Futago

Futago
Teman.



"Kau mendengarku mata empat. Haha." Tawa meremehkan terdengar saling bersahutan.


"Ooi ..! mata empat. Bukankah aku menyuruhmu untuk membeli empat roti kare kenapa disini hanya ada tiga, hah!." Teriak salah satu diantara mereka bertiga, seseorang yang terlihat berkuasa. Meskipun begitu mereka terlihat cukup menakutkan.


Yuki mengamati seorang siswa sedang dibully oleh tiga siswa nakal.


Perundungankah, aku belum pernah melihat yang seperti ini, aku kira hanya ada didalam cerita buku dan film, pikir Yuki.


Buk.


Suara pukulan cukup keras terdengar oleh telinga Yuki.


"Heh, jadilah anak kelas satu yang manis dasar bocah tengik." Ejek mereka.


"Dengar mata empat." Suara dingin dan rendah cukup untuk membuat korban ketakutan.


"Mulai hari ini sampai kami lulus nanti, kamu resmi menjadi pelayan kami." Ancamnya, dilanjutkan suara tawa yang menji*ikan menggema dilorong sepi itu.


Yuki menarik nafas panjang lalu keluar dari tempat persembunyiannya.


"He ..i, kamu disitu ternyata." Seru Yuki melambaikan tangan kepada korban.


Lihat, kamu sukses menjadi pusat perhatian mereka Yu-ki, batin gadis itu mengejek dirinya sendiri.


Yuki melangkah menghampiri mereka berempat dan langsung memasang wajah terkejut setelah tiba di tkp.


"Maaf senpai, ada perlu apa ya dengan orang ini?." Tanya Yuki menatap satu persatu tiga orang yang Yuki pastikan adalah seniornya. Mereka terdiam sebentar karena tiba-tiba ada orang yang datang menghampiri mereka.


"Ara!." Seru Yuki memasang wajah yang ceria.


"Ara ra ra ra, kalian baik sekali. Senpai mau memberikan makanan kepada junior baru?." Tanya Yuki menarik sudut bibirnya seraya melirik anak kelas satu yang berdiri menunduk, ketakutan.


" Ha hah ..?!." Yuki bisa melihat dengan jelas wajah mereka bertiga yang kebingungan.


"Padahal kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk berbuat baik." Lanjut Yuki tidak memberikan mereka kesempatan untuk membalas.


Prok.


Yuki menepuk tangannya didepan dada.


"Senpai. Aku mengerti sekarang, kalian tidak mau ada orang lain yang melihat kebaikan hati kalian, karena itu .., senpai melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Eeeh ... Baik sekali." Yuki berusaha menunjukan senyum terbaiknya.


Melihat Yuki yang terlihat senang dan terkagum-kagum dengan kesalah pahaman itu membuat salah satu diantara mereka merangkul korban perundungan bersikap sok akrab.


"Ya begitulah." Ucapnya.


"Maaf aku terlalur banyak bicara, padahal belum memperkenalkan diri." Kata Yuki hendak membungkuk namun dihentikan oleh pemimpin mereka.


"Tidak perlu, kita sudah tahu siapa kamu. Ayo pergi." Titahnya kepada kedua teman-temannya.


"Yo anak kelas satu, makan, dan cepatlah tumbuh tinggi." Ucap pemimpin mereka seraya memberikan ketiga roti kare kepada anak kelas satu itu.


Yuki tersenyum manis melihat perbuatan mereka tentu saja senyum yang Yuki buat-buat sedemikian rupa. Ketiga anak kelas tiga pun pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Acting yang sangat buruk, dan ... Menggelikan, batin Yuki.


"Menakutkan." Ujar Yuki memungut tas juniornya.


"Memiliki warna mata yang berbeda memang terlihat aneh. Mungkin karena itu mereka mengenalku." Ucap Yuki yang terdengar percaya diri seraya menyerahkan tas itu kepada si pemilik.


"Te-rima kasih." Ucapnya lirih menerima tasnya kembali.


"Apa kamu juga mengenalku?." Tanya Yuki yang sedikit penasaran.


Laki-laki itu mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk, menatap wajah Yuki. Junior itu terdiam, menelan salivanya dengan kasar.


