
Yuki berdiri di depan talenan tangannya sudah memegang pisau. Hirogane memeragakan cara memotong di sampingnya.
Dia lebih baik dari pada si menyebalkan itu, batin Yuki memperhatikan penjelasan Hirogane. Dengan gaya kaku Yuki berusaha menggerakan pisau ditangannya.
"Hati-hati!." Hirogane menangkap pergelangan tangan Yuki.
"Gerakan seperti itu berbahaya, seperti ini caranya." Hirogane menurunkan tangannya tepat menangkup tangan Yuki menggerakan tangan kecil ramping itu sesuai keinginannya.
Beberapa detik kemudian Hirogane tersadar lalu terkejut, jantungnya berpacu tak karuan ia menelan salivanya kasar. Hirogane menghentikan tangannya, menarik kembali dengan kaku, ia tidak berani untuk melirik Yuki.
"M m ma ma maaf, a ak." Hirogane tidak bisa berbicara dengan lancar jantungnya berdetak keras hingga terasa sakit.
Grep.
Hirogane memelotot tidak percaya. Yuki menahan tangannya dengan tangan satunya menarik kembali untuk menggenggam tangan Yuki.
"Jangan di lepas, otakku belum menghafalnya. Ini lebih sulit dari pada membuat Je." Ucap Yuki menatap tajam bawang bombay tanpa berkedip.
Glek.
Hirogane menelan salivanya susah payah, ia menatap tangan Yuki yang berada di dalam genggamannya.
Lembut, ramping, halus, Hirogane tidak bisa berfikir jernih, tangannya tiba-tiba bergetar, dia mengalami tremor! (gemetar atau bergerak tanpa sadar, mulai dari ringan sampai berat, dan umumnya terjadi pada tangan, kaki, wajah, kepala, atau pita suara) hanya karena menggenggam tangan Yuki.
Yuki menyadari itu, ia mendongak ke samping melihat wajah Hirogane yang kaku seperti robot.
"Maaf apa aku terlalu memaksamu?." Hirogane mengalihkan pandangannya ia tidak melirik sedikit pun ke arah Yuki.
Gadis itu menarik nafas pelan menjauhkan tangannya dari tangan Hirogane.
"Terima kasih, bukannya kamu mau memblender sesuatu?." Ujar Yuki berusaha membuat Hirogane lebih tenang.
"A aa .., iya. Aku mau memblender." Hirogane berjalan menjauh dari Yuki.
Padahal aku ingin bisa melakukannya, memasak sangat sulit, lebih sulit dari melakukan operasi bedah, gumam Yuki dalam hati.
Ia melempar pandangannya ke arah Natsume yang dengan cekatan berdiri di atas kompor, lalu Yuki menggeser pandangannya ke arah Kudo yang bergerak dinamis memotong sayurannya. Yuki cemberut, ia kembali menatap bawang bombay yang baru teriris seperempat.
Baik kita mulai, batin Yuki mengumpulkan tekadnya.
"Perlu bantuan?, sepertinya kelompok lain sudah hampir selesai." Ujar Kudo melirik meja-meja lainnya.
"Mereka berlima dan kita bertiga. Jangan hitung Yu chan." Jawab Natsume tanpa dosa.
"Aku setuju." Natsume terkekeh kecil mendengar balasan Kudo.
"Aku akan menangani kedua kompor bisa kamu lakukan sisanya?." Pinta Natsume.
"Tentu." Jawab Kudo hendak menghampiri Hirogane.
Dak!. Dak!. Dak!.
Suara menyeramkan apa itu?!, jerit Natsume dalam hati. Ia mencari asal suara.
Ya ampun!, seru Natsume dalam hati.
"Yu chan!, berhenti!." Teriak Natsume histeris. Gadis itu malah mendapatkan senyum tipis dari tersangka pembuat keributan seraya mengangkat talenannya.
"Aku tidak menghancurkannya Hazuki." Jawab Yuki, ia terlihat senang karena talenannya masih utuh. Yuki kembali mengangkat tinggi-tinggi pisau di tangannya.
"Yu chan!, stoooppp ..."
Sret!.
Bukan teriakan Natsume yang menghentikan tangan Yuki di udara namun sebuah tangan besar yang tiba-tiba menarik talenan menjauh dari pandangan Yuki. Yuki tidak suka itu, ia langsung menatap sinis orang yang telah menarik talenan miliknya.
"Tuan putri, silahkan menunggu. Biar kami yang menyelesaikannya." Kata Kudo mengikuti gaya seorang pelayan.
