
"Kamu tahu apa yang sedang terjadi denganku?." Tanya Yuki.
"Hm."
"Apa yang kamu ketahui?."
"Semuanya."
Yuki diam tidak menyangka bahwa pria yang beberapa bulan ini mengamatinya ternyata tahu segalanya yang mungkin Yuki tidak pernah bayangkan.
Kata semuanya memiliki arti sangat luas, apa Mi chan juga tahu tentang penyakitku?, batin Yuki.
Mizutani yang melihat wajah serius Yuki kembali membuka suaranya.
"Hanya aku yang tahu, aku dan ayahmu." Yuki menaikan satu alisnya.
"Itu bocoran besar yang aku berikan kepadamu, bisa kamu merahasiakannya?." Yuki mengangguk mantap.
"Lakukan apa pun yang kamu inginkan tapi mulai dari sekarang hubungi aku jika sesuatu terjadi." Ucap Mizutani memberikan senyum tipisnya kepada Yuki dan berlalu pergi.
Yuki berjalan menuruni tangga hendak ke kamar mandi, ia melihat Mizutani sedang membaca koran di kursi meja makan sedangkan Masamune sedang sibuk dengan kompornya.
Serasi, batin Yuki lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan rutinitas mandi pagi Yuki duduk di hadapan Mizutani.
"Tidak berangkat latihan?." Tanya Yuki menerima semangkuk nasi dari Masamune.
"Hari minggu tidak ada latihan." Jawab Mizutani melipat koran di tangannya.
"Boleh minta sesuatu?." Masamune melirik Yuki menarik kursi di samping gadis itu.
"Apa ..?."
"Pergi ke kolam renang." Masamune menyiapkan nasi untuk Mizutani.
"Mau yang umum atau pribadi?." Tanya Mizutani.
"Pribadi, jangan ada orang lain." Mizutani menerima mangkuk nasinya.
"Setelah sarapan kita berangkat."
"Ung." Yuki mulai memakan sarapannya secara perlahan.
Bibirnya memang masih terluka tapi sudah jauh membaik jika Yuki berhati-hati dan tidak ceroboh darah tidak akan keluar.
Yuki duduk di kursi belakang, ia memakai celana jeans pendek dan kaos hitam pendek. Alunan musik klasik dari depan menemani perjalanan mereka.
Lagi-lagi Yuki merasa aneh dengan situasi itu, Mizutani dan Masamune duduk di kursi depan, mereka seperti keluarga yang sedang melakukan perjalanan.
"Kalian tunggu di sini sebentar, aku akan bicara dengan manajer mereka." Ucap Mizutani berjalan meninggalkan parkiran.
"Apa kamu membawa bik*ni mu?." Tanya Masamune sedang bersiap turun dari mobil.
"Hm." Gumam Yuki meraih ranselnya.
"Hari minggu biasanya banyak pengunjung yang datang. Oh kenapa tadi tidak mengajak Hajime kun dan Keiji kun bergabung dengan kita." Masamune tiba-tiba mengingat kakak beradik itu.
"Aku akan menghubungi mereka."
Yuki mengambil ponselnya mengetik sesuatu.
"Ayo kita masuk." Mizutani sudah kembali ke mobil mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Aku mengajak senpai dan Keiji kun apa tidak masalah?." Tanya Yuki.
"Ung, nanti aku akan memberi tahukannya ke penjaga loket." Jawab Mizutani.
Mereka berjalan memasuki tempat kolam renang yang cukup besar. Sepi, tentu saja, Mizutani sudah menyewa tempat itu satu hari penuh. Masamune melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang. Hanya terlihat penjaga kios di ujung sana.
"Mi chan menyewa tempat ini untuk kita." Bisik Yuki kepada Masamune.
"Eeeh ..?!." Masamune terkejut.
"Semuanya?." Yuki mengangguk.
"Pasti mahal." Gumam Masamune.
Ada empat jenis kolam renang dengan dua wahana besar di sana, dan berbagai macam fasilitas menarik, berapa bulan gaji untuk menyewa tempat sebesar ini, batin Masamune berjalan mengikuti Yuki.
