Futago

Futago
Manajer baru.



"Aku tidak bisa hanya berdiam diri dan stres memikirkan dua kepribadian ini." Ujar Yuki.


"Ya, ini sangat mencurigakan." Jun Ho sangat setuju dengan keputusan Yuki.


"Ada yang berusaha ayah sembunyikan dariku selama ini."


"Ya, aku sependapat denganmu."


"Jun Ho si, aku butuh komputer." Ucap Yuki, jika ia ingin bergerak pertama-tama ia harus mempunyai benda elektronik itu.


"Kamu dilarang memilikinya, tapi kamu tidak di larang untuk meminjamnya meskipun akan sulit untuk melindungi data si pemilik dan rahasia dirimu sendiri." Saran Jun Ho.


"Aku akan mengurusnya." Jun Ho mengambil secarik kertas.


"Untuk berjaga-jaga aku akan membuat pil tambahan, perasaanku sedikit tidak enak." Yuki menarik senyum miring yang tidak akan bisa Jun Ho lihat.


"Aku harap aku tidak memakannya lagi." Ucap Yuki.


"Aku juga berharap seperti itu." Balas Jun Ho.


"Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang buruk." Titah Jun Ho.


"Hm."


"Apa isi surat yang kamu berikan kepada Mizutani san?." Yuki teringat satu amplop lagi yang ia berikan kepada Mizutani.


"Oh itu, langkah-langkah yang harus dia lakukan jika penyakitmu kambuh." Jawab Jun Ho.


Hening, tidak ada yang berbicara lagi. Jun Ho sibuk dengan kertasnya dan Yuki sibuk menyusun rencananya di dalam kepala. Sesuatu mengingatkan Jun Ho akan informasi yang baru-baru ini ia dapat.


"Gadis nakal." Panggil Jun Ho.


"Hm."


"Teman-teman trainee-mu sudah debut beberapa hari yang lalu, jika kamu tidak memilih kembali ke jepang mungkin kamu sudah berada di dalam tv sekarang." Yuki terkekeh kecil lalu membalas Jun Ho dengan nada dingin.


"Kamu sudah gila Jun Ho si." Jun Ho menahan senyum meski ia sedikit merinding karena nada suara gadis nakalnya itu.


"Aku bisa dengan mudah mengambil foto-fotomu di internet, dan menontonmu di atas panggung." Lanjut Jun Ho memancing kekesalan Yuki.


"Dan membiarkanmu berimajinasi dengan t*buhku heh!." Geram Yuki.


"Aku tidak akan membiarkan kaum laki-laki sepertimu melakukan hal itu kepadaku." Imbuh Yuki, Jun Ho menggeleng kecil di dalam ruangannya.


"Kamu tidak perlu berdandan seperti idol dan menari seperti mereka untuk membuat imajinasi-imajinasi kami berkeliaran karena kamu yang seperti itu sudah cukup membuat mereka gila." Yuki mengangkat satu alisnya dengan kesal.


"Apa maksudmu dengan 'yang seperti itu', Jun Ho si." Tanya Yuki datar.


"Hahaha aku ingin sekali melihat wajah kesalmu sekarang." Jawaban Jun Ho membuat Yuki sadar bahwa pria paruh baya itu beberapa bulan yang lalu sering membuatnya jengkel.


"Sepertinya kamu sudah bosan hidup." Ancam Yuki.


"Mian (Maaf), aku tidak ingin kamu terlalu keras menggunakan otakmu. Aku percaya kepadamu gadis nakal." Jun Ho berhenti sebentar.


"Aku yakin ini adalah informasi penting untukmu, lakukan dengan hati-hati. Ingat apa saja yang sudah kamu alami, jika aku di butuhkan aku dengan cepat akan bergerak membantumu." Suara Jun Ho terdengar serius dan tidak ada keraguan di dalam kalimatnya.


"Arraseo (Baiklah), terima kasih untuk malam ini." Ucap Yuki.


