Futago

Futago
Hubungan Kita.



"Bagaimana hasil pencarian Ayumi?."


Meja panjang berisi dua puluh satu kursi saling berhadapan dan satu kursi di ujung meja di duduki oleh wanita yang mengambil alih kepemimpinan rapat.


"Kami kehilangan jejak Ayumi dono di Turki." Lapor seorang pelindung.


"Bagaimana di negara sekitar?." Lusi menyapukan pandangannya kepada setiap pelindung.


"Masih dalam pencarian nyonya." Lusi melirik ke kanan, tepat di sampingnya.


"Hotaru." Pemuda itu mengangguk singkat.


"Aku tidak yakin ibu memiliki banyak pengikut atau sekutu. Ronggo satu-satunya orang yang bekerja pada ibu. Di tambah, ibu mirip sekali dengan Yuki dalam bergerak. Lebih tepatnya, Yuki mirip dengan ibu. Mereka punya pola sendiri, sangat halus." Jelas Hotaru.


"Untuk menebak pergerakan ibu, kita harus mencari tahu pergerakan klan naga putih lebih dulu." Hotaru beranjak dari kursinya mendekati papan putih yang menggantung. Tangannya menuliskan jejak kemana saja Ayumi pergi.


"Pola ini sangat acak dan sulit di tebak. Bagaimana cara kalian berhasil menemukan jejak ibu?." Hotaru memberikan pertanyaan kepada ketua pencarian.


"Kami membuntuti Ayumi dono, tapi setiap kami baru menemukan dan membuntuti beliau tidak berapa lama kami kehilangannya lagi." Hotaru menatap serius seluruh pelindung yang hadir.


"Itu artinya kalian membuntuti orang yang salah." Kalimat Hotaru mengejutkan semua orang.


"Kalian ingat wajah Yuki di kyoto?. Apa menurut kalian sama dengan wajahnya yang sekarang?. Mata berbeda warna, alis, seluruh wajahnya." Jelas Hotaru.


Semua orang sedang mencerna ucapan Hotaru. Memikirkan cara bagaimana mereka bisa melacak Ayumi yang asli.


"Cara mereka bergerak sama persis. Mungkin ibu lebih berhati-hati dari Yuki." Tambah Hotaru.


"Lalu bagaimana kita melacak Ayumi dono?." Tanya Fumio.


"Pertama kita harus mencari jejak klan naga putih. Jika yang dikatakan Rin tentang pemimpin klan naga putih berada di tempat kejadian penyerangan kedua itu benar. Ibu pasti memiliki rencana sendiri, yang artinya ibu juga mengincar klan naga putih. Itu kesimpulanku." Jelas Hotaru.


"Bisa dikatakan, jika kita bisa melacak klan naga putih kita juga dapat menemukan Ayumi dono." Kata Fumihiro. Hotaru mengangguk kecil.


"Bagaimana para ahli IT kita?, sudah berhasil melacak jaringan klan naga putih?." Hotaru menatap salah satu pelindung penanggung jawab IT di klan.


"Belum waka, jaringan mereka sangat rumit, untuk menemukan yang asli sangat sulit." Hotaru diam sejenak.


"Cari terus, kalau bisa kita membayar hacker profesional yang di takuti oleh banyak negara." Geram Hotaru.


Pasalnya jika Hotaru tidak kunjung menemukan dan melakukan sesuatu kepada klan naga putih, hidup saudari kembarnya belum aman. Hotaru tidak menginginkan itu, apalagi alat-alat yang di ciptakan adiknya membuat ia semakin khawatir.


"Hotaru, katamu Yuki memiliki alat aneh yang menghantarkan listrik seperti cambukan di penyerangan kyoto?." Tanya Lusi.


"Benar nek." Jawab Hotaru kembali ke kursinya.


"Berapa banyak alat-alat aneh yang dia buat?." Hotaru menahan nafasnya sebentar.


"Terakhir yang aku tahu, ratusan." Para pelindung tertegun.