"Mi chan tolong pegang ini." Mizutani melirik tangan Yuki yang mengulurkan ransel dan ponsel.
"Kamu mau kemana?." Tanya Mizutani menerima dua barang itu.
"Ruang gantinya di sebelah sana, ayo kita ke sana dulu." Ajak Masamune.
Yuki tidak menjawab ia melepas sepatunya, Yuki sudah bersiap-siap tidak menggunakan kaos kaki sejak berangkat dari rumah.
"Aku berenang dulu." Ujar Yuki berlari lalu melompat terjun ke dalam air.
Yuki sudah tidak sabar ketika matanya melihat kumpulan air di dalam kotak persegi panjang yang besar itu, ia sudah menanti-nantikan tubuhnya tenggelam dan berenang bebas.
Mizutani dan Masamune hanya melihat Yuki yang berenang ke sana kemari dengan lincah, gadis itu seperti ikan yang bertemu dengan air.
"Dia kelihatan sangat senang." Kata Masamune. Mizutani terus menatap Yuki.
"Aku akan mengganti bajuku sebentar, permisi." Pamit Masamune.
Mizutani berjalan ke salah satu kursi di pinggir kolam.
Yuki mengeluarkan kepalanya dari dalam air mengambil nafas panjang dan kembali menenggelamkan tubuhnya, ia terus turun ke dasar kolam. Yuki menekuk kedua lututnya meletakan kedua tangan di atas lutut menghadap ke atas membiarkan telapak tangannya terbuka. Perlahan kelopak matanya menutup.
Mizutani mengamati Yuki yang sedang melakukan semedi di dalam air. Wajah gadis itu sangat tenang.
"Mizutani san, tidak ikut berenang?." Tanya Masamune yang melihat pria itu tetap duduk di tempatnya.
"Nanti." Jawab Mizutani melirik sebentar ke arah Masamune yang mengangguk singkat.
Sudah dua menit Yuki masih senantiasa dengan posisinya. Yuki merilekskan tubuh dan pikirannya, menata satu persatu semua kejadian, menyusun rencana yang lebih matang. Dirasa paru-parunya membutuhkan udara ia bergerak ke permukaan lalu kembali tenggelam ke dalam air.
"Dia seperti ikan."
"Ikan apa yang mirip dengannya?."
"Ikan hiu."
"Pfftt, Keiji kun apa Yuki semenakutkan itu?." Masamune bergabung ke dalam obrolan kakak beradik yang baru datang.
Yuki bergerak ke pinggir kolam menaiki tangga, ia berjalan menghampiri Mizutani dan Masamune, Yuki terkejut, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
"Yuki .., kamu tidak boleh berenang menggunakan baju seperti itu." Protes Masamune.
"Aku tidak memilikinya." Jawab Yuki datar.
"Apa?." Tanya Masamune.
"Bik*ni." Masamune bengong.
"Kamu berbohong padaku?, kamu mengatakan sudah membawanya tadi." Protes Masamune.
"Tidak masalah, disini juga di sediakan segala jenis bik*ni." Ucap Masamune menarik tangan Yuki.
"Tidak mau." Tolak Yuki memegang lengan Mizutani.
"Yuki ..." Panggil Masamune, Yuki yang tadinya melihat punggung terbuka Masamune langsung mengalihkan pandangannya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan memakai baju mengerikan itu." Ucap tegas Yuki.
"Hah ..?, kamu perlu memakainya jika ingin berenang." Masamune kembali menarik Yuki, Yuki semakin erat memegang lengan Mizutani.
"Tidak akan." Tolak Yuki lagi.
"Kamu tidak perlu malu, toh aku sudah melihat tubuhmu." Yuki sontak melotot menatap Masamune, dan untuk kesekian kalinya Yuki mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat tubuh Masamune yang hanya tertutup kain kecil itu.
"Masa san yang memaksaku." Protes Yuki.
"Kalau tidak seperti itu kamu tidak akan mandi." Balas Masamune.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Elak Yuki tidak menyerah.
"Apa kamu nyaman berenang dengan pakaian seperti itu?." Yuki menoleh ke belakang mendapati Keiji berdiri bertelanjang dada dengan handuk di tangannya. Yuki memutar bola matanya.