Benar, semua orang menatapku aneh sekarang, batin Yuki meletakan pisau di atas meja membiarkan Kudo mengambil alih.
Selama dua jam itu Yuki tidak membantu sama sekali, ia hanya berdiri menonton. Sampai waktunya penilaian.
Natsume, Kudo, dan Hirogane sedang menjajagan masakan mereka ke kelompok yang lain. Yuki yang frustasi memilih untuk mengambil kain di ruangan kecil di dalam ruang praktek.
Setidaknya dia bisa ikut membantu membersihkan meja.
Sepertinya dapur benar-benar membenciku, atau ... Akunya memang sangat payah dalam urusan dapur, pikir Yuki.
Saat Yuki berjalan untuk kembali ke meja kelompoknya ia menangkap sebuah insiden sedang terjadi.
Yuki melakukan gerakan cepat seperti saat ia melawan masternya, ia yang berada di ujung sisi ruangan tiba-tiba sudah berada di ujung sisi ruangan lainnya.
BRAK.
BYUUURRR.
SSSSTTTTT.
Suara air panas mendesis di punggung kain seragam Yuki.
Yuki yang melihat Kudo hendak melindungi siswi kelas mereka dari panci berisi air panas dengan tangan kanannya membuat Yuki langsung berlari secepat kilat. Mendorong laki-laki itu melindungi dengan tubuhnya dari air panas, hingga tubuh mereka terjatuh keras ke lantai. Yuki yang berada di atas Kudo dengan tangan kanannya berada di bawah kepala laki-laki itu melindungi dari benturan dan tangan kirinya berada di samping kepala Kudo.
Suara jeritan menggema di dalam ruangan itu. Kudo memelotot dengan mulut sedikit terbuka, telinganya masih mendengar suara desisan mengerikan di atasnya. Panas, itu yang di rasakan Kudo tapi anehnya gadis di atasnya tidak terlihat kesakitan.
Yuki menatap tajam manik Kudo, tangan kirinya terkepal erat.
"Gila!, dasar bodoh!." Umpat Yuki lirih yang masih bisa didengar oleh orang di sana.
"Jika tanganmu terluka siapa yang akan menangkap bola pitcher. Sebentar lagi turnamen, apa kau lupa siapa catcher utama tim inti. Dasar bodoh."
Manik Kudo bergetar. Ia tidak menyangka Yuki akan mengatakan hal itu, Kudo kira Yuki akan meringis kesakitan dan menangis, lalu mengkhawatirkan kulit putihnya yang terkena air panas.
"Gila." Umpatan terakhir Yuki lalu meletakan kepala Kudo dengan pelan.
Yuki mundur ia mencoba duduk dengan kedua kakinya.
"Hachibara san." Panggil sensei khawatir.
"Saya izin ke uks sensei, permisi." Potong Yuki mencoba berdiri.
SRET.
Natsume langsung mengalungkan lengan Yuki di pundaknya membantu gadis itu berjalan. Yuki melirik sekilas Natsume yang tertunduk dan banjir air mata. Yuki menghela nafas pasrah.
Brak.
Tap tap tap tap tap.
"Sensei." Yuki mendengar suara Natsume dari balik gorden.
"Bagaiamana keadaan Yuki?." Srobot cepat Mizutani.
"Hiks, tidak tahu hiks, sedang diobati guru perawat hiks." Sejak tadi Natsume tidak berhenti-berhentinya menangis.
"Bagaimana dengan Kudo?." Natsume menunjuk salah satu gorden.
Mizutani menghampiri gorden yang di tunjuk Natsume membukanya.
Kudo mengangguk sopan menyapa pelatihnya.
"Apa lukamu parah?." Mizutani mendekati salah satu siswi yang sedang memperban lengan Kudo.
"Tidak pelatih, dia hanya terciprat air panas sedikit." Hirogane yang membantu memapah Yuki tadi menjawab pertanyaan Mizutani.
Mizutani mengangguk melihat hanya satu area kecil yang di perban.
"Maaf pelatih, saya ceroboh." Kudo menunduk dalam.
"Sudah tidak apa-apa, kamu renungkan kejadian ini." Ucap tegas Mizutani.
"Baik, maaf telah melukainya." Kudo tahu pelatihnya adalah wali dari Yuki.
Puk.
Kudo terkejut, Mizutani menepuk cukup keras pundaknya lalu meremasnya sebentar.
Mizutani beralih ke salah satu gorden yang ia tebak tempat Yuki berada.
Baru saja Mizutani memegang gorden sebuah teriakan menyerangnya.
"Mi chan!, jangan di buka!." Teriak Yuki ketika merasa ada orang yang akan menyibak gordennya.
