Futago

Futago
Sang Putri Klan.



Yuki perlahan mendudukan dirinya bersandar ke kepala ranjang menarik nafas panjang sejenak. Menyulam kembali ingatan dan informasi yang baru ia dapat.


Korban satu-satunya?, lebih baik tidak ingat dan membiarkan semuanya terjadi tanpa mengetahui apa pun?, tetap melanjutkan dengan nyawa sebagai taruhan?, batin Yuki bibirnya tersenyum miring.


Tangan kanan gadis itu yang terdapat infus bergerak menutupi seluruh wajahnya. Ingatan akan rasa sakit mengerikan di dalam laut merah darah berputar kembali. Badannya bergetar, seakan masih merasakan perasaan berada di dalam sana. Tangan Yuki bergerak turun ke leher, merasakan lilitan rantai dingin yang menghancurkan tenggorokannya.


Jadi, aku akan merasakannya lagi?, hahaha ... Lelucon hidup macam apa ini?, batin Yuki menundukkan kepalanya.


Jangan menangis, tidak akan ada yang berubah hanya dengan menangis. Yuki, aku ingin lari dari lelucon ini tapi aku tidak bisa. Aku mengingatnya, mengingat mereka. Sulit untuk pergi tapi juga sulit untuk masuk lebih dalam. Para bayangan bergantung kepadaku, jika Hotaru di sini apakah iblis itu juga di sini?, apa yang harus aku lakukan?, Yuki meremas piamanya tepat di jantung.


Menyakitkan, bolehkah aku menyerah?, lanjut Yuki dalam hati.


Ceklek.


"Ojou chan." Dazai berjalan cepat menghampiri Yuki.


"Apa ada yang sakit?. Kenapa anda bergerak sendiri?. Anda tidak bisa tidur?. Saya periksa ya." Srobot Dazai, Yuki terkikik geli.


Mizutani berjalan berdiri di samping Dazai.


"Tidak apa-apa. Je!." Panggil Yuki, burung hantu itu terbang masuk ke dalam kamar.


"Kamu sudah lebih baik?." Tanya Mizutani mendengar suara Yuki yang sedikit bertenaga dan kelopak matanya yang sudah sepenuhnya terbuka.


"Eum, besok aku harus berangkat ke sekolah. Je ambilkan lagi cairan pemulihan tubuh." Mizutani melirik burung hantu itu sekilas.


"Kondisimu tidak memungkinkan untuk pergi, istirahatlah yang banyak." Tegas Mizutani.


"Dai chan, darahku habis." Tegur Yuki menunjuk kantung darahnya mengabaikan Mizutani.


"Oh, baik."


"Yuki, ada pergerakan." Lapor Je melayang di depan wajah Yuki dengan botol kecil di tangan robotnya.


"Dimana lokasinya?." Yuki mengambil botol dari Je.


"Hiroshima, pertemuan ilegal antar mafia." Mizutani menatap tidak suka kepada Je.


"Kapan?."


"Sekarang." Yuki melirik Dazai yang sudah selesai mengganti kantung darah, mengulurkan botol itu kepadanya.


"Tolong suntikkan itu sekarang." Dazai sedikit ragu-ragu, pasalnya baru beberapa jam yang lalu ia menyuntikkannya bukankah jaraknya teralu cepat.


"Sekarang." Tegas Yuki.


Mizutani dan Dazai merasa bahwa Yuki berubah kembali menjadi gadis cuek, dingin seperti biasanya. Dazai melakukan apa yang Yuki minta.


"Tolong angkat aku ke meja belajar." Dazai melirik Yuki lalu Mizutani.


"Baik." Ucap Mizutani meraup tubuh Yuki dan Dazai memegangi besi dengan infus dan kantung darah yang tergantung.


Mizutani meletakan Yuki perlahan. Gadis itu tidak mempedulikan dua jarum di tangan kanan dan kirinya, jarinya bergerak di atas keyboard.


