
Nana mengetuk pintu dua kali lalu masuk lebih dulu membiarkan Yuki di belakangnya mengikuti.
"Permisi teman-teman minta perhatiannya sebentar." Suara Nana mengintrupsi penghuni loker ganti manajer.
Yuki melirik sekelilingnya dengan cepat lalu menatap lurus ke depan. Ruang loker ganti itu terlihat sangat sederhana, enam loker tinggi berjajar dan satu kursi panjang tergeletak di depan loker.
Yuki melihat ada dua siswi sedang sibuk dengan loker masing-masing dan satu siswi sedang duduk di kursi panjang menali sepatunya. Mereka semua melebarkan matanya menatap Yuki, bahkan siswi yang duduk langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Kita punya anggota baru, kalian pasti sudah tahu siapa dia." Lanjut Nana menoleh kepada Yuki seraya tersenyum kepadanya.
"Hachibara Yuki, salam kenal." Ucap Yuki sopan.
"Aku tidak menyangka." Celetuk salah satu yang berdiri di depan loker.
"Jika dilihat dari dekat seperti ini dia terlihat sangat tidak nyata." Sambung siswi yang lain.
"Kalian tidak sopan, perkenalkan nama kalian masing-masing." Tegur Nana.
"Ouh maaf. Aku Hanami kelas 2-6, salam kenal." Siswi berambut pendek yang di kucir dua itu membungkukkan tubuhnya sekilas.
"Aku Akiko kelas 2-5, salam kenal. Kelas kita terpisah tangga jadi mungkin kamu tidak pernah melihat kami." Jelas Akiko, gadis beralis tebal dengan t*hi lalat kecil di bawah matanya.
Yuki mengulum senyum kecil menjawab pernyataan Akiko.
"Mmm, ak aku ..." Suara gumaman menarik perhatian semua orang.
Gadis manis dengan poni depan dan rambut yang di ikat rapih itu mencoba berdiri dengan gerakkan kaku.
"Sakura desu, 1-1. Sa salam kenal senpai!." Serunya di akhiri seraya membungkuk cepat.
"Hai hai (Ya ya) Sakura chan, kamu boleh berdiri." Ucap Nana mengibas-ngibaskan tangannya.
"Karena Hachibara san masih awam soal baseball tolong kalian bantu dia untuk menyesuaikan diri." Mereka bertiga mengangguk paham.
"Kalau kalian sudah selesai, tolong segera persiapkan semuanya, aku akan menemani Hachibara san mengganti baju." Pinta Nana.
"Baik, ayo Sakura." Ajak Hanami keluar di ikuti oleh Akiko dan Sakura di paling belakang.
Setelah pintu kembali menutup Nana menghampiri loker kosong di paling ujung dekat tembok.
"Ini lokermu, didalam sudah ada satu set kaos dan satu set jaket jersey dan celananya. Kamu boleh memakai diantara keduanya." Jelas Nana memberikan ruang untuk Yuki. Gadis itu berdiri menghadap pintu membiarkan Yuki nyaman mengganti baju.
"Seragam jersey manajer dan seragam jersey pemain berbeda." Imbuh Nana.
Yuki memilih kaos pendek dan celana pendek selutut sama seperti yang manajer lain pakai, Yuki melirik sekilas ke arah Nana memastikan gadis itu tidak melihat ke arahnya setelah di rasa aman Yuki melepas seragamnya.
Ceklek.
Suara pintu loker tertutup, Yuki berjalan menghampiri Nana.
"Sudah." Nana memastikan dengan menoleh ke arah Yuki.
Gadis ini memang sangat cantik memakai apa pun, seperti rumor yang beredar, batin Nana.
"Ayo kita ke lapangan in door." Yuki tidak bertanya lebih jauh ia hanya mengangguk dan mengikuti seniornya.
Yuki tidak tahu kalau di belakang kantin klub baseball ada dua ruangan besar, yang satu adalah lapangan in door untuk latihan para pitcher melempar dan para pemukul, satunya lagi adalah sebuah gym dengan peralatan lengkap.