Mi chan?, batin Hirogane dan siswi yang mengobati Kudo. Mereka tidak tahu kalau Mizutani adalah wali dari Yuki.
"Mi chan mesum!, jangan dibuka." Geram Yuki dengan nada tinggi.
Wajah Mizutani sontak langsung berubah merah padam, begitu juga dengan kedua laki-laki di sana.
"Hahaha, Yu chan. Karenamu aku sudah berhenti menangis." Suara tawa Natsume terdengar serak.
"Awas kalau berani masuk!." Ancam Yuki.
Guru uks ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. Apa lagi raut wajah kesal gadis yang sedang ia obati ini membuatnya ingin tertawa keras.
Yuki sedang tidur tengkurap di atas ranjang uks membiarkan guru uks mengoleskan banyak salep di punggungnya yang terbuka. Untunglah kulit Yuki tidak terkena langsung air panas, gadis itu juga ternyata memakai rangkapan baju tanpa lengan di balik seragamnya membuat luka bakar di punggung tidak terlalu parah, masih bisa di tangani dengan mudah.
"Aku sangat beruntung bisa melihat dan menyentuh punggung putih dan halus ini, seperti sebuah porselen, sangat indah." Ucap guru uks sengaja agar bisa terdengar sampai luar.
"Sensei, silahkan keluar. Saya bisa melakukannya sendiri." Jawab Yuki datar.
Natsume yang hendak meladeni guru uksnya langsung mengurungkan niat ketika mendengar suara datar Yuki.
"Ups, maaf sepertinya kamu tidak suka cara bercanda seperti ini." Ujar guru uks mulai memasang perban di punggung Yuki.
Guru uks terus melilitkan perban dari pinggang Yuki hingga punggung atas gadis itu lalu mulai mengobati punggung tangan yang berdarah.
"Ini terbentur cukup keras, mungkin akan bengkak." Kata guru uks yang terdengar sampai luar.
"Aku tahu." Guru uks menatap Yuki sebentar lalu tersenyum.
"Kamu seperti menahan sesuatu sampai seperti ini." Guru uks mengoleskan salep melirik Yuki yang meringis menahan sakit.
"Hm, kepala Kudo kun." Jawab Yuki setelah di rasa sakitnya berkurang dan ia tidak meringis kesakitan lagi.
"Hm?." Yuki menatap guru uks karena reaksi guru itu.
"Aku pikir aku harus melindungi otak tim, takutnya semua strategi di dalam kepala Kudo kun berhamburan karena benturan."
Guru uks tersenyum, orang-orang di luar hanya menggeleng sedih menatap Kudo.
"Sudah selesai." Kata guru uks, Natsume yang mendengar itu segera masuk ke dalam.
BUK.
"Arg!." Jerit Natsume terdorong ke belakang, tangannya menyingkirkan bantal dari depan wajahnya.
"Hazuki. Gila." Umpat Yuki.
"Yu chan aku tidak melihat apa-apa, toh tubuhmu di perban seperti itu apa yang bisa aku lihat." Protes Natsume membuat wajah Yuki di dalam sana mengeras, Yuki ingin melempar jauh-jauh temannya yang sudah gila itu.
"Sudah sudah, aku akan bicara dengan mereka." Guru uks menenangkan Yuki.
Wanita itu keluar mendekati Natsume, menatap gadis cemberut itu.
"Lebih baik jangan ganggu dia dulu." Ucap guru uks.
"Tapi sensei," guru uks menepuk pelan punggung Natsume beralih ke Mizutani yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Keadaannya tidak buruk tapi juga tidak baik, dia tetap masih harus istirahat, kemungkinan kulitnya akan melepuh jadi lebih baik segera di bawa ke rumah sakit." Jelas guru uks.
Natsume tidak berkedip mendengar kabar itu.
"Saya akan membawanya sekarang." Ucap Mizutani.
SRET.
Gorden terbuka Yuki keluar memakai baju olah raganya.
"Tidak perlu Mi chan, boleh aku pulang saja?." Semua orang menatap Yuki dengan raut wajah masing-masing, khawatir, bingung, heran, dll.
"Kita ke dokter," Yuki langsung memotong kalimat Mizutani.
"Aku baru keluar tadi pagi, Masa san sedang mengkhawatirkanku. Kita pulang." Itu tidak terdengar seperti permintaan tapi sebuah perintah.
Yuki berjalan begitu saja tanpa menunggu jawaban Mizutani, mengucapkan terima kasih kepada guru uks sebelum benar-benar pergi.
