
"Thur lo kemana saja, tiba-tiba ngilang." Srobot kesal Dody karena baru melihat sahabatnya kembali ke rombongan kecil mereka.
"Do." Tegur Heru menatap lurus wajah Fathur, Dody yang tidak paham dengan ekspresi serius tiba-tiba Heru menoleh menatap sahabatnya.
"Apa yang sudah terjadi?." Tanya Heru.
"Tidak ada." Jawab Fathur asal.
"Lo habis nangis, tidak mungkin tidak ada yang terjadi." Kata Heru, Dody menelan salivanya kasar melihat seksama wajah Fathur.
"Heru benar, gue belum pernah lihat wajah berantakan lo yang seperti ini. Gue kira lo tidak bisa nangis thur. Jadi, apa yang terjadi?." Dody menyilangkan lengannya meniru detektif yang sedang mengintrogasi terdakwa. Fathur berdiri didepan kedua sahabatnya dengan tenang.
"Kenapa tangan lo di perban?." Tanya Heru mulai bergabung dengan Dody mengintrogasi Fathur. Fathur mengangkat kedua tangannya.
"Hanya berkelahi dengan orang asing." Jawab Fathur, ia tidak bisa lolos dari introgasi teman-temannya.
"Kenapa lo nggak minta tolong kita buat bantuin lo." Srobot Dody cepat.
"Aku ingin tapi tidak bisa, kalian sudah masuk ke dalam toko." Kilah Fathur.
"Dengar ya thur, ini bukan masalah biasa. Kita dinegara orang loh. Apa yang mereka lakukan sama lo, kita laporkan saja." Sergah Dody melangkah pergi dengan kesal, namun Heru menahan kerah baju belakangnya.
"Tunggu Do. Lo lapor, kita juga dalam masalah." Ucap Heru.
"Benar juga." Dody membalikan badan menghadap Fathur.
"Lo berantem sama siapa thur?." Tanya Dody.
"Sepertinya dia orang asing juga, aku hanya ingin menolong anak kecil yang dia ganggu." Fathur membuat alasan palsu lainnya.
"Mereka sudah pergi lebih baik kita kembali ke tempat para guru menunggu." Lanjut Fathur.
"Tapi lo nggak apa-apa kan?." Tanya Dody yang kesal juga khawatir.
"Ya, cuman luka kecil." Fathur menggoyang-goyangkan tangannya pelan.
"Baiklah, ayo kita kembali." Dody membalikan badannya berjalan pergi.
Fathur yang merasa terus ditatap membalas tatapan Heru. Untuk beberapa saat mereka hanya diam tanpa melepas kontak mata, lalu Fathur berjalan ke depan menyusul Dody.
Pluk.
Heru menghentikan Fathur tepat disampingnya, Heru meremas pundak sahabatnya cukup kuat.
"Lo nggak seperti biasanya thur. Semua alasanmu sangat aneh, dari dulu lo nggak pinter berbohong." Fathur hanya membisu mendengar semua yang Heru katakan.
"Cuman orang-orang bodoh seperti Dody yang mempercayaimu." Heru menahan kekesalannya.
"Apa pun yang sedang lo hadapi, jangan memaksakan diri. Banyak cewek yang suka sama lo, lupakan dia." Heru menoleh untuk melihat ekspresi sahabatnya. Heru mengepalkan tangannya yang lain.
"Lo berhak bahagia bro." Kata Heru menarik kembali tangannya berjalan meninggalkan Fathur dibelakang.
Wajah sok tenang dan sok kuatmu itu membuatku kesal, batin Heru.
Semenjak kejadian dilapangan basket out door dulu, tidak hanya merubah Eva tapi juga Fathur. Pemuda itu lebih sering diam, sikapnya memang tidak berubah malah lebih cenderung tenang dan dewasa tapi bagi Heru, Fathur seakan menyembunyikan semua yang dia rasakan jauh didalam diri sahabatnya, karena itu lah Heru selama ini merasa sangat khawatir dengan Fathur.
Fathur menarik nafas panjang melangkah mengikuti Heru dari belakang.
Flashback.
"Thur, boleh aku bertanya sesuatu?." Kata Ega.
"Bukannya sejak tadi kamu sudah bertanya?." Sahut Fathur.
"Ahaha, kamu benar." Ega tertawa sebentar wajahnya berubah serius.
"Bola seperti apa yang Yuki berikan kepadamu?." Ega mungkin sudah tahu bola seperti apa yang diberikan kepada sahabatnya Ega hanya ingin memastikan kalau tebakannya itu benar bahwa bola yang sama dengan yang ia lihat diruang rahasia Eva.
"Apa Eva merahasiakan bola itu darimu?, sepertinya aku tidak boleh mengatakannya." Jawab Fathur melirik Ega.
