
Hotaru melemparkan jarum racunnya, ia terinspirasi oleh Yuki yang mengoleskan obat tidur di jarum. Tubuh-tubuh berjatuhan, ia tidak sedikit pun memelankan langkah larinya, tiba-tiba dari pintu kamar di samping Hotaru sebuah kapak melayang hampir menebas lehernya jika Hotaru telat untuk menghindar.
Hotaru menatap pintu kamar yang terbuka namun gelap itu. Sebuah tubuh kekar keluar dari dalam kamar, tingginya tidak sampai se telinga Hotaru namun badannya jelas lebih besar dan berisi.
"Mau kemana sobat hik, kenapa terburu-buru hik!." Hotaru mengerutkan dahinya menatap pria kekar cegukan itu.
"Salam kedatanganmu sangat meriah hik!, membangunkanku dari tidur panjang hik!."
Apa-apa an dia?, batin Hotaru.
"Kemarilah hik!." Pria cegukkan itu merentangkan kedua tangan dengan kapak menggelantung di udara.
"Aku juga ingin menyambutmu hik!." Seringai lebar hampir memenuhi wajah pria cegukkan itu menunjukkan gigi berantakannya.
Tanpa aba-aba pria cegukkan berlari mengayunkan kapaknya mengincar pundak Hotaru.
Wuuusshhh ...
Hotaru melakukan salto ke belakang lalu mengeluarkan beberapa jarum sekaligus, melemparkannya ke depan.
Ting!.
Hotaru menatap datar jarum-jarumnya yang berjatuhan. Pria cegukkan bisa menangkis semua jarumnya dengan kapak?!.
"Heeuuhh ..." Hotaru menarik nafas berat.
"Aku sudah cukup mendapatkan sambutan." Ujar Hotaru.
"Ayolaah hik!, buat ini lebih meriah hik!."
Hotaru merangsek ke depan dengan cepat.
"Hahaha hik!, kemarilah hik!." Suara tawa tak menyenangkan memasuki telinga Hotaru.
Pria cegukkan mengangkat tinggi-tinggi kapaknya dengan kedua tangan,menunjukkan seringai senang.
Hotaru memutar kakinya menghindari tebasan mematikan.
Brak.
Hotaru menangkis tangan pria cegukkan melontarkan kapak jatuh berdenting di lantai.
B ba bagaimana bisa dia menghindar hik!, dan tiba di depanku hik!, secepat ini hik!, batin pria cegukkan.
Sssshhhtttt ...
Pria cegukkan menghirup asap pekat yang muncul tepat di bawah hidungnya. Ia mengernyitkan dahi, tenggorokannya serasa tercekat dan tiba-tiba udara di dalam paru-parunya menyusut hilang dalam sekejap. Sebelum bisa menegang atau bertariak jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.
Bruk!.
"Tidak ada waktu untuk meladenimu." Lirih Hotaru menutup kembali botol racun miliknya dan bergegas pergi.
Pintu besar berwarna putih seakan menyambut Hotaru untuk segera memasukinya.
Hotaru berdiri di samping pintu menempelkan punggungnya ke dinding, pistol sudah berada di genggamannya. Ia mengulurkan tangan hendak membuka pintu tapi terhenti karena melihat Fumio datang.
Mereka saling melempar tatap untuk sesaat, seperti berbicara dengan telephati Fumio segera bergerak tanpa suara mendekati sisi pintu yang lain menempelkan tubuhnya ke dinding dan bersiap dengan pistolnya.
Hotaru menatap Fumio lalu mengangguk mantap begitu juga laki-laki itu.
Tangan Hotaru bergerak membuka pintu.
Ceklek.
Hotaru menarik pintu perlahan membiarkan pintu itu terbuka sendiri sedangkan ia dan Fumio berlindung di balik dinding.
Dor!. Dor!. Dor!. Dor!. Dor!. Dor!.
Pintu yang baru bergerak sedikit itu langsung mendapatkan serbuan tembakan melubangi pintu di banyak tempat.
