
Apa lagi yang harus aku hadapi, aku seperti sedang bermain film hollywood, tunggu! ada hal penting yang aku lupakan, batin Yuki.
"Apa pun yang akan terjadi lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aku siap kapan saja menyusulmu ke sana." Suara Jun Ho menyadarkan Yuki.
"Kamu tidak perlu melakukan itu, kirimkan saja pilnya." Tolak Yuki.
"Tidak gadis nakal, aku tahu kamu sudah tidak peduli lagi dengan apa yang nenek dan ayahmu lakukan kepadamu," Jun Ho menggantungkan kalimatnya.
"Aku juga, aku ingin kamu hidup seperti saat kamu menghabiskan waktu di sini, bersama Jaeha dan yang lainnya tapi kenyataan kamu berada di sana membuatku khawatir." Jun Ho menarik nafas panjang.
"Pekerjaan rumahku sepertinya bertambah." Gumam Yuki yang di dengar oleh Jun Ho.
"Ya, kamu harus selalu berhati-hati." Jun Ho kembali memperingati Yuki.
"Hm, sudah dulu sebentar lagi bel." Ucap Yuki melihat anak-anak laki-laki yang berada di lapangan kembali ke dalam gedung.
"Jangan mati gadis nakal atau aku akan membuat arwahmu tidak tenang." Suara tawa Yuki pecah mendengar kata-kata Jun Ho.
"Kamu pikir aku siapa Jun Ho si." Ucap Yuki di sela tawanya namun tiba-tiba suaranya berubah serius.
"Aku tidak akan mati semudah itu." Setelah mengatakannya Yuki mematikan sambungan telepon.
Yuki berbalik untuk kembali ke kelas namun setelah membuka pintu atap tiba-tiba ia memutar tubuhnya.
"Gomennasai! (Maaf!)." Jerit kecil Yuki.
Ia tidak tahu jika ada orang lain di tangga atap, kenapa juga ia harus melihat sepasang kekasih sedang berciuman di sana. Kenapa juga memilih di tangga, apa tidak ada tempat lain, gerutu Yuki di dalam pikirannya.
Senior perempuan yang pernah melabrak Yuki dan senior laki-laki yang tidak lain adalah kapten basket itu mendongak menatap Yuki.
"O ouh, tidak apa-apa." Kata kapten basket Yamashita. Yuki perlahan membalikan tubuhnya.
"Terima kasih Hachibara san, berkat semangat darimu aku benar-benat mengatakannya." Ucap senior perempuan yang Yuki tidak tahu namanya.
"Ung, selamat untuk kalian berdua." Balas Yuki.
"Terima kasih." Ucap Yamashita.
"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Maaf, aku harus segera kembali ke kelas." Ujar Yuki menunduk kecil lalu berjalan melewati sepasang kekasih itu.
"Terima kasih!." Yuki mendengar dua orang itu menjerit di atas sana.
Waahh, gila. Mataku ternoda, gerutu Yuki dalam hati.
"Kamu dari mana saja Yu chan, kenapa lama sekali." Protes Natsume.
"Semedi." Celetuk Yuki asal.
"Kamu benar-benar menyebalkan Yu chan." Sewot Natsume mencubit kecil-kecil pipi Yuki.
"Tapi gemess." Lanjut gadis itu. Yuki hanya memutar bola matanya jengah.
***
Yuki menatap semua bahan-bahan di meja dapur kantin, semua rumus bermunculan di dalam kepalanya. Berapa panjang potongannya, berapa ukuran beratnya, berapa volume air yang dibutuhkan?, semua rumus yang pernah Yuki pelajari berputar-putar di dalam kepala.
"Hachibara san." Tegur Akiko.
"Hm?." Yuki menoleh menatap gadis itu.
"Bisa bantu aku mengangkat ini?." Akiko menunjuk panci besar, Yuki berjalan menghampiri Akiko membantunya.
"Terima kasih." Yuki mengangguk singkat.
Saat Yuki kembali ke meja dapur Hanami dan ibu kantin sudah berada di sana, tangan mereka sibuk bergerak. Akhirnya Yuki memilih pergi dari dapur dengan alasan ingin membantu Sakura di lapangan toh ada dua ibu kantin yang membantu mereka. Tentu saja alasannya tidak di buat-buat dari pada dia membantu di sana dan terjadi kehancuran besar.
"Ada yang bisa aku bantu?." Tanya Yuki. Sakura tersenyum kepadanya.
"Senpai mau mencoba menulis skor?." Tawar Sakura.
"Boleh." Jawab Yuki.
Sakura berpindah tempat dengan Yuki, gadis itu berdiri di samping Yuki membantunya menulis skor. Dengan ajaran yang Kudo berikan Yuki bisa lancar menulis skor dan mencatat lemparan yang pitcher lakukan.