Di dalam mobil tenang seperti biasa, sampai mobil itu berhenti terparkir rapi di depan rumah berlantai dua.
Yuki keluar langsung memencet bel sedangkan Mizutani membuka bagasi mobil mengambil barang-barang Yuki dari rumah sakit.
Cukup lama tidak ada jawaban. Tumben, apa Masa san sedang keluar, batin Yuki.
"Aku akan menelfonnya." Ujar Mizutani setelah berdiri di samping Yuki.
"Tidak bisa di hubungi." Yuki melirik ponsel Mizutani lalu kembali memencet bel.
"Tidak ada yang tahu kalau aku tinggal di sini bukan." Tanya Yuki yang sudah berpikir jauh.
"Hanya tiga orang dari pelindung bayangan yang tahu."
"Mi chan, Dazai, dan si penyusup." Mizutani menganggukkan kepala.
Masa san baik-baik saja kan, musuh belum menyadarinya kan, batin Yuki takut kejadian yang dialami Dimas terulang kembali.
"Masamune san juga dalam perlindungan kita, kamu tidak perlu khawatir." Ujar Mizutani menjawab kekhawatiran Yuki.
Sekarang aku sudah kembali ke medan pertempuran bagaimana aku tidak khawatir, gerutu Yuki dalam hati. Bel kembali di tekan dan suara gaduh terdengar dari dalam rumah.
Ceklek.
Masamune membuka sedikit pintu hanya untuk melihat siapa yang datang.
Wajah kusut, rambut berantakan, dua hal itu yang dilihat Yuki dari penampilan Masamune sekarang.
"YUKI!." Jerit wanita itu menghambur ke dalam pelukkan Yuki.
"Argh!." Ringis Yuki, luka bakarnya tertekan oleh tangan Masamune.
Wanita itu buru-buru melepas pelukkannya menatap khawatir Yuki.
"Masih sakit?, maaf." Ucap cepat Masamune, tangannya terulur mengusap kepala Yuki. Matanya tidak sengaja meneteskan cairan bening.
"Sudah makan?." Yuki tersenyum lalu mengangguk kecil.
"Ayo masuk."
Masamune tidak bertanya apa pun padanya, wanita itu hanya terus mengikuti kemana pun Yuki pergi.
"Masa san, bisa keluar sebentar?, aku mau bicara dengan Mi chan." Masamune tersenyum lalu keluar dari kamar Yuki.
Yuki menepuk ranjang di depannya menyuruh Mizutani duduk. Pria itu menghampiri Yuki dan duduk di depan gadis itu.
"Aku membuat cukup banyak obat untuk menghilangkan luka, setelah dua hari punggungku akan baik-baik saja." Mizutani mengingat obat yang Yuki maksud, percaya tidak percaya luka gores di lehernya hilang tak berbekas.
"Apa sudah tidak masalah?."
"Hm."
"Lalu, bisa kamu beritahu dimana kediaman utama berada?." Tanya Yuki penuh harap.
"Tidak."
"Mi chan aku ingin melihat tempat terjadinya penyerangan itu."
"Tidak." Tegas Mizutani.
"Baik, aku akan mencari tahunya sendiri."
Mizutani menatap dalam manik Yuki.
"Satu tahun lagi, jika kamu bisa bertahan aku akan mengantarmu ke sana." Yuki tersenyum misterius.
"Deal."
Setelah Mizutani pergi untuk kembali ke sekolah Yuki meminta bantuan Masamune mengoleskan cairan kental ke seluruh punggungnya lalu mengurung diri di kamar.
Yuki mengumpulkan semua eksperimen-eksperimen yang baru ia buat, tangannya bergerak membuat senjata baru dengan bahan terbatas yang dimilikinya. Mengoperasikan komputer hendak meretas mangsanya.
Rasa nyeri di punggung tak Yuki hiraukan, jarinya bergerak cepat diatas keyboard pandangannya fokus ke layar.
"Wow, ternyata musuh memiliki banyak sekali anggota." Yuki beralih ke kotak tanpa gembok di atas ranjang. Menatapnya cukup lama.
"Sepertinya tidak sekarang, aku akan membukanya lain kali. Jangan terburu-buru." Yuki beralih menatap layar komputer menguap lebar.
"Target sudah dikunci."
"Je, tutup gordennya." Titah Yuki.
"Baik." Je melayang mengeluarkan satu tangannya menarik gorden hingga tertutup.
"Aku harus menyimpan mereka dulu." Gumam Yuki menyimpan kembali semua barang rahasianya.
Di tempat lain, sebuah kelompok telah berhasil meneror dan melumpuhkan mangsa mereka.
"Kami datang."