Krek!.
Pintu kini terbuka penuh. Hotaru memberikan sinyal kepada Fumio.
Dengan lincah dan cepat, Hotaru dan Fumio berguling di lantai secara bersama-sama seraya melontarkan pelurunya ke target di dalam kamar itu.
Dor!. Dor!. Dor!. Dor!. Dor!. Dor!.
Hap.
Hotaru dan Fumio bertukar posisi segera menempelkan kembali punggung mereka ke dinding. Suara tubuh berjatuhan terdengar dari dalam.
Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk.
Di susul suara tembakan membabi buta ke luar pintu. Fumio bergerak menodongkan pistol ke dalam kamar lalu segera berlindung lagi setelah melepaskan dua pelurunya.
Dor!. Dor!.
Bruk. Bruk.
Hotaru memberikan sinyal tangan, ia sudah tidak sabar. Fumio mengerti, ia menyimpan pistolnya di balik tubuh, tangannya menyentuh gagang katana yang menggantung di pinggangnya lalu menatap Hotaru, menganggukkan kepala.
SRET.
Fumio langsung merangsek maju ke dalam, tangannya memutar cepat katana di depan tubuhnya sehingga membuat katana itu berputar layaknya baling-baling helikopter.
Dor. Dor. Dor. Dor. Dor.
Trang. Trang. Trang. Trang.
Mereka di sambut dengan meriah, peluru-peluru yang meluncur ke bagian depan tubuh Fumio terpental karena mengenai bilah tajam dan kuat dari katana hitam itu.
Hotaru tentu saja tidak tinggal diam, sejak Fumio muncul dari persembunyian ia juga langsung berdiri di belakang laki-laki itu melindungi bagian belakang seraya melumpuhkan musuh sebanyak mungkin.
Setelah musuh berkurang Hotaru dan Fumio bergerak ke arah yang berbeda, mereka berpencar mengincar setiap musuh yang ada.
Dor!. Dor!. Dor!.
SRET!. SRET!.
SRET!
Fumio menebas dengan cepat satu tubuh ke tubuh yang lain. Hotaru menembak dengan akurat.
Untuk satu menit yang sibuk tiba-tiba ruangan berubah sepi.
Hening.
Hotaru menurunkan pistolnya berjalan ke arah satu-satunya musuh yang tersisa. Musuh itu duduk bersimbah keringat, menatap nyalang Hotaru.
"Aku sedang menagih nyawa kepadamu." Pria tua itu mengeraskan rahangnya.
"Kami sudah terlalu baik membiarkan kalian selama ini." Pria itu mengepalkan tangan tanpa melepas tatapan tajamnya dari manik Hotaru.
"Sebelum aku mengirimmu ke neraka, siapa yang menghasut kalian untuk menyerang kami?." Tanya Hotaru suaranya sangat dingin.
"Hachibara Ko adalah bagian dari kami, dia sudah berkhianat dan meninggalkan kelompok." Geram pria tua.
"Jangan membuat cerita baru kakek tua." Sergah Hotaru membalas tatapan tajam pria tua tak kalah tajamnya.
"Hachibara Ko keluar dari kelompok secara baik-baik, beberapa pemimpin sepertimu pun mengakui kepergiannya. Bahkan mereka juga tidak berani mengusik Hachibara Ko setelah tahu siapa pendahulunya."
Hotaru mengeluarkan sebuah jarum dari balik baju.
"Tidak masalah jika tidak ingin menjawabnya, karena aku kesini tidak untuk mencari jawaban." Pria tua itu menyipit sinis melihat senyum miring dari balik masker.
"Kau yang pertama, berbanggalah. Setelah ini kami akan mendatangi kalian satu persatu." Suara Hotaru seperti sebuah bisikan yang dingin dan menakutkan.
Jleb!.
Pria tua memelotot lalu terkulai tak bernyawa di kursinya. Hotaru beralih menatap kamera tersembunyi di belakang pria tua. Menatap tajam kamera seakan ingin mengulitinya.