"Je, tampilkan layar." Titah Yuki. Burung hantu itu hinggap di pundak kanan Yuki.


Layar komputer berubah menjadi peta jepang lalu memperbesar di titik lokasi yang di maksud.


"Kamu harus meretas salah satu cctv atau mengirimkan drone ke sana Yuki." Saran Je.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu."


Yuki memilih meretas cctv, terlalu sulit untuk menemukan drone di dekat lokasi, jika ia menemukannya pun untuk mengirimkan drone ke lokasi membutuhkan waktu, mungkin mereka akan ketinggalan informasi penting.


Mizutani dan Dazai hanya diam melihat apa yang di lakukan Yuki. Gadis itu sangat fokus, tangannya bergerak cepat menahan rasa sakit akibat jarum dan pergerakan tangannya. Mereka tidak bisa melarang Yuki atau gadis itu akan memberikan perintah kepada burung hantunya untuk melumpuhkan mereka.


Ting.


Empat cctv berhasil di retas, pemandangan gudang dengan tumpukan drim-drim besar dan penerangan yang seadanya. Satu lampu di tengah ruangan menyorot dua kubu bersebrangan. Yuki segera meretas salah satu ponsel milik mafia tersebut melalui jaringan yang tertangkap oleh komputernya. Speaker komputer menyala menangkap percakapan mereka melalui ponsel yang ia retas.


"Kali ini pun dia tidak datang HAAAHH ..!?." Kubu pakaian berjas hitam berteriak marah.


"Bisakah kau tidak menggonggong?." Ejek kubu berpakaian serba navy.


"Tutup mulutmu kep*rat!. Pemimpinmu bersembunyi di saat kami sedang dalam situasi terdesak seperti ini!." Teriak kapten kubu jas hitam.


"Hahaha, kalian menangani ikan teri seperti mereka saja tidak becus. Kita pernah mengalahkan mereka, kenapa sekarang kalian ketakutan dan mencari perlindungan kepada kami." Dazai dan Mizutani tertegun dengan pembicaraan kedua kubu saling berhadapan itu.


"Brengs*k! dulu siapa yang mengemis meminta bantuan untuk melawan mereka!. Kami tidak mau tahu cepat suruh pemimpin kalian keluar dari persembunyiannya atau kami akan menghancurkan kalian." Ancam kapten jas hitam.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu?. Bagaimana jika kalian yang runtuh duluan, mereka seperti hewan buas yang sedang kelaparan bukan?. Hanya tinggal berapa bulan lagi mereka akan datang kepada kalian?."


Zeb. Zeb. Zeb. Zeb. Zeb.


Kubu jas hitam sudah siap dengan pistolnya, melihat itu kubu navy tetap tenang dan mengirimkan senyum mengejek. Yuki memperbesar layar, memfokuskan kepada kapten kubu navy, Yuki segera menscan wajah pria itu dan beberapa anak buahnya di belakang.


"Je, save." Titah Yuki. Yuki kesal, ia sangat membutuhkan satu komputer lagi sekarang. Jika dia memiliki lebih dari satu komputer pasti ia sudah bisa melacak informasi tentang kapten kubu navy sekarang juga.


Video terus berlanjut, perpecahan diantara dua kubu terjadi. Licik dan menjijikan, itulah yang ada di kepala Yuki saat melihat kubu navy meladeni kubu jas hitam. Kapten kubu navy dan beberapa orang berposisi lebih tinggi langsung di lindungi oleh orang-orang yang berada di barisan paling belakang. Mereka menerima serangan peluru dari kubu jas hitam sedangkan kapten mereka dan anggota penting berjalan pergi menyelamatkan diri.


Meski mereka menggunakan rompi anti peluru tapi tetap saja kepala mereka tak terlindungi. Lalu maju lagi barisan ke dua dari belakang melemparkan granat dan botol bensin dalam waktu bersamaan, meninggalkan rekan mereka yang mungkin masih bisa tertolong.