"Ya, jaga dirimu." Ucap Jun Ho lalu sambungan telepon mereka terputus.


Sisa malam itu Yuki habiskan untuk menyusun daftar-daftar yang ia butuhkan, menyimpannya di dalam kepala. Hingga matahari kembali muncul dari persembunyiannya.


"Masa san, mulai hari ini aku akan pulang telat." Ucap Yuki setelah menghabiskan lemon hangatnya.


"Sudah masuk klub?." Tanya Masamune.


"Hm."


"Klub apa?." Masamune penasaran.


"Baseball." Jawab Yuki sekenanya.


"Waah .., kamu jadi manajer mereka." Ucap Masamune antusias.


"Hari-harimu pasti akan menyenangkan." Lanjut Masamune.


"Dan dua hari lagi mungkin aku pulang malam." Ucap Yuki membuat Masamune terkejut.


"Malam?, kenapa?."


"Aku ingin sesekali berkumpul dengan teman-teman sekolah." Jawab Yuki penuh arti.


"Hmmm, masa muda." Lirih Masamune tersenyum senang.


Setelah meyakinkan Masamune Yuki berangkat menuju sekolahnya, ia sudah tidak berangkat lebih awal lagi. Seperti hari-hari biasa lokernya penuh dengan surat-surat entah dari siapa, dengan segera Yuki memindahkan surat-surat itu ke dalam tasnya.


Bukannya langsung ke kelas Yuki malah memasuki ruang guru setelah mengetuknya lebih dulu. Langkahnya mantap menuju sebuah meja.


"Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)." Sapa Yuki dengan sopan.


"Yuki!." Seru Mizutani terkejut. Gadis yang sejak kemarin membuatnya uring-uringan karena khawatir sudah berdiri di belakangnya.


"Kenapa tidak menghubungiku?!." Bukannya menjawab Yuki malah melirik ke meja lain membuat Mizutani mengikuti arah pandang gadis itu.


Beberapa guru yang mendengarkan obrolan mereka sontak menatap guru dan murid itu dengan tatapan aneh, Mizutani paham apa yang ada di dalam benak para guru-guru di sana, karena tidak ingin menimbulkan gosip tidak bagus Mizutani segera memberi tahu mereka.


"Ekhem!, maaf. Dia adalah sepupu jauh saya." Ucap Mizutani seraya menunjuk Yuki. Setelah mendengar pernyataan Mizutani para guru beralih kembali ke kesibukan mereka masing-masing.


"Mana formulirku." Pinta Yuki, Mizutani menatap Yuki menelisik gadis itu seraya memberikan selembar kertas yang Yuki minta.


"Kamu benar-benar marah dengan pertandingan dua hari yang lalu." Mizutani ingin mengatakan banyak hal dan menceramahi sikap Yuki namun ia menahannya, kalau tidak mungkin gadis bermanik biru itu akan lebih marah lagi.


"Di sekolah anda adalah wali saya tapi di luar sekolah anda adalah orang asing."


Deg!. Ucapan Yuki sukses membuat Mizutani terkejut. Gadis itu menyodorkan kembali kertas yang ia berikan.


"Sesuai perjanjian, aku akan menjadi manajer di klub anda." Ucap sopan Yuki karena ia berada di ruang guru sekarang, Yuki lalu membungkukkan badan. Mizutani menerima formulir yang sudah terisi.


"Saya permisi." Yuki meninggalkan ruang guru begitu saja tanpa menunggu tanggapan Mizutani.


Yuki menaiki tiap-tiap anak tangga, sesekali ia melihat para siswa maupun siswi menatap ke arahnya, pemandangan yang sudah biasa ia lihat.


Tangannya dengan malas menggeser pintu kelas, baru tiga langkah ia berjalan sesosok tubuh sudah menghadangnya dengan wajah berseri-seri.


"Ceritakan kepadaku apa saja yang terjadi kemarin." Ucap Natsume menggebu-gebu, Yuki mengalihkan pandangannya ke samping menghindari tatapan Natsume.