"Larilah, karena kami akan mengejar kalian. Jangan lupakan, kalian telah mengusik siapa!." Setelah memberikan pesan ancaman Hotaru membidik kamera tersembunyi itu dengan pistolnya.
Dor!.
Hotaru dan Fumio tidak langsung keluar dari tempat itu, mereka berkeliling memeriksa setiap sudut rumah mencari jikalau ada yang masih hidup mereka akan membunuhnya detik itu juga.
Setelah di periksa semua dan yakin tidak ada musuh yang masih hidup mereka berdua berjalan ke halaman depan menghampiri Will yang duduk menyandar ke pohon kecil dengan tenang.
Hotaru tersenyum melihat Will.
"Will, kau menepati ucapanmu. Pria yang patut di pertimbangkan." Gurau Hotaru, senyumnya langsung hilang setelah Will membalas tatapannya.
Hotaru dan Fumio berlari secepat mungkin menghampiri anak kecil itu. Darah merembes di pinggangnya yang terbalut kemeja salah satu musuh mereka.
"Maafkan saya tuan muda, saya ceroboh." Kata Will takut-takut.
Padahal sang pewaris memberikan tugas penting kepadanya, tapi Will malah mengecewakan orang yang ia kagumi.
Fumio mempercepat larinya mendahului Hotaru ia akan menjelaskan semuanya kepada Yamazaki agar cepat bergerak.
Pasalnya Yamazaki sudah selesai dengan tugasnya dan sedang menunggu mereka di tempat berkumpul. Mereka tidak menggunakan alat apa pun untuk berkomunikasi menghindari para hacker.
Fumio membuka pintu mobil lebar-lebar, menjelaskan dengan cepat, lalu menunggu Hotaru sampai. Hotaru masuk dengan cepat ke pintu belakang, Fumio segera menutupnya dan duduk di kursi depan.
Yamazaki langsung menancap gas mengebut di jalanan malam yang sepi.
Hotaru melepas masker dan kacamata yang masih terpasang di wajah Will.
"Cepat cari rumah sakit terdekat Takkecchan." Hotaru mengelap keringat dingin di dahi Will.
"Tidak tuan muda, kita tidak bisa ke rumah sakit sembarangan. Polisi akan mencurigai kita nanti." Jelas Yamazaki.
"Tapi kita tidak punya waktu lagi Takeru san." Fumio melirik ke belakang, semua benda yang melekat di wajahnya sudah terlepas.
"Sial, aku tidak bisa mengatur detak jantung seperti Yuki." Geram Hotaru menatap Will yang berkali-kali pingsan lalu terbangun lalu pingsan lagi.
Keadaan anak itu tidak baik-baik saja.
"Aku tahu seseorang yang bisa menolong kita, semoga masih sempat." Ujar Yamazaki menginjak gas semakin dalam.
***
TOKYO, 01 : 01.
"Ojou chan, anda yakin ingin pergi ke sana besok?." Tanya Dazai seraya mengulurkan cairan berwarna hijau kepada Yuki.
"Hm, aku butuh baju itu segera jadi." Jawab Yuki fokus menakar cairan hijau dari tabung satu ke tabung yang lain.
"Ojou chan, sebenarnya apa yang sedang anda buat?." Yuki hanya tersenyum di balik masker putihnya.
Tap. Tap. Tap.
Sret.
Dazai mengerutkan keningnya mendengar kegaduhan di luar.
Ada apa?, kenapa berisik sekali, batin Dazai.
"Sepertinya ada pasien darurat di luar." Ujar Yuki tidak terganggu sama sekali.
"Ada dokter jaga di depan, tapi kenapa masih berisik ya?." Dazai melirik Yuki yang berpakaian lengkap seperti seorang dokter, gadis itu juga memakai soft lens berwarna hijau yang terlihat seperti hijau agak kebiru-biruan karena warna mata aslinya.