Pemandangan ekstrim itu berhenti dengan kobaran api besar merusak kamera cctv. Yuki menggerakkan jarinya mengecek daerah-daerah lain.


"Thanks Je." Lirih Yuki.


"Tentu, apa kamu ingin aku melacaknya?." Yuki mengusap lembut burung hantu di pundaknya.


"Aku akan melakukannya nanti, kamu istirahatlah." Ujar Yuki mengangkat burung hantu itu di samping foto kakeknya.


"Yuki, dayaku masih penuh." Gadis itu tersenyum, tentu saja karena ia membuatnya seperti itu. Bahkan jika selama satu bulan Je tidak di isi daya pun burung hantu itu masih bisa melakukan semua tugasnya.


"Kamu ingin pulang?." Pertanyaan tiba-tiba Je membuat Yuki terkejut.


"Kemana?." Tanya balik Yuki melirik foto kakeknya.


"Ruangan rahasia." Yuki diam, ia setuju dengan burung hantu itu.


Diruang rahasia miliknyalah Yuki bisa merasakan ke bebasan, ia merasa menjadi dirinya sendiri, tanpa merasakan beban berat hidup di pundaknya atau memikirkan hal-hal menyakitkan tentang Ayumi atau ayahnya yang membuat Yuki menjadi boneka perusahaan.


"Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau." Yuki lagi-lagi terkejut.


"Kamu benar Je, aku masih memiliki rumah untuk kembali." Yuki tersadar, hanya ruang rahasianyalah yang menerima dia sepenuhnya.


Je tiba-tiba kembali melayang ke depan wajah Yuki.


"Kamu memiliki kami semua. Jangan pasang wajah seperti itu Yuki. Kamu selalu tertawa dan antusias ketika bersama kami." Yuki tersenyum lebar mendorong burung hantu itu dengan jarinya.


"Aku sedikit bersyukur telah memberikan program analisis mimik wajah dan pergerakan mata kepadamu. Aku juga kesal karena kamu mengatakannya di depan orang lain." Ujar Yuki berhenti mendorong Je.


"Istirahatlah Je, tugasmu selesai hari ini. Besok pukul lima pagi ambilkan lagi cairan pemulih tubuh dan letakan di dekat nakas."


"Di konfirmasi." Je kembali ke posisinya.


Yuki diam, meletakan informasi lain di dalam kepalanya. Ia lelah, tapi ia sudah sejauh ini, ia harus segera mengambil keputusan.


"Ojou chan, apa yang telah kami dengar tadi?. Ruang rahasia?, dan mereka tadi?." Dazai sedikit paham dan tidak paham. Yuki memutar kursinya menghadap kedua bayangan.


"Bagaimana Tsuttsun?. Apa kamu ingin bekerja sama denganku dan mengabaikan perintah ayah?." Dazai terkesiap.


Mizutani paham dengan apa yang ia lihat dan ia dengar, dirinya dan para ketujuh bayangan yang lain masih berusaha mencari dalang dari penyerangan dan masih belum membuahkan hasil, sedangkan gadis ini hanya duduk di depan komputernya lalu mendapatkan informasi penting. Yuki sedang mencoba bernegosiasi atau gadis itu sedang merencanakan sesuatu?.


"Saya tidak akan merusak perintah ketua." Jawab Mizutani.


"Berarti apakah kamu akan melaporkan semua yang aku lakukan kepada ayah?." Yuki dan Mizutani saling menatap satu sama lain.


"Tidak."


Mizutani tergoda dan tertarik dengan tawaran Yuki. Ia mencoba untuk mengorek informasi dari Yuki.


"Tapi tentu saja itu tidak gratis." Ucap Yuki setelah membaca sorot mata Mizutani.


"Saya bisa menawarkan bantuan para bayangan untuk anda." Ujar Mizutani, negosiasi mereka di mulai.


"Aku tidak memerlukannya." Tolak Yuki.


"Bagaimana dengan bengkel kakek Ryuu?."


"Tidak perlu, ada Dai chan yang membantuku masuk." Tolak Yuki.