"Kita tertinggal lima angka?." Lirih Yuki.
"Ya, sekolah lain sangat bagus dalam memukul lemparan pitcher kita, bolanya selalu bisa di patahkan." Jelas Sakura. Yuki langsung menatap ke arah lapangan. Benar saja semua lemparan bisa dengan mudah di pukul oleh batter (pemukul) sekolah lain.
"Kenapa tidak ada yang mendampingi tim B?." Tanya Yuki yang tidak melihat keberadaan Mizutani maupun Suzune.
"Pelatih dan Suzune san pergi menemani tim A ke sekolah lain." Jawab Sakura.
Apa ini artinya tim B tidak perlu di dampingi Mi chan, batin Yuki.
"Apa aku boleh ikut campur?." Tanya Yuki masih menatap lapangan.
"Hah?." Tanpa menunggu lagi Yuki memanggil salah satu pemain di bangku cadangan.
"Permisi, bisa kemari sebentar." Pemain yang di panggil Yuki untungnya memiliki pendengaran yang tajam, laki-laki itu segera menghampiri Yuki.
"Aku ingin mengirim pesan kepada mereka." Kata Yuki, pemain itu bingung juga gugup. Yuki mengatakan sesuatu kepadanya meyakinkan pemain itu.
Wasit tiba-tiba menghentikan permainan mempersilahkan pembawa pesan dari sekolah oukami untuk menyampaikan pesannya kepada para pemain yang berada di lapangan.
"Apa yang dia lakukan?." Tanya penjaga base 1 setelah semua berkumpul di mound (gundukan tempat pitcher melempar).
"Siapa yang mengirim pesan kepada kita?, pelatih dan Suzune san tidak ada di sekolah." Sambung Pitcher tim B.
Pemain pembawa pesan berlari menuju tengah-tengah lapangan.
"Ada apa?." Tanya Kurokawa catcher tim B yang pernah menangkap lemparan Yuki saat pemanasan.
"Aku membawa pesan dari Hachibara san." Ucapnya.
Sang dewi?!, batin mereka semua menoleh ke bangku cadangan. Yuki balas menatap mereka dari tempat duduknya.
Cantik, lanjut mereka.
"Apa pesannya?." Tanya penjaga base 2.
"Kemarin kita baru menerima kekalahan apa kalian ingin kalah lagi?, kalau aku tidak." Semua tertegun mendengar pesan dari manajer baru mereka sekaligus teman seperjuangan selama dua babak tempo hari.
"Untuk melawan mereka cukup mudah, berikan lemparan termudahmu jangan lemparan andalan yang kamu miliki." Pitcher tim B bergeming di tempatnya.
"Lemparan termudah yang kamu remehkan adalah senjata yang lawan tidak bisa tangani, percayalah pada bolamu. Sebagai sesama orang yang pernah berdiri di mound aku bisa merasakan betapa menyebalkannya bola yang terpukul." Kata-kata yang diucapkan pembawa pesan itu membuat para pemain kembali bersemangat terutama pitcher mereka.
"Selesai." Sambung pengantar pesan.
"Yaahh, sepertinya kita tahu apa yang harus kita lakukan." Ucap pitcher.
"Ung, ayo tunjukan kepadanya bahwa kita tidak kalah hebat dari dia." Sambung penjaga base 3.
"Ya !!." Jerit mereka semua. Yuki yang mendengar sorakan dari dalam lapangan menyunggingkan senyum.
Pembawa pesan berlari kembali ke bangku cadangan, wasit kembali melanjutkan permainan.
"Terima kasih." Ucap Yuki kepada pemain itu.
"O ouh (Ya)." Jawabnya lalu berjalan cepat ke bangku di belakang.
"Kamu hebat senpai." Sakura tersenyum maniknya berbinar menatap Yuki.
"Mereka yang berjuang, aku hanya duduk di sini." Sakura menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Semua yang berada di sini ikut berjuang." Balas gadis itu. Yuki tidak menanggapi ia memilih fokus dengan pertandingan.
Pengamatan Yuki benar, bola mudah yang dimiliki pitcher sekolahnya benar-benar membuat pemukul lawan kesusahan, tim lawan yang terlalu fokus ingin menghancurkan mental pitcher dengan memukul keras bola andalannya selalu mengabaikan bola mudah pitcher sekolahnya, hal itu membuat lemparan mudahnya terasa sulit untuk di pukul.
Akhirnya pergantian. Para pemain berlari kembali ke bangku cadangan, Yuki berdiri dari tempatnya duduk berjalan menghampiri mereka.