Yuki mengakui betapa sekolahnya sangat kaya, klub baseball saja diberikan fasilitas seperti ini bagaimana dengan klub lain.
Yuki dan Nana masuk ke dalam lapangan yang sudah ada para manajer dan para pemain berbaris rapih. Para pemain menghadap ke depan di samping pintu masuk dan para manajer berbaris di depan para pemain namun di pinggir barisan, membelakangi pintu.
Yuki memilih berdiri di samping Nana di paling ujung terjauh dari barisan para pemain membuat sosoknya hanya terlihat oleh pemain yang berbaris di barisan paling depan. Karena para manajer berbaris dalam satu barisan membuat para pemain tidak merasa ada yang aneh.
Suara langkah kaki berat dan mantap terdengar dari arah pintu, Mizutani dan Suzune berdiri di depan para pemain, tiga detik kemudian suara Hajime yang tenang dan berat itu tiba-tiba terdengar keras dan tegas memberi aba-aba anggotanya.
"Siap! beri salam!." Seru Hajime. Mereka serempak menunduk sopan kepada Mizutani begitu juga para manajer, Yuki buru-buru mengikuti.
"Selamat siang, pelatih!." Jerit mereka membuat Yuki merinding. Dua detik kemudian mereka kembali ke posisi sempurna, Yuki hanya mengamati dan mengikuti.
Apa ini militer, batin Yuki. Para pemain dengan tubuh tinggi besar berbaris rapi dan seragam putih lengkap dengan topi membuat mereka terlihat siap berperang.
"Hari ini akan ada latihan simulasi pertandingan di lapangan A, setelah selesai kalian berlatih di posisi masing-masing." Kata Mizutani.
"Baik!." Jawab mereka serempak, lagi-lagi membuat Yuki merinding.
"Suzune san, jadwal latih tanding kita masih ada berapa?." Tanya Mizutani.
"Masih sepuluh kali lagi, besok tim A akan bertanding di sekolah lain sedangkan tim B tetap bertanding di sekolah." Jelas Suzune.
"Kita kumpulkan pengalaman latih tanding ini sebanyak-banyaknya, pada latih tanding ini juga menguji kemampuan kalian, tantang diri kalian sendiri untuk berkembang, tunjukan kepada mereka permainan baseball kalian."
Pidoto panjang Mizutani sepertinya membakar semangat para pemain yang terlihat dari sorot mata mereka, tidak hanya pemain para manajer pun melakukan hal yang sama bahkan gadis-gadis itu tersenyum.
"Dan satu lagi." Tambah Mizutani. Argh, aku benci ini, batin Yuki.
"Tim memiliki manajer baru," Mizutani menoleh melirik Yuki. Keheningan aneh yang menyebalkan, sama seperti saat Yuki pertama kali diperkenalkan ke para pemilik saham di perusahaan. Dengan santai Yuki maju satu langkah lebar ke depan.
Sang dewi !, jerit para pemain dalam hati.
"Hachibara Yuki, mohon kerjasamanya." Yuki menunduk singkat.
"Senpai!, selamat datang di klub baseball !!." Seru seseorang yang Yuki kenal.
Yuki melirik ke barisan pemain, Inuzuka yang tubuhnya tertutup para pemain barisan depan memiringkan setengah tubuhnya melambai-lambai ke arah Yuki. Tentu hal itu membuat Yuki dengan mudah mengetahui keberadaan juniornya. Ia tersenyum kecil, tingkah Inuzuka selalu membuat Yuki ingin tersenyum.
Itu sang dewi!, dia benar-benar seorang dewi!, batin orang-orang yang melihat Yuki. Yuki kembali ke barisannya.
"Baik kita mulai latihannya sekarang." Kata Mizutani dengan tegas.
"Baik!."