"Tidak, aku juga berada disana saat Yuki menyalakan bola itu." Ega tidak ingin mengatakan bahwa Yuki lah yang membuat bola itu. Fathur menunduk mengingat-ingat bola seukuran bola kasti dirumahnya.
"Warnanya hitam, ada satu titik diatasnya sebagai tanda dia hidup atau mati, bola itu selalu menggelinding mengikuti kemana pun aku pergi, dan juga ukurannya seperti bola kasti. Hebatnya, bola itu sangat pandai menyembunyikan diri dari orang-orang disekitar." Jelas Fathur.
Itu bola yang sama, batin Ega.
"Kalau begitu tidak masalah, aku harus pergi sekarang." Pamit Ega beranjak berdiri.
"Kau akan mencarinya kemana?." Tanya Fathur.
"Entahlah, aku tidak memiliki petunjuk. Maaf sudah merusak acara liburan kalian." Kata Ega mengulurkan tangannya membantu Fathur berdiri.
"Tidak masalah, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, yah .., walau sedikit marah-marah tadi." Fathur menjawab uluran Ega.
"Sedikit heh?." Ledek Ega melirik tangan Fathur yang terluka dengan darah yang sudah mengering.
"Kamu bisa merawat lukamu sendiri?." Tanya Ega.
"Ya, didekat sini aku melihat ada toko obat." Jawab Fathur.
"Syukurlah, karena aku tidak bisa membantumu. Hm?, untuk membalas kebaikanmu aku akan memberitahumu sesuatu." Ujar Ega.
"Aku kabur dari rumah." Ega melihat Fathur yang terkejut.
"Hahaha, aku bertengkar dengan ibu dan memutuskan untuk mencari Yuki, sendiri. Jadi aku tidak boleh terlalu sering terlihat ditempat umum atau orang-orang ibu akan menemukanku, bahkan orang-orang ayah juga tersebar dimana-mana, itu sangat berbahaya." Jelas Ega.
"Seperti buronan kejahatan." Celetuk Fathur.
"Hahaha, kamu benar thur. Jadi anak tertua memang mempunyai nilai tinggi." Balas Ega.
"Kalau kamu lupa, kamu hanya lebih cepat beberapa menit." Fathur mengingatkan.
"Tetap saja tidak merubah fakta bahwa aku anak tertua." Ega tersenyum lebar.
"Apa kamu perlu bantuan?." Fathur menatap dalam manik sahabatnya.
"Tidak, lebih baik kamu berpura-pura tidak mengetahui tentang kami, ini untuk kebaikanmu. Dan juga." Ega menatap tegas manik Fathur.
"Aku tidak melarangmu untuk mencintai saudara kembarku tapi, hati Yuki sudah membeku sejak kematian Dimas. Jangan siksa dirimu sendiri." Ega mengulurkan tangan ke depan. Fathur menatap tangan Ega tak berkedip.
"Apa ini salam perpisahan?." Tanya Fathur.
"Mungkin, aku tidak tahu apakah kita bisa bertemu lagi." Jawab Ega, Fathur menjabat uluran tangan sahabatnya.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi." Lirih Fathur yang dibalas senyum hangat khas sang sahabat.
"Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi." Ucap Ega menarik tangannya, kembali memakai masker dan penutup kepala berlari pergi.
Fathur terdiam, berdiri menatap kepergian sahabatnya. Ini sama persis seperti satu tahun yang lalu, aku hanya bisa berdiri diam menatap kepergian kalian. Saat ayah meninggal aku juga hanya bisa berdiri menatap jasadnya. Betapa menyedihkannya aku, batin Fathur.
Aku paham apa yang ingin kamu katakan ga, kamu menyuruhku untuk melupakan Eva tapi tidak semudah itu, entah sejak kapan hatiku benar-benar miliknya, ucap Fathur dalam hati tangannya yang terluka mencengkeram dada.
Flashback off.
***
Hotaru alias Ega berlari sesuai irama membaur dengan orang-orang dijalanan, ia menghentikan kakinya didepan restoran berbintang, melangkah masuk ke dalam. Seorang pelayan wanita menghampirinya.
"Selamat datang, maaf tuan untuk berapa orang?." Tanya pelayan dengan ramah.
"Aku sudah ada janji dengan seseorang, sepertinya dia sudah menungguku disini." Jawab Hotaru.
"Apakah anda mr.Hachibara?." Hotaru mengangguk sekilas.
"Baik, silahkan ikut saya." Pelayan itu memandu Hotaru menaiki lift ke lantai tiga.
Pintu lift terbuka yang langsung menampilkan kemewahan yang berbeda dari dekorasi restoran di lantai pertama.
"Mari tuan." Pelayan kembali menuntun Hotaru.