"Nice pitching (Lemparan bagus)." Puji Yuki, pitcher itu tersenyum malu-malu.
"Maaf Kurokawa san, apa lemparan pitcher lawan sulit di pukul?." Tanya Yuki, Kurokawa di bantu oleh temannya sedang melepas pelindung di tubuhnya.
"Ya, sedikit merepotkan." Jawab Kurokawa.
"Kalian dengar." Ucap Yuki menoleh menatap para pemain.
"Katanya sedikit merepotkan, hanya sedikit." Mereka menelan saliva dengan susah payah.
"Kemarin aku baru mendengar cerita tentang kehebatan pemain-pemain tim baseball sekolah kita yang ditakuti oleh sekolah lain, aku tidak tahu itu benar atau tidak, karena aku belum pernah melihat kalian bermain melawan sekolah lain." Para pemain merasa harga diri mereka terinjak-injak mendengar kalimat yang keluar dari mulut manajer baru.
"Aku benar-benar akan melakukan homerun." Geram salah satu pemain.
"Tunjukan padaku." Kata Yuki datar. Para pemain merasa tertantang dengan pancingan dari Yuki.
"Dan," Yuki menggantungkan kalimatnya, setelah mendapatkan semua atensi Yuki kembali melanjutkan.
"Aku tidak suka kalah." Ucap Yuki memberikan senyum yang ia buat-buat.
Yuki kembali ke tempat duduknya.
"Masih ada dua babak lagi, ayo kita dapatkan angka sebanyak-banyaknya!." Seru salah satu dari mereka membakar semangat anggota yang lain.
"Ouh !! (Ya !!)."
Benar saja, setelah pemain pertama berdiri di kotak pemukul mereka seakan menggila, saling bersaing merebutkan siapa yang mendapatkan homerun pertama. Angka terus bertambah, pemain terus berputar, mereka berteriak semangat seperti biasanya.
"Hachibara san." Yuki menoleh mencari orang yang memanggilnya.
"Apa kamu mau memberikan arahan kepada kami?." Tanya Kurokawa.
"Arahan?, apa itu?." Tanya balik Yuki. Kurokawa bergerak kaku.
"Itu .., arahan dari pelatih untuk pemain, memutuskan apakah pemain harus memukul bola atau melakukan bunt (jenis pukulan yang dilakukan tanpa menggunakan ayunan lengan), pemain harus berlari atau tidak, memberikan bola strike atau ball, yang seperti itu." Jelas Kurokawa.
"Bukankah itu tugas catcher?." Kurokawa bergeming, ia bingung.
"Bukan." Jawabnya.
"Tapi yang aku lihat Kudo melakukannya, saat melawan kita minggu lalu." Ujar Yuki.
"Kudo berbeda, dia .., berbeda." Yuki menaikan alisnya.
"Maaf Kurokawa san aku saja tidak tahu arahan yang kamu maksud, apa aku harus berteriak dari sini?, atau memberikan sandi kepada kalian?."
Dia benar-benar tidak tahu tentang baseball, tapi pengamatannya sangat jeli, batin Kurokawa.
Senpai tidak tahu tentang kode rahasia di dalam baseball, tapi dia bisa bermain dengan luar biasa, batin Sakura kagum.
"Agh, giliranku memukul." Ucap Kurokawa menyadari gilirannya akan segera tiba.
"Kurokawa san." Panggil Yuki lirih, laki-laki itu kembali menghadapnya.
"Jangan khawatir, tinggal satu babak lagi, mereka tidak akan bisa memukul lemparan pitcher sekolah kita." Kurokawa mengangguk lalu pergi, seseorang yang sedang duduk di bangku cadangan melebarkan senyumnya merasa dirinya sudah di puji dua kali oleh sang dewi.
Pemain berbaris saling memberikan hormat kepada tim lawan, Yuki dan Sakura juga membungkukkan badan kepada pelatih tim lawan di bangku cadangan di sebrang mereka. Sekolah Yuki memenangkan pertandingan dengan jarak skor yang jauh, para pemain di babak terakhir benar-benar melakukan banyak homerun memperjauh jarak skor mereka.
Setelah sekolah lain meninggalkan lapangan Yuki dan Sakura membagikan handuk dan botol minum kepada para pemain, salah satu pemain hendak menegur Yuki namun terhenti oleh teriakan Hanami yang memanggil kedua manajer itu.
"Ada yang bisa kami bantu senpai?." Tanya Sakura.
"Bisa tolong bantu kami membentuk onigirinya, sebentar lagi anggota tim A akan segera kembali, pertandingan juga sudah selesai kan, mereka pasti lapar." Yuki hanya mendengarkan Hanami, ia tidak yakin bisa melakukannya.