"Aku- baru melihatmu." Jawaban dari juniornya membuat Yuki senang.


"Syukurlah." Gumam Yuki.


"Yabaii (Bahaya), kita telat." Yuki menyadari sesuatu.


"Kita harus segera kembali ke kelas." Yuki segera membalikan badannya hendak pergi namun, ia kembali menghadap juniornya menatapnya sebentar.


"Jika kamu merasa dirimu tidak berguna, kamu salah. Mau berguna atau tidak kamu yang memilih." Laki-laki berkaca mata tebal itu bergeming seketika.


"Orang kuat tidak selalu menang, tapi orang yang memakai," Yuki menunjuk kepalanya.


"Akan selalu mendapat jalan keluar, itu menurutku." Ucap Yuki lalu berlari meninggalkan juniornya.


Setiap lorong yang Yuki lewati sudah sangat sepi, gadis itu mempercepat larinya menaiki tangga. Oh tidak, batin Yuki.


Yuki mengerem kakinya tepat didepan pintu kelas, samar-samar ia mendengar suara gurunya yang sedang mengajar. Dengan tarikan nafas panjang Yuki memantapkan hatinya mengetuk pintu dengan pelan sebanyak tiga kali lalu menggesernya.


"Maaf pak saya terlambat." Ucap Yuki menyesal. Ia tidak pernah telat masuk kelas, tidak sekali pun.


"Dimana tasmu?." Tanya guru matematika datar.


"Disana pak." Yuki menunjuk bangkunya, setelah menemukan tas muridnya guru itu kembali menatap Yuki, intens.


"Dari mana kamu?." Tanyanya lagi. Selamat Yuki kamu berhasil membuat gurumu marah sekaligus mendapatkan bonus menjadi tontonan seisi kelas, batin Yuki mengejek dirinya, lagi.


"Saya habis dari toilet pak." Kilah Yuki berbohong.


"Kerjakan dua soal ini, setelah itu kamu boleh duduk." Perintah mutlak dari guru matematika.


"Hai'." Yuki mengambil kapur (sekolah sma di jepang masih menggunakan kapur), melirik sebentar soal yang tertulis di papan.


Yuki mengisi dua papan tulis penuh dengan jawaban-jawabannya, ia meletakan kapur membungkuk sebentar kepada gurunya lalu berjalan menuju bangku miliknya.


Jam pelajaran yang terasa panjang bagi Yuki akhirnya selesai juga, guru matematik sudah pergi meninggalkan kelas beberapa detik lalu.


"Hachibara san kamu sakit?." Tanya Ueno membalikan badannya.


"Tidak." Jawab Yuki.


"Kamu benar habis dari toilet?." Kini Natsume ikut masuk kedalam obrolan mereka.


"Tidak, sebenarnya aku dari perpus. Ada masalah sedikit tadi karena itu aku terlambat kembali ke kelas." Jelas Yuki yang risih mendapatkan tatapan bertanya-tanya dari kedua temannya itu.


"Sou ka (Begitu ya)." Sahut Natsume lalu mengganti posisi duduknya menyamping menghadap Yuki.


"Ne Ueno chan, kamu bisa bernyanyi?." Tanya Natsume tiba-tiba.


"Eh?. Aku hanya bisa sedikit-sedikit, tidak pantas didengar orang." Jawab Ueno.


"Aku ingin mendengar suaramu." Ucap Natsume dengan nada ceria.


"Bukankah kamu juga bisa bernyanyi, kenapa melemparkannya kepada orang lain." Ucap Yuki melihat raut wajah Ueno yang terlihat gelisah.


"Apa lagi itu masalah klubmu." Kalimat Yuki menghantam telak hati Natsume.


"A ano .., Hachibara san, kata-katamu terlalu kasar." Lirih Ueno.


"Ueno chan tidak apa-apa, ini memang masalah klub band." Natsume mengeluarkan beberapa lembar kertas dari laci mejanya.


"Kami para anggota klub sedang mencari orang yang bisa menyanyikan lagu yang aku buat. Kami berangkat pagi-pagi sekali untuk mencarinya tapi belum menemukannya juga." Jelas Natsume.


"Terus apa yang sedang kamu lakukan disini?." Srobot Yuki.


