jeratan Hotaru.
"Dai chan ... Bawa aku pergi."
DEG!.
WHUUUUSSSSHHHH.
Hotaru berteriak dan memberontak dari totokan Yuki. Melihat saudari kembarnya yang sudah bertahun-tahun ini ia cemaskan di bawa pergi begitu saja oleh orang lain membuatnya sangat murka.
"YYYUUUUKKKIIIII !!!!."
BRAK!.
Totokan itu terlepas.
"KEJAAARRR !!!." Titahnya.
Serempak para pelindung bergerak mengejar kedua orang itu, begitu juga Hotaru. Tidak ada jejak maupun suara yang tertinggal bagaimana mereka bisa mengejar kedua orang itu?.