Para pemain berjalan menuju lapangan luar dengan teratur sedangkan Mizutani, Suzune, dan para manajer menunggu mereka. Yuki tidak sadar sejak tadi ada orang yang mengamati ekspresinya.
Hajime melirik Yuki saat ia berjalan keluar, ia melihat Yuki tersenyum walaupun sangat tipis tapi gadis itu sudah mulai tersenyum lagi. Sejak tadi pun Yuki tidak pernah melirik kemana-mana gadis itu terlihat datar bagaikan patung yang terpahat dengan indah.
Setelah semua pemain keluar Mizutani dan Suzune baru keluar di susul para manajer di belakangnya.
"Sakura chan bisa ambilkan es batu di kantin sekalian ajarkan Hachibara san mengisi es." Pinta Nana di pertengahan jalan.
"Baik senpai." Jawab Sakura cepat.
Tiba-tiba suasana menjadi canggung, Nana dan yang lain sudah pergi mengurus tugas mereka masing-masing. Sakura berjalan kaku di sebelah Yuki, gadis itu membawa dua ember di tangannya Yuki berinisiatif membantu, meraih ember terdekat darinya. Sakura yang merasakan embernya tertarik pelan sangat terkejut.
"Eh!." Teriaknya.
"Biar aku bantu." Ucap Yuki, gadis itu bergerak semakin kaku.
"Kamu tidak nyaman berada di sampingku?." Tanya Yuki sedikit memberi jarak.
"Bu buk bukan seperti itu." Elak Sakura.
"Ak aku hanya, tidak percaya bisa sedekat ini dengan orang yang aku kagumi." Penuturan Sakura membuat Yuki mengangkat satu alisnya.
"Aku masih normal." Sergah cepat Yuki membuat Sakura menatapnya semakin salah tingkah.
"A ak aku juga, aku juga ..!, masih normal. Aku suka sama laki-laki." Jelas Sakura, wajahnya berubah pucat. Yuki masih diam, ia ragu. Meliihat Yuki tidak meresponnya Sakura langsung diam dan mengangguk-anggukkan kepalanya mantap.
Waaah .., sudah Hazuki yang gila sekarang ada gadis jadi-jadian, batin Yuki.
"Ung." Jawab Yuki pada akhirnya membuat Sakura merasa lega.
"Bukannya kamu yang mencatat skor pertandingan di tim B dua hari yang lalu?." Yuki mulai ingat dengan gadis yang memberikannya air minum.
"Senpai ingat ..?." Sakura menatap Yuki dengan wajah berseri.
"Ung."
"Senpai benar, aku yang memberikan senpai minum." Sakura menjawab Yuki seraya melanjutkan perjalanan mereka.
"Aku tidak sengaja melihat senpai menonton pertandingan senior dan junior dari pinggir lapangan, senpai terlihat manis sekali seperti model remaja membuatku sedikit iri. Tapi, aku bertambah kagum saat senpai berdiri di lapangan dengan glove (sarung tangan), topi, dan seragam baseball terlihat sangat keren. Apa lagi saat senpai melakukan lemparan-lemparan yang menakjubkan membuatku memutuskan bahwa senpai adalah idolaku." Sakura menjelaskan dengan senyum-senyum, Yuki melirik sedikit ke samping.
Baiklah, sekarang bertambah satu lagi wanita an*h, dia lebih banyak bicara dari pada Hazuki, batin Yuki menarik nafas berat.
Sakura membuka pintu kantin, ini pertama kalinya Yuki memasuki kantin yang ternyata tidak kalah besar dengan ruangan-ruangan yang lain. Banyak kursi dan meja berjejer rapi, Sakura berjalan menuju freezer besar di pinggir ruangan. Yuki melihat Sakura mengambil es batu kotak-kotak itu dengan sendok besar Yuki mengikuti, ia mengisi embernya dengan es batu.
"Apa ini sudah cukup?." Tanya Yuki mengangkat embernya.
"Ya."
"Kita bawa kemana es batu ini?." Tanya Yuki.