"Dimana Yuki menyimpannya?." Hotaru menghela nafas sejenak.


"Di dalam kamar di indonesia, nenek pernah memasukinya." Lusi memijit dahinya lelah.


"Apa kamu yakin itu aman?." Hotaru menganggukkan kepala.


"Ya."


"Kalau begitu nenek tahu kemana kita harus mencari hacker berbahaya yang kamu inginkan."


Di dalam sebuah kamar, burung hantu kecil itu mengeluarkan sinar hologram dari sepasang matanya. Ilmuan penciptanya menyeringai dengan sorot tajam bak predator kelaparan yang menemukan mangsa.


"Je, salin."


"Di konfirmasi."


"Dasar tikus tanah." Ucapnya dingin.


Getaran pada ponselnya menghentikan pergerakan jari lentik itu. Yuki menyambar ponsel dengan satu tangan tanpa melirik nama si pemanggil.


"Moshi-moshi (Halo)."


"Yuki." Suara dari sebrang.


"Ayah?." Ini sudah sangat larut malam tidak biasanya Daren menelfonnya, tidak. Di hari-hari biasa pun Daren jarang menghubunginya tidak seperti dulu.


"Besok malam kamu bisa menyusup keluar dari kediaman?." Yuki menaikan satu alis, maniknya menatap sebuah biodata dan foto seseorang pada layar komputer.


"Mustahil jika diam-diam dan tidak menimbulkan keributan." Jawab Yuki.


"Akan ada yang menjemputmu. Tugasmu hanya lakukan sesuatu dengan kedua pelayanmu." Yuki memutuskan mengikuti keinginan Daren, toh dia juga penasaran dengan tingkah mencurigakan ayahnya.


"Baik."


"Pergilah ke belakang padang rumput kuda, terus masuk melewati pepohonan, kamu akan menemukan pohon bambu, ada jalan setapak bebatuan. Ikuti batu hitam, di ujung jalan Akasih akan menunggumu." Jelas Daren.


"Hm. Ayah." Panggil Yuki.


"Ya?."


"Ayah tidak takut pembicaraan kita di sadap para pelindung bagian IT?." Yuki melirik Je yang sudah selesai menyalin.


"Tidak, ayah punya kode tersembunyi warisan kakekmu." Yuki menarik sudut bibirnya.


"Apa kita sedang bermain kucing-kucingan?." Suara berat kelelahan terdengar oleh telinga Yuki.


"Bagaimana dengan hukumanmu?."


"Aku tidak tahu fase apa yang sedang aku alami tapi, aku tidak bisa mengingat apa pun lagi." Jawab Yuki jujur.


"Jika ada waktu pergilah ke bangunan pandora, cari lemari tersembunyi di perpustakaan. Semoga di sana ada jawaban dari hukumanmu."


"Ya, besok aku akan ke sana."


"Ayah tutup dulu."


"Hm."


Sambungan terputus.


Perpustakaan. Menarik, batin Yuki.


***


Pagi yang berisik, Hotaru sejak tadi melemparkan banyak pertanyaan kepada Gaho yang di jawab nyeleneh oleh pemuda itu. Yuki yang sudah tidak tahan akhirnya memberikan atensi kepada pemuda berkulit eksotis itu.


"Tidak ada yang mengundangmu datang ke kelas ini." Hotaru dan Gaho terdiam, melirik Yuki. Fumio memperhatikan Yuki menunggu apa yang akan di katakan oleh gadis itu. Fumio beberapa kali memergoki gadis itu sedang di tembak siswa lain.


"Tidak perlu undangan untuk menemuimu." Jawab Gaho.


"Aku tidak punya waktu meladeni pengecut sepertimu. Pergilah." Ucap tajam Yuki membuat Gaho menyeringai lebar.


"Jangan membuatku semakin ingin menemuimu." Hotaru menyilangkan kedua tangannya di depan dada memperhatikan.


Berani sekali dia, batin Hotaru.


"Dasar gila." Gaho malah nyengir kuda mendengar umpatan Yuki.