"Aku akan melarang Dazai mengantarkanmu lagi." Yuki tersenyum miring.


"Apa kamu pikir aku tidak bisa menerobos masuk Tsuttsun?." Yuki menunjuk punggung tangannya seraya berkata.


"Aku tinggal memasang tato klan dan masuk tanpa kalian." Dazai menganga mendengar negosiasi tingkat atas itu, Yuki sudah sangat mirip dengan tetua pemimpin klan-klan pada umumnya.


"Berikan aku tawaran menarik Tsuttsun." Mizutani tersenyum.


"Apa yang anda inginkan ojou sama?." Yuki tersenyum lebar mendengar panggilan itu, Mizutani sudah mengalah kepadanya.


"Jangan ikut campur urusanku jika aku memerintahkan itu kepada kalian." Mizutani dan Dazai menatap tidak setuju kepada Yuki.


"Ojou chan." Tegur Dazai.


"Apa yang anda rencanakan?." Sergah Mizutani.


"Bukan hal besar, jadi?."


"Jelaskan kepada kami apa yang anda rencanakan ojou chan." Dazai khawatir, yang di takutinya ternyata benar. Yuki bergerak diam-diam selama ini.


"Tidak. Dai chan, aku tidak perlu informasi dari kalian, kalian juga tidak perlu tahu tentang isi kepalaku." Balas Yuki membuat keduanya terdiam.


"Ojou chan, menghadapi anda yang seperti ini lebih sulit dari pada anda yang bertingkah seperti dulu." Celetuk Dazai mengacak rambutnya sendiri.


"Dulu dan sekarang sangatlah berbeda, jangan bayangkan gadis kecil manja yang suka tersenyum kepada kalian dan bertingkah jahil kepada siapa pun." Dazai menatap manik biru itu.


"Maaf, anda benar." Ucap Dazai.


"Baiklah, saya setuju dengan permintaan anda." Ucap Mizutani pada akhirnya. Dazai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Baik, sekarang. Informasi apa yang ingin kalian dengar?." Mizutani berpikir.


"Saya ingin beberapa informasi." Yuki menaikan satu alisnya.


"Tentu."


"Apa yang anda ketahui tentang dalang di balik penyerangan kediaman utama?."


"Hanya informasi kecil, ciri fisik dan julukan orang itu." Ujar Yuki.


"BD Bloody Death. Menariknya, dia tidak memiliki ibu jari dan jari telunjuk di tangan kanannya." Dazai mendengarkan dengan baik.


Sudah sejauh mana anda mencari informasi penting itu, batin Dazai.


"Kapan para pelindung akan menyerang kelompok musuh lagi?." Tanya Mizutani.


"Pada musim dingin, bulan desember." Jawab Yuki.


"Apa anda akan pergi ke penyerangan itu?." Srobot Dazai. Yuki melirik pria itu.


"Ya, aku tidak bisa membiarkan satu-satunya kunci untuk menemukan BD mati begitu saja." Mizutani mengerutkan alisnya.


"Kota mana yang akan di serang?." Yuki kembali menatap Mizutani.


"Kyoto."


Deg!.


Disana ya, batin Mizutani.


"Ojou chan, itu kan tempat yang anda pertanyakan saat menunjukkan kami peta dan pergerakan kelompok musuh?. Jangan-jangan sejak awal anda sudah mengetahui rencana para pelindung?." Dazai mencoba menebak rencana Yuki.


"Ya, pola penyerangan yang dilakukan para pelidung yang pernah aku katakan. Aku berhasil membacanya, bahkan tanggal dan jam penyerangan tertulis jelas di sana. Keren bukan, garis-garis aneh tidak jelas ternyata menyembunyikan banyak sekali rahasia bak sebuah laporan." Jawab Yuki maniknya sedikit mengkilat ciri khas saat gadis itu sangat tertarik dengan sesuatu.


"Tanggal berapa penyerangan selanjutnya?." Mizutani was-was.