"Aku sudah menemukan orangnya Yu chan." Jawab Natsume ia tersenyum misterius menoleh menatap Ueno.


"Aku dengar dari salah satu kohai (junior), Ueno chan dulu pernah ikut klub paduan suara, benarkan, Ueno chan." Kata Natsume. Yuki melirik gadis berkacamata yang duduk di depannya.


Ueno tersenyum kaku.


" I tu dulu." Jawabnya terbata-bata.


"Kumohon Ueno chan tolong aku." Natsume menyatukan kedua tangannya menatap penuh harap kepada Ueno.


"Tapi aku anggota klub musik Natsume chan, aku tidak bisa masuk klubmu." Lirih Ueno Natsume mengangkat kepalanya dengan cepat.


"Tidak masalah, kamu hanya perlu menyanyikan satu lagu saja." Sergah Natsume.


"Kami ingin menunjukan betapa kerennya klub band dengan musik kami untuk menarik anggota baru." Jelas Natsume dengan mata berbinar dan senyum yang mengembang.


"Ueno chan, mau ya." Imbuh Natsume memelas.


"Ung, aku akan berusaha membantu sebisaku." Keputusan Ueno, ia tidak tega melihat raut wajah Natsume yang seperti itu.


Sedangkan gadis itu berakting meneteskan air mata bahagia membuat Yuki geleng-geleng kepala.


"Ini, kamu bisa melihat lagunya dulu, nanti istirahat siang kita ke ruang klub untuk latihan." Natsume menyerahkan kertas ditangannya kepada Ueno.


Ueno membaca dengan seksama. Yuki yang sejak tadi menjadi pendengar menopang dagu mengamati setiap ekspresi Ueno. Natsume meremas-remas tangannya sambil tersenyum kecil tidak sabar.


"Natsume chan ini mustahil untukku." Celetuk Ueno menghapus senyum di wajah Natsume.


"Kenapa Ueno chan?." Tanya Natsume.


"Nadanya terlalu tinggi, suaraku tidak bisa setinggi ini. Maaf Natsume chan, aku tidak bisa." Tolak Ueno.


"Kalau belum dicoba kita tidak akan tahu bisa atau tidaknya kan." Sergah Natsume tidak ingin kehilangan Ueno. Yuki sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan melirik isi kertas.


"Maaf Natsume chan." Lirih Ueno. Natsume menatap Ueno sambil tersenyum meskipun ia merasa kecewa.


"Ung, tidak apa-apa. Aku hanya perlu mencari lagi." Kata Natsume dengan nada cerianya.


"Ne Hazuki (Hei ... Hazuki)." Panggil Yuki.


"Nani? (Apa?)." Natsume menoleh kepada Yuki.


"Heeeh ...?." Ueno terkejut mendengar Yuki yang tiba-tiba memanggil nama belakang Natsume.


"Kamu bilang lagu ini kamu yang mebuatnya." Yuki mengambil kertas itu dari tangan Ueno.


"Ueno san bagaimana menurutmu, lagu ini?." Ueno terkejut karena tiba-tiba ditanya.


"Lagunya sangat bagus, membacanya saja membuat jantungku berdegup cepat." Komentar Ueno, Yuki mengangkat satu alisnya.


"Benarkah?, syukurlah. Aku membuatnya semalaman, tadi pagi baru aku tunjukan kepada para anggota, dan kita langsung latihan sedikit dengan lagu ini." Jelas Natsume.


"Wah! sugoii (keren)." Seru Ueno.


"Hehehe tidak juga." Elak Natsume tersipu malu.


"Semalaman." Ulang Yuki.


"Ung." Jawab Natsume semangat.


"Berarti kamu bisa menyanyikannya." Ucap Yuki tanpa mengalihkan pandangannya dari not-not yang tertulis dikertas itu.


"Eh?." Lalu Natsume terdiam.


"Membuat lagu hanya semalam, sangat detail dan rapih. Penjiwaan yang dalam disampaikan dengan lirik yang tepat. Hazuki, kamu bisa menyanyi." Penjelasan Yuki membuat Ueno dan Natsume si pembuat lagu itu sendiri terdiam.


Yuki menurunkan kertas lagu menjauh dari wajahnya. Hal yang tidak pernah Yuki kira dan tiba-tiba terjadi kepadanya.