"Jalan." Ucap Yuki beranjak berdiri.


Hotaru dan Fumio menatap tidak suka apalagi senyum kemenangan yang terukir di wajah Gaho.


"Ayo." Laki-laki itu dengan santai membalikan badan berjalan keluar kelas lewat pintu belakang, Yuki mengikutinya.


"Yuki." Tegur Hotaru. Ia tahu betapa sakitnya hati Fumio melihat Yuki yang selalu di kejar-kejar laki-laki lain, Hotaru tidak ingin hal itu terjadi secara terang-terangan di depan sahabatnya.


Tap.


Tepat setelah kedua kaki Gaho menginjak batas luar kelas Yuki menggeser pintu cukup keras.


Bang!.


Gaho membalikan badan menatap kesal Yuki dari kaca persegi panjang di tengah pintu.


Yuki dengan santai mengunci pintu membalikan badan kembali duduk di kursinya. Hotaru tersenyum bangga, Fumio diam-diam juga tersenyum senang tapi tidak dengan beberapa anak di kelas. Ada yang kagum dengan aksi Yuki ada juga yang terkejut dengan sifat gadis itu yang berbanding terbalik dengan saudara kembarnya.


Latihan seperti biasa, Sayuri masih mengekori Yuki dan merebut pekerjaannya. Yuki bergeming kala merasakan kehadiran orang lain tepat di belakang tubuhnya. Tangan panjang berotot itu terulur melewati pundaknya mengambil botol yang ia pegang.


"Minumanku." Ucap Fumio menarik botol melewati pundak Yuki.


"Maaf." Ucap gadis itu melangkah ke depan untuk menjauh namun Hotaru tiba-tiba muncul dan berjalan ke arahnya.


Yuki yang terkejut melangkah ke belakang satu kali, lalu otaknya langsung berputar. Sebelum sempat Yuki kabur Hotaru memegang kedua pundak Fumio berniat mengurung adiknya namun game kabur kali ini di menangkan oleh Yuki. Gadis itu menghindar lewat samping. Hotaru melirik adiknya.


"Yuki!." Gadis itu mengabaikan panggilan Hotaru membuat suasana di dalam gym berubah tidak enak.


"Seharusnya kamu tangkap dia." Gerutu Hotaru kepada Fumio.


"Aku tidak ingin membuat Yuki membenciku." Jawab Fumio berjalan menjauh meninggalkan Hotaru dengan wajah kesalnya.


Bola terlempar keras mengarah ke kepala Yuki, gadis itu hendak menghindar namun bayangan kecil melompat menghalangi arah bola.


Brak!.


Yuki melirik ke samping, Fumio berhasil menghentikan bola dengan lengannya dan langsung melanjutkan permainan. Sayuri menoleh, mendongakkan kepalanya ke atas menatap Yuki.


"Calon tunangan senpai sangat keren seperti cerita ibu." Celetuk gadis loli itu. Yuki menaikan satu alis.


"Siapa?."


"Eh?!!." Sayuri terkejut.


"Siapa yang kamu maksud?."


Dari ketidak sengajaan Sayuri membuat perhatian Yuki beralih kepada pelatih pedangnya. Fumio berlari lalu melompat memukul bola sekuat tenaga, kembali berlari lagi untuk melakukan block.


"Ya, anda benar pelatih."


"Bagaimana jika memintanya bergabung?." Saran Hara pelatih tim voli.


"Saya tidak yakin akan hal itu." Jawab Yamazaki.


"Saya akan mencobanya sensei." Hara terlihat sangat antusias berjalan menghampiri Yuki.


"Manajer, kamu memiliki badan yang atletis mau mencoba bermain?." Manik itu melirik Hara.


"Saya tidak pandai berolah raga." Ucap Yuki berjalan menjauh.


"Hachibara san!." Yuki menghentikan langkahnya menggeser tubuhnya ke samping untuk melihat orang yang memanggilnya.


Aoki menatap lurus manik biru Yuki tanpa rasa takut sedikit pun.