Benar, di sini sangat bebas, dimana hilangnya rasa malu para kaum wanita, batin Yuki.
"Tentu saja, bahkan tidak jarang aku berenang menggunakan piyama tidur."
Jawaban Yuki menimbulkan keanehan diantara orang-orang di sana.
"Orang tuamu tidak marah?." Tanya Masamune.
"Kenapa marah." Mizutani tersenyum simpul.
"Kamu benar-benar masih polos." Komentar Masamune.
"Apanya?!." Protes Yuki sedikit terpancing.
"Jangan-jangan, aku orang pertama yang melihat tubuhmu." Ucap Masamune, matanya jail melirik ke arah perut Yuki.
"Sudah banyak suster yang melihat tubuhku." Jawab Yuki.
Hening.
Masamune merasa tidak enak telah membuat Yuki mengingat hal itu, tangannya perlahan melepas tangan Yuki.
Yuki menyadari perubahan hati Masamune, ia berinisiatif mendekati wanita itu.
"Yuki." Lirih Masamune.
"Hm?." Yuki menaikan satu alisnya dan ...
BYUUUURRR.
Yuki mendorong Masamune masuk ke dalam air, gadis itu menyunggingkan senyum. Tanpa Yuki sadari seseorang mendekatinya.
"Kamu tidak sopan Hachibara san." Kata Keiji hendak mendorong Yuki namun anak itu telah salah memilih target.
Tangan kanan Yuki tiba-tiba menangkap tangan kanan Keiji dari atas, Yuki sedikit menunduk dan mundur menarik tangan Keiji ke depan tubuhnya lalu memutar berlawanan arah jarum jam membuat tubuh anak itu menghadap Yuki.
Keiji yang terkejut dengan berbagai gerakan cepat itu hanya menatap manik Yuki bingung dan cemas.
Apa yang akan dia lakukan, batin Keiji.
Byuuuurrr ..!.
Yuki mengeluarkan sedikit suaranya, ia tertawa bisa mengerjai Keiji yang hendak jahil kepadanya.
"Senang?." Yuki melirik ke samping mendapati Hajime berdiri di sampingnya.
"Ung." Yuki melihat tubuh berotot itu, ia segera mengalihkan pandangannya.
"Hahaha ..." Suara tawa khas Hajime terdengar oleh Yuki.
"Masamune san benar, kamu masih polos." Yuki menoleh hendak protes tapi tiba-tiba laki-laki itu sudah menceburkan diri ke dalam kolam.
"Kamu tidak adil." Masamune keluar dari dalam kolam.
"Mau naik ke sana?." Yuki melihat sesuatu yang di tunjuk Masamune.
"Boleh." Jawab Yuki, mereka berjalan menuju wahana tertinggi di kolam renang.
"Ternyata seperti ini rasanya kalau punya saudara perempuan." Yuki menoleh menatap Masamune.
"Ung, sangat menyenangkan." Sambung Yuki.
"Kamu membuatku merasa muda lagi Yuki." Ujar Masamune, Yuki mengedikan bahunya.
"Kamu tidak setua itu untuk merasa muda lagi. Kamu memang masih muda Masa san." Balas Yuki membuat wanita itu tersenyum senang.
"Kamu sedang menggodaku." Yuki mengedipkan sebelah matanya kepada Masamune.
"Mungkin."
Mizutani melihat dari kejauhan dua perempuan yang tertawa saling melempar candaan.
Semuanya akan berjalan baik-baik saja, Yuki pasti bisa melewatinya, batin Mizutani.
Mereka berlima sedang duduk menikmati makan siang di salah satu kursi dekat kios makanan.
Yuki dengan sabar menunggu makanannya dingin.
"Habis ini kamu mau kemana lagi?." Tanya Mizutani.
"Tidak ada." Jawab Yuki membuka pesan di ponselnya.
"Keiji kun, kamu ingin bermain kemana?." Tanya Yuki.
"Setelah ini aku akan berlatih." Yuki sedikit cemberut.
"Apa kamu sedang berusaha menarik perhatian calon pelatihmu tahun depan?." Ledek Yuki. Keiji sontak menelan makanannya dengan kasar.