"Ke lapangan, di bangku cadangan tersedia kotak pendingin (cooler box) untuk menaruh botol-botol minum para pemain, agar minuman mereka terus dingin kotak harus di isi dengan es batu." Jelas Sakura.
Hening.
Yuki sedang tidak ingin banyak bicara, ia enggan memancing Sakura untuk membuka mulut karena pastinya nanti akan terasa panjang dan lama.
Mereka sudah sampai di lapangan, Sakura dan Yuki berjalan menuju bangku cadangan memasukkan es batu mereka ke kotak pendingin berukuran sedang. Yuki melirik ke arah tengah lapangan, para pemain sangat bersemangat dengan latihan mereka. Seperti biasa suara teriakan para pemain terus bersahutan membuat Yuki sedikit pening.
Ya ampuun .., ramainya melebihi ibu-ibu yang lagi nawar di pasar, batin Yuki.
"Sekarang kita membantu yang lain merapihkan ruang peralatan." Ajak Sakura, Yuki mengangguk kecil.
Dan Yuki terjebak di ruang peralatan dengan Sakura dan Hanami membersihkan ruangan itu menata kembali setiap barang-barang. Dengan kaku Yuki meniru apa yang di lakukan dua menejer lainnya, mengelap, mengangkat, menata, menyapu, 4M. Hanami keluar untuk mengecek lapangan, tidak lama kemudian ia kembali lagi.
"Sepertinya sebentar lagi mereka istirahat, ayo ke lapangan." Sakura langsung meletakan pemukul yang sedang ia lap menyimpannya kembali dan beranjak keluar ruangan peralatan.
Kalau mereka istirahat memang kenapa?. Tinggal istirahat, toh botol airnya sudah di siapkan di sana, gerutu Yuki dalam hati.
"Senpai, ayo." Terdengar suara Sakura dari luar, Yuki dengan malas beranjak dari posisinya menghampiri dua orang itu.
Sebelum ke lapangan mereka mencuci tangan lebih dulu, banyak debu dan noda kotor yang menempel. Saat sampai di lapangan Yuki melihat bagaimana cara Kudo mempraktekan teori yang laki-laki itu jelaskan kepada Yuki di kelas.
Catcher memancing pelari untuk mencuri base dan tiba-tiba ia melemparkan bola dengan cepat ke penjaga base yang di incar si pelari. Yuki menaikan satu alisnya, gerakkan yang dilakukan Kudo sangat tangkas lemparannya juga keras, ia bisa melempar dari ujung lapangan (base home) ke base dua yang jaraknya 38,8 m.
Apa lengannya baik-baik saja, apa aku bisa melakukannya juga?, batin Yuki.
"Kudo kun memiliki bahu yang kuat, dia adalah catcher yang mendapatkan sorotan dunia perbaseballan sma sejak kelas satu. Bahkan banyak majalah yang meliputnya." Penjelasan Hanami yang tiba-tiba membuat Yuki menoleh ke samping.
"Akhirnya muncul seorang catcher jenius di abad ini, Kudo Kotaro dari sma oukami. Itu salah satu judul artikelnya di majalah sport." Lanjut Hanami.
Hmm .., kenapa dia menjelaskannya kepadaku, catcher jenius abad ini heh, batin Yuki.
"Perlawananmu kemarin sangat hebat, pukulan homerunmu juga." Sesuatu terbersit di kepala Yuki.
"Apa berita pertandingan kemarin sudah tersebar?." Tanya Yuki, gawat jika itu terjadi, hidupnya pasti tambah ribet, pikir Yuki.
"Tidak, hanya anak-anak baseball yang tahu, dan kami menjaga rahasia ini dengan sangat baik."
Syukurlah, batin Yuki.
"Ayo." Hanami berjalan ke bangku cadangan Yuki dan Sakura mengikuti dari belakang.
"Saat nanti para pemain beristirahat kita berikan mereka botol minum dan handuk, kita juga harus melihat sekeliling kalau ada yang belum mendapatkan handuk atau botol kita segera memberikannya." Kata Hanami seraya membuka kotak pendingin.