Dazai sempat mengagumi penyamaran Yuki.
Tak. Tak. Tak.
Dazai menoleh melihat seorang suster sedang mengetuk kaca laboratorium, ia pun keluar mendekatinya.
"Ada apa?."
"Ada pasien yang segera harus di operasi dok. Dokter yang lain bukan dokter bedah, mereka tidak bisa melakukan operasi, hanya dokter Dazai yang bisa melakukannya." Dazai menganggukkan kepalanya.
"Siapkan ruang operasi saya akan segera ke sana."
"Baik dok." Suster itu segera pergi melaksanakan tugasnya.
Dazai mengetuk kaca dua kali untuk menarik perhatian Yuki, tapi gadis itu malah mengibaskan tangannya acuh menyuruh Dazai untuk pergi saja tanpa mengalihkan pandangannya dari cairan-cairan di atas meja.
Dazai tertawa dalam hati melihatnya. Bahkan Ojou chan tidak rela melepaskan pandangan dari eksperimennya barang sedetik, batin Dazai berjalan cepat meninggalkan laboratorium.
Sudah dua jam setelah kepergian Dazai, Yuki juga sudah selesai membuat eksperimen pertamanya, ia hendak melanjutkannya lagi tapi rasa haus di tenggorokan membuatnya berhenti. Yuki akan keluar sebentar untuk minum.
2 jam yang lalu.
Dazai berjalan cepat menuju ruang operasi ia melihat tiga orang duduk tenang namun raut wajah mereka menunjukan sebaliknya.
Langkah Dazai berubah pelan, ia terkejut dengan orang yang menoleh kepadanya. Manik mereka bertemu, Dazai berubah gelisah.
Kenapa dia ada di sini?, batin Dazai berhenti di depan orang yang sangat lama tidak ia jumpai.
"Syukurlah kamu berjaga malam ini." Kata Yamazaki.
Dazai segera menenangkan dirinya. Ia melirik pintu besar di depannya lalu kembali menatap Yamazaki.
"Sepertinya aku bisa menebak apa yang terjadi." Yamazaki menganggukkan kepala.
"Aku akan segera kembali." Ujar Dazai menepuk pundak Yamazaki sekilas.
"Selamatkan dia." Yamazaki memohon.
"Ung, aku akan berusaha." Setelah mengatakan itu Dazai masuk ke dalam ruang operasi.
Ojou chan, jangan keluar dari laboratorium, kumohon .., jangan keluar, batin Dazai cemas.
Ia tidak bisa menghubungi Yuki karena ponselnya ia tinggal di ruang kerja, Dazai juga tidak bisa meminta tolong kepada suster untuk menyampaikan pesan kepada gadis itu, suster jaga malam lebih sedikit dari saat siang hari, dan mereka kebanyakan sedang berkumpul di ruang operasi ini.
Dazai merapalkan doa semoga nona mudanya tidak meninggalkan laboratorium, Yuki tidak boleh bertemu dengan Yamazaki.
***
Yuki merasa lega bisa menengguk air membasahi kerongkongannya yang kering keronta. Yuki melirik ke bawah, perutnya berteriak meminta di isi, dengan wajah cemberut Yuki berjalan menuju kantor Dazai, laki-laki itu selalu menyimpan cemilan di kantornya ia akan meminta sedikit cemilan Dazai.
Saat Yuki berbelok di lorong sepi ia tidak sengaja melihat ruang operasi masih menyala. Yuki menaikan satu alisnya, sudah dua jam lebih semenjak Dazai pergi dari laboratorium.
Apa Dazai tidak becus dalam bekerja?, batin, Yuki.
Gadis itu mengarahkan kakinya berlawanan dengan kantor Dazai. Lorong panjang itu terlihat sangat lama ia lewati, Yuki juga tidak memperdulikan bayangan seseorang di depan ruang operasi ia hanya menatap lurus pintu besar itu.
Klik.
Yuki mendorong pintu lalu melangkah masuk ke dalam.