"Tidak baik kamu menjawab pelatih dengan tidak sopan seperti itu." Yuki mengedipkan matanya dua kali, lalu membalikan badan menghadap Hara.


Yuki membungkuk sebagai permintaan maaf atas ketidak sopanannya. Hara tersenyum kecil mengibas-ngibaskan tangan menganggap itu bukan hal penting. Yuki menegakkan tubuhnya hendak berjalan pergi namun ternyata Aoki masih belum selesai dengannya.


"Tolong bisakah Hachibara san mengisi kembali botol-botol minuman?." Yuki membalas tatapan Aoki sebentar, tiba-tiba Sayuri berdiri di antara mereka.


"Biar aku saja Aoki san!." Kata Sayuri semangat. Aoki menurunkan pandangannya.


"Kamu sudah banyak melakukan tugasmu dan tugas Hachibara san. Kamu tidak perlu menuruti perintahnya meski Hachibara san kelas tiga. Ame chan tidak perlu takut untuk menolak." Yuki menaikan satu alisnya mendengar penghakiman Aoki kepadanya.


"Maaf Aoki san. Tapi Hachibara senpai tidak pernah menyuruhku. Aku yang berinisiatif melakukannya jadi aku harap Aoki san tidak salah paham lagi." Nada suara Sayuki berubah datar, raut wajahnya pun berubah serius.


Ketegangan menyebar diantara keduanya sampai ke tengah lapangan. Para pemain berhenti berlatih, merasa takut melihat Aoki yang tidak pernah marah dan terkenal sebagai gadis pemalu sekarang berubah serius, mereka tidak percaya gadis itu bisa marah.


Ada apa ini?, batin mereka.


"Aku mengerti jika kamu ingin melindungi Hachibara san. Tapi kalau kamu ingin terbebas darinya aku akan membantu." Yuki di belakang sana menahan senyumnya mendengar kalimat Aoki.


"Terima kasih tapi itu tidak perlu." Sayuri menatap manik Aoki.


Hotaru yang paham permasalahannya segera berjalan menghampiri kedua gadis itu. Fumio pun melakukan hal yang sama.


Sret.


Yuki mencubit pipi Sayuri dari belakang.


"Kamu tidak cocok memasang wajah seperti itu." Sayuri melirik ke samping melihat separuh wajah Yuki.


"S senpai." Lirih Sayuri gerogi.


Yuki melepas tangannya dari pipi Sayuri, melirik ke depan.


"Aku akan pergi mengisi botol minum." Ucap Yuki, menepuk pelan pucuk kepala Sayuri sebelum pergi membawa sekeranjang penuh botol keluar dari gym.


Semua orang di gym terkejut sebentar melihat aksi Yuki lalu mereka kembali berlatih lagi.


"Aku tidak suka dengan Aoki san." Sayuri menggerutu setelah menyusul Yuki.


"Jangan membenci orang jika orang itu tidak melukaimu." Balas Yuki.


"Tapi dia melukai senpai." Sayuri hendak membantu namun di tahan oleh Yuki.


"Aku tidak merasa terluka." Sayuri hendak memprotes namun urung. Yuki melanjutkan kegiatannya.


"Masalah kecil seperti itu tidak perlu untuk di besar-besarkan. Buang-buang tenaga." Lanjut Yuki.


"Aoki san sepertinya berniat merundung senpai." Lirih Sayuri.


"Hm?, benarkah." Sayuri menjawab dengan semangat.


"Ung!."


"Apa dia mampu merundungku?." Tantang Yuki.


"Eh?!. Benar juga." Sayuri tertawa riang.


"Orang yang terlihat lemah tidak tentu dia lemah jika dia menggunakan akalnya." Yuki menghadap Sayuri sebentar.


"Kembalilah ke dalam sebelum Aoki marah lagi." Sayuri membungkuk sekilas karena refleks dan berlari masuk ke dalam gym.


Yuki menatap botol-botol yang sudah ia tata rapi di dalam keranjang.