PLAK.


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Yuki membuat wajahnya terlempar ke samping.


Hening.


Yuki tidak bergerak sedikit pun, ia melihat bola mata Natsume bergetar menahan emosi, wajah gadis itu merah padam. Natsume marah.


Yuki perlahan menoleh mencari si pelaku yang berdiri disamping kanan mejanya.


"Ya?." Tanya Yuki kepada gadis yang sedang menatapnya tajam.


"Cewek tengik. Memangnya siapa kamu! berani sekali melukai hatinya Ko. Karena kamu sejak kemarin Ko selalu murung!." Yuki dengan tenang mendengar omelan perempuan yang ia tebak adalah seniornya.


Berbeda dengan Yuki, Natsume yang merasa tidak terima temannya ditampar langsung berdiri mendorong kursinya dengan kasar.


"Apa yang ka-." Yuki mengangkat tangannya menghentikan Natsume, ia masih terus menatap gadis yang sedang melabraknya.


"Apa yang senpai maksud, Yamashita san?." Tanya Yuki memastikan.


"Seharusnya kamu tidak menolaknya." Geram gadis itu lalu mencengkeram seragam sweater Yuki.


Ah! kapten basket yang kemarin, batin Yuki.


"Dasar arogan, aku muak melihat perempuan sepertimu." Ucap gadis itu penuh penekanan.


"Kamu salah senpai." Ucap Yuki membuat gadis itu semakin marah memperkuat cengkeraman tangannya.


"Yamashita san hanya penasaran denganku, itu tidak bisa disebut rasa suka." Ujar Yuki.


"Tetap saja kamu tidak seharusnya menolak dia, dasar cewek arogan." Balas gadis itu menarik sweater Yuki mendekatkan wajah mereka seraya menatap tajam manik biru itu.


"Istirahat nanti kamu temui Ko dan katakan padanya kamu menerima dia menjadi pacarmu." Titah gadis itu, Yuki membalas tatapan tajam seniornya dengan tatapan lembut.


Yuki mengangkat tangannya menepuk pelan pundak gadis itu membiarkan tangannya tetap berada disana. Yuki tersenyum lembut membuat gadis itu terkejut, tidak ia sadari tangannya mengendur kan cengkeraman di sweater Yuki.


"Senpai ..." Suara tenang dan lembut yang keluar dari bibir Yuki menyihir setiap telinga yang mendengarnya.


"Orang sepertiku tidak pantas untuk Yamashita san, ada yang lebih pantas bersanding dengannya. Senpai sangat cantik, memiliki garis alis yang tegas dan bulu mata yang tebal membuat senpai terlihat menawan." Gadis itu tertegun dengan respon yang ia dapat.


"Perasaan kuat dan tulus itu aku tidak bisa merusaknya. Senpai sangat menyukai Yamashita san bukan." Tebakan yang tepat dari Yuki membuat gadis itu melepas cengkeramannya.


"Percaya dirilah, jangan sampai senpai menyesal." Ucap Yuki meremas pelan pundak seniornya memberikan dukungan.


"Ganbatte kudasai (Semangat)." Tambah Yuki.


Gadis itu menutupi air matanya yang jatuh dengan kedua tangan, Yuki tersenyum seraya menarik tangannya kembali.


"Maaf." Ucap gadis itu menurunkan tangannya, membungkuk.


"Tidak apa-apa." Jawab Yuki.


"Aku pergi." Pamitnya.


"Hai'."


Yuki menatap punggung gadis yang berlari keluar kelas. Ternyata begini rasanya dilabrak kakak kelas, batin Yuki. Sudah dua orang berhasil menamparku, untuk selanjutnya tidak akan aku biarkan, geram Yuki dalam hati.


"Haah." Desahan lega keluar dari mulut Ueno dan Natsume. Natsume mendekati Yuki memegang dagunya memeriksa bekas tamparan dari senior tadi.


"Merah, pasti sakit." Kata Ueno.


"Sial. Senpai itu main tampar saja." Geram Natsume kesal.


Plak.


Yuki menampar tangan Natsume pelan.


"Lepaskan tanganmu." Titah Yuki lirih, Natsume melepaskan tangannya dan kembali duduk.