Lantai tiga sangat luas, setiap meja hanya ada dua kursi dengan suasana romantis, banyak pasangan yang menikmati waktu mereka disana. Hotaru penasaran kenapa pelayan itu menuntunnya berbelok ke kanan, jalan itu seperti sebuah hotel dengan lorong dan beberapa pintu. Pelayan berhenti didepan salah satu pintu menghadap Hotaru.
"Silahkan tuan, orang yang menunggu anda ada di dalam." Pelayan itu membungkuk dalam sebelum pergi.
Hotaru menarik nafas panjang dan mengecek saku kanannya sebelum masuk.
Ceklek.
Hotaru melangkah dengan hati-hati, ruangan bernuansa merah gelap yang cukup besar untuk satu meja panjang dan dua kursi di masing-masing ujungnya. Hotaru menutup pintu perlahan.
"Anda bisa membuka tudung anda tuan Hachibara." Ucapnya. Suara yang tenang mengalun indah di telinga Hotaru. Perlahan Hotaru membuka tudung yang menutupi kepalanya.
"Bagaimana hasilnya?." Tanya Hotaru langsung ke pokok pembicaraan.
"Jangan terburu-buru seperti itu tuan, kita memiliki banyak waktu." Jawab perempuan itu.
Mau bagaimana pun aku harus waspada dengannya, batin Hotaru.
"Aku sudah lama ingin bertemu dengan anda seperti ini." Perempuan itu menatap tepat kearah manik coklat terang milik Hotaru.
"Begitukah, aku merasa sangat terhormat." Balas Hotaru.
"Sepertinya mata anda terlalu lelah, apakah perlu kita batalkan pertemuan ini?." Tanya perempuan itu.
Sial, batin Hotaru.
"Itu tidak perlu, mataku kemasukan debu saat berlari kemari." Kilah Hotaru menyandarkan punggungnya. Sudut mata perempuan itu tertarik ke atas.
Tersenyum.
"Jalanan memang banyak polusi." Ucapnya kembali memainkan anggurnya.
"Anda mau minum tuan?." Tawar wanita itu.
"Tidak terima kasih." Tolak Hotaru.
"Sepertinya anda sudah tidak sabar." Kata perempuan itu seraya mengeluarkan sebuah amplop hitam dari balik bajunya lalu melemparkan amplop kearah Hotaru.
"Silahkan dilihat tuan." Hotaru menatap sekilas perempuan didepannya lalu beralih menatap amplop hitam yang tergeletak didepannya.
Tanpa ragu Hotaru mengambil amplop itu membukanya mengambil isi dari dalam amplop. Hotaru mengamati foto-foto yang ada ditangannya.
"Aku sudah membunuhnya, sesuai perjanjian, anda akan mengikuti perintah saya." Hotaru masih sibuk mengamati foto.
"Bagaimana dengan pria yang bersama orang ini?." Tanya Hotaru.
"Tentu saja pria itu juga sudah saya bereskan setelah sedikit menganiayanya." Ucap perempuan itu seraya menunjuk foto.
Hotaru menggeser foto ditangannya melihat foto yang lain. Seorang laki-laki tubuhnya terikat disebuah tiang dengan wajah biru pucat bahkan hampir menghitam.
"Menganiaya?." Tanya Ega, tidak ada tanda-tanda penganiayaan difoto itu.
"Apa anda tidak melihat sesuatu dibawah kaki pria itu?." Hotaru tidak melihat apa pun lalu dengan cepat Hotaru menggeser foto selanjutnya.
Hotaru terkejut namun sikapnya tetap tenang, di foto itu terliihat dengan jelas. Pria itu berdiri diatas kotak kaca yang berisi tiga ular kobra berukuran besar. Hotaru mengamati kaki pria itu yang terdapat beberapa gigitan ular.
Aku baru tahu ada penganiayaan seperti ini, dia berbahaya, batin Hotaru.
"Membunuh menggunakan cara yang sesuai dengan nama kelompok musuh adalah cara kelompok yang terlupakan." Ucap perempuan itu.
Kelompok ular beracun, batin Hotaru.
"Aku mendapat beberapa informasi yang menarik dari pria itu." Hotaru mengalihkan perhatiannya menaruh foto-foto itu diatas meja.
"Apa itu?." Tanya Hotaru. Perempuan itu memutar tubuhnya sedikit membuka penutup wajah meminum anggur dengan hati-hati agar wajahnya tidak terlihat.
"Pemimpin lama mereka tewas dua tahun lalu." Kejutan yang baik untuk Hotaru.
"Kelompok Yakuza yang membunuhnya. Karena itu mereka tergesa-gesa mencari anda yang sudah lolos dari kelompok itu, mereka menyewa pembunuh bayaran yang sedang diincar oleh para polisi di seluruh negeri." Jelas perempuan itu.