Melakukan ini mengingatkanku pada anak-anak baseball, batin Yuki. Ia mengangkat keranjang berat itu seorang diri, Dua bulan yang lalu ia dibantu oleh Sakura dan mereka akan sedikit berbincang-bincang.


Tidak lama setelah Yuki kembali ke gym latihan selesai. Sayuri yang hendak membantu membagikan botol minum Yuki cegah.


"Bagikan handuk pada mereka." Pinta Yuki yang langsung dilakukan oleh Sayuri dengan senang hati.


Gadis bermanik biru itu memberikan para pemain botol-botol minum mereka, hanya dua orang yang Yuki lewati. Hotaru dan Fumio. Setelah mendengar tentang calon tunangan Yuki enggan untuk berinteraksi dengan Fumio.


Ia sudah mengamati bagaimana sosok laki-laki itu yang mampu membuat Rin tega membantu Ayumi untuk menanamkan hukuman padanya.


Aoki melirik sekilas Yuki saat ia hendak memberikan botol minum kepada kapten voli dan wakilnya.


Hotaru menghela nafas menatap punggung Yuki yang sibuk membereskan bola ke dalam keranjang.


Berita tidak akurnya ia dengan saudari kembarnya sudah tersebar ke seluruh sekolah, bahkan tentang Fumio yang menjadi teman masa kecil mereka pun tersebar juga.


"Ayo." Ajak Fumio untuk membantu membereskan lapangan.


Dari pinggir lapangan Aoki memperhatikan gerak-gerik ketiganya. Sudah hampir satu minggu ia melakukannya. Melihat wajah tersiksa kedua senpainya membuat Aoki kesal kepada gadis bermanik biru itu. Tidakkah bisa Yuki tidak menghindari Hotaru dan Fumio secara terang-terangan padahal Hotaru adalah saudara kembarnya dan Fumio sendiri teman masa kecilnya, sedikit tidak rela dengan fakta itu. Aoki tidak bisa berbuat apa-apa meski ia ingin membantu.


Kapten dan wakil kapten tim voli yang dulunya ramah, hangat, dan selalu menebarkan aura positif itu semenjak Yuki datang mereka sering terlihat murung dan raut wajah mereka terlihat kaku.


***


Latihan malam. Yuki perlahan sudah mulai bisa mengayunkan pedang kayu di tangannya meski belum lihai tapi itu lebih baik dari malam sebelumnya. Luka-luka Yuki sudah sembuh setelah dua hari ia lumuri dengan obat herbal buatannya.


Fumio menjelaskan teknik pergerakan kaki lalu membiarkan Yuki fokus dengan latihannya. Seorang pelindung wanita yang kerap di panggil Mai itu menghampiri Fumio.


"Apa ojou sama mengalami peningkatan?." Fumio tetap menatap Yuki yang berada jauh di depannya.


"Ya."


"Aku tidak berhak mencampuri masalah pribadi kalian tapi." Mai melirik Fumio.


"Para kepala rumah tangga keluarga terhormat sudah tidak sabar ingin mengajukan putra-putra mereka. Permintaan pemilihan ulang calon tunangan ojou sama sudah sampai ke nyonya besar." Angin malam membelai rambut super pendek milik Mai.


"Segera selesaikan masalah kalian. Aku salah satu pelindung yang memihakmu, anak muda." Mai beranjak ke pinggir.


Fumio menarik nafas panjang masih menatap gadis bermanik biru itu.


Aku juga tidak ingin seperti ini. Hukuman itu menghapus semua ingatan Yuki tentangku, bahkan jika aku bersikap seperti dulu Yuki pasti tidak akan suka. Setelah kerinduan menyiksa setiap waktunya sudah terobati masih ada bagian yang sangat merindukan sosoknya yang selalu tersenyum dan berlari kepadaku, batin Fumio.


"Latihan malam ini selesai. Mai san sudah menunggu anda di sebelah sana." Ujar Fumio mengulurkan tangan meminta pedang kayu dari Yuki.