"Jangan pelit Yu chan. Ceritakan kepadaku." Rengek Natsume.


Manik Yuki tidak sengaja bertabrakkan dengan Hirogane yang sedang menatapnya, ekspresi laki-laki itu masih menyiratkan ketidak percayaan bahwa Yuki .., gadis itu yang telah bertanding di lapangan melawannya dua hari yang lalu. Yuki dengan gerakkan kecil mengangguk menyapa Hirogane membuat laki-laki itu terkesiap.


Yuki mengangkat tangan kanannya menggeser Natsume dari hadapannya lalu kembali berjalan ke bangku miliknya.


"Yu chan! ih, jangan mengabaikanku." Sewot Natsume mengejar Yuki.


"Tidak ada yang terjadi Hazuki." Jawab Yuki dengan malas.


"Tidak mungkin aku tidak percaya." Srobot Natsume cepat. Yuki melirik Ueno menyapa gadis itu.


"Ohayou (Pagi)." Sapanya lalu meletakan tas miliknya diatas meja dan di saat itu sesuatu menarik perhatian Yuki hingga ia tetap berdiri di tempatnya.


Dia di sini, kami satu kelas, batin Yuki geram. Yuki teringat ucapan Natsume kemarin, bahwa kelas kami memiliki dua anggota tim baseball.


"Aku tidak akan menyerah sampai kamu mau menceritakannya kepadaku." Natsume bersikukuh di belakang Yuki, melihat Yuki yang tidak biasanya tertarik dengan sesuatu membuat Natsume penasaran mencari apa yang menarik perhatian teman tidak pekanya itu.


"Kudo kun?." Lirih Natsume bingung.


Tiba-tiba Yuki melangkah menghampiri laki-laki yang duduk tepat di belakang Natsume, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi Natsume melirik ke bawah dengan datar. Laki-laki yang sibuk dengan kertas aneh di depannya merasakan kehadiran Yuki.


Pantas saja aku merasa tidak asing dengan laki-laki berkacamata ini saat pertama kali melihatnya, batin Yuki.


"Masih dendam karena kekalahanmu tuan putri?, aku hanya bermain seperti biasa," Kudo tidak menyelesaikan kalimatnya melihat gerakkan tiba-tiba Yuki yang membalikan kursi di belakang gadis itu menghadap ke bangkunya dan dengan santainya Yuki duduk dengan anggun menatap lurus ke maniknya di balik kacamata.


"Jelaskan strategi yang kamu lakukan saat melawanku." Pinta Yuki. Kudo tentu saja heran mendapatkan perintah dari gadis yang mirip manekin duduk itu.


"Kamu sudah tertarik dengan baseball ternyata." Ucap Kudo menyandarkan punggunggungnya ke kursi.


"Aku tidak suka menjadi manajer amatir, apalagi kenyataannya memang seperti itu." Alasan Yuki yang sepenuhnya jujur meski di dalam hati ia merasa geram.


Karena terjebak dengan taruhan berat sebelah dan sayangnya strategimu membuatku kesal, imbuh Yuki di dalam hati.


"Benarkah?." Kudo mengerutkan alisnya lalu menunjuk kertas yang ada di atas meja.


"Kau tahu apa ini?." Yuki melirik kertas yang di tunjuk Kudo.


"Tidak, mungkin." Yuki meneliti kertas itu.


Mirip seperti kertas milik manajer yang ada di bangku pemain tim B, batin Yuki.


"Ini disebut buku skor." Kudo menatap manik Yuki.


"Kenapa aku harus membantumu." Tolak Kudo, Yuki menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Karena kamu yang membuatku kalah." Jawab Yuki.


"Sudah aku katakan aku hanya bermain seperti biasa," Kini bukan Kudo yang menghentikan kalimatnya dengan sengaja namun seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di samping meja, menatap Kudo dan Yuki secara bergantian.