Beberapa menit kemudian Hanami, Akiko, Sakura, dan Yuki membawa nampan berisi onigiri yang mereka buat. Nana melambai kepada mereka, dia sudah kembali setelah menemani tim A, di belakangnya anggota tim A sudah berkumpul. Yuki menghindari tim A ia berjalan ke arah tim B berkumpul, Sakura ternyata juga mengikuti Yuki menghampiri tim B.
"Ada yang mau onigiri?." Tanya Yuki, para pemain menatap onigiri di nampan seperti singa kelaparan.
"Boleh?." Tanya salah satu dari mereka.
"Tentu, silahkan." Para pemain langsung gembira, mereka bergantian mengambil onigiri.
"Kalau ada yang masih kurang boleh ambil lagi." Kata Sakura dengan suara manisnya.
"Waahh .., terima kasih."
"Perutku kelaparan." Celetuk entah siapa.
"Setelah memukul dua homerun tenagaku terkuras." Sambung entah siapa.
"Belagu!, aku yang mendapat tiga homerun tidak sombong." Balas yang lain.
"Eits, kenapa kamu nangis?." Yuki menoleh melihat ada pemain yang meneteskan air matanya sambil mengunyah onigiri.
"Jangankan homerun, pukulanku saja tidak terbang jauh." Rengek pemain itu.
"Tenang, kamu masih kelas satu jangan terburu-buru. Nah ini makan yang banyak biar ototmu bertambah." Ucap salah satu pemain menenangkan seraya memberikan onigiri lagi kepada pemain yang menangis.
Yuki tersenyum kecil, ia menyingkir ke pinggir kumpulan para pemain.
"Mana buatanmu?." Yuki terkejut, ia menoleh mendapati Hajime sudah berdiri di belakangnya. Yuki membuang wajahnya ke depan.
"Hancur." Jawabnya singkat. Hajime tersenyum kecil.
Beberapa menit yang lalu Yuki sudah berjuang keras membentuk onigiri dengan tangannya namun onigiri itu selalu berakhir pecah berantakan di tangannya.
"Kamu pasti tidak pelan-pelan." Kata Hajime lengannya terulur mengambil onigiri dari nampan yang Yuki pegang.
"Aku sudah selembut mungkin." Elak Yuki.
"Benarkah?." Yuki memutar bola matanya malas.
"Senpaaii !!."
"Junior maniakmu sudah datang, aku pergi dulu." Ucap Hajime berjalan menjauh dari Yuki.
"Apa kamu belum mendapatkan onigiri Inuzuka kun?." Tanya Yuki setelah laki-laki itu sudah berdiri di depannya.
"Belum!." Jawabnya semangat, Yuki menaikan satu alisnya.
"Lalu itu apa?." Yuki menunjuk sudut bibir Inuzuka.
"Hm?, apa?." Jari Inuzuka bergerak ke arah yang di tunjuk Yuki menemukan sisa nasi dari onigiri yang baru ia makan.
"Hehehe, belum tiga kali maksudnya." Kata Inuzuka jujur. Yuki tersenyum kecil.
"Mau lagi." Yuki menyodorkan nampannya.
"Terima kasih, senpai yang membuatnya?." Inuzuka mengambil dua onigiri sekaligus.
"Bukan, aku tidak membantu." Inuzuka menatap Yuki sebentar lalu memakan onigirinya.
Apa dia tidak kekenyangan?, batin Yuki.
"Senpai milikku, onigirinya juga milikku." Inuzuka melotot menatap Nakashima yang tiba-tiba datang dan mengambil nampan dari tangan Yuki.
"Ayo." Belum selesai keterkejutan Inuzuka tiba-tiba Nakashima mendorong lembut punggung Yuki dengan nampan.
Tak.
Buk.
Tak.
Tak.
Nakashima meringis kecil, Hirogane dan tiga pemain lain mendaratkan jurus mereka.
"Ini anak nggak ngerti bahasa manusia heh!." Seru pemain dengan penampilan agak trendi.
"Nakashima kun, harus berapa kali di beri pelajaran lagi?." Ucap laki-laki yang kemarin bersama Hirogane.
"Apa sekarang kamu mau menculiknya hah." Seru Hirogane.
"Dia milikku." Balas Nakashima.
Buk.
Tak.
Tak.
Buk.
"Bawa dia."
Nakashima kembali di seret pergi dengan Inuzuka yang melompat-lompat kecil di belakangnya. Yuki tidak sengaja melihat Hajime yang tersenyum melihat tingkah junior-juniornya. Yuki kembali menatap gerombolan tadi.
Gila, aku bisa-bisa menjadi gila seperti mereka, batin Yuki.