Yuki mendongak untuk menatap pemuda itu. Tinggi, alis sedikit tebal dengan garis yang rapi, kelopak mata agak besar namun khas keturunan orang jepang, hidung mancung tapi tidak lebih mancung dari Hotaru, bibir tipis agak berisi, pipi yang juga sedikit berisi, garis rahang tegasnya membuat dagunya terlihat bagus.


Selera Rin tidak tanggung-tanggung, batin Yuki.


Fumio yang melihat Yuki tetap diam beralih menatap wajah gadis itu. Betapa terkejutnya Fumio mendapati Yuki sedang mengamati wajahnya.


"Ojou sama, apa ada sesuatu yang aneh di wajah saya?." Tanya Fumio. Yuki membuka mulutnya.


"Apa yang di harapkan dari anak balita dengan memiliki calon tunangan." Celetuk Yuki.


Deg!.


Ada sesuatu yang sakit jauh di dalam sana tapi tidak berdarah.


"Apa kamu masih mengingatku?." Fumio menatap manik biru Yuki.


"Ya."


"Sayangnya aku tidak." Ucap Yuki berjalan melewati Fumio untuk meletakan pedang kayu pada tempatnya.


Saat Yuki hendak berbalik untuk menghampiri Mai sebuah benda kokoh dan berat menimpa tubuhnya dari belakang. Fumio memindahkan beban tubuhnya ke depan, menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepala gadis pemilik seluruh hatinya. Yuki menekuk lengannya menyikut ke belakang.


Pak.


Hal itu sudah Fumio antisipasi. Tangannya menangkap lengan Yuki. Yuki mengangkat tangannya meraih kepala Fumio untuk ia banting ke depan namun sebuah tangan besar malah menangkup tangannya memperangkap agar tetap berada di sana. Yuki kesal semakin menjadi-jadi, ia hendak melayangkan kaki bersalto ke belakang tapi terhenti karena kalimat lirih dari suara maskulin di sebelah telinganya.


"Aku tahu, karena itu aku tidak memaksamu untuk mengingatnya. Aku akan berjuang dari awal untuk hubungan kita." Yuki melebarkan matanya.


"Hatiku sudah milik orang lain." Desis Yuki.


"Tidak. Dia hanya meminjam hatimu untuk sementara. Sejak dulu hatimu milikku." Yuki mengatupkan mulutnya menahan emosi.


Jangan menghina kak Dimas sesuka hati kalian, geram Yuki dalam hati. Fumio segera melanjutkan kalimatnya.


"Di masa depan hatimu juga hanya menjadi milikku," bodo!, Yuki akan menendang keras kepala pemuda lancang ini.


"Yuu."


Deg!.


Niat kuat untuk menendang kepala Fumio luntur seketika kala mendengar pemuda itu memanggilnya dengan panggilan yang dilakukan seseorang di dalam ingatannya yang sempat kembali, meski Yuki tidak bisa melihat wajah orang itu karena selalu buram. Tapi nada sayang dan lembut mereka sama persis hanya perubahan suara dari balita menjadi laki-laki dewasa yang menimbulkan sensasi aneh pada Yuki.


"Menjauh dariku jika kamu tidak ingin aku lumpuhkan." Ancam Yuki.


Fumio membuat gadis itu terkejut dengan meremas pelan penuh kerinduan tangan lentik di bawah telapak tangan besarnya.


"Mattero. Hime sama (Tunggu aku. Tuan putri)." Yuki mengedipkan berkali-kali kelopak matanya.


Fumio menarik dirinya menjauh dari Yuki, berjalan ke dalam dojo. Sedangkan gadis itu sedang mencengkeram kerah bajunya tepat di dada. Emosi sedih tiba-tiba menyelimutinya tanpa sebab. Yuki mati-matian berusaha menenangkan diri agar tidak meloloskan cairan bening, musuhnya.


Tidak boleh menangis, bahkan jika nyawaku kembali berada di ujung tanduk. Tidak boleh menangis, batin Yuki.