"Jelaskan padaku." Sergah Natsume dengan nada lirih.


"Bukan .., sepertinya satu kelas ingin mendengar penjelasan kalian." Ralat Natsume. Yuki melirik sekitar mendapati teman-teman satu kelasnya menatap ke arah mereka. Yuki beralih menatap Natsume.


"Aku menjadi manajer klub baseball mulai hari ini, dan sebelumnya aku tidak pernah tahu tentang baseball sama sekali jadi, dia bertugas untuk mengajariku." Jelas Yuki memutuskan sendiri tanpa meminta persetujuan dari orang yang bersangkutan.


"Sudah ..?." Tanya Yuki menatap Natsume.


"Terasa ada yang janggal, tapi karena Kudo kun juga tidak mengatakan apa pun jadi aku terima alasanmu." Jawab Natsume, Yuki hanya mengedikkan bahu acuh dan kembali menoleh kepada Kudo. Kudo yang masih shock dengan pendengarannya hanya diam dengan wajah datar.


"Aku tidak akan mengganggu pelajaranmu Yu chan tapi .., aku masih menunggu penjelasanmu tentang yang kemarin." Natsume menatap lurus manik Yuki menegaskan bahwa ia belum akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau.


Natsume berjalan menghampiri Ueno membiarkan Yuki disana. Setidaknya kelas tidak akan heboh, batin Yuki.


Untuk menghindari keributan lebih besar aku lebih baik menurutinya, batin Kudo mengingat saat Yuki dan pelatihnya bersitegang malam itu. Kudo mendekatkan tubuhnya ke meja.


"Jadi ..." Kudo mulai menjelaskan tentang buku skor permainan baseball sekaligus mengajari Yuki bagaimana cara menuliskannya.


Karena kecepatan Yuki saat menghafal dan memahami membuat Kudo hanya sekali menjelaskan, mereka selesai tepat saat bel masuk. Yuki segera kembali ke bangkunya namun sebelum itu ia mengatakan akan kembali lagi karena Kudo belum menjawab strategi yang ia gunakan.


Waktu terasa begitu cepat jam istirahat Yuki habiskan di meja Kudo mendengarkan penjelasan panjang laki-laki itu. Yuki tidak menyangka bahwa olah raga baseball sangat rumit, setiap pemain memiliki strategi sendiri-sendiri, dan strategi-strategi itu sangat panjang.


Sebelum kudo menjelaskan tentang strategi catcher (penangkap) ia menjelaskan strategi pemukul pertama lebih dulu.


"Hirogane kun." Lirih Yuki, Kudo menyilangkan tangannya di atas meja melirik Yuki.


"Kamu tahu alasan Hirogane ditempatkan menjadi pemukul pertama?."


"Tidak." Jawab Yuki jujur.


"Karena dia memiliki kaki tercepat di antara kami semua, bukan hanya kecepatan tapi juga ketelitian saat memutuskan timing (waktu) berlari." Yuki menyilangkan kakinya.


"Apa itu penting?." Tanya Yuki.


"Sangat penting. Keberadaannya di base akan mengganggu fokus lawan dan itu menguntungkan kami, apalagi kalau dia bisa mencuri base." Yuki mengangkat satu alisnya.


"Mencuri base?." Ulang Yuki tidak tahu.


"Keadaan dimana pemain di dalam base berlari saat pitcher melempar bola bukan saat batter (pemukul) memukul bolanya."


"Bagaimana kalau pemukul terkena strike atau ball?."


"Itu tidak masalah yang penting dia berhasil mencuri base dan lebih dekat dengan base home." Yuki mulai paham.


"Hmmm."


"Yang menjadi masalah adalah ketika pitcher melempar bola lalu pelari mencuri base dan catcher membaca pergerakkannya."


"Apa yang terjadi?." Tanya Yuki semakin tenggelam ke dalam penjelasan permainan baseball.


"Catcher yang telah menangkap bola melemparkannya ke penjaga base membuat si pelari terkena out." Jawab Kudo.