Di dalam sana masih ada ruangan lagi, ruangan kaca yang hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk.
Yuki memperhatikan Dazai yang setiap sepuluh detik di seka keringat di dahinya oleh asisten dokter.
Laki-laki itu berusaha untuk tetap tenang dan melakukan tugasnya dengan hati-hati tapi bagi Yuki tidak seperti itu, ia melihat kalau Dazai sangat panik sekarang.
Yuki melirik dua suster yang berdiri tidak jauh darinya, Yuki mendekat dan bicara sebentar. Awalnya mereka terkejut tapi tetap melakukan yang Yuki minta.
Yuki sudah bersiap dengan baju dan sarung tangannya, ia ingin memberitahu orang di dalam bahwa ia akan masuk tapi Yuki urungkan, Dazai akan terkejut nanti dan takutnya perdampak pada operasinya.
Yuki melangkah pelan mengambil posisi di sebrang Dazai, Dazai yang sangat fokus tidak memperhatikan kehadiran Yuki. Yuki menatap luka di pinggang kecil itu, pelurunya sudah di ambil tapi kini Dazai kesulitan dengan luka lain yang mengenai organ tubuh itu.
Yuki sudah mendengar kronologis kondisi pasien dari suster di luar, dan kini Yuki sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Yuki mengulurkan tangannya untuk membantu Dazai, mengarahkan Dazai dengan jarinya, bisa saja Yuki langsung mengambil alih operasi tapi nanti akan membuat Dazai dalam kesulitan.
Dazai dan Yuki bekerja sama dalam diam, kecepatan operasi berubah saat gadis itu tiba, beberapa menit kemudian pasien lolos dari masa kritisnya. Yuki kini sedang menutup sayatan bekas operasi, menjahitnya dengan lihai.
Selesai.
Dazai kini bisa bernafas lega, para suster dan asistennya berseru senang, operasi mereka yang hampir gagal telah berhasil. Dazai ingin berterima kasih kepada dokter yang mau membantunya namun saat ia menatap ke depan, bola matanya hampir melompat keluar. Jantungnya berdegup tidak karuan sekarang, sepertinya Dazai juga perlu berbaring di ranjang operasi.
"Dok, selamat." Ujar asistennya.
"A ah, ya. Aku serahkan pasien kepada kalian." Kata Dazai lalu menarik Yuki keluar dari ruang kaca itu.
"Kalian tolong siapkan kamar pasien." Titah Dazai kepada kedua suster yang menunggu.
"Baik dok. Permisi." Mereka pergi meninggalkan ruang operasi, setelah itu Dazai menatap dalam manik Yuki.
"Apa yang kamu lakukan?." Dazai lupa dia sedang berbicara dengan siapa.
"Membantumu, apa kamu tidak lihat Dazai." Jawab Yuki malas.
Aduh, bukan itu maksudku ... Bagaimana ini, di luar masih ada Yamazaki san, kenapa juga dia harus keluar, batin Dazai frustrasi. Dazai mengingat sesuatu, ia langsung menelan salivanya.
"Bagaimana kamu ke sini?, kamu bertemu dengan orang yang ada di luar?." Yuki menaikan satu alisnya.
Tidak biasanya Dazai berbicara tanpa embel-embel Ojou chan kepadanya. Apa laki-laki itu sudah konslet?.
"Aku tidak tahu orang di luar, aku hanya ingin masuk dan membantumu yang pasti sedang kesulitan." Jelas Yuki lalu melengos pergi.
"Tunggu." Dazai menahan tangan Yuki.
"Apa?, aku lapar." Desis Yuki mulai kesal.
"Maaf, tapi bisakah anda keluar bersama pasien Ojou chan?." Yuki menarik tangannya dari tangan Dazai.
"Tidak." Jawab Yuki paten.
Dazai memutar otaknya cepat.
"Baiklah, tapi kita keluar bersama." Kata Dazai melepas penutup kepala dan seragam operasi Yuki.