"Dua puluh empat desember, jam setengah dua belas malam."


Bohong!, tanggal itu, batin Dazai.


"Apa kamu tahu tanggal apa itu Yuki?." Gadis itu menaikan satu alisnya.


"Apa?." Yuki merasakan sesuatu yang ganjil.


"Kamu tahu berapa orang pelindung yang akan menyerang?." Mizutani tidak menjawab Yuki.


"Mungkin lebih dari sepuluh orang, mereka berniat menyerang besar-besaran. Pemimpin kelompok musuh tertua ke dua yang paling di hormati ini sepertinya sudah bersiap kapan pun para pelindung menyerang." Jelas Yuki.


"Akan ada pertumpahan darah." Lirih Mizutani.


"Tsubaki ini." Dazai menatap pemimpin bayangan.


"Ya, aku tahu. Kita akan melakukannya." Ujar Mizutani membalas tatapan Dazai, dokter itu mengangguk mantap.


"Yuki." Mizutani beralih menatap serius gadis itu.


"Hm?."


"Kami akan melakukan apa pun kecuali menerima perintahmu, dan sesuai perjanjian di awal kami tidak akan ikut campur jika kamu memintanya seperti itu. Sebagai gantinya ceritakan kepada kami semua yang kamu ketahui tentang rencana-rencana mereka." Pinta Mizutani.


"Tidak." Tolak Yuki.


"Ap?. Ojou chan." Tegur Dazai.


"Keuntungan apa yang aku dapat jika melakukannya?. Informasi yang telah aku berikan sangatlah berharga dan aku memberikannya cuma-cuma. Menuruti keinginanku untuk tidak ikut campur dengan semua informasi tadi tidaklah seimbang, di sini aku yang dirugikan Tsuttsun." Ucap Yuki menatap tegas manik Mizutani.


"Mari kita bekerja sama." Mizutani mengalah seutuhnya, ia tidak memiliki cara lain agar Yuki tetap berada di dalam perlindungan mereka.


"Aku tidak memerlukannya, aku lebih suka bergerak sendiri." Tolak Yuki.


"Satu banding sembilan. Akan lebih mudah jika bersama-sama." Kekeuh Mizutani berusaha menarik Yuki agar berubah pikiran.


"Hahaha .., jangan bercanda Tsuttsun." Yuki yang tertawa membuat kedua pria itu diam, berpikir dimana yang lucu.


"Jika para bayangan ikut bersamaku menggagalkan penyerangan itu bukankah kalian akan di benci oleh para pelindung?." Pria-pria itu diam.


"Mungkin kalian bisa menyamar, tapi jenis bela diri kalian tidak bisa melindungi identitas kalian." Tambah Yuki.


"Lagi-lagi anda benar." Ucap Dazai.


"Tidak bisakah anda tidak bergerak sendiri?." Lanjut Dazai memohon kepada Yuki.


"Tsuttsun," Mizutani segera menyerobot Yuki.


"Tanggal dua puluh lima adalah hari ulang tahun anda." Yuki mengedipkan matanya beberapa kali.


"Di jepang, dan bertemu dengan pelindung yang lain. Saya sangat khawatir jika kejadian tadi sore terulang lagi." Lanjut Mizutani.


"Ya ampun, aku sendiri lupa hari ulang tahunku. Itu tidak penting Tsuttsun. Tidak penting sama sekali, hari ulang tahunku sama saja seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang istimewa, hanya bertambah satu angka." Jelas Yuki.


"Kami akan berada di sana, pada malam tanggal dua puluh empat." Tegas Mizutani dengan suara rendah, memojokan Yuki. Gadis itu menatap tajam manik Mizutani, wajah dingin dan suara datarnya menegaskan bahwa ialah sang putri klan.


"Dan jangan coba-coba kalian mendekat lebih dari lima ratus meter." Dazai menelan salivanya, Mizutani membungkuk dalam lalu keluar meninggalkan kamar Yuki.