Hari-hariku menjadi pelayan mereka sudah di mulai, batin Yuki sinis.
"Kenapa mereka tidak mengambilnya sendiri." Ucap Yuki datar, Sakura terkejut di sebelah Yuki.
"Itu salah satu tugas kita untuk membantu dan mensuport para pemain." Jelas Hanami sedikit kesal dengan Yuki.
"Ini, tolong bagikan handuk kepada mereka." Kata Hanami memberikan tumpukan handuk kepada Yuki dengan senyum yang dipaksakan.
"Se senpai, biar aku bantu." Ujar Sakura mengulurkan tangannya.
Sret. Sebuah botol tiba-tiba berada di tangan Sakura.
"Kamu membagikan minuman kepada mereka Sakura." Titah Hanami memberikan botol-botol berwarna kuning itu.
Tanpa mengatakan apa pun Yuki membalikan badan meninggalkan dua manajer yang masih sibuk. Tepat saat itu para pemain berjalan ke pinggir lapangan.
Apa aku harus berteriak seperti pedagang di pinggir jalanan jakarta, handuk .., handuk .., handuk mas .., bu!, murah .., murah .., batin Yuki lalu memutar bola matanya karena tiba-tiba berpikiran aneh seperti itu.
Yuki tanpa membuka suara mengulurkan handuk kepada setiap pemain yang berpapasan dengannya. Mereka yang terkejut dengan kehadiran manajer baru terlihat gugup. Beberapa anak saling dorong, saling menyuruh untuk menyapa Yuki tapi mereka segan menyapa gadis itu, nyali mereka seketika menciut.
Yuki masih sibuk memberikan handuk lalu pergi memberikan lagi dan pergi.
"Ekhem!." Dehaman keras terdengar dari belakang tubuh Yuki, Yuki menoleh, sebuah senyuman lebar menyapa Yuki.
Senyumnya mirip Jaeha, batin Yuki mengingat anak laki-laki yatim piatu berusia sebelas tahun yang sudah ia anggap sebagai keluarga.
"Mau handuk?." Tawar Yuki, Inuzuka menggaruk belakang kepalanya dengan senyum yang masih mengembang. Yuki melirik tangan Inuzuka.
"Seharusnya kamu ambil minum dulu." Kata Yuki menyodorkan handuk putih di tangannya, Inuzuka terlihat seperti mandi keringat, tubuhnya lebih membutuhkan air dari pada handuk.
"Agh aku lupa." Jawabnya cepat.
"Lupa?." Ulang Yuki. Inuzuka gelagapan, Yuki tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Inuzuka.
"Lupa hm ..?." Ledek Yuki seraya mengangkat satu alisnya.
"Hehehe ..." Kekeh Inuzuka.
Waahh berani sekali dia mendekati dewi kami!, awas nanti malam di asrama!, tidak bisa di diamkan!, geram para pemain yang melihat interaksi Yuki dan Inuzuka.
Senyum sang dewi benar-benar melemahkanku, lanjut mereka dalam hati.
"Senpai, kita akan sering bertemu mulai hari ini." Celetuk Inuzuka mengekori Yuki dari belakang.
"Hm." Gumam Yuki.
"Senpai pasti betah berada di tim baseball." Lanjut Inuzuka.
"Hm." Semoga saja, lanjut Yuki di dalam hati, ia memberikan handuk kepada orang terakhir, ia menyapukan pandangannya ke seluruh lapangan sepertinya sebagian pemain sudah ada manajer yang mengurusnya. Yuki berjalan ke bangku cadangan.
"Senpai, aku ingin bertanya sesuatu."
"Hmm, apa?." Tanya Yuki.
"Bagaimana senpai bisa melempar seperti itu?." Yuki membalikan badannya memberikan botol berwarna kuning kepada Inuzuka.
"Lempar saja bolanya." Celetuk Yuki.