"Hachibara san kamu sangat keren tadi." Ucap teman sekelas Yuki yang entah sejak kapan sudah mengerubungi mejanya.


"Tidak." Elak Yuki.


"Kenapa kamu tidak marah tadi? kalau aku jadi kamu sudah aku tarik rambutnya." Seru yang lain, Yuki hanya tersenyum miring.


"Hachibara san baik sekali." Srobot yang lain.


"Tidak." Tolak Yuki.


"Hachibara san juga rendah hati, tidak mau mengakuinya."


"Hachibara san seperti malaikat."


Tidak kalian salah. Aduh bisakah kalian pergi, telingaku berasa mau pecah, rutuk Yuki dalam hati.


"Hachibara san jangan-jangan laki-laki yang kalian maksud adalah Yamashita Ko kapten tim basket?." Tanya salah satu teman kelas Yuki.


"Waah benarkah?." Sahut yang lain langsung menatap Yuki menunggu jawaban.


"Ung." Jawab Yuki singkat. Celotehan kembali berlanjut.


Tolong aku ...!, jerit Yuki dalam hati.


***


Istirahat siang. Yuki bersembunyi dari orang-orang yang berusaha mendekatinya, ia menikmati bekal makan siang didekat taman belakang sekolah.


"Ketemu." Suara yang sangat Yuki hafal. Natsume duduk disamping Yuki membuka bekalnya.


"Tadi pagi ada orang yang mencarimu." Kata Natsume.


"Hm."


" Bagaimana dengan ketua klub fotografi, kamu sudah bertemu dengannya?." Tanya Natsume memasukan sesuap bekalnya kedalam mulut.


"Sudah." Jawab Yuki.


"Terus?." Lanjut Natsume.


"Aku tolak." Natsume melirik Yuki disampingnya.


"Apa kamu terganggu dengan mereka?." Yuki menengguk minumannya.


"Aku tidak paham dengan orang-orang disini, mereka dengan mudahnya menyatakan perasaan kepada orang yang belum dikenal." Rutuk Yuki tanpa sadar, Natsume kembali fokus dengan bekalnya.


"Karena mereka tidak ingin orang yang disukai diambil orang lain." Jawaban Natsume dapat diterima oleh otak Yuki.


"Ne Yu chan."


"Hm?."


"Perasaan suka yang tumbuh tidak bisa ditebak dengan siapa, dimana, dan kapan. Mungkin hanya dengan melihat wajahnya saja tiba-tiba membuat jantungmu berdebar atau dengan aroma tubuhnya, suaranya, kepribadian, atau pun kebaikan hatinya. Banyak perantara yang bisa membuat seseorang jatuh cinta tergantung hati masing-masing." Natsume menatap Yuki yang entah sejak kapan sudah menatapnya lebih dulu.


"Apa kamu sadar betapa sempurnanya dirimu?." Tanya Natsume.


Dalam hati Yuki tersenyum mengejek dirinya.


"Tidak ada manusia yang sempurna." Sanggah Yuki.


"Mungkin." Sahut Natsume.


Hening.


"Bagaimana kamu tahu aku bisa bernyanyi?." Tanya Natsume mengganti topik.


"Hanya tahu saja." Jawab Yuki.


Natsume menutup kotak bekalnya, matanya menerawang jauh ke depan sana.


"Saat pertama kali melihatmu aku yakin kamu tidak seperti mereka yang mendekati seseorang dengan maksud lain, tega mengorbankan orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hanya kamu sebagaimana apa adanya, itu yang aku lihat dari matamu saat itu Yu chan." Kata Natsume panjang lebar.


"Apa ini? kamu sedang berkeluh kesah kepadaku, menggunakan pesan tersirat." Natsume tertawa mendengar jawaban Yuki.


"Aku tidak bisa bernyanyi lagi, itu yang ingin aku katakan." Natsume tersenyum, senyum yang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Tentu saja Yuki tidak akan tertipu oleh senyuman Natsume.


"Apakah dengan tersenyum bisa menghilangkan rasa sedih?." Pertanyaan Yuki lagi-lagi menohok hati Natsume.


"Kamu harus mencobanya sendiri." Jawab Natsume.


"Kita belum bertukar nomor." Lanjut Natsume mengeluarkan ponselnya.