"Kalau pelari sampai di base lebih dulu, pelari yang berhasil mencuri base dan tidak terkena out?." Sambung Yuki yang diangguki oleh Kudo.


"Tapi pelari juga bisa di pancing oleh Cather untuk mencuri base agar catcher dan timnya mendapatkan out." Yuki melirik Kudo.


"Itu strategi licikmu." Ucap Yuki datar. Kudo terkekeh senang.


"Kamu terlalu memujiku tuan putri, untuk kepentingan tim itu adalah strategi semua catcher di dunia." Yuki memutar bola matanya.


"Aku menghinamu, hanya informasi kalau-kalau kamu salah dengar."


"Benarkah, aku merasa tersanjung." Yuki mengamati karakter Kudo dengan teliti di setiap mereka bersama.


Makan siang tetap Yuki lakukan bersama kedua temannya, ia juga menjelaskan kepada Natsume dan Ueno tentang Hajime yang bertetangga dengannya. Jadi, mau tidak mau Yuki akrab dengan laki-laki itu karena rumah mereka bersebelahan.


Jam pulang sekolah anak-anak berbondong-bondong meninggalkan kelas, begitu juga ketiga gadis itu yang berjalan beriringan, di salah satu lorong Ueno memisahkan diri menuju klub musik sedangkan Natsume memisahkan diri di tangga, tinggal Yuki sendiri. Ia berjalan menuju ruangan Mizutani.


Tok. Tok. Tok.


Setelah tiga kali mengetuk pintu Yuki masuk ke dalam ruangan pelatih, membungkuk sopan kepada Suzune yang ada di sana.


"Maaf telah merepotkan anda Suzune san." Ucap Yuki.


"Sudah tidak apa-apa angkat wajahmu." Jawab Suzune dengan ramah, Yuki menegakkan tubuhnya lagi.


"Kamu pasti sangat kecewa Hachibara san, tidak bisa bergabung dengan klub karya ilmiah tapi di klub baseball juga tidak kalah serunya." Lanjut Suzune berusaha membuat Yuki nyaman berada di sana.


"Terima kasih." Jawab Yuki singkat.


"Apa tugasku?." Tanya Yuki setelah tidak ada yang angkat bicara.


"Oh ya, ini hari pertamamu ayo aku akan memperkenalkanmu kepada manajer yang lain." Kata Suzune seraya meninggalkan ruangan Mizutani di ikuti oleh Yuki.


Suzune berjalan melewati kantin klub baseball ia menuju ke sebuah ruangan tapi sebelum sampai seorang siswi cantik dengan rambut hitam sepunggung dan poni samping membuat aura gadis itu terlihat dewasa keluar dari salah satu ruangan.


"Nana chan!." Seru Suzune, siswi itu menoleh lalu menghampiri Suzune dan Yuki.


"Konnichiwa (Selamat siang)." Sapa sopan siswi itu.


"Hachibara san dia adalah manajer kelas tiga, kalau ada yang ditanyakan Nana chan akan membantumu jangan sungkan-sungkan bertanya kepadanya." Ucap Suzune kepada Yuki, Yuki membungkuk sopan.


"Yoroshiku onegaishimasu (Mohon bantuannya)." Yuki membungkuk sekilas. Siswi bernama Nana itu tersenyum ramah kepada Yuki.


"Nana chan dia adalah siswi pindahan sekaligus manajer baru, dia juga masih asing dengan olah raga baseball tolong bantu dia ya." Pinta Suzune.


"Baik, saya mengerti." Jawab Nana.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Pamit Suzune berjalan meninggalkan Yuki.


"Haii .., Moriyama Nana, panggil Nana saja seperti yang lain." Senior Yuki menyapanya dengan ramah.


"Hachibara Yuki desu." Yuki membalas perkenalan singkat itu.


"Ayo ganti bajumu."


Yuki mengikuti Nana dari belakang menuju sebuah ruangan di depan mereka.