Hotaru merasa aneh dengan pembicaraan itu, dia tidak pernah memberitahukan tentang dirinya, dan wanita itu tahu. Hotaru mencoba untuk mengamati lebih jauh.
"Hanya mereka berdua yang berhasil menemukan lokasi anda karena mengikuti jejak kelompok rahasia Yakuza dan mencuri informasi dari anggota tersisa dari kelompok itu yang berada di indonesia." Ucapnya seraya menunjuk lagi foto diatas meja.
Hotaru menggeser beberapa foto, hingga foto terakhir membuat jantungnya berdegup kencang. Perempuan ini, yang kabur saat itu.
Fitri, batin Hotaru.
"Fitri." Ucap perempuan itu tepat saat Hotaru menyebut nama mantan pelayan saudari kembarnya.
"Wanita itu dibunuh oleh pria-pria ini."
Hotaru menenangkan dirinya, perempuan yang sedang bersamanya sangat berbahaya.
"Kedua pria bodoh itu tidak melaporkan informasi penting tentang keberadaan anda dan berpikir ingin langsung membawa mayat anda kepada pemimpin mereka yang baru." Lanjut perempuan itu.
"Pemikiran naif itu terus mereka simpan sampai ajal mereka. Pria-pria bodoh." Ucap perempuan itu merendahkan seraya menyangga dagunya dengan satu tangan.
"Seharusnya mereka lebih berhati-hati karena target mereka memiliki pelindung yang sulit ditembus." Hotaru membalas tatapan perempuan itu.
"Sau-dara kembar." Lirih perempuan itu.
BRAK.
DOR.
Hotaru berdiri dengan pistol mengarah ke depan. Tembakannya meleset, perempuan itu menendang meja menjadikannya pelindung.
"Gerakan cepat, tembakan akurat, dan pistol peredam suara. Anda lumayan juga tuan, anda hampir saja membunuh saya." Ucap perempuan itu santai. Hotaru tetap tenang membidik perempuan itu dari balik meja.
"Siapa kau." Tanya Hotaru.
"Anda sudah tahu nama saya tuan."
Hotaru menarik pelatuk pistol.
Dor.
Cetak.
Duk.
Sebuah benda padat mengenai tangan Hotaru membuat pistolnya jatuh agak jauh darinya. Sebelum itu terjadi Hotaru sudah melepaskan tembakannya tepat kearah bidikannya, Hotaru yakin setidaknya wanita itu pasti terluka.
Perempuan itu keluar dari persembunyiannya.
"Bagaimana anda bisa membidik sesuatu yang tidak bisa anda lihat tuan." Ucap perempuan itu berjalan mendekati Hotaru.
Mustahil dia tidak terluka, apa bidikanku salah, batin Hotaru segera menguasai dirinya.
Hotaru berubah waspada, matanya menyorot tajam mengunci pergerakan perempuan itu, sekecil apa pun. Aura intens mengancam menguar memenuhi ruangan. Udara di dalam ruangan berubah berat.
Perempuan itu berhenti, enggan untuk melanjutkan langkahnya. Ia tersenyum menatap mata Hotaru.
Berlutut dengan satu kaki ditekuk menunduk takzim.
"Sudah sangat lama tidak bertemu, bocchama (yang artinya adalah tuan muda, panggilan pelayan rumah kepada anak laki-laki dari pemilik rumah)." Hotaru mengepalkan tangannya menatap semakin tajam perempuan yang berlutut didepannya.
"Tidak ada yang pernah memanggilku dengan sebutan itu, kecuali dia adalah seseorang dari kediaman kakek buyut." Suara berat, berkharisma, semakin menekan perempuan itu.
"Saya tuan." Jawab perempuan itu dengan suara rendah.
Tidak mungkin, batin Hotaru.
"Tunjukan siapa dirimu yang sebenarnya." Titah Hotaru.
Perempuan itu perlahan membuka kaca matanya, dan penutup wajah, meletakan kedua benda itu disamping tubuhnya.
"Angkat wajahmu, dan sebutkan nama aslimu."
Perempuan itu mengangkat wajahnya namun tetap melihat kebawah tidak berani menatap mata Hotaru karena itu sangat tidak sopan.
"Takehara Rin desu (desu \= akhiran untuk ungkapan kesopanan)."
"Kamu adalah wanita yang pernah melawanku di paviliun." Ujar Hotaru mengingat kejadian di paviliun belakang rumah di indonesia yang selalu adiknya kunjungi setiap malam.
"Hai (Ya)."
"Takehara Rin .., Rin oneecchan ..??!." Ucap Hotaru yang teringat seseorang.
"Hai bocchama." Jawab perempuan itu.
Hotaru jatuh terduduk lemas, tangan kanannya menutupi wajah membiarkan air matanya mengalir dari manik coklat terang miliknya.
"Syukurlah, kau selamat."