"Sebentar lagi musim panas, apa kamu tidak tahu." Sergah Keiji menutupi kegugupannya.
"Tidak, memang kenapa?." Tanya Yuki.
"Kejuaraan musim panas, pertandingan yang sangat sengit." Jawab Hajime.
"Bagaimana ini, Hazuki mengajakku pergi menginap dirumahnya." Kata Yuki setelah membaca balasan Natsume.
"Di mana?." Tanya Mizutani.
"Kobe." Yuki mulai memasukan makanannya ke dalam mulut dengan hati-hati.
"Sampai kapan pertandingannya dilakukan?." Tanya Yuki yang tidak tahu menahu tentang perlombaan di jepang.
"Sampai kita kalah, dan itu tidak akan terjadi." Yuki menaikan satu alisnya menoleh kepada Hajime.
"Kami mengincar koshien (tingkat nasional)." Mizutani tersenyum mendengar semangat kapten tim.
"Tidak ada libur untuk manajer?." Yuki menoleh menatap Mizutani.
"Kapan kamu pergi?." Yuki melirik layar ponselnya.
"Minggu terakhir liburan."
"Pergilah, jika tim berhasil pergi ke koshien hanya dua manajer yang menemani mereka." Yuki mengangguk sekilas.
***
Yuki mulai berangkat ke sekolah lagi setelah satu minggu absen, ia memakai masker untuk menutupi bibirnya. Sebenarnya sudah sebagian bibirnya sembuh dan kulitnya berganti dengan kulit yang baru namun masih ada beberapa yang masih dalam proses mengelupas takutnya orang-orang yang melihat bibir Yuki merasa terganggu.
Yuki bersikeras untuk tidak memakai masker toh saat ke kolam renang ia tidak memakainya tapi Masamune memaksanya untuk tetap memakai masker, penampilan sangat penting untuk seorang wanita katanya dan Yuki tidak peduli itu, perdebatan berakhir ketika Mizutani menyuruh Yuki untuk memakainya.
"Yu chaaaan ...!!." Yuki langsung menahan dahi Natsume yang ingin memeluknya dengan jari telunjuk.
"Aku sangat merindukanmu." Rengek Natsume.
"Kemarin malam kamu baru kerumahku." Balas Yuki datar.
"Tetap saja, disekolah tanpamu sangat membosankan." Yuki memutar bola matanya jengah.
"Hachibara san, ohayou."
"Ohayou Ueno san."
"Oh ya, bulan depan ada praktek berkelompok." Yuki melirik Natsume yang sudah berdiri dengan tenang.
"Apa?." Tanya Yuki menarik tangannya.
"Memasak, tenang saja kamu masuk ke dalam kelompokku. Kita berlima akan menutupi kekuranganmu." Yuki menaikan satu alisnya.
"Jangan menaikan alismu." Protes Natsume hendak mencubit hidung Yuki yang tertutup masker, tapi dengan santai Yuki menjauhkan kepalanya.
"Siapa?." Tanya Yuki.
"Kamu, Natsume chan, aku, Hirogane san, dan Kudo san." Jawab Ueno.
"Hmm." Natsume mendekati Yuki.
"Apa tidak apa-apa kamu bicara terlalu banyak." Natsume menatap bibir Yuki dari luar masker.
"Tenang saja besok aku akan melepasnya." Yuki berjalan menuju bangkunya, banyak teman-teman satu kelas Yuki menyapanya dan bertanya tentang sakitnya. Untunglah ada Natsume yang senantiasa membantu Yuki menjawab mereka.
Istirahat siang Yuki menikmati makan siangnya di atap sekolah dengan Natsume dan Ueno. Yuki segera kabur setelah menghabiskan makanannya.
Kakinya berhenti di depan pintu klub koto, ia diam beberapa saat lalu mengetuk pintu itu.
Ceklek.
Perempuan berwajah dingin dan angkuh menatap Yuki dari ujung kaki hingga kepala.
"Ada perlu apa?." Tanyanya tidak bersahabat.
"Hanya ingin mendengar latihan kalian." Jawab Yuki datar.
"Pergilah, jangan buang-buang waktumu." Usir perempuan itu.
"Siapa?." Tanya seseorang dari dalam ruangan. Ishikawa menampakkan dirinya di ambang pintu.
"Hachibara san." Yuki mengangguk kecil.
"Kenapa tidak membiarkannya masuk?." Tegur Ishikawa kepada anggota perempuannya.
"Dia orang luar tidak perlu menyambutnya." Ucap pedas perempuan itu seraya masuk ke dalam ruang klub.
"Biarkan saja dia, apa kamu mau masuk?." Tawar Ishikawa.
"Apa tidak mengganggu?." Tanya Yuki.
"Kenapa begitu, silahkan." Ishikawa membuka pintu semakin lebar membiarkan Yuki masuk.
"Kita kedatangan tamu, apa kalian keberatan jika Hachibara san menonton di sini?." Tanya Ishikawa kepada anggotanya.
"Tentu saja tidak." Jawab mereka saling bersahutan. Yuki melihat perempuan dingin tadi mendecih kesal.
"Kamu boleh duduk di sana." Ishikawa menunjuk kursi di pinggir tembok.
"Terima kasih." Yuki duduk dengan tenang, jantungnya perlahan mulai berdegup semakin cepat.
Kenapa aku tegang, batin Yuki.
"Kita sedang mempersiapkan lagu baru untuk perlombaan yang akan datang, tingkat kesulitan lagu ini sangat tinggi bahkan pemain nasional pun tidak berani membawakan lagu ini." Ishikawa mulai menjelaskan kepada anggotanya.
"Lagu ini adalah lagu tradisional lama, sangat lama, dan memiliki sejarahnya sendiri. Kita akan menghidupkan kembali lagu ini, membuat semua orang mengingat betapa agungnya lagu ini." Ishikawa membakar semangat para anggota.
"Apa kalian setuju?." Tanya Ishikawa.
"Kenapa tidak mencobanya, itu terdengar bagus." Para anggota lain menyetujui jawaban rekan mereka.
"Baik, kalian sudah membaca notnya, kita mulai sekarang." Kata Ishikawa mengambil posisi duduk di belakang koto.
Yuki tidak peduli lagu apa yang mereka mainkan yang membuatnya tegang sekarang adalah jari-jari mereka yang bersiap di atas senar masing-masing.
Aku harus memastikannya, batin Yuki penuh tekad.
Tangan Yuki sudah siap dengan sapu tangan di dalam genggaman tangannya, jika prasangkanya benar ia akan membutuhkan sapu tangan itu.
Tak tak!. Ssrrrrr treng ... teng ...
Alunan melodi lembut yang mendayu itu langsung menerjang gendang telinga Yuki. Satu detik tidak ada yang terjadi, dua detik masih tidak ada apa pun, detik ke lima sebuah bayangan kembali berputar di hadapan Yuki.
Kini wajah bayangan itu perlahan mulai terlihat membuat Yuki membeku.
"Agh!. Maaf, aku keluar dari nada." Seru salah satu dari mereka membuat yang lain menghentikan permainannya.
"Tidak masalah ayo kita mulai lagi." Kata Ishikawa mendorong anggotanya agar tetap semangat.
"Maaf Ishikawa san sepertinya aku harus pergi." Ishikawa dan yang lainnya menoleh menatap Yuki.
"Terima kasih karena sudah memperbolehkanku melihat latihan kalian." Ucap sopan Yuki membungkukkan badan.
"Ung, datang kapan saja kalau kamu mau, kami tidak keberatan." Balas Ishikawa.
"Lebih baik jangan kesini lagi." Celetuk perempuan dingin, Yuki tidak menanggapi ia berjalan keluar dari ruangan klub koto.
Yuki mencari toilet terdekat, ia berlari hingga tidak sengaja menabrak seseorang.
"Tuan putri, kamu ..." Kudo menggantungkan kalimatnya melihat bercak merah di masker Yuki.
"Darah apa ini?." Kudo hendak memegang masker Yuki namun Yuki bergerak lebih cepat menutup maskernya dengan sapu tangan.
"Jangan katakan kepada siapa pun." Tegas Yuki lalu berlari dari sana.